Kematian, Kulminasi Pencapaian Hidup Manusia

Setiap manusia yang dilahirkan selalu mempunyai makna dan mempunyai jalur kehidupannya sendiri. Dimana makna itu akan berkembang seiring dengan pertumbuhan sang manusia yang telah terisi kehidupannya. Manusia pun sesungguhnya sadar bahwa ia terlahir untuk mencapai kehidupan abadi, yakni kematian. Maka dari itu perlu disadari oleh tiap manusia, untuk tidak berhenti di satu titik meski tetap berkembang. Disini penulis menekankan, setiap hari adalah syukur, kematian memang tidak bisa diprediksi karena merupakan rancangan dari Sang Khalik, namun sedianya syukur, penyerahan diri, dan pertobatan haruslah dilakukan. Salah satunya adalah dengan merasakan “everday is my birthday”, dimana tiap harinya adalah rasa syukur akan nafas hari ini.  

Dilain fihak, Kematian adalah keniscayaan yang tidak terelakkan. Ia merupakan drama penuh misteri dan seketika yang dapat mengubah jalan hidup seseorang. Karena begitu misterius dan menakutkannya kematian, tidak sedikit umat manusia merasa perlu menambah masa hidupnya, seperti yang terangkum dalam pernyataan Chairil Anwar: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”

Membahas kematian bisa menimbulkan sebuah ‘pemberontakan’ yang menyimpan kepedihan pada jiwa manusia, yaitu kesadaran dan keyakinan bahwa mati pasti akan tiba dan musnahlah semua yang dicintai dan dinikmati dalam hidup ini. Kesadaran itu memunculkan penolakan bahwa kita tidak ingin (cepat) mati. 

Buku Psikologi Kematian karya Komaruddin Hidayat secara khusus berbicara kematian. Dalam pengantarnya, M Quraish Shihab mengakui buku best seller itu dapat membantu pembacanya bukan saja untuk memahami psikologi kematian, namun juga rahasianya dan yang lebih penting lagi ialah menuntut kita menjemput maut dengan hati yang damai. 

Menurut Komaruddin Hidayat, keengganan manusia untuk menjemput kematiannya disebabkan, setidaknya dua hal. Pertama, manusia terlanjur dimanjakan dengan aneka kenikmatan duniawi yang telah dipeluknya erat-erat. Kedua, sifat kematian yang misterius. Kematian ditakuti karena manusia tidak tahu persis apa yang akan terjadi setelah kematian itu 

Setiap orang bila ingin berkembang dan maju harus menerjang banyak ujian dari front yang berbeda dan banyak bentuknya, dimana tiap fase tidaklah sesuai dengan kemampuan kita namun tidak melampaui daya kita dan rintangan itu biasanya diatas kemampuan kita, guna mengembangkan pribadi sebagai pribadi yang lebih matang dan siap dalam menghadapi dunia. Dalam istilah sufi, diri kita terdapat arassy atau singgasan Tuhan, sehingga kalau seseorang bisa menyerap sifat-sifat ilahi ke dalam hatinya, maka ia akan lebih besar ketimbang langit dan bumi.  

“Rasa takut itu berakar pada keinginan laten untuk selalu hidup nyaman, dan rasa takut itu kemudian menjalar kepada bebagai wilayah aktifitas manusia. Lebih jauh lagi, rasa takut itu kemudian melahirkan anak-pinak, yaitu takut akan bayang-bayang ketakutan itu sendiri sehingga muncul ungkapan, musuh terbesar dan terdekat kita adalah rasa takut itu sendiri yang berakar kuat dalam diri. Esensinya ialah sikap penolakan akan kematian karena kematian itu selalu diidentikkan dengan tragedi, sakit, ketidak berdayaan, kehilangan dan kebangkrutan hidup” ~ Komaruddin Hidayat

Manusia modern, ditekankan adalah manusia yang biasanya bertindak di comfort zone, dimana area ini adalah kenyamanan dan kepuasan dimana manusia yang meninggalinya tidak akan pernah beranjak atau enggan meninggalkan area ini, karena ia sudah merasa aman dan terlindungi, sedangkan manusia hidup berdampingan dengan apa yang kita sebut sebagai kerja keras dan usaha, dengan pelu keringat dan memutar otak namun kadang manusia keluar dari jalurnya dan menekankan kehidupan sebagai keegoan, ini menyebabkan kententraman dunia bukan berada pada genggaman. Untuk menghentikan keegoan ini haruslah kita mencari Tuhan, namun sebelum masuk ke dalam pernyataan carilah Tuhan, penulis menulis dengan cukup lantang carilah dulu cinta, cinta kepada sesama, cinta kepada orang tua dan cinta lainnya, penulis menulis bahwa Tuhan memang tidak dapat disamakan dengan manusia, namun dengan adanya cinta itu manusia diharapkan dapat sadar dan merasakan kenikmatan rasa rindu akan Tuhan.

