RSBI dan SBI: Antara “Split Personality” dan “Kacang Yang Lupa Pada Kulitnya”

 

Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, ras, etnis, agama, dan gender. Pemerataan dan mutu pendidikan  akan membuat warga negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya, mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila. 

Pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan manusia sepanjang hayatnya, baik sebagai individu, kelompok sosial, maupun sebagai bangsa. Pendidikan telah terbukti mampu mengembangkan sumber daya manusia yang merupakan karunia Allah Swt., serta memiliki kemampuan untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga kehidupan manusia semakin beradab.

Menurut Wikipedia, Sekolah berasal dari bahasa Yunani σχολή (schole), yang aslinya berarti “kesenangan”, atau juga “Tempat yang menyenangkan”. Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk memungkinkan dan mendorong siswa (atau “murid”) untuk belajar di bawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, siswa mengalami kemajuan melalui serangkaian tingktan sekolah. Nama-nama untuk sekolah berbeda di setiap negara, tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anak dan sekolah menengah bagi remaja yang telah menyelesaikan pendidikan dasar.

Berhubungan dengan hal di atas, sepertinya RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) sedang mengalami “Split Personality” (Kepribadian Ganda) setelah putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan payung hukum RSBI dan SBI baru-baru ini.  Dikutip dari ANTARA News – Selasa pekan ini, Mahkamah Konstitusi membuat putusan mengejutkan perihal Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dengan membatalkan Pasal 50 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatur RSBI dan SBI. 

Mahkamah Konstitusi menyimpulkan pasal itu bertentangan dengan UUD 1945. Para hakim konstitusi membongkar sejumlah cacat filosofis dalam RSBI dan SBI. “Ini merupakan bentuk baru liberalisasi dan dualisme pendidikan, serta berpotensi menghilangkan jati diri bangsa dan diskriminasi,” kata Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. Atau dalam dalam istilah lain RSBI dan SBI dianggap seperti Kacang Yang Lupa Pada Kulitnya”.

Sementara hakim konstitusi Anwar Usman menyoroti pembedaan sarana dan prasarana, pembiayaan dan pendidikan SBI/RSBI dari sekolah lain akan mencipta perlakuan berbeda kepada sekolah dan siswa. “Ini bertentangan dengan prinsip konstitusi yang harus memberikan perlakuan yang sama antarsekolah dan antarpeserta didik apalagi sama-sama sekolah milik pemerintah,” kata Anwar.

Dilain fihak, polemik baru segera muncul. Guru dan orangtua pun berbeda pandangan soal inkonstitusionalisasi RSBI ini. “RSBI adalah terobosan dalam tingkatkan pendidikan dan perlu,” kata Wakil Kepala Sekolah SMAN 12 Jakarta, Mulyanto. Dia menilai sekolah bagus tak hanya ditentukan oleh seleksi siswa, tapi juga kemampuan sama bagusnya antara guru dan siswa.

 

Untuk menghadirkan kondisi ideal ini tentu memerlukan kelengkapan-kelengkapan khusus yang berkonsekuensi biaya besar.  Pada di tingkat ini seharusnya negara yang lebih berperan, bukan dikembalikan pada masyarakat. Mulyanto menyayangkan kesalahan dan kekeliruan praktikal RSBI membuat sistem yang dianggapnya baik ini, harus terkorbankan. “Jangan bakar lumbungnya, tapi perbaikilah,” kata dia.

 

Sebagai kata penutup, betapa pentingnya sekolah tidak hanya berfikir tentang SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) yang hanya mementingkan intelejensia. Namun juga harus menjadi SBA (Sekolah Bertaraf Akhirat) yang mempunyai kesetimbangan IQ, EQ dan SQ agar anak bisa tumbuh berkembang dengan wajar dan natural.

 

Kekerasan di Sekolah: Antara Proses Peniruan, Hilangnya Ketauladanan dan “Teori Kekacauan”

Menurut Neil Nodding dari Universitas Cambridge (Pengarang buku “Happiness and Education”):

“Kenyataan bahwa arti Kebahagian dan Pendidikan tampaknya semakin bertentangan akhir-akhir ini dan salah satu motif untuk menanganinya secara baik dan menjadi terkait erat. Kebahagiaan harus menjadi tujuan pendidikan, dan pendidikan yang baik harus memberikan kontribusi yang signifikan untuk kebahagiaan pribadi dan kolektif.”

Menurut dia, dari data-data yang ada telah meningkat kekhawatiran tentang hubungan antara hilangnya kebahagiaan, penderitaan, dan kebosanan di sekolah. Mengapa begitu banyak orang-orang kreatif membenci sekolah? Melihat penderitaan mereka yang “terdokumentasi dengan baik”, mengapa kita terus membenarkan dengan alasan lama, “Suatu saat nanti kamu akan berterima kasih atas ini”

Orang tua dan pendidik yang melanjutkan sikap ini, sebagian karena anak-anak dewasa begitu banyak berterima kasih kepada kita untuk kesuksesan  (yang kadang-kadang dipertanyakan konteksnya) yang mereka anggap, bahwa itu adalah hasil kesengsaraan mereka sebelumnya. Maka, mereka siap, bahkan bersemangat, untuk menimbulkan babak baru penderitaan pada orang lain. Memang, banyak orangtua dan guru takut untuk menghindari hal ini, takut bahwa anak-anak akan dimanjakan, tidak disiplin, tidak berhasil, dan akhirnya tidak bahagia.

Proses Peniruan Kekerasan di Sekolah

Dalam konteks kekerasan pada murid sekolah, stereotip yang dihidupkan pasti seputar tingkah laku adik kelasnya yang dinilai sok tahu, sombong, tak sopan, melawan, tak mau diatur oleh kakak kelas. Dengan alasan itulah, kakak kelas merasa punya legitimasi ”mengajari” adik kelasnya. Dengan cara ”mengajari” ini, kelak diharapkan si adik bisa tunduk. Jika tidak tunduk, yang terjadi lebih gawat lagi. Itulah ciri kekerasan ketiga, yaitu meningkatnya bentuk kekerasan.

