Petuah @DausGonia @PojokPendidikan Imaji+Nasi: Perpaduan Antara Idealisme (Imaji) dan Penghidupan (Nasi) Manusia

Pada hari Ulang Tahun @DausGonia, salah satu tokoh @PojokPendidikan saya selalu teringat Idiom darinya yaitu “Imaji+Nasi”. Dalam blognya DausGonia.com menulis “Jangan tanyakan siapa itu Daus Gonia, tapi tanyakan apa yang telah engkau berikan kepada negara.” Selain berkarya di Pojok Pendidikan, Ia juga menulis “Seringnya ngaku-ngaku pengangguran, padahal Freelancer dan menyibukan diri sebagai Self Employed di Playwork-ID juga sebagai penggembira di salah satu perusahaan Game Developer di Bandung. Selain suka bikin kopi dan bikin pusing, saya juga suka bikin Game dan Apps baik untuk mobile ataupun untuk Web Apps. Aktif di sosial Media Twitter dengan akun @dausgonia, enggan aktif di radio karena nanti disangka radio aktif. Padahal cita-citanya dulu jadi Pohon Pisang.”

Bagi saya, benar adanya bahwa kehidupan kita harus berdasarkan kesetimbangan serta Perpaduan Antara Idealisme (Imaji) dan Penghidupan (Nasi) Manusia. Idealisme yang kita anut, serta realisme kita hadapi. Ketika suatu sistem atau tatanan lingkungan bertentangan dengan idealisme kita, berpikir bijaklah, tidak harus dengan pemberontakan dan kata tegas yang kemungkinan akan mengeluarkan kita dari sistem tersebut. Karena ketika kita keluar dari sistem maka sulit bagi kita memperbaiki. 

Ada memang beberapa diskusi  menunjukkan adanya suatu tantangan bagi kita yang khususnya ketika masuk dunia kerja. Apakah idealisme masih perlu dipegang seiring dengan tuntutan kepada kita yang nyata dan realitis adanya? Tantangan untuk mewujudkan idealisme sementara sistem dan lingkungan yang kita masuki mungkin berlawanan dengan idealisme yang dianut.

Dalam situasi ini, kita dihadapkan pada pilihan antara idealisme dan kenyataan bahwa proses negoisasi dan kompromi sering terjadi dalam lingkungan kita. Semua itu adalah proses, maka apabila posisi kita dalam posisi sudah menikmati “Nasi” (Penghidupan), atau menjadi pengambil keputusan/kebijakan mulailah untuk mewujudkan “Imaji” (Idealisme) tersebut.

Selamat Ulang Tahun Daus Gonia, semoga selalu bisa menjaga Imaji+Nasi 🙂

Pojok Pendidikan: Ingin Seperti Air, Menjadi Kekuatan Pendorong di Alam Pendidikan

Dikutip dari Jurnal Mahasiswa Filsafat UGM, Manusia merupakan perwujudan dari alam bukan sebagai penakluk alam, namun menjadi penyelaras di alam serta bukan menjadi pemangsa alam. Manusia sebagai perwujudan dari alam seharusnya mengungkapkan keindahan, kebenaran, dan kebaikan alam; dan mengartikulasikannya dalam pengolahan moral atau alam dari kehidupan manusia atau sifat manusia. Sebagai bagian dan bidang dari alam, manusia tidak berdiri menentang alam dengan cara yang bermusuhan. Sebaliknya, manusia memiliki keprihatinan dan perhatian yang mendalam pada alam  karena cocok dengan sifatnya sendiri. Untuk pertumbuhan dan kesejahteraannya sendiri, manusia harus mengolah hubungan internal dalam dirinya antara dirinya dan alam semesta. Menaklukkan alam dan mengeksploitasinya adalah bentuk perusakan diri dan perendahan diri bagi manusia.
Dalam dunia modern, kesejahteraan manusia sangat ditentukan oleh usaha-usaha yang dilakukan manusia itu sendiri, sehingga ada orang yang kaya dan orang yang miskin. Usaha-usaha yang dilakukan manusia tersebut ada yang bersifat individual (untuk kepentingan prinbadi) yang menghalalkan segala cara demi kesejahteraan pribadi, dan ada yang bersifat komunal (untuk masyarakat) yang mementingkan keseimbangan yang ada dalam lingkungan.Sikap egois manusia yang tidak pernah habis-habisnya untuk memperoleh keuntungan sesaat telah menghasilkan kecenderungan manusia untuk melakukan manipulasi terhadap lingkungan. Ini mengganggu keseimbangan antara manusia dan lingkungannya dan intensitas ketergantungan itu semakin lama semakin meningkat kualitasnya.
Saat sekarang ini ilmu pengetahuan, juga sedang memerankan fungsi yang tidak baik, dia tidak saja mencemari lingkungan manusia, merusak jaringan tubuh manusia, pada akhirnya manusia jahat ingin menggantikan manusia baik. Ada juga masalah pencemaran yang lebih parah pada manusia, yakni bahwa air tawar di atas dunia sekarang ini, hampir tidak ada yang murni lagi. Baik itu air dibawah tanah atau diatas tanah, bagaimanapun manusia berusaha agar air tersebut disaring dan dimurnikan, juga tidak dapat mencapai tingkat kemurnian yang benar-benar dari air itu.
Untuk itulah Pojok Pendidikan lahir dari keinginan dan kebutuhan (Need and Want) Lingkungan Pendidikan yang alami.
“Education is not a preparation for life, education is life itself.”
Pendidikan bukanlah persiapan untuk kehidupan, pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Demikian John Dewey menegaskan pemikirannya tentang pendidikan. Dengan demikian, umur pendidikan sama dengan keberadaan manusia di muka bumi ini.
Dikutip dari tulisan Drs. Suparlan, M.Ed; Ketika Adam diciptakan oleh Tuhan, bersama itu pulalah proses pendidikan telah berlangsung, sebagai suatu sistem yang dibangun oleh Allah SWT. Adam diajari untuk dapat menyebutkan nama-nama yang ada di bumi, tempat kehidupan Adam dan keturunannya. Dengan demikian, yang dimaksud pendidikan sebenarnya memang dengan makna kehidupan itu sendiri. 
Tidak demikianlah halnya dengan malaikat dan iblis. Adam dapat menyebutkan nama-nama, sementara malaikat dan iblis tidak dapat menyebutkan nama-nama itu. Mengapa? Karena hanya manusialah yang telah memperoleh pendidikan, langsung dari Allah SWT. Itulah proses pendidikan yang dilakukan oleh manusia untuk pertama kalinya. Proses itu kemudian dikembangkan sendiri oleh manusia, karena manusia memiliki otak, faktot penentu kelebihan manusia dibandingkan dengan mahluk lain yang sama-sama diciptakan Allah SWT. 
Untuk menjadi manusia yang sempurna, manusia tidak boleh tidak memang harus belajar, atau harus memperoleh pendidikan. Manusia merupakan mahluk yang dapat diajar dan dapat mengajar. Siapa yang berhenti belajar, artinya ia telah mati.

“Animat educandum dan animal educancus. Manusia mahluk pembelajar, mahluk yang dapat dididik dan dapat mendidik.”
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/QcnzHlcfvPU” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Puisi: Pojok Pendidikan Mengabdi

Yang kami lakukan adalah sesuatu yang nisbi
Dan tahu itu hanya sekedar menginspirasi
Setetes ilmu, nyawa pendidikan bagi guru kami
Profesi pendidik yang penuh kecintaan dan dedikasi

Tugas negara mencerdaskan kehidupan bangsa ini
Namun secara moral tugas setiap orang secara hakiki
Doakan kami sabar  membimbing dengan nurani
Terima kasih untuk pendidik dengan sepenuh hati


[youtube http://www.youtube.com/watch?v=dugyQbNa_AU?rel=0&w=640&h=450]

Pojok Pendidikan Mengabdi: Terima Kasih Kami Untuk Pendidik Dengan Sepenuh Hati

Guru-guru bersemangat belajar dibimbing Pojok Pendidikan

Selama dua minggu kami melakukan program “Pojok Pendidikan Mengabdi: Terima Kasih Kami Untuk Pendidik Dengan Sepenuh Hati“. Kemarin tim @pojokpendidikan melanjutkan diskusi minggu ke-2 bersama 40 guru SD se-kecamatan Cileunyi Bandung dan program ini akan berlanjut selama 1 tahun di 2012 nanti. 

Bagi salah satu punggawa @asyadeeq: “Ini adalah sarana bagi yg mau mencoba bagaimana rasanya mengajar para guru”. Ya biasanya kita yang memperoleh ilmu pengetahuan dari ibu bapak guru, sekarang kami dengan sabar membimbing mereka dengan keahlian  tentang filosofis pendidikan, dasar komputer dan psikologi pendidikan (plus Hypno-Teaching dari Iwan Ardi Priyana).

Sedangkan @djadjas menimpalinya dengan menyitir tag-line PMI: “Setetes ilmu, nyawa pendidikan buat guru”. Maksudnya apa yang kami lakukan adalah sesuatu yang mungkin kecil, namun sangat berarti bagi mereka yang mencoba meningkatkan kualitas, dedikasi dan kecintaan pada profesi pendidikan dasar yang sangat penting ini. Ia menambahkan ini adalah suatu gerakan yang menurut Chairil Anwar: “Aku suka pd mereka yg berani hidup”.

Tidak lupa dorongan dari punggawa lain seperti @dausgonia, “Semangat untuk team @pojokpendidikan yang kembali ke cileunyi untuk pelatihan ke Guru-guru SD :)” dan komentar @chairaniuni, “Tugas negara mencerdaskan kehidupan bangsa.” 

Acara ini sukses berkat keterlibatan dan dorongan dari semua punggawa Pojok Pendidikan. Bahkan ucapan khidmat disampaikan salah satu Pupuhu @tsauri28, “Terima kasih untuk Pa @djadjas,  @Aji_didot, @asyadeeq dan @KresnaRebels yang sudah rela pulang hujan-hujanan dari acara ini. Tetap semangat!” 🙂

Terakhir perlu direnungkan apa yang disampaikan @Aji_didot pada gerakan @pengajarmuda: “Secara konstitusional pendidikan adalah tugas negara. Secara moral, mendidik adalh tugas setiap orang terdidik”

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=QcnzHlcfvPU?rel=0&w=640&h=450]

Ketika Tangis Pendidik Menjadi Bermakna

Hari ini kami dari Komunitas “Pojok Pendidikan”   mendapatkan amanah untuk memberikan pelatihan bagi guru2 SD Kecamatan Cileunyi. Tema kegiatannya adalah “Pendidikan Kreatif Memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)”.  Adapun agendanya adalah:

08.00-09.00 pembukaan

09.00-10.30 Filosofi Pendidikan Kreatif (Djadja Sardjana)

10.30-11.30 Pemanfaatan TIK dalam pembalajaran dan framework Pojok Pendidikan (Asep Tsauri)

11.30-12.00 Persiapan Teknis (Tim)

12.00-13.00 Istirahat

13.00-14.00 Dasar2 Windows, Manajemen File, dll (Tim)

14.00-14.30 Demo Jamboreee Boardgame Pojok Pendidikan tentang pramuka  (Asep Tsauri)

Alhamdulllah ya, walapun harus sabar dan tawakal, membimbing bapak & ibu guru SD KKG di Cileunyi itu sesuatu banget karena mereka dengan segala keterbatasan bersemangat mengikuti acara ini sampai selesai. Yang berkesan adalah Sesi “Filosofi Pendidikan” jadi klimaks ketika salah seorang Guru (Ibu Ai) menangis ingat almarhumah gurunya tatkala diminta menulis “Pernyataan Filosofis Pendidikan Pribadi“.

Beliau terkesan atas jasa dan hikmah yang telah diberikan oleh almarhumah gurunya (Ibu Enung) yang memberi semangat agar ia bisa mencapai cita-citanya menjadi seorang guru SD. Dengan sesenggukan Ibu Ai menceritakan betapa Ibu Enung telah menjadi idola serta menanamkan arti dan makna seorang guru pada anak didiknya.

Bagi saya pribadi, tangis ibu guru di atas pd gurunya pada kesempatan pelatihan bagi guru2 SD di KKG Cileunyi ini meneguhkan niat terus menjadi pendidik. “Deep in my heart”…. Itulah hakikat, jalan & makna kehidupan yang ingin saya raih ke depan……

Saya juga menghidmati gerakan @pojokpendidikan bahwa “Benih-benih amal yg ditanam telah mulai tumbuh menjadi bunga-bunga harapan bagi #GuruKreatif yg didambakan” ……. Amin Ya Robbal Alamin …..

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=QcnzHlcfvPU?rel=0&w=640&h=480]

Artikel Terkait:

Pojok Pendidikan Publishing: Buku "Bunga Rampai Pendidikan Kreatif Edisi-1" Sudah Terbit

 

Saya selalu mengatakan bahwa: “Pendidikan adalah Benteng Terakhir Peradaban Manusia”. Mengapa, betapa besar peranan pendididikan dlam hajat hidup manuasia yang dikatakan oleh Aristoteles: “Pendidikan adalah bekal paling baik dalam menghadapi hari tua”.


Pendidikan dalam kaitannya dengan mobilitas sosial harus mampu untuk mengubah arus utama (mainstream) peserta didik akan realitas sosialnya. Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Pendidikan dapat menjadi penyandar bagi mobilitas. Seiring dengan perkembangan zaman kemudian kita lebih mempercayai kemampuan individu atau keterampilan yang bersifat praktis daripada harus menghormati kepemilikan ijasah yang kadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Inilah yang ahirnya memberikan peluang bagi tumbuhnya pendidikan  yang lebih bisa memberikan keterampilan praktis bagi kebutuhan dunia yang tentunya memiliki pengaruh bagi seseorang.

Pendidikan yang tepat untuk mengubah paradigma ini adalah pendidikan kritis yang pernah digulirkan oleh Paulo Freire. Sebab, pendidikan kritis mengajarkan kita selalu memperhatikan kepada kelas-kelas yang terdapat di dalam masyakarakat dan berupaya memberi kesempatan yang sama bagi kelas-kelas sosial tersebut untuk memperoleh pendidikan. Disini fungsi pendidikan bukan lagi hanya sekedar usaha sadar yang berkelanjutan. Akan tetapi sudah merupakan sebuah alat untuk melakukan perubahan dalam masyarakat. Pendidikan harus bisa memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang realitas sosial, analisa sosial dan cara melakukan mobilitas sosial.  

Tulisan dalam Buku “Bunga Rampai Pendidikan Kreatif” ini dimaksudkan sebagai tambahan menu dalam dunia pendidikan yang mudah-mudahan memberikan wawasan baru. Walaupun bukan merupakan buku referensi dan ditulis dengan gaya populer, diharapkan menambah khasanah bagi semua pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia.

Semoga.

 Pendidik Pembebas

Djadja Achmad Sardjana

Buku bisa dipesan di : http://www.nulisbuku.com/books/view/bunga-rampai-pendidikan-kreatif-edisi-1

 

[slideshare id=6413231&doc=presentasigurukreatifpojokpendidikan-30dec10-101231023256-phpapp01]

 

Related articles, courtesy of Zemanta: