Kekerasan di Sekolah: Antara Proses Peniruan, Hilangnya Ketauladanan dan “Teori Kekacauan”

Menurut Neil Nodding dari Universitas Cambridge (Pengarang buku “Happiness and Education”):

“Kenyataan bahwa arti Kebahagian dan Pendidikan tampaknya semakin bertentangan akhir-akhir ini dan salah satu motif untuk menanganinya secara baik dan menjadi terkait erat. Kebahagiaan harus menjadi tujuan pendidikan, dan pendidikan yang baik harus memberikan kontribusi yang signifikan untuk kebahagiaan pribadi dan kolektif.”

Menurut dia, dari data-data yang ada telah meningkat kekhawatiran tentang hubungan antara hilangnya kebahagiaan, penderitaan, dan kebosanan di sekolah. Mengapa begitu banyak orang-orang kreatif membenci sekolah? Melihat penderitaan mereka yang “terdokumentasi dengan baik”, mengapa kita terus membenarkan dengan alasan lama, “Suatu saat nanti kamu akan berterima kasih atas ini”

Orang tua dan pendidik yang melanjutkan sikap ini, sebagian karena anak-anak dewasa begitu banyak berterima kasih kepada kita untuk kesuksesan  (yang kadang-kadang dipertanyakan konteksnya) yang mereka anggap, bahwa itu adalah hasil kesengsaraan mereka sebelumnya. Maka, mereka siap, bahkan bersemangat, untuk menimbulkan babak baru penderitaan pada orang lain. Memang, banyak orangtua dan guru takut untuk menghindari hal ini, takut bahwa anak-anak akan dimanjakan, tidak disiplin, tidak berhasil, dan akhirnya tidak bahagia.

Proses Peniruan Kekerasan di Sekolah

Dalam konteks kekerasan pada murid sekolah, stereotip yang dihidupkan pasti seputar tingkah laku adik kelasnya yang dinilai sok tahu, sombong, tak sopan, melawan, tak mau diatur oleh kakak kelas. Dengan alasan itulah, kakak kelas merasa punya legitimasi ”mengajari” adik kelasnya. Dengan cara ”mengajari” ini, kelak diharapkan si adik bisa tunduk. Jika tidak tunduk, yang terjadi lebih gawat lagi. Itulah ciri kekerasan ketiga, yaitu meningkatnya bentuk kekerasan.

Jika sebelumnya hanya dalam bentuk hinaan verbal, lama kelamaan baik bentuk maupun frekuensinya akan meningkat. Tak heran anak sekolah sebagai pelaku meningkatkan bentuk kekerasannya dari verbal menjadi fisik seperti yang kita lihat di media televisi. Karena mereka juga meniru kekerasan yang  dilakukan siswa senior, mereka pun meniru model kekerasan  seperti menampar dan menendang.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Dari analisis jender sudah lama sebetulnya ditawarkan agar model pendidikan dan pengasuhan lebih mengutamakan hubungan-hubungan yang didasarkan pada karakter feminin, misalnya mengembangkan kasih sayang daripada menerapkan disiplin gaya maskulin yang didasari karakter keras, melindungi dan bukan menguji nyali, mengutamakan kebersamaan, dan saling mendukung bukan saling bersaing.

Selain itu, kita juga harus bisa memutus rantai kekerasan tersebut dengan menghilangkan faktor-faktor yang membuat anak-anak menjadi frustrasi atau agresif. Mereka terlalu jenuh melihat orang-orang dewasa yang saling membunuh dalam peperangan atau konflik, mereka jijik melihat pertengkaran di parlemen atau partai. Intinya adalah mereka membutuhkan teladan dan bukan hukuman dengan pemecatan. Sebab, pemecatan tak akan menyelesaikan masalah, melainkan hanya memindahkan masalah. Sementara akar masalah yang sebenarnya tak benar-benar diatasi.

