#ICTEdu: Mengukur Dampak Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Pada Pendidikan

Pada penelitian yang dilakukan Cor-Jan Jager, Jesse Bos, dan Robbin te Velde digambarkan bahwa  dengan TIK dianggap akan memberikan hasil pendidikan yang lebih baik pada banyak orang secara lebih efisien daripada yang dapat dicapai tanpa teknologi tersebut. Dipicu oleh “janji-janji”, negara di seluruh dunia telah berinvestasi  besar-besaran pada Teknologi Informasi   dan  Komunikasi (TIK) dalam pendidikan selama dekade terakhir. Dengan demikian, timbul pertanyaan strategis: Apa faktor kunci (driver, enabler, dan penghambat) yang menentukan dampak ICT untuk pendidikan? Studi ini menganalisis dampak ICT untuk pendidikan dalam skala global dengan fokus pada pendidikan dasar dan menengah di beberapa negara. Mereka mencoba untuk menjelaskan beberapa perbedaan dalam kinerja pendidikan di negara-negara tersebut dengan melihat karakteristik kontekstualnya (misalnya kebijakan, infrastruktur teknologi, dll).
Ketersediaan TIK, didorong oleh investasi di bidang infrastruktur keras, merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan besar dampak TIK terhadap kinerja pendidikan. Jelas, ketersediaan perangkat keras dan perangkat lunak saja tidak cukup untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Secara umum, investasi di bidang perangkat keras dan lunak harus diakomodasi dan didampingi oleh investasi dalam bidang keterampilan dan perubahan organisasi. Untuk itu, perlu dilihat  faktor-faktor seperti tingkat keterampilan TIK pada siswa dan guru serta perubahan organisasi yang cenderung membuat penggunaan TIK menjadi efektif. Perlu dicatat bahwa dampak ICT ini sangat sulit untuk diisolasi dari perubahan organisasi secara keseluruhan. Di Belanda, misalnya, penggunaan ICT dalam pendidikan berkaitan erat dengan pengenalan cara-cara baru mengajar dengan fokus yang lebih kuat pada otonomi dan kemandirian siswa.Sejumlah faktor kontrol juga harus diperhitungkan, seperti jumlah jam mengajar kelas tradisional. Akhirnya, dampak keseluruhan ICT pada kinerja pendidikan selalu harus dilihat dengan latar belakang faktor-faktor yang secara tradisional memiliki pengaruh kuat terhadap kinerja, terlepas dari perubahan teknologi dan organisasi, seperti latar belakang pendidikan orang tua.
Faktor yang terkait TIK mungkin berdampak pada kinerja, tetapi pengaruh secara keseluruhan mungkin relatif tidak terlalu tinggi. Penelitian ini didasarkan pada analisis dari sejumlah besar data dari banyak negara  untuk mendeteksi  hubungan potensial antara langkah-langkah sistematis dari keberadaan dan penggunaan ICT dan ukuran  kinerja pendidikan tradisional. Ada dua keterbatasan penting untuk pendekatan ini. Pertama, hubungan diukur dengan menggunakan korelasi parsial yang tidak selalu berarti kausalitas. Kedua, karena tidak memiliki data yang sangat spesifik tentang jenis TIK sedang digunakan di berbagai sekolah. Studi kasus yang dilakukan memungkinkan kita untuk lebih fokus  pada data per negara dan untuk memeriksa secara rinci tersedia penelitian khusus negara (kontekstual) untuk membantu menterjemahkan hasilnya. Pemilihan lokasi geografis didasarkan sebagian besar pada ketersediaan data dan pengetahuan kontekstual tentang mereka.
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/Uk8x3V-sUgU” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Angklung dan TIK: Salah Satu Pusaka dan Kemajuan Teknologi Dari Bandung

Sebetulnya ketertarikan saya pada Angklung sudah dimulai sejak lama. Hal ini kemudian dipacu karena salah satu teman di SMP adalah putra dari Ujo Ngalagena tokoh angklung yang sangat terkenal itu. Pernah juga beberapa kali memainkan alat musik ini di sekolah namun tidak begitu intens karena dikemudian hari lebih menyenangi Tembang Cianjuran.
Ketertarikan dan Kebutuhan (Want & Need) itu berubah ketika putri kami memilih angklung sebagai ekstra-kurikulernya di sekolahnya SMP Negeri 5 dan SMA Negeri 3 Bandung . Tambahan lagi setelah mendapat kesempatan untuk ikut  pementasan di luar negeri, ketertarikan ini menjadi berganda. Mungkin kebetulan atau tidak, Riris menyenangi angklung. Ternyata banyak hal yang bisa didapat dari alat musik asal Bandung ini. Bagi putri kami ini, saya lihat sisi positif diantaranya adanya keseimbangan bagi otak kanannya (seni, kreatifitas dll.) sebagai kompensasi setelah memperoleh gemblengan untuk otak kirinya (logika, ilmu dll.) di sekolah dan di rumah.
Kemudian, pada Techno.Edu.Preneur Seminar+Expo 31 Mei 2012 yang diadakan di Aula Barat ITB dimeriahkan oleh penampilan Robot Angklung karya Kurnia Jaya Eliazar (Alumni Informatika Universitas Widyatama) dan Ferry Stephanus Suwita (Siswa SMK-4 Bandung) yang memberi hiburan tersendiri bagi hadirin. Karya kombinasi High-Tech dan Kearifan Lokal ini membius para pembicara, peserta seminar dan pengunjung expo terutama saat memainkan lagu “Pahlwan Tanpa Tanda Jasa”. Semoga karya “Urang Bandung” ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Bahkan bererapa hari lalu, perwakilan dari ITB dan Saung sempat berdiskusi dengan mereka berdua dan menyatakan kekagumannya.
Angklung yang terdiri dari batang bambu vertikal yang digerakkan atau digoyang sehingga menimbulkan bunyi, kelihatannya sebuah alat musik sederhana. Tapi alat musik ini sebagai Salah Satu Pusaka Dari Bandung dapat memberi nuansa orkestra yang kental bilamana dimainkan dengan benar dan penuh penghayatan. Hal ini terbukti dari pementasan yang diadakan di Saung Mang Ujo dan luar negeri sering mendapat sambutan meriah dan “Standing Ovation” dari turis mancanegara bahkan pecinta  musik dari berbagai negara.
Nah kayaknya tidak salah kalau kita mencintai alat musik ini khan?
Angklung memang salah satu pusaka dari Bandung
Engkau tidak hanya pantas menjadi bintang panggung
Menjadi ciri integritas dan keramahan yang adiluhung
Satukan jiwa dan rasa dalam musik yang agung
Angklung  jangan sampai tersandung
Boleh dimainkan oleh  orang sekampung
Namun jangan  kita terus terkungkung
Alat musik ini harus menjadi sesuatu yang terhitung

Peran Teknologi Telematika dalam Kepemimpinan Bangsa

Pada saat ini bangsa kita sedang dalam tahapan rekonstruksi setelah mengalami krisis ekonomi, sosial, dan politik yang terburuk pada tiga tahun terakhir ini. Kepercayaan masyarakat kepada lembaga-lembaga formal amat tipis, bahkan kepercayaan antar kelompok-kelompok dalam masyarakatpun terkikis. Sedangkan gejala disintegrasi bangsa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita. Upaya rekonstruksi diharapkan dapat membawa bangsa kita menjadi suatu masyarakat madani yang bersatu dalam negara Republik Indonesia.

Memasuki milenium ketiga, globalisasi yang semula merupakan suatu kecenderungan telah menjadi suatu realitas, sedangkan alternatifnya adalah pengucilan dari kancah pergaulan antar bangsa. Globalisasi menuntut adanya berbagai macam standar, pengaturan, kewajiban, dan sekaligus juga memberi hak kepada anggota masyarakat global. Berbagai aturan dikenakan secara global (misalnya, WTO, IMF, UN, dan lain-lain). Tuntutan berkompetisi, dan sekaligus berkolaborasi, memaksa kita untuk terus menerus meningkatkan daya saing bangsa kita, baik dalam pasar lokal, regional, maupun dalam pasar global.


Sementara itu, era reformasi memungkinkan kita untuk menelaah dan memperbaiki dampak negatif dari sentralisasi yang berlebihan di masa lalu. Pola sentralisasi selain mengabaikan inisiatif masyarakat, juga cenderung meniadakan proses pengambilan keputusan yang didasarkan pada kriteria obyektif berdasarkan data dan informasi. Setelah beberapa dasawarsa di bawah pemerintahan tersentralisasi, kebijakan pucuk pimpinan seringkali menjadi satu-satunya acuan yang harus diikuti. Akibatnya, keputusan lebih banyak dilakukan atas dasar kesesuaian dengan kebijakan atasan daripada berdasarkan fakta dan informasi, sehingga informasi yang dikumpulkan dari lapangan menjadi kurang dihargai.

Selain masalah-masalah tersebut di atas, perkembangan teknologi juga memberikan tantangan tersendiri pada berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Salah satu teknologi yang berkembang pesat dan perlu dicermati adalah teknologi informasi. Tanpa penguasaan dan pemahaman akan Teknologi Telematika ini, tantangan globalisasi akan menyebabkan ketergantungan yang tinggi terhadap pihak lain dan hilangnya kesempatan untuk bersaing karena minimnya pemanfaatan teknologi informasi sebagai alat bantu dalam Kepemimpinan Bangsa. Mengingat perkembangan Teknologi Telematika yang demikian pesat, maka upaya pengembangan dan penguasaan Teknologi Telematika yang didasarkan pada kebutuhan sendiri haruslah mendapat perhatian maupun prioritas yang utama untuk dapat menjadi masyarakat yang lebih maju.


 Dengan tantangan yang beragam seperti itu, Pemerintah Republik Indonesia harus terus melakukan upaya-upaya untuk mengatasinya dan mengantisipasi langkah-langkah yang terbaik untuk bangsa Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana Teknologi Telematika (untuk selanjutnya akan disingkat TI atau IT-Information Technology) dapat berperan dalam langkah-langkah yang sedang, dan akan dilakukan dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

 

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/82tR63FQnMw” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>