Sementara Waktu Terus Berjalan

 

Kita memang sadar hidup adalah perjalanan

Menuju kilatan kehidupan sepanjang zaman

Dalam rumah kaca harapan yang terpasang 

Di ruang hati berdinding sulam  kasih sayang

 

Sementara waktu terus berjalan 

Jelang malam hari semburat padam

Kembalikan jiwa pasrah yang tenang

Menyambut esok hari ‘kan menjelang

 

 

#RenunganPembebas Surga Ada Di Bawah Telapak Kaki Ibu

Semenjak kakiku melangkah ke bumi

Ada satu hal yang selalu kujaga

Hati dan pikiran ibu yang melahirkanku

Biarlah kasih sayang menjadi perisai jiwa

 

Menyusuri perjalanan hidup yang fana ini

Membekal sukma dengan bakti dan hormat jiwa

Kupahami benar makna sejuta sukma 

Surga Ada Di Bawah Telapak Kaki Ibu

 

@ChefLearning “Life is The Journey Not The Destination” ~ Ralph Waldo Emerson

 

 

Life like a cup filled with happiness

You can mix it with the vibrancy and emotion

The reaction will depend on two great thing

the olfactory nerves in your nose goodness

Also taste buds on your tongue abundance

 

Anakku, Ujian Nasional Bukanlah Batu Penghalang Bagimu

Kami tahu engkau telah berusaha sekuat tenaga 

Mempersiapkan diri menghadapi salah satu ujian dalam hidupmu

Engkau ingin menjadi ahli di bidang sipil juga komputer

Di lain waktu, engkau ingin menjadi wartawan atau reporter

 

Di rumah kita banyak buku yang telah engkau baca dan tamatkan

Mulai dari hikayat Nabi, Napoleon, Mac Arthur, bahkan Soekarno dan Hatta

Anakku, Ujian Nasional Bukanlah Batu Penghalang Bagimu

Doa kami bersama usaha dan tekadmu untuk dapat mencapai tujuan hidupmu

 

Catatan: 

Mohon doanya putra kami, Muhammad Firman Nugraha, dapat melewati Ujian Nasional 7-9 Mei 2012 dan mencapai apa yang dicita-citakannya selama ini….. Amin Ya Robbal Alamin…..

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/7xo0QlavhW0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Puisi: Sedu Sedan Antara Tawa dan Airmata

Sudah kering kelopak jiwamu terbawa seka
Seketika kelam sangsaka kelana meratap hampa
Sedu sedan antara tawa dan airmata
Simbah harapan terpaku karma tergolek kasta

Simpan rindu semesta langit karsa
Sampaikan do’a pengiring kalbu kantata
Suguhkan arti semanis hantaran takwa
Sembilu kala derita ruang maya nan hampa

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=orAFPh_KHlg&w=600&h=400]

Puisi: Pojok Pendidikan Mengabdi

Yang kami lakukan adalah sesuatu yang nisbi
Dan tahu itu hanya sekedar menginspirasi
Setetes ilmu, nyawa pendidikan bagi guru kami
Profesi pendidik yang penuh kecintaan dan dedikasi

Tugas negara mencerdaskan kehidupan bangsa ini
Namun secara moral tugas setiap orang secara hakiki
Doakan kami sabar  membimbing dengan nurani
Terima kasih untuk pendidik dengan sepenuh hati


[youtube http://www.youtube.com/watch?v=dugyQbNa_AU?rel=0&w=640&h=450]

Sinta Ridwan: “Berteman Dengan Kematian” dan "Bersahabat Dengan Makna Kehidupan"

JIKA ada ungkapan, bahwa musibah adalah berkah, rupanya itu bukanlah mengada-ada atau ucapan pelipur lara. Mungkin banyak orang yang pernah ditimpa misibah, kemudian ia mengambil hikmahnya dan akhirnya ia sadar bahwa itu berkah.

Orang miskin belum tentu sengsara, orang sakit belum tentu menderita. Banyak orang miskin dan orang sakit justru bisa hidup bahagia. Mengapa? Jawabanya dapat disimak ketika Dewi Kunti berdialog dengan Krishna dalam epos Mahabharata. Suatu hari Krishna berkata, “Bibi, tampaknya bibi hidup menderita, hidup dalam serba kekurangan. Kalau bibi mau, aku akan beri bibi hidup dengan segala kemewahan.”

Apa jawab Kunti? “Nak, bibimu ini tidak menginginkan kemewahan duniawi. Bibi justru merasa bahagia dalam penderitaan. Karena dengan hidup seperti ini, bibimu selalu berdoa, menyebut nama Tuhan berulang-ulang sehingga merasa selalu dekat dengan Tuhan. Adakah yang lebih bahagia selain dekat dengan Tuhan?”

Dialog Krishna dan Kunti itu rupanya memiliki makna yang sama, jika kita menyimak pengakuan Sinta dalam bkunya: “Berteman Dengan Kematian”. Di atas planet bumi ini, mungkin tidak banyak orang seperti Sinta. Seorang gadis pengidap lupus, suatu penyakit yang setara dengan HIV/AIDS yang belum ada obatnya. Penyakit itu membuat tubuhnya melemah dari hari kehari.