Kekerasan Akibat Hilangnya Ketauladanan

 

Kebutuhan anak didik akan figur teladan, bersumber dari kecenderungan meniru yang sudah menjadi karakter manusia. Perbuatan meniru bersumber dari kondisi mental seseorang yang senantiasa merasa bahwa dirinya berada dalam perasaan yang sama dengan kelompok lain, sehingga dalam peniruan ini, anak-anak cenderung meniru orang dewasa, orang lemah cenderung meniru orang yang kuat, bawahan cenderung meniru atasannya dan terkhusus anak didik cenderung meniru pendidiknya.

Dalam hal ini guru mempunyai peran vital dalam proses keteladanan. Sikap dan perilaku guru mempunyai implikasi yang luar biasa terhadap murid-muridnya. Kepribadian guru mempunyai pengaruh langsung dan kumulatif terhadap perilaku siswa. Perilaku guru dalam mengajar secara langsung atau tidak langsung mempunyai pengaruh terhadap motivasi belajar siswa, baik yang sifatnya positif maupun negatif. Artinya jika kepribadian yang ditampilkan guru dalam mengajar sesuai dengan tutur sapa, sikap, dan perilakunya, maka siswa akan termotivasi untuk belajar dengan baik, bukan hanya mengenai materi pelajaran sekolah tapi juga mengenai persoalan kehidupan yang sesungguhnya.

Sejak fase-fase awal kehidupan, seorang anak banyak sekali belajar melalui peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang-orang di sekitarnya. Kecenderungan anak belajar melalui peniruan itu menyebabkan  proses keteladanan menjadi sangat penting artinya dalam proses pembelajaran.

Dalam pendidikan melalui proses keteladanan ada dua macam bentuk, yaitu keteladanan yang disengaja dan keteladanan yang tidak disengaja. Keteladanan yang disengaja ialah keteladanan yang disertai penjelasan atau perintah untuk meniru. Sedangkan keteladanan yang tidak disengaja ialah keteladanan dalam keilmuan, kepemimpinan, sifat-sifat yang baik. Dalam konsep pendidikan Islam, kedua keteladanan ini sama pentingnya, meskipun keteladanan yang disengaja dilakukan secara formal, sedangkan keteladanan yang tidak disengaja dilakukan secara tidak formal.

Kekerasan dan “Teori Kekacauan” (Chaos Theory)

Chaos Theory pertama kali diperkenalkan oleh Charles Sampford dalam bukunya yang berjudul The Disorder of Law: A Critique of Legal Theory. Selain Sampford,ada juga pakar lain yang mengemukakan pendapat lain yang sejenis dan sangat mirip dengan Chaos Theory milik Charles Sampford ini yaitu Denis J. Brion dengan artikelnya tentang “The Chaotic Indeterminacy of Tort Law”, yang termuat dalam Radical Philosophy of Law, 1995. Aliran Legal Melee ini sekaligus merupakan pengecam keras aliran positivisme, dengan tokoh utamanya Hans Kelsen, dimana kaum positivis memandang hukum sebagai suatu sistem yang teratur, determinan, dan linear.

Menurut Sampford, secara teoritis dimungkinkan untuk menemukan suatu sistem hukum dalam suatu masyarakat yang tidak teratur. Bahkan dimungkinkan juga untuk menemukan suatu hukum yang tidak sistematik di dalam suatu masyarakat yang justru teratur. Charles Sampford memandang bahwa hukum bukanlah bangunan yang penuh dengan keteraturan, melainkan suatu yang bersifat cair. 

Menurut Sampford, masyarakat memperlihatkan wujudnya sebagai sebuah bangunan yang memuat banyak kesimpang siuran, yang diakibatkan dari interaksi antar para anggotanya. Masyarakat adalah ajang dari sekian banyak interaksi yang dilakukan antara orang-orang yang tidak memilki kekuatan yang sama, sehingga terjadilah suatu hubungan berdasarkan adu kekuatan (power of relationships). Oleh karena itulah, tatanan yang muncul dari interaksi itu adalah tatanan yang a-simetris. Sampford menyebut keadaan ini sebagai fenomena “social melée” (suatu kondisi sosial yang cair [fluid]).

Pada waktu sistem hukum yang secara formal sudah disusun dengan simetris itu diterapkan dalam masyarakat, maka sistem hukum tersebut dijalankan oleh kekuatan-kekuatan yang a-simetris. Produk sistem hukum yang dijalankan oleh kekuatan-kekuatan yang a-simetris itu adalah hukum yang penuh ketidakteraturan (disordered). Inilah yang kemudian oleh Sampford disebut “legal melée”.

Dengan kekuasaan dan kekuatan yang ada pada masing-masing, para pelaku hukum membuat putusan-putusan yang subjektif. Hakim melihat peranannya sebagai pembuat putusan-putusan pribadi (individual decisions); para advokat akan menggali dalam-dalam perundang-undangan yang ada untuk mencari celah-celah bagi kepentingan kliennya, sedangkan rakyat akan melihat hukum itu sebagai tindakan para pejabat hukum (as the actions of many individual).

Itulah mengapa Perilaku elit negeri yang korup, berkonflik dalam politik dan dipertontonkan di muka umum mempengaruhi perilaku penontonnya termasuk pelajar. Anak usia SMP dan SMA sangat labil dan mudah terpancing bertindak beringas. Para elit negeri ini harus bertanggungjawab, termasuk sebagian masyarakat yang menghalalkan segala cara yang menimbulkan kekacauan kehidupan bernegara yang berimbas pada kekacauan pendidikan…….

 

Ujian Nasional: Antara Evaluasi Dan Monitoring Kinerja Proses Pembelajaran

 
Menurut Kamus Bahasa Indonesia Online makna “ujian” adalah: 
uji.an [n] (1) hasil menguji; hasil memeriksa; (2) sesuatu yg dipakai untuk menguji mutu sesuatu (kepandaian, kemampuan, hasil belajar, dsb): ~ kenaikan kelas diselenggarakan di sekolah masing-masing; (3) cobaan: musibah ini adalah ~ dari Tuhan. 
 
Sedangkan Ujian Nasional biasa disingkat UN / UNAS adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdiknas (sekarang Kemdikbud) di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.  
 
[slideshare id=1147554&doc=ujiannasionaldanpeningkatanmutupend-drramliz-090315093406-phpapp01]
   
Ada yang menarik dari Undang-undang tersebut bahwa selain evaluasi, UN/UNAS merupakan “proses pemantauan (Monitoring) evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan”. Apa artinya? Berarti “Keyword” (Kata Kunci)  penting lainnya adalah “Proses Pemantauan secara berkesinambungan”. Dalam bahasa lain ada proses “Monitoring” di sana. 
 
Dari “Kamus Bahasa Indonesia Online” makna “monitor” adalah: 
mo.ni.tor [n] orang yg memantau; (2) n alat untuk memantau (spt alat penerima yg digunakan untuk melihat gambar yg diambil oleh kamera televisi, alat untuk mengamati kondisi atau fungsi biologis, alat yg memantau kerja suatu sistem, terutama sistem komputer, dsb); (3) n alat semprot air dng tekanan 4-7 atmosfer yg digunakan pd tambang timah aluvial untuk menambang biji timah; (4) n alat yg dirancang untuk mengobservasi, mengawasi, mengontrol, atau memverifikasi operasi suatu sistem; (5) n pengawasan dan tindakan memverifikasi kebenaran operasi suatu program selama pelaksanaannya berdasarkan rutin diagnostik yg digunakan dr waktu ke waktu untuk menjawab pertanyaan tt program tsb; (6) v pantau; cek secara cermat
   
