Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) DIKTI: Berkah Atau Masalah Bagi Dosen Pembimbing?

 

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) DIKTI
PKM merupakan salah satu bentuk upaya yang dilakukan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M), Ditjen Dikti dalam meningkatkan kualitas peserta didik (mahasiswa) di perguruan tinggi agar kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan meyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta memperkaya budaya nasional.

 

PKM dilaksanakan pertama kali pada tahun 2001, yaitu setelah dilaksanakannya program restrukturisasi di lingkungan Ditjen Dikti. Kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang selama ini sarat dengan partisipasi aktif mahasiswa, diintegrasikan ke dalam satu wahana yang diberi nama Program Kreativitas Mahasiswa. PKM dikembangkan untuk mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang tinggi.

 

 

Dalam rangka mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang cendekiawan, wirausahawan serta berjiwa mandiri dan arif, mahasiswa diberi peluang untuk mengimplementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggungjawab, membangun kerjasama tim maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu yang ditekuni.

 

Pada awalnya, dikenal 5 (lima) jenis kegiatan yang ditawarkan dalam PKM, yaitu PKMPenelitian (PKM-P), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), dan PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dan PKM-Penulisan Ilmiah (PKM-I). Dalam upaya mengefisiensikan proses penilaian dan penyediaan reviewer, maka seluruh usulan akan dikelompokkan ke dalam masing-masing bidang PKM yang dituju (-P, -T, -K, -M, KT).

 

 

Selanjutnya setiap usulan dalam setiap bidang PKM dikelompokkan lagi ke dalam tujuh kelompok bidang ilmu, yaitu:
  • Bidang Kesehatan, yang meliputi: Farmasi, Gizi, Kebidanan, Kedokteran, Kedokteran Gigi, Keperawatan, Kesehatan Masyarakat, Psikologi.
  • Bidang Pertanian, yang meliputi: Kedokteran Hewan, Kehutanan, Kelautan, Perikanan, Pertanian, Peternakan, Teknologi Pertanian.
  • Bidang MIPA, yang meliputi: Astronomi, Biologi, Geografi, Fisika, Kimia, Matematika.
  • Bidang Teknologi dan Rekayasa, yang meliputi: Informatika, Teknik, Teknologi Pertanian.
  • Bidang Sosial Ekonomi, yang meliputi : Agribisnis (Pertanian), Ekonomi, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
  • Bidang Humaniora, yang meliputi : Agama, Bahasa, Budaya, Filsafat, Hukum, Sastra, Seni.
  • Bidang Pendidikan, yang meliputi Program Studi Ilmu-Ilmu Pendidikan di bawah Fakultas Kependidikan.

 

 
Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) : Berkah Atau Masalah Bagi Dosen Pembimbing?

Bagi beberapa dosen ini mungkin ada pertanyaan strategis sbb: Berkah Atau Masalah Bagi Dosen Pembimbing?
Seperti diketahui,  tidak ada honor/renumerasi PKM untuk dosen ūüôā 
Hal inilah yang mungkin membuat dosen agak enggan untuk membimbing mahasiswa yang ikut PKM….

 

Saya sendiri berpedoman pada “Pernyataan Filosofis Pendidikan”  diantaranya berbunyi sebagai berikut:
Tujuan saya dalam mendidik tidak terbatas pada domain pengetahuan. Pendidik harus belajar keterampilan kerja sama dan manajemen tim juga. Mengekspos struktur “Permainan Peran” atau metode lain yang mendasari pembelajar bekerja ketika menyelesaikan sebuah tugas, merencanakan atau mengkritisi tim, atau membuat keputusan kepemimpinan pembelajaran. Model ini mengarah pada langkah penting memberikan umpan balik yang dapat diidentifikasi. Pembelajar juga harus memberikan umpan balik kepada pendidik namun biasanya pendidik yang memintanya.

 

Pendidik harus bertanggung jawab besar dalam proses pembelajaran. Mereka harus mengambil pendekatan aktif untuk belajar. Saya percaya pembelajar yang sukses berkembang memiliki pengulangan teori atau kasus untuk menghubungkan pengalaman kerja mereka dengan pengetahuan yang ada di luar. Pada akhir pendidikan, diharapkan pembelajar yang sukses dapat belajar di luar konteks kasus, karena mereka berusaha untuk “menguasai” lapangan kehidupan.

