Hari Lahir Pancasila dan Techno.Edu.Preneur Seminar+Expo @Pojokpendidikan @ComlabsITB (2)

Dikutip dari http://bappeda.bantulkab.go.id/photo-post/post-43_n.jpg
Perlunya Kerja Sama Dalam Pengembangan Modal Insani (Human Capital)

Keberhasilan suatu bangsa sesuai yang disiratkan sila-sila dalam Pancasila, memerlukan sebuah cara atau sebuah strategi untuk melaksanakannya dan dalam hal ini kaitannya dengan Pengembangan Modal Insani sebagai suatu cara yang perlu mendapatkan pioritas yang tinggi dalam perencanaan pembangunan Sistem Pendidikan di Indonesia. Keberhasilan suatu Sistem Pendidikan dalam membangun bangsa adalah terjadinya keseimbangan tujuan-tujuan pendidikan yang akan mencapai manusia seutuhnya. Dan yang terjadi di Indonesia tidak terjadi sinkronasi antara Sistem Ekonomi Pendidikan dengan faktor makro ekonomi dan faktor mikro ekonomi, hal ini bisa terjadi terjadi karena akademis, bisnis dan pemerintah belum menyediakan parameter jembatan yang tepat (bridging).
Faktor “bridging” ini adalah adanya lembaga-lembaga  akademis, bisnis dan pemerintah yang belum fokus dan tidak punya strategi yang singkron dengan lembaga lainya. Atau dalam istilah sederhananya antar lembaga ini berdiri sendiri-sendiri dengan visi masing-masing tanpa memperhatikan hubungannya dan keterkaitannya dengan lembaga lainnya khususnya kaitannya dengan Pengembangan Modal Insani. Kementerian Pendidikan Nasional seharusnya melibatkan bidang Sumber Daya Manusia (Badan Kepegawaian Negara dan Daerah), Keuangan (Kementerian Keuangan), Pemerintahan (Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah), Sarana dan Prasarana (Kementerian Pekerjaan Umum), Telematika (Kementrian Kominfo), Legal (Kementerian Hukum dan HAM) dan lembaga lain dikalangan akademis dan bisnis untuk mencapai hal itu.
Modal utama dalam keberhasilan suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam membangun modal insani dan membangun jembatannya. Dan dalam hal ini pemerintah belum bisa memberikan strategi yang tepat dalam membangun modal insani yang  dapat dibangun melalui keberhasilan pembangunan pendidikan, termasuk Ekonomi Pendidikan di dalamnya, sebagai fondasi awal. Strategi pembangunan bangsa yang sedari awal sudah salah langkah jika dilihat dari perkembangan negara lain dalam menentukan kebijakan ekonominya. Atau lebih tepatnya adalah bukan salah langkah tapi kurang strategis sebagai langkah awal. Karena strategi kita menggunakan strategi ekonomi terbuka, atau yang dikenal dengan istilah liberasi ekonomi, dan langkah ini berpedoman kepada Konsesus Washington, yang menurut Pemenang Nobel Joseph Stiglitz , negara-negara berkembang yang berpedoman pada konsensus Washington pertumbuhan ekonominya tidak secepat Negara-negara yang tidak berpedoman kepada Konsensus Washington. Yang mana dalam konsensus Washington ini banyak kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada ekonomi mikro, dan modal insani yang keduanya tidak berjalan seimbang dengan ekonomi makro sehingga sangat berpengaruh pada isi dan konteks  dari Persfektif Ekonomi Pendidikan.  
Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo: “Lesson Learned” Dari Beberapa Perusahaan 
 