Bagi penganut mazhab religius, mengejar-ngejar kenikmatan hidup duniawi dan memperoleh self-glory hanya akan menghambat diraihnya kesuksesan hidup di akhirat. Penguasa, misalnya, jangan hanya mabuk kekuasaan dan uang, tapi kesejahteraan rakyatnya harus diperhatikan agar kenyamanan hidup setelah kematian bukan sebatas impian. 
Kedua, mazhab sekuler yang tidak peduli dan tidak yakin adanya kehidupan setelah kematian. Kelompok itu dibedakan dua. Pertama, meskipun mereka tidak peduli kehidupan akhirat, kelompok ini berusaha mengukir namanya dalam lintasan sejarah. Seperti, demi popularitas, orang kaya rela membantu yang miskin. Kedua, mereka yang memang pemuja hidup hedonistis yang sama sekali tidak peduli dengan pengadilan dan penilaian sejarah. 
Apakah benar kehidupan bermakna?

Menurut Komaruddin Hidayat, kehidupan sangat bermakna dimana makna itu berjenjang. Faktor usia, tingkat pendidikan, dan status ekonomi serta nasib akan mempengaruhi dalam memahami dan menghayati makna hidup. Hidup sebagai tindakan bermakna, makna itu bisa kita dapatkan bila kita mengenal akan agama yang kita anut, seperti sudah dikatakan sebelumnya agama adalah jalan yang jelas, dan acuan yang tepat sasaran. Tepat sasaran menuju kehidupan abadi yakni kematian. Merenungkan makna kematian tidak berarti lalu kita pasif. Sebaliknya, justru lebih serius menjalani hidup, mengingat fasilitas umur yang teramat pendek. Makna panjang umur meninggalkan kisah baik untuk menuju kebaikan surgawi.  Giving dan serving oriented diakui sebagai sumber kebahagiaan dan puncak prestasi

Dalam pandangan Komaruddin Hidayat, keyakinan dan ketidakyakinan manusia bahwa setiap saat kita bisa dijemput kematian memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Begitu pula dengan keyakinan adanya kehidupan setelah kematian. Dengan harapan memperoleh kebahagiaan di akhirat, misalnya, maka raja-raja Mesir membangun Piramida dengan pucuknya runcing dan menjulang ke langit agar memudahkan perjalanan arwahnya menuju surga. 

Islam secara tegas mengajarkan bahwa tiada seorang pun yang bisa menemani dan menolong perjalanan arwah kecuali akumulasi amal kebaikan kita sendiri. Kenikmatan dan gemerlap kehidupan duniawi akan ditinggalkan dan tidak ada bekal yang berharga bagi kelanjutan perjalanan hidup manusia kecuali amal kebaikan yang telah terekam dalam disket rohani yang nantinya akan di-print out di akhirat. 

Frank J Tipler dalam bukunya The Psysics of Immortality (1994) menyarankan manusia agar selalu berbuat baik demi kesuksesan dunia-akhirat. Kebaikan membuat kita tersenyum ketika malaikat maut menjemput meskipun keluarga yang akan kita tinggalkan menangis. Sebaliknya, kebejatan akan membuat kita menangis ketakutan, sedangkan orang-orang di sekitar kita tersenyum gembira karena merasa risih akan keberadaan kita sendiri. 

