Baraya, Basa Sunda Heunteu Menta Loba

 

Lamun urang ngaregepkeun salawasna

Basa Sunda Heunteu Menta Loba 

Ngan saukur dipiara jeun diseja kuurang sarerea

Teu hayang jadi basa keur sakumna umat manusa

 

Saheunteuna dipake keur saukur jirimna

Oge tong teuing jiga teu dipalire samanea

Bisi urang hanjakal engke kadituna

Baraya, Basa Sunda Heunteu Menta Loba 

 

 

Basa Sunda Poe Ieu Keur Meumeujeuhna #SubtitleSunda

Poe ieu di sakulawet nagri Sunda diwajibkeun make Basa Sunda. Kacida sugemana ningali kulawadet anu lain Urang Sunda. Asa leungit kahariwang saperti tulisan simkuring tanggal 31 Januari 2008 nu judulna “Apakah kita perlu menguasai bahasa daerah?“. Komo mun ningali Kalawarta (Time Line) di Twitter saperti di handap beuki reureus jeng hayang seuri wae:

Tren Indonesia 

· Ubah

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/iKHVHLtQgPA” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Tweet 

Stalk of jackfruit. Father’s wedding. Tuesday did not tell me (Tongtolang nangka. Kawinan bapa. Poe salasa teu beja-beja) 

 

“Squidward, maneh ngebul, siga sayur anu di sepan, tapi leuwih pinter” -spongebob 

Knock Knock Kolenknock. The hedgehog dead sleepy (Trang trang kolentrang. Si londok paeh nundutan)  

Mr Delon, Mr Delon. Please open the wind gate (Pa Deong, Pa Deong. Pangmukakeun Lawang Angin)  

 

hirup leuwih pondok lamun maneh teu nyobian cinta urang, wkwkwkwk 

Doesn’t want father+mother.Want to kid w/ tapering eyelash>Alim karamana alim ka ibuna,hoyong kaputrana nu centik bulu socana

Forrest Gump: “Saur ’ema, hirup teh jiga sawadaheun coklat. Maneh moal terang maneh deuk meunang naon.” 

Eminem: Hampura ema, abdi teu maksad nganyeyeri ema. abdi teu maksad ema janten ceurik. Wengi ayeuna abdi bebersih kloset.

Yoda: “Heug. Budakna teh goreng adat. Jiga abahna weh kumaha.” 

Upami anjeun palay nyitak gul,anjeun kedah ngahontal target. ~Fabio Capelo~  

Kuring, bade sataranjang panon poe tibeulat ka anjeun RT : Aku, akan setelanjang matahari mencintaimu.

AbdullahHasan:Maneh urg Amerika teu ngaroko deui.Hirup maraneh paranjang+ngabosenkeun  

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/roq0guyG8Bs” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Angklung dan TIK: Salah Satu Pusaka dan Kemajuan Teknologi Dari Bandung