Sesi ini dibuka oleh Prof Dr. Ir. Bambang Riyanto (Kepala Lembaga Pengkajian Pendidikan , Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat ITB) dan meresmikan Blended Learning ITB yang merupakan portal belajar online bagi mahasiswa ITB yang saat ini telah mengakomodasi 246 mata kuliah. Berisi materi kuliah, platform pengumpulan tugas, bahkan forum diskusi, Blended Learning ITB yang dapat dikunjungi di http://blendedlearning.itb.ac.id ini bertujuan untuk mendukung sistem pembelajaran yang lebih berpusat kepada mahasiswa serta mengintegrasikan pembelajaran online dan tatap muka dengan menyediakan keduanya, sehingga kedua pendekatan ini saling mendukung satu sama lain.  
Hasil yang diharapkan dari adanya Blended Learning ITB yang juga memiliki aktivitas School on Internet dan Distance Education ini antara lain adalah adanya standardisasi pembelajaran, pemberian akses kepada masyarakat umum untuk ikut mempelajari mata kuliah di ITB, dan dalam jangka panjang untuk menciptakan masyarakat pembelajaran. Blended Learning ITB juga dibentuk untuk meningkatkan akses dan visibilitas web ITB, agar ITB makin dikenal oleh masyarakat luas.  
Sebagai Pembicara Pertama sesi ini adalah Hasnul Suhaimi (CEO PT. XL Axiata Tbk) yang menggambarkan Tantangan Terbesar Indonesia yaitu membutuhkan masyarakat Indonesia yang siap menjadi pemimpin global yang kompetitif. Namun demikian masih ada “Education Quality Gap” yang terlalu luas antara Indonesia dan negara sekitarnya. Hal ini disertai kurangnya “character building”, integritas menurun, Tidak mengajarkan Life Skills, Budaya “malu”, rendahnya semangat kompetisi karena rendah diri, dan Kemampuan Berbahasa Inggris praktis.  
Beliau mengatakan: “Indonesia membutuhkan masyarakat Indonesia yang siap menjadi pemimpin global yang kompetitif”. Untuk itulah XL menjawab tantangan Global dengan mengadakan program  “XL Future Leaders” (http://www.xl.co.id/futureleaders) yang bertujuan Menciptakan bibit baru Indonesia yang siap berkompetisi secara global untuk menjadi pemimpin melalui pendidikan Keahlian Utama (Life Skills) berbasis TIK. Kerangka 5 PILAR XL FUTURE LEADERS adalah:
  1. Berpikir Kritis: Kemampuan untuk memproses dan mengevaluasi suatu kondisi menggunakan pengetahuan dan logika, serta menyajikannya dengan cara yang  rasional.
  2. Kepemimpinan: Memupuk kemampuan seseorang menjadi visioner, mampu memotivasi dan menginspirasi orang lain, memiliki rasa yang  kuat keberanian, tanggung jawab dan empati.
  3. Komunikasi: MengarBkulasikan pikiran dan pendapat secara efektif dan bermakna dalam hubungan apapun, serta mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan dan memahami.
  4. Kreatifitas: Stimulasi untuk mendorong batas-batas yang  diketahui dan berpikir di luar kebiasaan, dalam pengembangan metode baru yang inovatif dan solusi.
  5. Sikap: Seorang pemimpin harus memiliki sikap yang baik dan benar.
Pembicara Kedua adalah Harry Hermania (General Function Training Manager, Pertamina Learning Center) dengan judul presentasi “E-Learning Pertamina”. Beliau menggambarkan latar belakang dari program ini adalah: 
  1. Biaya pembelajaran (termasuk  biaya perjalanan dinas) masih relatif  tinggi.
  2. Program pembelajaran masih bersifat konvensional hanya dengan menggunakan metode tatap muka di kelas
  3. Optimalisasi pembelajaran masih relatif rendah dalam mendukung kompetensi teknis setiap pekerja

Adapun objektif yang diinginkan Pertamina dari “E-Learning Pertamina” adalah:

  1. Proses pembelajaran dapat dilakukan melaluipembelajaran jarak jauh.
  2. Mengurangi biaya pembelajaran (termasuk biaya perjalanan dinas)
  3. Menumbuhkan budaya proaktif learning
  4. Optimalisasi pembelajaran yang  mendukung peningkatan kompetensi teknis pekerja secara terukur
Pembicara Ketiga adalah Batara Yohannes (PT. Bank Internasional Indonesia Tbk) yang membahas “New Learning Initiative”. BII e-Learning dmulai dari tahun 2002 dengan biaya 40 juta rupiah dengan 1 modul: Mengenal Nasabah. Saat ini ada  28000 pengguna di 2012 dengan 20 Modul  yaitu  2 Modul Nilai / Induksi, 4 Modul Syariah, 3 modul KYC, 5 modul Manajemen Risiko, 2 Video Layanan Belajar  dan 1 Dalam proses. BII Memulainya dengan mengirim Nota Internal dan Hadiah, dan  Penilaian Kinerja dengan Pelatihan (e-learning) adalah komponen inti serta karyawan harus melewati Masa Percobaan periode dengan e-Learning.
Sesi ini diakhiri oleh dua pembicara yaitu William Tepfenhardt (Nokia) dan Mico Wendy (Konsep.Net) dengan topik “Mobile Learning Application”. Wiliam menginformasikan bahwa Nokia di Indonesia telah melibatkan 12,000 pengembang dari 50 universitas dan 3 operator, 2.5 jutaan orang men-download/minggu, telah ada 3.000 aplikasi lokal  dan  5 Nokia “Data Plan”. Sedangkan Mico mendeskripsikan aplikasi “Baby Play Learn” yang dikembangkannya.
Techno.Edu.Preneur Seminar+Expo juga dimeriahkan oleh penampilan Robot Angklung karya Kurnia Jaya Elizar (Alumni Informatika Universitas Widyatama) dan Ferry (Siswa SMK-4 Bandung) yang memberi hiburan tersendiri bagi hadirin. Bersamaan dengan seminar, dilaksanakan juga expo dan seminar paralel bertemakan pendidikan. Terdapat berbagai organisasi non-profit maupun perusahaan yang memiliki perhatian terhadap pendidikan, antara lain Skhole PM-KM ITB, SD IT Rabbani, Komunitas Lingkungan Hidup, Agate Studio, Npaperbox, Segitiga.net, Rumah Belajar Sahaja, Fantastic Inc., Tim Network Comlabs, YPBB, LPP Salman ITB, Komunitas Sahabat Kota, Marketeers, dan Nyangkod.
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/–u3SyOxfqE” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Hari Lahir Pancasila dan Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo @Pojokpendidikan @ComlabsITB (1)

Sekilas Lahirnya Pancasila  sebagai falsafah dan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia

Kemarin diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara. Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945.