 

 

Usulan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2012

Saat ini Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Pendidikan Tinggi memberi kesempatan kepada mahasiswa perguruan tinggi negeri maupun swasta untuk mengajukan usulan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 5 bidang yaitu : PKMP, PKMM, PKMK, PKMT dan PKMKC yang akan didanai tahun 2013.

 

DIKTI menginformasikan bahwa sesuai panduan PKM tahun 2012, pengajuan usulan proposal dan tata cara pengiriman proposal On-Line ke Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Dit. Litabmas) dapat di download pada website http://dikti.go.id, dengan headline : Usulan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2012.

 

Untuk itulah saya telah menginformasikan program dimaksud kepada mahasiswa Universitas Widyatama, sebagai berikut :
  1. Pendaftaran dilakukan Oleh Staf bagian Kemahasiswaan Perguruan Tinggi dengan alamat http://simlitabmas.dikti.go.id.
  2. Pengunggahan dokumen dilakukan oleh mahasiswa setelah proses pendaftaran yang dilakukan selesai.
  3. Pendaftaran dan pengunggahan dokumen usulan on-line mulai tanggal 29 Oktober s.d. 24 November 2012, apabila lewat dari batas waktu yang telah ditentukan maka proses pendaftaran dan pengunggahan tidak dapat dilakukan.
  4. Dit. Litabmas tidak menerima Proposal Usulan dalam bentuk Hardcopy (dokumen tersebut disimpan di Perguruan Tinggi pengusul untuk keperluan administrasi).
  5. Selanjutnya Kemahasiswaan Universitas Widyatama menerima email dari pkm.dp2m@dikti.go.id untuk user dan password operator kemahasiswaan.

 

Muhammad Yunus dan Keberhasilan Program Telepon Pedesaan (Village Phone) Grameen Telecom

 
Dikutip dari Tesis Djadja Sardjana (IMTelkom, 2008), “Village Phone” dari Grameen Telecom merupakan proyek percobaan dari Grameen yang didirikan Muhammad Yunus yang pada  tahun 2000 melibatkan 950 Village Phones yang menyediakan akses telepon kepada lebih dari 65,000 orang. Wanita-wanita desa/kampung mengakses kredit mikro untuk memperoleh pelayanan telepon selular GSM dan sesudah itu menjual lagi pelayanan tersebut di desa/kampung mereka. Grameen Telecom memperkirakan  bahwa ketika programnya selesai, akan ada 40,000 operator “Village Phone” dengan  laba bersih $24 juta USD tiap tahun. 
 
Program Village Phone muncul sebagai solusi teknis terbaik yang tersedia untuk akses telekomunikasi universal pedesaan sesuai dengan keadaan Regulasi Telekomunikasi Bangladesh  dan kondisi ekonomi saat itu. Program “Village Phone” adalah suatu solusi organisatoris dan teknis untuk akses telekomunikasi pedesaan yang dibutuhkan oleh suatu lingkungan dengan regulasi telekomunikasi yang tidak mendukung bagi percepatan infrastruktur telekomunikasi pedesaan. 
 
Konsep dari “akses yang universal” bukanlah sesuatu yang netral terhadap gender. Di dalam kasus dari Bangladesh ini, jenis kelamin dari operator “Village Phone” dan penempatan secara fisik dari telepon di dalam suatu desa/kampung yang tersegmentasi secara gender dapat menghalangi atau memperbaiki akses wanita-wanita untuk menelpon karena alasan religius. Biasanya Kantor Cabang Grameen menempatkan satu lokasi operator wanita yang akan menyediakan suatu ruang yang bisa diterima untuk wanita-wanita desa/kampung yang lain untuk mengakses telepon. Dari sudut pandang pendapatan dan laba, adalah penting untuk memastikan bahwa “Village Phone” secara penuh dapat diakses oleh seluruh populasi desa/kampung,  jika 50% dari pemakai berdasarkan gender menghadapi rintangan sosial budaya untuk menelpon, maka suatu arus pendapatan yang penting telah lenyap. 
 