Jika sebelumnya hanya dalam bentuk hinaan verbal, lama kelamaan baik bentuk maupun frekuensinya akan meningkat. Tak heran anak sekolah sebagai pelaku meningkatkan bentuk kekerasannya dari verbal menjadi fisik seperti yang kita lihat di media televisi. Karena mereka juga meniru kekerasan yang  dilakukan siswa senior, mereka pun meniru model kekerasan  seperti menampar dan menendang.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Dari analisis jender sudah lama sebetulnya ditawarkan agar model pendidikan dan pengasuhan lebih mengutamakan hubungan-hubungan yang didasarkan pada karakter feminin, misalnya mengembangkan kasih sayang daripada menerapkan disiplin gaya maskulin yang didasari karakter keras, melindungi dan bukan menguji nyali, mengutamakan kebersamaan, dan saling mendukung bukan saling bersaing.

Selain itu, kita juga harus bisa memutus rantai kekerasan tersebut dengan menghilangkan faktor-faktor yang membuat anak-anak menjadi frustrasi atau agresif. Mereka terlalu jenuh melihat orang-orang dewasa yang saling membunuh dalam peperangan atau konflik, mereka jijik melihat pertengkaran di parlemen atau partai. Intinya adalah mereka membutuhkan teladan dan bukan hukuman dengan pemecatan. Sebab, pemecatan tak akan menyelesaikan masalah, melainkan hanya memindahkan masalah. Sementara akar masalah yang sebenarnya tak benar-benar diatasi.

Kekerasan Akibat Hilangnya Ketauladanan

 

Kebutuhan anak didik akan figur teladan, bersumber dari kecenderungan meniru yang sudah menjadi karakter manusia. Perbuatan meniru bersumber dari kondisi mental seseorang yang senantiasa merasa bahwa dirinya berada dalam perasaan yang sama dengan kelompok lain, sehingga dalam peniruan ini, anak-anak cenderung meniru orang dewasa, orang lemah cenderung meniru orang yang kuat, bawahan cenderung meniru atasannya dan terkhusus anak didik cenderung meniru pendidiknya.

Dalam hal ini guru mempunyai peran vital dalam proses keteladanan. Sikap dan perilaku guru mempunyai implikasi yang luar biasa terhadap murid-muridnya. Kepribadian guru mempunyai pengaruh langsung dan kumulatif terhadap perilaku siswa. Perilaku guru dalam mengajar secara langsung atau tidak langsung mempunyai pengaruh terhadap motivasi belajar siswa, baik yang sifatnya positif maupun negatif. Artinya jika kepribadian yang ditampilkan guru dalam mengajar sesuai dengan tutur sapa, sikap, dan perilakunya, maka siswa akan termotivasi untuk belajar dengan baik, bukan hanya mengenai materi pelajaran sekolah tapi juga mengenai persoalan kehidupan yang sesungguhnya.

Sejak fase-fase awal kehidupan, seorang anak banyak sekali belajar melalui peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang-orang di sekitarnya. Kecenderungan anak belajar melalui peniruan itu menyebabkan  proses keteladanan menjadi sangat penting artinya dalam proses pembelajaran.

Dalam pendidikan melalui proses keteladanan ada dua macam bentuk, yaitu keteladanan yang disengaja dan keteladanan yang tidak disengaja. Keteladanan yang disengaja ialah keteladanan yang disertai penjelasan atau perintah untuk meniru. Sedangkan keteladanan yang tidak disengaja ialah keteladanan dalam keilmuan, kepemimpinan, sifat-sifat yang baik. Dalam konsep pendidikan Islam, kedua keteladanan ini sama pentingnya, meskipun keteladanan yang disengaja dilakukan secara formal, sedangkan keteladanan yang tidak disengaja dilakukan secara tidak formal.

Kekerasan dan “Teori Kekacauan” (Chaos Theory)

Chaos Theory pertama kali diperkenalkan oleh Charles Sampford dalam bukunya yang berjudul The Disorder of Law: A Critique of Legal Theory. Selain Sampford,ada juga pakar lain yang mengemukakan pendapat lain yang sejenis dan sangat mirip dengan Chaos Theory milik Charles Sampford ini yaitu Denis J. Brion dengan artikelnya tentang “The Chaotic Indeterminacy of Tort Law”, yang termuat dalam Radical Philosophy of Law, 1995. Aliran Legal Melee ini sekaligus merupakan pengecam keras aliran positivisme, dengan tokoh utamanya Hans Kelsen, dimana kaum positivis memandang hukum sebagai suatu sistem yang teratur, determinan, dan linear.

Menurut Sampford, secara teoritis dimungkinkan untuk menemukan suatu sistem hukum dalam suatu masyarakat yang tidak teratur. Bahkan dimungkinkan juga untuk menemukan suatu hukum yang tidak sistematik di dalam suatu masyarakat yang justru teratur. Charles Sampford memandang bahwa hukum bukanlah bangunan yang penuh dengan keteraturan, melainkan suatu yang bersifat cair. 

Menurut Sampford, masyarakat memperlihatkan wujudnya sebagai sebuah bangunan yang memuat banyak kesimpang siuran, yang diakibatkan dari interaksi antar para anggotanya. Masyarakat adalah ajang dari sekian banyak interaksi yang dilakukan antara orang-orang yang tidak memilki kekuatan yang sama, sehingga terjadilah suatu hubungan berdasarkan adu kekuatan (power of relationships). Oleh karena itulah, tatanan yang muncul dari interaksi itu adalah tatanan yang a-simetris. Sampford menyebut keadaan ini sebagai fenomena “social melée” (suatu kondisi sosial yang cair [fluid]).

Pada waktu sistem hukum yang secara formal sudah disusun dengan simetris itu diterapkan dalam masyarakat, maka sistem hukum tersebut dijalankan oleh kekuatan-kekuatan yang a-simetris. Produk sistem hukum yang dijalankan oleh kekuatan-kekuatan yang a-simetris itu adalah hukum yang penuh ketidakteraturan (disordered). Inilah yang kemudian oleh Sampford disebut “legal melée”.

Dengan kekuasaan dan kekuatan yang ada pada masing-masing, para pelaku hukum membuat putusan-putusan yang subjektif. Hakim melihat peranannya sebagai pembuat putusan-putusan pribadi (individual decisions); para advokat akan menggali dalam-dalam perundang-undangan yang ada untuk mencari celah-celah bagi kepentingan kliennya, sedangkan rakyat akan melihat hukum itu sebagai tindakan para pejabat hukum (as the actions of many individual).

Itulah mengapa Perilaku elit negeri yang korup, berkonflik dalam politik dan dipertontonkan di muka umum mempengaruhi perilaku penontonnya termasuk pelajar. Anak usia SMP dan SMA sangat labil dan mudah terpancing bertindak beringas. Para elit negeri ini harus bertanggungjawab, termasuk sebagian masyarakat yang menghalalkan segala cara yang menimbulkan kekacauan kehidupan bernegara yang berimbas pada kekacauan pendidikan…….

 

Sekolah Yang Baik: SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) atau SBA (Sekolah Bertaraf Akhirat)

Menurut Wikipedia, Sekolah berasal dari bahasa Yunani σχολή (schole), yang aslinya berarti “kesenangan”, atau juga “Tempat yang menyenangkan” (Gambar-1). Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk memungkinkan dan mendorong siswa (atau “murid”) untuk belajar di bawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, siswa mengalami kemajuan melalui serangkaian tingktan sekolah. Nama-nama untuk sekolah berbeda di setiap negara, tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anak dan sekolah menengah bagi remaja yang telah menyelesaikan pendidikan dasar.

Hari Sabtu kemarin saya mengambil raport tengah semester milik Firman. Cukup terkejut karena raport dibagikan di lantai 8 Gedung Pos Indonesia….Bagi sekolah yang termasuk kluster 2 dan “gratis” di Bandung, ini termasuk sangat mewah……

Acara dibuka dengan “School Profile” berupa film singkat yang digarap cukup apik dan profesional. Kemudian Kepala Sekolah menyampikan betapa pentingnya sekolah tidak hanya berfikir tentang SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) yang hanya mementingkan intelejensia. Namun SMP ini bertekda menjadi SBA (Sekolah Bertaraf Akhirat) yang mempunyai kesetimbangan IQ, EQ dan SQ agar anak bisa tumbuh berkembang dengan wajar dan natural.

Kemudian seorang pembicara dari ESQ Center memberikan beberapa contoh masyarakat di manapun agar menjadikan 7 Budi Utama yaitu: Jujur, Tanggung Jawab, Visioner, Disiplin, Kerjasama, Adil, dan Peduli sebagai karakter bangsa. Prinsip-prinsip yang tidak sesuai dengan suara hati akan berakhir dengan kegagalan, baik kegagalan lahiriah maupun kegagalan batiniah. Dunia telah membuktikan bahwa prinsip yang tidak sejalan dengan suara hati atau mengabaikan hati nurani seperti contoh diatas, terbukti hanya mengakibatkan kesengsaraan bahkan kehancuran. 

Sekolah ini Berdasarkan Visi dan Misinya, memiliki tujuan:

  1. Membentuk pribadi yang religius,agamis ,berakhlak solih/solihat ,cerdas dan berpengetahuan luas serta mampu membuat inovasi dalam dunia pendidikan.
  2. Menciptakan sebuah lembaga pendidikan yang membekali keterampilan dan kecakapan hidup berbasis teknologi untuk dapat hidup lebih maju dan mandiri serta dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
  3. Dapat memberikan bekal dalam menghadapi tantangan kehidupan dan unggul menghadapi berbagai tantangan dalam era globalisasi.

Sedngkan strategi pembelajaran dari sekolah ini adalah:

  1. Setiap hari melaksanakan pembiasaan Asmaul Husna dan sholat dhuha.
  2. Pembelajaran baca Al Qur’an (surat pendek) setelah shalat dhuhur berjamah selama 20 menit.
  3. Mengikuti kejuaraan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) minimal tingkat kota Bandung.

 

Reuni @sman5bdg: Antara Donor Darah, Himne Guru dan Kontribusi Alumni Bagi Sekolahnya

 
Dari pagi sampai siang saya mengikuti reuni di SMA Negeri 5 Bandung. Tak terasa umur yang sudah ABG (Angkatan Babe Gue) ini menjadi “muda” kembali. Terutama melihat “Cinta Pada Pandangan Pertama” yang sampai sekarang masih tidak berani saya ungkapkan…..waduh kok jadi begini…… Ada memang yang sudah sangat berubah rupa dan penampilan, namun semua itu hanya “Iceberg” saja 🙂
 
Susunan Acara reuni kali ini adalah:
  1. 08.00 – 11.00 Pelaksanaan Donor Darah di Kampus Belitung. 
  2. 11.00-12.00 Sessi Photo Bersama seluruh Angkatan di depan kampus Belitung 8 dan kelas masing2.
  3. 12.00-13.00 Ishoma.
  4. 13.00-16.00 Tepang Sono dengan jajaran Civitas Sekolah dan eks Guru SMA 5 Bandung
 

Acara langsung “digebrak” dengan Donor Darah dan saya kebagian urutan nomor 5 (The Lucky Number)……. Saat itu datang juga sahabat Heru Pramono yang saya “paksa” agar darahnya mau “disedot” PMI. Kemudian dengan “enggan” dia mau masuk ke bilik Donor Darah…… Taraaa! Kurang lebih setengah jam kemudian dia keluar dengan wajah berseri tanpa “penyesalan” 🙂

 

Sungguh terasa bahwa “Setetes Darah Kita, Menyelamatkan Nyawa Orang Lain”, panitia Reuni kali tidak ingin kehilangan momentum. Meeka sadar bahwa reuni bukan hanya masalah “having fun” (baca: hura2) namun lebih kepada semangat sesuai spanduk reuni yang berbunyi “Berjumpa……Berkumpul……Bermakna”.

 

Acara kedua adalah Foto Bersama…..Inilah waktunya bernarsis-ria…..Teu emut mun ayeuna geus kapala opat manjing kalima…..Ikut berteriak dan bergaya bebas bak John Travolta atau Mick Jagger……Berkali-kali difoto sampai lupa apakah saya pernah di kelas 3B1 atau 3B2……Pokonamah kafoto we lah 😀

 

Para alumni berfoto di depan kampus Belitung 8 pada saat cuaca panas……Ya itu tadi, kalau soal berpose mah tidak kalah sama anak cucunya….Meriah dan kekanak-kanakan…..Wajar saja sudah lebih dari seperempat abad tidak bertemu 😀

 

Kemudian alumni “digiring” ke aula di tingkat 3 sebelah belakang kiri SMA 5 Bandung…..Pangling memang atas perubahan yang ada…Semakin padat dan lengkap, namun hampir semua “renghap ranjug” sampai aula di tingkat tiga bakating ku cape 🙂

 

Sampai di Aula kelupaan belum sempat Sholat Duhur…….Dan pemirsa…..Turun lagi ke lantai dasar untuk sholat di Musholla yang cukup asri. Saat itu “tampuk pimpinan” (imam) sholat diserahkan kepada saya, mungkin saja karena saat itu “Saltum” (Salah Kostum) pakai batik ke acara alumni sehingga terlihat “berwibawa”.

 

Setelah makan siang dari katering milik sesama alumni, acara dilanjutkan dengan “Tepang Sono dengan jajaran Civitas Sekolah dan eks Guru SMA 5 Bandung”. Saat itu hadir guru-guru seperti Ibu Sukapti (Guru Matematika yang kebetulan juga tetangga rumah), Ibu Ani (Biologi) Ibu Winarsih (Sejarah), Ibu Mami Tumbelaka (Bhasa Inggris), Pak Arief (Fisika), Pak Rusli+Bambang (Olahraga), Pak Margana (Matematika) serta Kepala Sekolah saat ini Bapak Jumdiat Marzuki beserta dua Wakasek. 

 

Acara dibuka dengan semua alumni menyanyikan himne Guru sebagai berikut:

 
Saya sebagai pendidik merasakan “bulu kuduk berdiri” pada saat menyanyikannya…..Tak terasa air mata berkumpul di pelupuk mata………..Betapa peran pendidik itu memang sangat besar dan tidak pernah berakhir….
 
Ada yang menarik dari acara ini…Yaitu Tausiyah dari Ustad yang menyinggung bahwa “Reuni ini jangan dijadikan sebagai sarana ‘CLBK’ (Cinta Lama Bersemi Kembali)” namun harus jadi ajang amal bagi Alumni……..Pasti Pak Ustad, saya datang ke reuni ini untuk bersilaturahmi dan berkontribusi pada SMA Negeri 5 Bandung tercinta……….
 
Acara selanjutnya adalah penyampaian “Salam Kadeudeuh” dari alumni untuk guru-guru kami…..Jangan dilihat besarnya, namun makna kecintaan dan rasa terima kasih kami pada beliau semua. Plus foto bersama dengan alumni yang dibagi dlam beberap “kloter” karena masih banyak yang narsis bersama ibu bapak guru tercinta…..
 
Akhirnya acara ditutup dengan janji alumni untuk memberikan satu ruangan kepada SMA Negeri 5 Bandung……Harapannya akan menjadi ladang amal dan “Tanda Mata” dari semua alumni yang hadir………..
 

@PendidikPembebas Apakah Anda Pendidik Yang Menarik Bagi Peserta Didik?

Setelah bekerja keras, dan memiliki semangat besar untuk karir menjadi pendidik, kini saatnya untuk mencoba keterampilan Anda sebagai pendidik. Kemungkinan besar Anda akan merasa lelah, dan kadang-kadang menantang fisik dan mental kita. Berikut adalah cara baru melihat kelas dan menjadi bagian dari Anda sendiri sebagai seorang pemimpin kelas.
  1. Baca semua bahan yang telah diperoleh tentang mengajar dan mendidik siswa (Pedagogik dan Andragogik) sebelum masuk kelas. Mencobanya tanpa bahan dan rencana yang Anda percayai, tidak akan membantu saat Anda benar-benar di dalam kelas.
  2. Terbuka terhadap kritik. Sebagai seorang pendidik, membuat kesalahan adalah normal. Ingatlah bahwa tidak ada yang sempurna. Bahkan para ahli pendidikan pun kadang-kadang keluar jalur ketika mereka “terganggu”. Tapi jangan menyerah, bertahanlah dan Anda akan meningkatkannya dengan pengalaman dan praktek yang rutin.
  3. Lakukan penelitian untuk mengetahui tentang Lembaga Pendidikan anda. Pelajari aturan dan kebijakan, termasuk informasi berpakaian (semua ini akan membantu Anda jika siswa menguji Anda, serta mencoba untuk mencari tahu berapa banyak atau sedikit Anda ketahui). Cari tahu apa daerah yang dianggap “di luar batas” (pelanggaran) kepada siswa, mencari tahu di mana staf bergaul, dan bahkan apakah  mungkin bagi Anda untuk mendapatkan stiker parkir mobil atau motor. Setiap hal kecil penting untuk implementasi pendidikan yang mulus.
    • Pelajari tentang lingkup kerja sekolah, dewan sekolah (jika relevan), asosiasi orang tua guru, dan semua organisasi/badan yang menyertai institusi ini.
    • Tahu di mana bentuk-bentuk izin untuk maha/siswa dan dokumen penting lainnya
    • Tanyakan apakah ada masalah hukum atau pembatasan yang perlu diperhatikan jika Anda belum pernah diinformasikan.
    • Lakukan Pencarian online untuk sumber daya untuk membantu kita. Ada banyak situs dengan informasi yang cocok untuk maha/siswa dan pendidik, dan Anda juga mungkin dapat menemukan forum untuk berhubungan denganpendidik lain untuk berbagi cerita dan dukungan.
4. Buat hanya sekitar 5 atau 6 set aturan. Sisanya adalah prosedur dan proses untuk setiap kegiatan dan situasi, bukan aturan seperti: balik dalam pekerjaan, pengujian harapan, lab, seni, aula, toilet, perpustakaan, dll. Kebutuhan masing-masing prosedur  disederhanakan serta cepat diinstruksikan atau setiap kali diingatkan.
Miliki aturan dasar kelas sebelum Anda berdiri di depan kelas untuk pertama kalinya (misalnya, mengangkat tangan ketika ingin berkomunikasi, menghormati orang lain, bersiaplah untuk mendengarkan, dll). Anda  dapat membahasnya dengan siswa dari awal.
5. Bicaralah dengan atasan yang bertanggung jawab untuk mengawasi apa yang Anda lakukan.  Tanyakan padanya filsafat pendidikan atau yang menjadi harapannya, bersamaan dengan belajar tentang program pendidikan dan pengajaran yang diharapkan selama Anda bekerja dengan dia. Pastikan untuk mengetahui apakah Anda memiliki kebebasan atau batasan pada metode pengajaran, topik, dan isu relevan lainnya. Juga ada baiknya untuk memiliki waktu rutin bertemu untuk diskusi atau mengajukan pertanyaan kepada pendidik lain.
6. Jangan takut gugup. Ketika Anda pertama kali memasuki kelas, mungkin  kepala Anda akan dipenuhi dengan semua hal yang telah diajarkan tentang mendidik dan mengajar. Semua itu penting, namun sisihkan kebutuhan untuk kesempurnaan dan berkonsentrasi pada “memadamkan saraf”  dan ketakutan Anda. Para siswa akan mengharapkan Anda untuk tampil percaya diri, santai dan tenang. Dengan demikian, berpura-puralah sampai Anda berhasil! Dan, lakukan seluruh pendekatan dan pengalaman dengan sikap positif, serts berharap untuk menemukan pengalaman yang baik – dan Anda akan menemukan ini sebagai hasilnya.
7. Tetap bersikap alami. Sangat penting untuk memberi perhatian terhadap detail tetapi tidak berharap untuk menjadi sempurna. Hindari konfrontasi yang tidak perlu. Mengakui bahwa Anda sendiri seorang pembelajar, dan menyadari betapa seorang pembelajar harus  “berpura-pura” terlihat menjadi seorang pendidik yang tangguh! Para siswa akan mencoba seberapa “kendur” Anda, jika Anda ramah dan mudah didekati – harus tegas tapi tidak kaku.
8. Jangan bertindak secara berlebihan. Sangat penting untuk tidak menjadi pendidik yang karikatur. Tugas kita sebenarnya adalah untuk menyampaikan informasi kepada siswa, dengan Anda sebagai saluran tersebut. Hal ini tidak untuk meyakinkan siswa bahwa Anda adalah seorang guru model. Namun, tidak ada yang salah dengan berbagi gairah Anda untuk mendidik mereka! Hal yang perlu dipertimbangkan meliputi:
  • Hindari sebagai figur yang terlalu menakutkan atau terlalu ketat.  Ingat,  Anda masih seorang pembelajar! Apakah Anda menyukai hal itu, jika pendidik melakukan itu kepada Anda? Sampaikan pada para siswa bahwa Anda tahu apa yang mereka rasakan, dan bahwa Anda berada di “frekwensi” mereka. Terima kebaruan situasi bagi Anda dan siswa.
9. Berkelilinglah. Jadilah “anugrah” saat Anda mendidik, dan Anda akan disambut dan didukung oleh maha/siswa. Jadilah fasilitator bagi mereka.
  • Jangan duduk di satu tempat. Berlutut atau duduk diantara mereka, tetap menyadari bahwa membungkuk rendah dapat menempatkan Anda dalam ruang hati seseorang – dan  berlakulah riang atau lucu.
10. Hindarilah “gangguan”. Katakan: “Saya akan kembali dalam satu menit …”, jika seorang maha/siswa tampak takut atau marah dengan perhatian Anda.
  • Jangan bertindak terlalu suka memerintah: Aanda hanya menyampaikan fakta.
11. Dapatkan rasa hormat. Meskipun Anda mungkin merasa bahwa ini bertentangan dengan langkah-langkah sebelumnya, adalah penting untuk mendapatkan rasa hormat tanpa menakutkan/terlalu ketat – atau terlalu akrab dengan siswa. Lakukan ini melalui sikap percaya diri, dengan menyampaikan bahwa Anda mengharapkan kepatuhan terhadap aturan. Selain itu, jika sesuatu membutuhkan kedisiplinan, Anda tidak melampaui perilaku buruk kepada mereka. Ini hanya  perlu terjadi sekali bagi maha/siswa untuk memahami bahwa Anda tidak berlebihan.
  • Berusaha keras untuk tidak terlihat atau terdengar gugup. Jika Anda takut ini terjadi, manfaatkan jeda, dan mengambil napas dalam-dalam untuk memulihkan ketenangan Anda sebelum berbicara. KemudianTersenyum. Antusiaslah, tetapi tidak berlebihan dalam melakukannya. Anda tidak perlu terburu-buru.
  • Jangan takut tidak disukai. Beberapa maha/siswa akan selalu mendorong batas kesabaran dan membuat mereka tidak menyukai Anda. Bagaimanapun, kenyataannya adalah bahwa kebanyakan siswa akan merespon jauh lebih hormat kepada pendidik yang “menempel batas”  terdefinisi dengan baik daripada yang menyerah, atau bertindak mengecewakan karena Anda tidak suka. Anda berada di sana  tidak  untuk menjadi seorang “sobat”.
12. Hormati maha/siswa. Berbicaralah dengan hormat dan tunjukkan dukungan (Katakanlah, “Terima kasih atas perhatian Anda.” Atau “Dapatkah saya menunjukkan ini …” atau “Benar!” Atau “Ide bagus. Coba ini.”). Kritik hasil kerja mereka, bukan maha/siswa. Mendapatkan rasa hormat akan kembali dengan unjuk kerja yang terbaik. Hindari menggunakan otoritas Anda sebagai pemegang kekuasaan yang menyebabkan Anda lupa bahwa mahasiswa adalah manusia juga. Kembali ke niat  Anda mengapa  menjadi pendidik, jika Anda merasa kehilangan  perspektif tentang ma/siswa.
  • Jadilah diri anda. Tampilkan minat nyata dalam upaya  Anda dan memuji pekerjaan mereka ketika Anda memiliki kesempatan.
13. Teraturlah dan bersiaplah. Selalu datang dengan pelajaran yang telah disiapkan. Semua guru profesional diharapkan selalu siap, sehingga akan menjadi kesalahan jika Anda sebagai pendidik tidak siap. Ini adalah untuk  masa depan karir Anda, membuat sebagian besar perbedaan dari hal itu.
  • Buatlah jadwal untuk menandai dan mempersiapkan pelajaran. Ini adalah kesempatan pertama Anda untuk meningkatkan intensitas dalam mengajar, di mana perlu terlibat secara mental sepanjang Anda mengajar. Ini adalah waktu yang fantastis untuk mengembangkan manajemen waktu dan keterampilan organisasi pribadi yang akan membuat Anda memperoleh manfaat yang baik untuk sisa karir mengajar Anda.
14. Penuhi janji Anda. Jika Anda memberitahu maha/siswa, Anda akan memiliki kuis, proyek khusus, atau pekerjaan yang akan diperiksa  minggu depan, selalu lakukan apa yang Anda janjikan. Teladani  mereka untuk melihat dan menanggapi, jika tidak, Anda tidak bisa mengharapkan mereka untuk melakukan apa yang mereka seharusnya kerjakan!
15. Nikmati karir anda! Menjadi seorang pendidik dapat, dan harus, benar-benar menyenangkan. Ini adalah kesempatan untuk bertemu orang-orang baru (bisa saja hanya beberapa tahun lebih muda dari Anda), mendapatkan uang atau kredit, dan untuk menemukan ritme karir Anda. Gunakan rasa humor untuk memperoleh keuntungan yang terbaik dengan melibatkan orang lain dan memperjelas beberapa aspek yang menantang. Dengan cara seperti itu, Anda sudah siap untuk menikmati pengalaman Anda lebih banyak lagi.
  • Bergaullah dengan guru-guru lainnya. Datanglah awal, pulanglah agak terlambat. Cari informasi: Dengarkan. Staf sekolah/universitas dapat menjadi sumber informasi, dukungan, ide, dan kontak masa depan. Lakukan yang terbaik untuk mengembangkan hubungan baik dengan staf fakultas/sekolah.
  • Berteman baik dengan orang tua maha/siswa. Tetap berhubungan dengan orang tua secara rutin akan membentuk hubungan yang sangat baik, dan membantu untuk menyampaikan sesuatu yang positif bahwa anak mereka telah melakukannya sekarang dan kemudian.
  • Jika diperbolehkan, setelah pelajaran, bersosialisasilah di kampus/sekolah dengan maha/siswa Anda sambil menikmati kopi atau chatting bersama mereka. Janganlah menjadi teman pribadi. Tergantung pada usia maha/siswa dan jenis sekolah Anda mengajar,  mungkin itu tidak  cocok. Kalau bisa, setidaknya, menghadiri acara sosial yang diadakan untuk maha/siswa, seperti  acara  seni dan olahraga.