Penampilannya  selalu  percaya   diri  dan  penuh   senyum.  Jika  Anda pertama kali melihatnya, mungkin  tak  akan menyangka,  jika   gadis berusia 26 tahun  ini  adalah  penyandang lupus, penyakit  yang   hingga kini belum ada  obatnya. 

Namun ironisnya, penyakit itu justru membuat Sinta tampak tegar. Penyakit itu membuat ia sadar, bahwa Dewa Kematian selalu tersenyum, melambaikan tangan di depannya. Karena itu pula, Sinta ingin memberi makna hidup ini agar lebih berarti. Mumpung masih hidup, Sinta ingin berbuat sesuatu yang berguna dan penuh makna.

Itu bisa ia buktikan, terbukti ia berhasil merogoh mutiara hidup dalam penderitaannya. Sinta yang lahir dari keluarga broken home dapat membiayai hidup dan kuliahnya sendiri. Bahkan ia menanggung kuliah adiknya, dan justru memberikan semangat hidup buat orang-orang di sekelilingnya. Jangankan orang sakit, orang sehatpun jarang seperti itu.

Sinta yang baru menamatkan kuliah S2 di jurusan  Filiologi Universitas Padjajaran ini   menganggap obat yang paling mujarap dari segala penyakit adalah rasa  bahagia.“ Jadi kalau kita sakit, jangan dirasakan kalau kita sakit, tetapi kita  harus berpikir sesuatu yang menyenangkan dan terus tersenyum walaupun kita  sedang sakit,” ucap Sinta.

Pengalaman Sinta dengan penyakit lupus yang telah dideritanya sejak  tahun 2005 lalu dia catatkan dalam sebuah buku otobiografi berbentuk  novel berjudul “Berteman  Dengan Kematian”.  Dalam buku itu Sinta menceritakan tentang perjuangan dirinya untuk berjuang melawan lupus yang  bersemayam di dalam  tubuhnya.

Untuk mengisi hari-harinya wanita yang hobi membuat puisi ini berusaha  untuk memberikan manfaat bagi orang sekitarnya. Salah satu upaya Sinta untuk  memberikan arti hidupnya bagi orang lain dan bangsa ini adalah dengan cara  mengajarkan naskah kuno sesuai dengan latar belakangnya sebagai seorang Fiolog.

Dengan ilmu itu Sinta membuka kelas aksara kuno di Gedung  Indonesia Menggugat, di  Jalan Perintis  kemerdekaan Bandung. Kelas aksara kuno atau yang disingkat kelas Aksakun ini  pertama kali dibentuk pada tahun 2009 atas dasar gagasan dari seniman-seniman  beraliran  metal yang beralamat di Ujung Berung, Bandung.

Dari dorongan para seniman yang biasa memainkan musik cadas itulah kelas aksakun  berdiri dengan jumlah murid sebanyak 35 orang. Pengikut aksakun mengalami  pasang surut. Tercatat  dari awal beridiri hingga sekarang orang-orang yang pernah naskah kuno oleh  Sinta sekitar 200 orang.

Murid yang mengikuti kelas aksakun terdiri dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat  umum. Sinta mengaku tujuan dibentuknya kelas Aksakun ini adalah untuk menjaga dan melestarikan naskah-naskah kuno yang  merupakan warisan masa lalu.

“Tidak ada masa kini tanpa adanya masa lalu, dan itu semua  tertuang di dalam naskah kuno,” ungkapnya. Sinta membebaskan teman-temanya yang  mengikuti pelajaran naskah kuno itu untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat sesuai dengan keinginannya masing-masing.

Banyak dari murid Sinta yang membuat tulisan kuno  untuk dijadikan design dalam sebuah  kaos, dan poster-poster. Selain itu ada juga murid yang membuat lirik lagu yang mengadaptasi dari  naskah-naskah kuno.

Menurut Sinta di dalam naskah kuno itu terdapat  berbagai macam kandungan diantaranya gaya hidup, kesehatan, tuntutan manusia agar dapat  menghargai alam, dan sastra orang-orang masa laliu.

Kecintaan Sinta terhadap naskah kuno mengalahkan rasa  sakit akibat lupus. Sinta mengaku jika sedang tidak enak badan tidak menyurutkan dia untuk absen tidak mengajar kelas aksara kuno, “karena dengan  mengajar saya menjadi bahagia dan itu bisa mengalihkan rasa sakit saya,”  akunya.

Selain itu Sinta di tengah keterbatasan fisiknya  akibat lupus itu bercita-cita ingin membangun sebuah museum digital yang akan  diberi nama ensiklopedia naskah kuno. Tujuan dari pembuatan museum digital itu  adalah untuk memudahkan orang-orang agar dapat mengakses naskah kuno dengan  mudah.

Sinta  beranggapan selama ini orang-orang jarang mempelajari ataupun membaca  naskah-naskah kuno itu karena sulitnya mengakses catatan-catatan orang-orang  dari masa lalu yang tersebebar di seluruh penjuru nusantara. Dengan hadirnya  museum digital itu akan memudahkan orang-orang untuk mempelajari sejarahnya  langsung dari sumber sejarah tanpa harus berusasah payah pergi ke museum.

Sumber:

  1. www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=15&id=44373
  2. www.kickandy.com/hope/hope/sinopsis/profilenarsum/read/1867/Sinta-Ridwan.html

Related articles, courtesy of Zemanta: