Peran Dosen Dalam Pengembangan Otak dan Watak Mahasiswa

Baru saja saya berbicara dengan salah seorang mahasiswa. Ya, dalam beberapa kali kesempatan saya berusahan untuk “berkolaborasi” Dalam Pengembangan Otak dan Watak Mahasiswa. Saya cuplik obrolan online sebagai berikut:

Mahasiswa:

Oya, tadi malam saya teringat pada salah satu pembicaraan saya dan Bapak pada saat setelah perkuliahan dahulu. Bapak pernah berkata pada saya dan teman2, bahwa “usaha keras disertai doa, tentunya menghasilkan hal yang baik”. Terima kasih atas kata2 yang luar biasa tersebut, kata2 tersebut membuat saya untuk selalu berusaha utk mnjadi lebih baik, serta senantiasa bersyukur atas apa yg saya peroleh. terima kasih Banyak Pak Djadja. Kata yang singkat namun banyak manfaat! luar biasa!
terima kasih Banyak Pak Djadja. Kata yang singkat namun banyak manfaat! luar biasa!
Saya:
He..he…he..Tolong ditularkan pada teman2…Sering jalan yang berliku bukan merupakan jalan yang tercepat namun kan terisa indah kalau kita menimatinya….Berilah manfaat pada banyak orang….Seringkali kita lupa hanya memperhatikan otak (baca: IQ/IP) namun lupa pada watak (EQ/SQ) yang banyak dicari orang saat ini
Mahasiswa:
baik Pak
terima kasih banyak, sungguh, kata2 itu juga menjadi motivasi saya dalam berbagai macam kegiatan (salah satunya pengerjaan TA) apa yang Bapak katakan tersebut persis seperti apa yang Ayah dan Ibu saya katakan
Saya:
 OK sukses selalu ya
Mahasiswa:
Terima kasih Pak, sukses juga untuk Pak Djadja dan Keluarga.
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=qTG6V2wIrl0]

Peran Teknologi Telematika dalam Kepemimpinan Bangsa

Pada saat ini bangsa kita sedang dalam tahapan rekonstruksi setelah mengalami krisis ekonomi, sosial, dan politik yang terburuk pada tiga tahun terakhir ini. Kepercayaan masyarakat kepada lembaga-lembaga formal amat tipis, bahkan kepercayaan antar kelompok-kelompok dalam masyarakatpun terkikis. Sedangkan gejala disintegrasi bangsa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita. Upaya rekonstruksi diharapkan dapat membawa bangsa kita menjadi suatu masyarakat madani yang bersatu dalam negara Republik Indonesia.

Memasuki milenium ketiga, globalisasi yang semula merupakan suatu kecenderungan telah menjadi suatu realitas, sedangkan alternatifnya adalah pengucilan dari kancah pergaulan antar bangsa. Globalisasi menuntut adanya berbagai macam standar, pengaturan, kewajiban, dan sekaligus juga memberi hak kepada anggota masyarakat global. Berbagai aturan dikenakan secara global (misalnya, WTO, IMF, UN, dan lain-lain). Tuntutan berkompetisi, dan sekaligus berkolaborasi, memaksa kita untuk terus menerus meningkatkan daya saing bangsa kita, baik dalam pasar lokal, regional, maupun dalam pasar global.


Sementara itu, era reformasi memungkinkan kita untuk menelaah dan memperbaiki dampak negatif dari sentralisasi yang berlebihan di masa lalu. Pola sentralisasi selain mengabaikan inisiatif masyarakat, juga cenderung meniadakan proses pengambilan keputusan yang didasarkan pada kriteria obyektif berdasarkan data dan informasi. Setelah beberapa dasawarsa di bawah pemerintahan tersentralisasi, kebijakan pucuk pimpinan seringkali menjadi satu-satunya acuan yang harus diikuti. Akibatnya, keputusan lebih banyak dilakukan atas dasar kesesuaian dengan kebijakan atasan daripada berdasarkan fakta dan informasi, sehingga informasi yang dikumpulkan dari lapangan menjadi kurang dihargai.