#PendidikPembebas 5 Metode Yang Bisa Merevolusi Pendidikan Pada 20 Tahun Mendatang

Menurut Edudemic, dua puluh tahun ke depan, dalam  perekonomian yang semakin global, teknologi yang lebih baik, dana yang kurang untuk sekolah, dan keragaman masyarakat yang lebih kompleks, pendidikan AS (juga di negara kita) akan berubah secara dramatis. Di bawah ini adalah lima area di bidang pendidikan yang akan berubah dalam dua dekade mendatang.
Pendidikan Online Yang Lebih Baik
Karena kemampuan siswa meningkat dalam penggunaan  komputer dan Internet berkembang di mana-mana, pendidikan online adalah salah satu pilihan yang perlu dipertimbangkan. Semakin bangyak negara bagian di Amerika yang kini memiliki Virtual Public School , yang menyediakan sekolah online untuk warga yang tidak mampu atau tidak tersedia di daerah mereka. Saat ini, program pembelajaran seperti EPGY Stanford diarahkan pada anak-anak berbakat, tetapi ada rencana untuk mengubah ini sehingga anak-anak pada semua tingkatan  memiliki akses belajar secara virtual. Universitas telah dilaksanakan program  online sarjana, master, dan PhD  dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Sekolah dasar dan menengah juga sangat ingin untuk menggunakan model ini untuk kemanfaatan dan keuntungan mereka.
Bangkitnya Homeschooling

Homeschooling telah ada selama berabad-abad. Namun pada abad kedua puluh, ini gerakan yang jarang digunakan dan dihindari. Itu berubah di abad kedua puluh satu untuk tiga alasan. Yang pertama adalah bahwa banyak sekolah umum yang tidak menerima dana yang diperlukan untuk menyediakan pendidikan yang memadai. Mengingat perekonomian saat ini, tren ini semakin parah, yang menarik anak  keluar dari sekolah untuk mendidiknya di rumah. Kedua, dengan kemajuan signifikan pendidikan secara online, mengajar anak di rumah relatif mudah. Ketiga, segmen besar dari populasi Amerika Serikat adalah orang yang taat bergama, banyak dari mereka ingin anak-anak mereka memiliki pendidikan yang berpusat pada keagamaan, yang seringkali tidak tersedia di sekolah umum. Oleh karena itu, karena tiga faktor di atas, homeschooling terus meningkat.
Pengajaran Literasi Komputer

Meskipun telah ada kursus komputer di sekolah selama kurang lebih dua dekade, kursus sering terfokus pada tugas-tugas yang sangat spesifik (seperti cara memasukkan angka ke dalam spreadsheet). Serta hal ini disajikan sebagian besar dimana anak-anak diajarkan bagaimana untuk mengetik secara efektif. Pendidikan komputer tersebut terbatas dan tidak layak lagi  – siswa saat ini perlu tahu bagaimana menggunakan berbagai program dan aplikasi. Misalnya, selain mengajari siswa untuk secara resmi dilatih dalam seluk-beluk PowerPoint dan Excel, tetapi juga  video-editing dan cara menggunakan Google Map.
Menggunakan Literasi Komputer

Bersamaan dengan hal di atas, siswa diharapkan untuk menggunakan komputer pada setiap pelajaran di kelas – bukan hanya kelas komputer. Pekerjaan yang paling stabil  dan menjajikan, membutuhkan karyawan yang menggunakan komputer selama berjam-jam sehari – sehingga pendidikan komputer harus diintegrasikan ke dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
Selain itu, di dunia saat ini laptop atau smartphone  digunakan dalam membangun kecerdasan seseorang untuk membantu mereka belajar dan mengekspresikan diri. Ini adalah topik yang dibahas hampir setiap hari di Edudemic dan akan menjadi sangat penting untuk setiap guru yang ingin “merangkul” masa depan pembelajaran.
Lebih Banyak Pendidikan Bilingual 

Menurut LA Times, populasi orang AS yang berbahasa Spanyol sekarang lebih dari 50 juta, dan telah meningkat 43% dalam dekade terakhir. Serta 23% dari semua orang Amerika di bawah usia delapan belas tahun saat ini diidentifikasi sebagai Hispanik. Selain itu, Amerika Hispanik sekarang kelompok minoritas terbesar di Amerika Serikat. Sebagai negara yang bergerak ke suatu negara Dwibudaya, fokus pada pengajaran bahasa Spanyol dan Inggris di dalam kelas akan meningkat, dan lebih banyak siswa akan benar-benar fasih dalam kedua bahasa. Di banyak daerah, guru akan diharapkan untuk mengetahui bahasa Spanyol dan Inggris.

“Prestasi anak-anak di sekolah meningkat pesat saat sudah tidak ada lagi budaya merokok.”~Idris@MataNajwa MetroTV

 

Itulah yang dikatakan M. Idris, Kepala Desa Bone-bone, Enrekang, Sulawesi Selatan untuk membahas desa bebas rokok yang dipimpinnya di acara Mata Najwa  di Metro TV. Menurut dia “Saya ingat waktu kuliah dulu, teman2 saya yang perokok di kampung tidak ada yg jd orang,belum lagi anak2 yg sudah merokok sejak cilik.” Dia berfikir dan mengkhidmati “Sejak itulah saya berpikir,harus ada yang dilakukan tentang hal ini (kebiasaan merokok). Ini untuk memperbaiki taraf kehidupan.” Kemudian Idris melakukan gebrakan: “Saat sy pulang kampung, sy mulai ajak seluruh pemuka desa utk memberdayakan desa bebas asap rokok ini&semuanya langsung mendukung.”  sehingga mulai tahun 2005, desa kami sudah benar-benar tidak ada lagi yang merokok. 

Ada yang unik cara bagaimana Idris bisa sukses: “Bagi yg ketahuan merokok, hukuman pertamanya adalah, harus berteriak di speaker masjid bahwa dia ketahuan merokok”. Kemudian pabila ketahuan lg, hukumannya adalah bekerja untuk umum, semisal memperbaiki jalan, membersihkan masjid, bersihkan MCK, dll. Ini berlaku bagi semua, termasuk pendatang. Kalau ada pendatang ketahuan merokok, dia dipersilakan meninggalkan desa. “Pernah juga turis Prancis ketahuan merokok, dia mau kasih uang suap,kmi tolak,dia mau sembunyi,kmi bilang tak ada tempat sembunyi.” kata Idris. 
Hal ini membuat Bupati pun sempat segan utk masuk desa kami karena masih perokok aktif. Baru tahun 2008 dia berani masuk desa setelah berhenti merokok. Selain itu di desa tersebut juga dilarang menjual makanan yang mengandung zat pewarna dan zat pengawet.Kalau ada yg ketahuan menjual, hukumannya adalah membuatkan/menggantikan biaya pembuatan bubur kacang ijo untuk seluruh anak di desa. “Prestasi anak-anak di sekolah meningkat pesat saat sudah tidak ada lagi budaya merokok.” – Idris mengakhiri ceritanya.
Bagaimana dengan kita?
Menurut saya …….Silahkan Anda Merokok, Asal Pakai Kresek Di Kepala Anda……Mengapa? Sesuai HAM kita bebas merokok karena itu hak azasi, namun anda tidak boleh meracuni udara di sekitar kita karena itu bukan milik anda 🙂
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/ZfqojfipwN0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Pengembangan Ilmu Administrasi dan Manajemen Pendidikan

[slideshare id=2753709&doc=tugas-dasar-administrasi-pendidikan-prof-djaman-by-djadjasardjana-13nov09-rev1-1-091220083839-phpapp01&type=d]

Terdapat minat besar dalam manajemen pendidikan di bagian awal abad 21. Hal ini karena kualitas kepemimpinan dipercaya secara luas membuat perbedaan yang signifikan kepada sekolah dan siswa. Di banyak bagian dunia, ada pengakuan bahwa sekolah membutuhkan pemimpin dan manajer yang efektif jika mereka ingin memberikan pendidikan yang terbaik kepada pelajar mereka. Ketika ekonomi global mengalami resesi, pemerintah lebih menyadari bahwa aset utama mereka adalah orang-orang yang kompetitif dan semakin tergantung pada sebuah sistem pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja terampil. Hal ini memerlukan guru-guru yang terlatih dan berkomitmen, dan pada gilirannya, memerlukan kepemimpinan kepala sekolah yang sangat efektif dan dukungan lain manajer senior dan menengah (Bush, in press).

Bidang manajemen pendidikan adalah pluralis, dengan banyaknya kekurangan perspektif dan kesepakatan yang tak terelakkan mengenai definisinya. Salah satu kunci perdebatan apakah manajemen pendidikan telah menjadi bidang yang berbeda atau hanya sebuah cabang studi yang lebih luas dari manajemen. Sementara pendidikan dapat belajar dari manajemen lain, manajemen pendidikan harus terpusat tujuan pendidikan. Tujuan atau tujuan ini memberikan arti penting arah untuk mendukung manajemen sekolah. Kecuali keterkaitan antara tujuan dan manajemen pendidikan yang jelas dan dekat, ada bahaya ‘Managerialism’, “Penekanan pada prosedur dengan mengorbankan tujuan pendidikan serta nilai-nilai ” (Bush, 1999:240). 1. Konsep Manajemen Dari segi bahasa manajemen berasal dari kata manage (to manage) yang berarti “to conduct or to carry on, to direct” (Webster Super New School and Office Dictionary), dalam Kamus Inggeris Indonesia kata Manage diartikan “Mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola”(John M. Echols, Hasan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia) , Oxford Advanced Learner’s Dictionary mengartikan ‘to Manage’ sebagai “to succed in doing something especially something difficult….. Management the act of running and controlling business or similar organization” sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ‘Manajemen’ diartikan sebagai “Prose penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran”(Kamus Besar Bahasa Indonesia). Adapun dari segi Istilah telah banyak para ahli telah memberikan pengertian manajemen, dengan formulasi yang berbeda-beda, berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian manajemen guna memperoleh pemahaman yang lebih jelas.

Biaya Pendidikan: Berkah atau Masalah?

Adam Smith

Adam Smith

Setiap diri manusia memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan tanpa mengenal ruang dan waktu, tanpa mengenal usia dan tanpa dibatasi oleh bangunan gedung sekolah yang megah yang memisahkan antara si kaya dan si miskin walaupun itu membutuhkan Pembiayaan Pendidikan yang cukup besar. Falsafah Pendidikan yang memanusiakan manusia (humanize the human being) harus tetap menjadi pandangan hidup dalam dunia pendidikan sehingga akan tercipta pendidikan yang bebas secara politik, sejahtera secara ekonomi, adil secara hukum dan partisipatif secara budaya

Menurut Adam Smith, Human Capital berupa kemampuan dan kecakapan yang diperoleh melalui pendidikan, belajar sendiri, belajar sambil bekerja memerlukan biaya yang dikeluarkan oleh yang bersangkutan. Perolehan ketrampilan dan kemampuan akan menghasilkan tingkat balik “Rate of Return” yang sangat tinggi terhadap penghasilan seseorang. Berdasarkan pendekatan Human Capital ada hubungan Linier antara Investasi Pendidikan dengan “Higher Productivity & Higher Earning”. Manusia sebagai modal dasar yang diinvestasikan akan menghasilkan manusia terdidik yang produktif dan meningkatnya penghasilan sebagai akibat dari kualitas kerja yang ditampilkan.

Itu masalahnya, ternyata Pembiayaan Pendidikan (terutama Pendidikan Tinggi) dilihat sebagai “Lahan Hijau” (Green Field),  yang sumber utamanya melalui pembebanan pada mahasiswanya.  Hal ini menciptakan “kelangkaan barang di pasar” Pendidikan Tinggi sehingga timbul “koreksi pasar” (baca: kenaikan harga) terutama di banyak PTN terkenal yang mungkin sudah berfikir bahwa “The Price is Right” (baca: Ada Harga Ada Rupa). Di satu sisi memang ini tidak salah karena ada fenomena  ”Supply&Demand”  dengan keterbatasan daya tampung Perguruan Tinggi dengan animo masyarakat yang tinggi.

Menyikapi hal di atas, sebagai orangtua yang juga punya anak baru masuk PTN ternama  saya sangat mengerti perasaan yang diungkapkan pada Artikel Kompas dengan judul: [BIAYA KULIAH] “Nak, Urungkan Niatmu Jadi Sarjana” http://t.co/LJpM453. Hal itu diakibatkan “Pasar Pendidikan Tinggi” mengalami gejala  telah mengikuti mekanisme pasar dimana harga bergerak bebas sesuai hukum permintaan dan penawaran (supply and demand). Jika suplai lebih besar dari demand, maka harga akan cenderung rendah. Begitupun jika demand lebih tinggi sementara suplai terbatas, maka harga akan cenderung mengalami peningkatan

Menarik pendapat dari Morfet, Pembiayaan pendidikan merupakan suatu konsep yang seharusnya ada dan tidak dapat dipahami tanpa mengkaji konsep-konsep yang mendasarinya. Ada anggapan bahwa membicarakan pembiayaan pendidikan tidak lepas dari persoalan ekonomi pendidikan. Morphet (1970:85) “Mengemukakan bahwa pendidikan itu mempunyai peranan vital terhadap ekonomi  dan peradaban negara modern. Dikemukakan: “Hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pendidikan merupakan kontributor utama terhadap pertumbuhan ekonomi”. Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya akan terdapat saling keterkaitan pada setiap komponen, yang memiliki rentang yang bersifat mikro (satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber pembiayaan pendidikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi dalam penggunaannya, akutabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan yang terjadi pada semua tataran, khususnya sekolah, dan permasalahan-permasalahan yang masih terkait dengan pembiayaan pendidikan sesuai buku Morphet Edgar C. (1983):  ”The Economist & Financing of Education (Fourth Edition)”, New Jersey: Prentice Hall Inc. Engelwood Cliffs.

Perlu dipahami oleh kita bahwa mustahil kalau suatu negara ingin mempunyai daya saing yang tinggi kalau tidak mempunyai sumber daya (resources) yang memadai dengan melihat nilai Tangible dan Intangible. Dari sisi Pembiayaan Pendidikan Dilihat Dari Manfaat Tangible dan Intangible, hal tersebut dapat berupa sumber daya yang ‘dapat dilihat’ (tangible) dan sumber daya yang tidak dapat dilihat (in-tangible). Sumber daya yang tangible, antara lain: sumber daya pendukung atau sarana dan prasarana seperti kelas, laboratorium, gedungadministrasi, ruang rapat, ruang kerja guru/dosen dan karyawan, ruang perpustakaan, ruang perkuliahan, teknologi audio dan video, komputer dan internet dan dana. Sementara itu yang in-tangible adalah manusia (guru, dosen,tenaga kependidikan), IPR (intellectual property rights), hak monopoli, “exclusive licenses”, sistem/program pendidikan, kurikulum, organisasi dan kepemimpinan, “strong brands”, serta kemampuan bekerjasama. Pada kondisi seperti ini, Pembiayaan Pendidikan akan menjadi lebih kompleks bila kita memberikan pertimbangan yang matang terhadap Manfaat Tangible dan Intangible-nya.

Dasar Administrasi/Manajemen Pendidikan

[slideshare id=2753709&doc=tugas-dasar-administrasi-pendidikan-prof-djaman-by-djadjasardjana-13nov09-rev1-1-091220083839-phpapp01&type=d]

Terdapat minat besar dalam manajemen pendidikan di bagian awal abad 21. Hal ini karena kualitas kepemimpinan dipercaya secara luas membuat perbedaan yang signifikan kepada sekolah dan siswa.

Di banyak bagian dunia, ada pengakuan bahwa sekolah membutuhkan pemimpin dan manajer yang efektif jika mereka ingin memberikan pendidikan yang terbaik kepada pelajar mereka. Ketika ekonomi global mengalami resesi, pemerintah lebih menyadari bahwa aset utama mereka adalah orang-orang yang kompetitif dan semakin tergantung pada sebuah sistem pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja terampil.

Hal ini memerlukan guru-guru yang terlatih dan berkomitmen, dan pada gilirannya, memerlukan kepemimpinan kepala sekolah yang sangat efektif dan dukungan lain manajer senior dan menengah (Bush, in press). Bidang manajemen pendidikan adalah pluralis, dengan banyaknya kekurangan perspektif dan kesepakatan yang tak terelakkan mengenai definisinya.

Salah satu kunci perdebatan apakah manajemen pendidikan telah menjadi bidang yang berbeda atau hanya sebuah cabang studi yang lebih luas dari manajemen. Sementara pendidikan dapat belajar dari manajemen lain, manajemen pendidikan harus terpusat tujuan pendidikan.