Catatan:

Disusun bersamaan dengan meninggalnya Wakil Menteri  ESDM, Widjajono Partowidagdo (http://news.detik.com/read/2012/04/21/202934/1898186/10/widjajono-gemar-mendaki-gunung-untuk-dekatkan-diri-dengan-tuhan?nd992203605)

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/Nv5xr9ybT24″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Bercermin Dari Semut: Silaturahmi Mendatangkan Rejeki

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;
Maka Sulaiman tersenyum karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh”
(An-Naml [27] ayat 18 dan 19:  Kisah raja semut dan tentaranya)
Mengapa Semut Saling Bersalaman ketika Bertemu?
Kita sering meihat semut. Mereka seperti “bersalaman dan saling bersilaturahmi” antar mereka bertegur sapa layaknya manusia di saat bertemu,,, cuma kita tidak bisa menalarkan karena itu bahasa binatang.
Dikutip dari blog Hoeda-manis, sebenarnya semut bukan bersalaman, tapi menepuk. Saling menepuk satu sama lain antara semut adalah cara mereka berkomunikasi. Tepukan yang keras menjadi tanda bahaya, sementara tepukan yang lembut di antara dua ekor semut adalah isyarat untuk menunjukkan/memberitahu adanya makanan bagi semut yang lain.
Apakah Semua Semut Bersifat Sosial?
Semua jenis semut adalah hewan sosial, dalam arti mereka hidup dalam kelompok, dan masing-masingnya memiliki pekerjaan yang harus dilakukan di dalam koloni. Setiap koloni umumnya juga memiliki satu betina yang bertugas untuk bertelur, yaitu ratu semut.
Para ilmuwan menyatakan bahwa semut-semut itu seperti kita, mereka melaksanakan tugas-tugas mereka secara efisien. Sambil kerja, semut-semut berbicara satu sama lain dan berkata seperti manusia. Kita menemukan bahwa semut-semut mengorganisir proses pengumpulan makanan dan tugas-tugas lain melalui bunyi-bunyi tertentu dan berbagai perintah yang dilepaskannya, sementara semut-semut lain mendengar dan merespon!
Manusia semestinya saling bertegur sapa sehingga dapat menyambung silaturahmi, bukankah silaturahmi itu mendatangkan rejeki buat kita. Itulah yang saya coba dengan rekan, teman, kolega dan sahabat sejak saya sekolah (TK-Perguruan Tinggi), saat bekerja sampai dengan sekarang. Sering kali saya memperoleh “bantuan dan dukungan” yang tidak disangka-sangka karena mempereoleh manfaat dari “Silaturahmi Mendatangkan Rejeki“.
<iframe width=”600″ height=”420″ src=”http://www.youtube.com/embed/IMqoA3iaw1Q” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Mengapa Ada Ikatan Emosional Yang Kuat Pada Keluarga Kita

Manusia sering cenderung bereaksi berlebihan terhadap hidupnya. Kita terlalu terluka dalam berbagai hal. Kita terlalu banyak memompa adrenalin, dan hal-hal kecil terlalu cepat menjadi besar. Hidup sebagian besar waktunya menjadi sebuah opera sabun saat benar-benar itu tidak harus terjadi.

Masyarakat mengajarkan kita bahwa pria dan wanita secara emosional reaktif dengan cara yang berbeda. Wanita dituduh mengekspresikan emosi mereka terlalu banyak; dimana pria yang seharusnya menyembunyikan emosi mereka. Pria telah belajar untuk menutupi emosi mereka untuk beberapa hal, tetapi mereka tidak dapat menutupi perasaan ini dari diri mereka sendiri.

Proses penghancuran dan tabrakan serta tumpahan pada semua hubungan melalui berbagai tingkat yang telah disebut adalah proses penyesuaian perkawinan. Dibutuhkan banyak pasangan untuk beberapa tahun sebelum percampuran kepribadian terjadi. Proses ajaib ini cenderung bekerja lebih cepat dan lebih efisien jika kita dapat mengontrol emosi kita dan tidak terbawa ketika emosi kita tinggi.

Sibernetika adalah ilmu yang berhubungan dengan studi perbandingan sistem kontrol manusia, seperti otak dan sistem saraf. Sibernetika juga mengacu pada sistem syaraf yang kompleks. Dalam Sibernetik ada frase kenikmatan, suatu umpan balik yang tak terkendali. Ini menggambarkan bagaimana impuls syaraf dapat benar-benar keluar dari tangan, berhubungan bolak-balik satu sama lain, tidak bisa berhenti.

Orang tidak harus melihat lebih jauh untuk melihat perilaku menyimpang di kalangan orang dewasa. Misalnya, Rapat di kantor kadang-kadang tak terkendali seperti yang kita menumpahkan emosi masing-masing, baik negatif dan positif. Orang-orang pada usia berapa pun dapat menjadi tidak masuk akal. Keluarga juga dapat menumpahkan emosi satu sama lain dan dapat dengan cepat menjadi baik sangat positif atau negatif. Umpan balik Sibernetika menghasilkan “Multiplier Effect” (Efek Berganda).

Dalam satu keluarga, sebuah contoh dari sebuah “umpan balik tak terkendali sibernetik” akan terjadi saat seorang ibu tiba di rumah serta menemukan anak remajanya  mengerjakan pekerjaan rumah melainkan menonton TV. Semua suasana hati yang baik seorang ibu tiba-tiba kusut. Musik anak perempuannya tersebut terdengar terlalu keras, rumah tampak berantakan, tidak ada yang tersedia untuk makan malam dan suaminya bertanya-tanya apa masalahnya? Dapatkah Anda memikirkan contoh terkendali loop umpan balik sibernetik dalam keluarga Anda?

Ketika kita berusaha untuk berkomunikasi secara efektif dengan satu sama lain dalam keluarga kita, keseimbangan terletak pada bagaimana kita mengelola untuk menjaga emosi positif.  Hidup dalam hubungan kita yang sangat erat satu sama lain dapat meminimalkan simpang siur emosi negatif yang dapat dengan mudah keluar dari kontrol.

Bagaimana individu menenangkan diri ketika mereka terlalu emosional?

  • Biarkan orang lain tahu bahwa Anda perlu timeout (jeda sesaat). Kembali ketika Anda tenang, kemudian dengarkan, bicara dan mencari solusi.
  • Sadarilah bahwa ada hubungan pikiran negatif satu sama lain, begitu juga pikiran positif.
  • Bersihkan kepala Anda dengan menghitung mundur dari 10 atau 20.
  • Bayangkan sebuah adegan yang menenangkan atau santai.
  • Jangan melihat seluruh situasi, melainkan memecahnya menjadi bagian-bagian kecil yang tidak muncul emosi yang begitu kuat.
  • Baik pria dan wanita, perlu belajar untuk berbicara dan mengekspresikan diri.

Bagaimana kita memberikan pengaruh positif bagi keluarga?

  • Memantau dan membatasi tayangan yang tidak memberikan hal positif yang berhubungan dengan manusia, termasuk acara seperti sinetron, reality show TV, film, video game kekerasan, surfing situs Web yang tidak sehat.
  • Beri batas waktu keluarga untuk menunjukkan dan membuat semua orang menyadari adanya umpan balik sibernetik tak terkendali seperti yang sering terjadi. Gunakan kata kode yang memiliki arti bagi keluarga. Satu keluarga menggunakan nama “Charlie” karena itu merupakan nama anjing yang  mereka miliki serta tidak terkendali.
  • Pikirkan tentang saat ketika keluarga Anda mengalami umpan balik sibernetik tak terkendali. Bagaimana mulainya? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa dihindari lain kali? Ketika emosi tenang, bersenang-senanglah dengan bermain peran situasi ini sebagai sebuah keluarga sehingga semua orang bisa merasakan bagaimana bisa dilakukan secara berbeda. 
 John D. DeFrain, Extension Specialist, Family and Community Development; Jeanette L. Friesen, Extension Educator; Gail L. Brand, Extension Educator; Dianne M. Swanson, Extension Educator 

 

    Silahkan Anda Merokok, Asal Pakai Kresek Di Kepala Anda

    Saat ini banyak orang mempermasalahkan rokok dari sisi kesehatan, agama, ekonomi bahkan ideologi, politik, sosial dan budaya. Bahkan pada artikel Detik disebutkan bahwa: “Sebulan sudah Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan polemik rokok dalam UU Kesehatan. Namun hingga saat ini Menteri Kesehatan belum melaksanakan poin-poin putusan MK yang menyudahi silang sengketa tersebut.” 
    “Tujuan besar dari perjuangan antirokok adalah melarang perusahaan rokok mengajak orang untuk merokok. Mengajak dalam berbagai cara,” kata M. Joni selaku kuasa hukum Komnas Perlindungan Anak dan Tobacco Control Support Centrel (TCSC) saat berbincang dengan detikcom, Selasa, (6/12/2011).
    Pada awalnya manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. 
    Kata “tembakau” mungkin berasal dari nama pulau Tobago. Menurut kesaksian pelaut Spanyol, yang tiba bulan Oktober 1942 silam. yang terkenal dengan ekspedisi Columbus saat ini Amerika Tengah. Kata “tobaco” berasal dari penduduk setempat yaitu memutar daun berukuran besar yang dimaksudkan untuk ritual merokok. Columbus disana bertemu dengan orang tua yang sedang merokok atau disebut dengan “Injun”, lalu penduduk setempat menawarkan kepada sang kapten kapal, dia tidak bisa menolaknya dan mencoba untuk “merokok” yang digunakan orang-orang Indian, dia tidak hanya mencoba akan tetapi juga menyita daun tembakau yang dimiliki penduduk setempat untuk dibawa pulang. Selanjutnya, orang-orang Spanyol dan Portugis membawa daun dan biji tembakau ke Eropa kemudian orang-orang Eropa juga mulai menanam tembakau tersebut.
    Berikut adalah beberapa bahan kimia yang terkandung di dalam rokok:
    1. Nikotin, kandungan yang menyebabkan perokok merasa rileks.
    2. Tar, yang terdiri dari lebih dari 4000 bahan kimia yang mana 60 bahan kimia di antaranya bersifat karsinogenik.
    3. Sianida, senyawa kimia yang mengandung kelompok cyano.
    4. Benzene, juga dikenal sebagai bensol, senyawa kimia organik yang mudah terbakar dan tidak berwarna.
    5. Cadmium, sebuah logam yang sangat beracun dan radioaktif.
    6. Metanol (alkohol kayu), alkohol yang paling sederhana yang juga dikenal sebagai metil alkohol.
    7. Asetilena, merupakan senyawa kimia tak jenuh yang juga merupakan hidrokarbon alkuna yang paling sederhana.
    8. Amonia, dapat ditemukan di mana-mana, tetapi sangat beracun dalam kombinasi dengan unsur-unsur tertentu.
    9. Formaldehida, cairan yang sangat beracun yang digunakan untuk mengawetkan mayat.
    10. Hidrogen sianida, racun yang digunakan sebagai fumigan untuk membunuh semut. Zat ini juga digunakan sebagai zat pembuat plastik dan pestisida.
    11. Arsenik, bahan yang terdapat dalam racun tikus.
    12. Karbon monoksida, bahan kimia beracun yang ditemukan dalam asap buangan mobil.
    So…….Silahkan Anda Merokok, Asal Pakai Kresek Di Kepala Anda……Mengapa? Sesuai HAM anda bebas merokok karena itu hak azasi, namun anda tidak boleh meracuni udara di sekitar anda dengan 12 bahan kimia di atas karena itu bukan milik anda ūüôā
    [youtube http://www.youtube.com/watch?v=DiyWK3fzTpA&w=600&h=400]