Sebetulnya ketertarikan saya pada Angklung sudah dimulai sejak lama. Hal ini kemudian dipacu karena salah satu teman di SMP adalah putra dari Ujo Ngalagena tokoh angklung yang sangat terkenal itu. Pernah juga beberapa kali memainkan alat musik ini di sekolah namun tidak begitu intens karena dikemudian hari lebih menyenangi Tembang Cianjuran.
Ketertarikan dan Kebutuhan (Want & Need) itu berubah ketika putri kami memilih angklung sebagai ekstra-kurikulernya di sekolahnya SMP Negeri 5 dan SMA Negeri 3 Bandung . Tambahan lagi setelah mendapat kesempatan untuk ikut  pementasan di luar negeri, ketertarikan ini menjadi berganda. Mungkin kebetulan atau tidak, Riris menyenangi angklung. Ternyata banyak hal yang bisa didapat dari alat musik asal Bandung ini. Bagi putri kami ini, saya lihat sisi positif diantaranya adanya keseimbangan bagi otak kanannya (seni, kreatifitas dll.) sebagai kompensasi setelah memperoleh gemblengan untuk otak kirinya (logika, ilmu dll.) di sekolah dan di rumah.
Kemudian, pada Techno.Edu.Preneur Seminar+Expo 31 Mei 2012 yang diadakan di Aula Barat ITB dimeriahkan oleh penampilan Robot Angklung karya Kurnia Jaya Eliazar (Alumni Informatika Universitas Widyatama) dan Ferry Stephanus Suwita (Siswa SMK-4 Bandung) yang memberi hiburan tersendiri bagi hadirin. Karya kombinasi High-Tech dan Kearifan Lokal ini membius para pembicara, peserta seminar dan pengunjung expo terutama saat memainkan lagu “Pahlwan Tanpa Tanda Jasa”. Semoga karya “Urang Bandung” ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Bahkan bererapa hari lalu, perwakilan dari ITB dan Saung sempat berdiskusi dengan mereka berdua dan menyatakan kekagumannya.
Angklung yang terdiri dari batang bambu vertikal yang digerakkan atau digoyang sehingga menimbulkan bunyi, kelihatannya sebuah alat musik sederhana. Tapi alat musik ini sebagai Salah Satu Pusaka Dari Bandung dapat memberi nuansa orkestra yang kental bilamana dimainkan dengan benar dan penuh penghayatan. Hal ini terbukti dari pementasan yang diadakan di Saung Mang Ujo dan luar negeri sering mendapat sambutan meriah dan “Standing Ovation” dari turis mancanegara bahkan pecinta  musik dari berbagai negara.
Nah kayaknya tidak salah kalau kita mencintai alat musik ini khan?
Angklung memang salah satu pusaka dari Bandung
Engkau tidak hanya pantas menjadi bintang panggung
Menjadi ciri integritas dan keramahan yang adiluhung
Satukan jiwa dan rasa dalam musik yang agung
Angklung  jangan sampai tersandung
Boleh dimainkan oleh  orang sekampung
Namun jangan  kita terus terkungkung
Alat musik ini harus menjadi sesuatu yang terhitung

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA (PKM): E-learning Pembelajaran Bahasa Sunda

 

 

Diusulkan oleh: 

Rachmi Utami Rachmatyani (06.08.075)                                 (ANGKATAN 2008)

Tri SusantoNugroho (06.07.059)                                             (ANGKATAN 2007)

Ramdani Gopur (06.08.085)                                                    (ANGKATAN 2008)

Tania Destiana Berlianty (06.08.070)                                      (ANGKATAN 2008)

 Abraham Mikhael (06.11.P002)                                           (ANGKATAN 2011)

UNIVERISTAS WIDYATAMA

 

RINGKASAN

 

Perkembangan teknologi di masa sekarang terus meningkat. website tidak hanya digunakan untuk e-commerce, forum, personal, bahkan blog dan lain-lain, tetapi dapat juga untuk menjalankan dan merancang berbagai kebutuhan, seperti game, perangkat ajar, pemutar audio, kamus digital, dan sebagainya. Bahasa merupakan bagian yang tak terpisahkan pada semua itu, namun kali ini kami menawarkan sesuatu yang baru, dimana kami menawarkan media pembelajaran bahasa Sunda secara online (e-learning).

Bahasa Sunda  merupakan salah satu budaya Bangsa, yang artinya harus di lestarikan dan dipergunakan agar tidak terjadi kepunahan. Hal ini dapat kita perhatikan diantaranya karena Bahasa Sunda sendiri hanya diajarkan hampir di semua sekolah di Jawa Barat (selaku bahasa daerah), sehingga membatasi penyebarluasannya (terbatas pada jarak dan komunitas). Selain itu juga pembelajaran disekolah khususnya bagi anak-anak kecil itu kurang menarik.