Meskipun terjadi perubahan kandungan dan urutan lima sila Pancasila yang berlangsung dalam beberapa tahap selama masa perumusan Pancasila pada tahun 1945, tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila.

Dalam upaya merumuskan Pancasila sebagai dasar negara yang resmi, terdapat usulan-usulan pribadi yang dikemukakan dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yaitu :

 

Lima Dasar oleh Muhammad Yamin, yang berpidato pada tanggal 29 Mei 1945. Yamin merumuskan lima dasar sebagai berikut: Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat. Dia menyatakan bahwa kelima sila yang dirumuskan itu berakar pada sejarah, peradaban, agama, dan hidup ketatanegaraan yang telah lama berkembang di Indonesia. Mohammad Hatta dalam memoarnya meragukan pidato Yamin tersebut.

Panca Sila oleh Soekarno yang dikemukakan pada tanggal 1 Juni 1945 dalam pidato spontannya yang kemudian dikenal dengan judul “Lahirnya Pancasila”. Sukarno mengemukakan dasar-dasar sebagai berikut: Kebangsaan; Internasionalisme; Mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan; Kesejahteraan; Ketuhanan. Nama Pancasila itu diucapkan oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni itu, katanya:

Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa – namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.

Setelah Rumusan Pancasila diterima sebagai dasar negara secara resmi beberapa dokumen penetapannya ialah :

  • Rumusan Pertama : Piagam Jakarta (Jakarta Charter) – tanggal 22 Juni 1945
  • Rumusan Kedua : Pembukaan Undang-undang Dasar – tanggal 18 Agustus 1945
  • Rumusan Ketiga : Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat – tanggal 27 Desember 1949
  • Rumusan Keempat : Mukaddimah Undang-undang Dasar Sementara – tanggal 15 Agustus 1950
  • Rumusan Kelima : Rumusan Kedua yang dijiwai oleh Rumusan Pertama (merujuk Dekrit Presiden 5 Juli 1959)

Pada 1 Juni 2012, mantan presiden dan mantan wapres beserta keluarga hadir  pada peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 yang dikenal Hari Lahir Pancasila di Gedung DPR/MPR. Mantan kepala negara yang hadir diantaranya B.J. Habibie, dan Megawati Soekarno Putri. Adapun mantan Wapres yang hadir diantaranya Try Sutrisno, Hamzah Haz, serta Jusuf Kalla. Keluarga mantan Presiden Soeharto dan anak-anak mantan Presiden  Soekarno serta putra-putri mantan Presiden Abdurrahman Wahid juga ikut dalam peringatan kelahiran Pancasila itu.

Dalam peringatan kelahiran Pancasila ini para tokoh agama diberikan kesematan untuk menyampaikan pidato kebangsaan. Berbeda dengan tahun lalu, yang justru para mantan presiden yang bergiliran menyampaikan pidato kebangsaan. Wakil Presiden Boediono akan menyampaikan pidato kunci dalam peringatan hari bersejarah ini.

Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo: Menghidmati Pancasila Dengan Usaha Pengembangan Modal Insani

Menurut Adam Smith, Human Capital (Modal Insani) berupa kemampuan dan kecakapan yang diperoleh melalui pendidikan, belajar sendiri, belajar sambil bekerja memerlukan biaya yang dikeluarkan oleh yang bersangkutan. Perolehan ketrampilan dan kemampuan akan menghasilkan tingkat balik “Rate of Return” yang sangat tinggi terhadap penghasilan seseorang. Berdasarkan pendekatan Human Capital ada hubungan Linier antara Investasi Pendidikan dengan “Higher Productivity & Higher Earning”. Manusia sebagai modal dasar yang diinvestasikan akan menghasilkan manusia terdidik yang produktif dan meningkatnya penghasilan sebagai akibat dari kualitas kerja yang ditampilkan.

Untuk itulah, dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Lahir Pancasila, diselenggarakan Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo (@TEPSeminarExpo) oleh Comlabs USDI ITB dan Pojok Pendidikan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo memiliki tiga kegiatan utama, yaitu seminar, expo, dan lomba untuk guru.

Seminar 

Seminar  diselenggarakan terdiri dari dua sesi seminar, yaitu:

  1. Seminar Pendidikan Kreatif dan Kewirausahaan: Seminar ini ditujukan untuk Guru pendidikan dasar dan menengah, Pemerhati/Komunitas pendidikan, Perusahaan pendukung pendidikan, Wirausahawan, Mahasiswa dan Umum.
  2. Seminar E-Learning dan Knowledge Management: Seminar ini ditujukan untuk Akademisi, Korporasi, Penyelenggara Training, Penyedia layanan Distance Learning dan Departemen pemerintahan.

Sebagai salam kebangsaan dan dalam rangka memperingan ketiga hari bersejarah di atas, seminar ini dibuka dengan Peserta, Panitia dan Narasumber berdiri dan menyanyikan Indonesia Raya. Acara kemudian dibuka oleh Prof.Ir. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc., Ph.D (Wakil Rektor Bid. Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni ITB) yang menekankan pendidikan dan latihan sebagai sarana pembangunan dan pengembangan Modal Insani (Human Capital). Beliau mengatakan: “Setiap diri manusia memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan tanpa mengenal ruang dan waktu, tanpa mengenal usia dan tanpa dibatasi oleh bangunan gedung sekolah yang megah yang memisahkan antara si kaya dan si miskin walaupun itu membutuhkan Pembiayaan Pendidikan yang cukup besar. Falsafah Pendidikan yang memanusiakan manusia (humanize the human being) harus tetap menjadi pandangan hidup dalam dunia pendidikan sehingga akan tercipta pendidikan yang bebas secara politik, sejahtera secara ekonomi, adil secara hukum dan partisipatif secara budaya”.

Seminar Pendidikan Kreatif dan Kewirausahaan

Sebagai Pembicara Pertama adalah Pendidik Kreatif Bapak Dedi Dwitagama (Kepsek. SMKN 29 Penerbangan Jakarta) yang pertama kali hadir di Aula Barat ITB Bandung tahun 1978, saat ikut Lomba Paduan Suara se-Jawa bersama Tim Paduan Suara SMPN 19 Jakarta. Pada Seminar  Techno.edu.preuneur kali ini, beliau memberikan pencerahan perihal kreativitas di sekolah serta mengkhidmati pendidikan adalah jalan untuk menaikkan status ekonomi dan sosial seseorang. Beliau juga katakan bahwa peran Guru Kreatif  sebagai Lokomotif Pendidikan Berkualitas sangat penting terutama di era Teknologi Informasi ini. Pencerahan yang sangat menginspirasi peserta seminar ini diakhiri Pak Dedi:

Dengan hanya berpikir sebagai seorang pengajar, guru hanya memberikan materi ajar di depan kelas tanpa mampu mentrasfer nilai-nilai pokok dari sebuah pendidikan. Guru harus mencoba untuk membuka wawasan peserta didik tentang kehidupan, dia tidak hanya mengajar tapi juga berperan sebagai pendidik yang kreatif

Pembicara Kedua adalah Bapak Mohamad Rosihan (Presiden Komunitas Tangan Di Atas) yang menyampaikan bahwa untuk membangkitkan perekonomian Indonesia dan melepaskan ketergantungan Indonesia terhadap bangsa lain, perlu dicetak wirausaha yang banyak. Banyaknya wirausaha perlu dibarengi juga dengan karakter yang sehat yang sesuai dengan budaya dan kearifan masyarakat Indonesia melalui konsep Characterpreneurship. Karakter Entrepreneur ini dibentuk tidak dengan cara instant, namun melalui proses pendidikan jangka panjang yang berkarakter. Komunitas TDA dibangun atas dasar kesamaan Visi dan Misi yaitu menebar rahmat dengan jalan berbisnis. Hingga saat ini, Komunitas TDA telah beranggotakan lebih dari 20.000 pengusaha kecil menengah yang tersebar di seluruh Indonesia:

“Bagi kami, tujuan berbisnis atau berwiraswasta bukan hanya mencari kuntungan semata, tetapi juga orangnya harus berkarakter. Characterpreneurship berpegang pada nilai atau etika bisnis, anti korupsi, pembelaan terhadap produk dalam negeri, menciptakan lapangan kerja dan tentunya berkah bagi masyarakat” Muhamad Rosihan, Presiden TDA.

Pembicara Ketiga adalah Pak Brimy Laksmana (Education Manager Intel Education Indonesia) yangmembuka wawasan para pendidik tentang kebutuhan perubahan paradigma dan cara mendidik untuk menyesuaikan perkembangan dunia abad 21 lewat presentasi yang disampaikannya. Disampaikan juga workshop di Ruang Multimedia Comlabs-ITB untuk beberapa guru yang telah menerima Intel Classmate PC (CMPC) bersama aplikasi pendukung yang menyertainya untuk digunakan dalam mendukung pembelajaran dikelas, yang difasilititasi oleh Winastwan Gora (Senior Trainer Intel Education Indonesia).

Pembicara Keempat atau terakhir adalah Gerald Goh (Polyvision Education Consultant) yang memperkenalkan “Interactive Whiteboard” untuk penunjang peningkatan kualitas pendidikan. Melalui event ini, Polyvision ingin memperkenalkan 21st Century Classroom Technology dengan produk “Interactive Whiteboard” yang memiliki ceramic steel surface, open software architecture, dan wireless technology. Ini bisa digunakan dengan software-software pendidikan/corporate/personal yang sesuai dengan spek mereka. Hal ini tentu saja sangat menarik untuk komunitas IT di Indonesia, karena itu artinya kita bisa mengembangkan software untuk “interactive whiteboard” dengan platform Eno board.

Expo

Expo terdiri dari dua rangkaian utama yakni Pameran Kreativitas dan Paralel Session. Pameran Kreativitas diisi insan-insan kreatif dalam pendidikan maupun korporat untuk menampilkan hasil karyanya serta memotivasi pengunjung. Pameran ini akan menampilkan alat peraga hasil karya finalis kompetisi alat peraga pengajaran. Selain itu, akan ditampilkan juga produk-produk dari komunitas kreatif serta dari perusahaan sponsor sebagai berikut:

Nama Komunitas Presentor Judul Presentasi Waktu Presentasi
Start Duration End
Komunitas Lingkungan Hidup (M. Febrian) M. Febrian daerah berpotensi tanpa pengelolaan SDM yang unggul 9:30 0:30 10:00
Agate Studio(Mewakili komunitas Gedebuk – Game Devleoper Bukabukaan) Aditia Dwiperdana Why Learning Should be a Game 10:00 0:30 10:30
Npaperbox Taufik Sulaeman Museum of Knowledge 10:30 0:30 11:00
Segitiga.Net(Kummara) Adieb A. Haryadi Tiga Tantangan Boardgame untuk Techno.Edu.Preneur 11:00 0:30 11:30
SKHOLE PM-KM ITB Ganar Firmananda SKHOLE – Asyiknya Berbagi 11:30 0:30 12:00
Rumah BelajarSAHAJA (Sahabat Anak Jalanan) Rahma Ainun Nisa Kehidupan Jalanan dan Pendidikan 12:00 0:30 12:30
ISTIRAHAT




Fantastic Inc. Lingga Robi P. #Xpressive Basic Public Speaking Mini Workshop 13:00 0:30 13:30
Tim Network ComLabs Galih Nugraha Nurkahfi, Dwi Haryanto Teknologi Infrastruktur IT Tepat Guna 13:30 0:30 14:00
YPBB Perswina Allaili profil YPBB dan kegiatan yang bisa diikuti 14:00 0:30 14:30
LPP Salman ITB Jamah Halid ICT dan problematika pendidikan 14:30 0:30 15:00
Komunitas Sahabat Kota Siti Fauziah Education for Sustainable Development 15:00 0:30 15:30
Marketeers Aji Hogantara Marketing Yourself 15:30 0:30 16:00
Nyangkod Kresna Galuh Darastya Herlangga Belajar Pemrograman Tapi Nggak Horor 16:00 0:30 16:30

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/Dj2zRH0C888″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo Aula Barat ITB – 31 Mei 2012

Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Comlabs USDI ITB dan Pojok Pendidikan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional. Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo memiliki tiga kegiatan utama, yaitu seminar, expo, dan lomba untuk guru.


Seminar

Seminar yang akan diselenggarakan terdiri dari dua sesi seminar, yaitu:

  • Seminar Pendidikan Kreatif dan Kewirausahaan.
    Seminar ini ditujukan untuk Guru pendidikan dasar dan menengah, Pemerhati/Komunitas pendidikan, Perusahaan pendukung pendidikan, Wirausahawan, Mahasiswa dan Umum.
  • Seminar E-Learning dan Knowledge Management.
    Seminar ini ditujukan untuk Akademisi, Korporasi, Penyelenggara Training, Penyedia layanan Distance Learning, Departemen pemerintahan.

Informasi lengkap seminar dapat dilihat di sini.


Expo

Expo terdiri dari dua rangkaian utama yakni Pameran Kreativitas dan Paralel Session. Pameran Kreativitas akan diisi insan-insan kreatif dalam pendidikan maupun korporat untuk menampilkan hasil karyanya serta memotivasi pengunjung. Pameran ini akan menampilkan alat peraga hasil karya finalis kompetisi alat peraga pengajaran. Selain itu, akan ditampilkan juga produk-produk dari komunitas kreatif serta dari perusahaan sponsor.

Seminar @WifiUtama: Memprediksi masa depan ERP – Sebuah Analisis SWOT

Saya jadi moderator dan “pembicara”  acara yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Widyatamabertajuk Widyatama Informatics Festival (WIFi). Rangkaian acara ini telah dimulai sejak awal April kemarin dan akan mencapai puncaknya pada tanggal 26 – 28 April 2012.

WIFi  menggelar seminar dan workshop ditambah dengan berbagai macam kompetisi. Seminar diadakan pada tanggal 28 April 2012 di Universitas Widyatama, Jl. Cikutra 204, Bandung. Seminar akan terdiri dari dua bagian. Seminar pertama akan membahas tentang ERP khususnya SAP dan  diselenggarakan pada pukul 09.30 sampai pukul 12.00. Seminar SAP ini diisi oleh Wahyudi (Staff Ahli Direksi PT. Kereta Api Indonesia) dan Ribkah Gustina (Metrasys) dan moderator Djadja Sardjana.