“Village Phone” bertindak sebagai suatu instrumen yang tangguh untuk mengurangi resiko  dalam pengiriman uang dari para anggota keluarga para pekerja di Dhaka City dan yang bekerja di luar negeri, serta untuk membantu orang desa di dalam memperoleh informasi akurat tentang kurs valuta asing. Mengirim uang tunai dari suatu negara Timur Tengah ke suatu desa/kampung di Banglades adalah penuh resiko; pengiriman uang seperti itu adlah faktor pokok yang membuat laku/laris untuk pemakaian telepon. Mengurangi resiko dari pengiriman uang dari para pekerja di luar negeri mempunyai implikasi penting untuk penduduk rumah tangga dan pedesaan di Bangladesh. Di tingkatan yang mikro, pengiriman uang cenderung untuk digunakan untuk biaya rumah tangga sehari-hari seperti makanan, pakaian dan pelayanan kesehatan. Pengiriman uang seperti itu satu faktor yang penting dalam memenuhi penghidupan rumah tangga, dan dapat meningkatkan porsi yang penting dari penghasilan rumah tangga. Begitu penghidupan dipenuhi, pengiriman uang cenderung untuk digunakan untuk “investasi-investasi produktif,” atau untuk uang tabungan.
 
Panggilan-panggilan telepon kepada keluarga dan para teman sering melibatkan pertukaran informasi tentang harga pasar, daftar biaya pengiriman barang-barang,  tren pasar dan pertukaran valuta. Hal ini  membuat “Village Phone” satu alat yang penting untuk membuka peluang usaha rumah tangga dalam mengambil informasi pasar untuk meningkatkat keuntungan dan mengurangi biaya produktif. 
 
Pelayanan telepon pedesaan di Bangladesh adalah sangat menguntungkan karena regulasi yang ada saat itu (ketiadaan interkoneksi menjadi penghalang yang paling besar), sehingga operator telekomunikasi tidak mampu untuk mengimbangi permintaan untuk jasa telekomunikasi antar operator. Telepon-telepon di dalam program Grameen Telecom Village Phone menghasilkan tiga kali pendapatan untuk pelayanan selular pedesaan ($100/bulan lawan $30/bulan). Bahkan, satu pesaing operator telekomunikasi di BangladeshPemangku kepentingan melaporkan mempunyai pendapatan dari 12,000 sama dengan pendapatan dari 1,500 “Village Phone”. 
 
Teknologi telepon genggam GSM adalah suatu solusi yang mahal untuk akses  universal di daerah pedesaan Bangladesh. Liputan selular ini terbatas untuk daerah pedesaan serta hanya menguntungkan di bawah regulasi telekomunikasi yang sehat – ketika lingkungan yang regulasi diperbaiki, teknologi selular tidak akan menjadi alat paling efisien dan sehat dalam menyediakan servis yang universal. Teknologi telepon genggam GSM juga menempatkan tarif-tarif jauh lebih tinggi pada para pemakai telepon pedesaan dibanding “Wireless Local Loop” (WLL) teknologi. Tanpa perbaikan-perbaikan pada regulasi, teknologi selular adalah suatu solusi yang praktis. Juga, teknologi selular sekarang ini bukan suatu opsi yang sehat untuk hubungan email/Internet/data yang murah. WLL dan opsi lain dapat menyediakan secara luas dan jauh lebih baik dengan ongkos pelayanan lebih murah. 
 

My Report Speech on “International Training Program on Information and Communication Technology Support for Palestinian SMEs Development‚ÄĚ

 
Excellencies,
 
Ladies and Gentlemen,
 
On behalf of the COMLABS Bandung Institut of Technology I wish you warmly pleased to our report of “International Training Program on Information and Communication Technology Support for Palestinian SMEs Development” at  Bandung from 19 – 27 September 2012. I am very pleased to see such a distinguished audience today here in the collaboration venue of the Ministry of Foreign Affairs and Bandung Institut of Technology. With this Training we want to remind the quote of Ambassador Suprapto Martosetomo, Special Advisor to the Minister on Institutional Relations, the Ministry of Foreign Affairs in his Opening Remarks (19/09/12) underlined the importance of independent Palestine not only politically, but also in social-economic development so that the future of Palestine state will be viable and enduring.  “One of the concrete ways to support economic development is through the significant role of small and medium enterprises (SMEs).
 