Permasalahan UN/UNAS menjadi pelik ketika ada “Disparitas” (Perbedaan Yang Mencolok) dan “Proses Yang Tidak Berkesinambungan” dari proses pendidikan. Menurut pasal-1 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003:  
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”  
 
 
  
Disini jelas bahwa perlu monitoring berkesinambungan dari “usaha sadar dan terencana” menuju “suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya”. Jelas perlu metoda dan alat ukur yang tepat guna agar peserta didik “memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”    
  
 
Secara filosofis UN/UNAS baik konsepnya, namun perlu ditekankan bahwa prosesnya tidak hanya ditekankan pada akhir tahun ajaran. Ia harus merupakan bagian “Sistem Pendidikan Berkelanjutan” yang dimonitor setiap waktu terhadap semua pemangku kepentingan utama pendidikan yaitu Kepala Sekolah, Guru, Peserta Didik, Tenaga Non-Kependidikan, Dinas Pendidikan, Kemdikbud bahkan Orang Tua/Wali.   
  
  
 
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=R73fdqhpJBo&w=600&h=450]

E-Learning: Lingkungan bagi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Berperan Mendukung Proses Pembelajaran

Modus Pembelajaran menurut Horton (Designing Web-Based Training, Wiley, 2010) bisa berupa Mendengarkan kuliah, diskusi; Mencari saran dari dosen, ahli; Membaca buku, artikel; Memperhatikan presentasi, demonstrasi; Menyimak pameran, contoh-contoh;  Menerima kritik dari ahli, sejawat; Memodelkan karakteristik sistem, fenomena; Mengeksplorasi hal-hal baru; Mendiskusikan ide dengan teman, ahli, guru/dosen; Mempraktekkan kemampuan atau Melakukan penelitian.
Bagaimana TIK dapat membantu pembelajaran? 

Menurut Horton pula pada buku tersebut kita dapat memanfaatkan hal-hal  sebagai berikut dalam pembelajaran  yaitu: Penggunaan perangkat keras komputer, Pemanfaatan jaringan komputer (termasuk Internet), Sumber informasi, Sarana komunikasi dan Penggunaan perangkat lunak untuk beragam keperluan yang kemudian disebut dengan Infrastruktur e-Learning.
Definisi E-Learning
Lingkungan yang memberikan kesempatan bagi teknologi informasi untuk berperan dalam mendukung proses pembelajaran
Kalau begitu:
  • E-learning bukan hanya “pemakaian komputer”
  • Ada komponen-komponen lain selain TIK (Integrasi antara “People, Process & Technology”)
  • Proses pembelajaran melibatkan TIK

Mengapa menggunakan E-Learning ?

  • Mengatasi rendahnya rasio pendidik-peserta didik
  • Beban pendidik dapat dikurangi dengan mengalihkan (sebagian) inisiatif pembelajaran kepada Peserta Didik
  • Fleksibilitas dalam pelaksanaan proses pembelajaran
  • Melepaskan dari ketergantungan ruang dan waktu

Hal ini sesuai dengan artikel New Wave Marketing – Marketeers [LIVE INTERVIEW] – E-LEARNING UNTUK INDONESIA yang mengatakan:

Mungkin banyak yang memandang e-learning hanya dari satu sudut saja. Yaps, electronic learning, hanya itu yang umumnya orang ketahui, dan e-learning sebenarnya lebih dari itu.  E-Learning adalah sebuah konsep belajar digital yang berisi tentang banyak hal  dan tidak dapat dilihat dari perspektif kecil saja. Di luar negeri, konsep e-learning ini sudah banyak digunakan, dan sangat mudah didapatkan, ada yang bersifat gratis, hingga bersifat bisnis, sesuai dengan kebutuhan dari si pengguna.

Namun demikian “Berhasilnya suatu sistem e-learning, tergantung pada keberagaman dan keberlangsungan konten yang sesuai dengan kebutuhan”

Artikel Terkait:

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/sxUQsKxcOYM” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>