Untuk menanggapi pembelajaran ataupun keinginan dari masyarakat luas bahkan internasional untuk belajar Bahasa Sunda, maka kami menggagaskan untuk membuat e-learning ahasa Sunda. yang di dalamnya di buat visualisasi (gambar) dari benda-benda dengan bahasa Sunda lengkap dengan cara membacanya, kamus, dan mungkin bisa ditambahkan beberapa percakapan dasar yang sederhana. Selain itu untuk belajar bahasa inggris untuk anak percakapan tersebut disajikan dengan gambar-gambar pilihan seperti flash cartoon, interface dll yang mudah di mengerti dan menarik bagi anak,

Kata Kunci : E-learning bahasa sunda, kamus bahasa sunda, kamus bergambar bahasa sunda untuk anak


BAGIAN INTI

 A.      Pendahuluan

Perkembangan teknologi terus meningkat. Komputer tidak hanya digunakan untuk mengolah data saja tetapi dapat juga untuk menjalankan dan merancang berbagai aplikasi, seperti game, perangkat ajar, pemutar audio, kamus digital, dan sebagainya.

Bahasa sunda merupakan salah satu kebudayaan daerah dari Jawa Barat yang hampir terlupakan dikarenakan minat dari generasi muda yang mulai menurun terhadap kebudayaan daerah tersebut, serta terbatasnya media penyebarluasan dari bahasa tersebut yang diantaranya karena bahasa sunda hanya di ajarkan di Jawa Barat.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka akan dibuatkan “E-learning Pembelajaran Bahasa Sunda Untuk Pengawasan Siswa”. Namun selain itu juga e-learning kami bisa juga dipergunakan untuk umum, untuk mewadahi minat dari orang orang yang ingin belajar bahasa sunda, dan semakin menyebarluaskan kebudayaan daerah.

 

B.      Tujuan

Berdasarkan uraian pada pendahuluan diatas memiliki beberapa tujuan diantaranya:

      Meningkatkan minat siswa untuk mempelajari bahasa sunda dan menggunakanya untuk menjadi bahasa sehari-hari

      Melestarikan bahasa daerah terutama bahasa sunda

      Memudahkan siswa dalam mempelajari bahasa sunda

      Memudahkan guru untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa

      Memanfaatkan visualisasi gambar sebagai sarana interaktif

      Kegiatan pembelajaran dapat di lakukan oleh siapa pun, dan memiliki jangkauan yang lebih luas

      Melestarikan bahasa daerah

 

C.      Manfaat

Manfaat dari e-learning bahasa sunda ini adalah :

    Agar anak-anak lebih tertarik dalam mempelajari bahasa sunda.

    Menambah pengetahuan anak tentang bahasa sunda selain materi yang di dapat di sekolah.

    Meminimalkan biaya kegiatan pembelajaran.

    Memulai pengenalan dan pemanfaatan internet bagi anak-anak.

    Memberikan kesadaran bagi anak-anak bahwa bahasa sunda adalah bahasa daerah yang perlu dilestarikan.

    Memberikan materi yang lebih mudah di ingat karena di sajikan dengan audio visual yang menarik.

    Pengawasan kegiatan belajar siswa dapat diawasi oleh guru maupun orangtua yang ada dirumah.

    Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran.


D.      Gagasan

Teknologi yang terus berkembang mempunyai peran yang sangat tinggi dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi informasi saat ini khususnya internet, mengarahkan sejarah teknologi pendidikan pada alur yang baru. Internet memudahahkan user dalam mencari dan menerima informasi mengenai materi pembelajaran. Penyedia layanan pembelajaran jarak jauh dapat memanfaatkan teknologi internet secara maksimal dapat memberikan efektifitas dalam waktu, tempat dan bahkan meningkatkan kualitas pendidikan.

Perubahan pola hidup membuat bahasa daerah terlupakan, salah satunya yaitu bahasa sunda yang merupakan sebuah bahasa daerah jawa barat. Kecenderungan menggunakan bahasa sunda dalam percakapan keseharian kini sangat jarang. Ironisnya, kondisi ini tidak saja terjadi di kalangan anak-anak zaman sekarang tapi juga di lingkungan orang tua sebagai bahasa indung bahasa sunda seharusnya dipergunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari, minimal di lingkunga keluarga. Sebenarnya pemerintah berupaya melakukan perubahan dan membangkitkan gairah penggunaan bahasa sunda, antara lain melalui pencanangan pelajaran bahasa sunda.

Untuk itu kami mengembangkan sebuah gagasan untuk mengaplikasikan interactive website dimana kami menyediakan suatu media pembelajaran untuk pengembangan kemampuan berbahasa sunda bagi anak-anak dengan format fun interactive-learning.

Aplikasi yang akan kami kembangkan dibangun dengan menggunakan :

1.       Moodle 1.9

2.       Php 4

3.       MySql

 

E.       Kesimpulan

Gagasan yang kami sampaikan yaitu berupa pembangunan aplikasi berbasis e-learning sebagai salah satu sarana pembelajaran yang kompeten. Penggunaan aplikasi moodle diharapkan dapat membantu para siswa dalam menghadapi era globalisasi dimana siswa dituntut untuk mahir dalam berbahasa dan berkomunikasi dalam bahasa sunda, dan diharapkan juga agar siswa dapat mengerti kegunaan dari internet sebagai salah satu media pembelajaran yang kompeten saat ini. Selain itu juga aplikasi yang akan dikembangkan dapat dipergunakan untuk kalangan umum untuk belajar Bahasa Sunda. Aplikasi ini pula memiliki sedikit animasi atau visualisasi untuk lebih menarik minat.

Daftar Pustaka 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=Z0N23rfQDfA&w=600&h=400]

Ma Deong……Ma Deong…..Pangmukakeun Lawang Angin

Jaman keur leutik….nepi ka SMP….Kuring sok ngahariring…Ma Deong……Ma Deong…..Pangmukakeun Lawang Angin….mun langlayangan teu daek ngapung kumarga euweuh angin…

Teuing timana asalna hariring ieu….Ngan mun langlayangan bisa ngapung jeung anginna jadi gede….sok hayang nyaho urang mana Ma Deong teh….

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=WSSt6hUzsHk?rel=0&w=640&h=480]

Dewi Sartika…Pahlawan Wanita Dari Tanah Sunda

Coat of Arms of Indonesian province of West Java.

Lambang Propinsi Jawa Barat

Pada tanggal 19 Juli 2008 saya, permaisuri dan Firman mengunjungi rumah Dewi Sartika…Pahlawan Wanita Dari Tanah Sunda………… Rumah yang terletak di Jl.Dewi Sartika – Cicalengka – Kabupaten Bandung itu terlihat asri dan khas kediaman priyayi jaman dulu.Kami tidak bisa masuk memang…..Namun dari luar suasananya mencerminkan kearifan beliau itu masih ada……Sayang kami tidak bisa lama di sana….Maklum tempat tersebut belum dibuka untuk umum…….

 

Berikut cuplikan sejarah beliau dari Wikipedia:Dewi Sartika (Bandung, 4 Desember 1884 – Tasikmalaya, 11 September 1947), tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966.

Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula. Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda.

Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.

Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.

Ketika sudah mulai remaja, Dewi Sartika kembali ke ibunya di Bandung. Jiwanya yang semakin dewasa semakin menggiringnya untuk mewujudkan cita-citanya. Hal ini didorong pula oleh pamannya, Bupati Martanagara, pamannya sendiri, yang memang memiliki keinginan yang sama. Tetapi, meski keinginan yang sama dimiliki oleh pamannya, tidak menjadikannya serta merta dapat mewujudkan cita-citanya. Adat yang mengekang kaum wanita pada waktu itu, membuat pamannya mengalami kesulitan dan khawatir. Namu karena kegigihan semangatnya yang tak pernah surut, akhirnya Dewi Sartika bisa meyakinkan pamannya dan diizinkan mendirikan sekolah untuk perempuan.

Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru.

Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu

Usai berkonsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara, pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya tiga orang; Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang, menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung.

Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910, menggunakan hartanya pribadi, sekolahnya diperbaiki lagi sehingga bisa lebih mememnuhi syarat kelengkapan sekolah formal.

Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.

Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi “Sakola Raden Déwi”. Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.