 
We can reported that this training hope can be In line with statement of  Ambassador of the State of Palestine in his remarks mentioned that the program of Capacity Building for Palestine by Indonesian Government can  support on the independence and the development of Palestine and wished that in the future Palestine would be able to do the same way as Indonesian does. The Ambassador also encouraged the participants to learn how Indonesian’s SMEs are connected and being competitive.
 
The training topic it self consist of:
  1. Sofware As A Services
  2. IT Services for SME’s
  3. IT Business Plan for SME’s
  4. Benefit of IT for SME’s
  5. eCommerce
  6. OnLine Market
  7. Knowledge Management for SME’s | Djadja A. Sardjana, MM
  8. Facebook for SME’s
  9. IT Infrastructure for SME’s
  10. Digital Enterprise
  11. Social Media for SME’s
  12. eLearning for SME’s | Djadja A. Sardjana, MM
 
Ladies and Gentlemen,
 
Bandung Institut of Technology is not passively following the changing world. We are adjusting to new situations in the international environment. We at Bandung Institut of Technology understood the challenges of modern diplomacy from the Global perspective. Bandung Institut of Technology is one of the leading univesity amongst the ASEAN countries and we are eager to share again our experiences in the future. We thank you Ministry of Foreign Affairs, His Excellency Ambassador of Palestina and Indonesia which make this venue happen and our friends  from Palestina can come to Bandung and share our views and ideas especially about ICT for SMEs.
 
Thank you very much for you attention and cooperation.
 

Become Trainer of International Training Program on ICT Support for Palestinian SMEs Development

 
As part of Indonesia’s commitment to support Palestine in building its capacity development by providing trainings for 1000 Palestinians (2008 – 2013), Directorate of Technical Cooperation, Directorate General of Information and Public Diplomacy, Ministry of Foreign Affairs, is holding “International Training Program on Information and Communication Technology Support for Palestinian SMEs Development, Bandung, from 19 – 27 September 2012.
 
It is organized in cooperation with the Institute for Innovation and Entrepreneurship Development, Bandung Institute of Technology (LPIK ITB).
 
Ambassador Suprapto Martosetomo, Special Advisor to the Minister on Institutional Relations, the Ministry of Foreign Affairs in his Opening Remarks (19/09/12) underlined the importance of independent Palestine not only politically, but also in social-economic development so that the future of Palestine state will be viable and enduring.  “One of the concrete ways to support economic development is through the significant role of small and medium enterprises (SMEs).
 
 
SMEs create more employment, provide better opportunity and empower local economic potentials, and prove to be able to survive and remain to be the back bone of economic development during economic crises. And Indonesia has valuable experience to share on this with our Palestine brother in today’s training in Bandung, the city of scholar, fashion, cuisine”, said Ambassador Suprapto.
 
In line with that, Ambassador of the State of Palestine in his remarks mentioned that the program of Capacity Building for Palestine by Indonesian Government are various and it is not only limited on the program done by Technical Cooperation Directorate, but also in the framework of New Asia Africa Strategic Partnership (NAASP).
 
For that, the Ambassador conveyed his grateful acknowledgment to the government and the people of Indonesia for their support on the independence and the development of Palestine and wished that in the future Palestine would be able to do the same way as Indonesian does. The Ambassador also encouraged the participants to learn how Indonesian’s SMEs are connected and being competitive. 
 
 
Meanwhile, the Director for Technical Cooperation reported that the training program is one of numerous training programs for Palestine conducted by the Directorate of Technical Cooperation of the Indonesian Foreign Ministry. In the period of 2008-2011 the Directorate has launched 7 capacity building programs. 
 
In the current program, there are 7 Palestinians taking part on the training.  It will make the total number of Palestinians trained under the Directorate of Technical Cooperation programs becomes 42 persons entirely from 2008-2012.
 
For Palestine, The Directorate has designed several scenarios of trainings and other capacity building programs. Many discussions and meetings have been organized. The directorate also plans to hold trainings in Ramallah, Palestine, in order to establish more effective trainings with larger number of participants.
 