Selain masalah-masalah tersebut di atas, perkembangan teknologi juga memberikan tantangan tersendiri pada berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Salah satu teknologi yang berkembang pesat dan perlu dicermati adalah teknologi informasi. Tanpa penguasaan dan pemahaman akan Teknologi Telematika ini, tantangan globalisasi akan menyebabkan ketergantungan yang tinggi terhadap pihak lain dan hilangnya kesempatan untuk bersaing karena minimnya pemanfaatan teknologi informasi sebagai alat bantu dalam Kepemimpinan Bangsa. Mengingat perkembangan Teknologi Telematika yang demikian pesat, maka upaya pengembangan dan penguasaan Teknologi Telematika yang didasarkan pada kebutuhan sendiri haruslah mendapat perhatian maupun prioritas yang utama untuk dapat menjadi masyarakat yang lebih maju.


 Dengan tantangan yang beragam seperti itu, Pemerintah Republik Indonesia harus terus melakukan upaya-upaya untuk mengatasinya dan mengantisipasi langkah-langkah yang terbaik untuk bangsa Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana Teknologi Telematika (untuk selanjutnya akan disingkat TI atau IT-Information Technology) dapat berperan dalam langkah-langkah yang sedang, dan akan dilakukan dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

 

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/82tR63FQnMw” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Filosofi Pembelajaran Dengan Bermain Peran (Role Playing)

Bermain Peran, turunan dari sosiodrama, adalah metode untuk menjelajahi isu yang terlibat dalam situasi sosial yang kompleks. Ini dapat digunakan untuk pelatihan profesional atau di ruang kelas untuk memahami sastra, sejarah, dan bahkan teknik, kedokteran serta ilmu pengetahuan.
FYI. Saya sudah lakukan untuk Kuliah Kewirausahaan, Ekonomi Teknik, Manajemen Inovasi, Pengantar Lingkungan Industri, IT Audit, Applied Networking-IV, bahkan Statistik 🙂
Psikolog perkembangan terkenal, Jean Piaget, menggambarkan dua mode belajar: “Akomodasi” dan “Asimilasi”. Dalam asimilasi, peserta didik seperti “mengisi” peta mental sesuai dunia mereka. Sementara pada akomodasi, mereka mengubah peta mental, dengan memperluas atau mengubahnya agar sesuai dengan persepsi baru mereka. Kedua proses saling melengkapi dan bersamaan, namun berbagai jenis pembelajaran cenderung hanya menekankan salah satu modus.
Menghafal hafalan cenderung menekankan asimilasi. Sebaliknya, belajar memanjat pohon, berenang, atau naik sepeda menekankan akomodasi. Akomodasi melibatkan cara mendapatkan sebuah “bakat”, dan cenderung menjadi semacam pembelajaran yang hampir tidak mungkin untuk dilupakan. Belajar asimilatif, seperti yang kita semua tahu, adalah sangat mudah dilupakan.
Beberapa jenis hafalan dapat menjadi akomodatif sampai-sampai kata-kata, atmosfir atau gagasan terkait dengan ritme, irama puitis, dan musik sehingga mengapa kelompok kecil tertentu mudah memibacakan atau memainkan naskah atau lagu narasi Shakespeare. Hal ini memungkinkan seseorang jauh lebih mudah memahami dan menguasai daripada, katakanlah menghafal daftar kosakata yang harus dikuasai dan kemudian dilupakan. Ini ada hubungannya dengan penggunaan informasi dan metodologi tertentu seperti Bermain Peran.
Sayangnya, begitu banyak pendidikan berorientasi pada jenis pembelajaran yang dapat lebih mudah diuji, yang sifatnya asimilatif, yaitu tipe belajar penghafalan. Namun yang dunia benar-benar butuhkan adalah orang yang memiliki keahlian, dan keterampilan melampaui pengetahuan fakta belaka. Keterampilan, memerlukan pengujian kinerja berorientasi lebih kompleks yang membutuhkan perhatian lebih dari pendidik, mencakup variabel yang lebih dalam dan halus. Dan kompetensi serta keterampilan mencerminkan jenis pembelajaran akomodatif.
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/mhtdwIHXeU8″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>