Berikut adalah ulasan atas seminar tersebut dikaitkan dengan Sebuah Analisis SWOT memprediksi masa depan ERP: 

Teknologi informasi telah tumbuh di era yang didominasi proses di mana otomatisasi telah difokuskan pada pertanyaan “Apa yang harus saya lakukan?”. Hal ini diyakini bahwa kita sekarang telah memasuki era baru di mana otomatisasi dapat membantu menjawab pertanyaan besar: “Apa yang harus saya ketahui” Di era ini, kemampuan untuk mengekspos, mengasosiasikan, menganalisis, dan mempresentasikan konten terstruktur dan tidak terstruktur adalah salah satu sumber yang belum dimanfaatkan untuk keunggulan kompetitif.

Hingga sekarang, kebutuhan operasional dan transaksional – bukan informasi – adalah fokus dari implementasi ERP yang paling penting. Aktifitas tersebut termasuk yang didasarkan pada proses bisnis yang otomatis, bukan analisis bisnis  atau indikator kinerja utama (KPI).

Platform ERP memiliki kemampuan untuk pelaporan historis dan dukungan keputusan, tetapi kebanyakan solusinya telah membatasi fungsi analisis deskriptif  atau prediksi. Upaya untuk memperluas fungsi dalam ERP sering tertinggal fitur dan kegunaannya dari solusi analisis canggih yang terpisah dari ERP.

Para Eksekutif  mengasumsikan informasi  akan menjadi output dari upaya solusi ERP. Namun, sebagian besar implementasi tidak memiliki visi informasi (atau anggaran) untuk hal ini. Banyak implementasi tidak termasuk sejarah informasi  sebagai bagian dari konversi data. Visibilitas terbatas pada transaksi yang terjadi setelah ERP “go-live”. Solusi ERP disebarkan melaluliperilaku “data yang tercemari” serta tidak mengatasi data organik, “sistem rumah-tumbuh  dan sumber tersembunyi lainnya.

Tapi sekarang banyak organisasi berpikiran maju  menyadari bahwa paket perangkat lunak skala besar yang  “memakan semua sumber daya”  perusahaan  bukan prasyarat untuk mencapai kemampuan informasi. Mereka telah meluncurkan “best-of-breed” upaya mewujudkan business intelligence (BI) dan solusi analisis di mana ERP dipandang sebagai salah satu sumber data perusahaan.

Pemain teknologi informasi di perusahaan telah melakukan investasi yang signifikan dan akuisisi untuk mendukung kemampuan informasi mereka. Setelah proses terintegrasi ke dalam platform eksekusi mereka, harus ada banyak peningkatan kemampuan untuk mewujudkan visi informasi perusahaan. Implementasi Multi-tahun ERP  dapat cepat komponen melacak data master dan analisis bisnis untuk mempercepat “time to value”, yang memungkinkan visibilitas untuk menjadi pemercepat jadwal “roll-out”.

Usaha yang mengadopsi pendekatan bisnis KPI di luar operasional, menggabungkan kebutuhan informasi dari bisnis yang jauh melampaui apa yang vendor  perlukan untuk proses eksekusi. Otomatisasi informasi adalah disiplin yang berbeda dari ERP, membutuhkan satu set keterampilan, keteguhan dan metode yang berbeda – terutama jika tidak paralel dengan implementasi ERP. Organisasi menyadari bahwa ERP merupakan sebagian dari data yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan informasi bisnis.

 

Mari kita melakukan analisis SWOT prediktif untuk ERP:

Kekuatan:

  1. Perkembangan TI telah menyebabkan kerangka teknologi baru yang memudahkan untuk Business Intelligence, OLAP dan Manajemen Kinerja Bisnis
  2. Banyak  Algoritma prediksi  tersedia melalui karya-karya penelitian
  3. Komputasi kecepatan tinggi telah memudahkan data mining
  4. Banyak gudang data telah dibangun selama bertahun-tahun yang dapat digunakan untuk analisis

Kelemahan:

  1. Analisis prediktif banyak bertumpu pada membangun sebuah model untuk sistem berdasarkan asumsi tertentu. Hal ini mengakibatkan prinsip “Garbage in garbage out”
  2. Kinerja perangkat lunak ERP menurun sebagai akibat proses prediktif memerlukan komputasi tambahan dan sumber daya dalam bentuk tabel data
  3. “Analytics & predictives” dikembangkan menggunakan teknologi terbaru yang masih belum cukup stabil. Oleh karena itu menghasilkan beberapa bug kode yang tidak diinginkan

Peluang:

  1. Dalam situasi kompetisi yang sangat ketat, perusahaan memberikan perhatian maksimal untuk strategi dan pengambilan keputusan. “Predictives” membantu manajemen dalam membuat keputusan yang berdasarkan perkiraan. Ada banyak peluang pasar yang besar untuk produk ERP seperti ini.
  2. Memperkenalkan  Analisis dan prediksi dengan membuat user interface yang lebih “user friendly” dan intuitif

Ancaman:

  1. Ada banyak pesaing di industri ini seperti Oracle, SAP, dan Microsoft yang berjuang untuk pangsa pasar produk tersebut
  2. Menggunakan teknologi terbaru untuk menambahkan “predictives” untuk ERP menyebabkan peningkatan biaya  dari investasi dalam produk  sehingga mungkin menghalangi usaha kecil menggunakannya.
Melihat analisis SWOT, rasanya investasi di predictives untuk ERP adalah pilihan yang layak untuk perusahaan IT. Ini tidak hanya akan mengantar ke masa depan baru ERP tetapi juga membuat produk ERP yang lebih menarik dan lebih cerdas.
Catatan: Sebagian disadur dari http://fms-syssoc.net/blog/?p=76
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/_LIlOxEMlxs” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Seminar @WiFiUtama: Social Media, Ancaman Atau Kesempatan Bagi Pendidikan?

Kemarin saya jadi moderator dan “pembicara”  acara yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Widyatama bertajuk Widyatama Informatics Festival (WIFi). Rangkaian acara ini telah dimulai sejak awal April kemarin dan akan mencapai puncaknya pada tanggal 26 – 28 April 2012.

WIFi  menggelar seminar dan workshop ditambah dengan berbagai macam kompetisi. Seminar diadakan pada tanggal 28 April 2012 di Universitas Widyatama, Jl. Cikutra 204, Bandung. Seminar akan terdiri dari dua bagian. Seminar pertama akan membahas tentang SAP dan akan diselenggarakan pada pukul 09.30 sampai pukul 12.00. Seminar SAP ini diisi oleh Wahyudi (Staff Ahli Direksi PT. Kereta Api Indonesia) dan Ribkah Gustina (Metrasys) dan moderator Djadja Sardjana.

Seminar kedua  dilaksanakan pada pukul 13.30 – 16.30. Seminar ini berkonsep seminar dan talkshow dan  mengangkat tema “The Power of Sosial Media Community”. Bagian kedua ini akan diisi oleh Reza Budi Prabowo (FOWAB), Winastwan Gora (Intel), Wiku Baskoro (DailySocial),  dan Willis Wee (Techinasia) dan moderator Yohan Totting (FOWAB). 

Sesuai yang disampaikan Pak Winastwan Gora (Intel), menarik membicarakan Social Media ini, apakah  Ancaman Atau Kesempatan Bagi Pendidikan khususnya di Indonesia? 

Jaringan sosial online sekarang begitu dalam tertanam dalam gaya hidup anak-anak, remaja bahkan orang dewasa yang bersaing dengan televisi untuk menarik perhatian mereka, menurut sebuah studi baru dari Grunwald Associates LLC. Penelitian itu menunjukkan, anak berumur 9 sampai 17 tahun, sekarang menghabiskan waktu menggunakan layanan jejaring sosial dan situs web hampir sama seperti mereka menghabiskan menonton televisi. Diantaranya sekitar sembilan jam seminggu digunakan kegiatan pada jejaring sosial dan sekitar 10 jam seminggu menonton TV.

Siswa kebanyakan tidak pasif pada saat online. Selain berkomunikasi, banyak siswa terlibat dalam kegiatan yang sangat kreatif di situs jaringan sosial – dan proporsi yang cukup besar dari mereka adalah menjadi “nara sumber” pendidikan yang mengatur “kecepatan belajar” bagi rekan-rekan mereka.

Dalam hal ini, melalui beberapa Social Media termasuk Facebook dan Twitter, Inisiatif Intel® Education adalah sebuah komitmen yang berkelanjutan untuk mempercepat proses pengembangan pendidikan menghadapi ekonomi baru yang berbasis pengetahuan (knowledge economy). Sebagai partner yang telah dipercaya oleh pemerintah berbagai negara dan dunia pendidikan di seluruh dunia dan investasi tahunan sebesar USD 100 juta di lebih dari 50 negara, program Intel® Education memiliki fokus untuk: meningkatkan proses belajar mengajar melalui penggunaan teknologi yang efektif, dan mengembangkan pendidikan serta penelitian dalam matematika, ilmu pengetahuan alam, dan rekayasa. Semua ini ditujukan untuk mencapai pendidikan yang mampu menjawab tantangan abad 21.

Indonesia menjadi Negara ke 45 yang mengimplementasikan Program Intel® Teach. Hingga tahun 2011, program ini telah di implementasikan di 70 negara dan melatih lebih dari 10 juta guru diseluruh dunia. Intel Indonesia memulai program pada pertengahan tahun 2007, MOU antara Departemen Pendidikan Nasional dan Intel Indonesia yang ditandatangai tanggal 16 Mei 2007 menandai dimulainya pelaksanaan program Intel teach di Indonesia.

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/3zKdPOHhNfY” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Seminar “Ecotourism based on Environment, Education and Creative Industry” di Hotel Mangkubumi Indah Tasikmalaya

 

Pada tanggal 24 Maret 2012 saya menghadiri seminar “Ecotourism based on Environment, Education and  Creative industry” di Hotel Mangkubumi Indah Tasikmalaya. Ekowisata (Ecotourism) merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Tidak ada definisi yang diterima secara universal tentang ekowisata. Evans-Pritchard dan Salazar [1992, dikutip dalam Mowforth dan Munt, 1998, p.104] mencatat bahwa “Kita  tidak mengetahui tepatnya apakah istilah ‘ekowisata’ dimaksudkan sebagai konsep murni atau sebagai istilah yang secara umum digunakan “. Secara teoritis, ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu jenis pariwisata di mana lingkungan, masyarakat lokal dan pengunjung semuanya memperoleh manfaat . Dalam prakteknya, istilah ‘ekowisata’ sering digunakan oleh operator tur sebagai alat pemasaran untuk mempromosikan segala bentuk pariwisata yang berhubungan dengan wistata alam. Sebagai Wight [1994, hal.39] catatan:

“Tampaknya ada dua pandangan yang berlaku pada ekowisata: satu fihak memandang bahwa kepentingan umum pada lingkungan dapat digunakan untuk memasarkan produk, yang lain melihat bahwa ketertarikan yang sama dapat digunakan untuk menyelamatkan sumber daya di mana produk ini didasarkan. Pandangan ini tidak perlu saling berhubungan”.

Berbagai konferensi telah diadakan membahas ekowisata dan pariwisata yang bertanggung jawab untuk mempromosikan pandangan di atas. Pada Konferensi Dunia Tahun 1995 tentang Pariwisata Berkelanjutan yang diselenggarakan di Lanzarote, disepakati bahwa:

“Pariwisata akan berkelanjutan ketika pembangunan dan operasinya  memasukkan partisipasi penduduk lokal, perlindungan lingkungan, hasil ekonomi yang adil untuk industri dan masyarakat sekitarnya, serta  memuaskan dan saling menghargai semua pihak yang terlibat” [Jafari, 1996 , p.959]. Dari konferensi tersebut dan literatur tentang ekowisata telah muncul prinsip pariwisata yang harus dipatuhi jika ingin didefinisikan sebagai ekowisata. 

Salah satu pembicara adalah Jalu Sugih Cahyanto yang membuat beragam kerajinan kap lampu, miniatur sepeda, vas bunga, dan baki lamaran yang dipamerkan Kreativitas Seni Saung EGP. Jika dilihat sekilas, mungkin tak ada yang menyangka bahwa beragam produk berbahan dasar sampah. Ya, memang benar-benar hanya sampah kertas koran, kertas majalah, serta jenis kertas sisa lainnya. Namun, sampah-sampah kertas itu di tangan Jalu, sang pemilik ide kreatif di Saung EGP, dapat menjadi produk yang indah dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Jalu, yang berlatar belakang pendidikan di bidang ekonomi, memang suka usil mengutak-atik benda-benda di sekitarnya. Produk limbah kertas yang dijual dengan kisaran harga Rp 30 ribu hingga Rp 200.000 itu pun ternyata buah dari keusilan Jalu.

“Inspirasinya karena memang saya suka jail dan usil. Saya sering iseng-iseng membuat kerajinan dan ternyata kertas itu sangat mudah diutak-atik sehingga akhirnya menjadi barang kerajinan seperti ini,” katanya.

Pemilihan sampah kertas, lanjut Jalu, merupakan satu bentuk kepeduliannya terhadap lingkungan. Selain sampah kertas terbilang mudah dijumpai, ternyata kepekaan Jalu terhadap isu pemanasan global juga menjadi alasan yang mendasari pemilihan kertas sebagai bahan dasar kerajinannya.

“Dapat ide buat kerajinan dari kertas karena kebetulan di sekitar saya banyak kertas. Dulu pernah bikin kerajinan pakai plastik, tapi terbentur masalah bahan. Kertaskan ada di mana-mana, jadi mudah mendapatkannya. Selain itu, saya juga punya misi cinta lingkungan. Kertas itu limbah yang ramah lingkungan. Terkait isuglobal warming, kita juga ingin bersahabat dengan alam. Itulah sebabnya saya memilih bahan yang ramah lingkungan,” ujar Jalu.

Setelah selesai mengikuti “Tasikmalaya Ecotourism Seminar” ini ada berita menggembirakan dari Ketua Kadin Tasikmalaya Wahyu Tri Rahmadi bahwa @pojokpendidikan (www.pojokpendidikan.com) akan dilibatkan untuk berpatisipasi dalam perencanaan dan eksekusi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di sekolah-sekolah TK. SD, SMP, SMU dan SMK di Tasikmalaya.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/enWkNtzxcMc” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>