 
During the training, the participants will have the opportunity to enrich their knowledge, advance their skills and upgrade their competency particularly related to information and communication technology on SMEs sector.
 
The participants will acquire theoretical, technical and practical courses from number of exceptional speakers, practitioners and experts. The participants are also arranged to have opportunity to visit Museum of Asia Africa in Bandung, Saung Angklung Udjo, and other potential markets from SMEs actors in Bandung.
 
“It is hoped that the training will not only be merely one way education session, but will also be the forum for exchanging ideas and experiences between Indonesia and Palestine in order to build synergies and strengthen cooperation in SMEs development”, said Director Siti Nugraha Mauludiah ended her official report.
 
 

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA (PKM): E-learning Pembelajaran Bahasa Sunda

 

 

Diusulkan oleh: 

Rachmi Utami Rachmatyani (06.08.075)                                 (ANGKATAN 2008)

Tri SusantoNugroho (06.07.059)                                             (ANGKATAN 2007)

Ramdani Gopur (06.08.085)                                                    (ANGKATAN 2008)

Tania Destiana Berlianty (06.08.070)                                      (ANGKATAN 2008)

 Abraham Mikhael (06.11.P002)                                           (ANGKATAN 2011)

UNIVERISTAS WIDYATAMA

 

RINGKASAN

 

Perkembangan teknologi di masa sekarang terus meningkat. website tidak hanya digunakan untuk e-commerce, forum, personal, bahkan blog dan lain-lain, tetapi dapat juga untuk menjalankan dan merancang berbagai kebutuhan, seperti game, perangkat ajar, pemutar audio, kamus digital, dan sebagainya. Bahasa merupakan bagian yang tak terpisahkan pada semua itu, namun kali ini kami menawarkan sesuatu yang baru, dimana kami menawarkan media pembelajaran bahasa Sunda secara online (e-learning).

Bahasa Sunda  merupakan salah satu budaya Bangsa, yang artinya harus di lestarikan dan dipergunakan agar tidak terjadi kepunahan. Hal ini dapat kita perhatikan diantaranya karena Bahasa Sunda sendiri hanya diajarkan hampir di semua sekolah di Jawa Barat (selaku bahasa daerah), sehingga membatasi penyebarluasannya (terbatas pada jarak dan komunitas). Selain itu juga pembelajaran disekolah khususnya bagi anak-anak kecil itu kurang menarik.

Untuk menanggapi pembelajaran ataupun keinginan dari masyarakat luas bahkan internasional untuk belajar Bahasa Sunda, maka kami menggagaskan untuk membuat e-learning ahasa Sunda. yang di dalamnya di buat visualisasi (gambar) dari benda-benda dengan bahasa Sunda lengkap dengan cara membacanya, kamus, dan mungkin bisa ditambahkan beberapa percakapan dasar yang sederhana. Selain itu untuk belajar bahasa inggris untuk anak percakapan tersebut disajikan dengan gambar-gambar pilihan seperti flash cartoon, interface dll yang mudah di mengerti dan menarik bagi anak,

Kata Kunci : E-learning bahasa sunda, kamus bahasa sunda, kamus bergambar bahasa sunda untuk anak


BAGIAN INTI

 A.      Pendahuluan

Perkembangan teknologi terus meningkat. Komputer tidak hanya digunakan untuk mengolah data saja tetapi dapat juga untuk menjalankan dan merancang berbagai aplikasi, seperti game, perangkat ajar, pemutar audio, kamus digital, dan sebagainya.

Bahasa sunda merupakan salah satu kebudayaan daerah dari Jawa Barat yang hampir terlupakan dikarenakan minat dari generasi muda yang mulai menurun terhadap kebudayaan daerah tersebut, serta terbatasnya media penyebarluasan dari bahasa tersebut yang diantaranya karena bahasa sunda hanya di ajarkan di Jawa Barat.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka akan dibuatkan “E-learning Pembelajaran Bahasa Sunda Untuk Pengawasan Siswa”. Namun selain itu juga e-learning kami bisa juga dipergunakan untuk umum, untuk mewadahi minat dari orang orang yang ingin belajar bahasa sunda, dan semakin menyebarluaskan kebudayaan daerah.

 

B.      Tujuan

Berdasarkan uraian pada pendahuluan diatas memiliki beberapa tujuan diantaranya:

‚óŹ      Meningkatkan minat siswa untuk mempelajari bahasa sunda dan menggunakanya untuk menjadi bahasa sehari-hari

‚óŹ      Melestarikan bahasa daerah terutama bahasa sunda

‚óŹ      Memudahkan siswa dalam mempelajari bahasa sunda

‚óŹ      Memudahkan guru untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa

‚óŹ      Memanfaatkan visualisasi gambar sebagai sarana interaktif

‚óŹ      Kegiatan pembelajaran dapat di lakukan oleh siapa pun, dan memiliki jangkauan yang lebih luas

‚óŹ      Melestarikan bahasa daerah

 

C.      Manfaat

Manfaat dari e-learning bahasa sunda ini adalah :

‚óŹ    Agar anak-anak lebih tertarik dalam mempelajari bahasa sunda.

‚óŹ    Menambah pengetahuan anak tentang bahasa sunda selain materi yang di dapat di sekolah.

‚óŹ    Meminimalkan biaya kegiatan pembelajaran.

‚óŹ    Memulai pengenalan dan pemanfaatan internet bagi anak-anak.

‚óŹ    Memberikan kesadaran bagi anak-anak bahwa bahasa sunda adalah bahasa daerah yang perlu dilestarikan.

‚óŹ    Memberikan materi yang lebih mudah di ingat karena di sajikan dengan audio visual yang menarik.

‚óŹ    Pengawasan kegiatan belajar siswa dapat diawasi oleh guru maupun orangtua yang ada dirumah.

‚óŹ    Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran.


D.      Gagasan

Teknologi yang terus berkembang mempunyai peran yang sangat tinggi dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi informasi saat ini khususnya internet, mengarahkan sejarah teknologi pendidikan pada alur yang baru. Internet memudahahkan user dalam mencari dan menerima informasi mengenai materi pembelajaran. Penyedia layanan pembelajaran jarak jauh dapat memanfaatkan teknologi internet secara maksimal dapat memberikan efektifitas dalam waktu, tempat dan bahkan meningkatkan kualitas pendidikan.

Perubahan pola hidup membuat bahasa daerah terlupakan, salah satunya yaitu bahasa sunda yang merupakan sebuah bahasa daerah jawa barat. Kecenderungan menggunakan bahasa sunda dalam percakapan keseharian kini sangat jarang. Ironisnya, kondisi ini tidak saja terjadi di kalangan anak-anak zaman sekarang tapi juga di lingkungan orang tua sebagai bahasa indung bahasa sunda seharusnya dipergunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari, minimal di lingkunga keluarga. Sebenarnya pemerintah berupaya melakukan perubahan dan membangkitkan gairah penggunaan bahasa sunda, antara lain melalui pencanangan pelajaran bahasa sunda.

Untuk itu kami mengembangkan sebuah gagasan untuk mengaplikasikan interactive website dimana kami menyediakan suatu media pembelajaran untuk pengembangan kemampuan berbahasa sunda bagi anak-anak dengan format fun interactive-learning.

Aplikasi yang akan kami kembangkan dibangun dengan menggunakan :

1.       Moodle 1.9

2.       Php 4

3.       MySql

 

E.       Kesimpulan

Gagasan yang kami sampaikan yaitu berupa pembangunan aplikasi berbasis e-learning sebagai salah satu sarana pembelajaran yang kompeten. Penggunaan aplikasi moodle diharapkan dapat membantu para siswa dalam menghadapi era globalisasi dimana siswa dituntut untuk mahir dalam berbahasa dan berkomunikasi dalam bahasa sunda, dan diharapkan juga agar siswa dapat mengerti kegunaan dari internet sebagai salah satu media pembelajaran yang kompeten saat ini. Selain itu juga aplikasi yang akan dikembangkan dapat dipergunakan untuk kalangan umum untuk belajar Bahasa Sunda. Aplikasi ini pula memiliki sedikit animasi atau visualisasi untuk lebih menarik minat.

Daftar Pustaka 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=Z0N23rfQDfA&w=600&h=400]