    Restropeksi "Costa Concordia" : Perbedaan Seorang Pengecut dan Pemberani

     The hero and the coward both feel the same thing, but the hero uses his fear, projects it onto his opponent, while the coward runs. It’s the same thing, fear, but it’s what you do with it that matters.    D’Amato, Cus
    Peribahasa di atas sangat tepat dengan apa yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Banyak kejadian yang memperlihatkan Perbedaan Seorang Pengecut dan Pahlawan seperti yang digambarkan dengan peristiwa tenggelamnya Kapa Pesiar Costa Concordia baru-baru ini. Berikut ini adalah transkrip yang diterjemahkan dari percakapan antara Kapten Gregorio de Falco (Penjaga Pantai Italia) dan Schettino (Kapten Kapal Pesiar Costa Concordia):
    De Falco: Ini adalah De Falco yang berbicara dari Livorno. Apakah saya berbicara dengan Komandan Kapal?
    Schettino: Ya. Selamat malam, Komandan De Falco.
    De Falco: Tolong beritahu saya nama Anda.
    Schettino: Saya Komandan Schettino, komandan.
    De Falco: Schettino? Dengarkan Schettino. Ada orang yang terjebak di kapal. Sekarang Anda pergi dengan perahu Anda ke bawah haluan di sisi kanan kapal. Ada sebuah tangga pertolongan. Anda harus menaiki tangga itu dan masuk kapal. Kemudian Anda akan memberitahu saya berapa banyak orang tertinggaldi sana. Apakah itu jelas? Saya merekam percakapan ini, Komodor Schettino …
    Schettino: Komandan, biarkan aku memberitahu Anda satu hal …
    De Falco: Bicaralah! Letakkan tangan Anda di depan mikrofon dan berbicara lebih keras. Apakah itu jelas?
    Schettino: Pada saat ini, kapal ini sudah miring …
    De Falco: Saya memahami dan mendengarkan, ada orang-orang yang turun tangga di haluan. Anda naik tangga lain yg tersedia, masuk ke kapal itu dan katakan padaku berapa banyak orang yang masih di dalam. Dan apa yang mereka butuhkan. Apakah itu jelas? Anda perlu memberitahu saya jika ada anak-anak, wanita atau orang yang membutuhkan bantuan. Dan katakan jumlah pasti dari masing-masing kategori. Apakah itu jelas? Dengarkan Schettino,  Anda selamay dari laut, tapi saya akan … benar-benar melakukan sesuatu yang buruk kepada Anda … Saya akan membuat Anda membayar untuk ini. Go on board, (sumpah serapah)!
    Schettino: Komandan, silahkan …
    De Falco: Tidak, silakan. Anda sekarang bangun dan pergi ke kapal. Mereka mengatakan bahwa kapal masih ada penumpang…
    Schettino: Saya di sini dengan perahu penyelamat, saya di sini, saya tidak ke mana-mana, saya di sini …
    De Falco: Apa yang Anda lakukan, komandan?
    Schettino: Saya di sini untuk mengkoordinasikan penyelamatan …
    De Falco: Apa yang Anda koordinasikan di sana? Pergilah ke kapal! Koordinasikan dari kapal penyelamatknnya. Apakah Anda menolak?
    Schettino: Tidak, saya tidak menolak.
    De Falco: Apakah Anda menolak untuk pergi naik, Komandan? Dapatkah Anda memberitahu saya alasan mengapa Anda tidak pergi?
    Schettino: Saya tidak pergi karena sekoci lainnya menghalangi.
    De Falco: Anda pergi ke kapal!!! Ini adalah perintah!!! Jangan membuat alasan lagi. Anda telah menyatakan “Tinggalkan kapal”. Sekarang saya yang bertanggung jawab. Anda pergi ke kapal! Apakah itu jelas? Apakah Anda mendengar saya? Pergilah, dan telepon saya ketika Anda naik. Awak udara penyelamatan saya ada di sana.
    Schettino: Mana penyelamat Anda?
    De Falco: penyelamatan udara saya di haluan. Pergi. Sudah ada di sana, Schettino.
    Schettino: Berapa banyak mayat yang ditemukan?
    De Falco: Saya tidak tahu.  Anda adalah orang yang harus memberitahu saya tentang banyaknya korban!!!
    Schettino: Tapi apakah Anda menyadari suasana gelap dan di sini kita tidak bisa melihat apa-apa …
    De Falco: Jadi apa keinginanmu? Anda ingin pulang, Schettino?  Suasana  gelap dan Anda ingin pulang? Arahkan pada haluan kapal dan naik menggunakan tangga pertolongan serta katakan padaku apa yang bisa dilakukan, berapa banyak orang di sana dan apa kebutuhan mereka. Sekarang!
    Schettino: … Saya dengan orang kedua (wakil) saya di sini.
    De Falco: Jadi Anda berdua harus naik … Anda dan Wakil Anda pergi ke kapal sekarang. Apakah itu jelas?
    Schettino: Komandan, saya ingin pergi kel kapa, tapi ada perahu lain di sini yg menghalangi … Ada penyelamat lainnya. Kami berhenti dan menunggu …
    De Falco: Telah beberapa jam Anda  mengatakan hal yang
    sama. Sekarang, pergi ke kapal. Pergilah ke kapal! Dan kemudian beritahu saya segera berapa banyak orang ada di sana!!!
    Schettino: OK, Komandan.
    De Falco: Pergilah, segera!
    “Dan sejarah mencatat, kisah heroik dibalik kaburnya kapten kapal pesiar Costa Concordia, Francesco Schettino (52). Kepala Pelabuhan Livorno, Gregorio de Falco (48) yang memaki Schettino menjadi salah satu pahlawan diantara kisah heroik lainnya.”
    [youtube http://www.youtube.com/watch?v=vi-3Kr0AILo?rel=0&w=600&h=400]

    Formula Einstein dan Penerapannya Pada Prinsip Ekonomi

    Formula Einstein E = mc2 dapat diterapkan pada prinsip ekonomi. Dengan sedikit adaptasi teori, kita ketahui, perubahan salah satu kekuatan/energi ekonomi ke bentuk lain dari kekuatan/energi ekonomi tidak dapat mengubah jumlah total ekonomi. Prinsip dasar ekonomi yang mengambil keuntungan/laba besar dari modal/saham kecil hanya dapat diterapkan pada waktu dan atau wilayah sangat terbatas.

    Pada jurnal berjudul “The Great Depression.¬†George Bush vs Einstein on economic policy“, dikatakan bahwa¬†Albert Einstein adalah salah satu matematikawan terbesar abad sebelum ini. Jurnal tersebut menentang klaim yang dilakukan oleh Ronald Reagan atau George W. Bush perihal pertumbuhan ekonomi. Ayahnya, George Bush Senior, menyebut “teori ekonomi¬†menetes turun” (trickle down economic theory) sebagai ‘ekonomi voodoo’ ketika ia menantang Reagan untuk nominasi partainya, tapi menjadi diam setelah terpilih menjadi Wakil Presiden. Menurut Einstein¬† “teori ekonomi¬†menetes turun” (trickle down economic theory)¬†adalah¬†kebijakan ekonomi yang tidak layak sama sekali, juga bukan cara untuk menciptakan pekerjaan. Ini hanya transfer atau pemindahan kekayaan, dengan konsekuensi bencana, termasuk pada akhirnya hilangnya manfaat dan keuntungan bagi banyak fihak. Reaganomics, seperti yang akhirnya disebut, membutuhkan waktu sekitar lima belas tahun untuk mulai menghancurkan perekonomian sehingga berdampak berdasarkan pengalaman kita sekarang.

    “Depresi Besar (Great Depression)” adalah kejadian yang biasa dalam perekonomian Amerika tahun 1800-an, berulang secara berkala sepanjang abad, membawa kesedihan bagi bangsa di dunia lagi dan lagi. Depresi Besar yang paling terkenal, dimana orang biasanya merujuk ke saat menggunakan istilah, adalah depresi terkenal yang berlangsung sepanjang dekade tiga puluhan. Karena analisis ekonomi melibatkan matematika dan angka-angka, Albert Einstein menggunakan bakatnya untuk menganalisis penyebab “Depresi Besar” ini. Apa yang dia temukan adalah bahwa Depresi Besar disebabkan oleh apa yang disebut sebagai ‘pekerja yang dibayar murah serta tidak memberikan pasar yang menguntungkan’ (yang menyebabkan hilangnya keuntungan dan aset di zaman itu) serta “motif keuntungan, dalam hubungannya dengan kompetisi di antara kapitalis yang bertanggung jawab¬†dalam akumulasi¬†ketidakstabilan ¬†dan penggunaan modal yang mengarah ke depresi semakin parah”.

    Apa yang dimaksud di sini adalah begitu banyak uang menumpuk di atas karena para kapitalis bersaing¬†keras¬†untuk siapa yang dapat menjadi terkaya yang akhirnya bagian bawah perekonomian jatuh dan ambruk, dimana pasar tidak lagi dapat didukung karena ketidakseimbangan dalam distribusi kekayaan. Hal ini menghasilkan kejenuhan barang di pasar yang tidak dapat dijual yang menghasilkan deflasi harga serta mengakibatkan hilangnya keuntungan¬†selanjutnya¬†pemutusan hubungan kerja (PHK) ¬†yang kemudian mengarah ke kerusakan lebih lanjut di pasar sebagai spiral ekonomi yang mengarah menjadi bencana. Depresi besar tidak disebabkan ketika gelembung pasar saham meledak, melainkan ledakan gelembung hanyalah reaksi terhadap keruntuhan di pasar (gejala dan bukan sebab). Depresi Besar disebabkan oleh transfer besar kekayaan pada sebuah minoritas kecil di puncak piramida, yang seperti Einstein mengatakan, penyebab ‘ketidakstabilan’ dalam ‘pemanfaatan modal’ yang kemudian menghasilkan ‘depresi semakin parah’ dengan keparahan depresi berkorelasi langsung dengan tingkat ketidaksetaraan pendapatan yang telah berkembang di masyarakat.

    [youtube http://www.youtube.com/watch?v=30KfPtHec4s?rel=0&w=600&h=400]