#ManajemenPembebas: “Knowledge Management” Di Era Ekonomi Berbasis Pengetahuan

Perusahaan  merupakan  kolaborasi  antara  aset  tangible  dan  intangible dalam mencapai tujuan. Aset tangible    perusahaan dapat berupa berupa “Land, Labour and  Capital”.  Aset  tangible ini  mudah  dikembangkan  dengan meningkatkan kuantitas yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Aset intangible perusahaan  terintegrasi  melalui  labour  yaitu  dalam  proses  regenerasi  melalui sharing knowledge.

Dewasa ini adalah era knowledge based economy, di mana kekuatan inti suatu perusahaan terletak pada human capital. Persaingan antar perusahaan yang semakin  kompetitif  memunculkan  konsep  industri  yang  padat  pengetahuan dengan  menuntut  ketersediaan knowledge  worker  dalam  jumlah  besar  untuk mendukung  kemajuan  suatu  perusahaan. Human  capital  yang  sarat  akan pengetahuan ini memberikan nilai tambah dan meningkatkan produktivitas yang jauh lebih signifikan daripada faktor material seperti lahan atau modal semata.

·         Manfaat Pengetahuan

Francis Bacon pada abad ke – 15 mengungkapkan bahwa “knowledge is a power”. Bill Gates membuktikan kekuatan ilmu pengetahuan tersebut pada abad ke  –  20 melalui kemunculan Microsoft. Lompatan besar dalam knowledge ini mendongkrak kebangkitan teknologi informasi seperti Intel, IBM, Cisco, Lucent, dan Dell. Peter F. Drucker membenarkan pentingnya knowledge yang membawa perubahan besar pada kemajuan dunia modern.

Teori ekonomi modern yang digagas Paul Romer imendukung asumsi mengenai perlunya lembaga dan kebijakan negara memanfaatkan sains, teknologi, dan  inovasi  untuk  mendorong  economic  growth.  Model  Romer  dan  aplikasi empirisnya  menunjukkan  bahwa  inovasi  dan  adopsi  teknologi  pada  dasarnya melekat  di  dalam  pertumbuhan  ekonomi  yang  disebabkan  oleh  kombinasi investasi dalam bidang sains, teknologi, inovasi serta kebijakan yang padu.

Modal intelektual dapat bermanfaat melalui tiga perspektif,  yaitu:  manusia,  struktural,  dan  relasi.  Manfaat  knowledge  dalam  perspektif manusia adalah implicit knowledge yang mencakup skill (kompetensi dan keahlian seseorang dalam suatu bidang khusus) dan attitude(kejujuran, tanggung jawab, visioner,  disiplin,  kooperatif,  ulet  dan  tidak  mudah  menyerah).  Manfaat knowledge   dalam   perspektif   struktural   berupa   explicit   knowledge   yang menunjukkan  proses (sistem  kerja,  manajemen,  korporat,  komputerisasi  dan enterprising  ) serta budaya yang menjunjung tinggi etika. Manfaat knowledge management  dalam  perspektif  relasi  adalah  meningkatkan  kerjasama  antar jaringan, reputasi (pengakuan), dan customer capital (mengkomunikasikan ilmu pengetahuan dengan baik melalui lembaga pendidikan, birokrat, dan industri).

·         Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management)

Knowledge  Management  adalah  merupakan  proses  sistematis  untuk menemukan, memilih, mengelola, menyaring dan menyajikan informasi dalam suatu  cara  yang  dapat  meningkatkan  pengetahuan  individu  dalam  suatu lingkungan. Knowledge management memungkinkan penciptaan,pencapaian dan penggunaan segala macam knowledge untuk mencapai tujuan bisnis.

Knowledge Management adalah pengelolaan pengetahuan organisasi untuk menciptakan nilai dan menghasilkan keunggulan bersaing atau kinerja prima. Melalui knowledge management, organisasi mengidentifikasikan pengetahuannya, lantas memanfaatkannya guna meningkatkan kinerja dan menghasilkan berbagai inovasi. Guna memperoleh knowledge management sebesar-besarnya, organisasi juga aktif mengidentifikasi dan mengakuisisi pengetahuan berkualitas yang ada di lingkungan eksternal organisasi.

Knowledge  management  dikelompokkan  ke  dalam  empat  arahan  yaitu pertama, sebagai pemrosesan informasi organisasi  (organizational information processing);  kedua,  inteligen  bisnis (business  intelligence);  ketiga,  kognisi organisasi (organizational cognition), dan keempat, pengembangan perusahaan (organizational development).

Peranan   knowledge   management   dapat   dilihat   dari   penggunaan pengetahuan  sebagai  basis  melahirkan  inovasi  juga  landasan  meningkatkan responsivitas  terhadap  kebutuhan  pelanggan  dan  stakeholders.  Selain  itu, pengetahuan juga menjadi basis yang meningkatkan produktivitas dan kompetensi karyawan  yang  telah  diberi  tanggung  jawab.  Secara  generik,  knowledge management dapat dipahami melalui aktivitasnya, yakni mengembangkan dan mempertahankan dinamika serta daya saing perusahaan yang bertumpu kepada sumber daya pengetahuan (knowledge assets). Jadi, sebenarnya, faktor intrinsik perbedaan kinerja antara perusahaan tadi adalah pengetahuan.

Para  pelaku  knowledge  management  cenderung  menggunakan  metode dalam menganalisis suatu proses, keadaan, dan aktivitas bisnis, di mana dalam proses analisis tersebut terdapat siklus atau aliran pengetahuan (knowledge flow). Pada akhirnya, mengatur suatu pengetahuan adalah suatu kebiasaan atau habit yang perlu ditumbuhkan.

 

Ekonomi Berbasis Pengetahuan dan Kewajiban Baru Manajemen Sumber Daya Manusia


 

Dalam bukunya “HRM in Knowledge Economy”, Mark Lengnick-Hall dan Cynthia Lengnick-Hall mengatakan belakangan ini fungsi manajemen sumber daya manusia (SDM) di banyak organisasi bersifat dangkal. Mereka cenderung hanya berusaha melakukan pekerjaan rutin  secara lebih baik dan efisien daripada mengevaluasi peran dan kontribusi mereka dalam rangka menyongsong era bisnis baru menuju Human Capital Management (HCM).


Seiring dengan globalisasi, information-based, kemajuan teknologi, dan persaingan ketat, manajemen SDM dituntut meningkatkan kemampuan SDM-nya. Manajemen SDM akan menghadapi kewajiban-kewajiban baru di era bisnis masa kini, yaitu:

o   Membangun kapabilitas strategis

o   Memperluas batas

o   Mengelola peran baru

 

  • Membangun Kapabilitas Strategis

Organisasi pada era masa kini perlu membangun kapabilitas strategis, yaitu kapasitas untuk membuat value berdasarkan aset-aset intangible. Yang dimaksud dengan aset intangible adalah aset yang tidak terlihat, sulit dihitung, tidak ada dalam akunting, dan harus dikembangkan dari waktu ke waktu. Misalnya: pengetahuan teknologi, kesetiaan customer, proses bisnis dan lain-lain. Intangible aset inilah yang akan menentukan apakah perusahaan akan berhasil atau gagal.

Beberapa karakteristik perusahaan yang sudah mempunyai kapabilitas strategis adalah: kompetensi bisnis yang tinggi, kemampuan untuk menganalisis kondisi pasar, kemampuan mentransfer skill secara cepat dan akurat di perusahaan, dan lain-lain. Intinya, kapabilitas strategis adalah kesiapan pada saat ini dan kemampuan beradaptasi pada masa depan.

Kapabilitas strategis diperoleh melalui proses penciptaan, pertukaran, dan mengumpulkan pengetahuan yang membangun kapabilitas individu dan organisasi untuk memberi hasil yang terbaik bagi pelanggan. Kapabilitas strategis terdiri dari tiga komponen yang terkait dengan SDM, yaitu: human capital (skill dan kompetensi individu/organisasi), structural capital (arsitektur organisasi dan proses manajerial), dan relationship capital (hubungan interpersonal di organisasi). Manajemen SDM harus berkontribusi dengan menciptakan dan memelihara ketiga komponen kapabilitas strategis ini melalui program, praktek, dan kebijakan yang mendukung.


  • Memperluas Batas

Orang sering berpikir bahwa tugas manajemen SDM adalah merekrut, mempromosikan, melatih, memecat dan seterusnya serta fungsi manajemen SDM adalah hanya merupakan organisasi tunggal. Jadi menurut pandangan tersebut, manajemen SDM adalah fungsi internal perusahaan. Jarang orang berpikir bahwa manajemen SDM (termasuk program, praktek, dan kebijakannya) bisa diterapkan ke supplier atau distributor, bahkan ke pelanggan. Hal ini akan menjadi keharusan dalam perkembangan era ekonomi pengetahuan (knowledge economy). Dengan memperluas batas dari perusahaan ke supplier, distibutor, dan pelanggan, manajemen SDM bisa mempunyai pengaruh yang lebih dan signifikan di organisasi. Pada dasarnya, dengan memperluas batas, manajemen SDM menggunakan kemampuan mereka untuk membantu organisasi memberi pengaruh ke pelanggan, supplier, dan seluruh pegawai yang menjalankan aktivitas organisasi.


  • Mengelola Peran Baru

Berdasarkan pandangan lama, peran manajemen SDM adalah menarik dan menyeleksi calon pegawai, mengembangkan manajemen performansi dan sistem kompensasi untuk menyelaraskan tingkah laku pegawai dengan tujuan organisasi, dan mengembangkan dan me-retensi pegawai sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Peran manajemen SDM seperti itu dalam era ekonomi pengetahuan tidaklah cukup. Bukan berarti manajemen SDM tidak akan melakukan fungsi-fungsi tersebut, peran ini tetap akan dilakukan. Bagaimanapun, untuk mengelola SDM di masa depan, manajemen SDM perlu mengadopsi peran baru untuk menghadapi tantangan.

Tetap bertahan di fungsional birokrasi semata akan menyebabkan fungsi manajemen SDM menjadi kurang efektif dalam organisasi. Kegagalan untuk berubah sesuai dengan tuntutan ekonomi akan menjadikan manajemen SDM kurang penting, di mana tantangan-tantangan baru seperti manajemen pengetahuan (knowledge management) dan pengembangan SDM akan diperankan di tempat lain dalam organisasi. Tetapi hal ini tidak perlu terjadi. Pada kenyataannya, SDM adalah sumber logis dari tantangan-tantangan baru ini.  

Bagaimanapun, untuk menjadi bagian dari solusi dan bukan menjadi kendala, manajemen SDM harus keluar dari birokrasi masa lalu. Ini memerlukan pergeseran paradigma bahwa manajemen SDM tidak hanya sekadar menjalankan fungsi dan proses, tetapi lebih kepada peran.

Definisi peran dalam organisasi adalah tanggung jawab, hubungan, dan area kontribusi, serta harapan-harapan. Peran bisa dianalogikan sebagai pernyataan visi organisasi. Dengan mengelola peran, manajemen SDM memberi kontribusi lebih untuk kesuksesan organisasi. Ini berarti paradigma manajemen SDM telah berubah dari fungsi dan proses menjadi hasil dan pencapaian.

 

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/4mWYA3Z-YJ0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Kedalaman Pengetahuan: Sempurnanya Ruang Ilmu atau Harmonisnya Rumah Pengetahuan?

Sering orang mempermasalahkan perlunya seorang akademisi, profesional dan birokrat mendalami ilmu atau kompetensi yang harus dikuasai. Di lain fihak banyak juga yang berfikir bahwa kita harus mengharmonisasi pengetahuan dan kompetensi agar bisa selaras dalam menjalani kehidupan di dunia. Untuk bidang yang sifatnya “soliter” (perseorangan) yang dibutuhkan adalah kemampuan melakukan repetisi, akurasi dan konsentrasi pekerjaan yang dalam. Untuk seorang pemimpin, manajer, konsultan bidang apapun dia harus terbang seperti elang mencari jawaban pertanyaan strategis “what if” sehinga bisa memberikan kepuasan bagi semua pemangku kepentingan.
Hal inipun dipengaruhi oleh teorema Fase Karier dari Andrew Mayo (dapat sibaca artikel/presentasil saya di http://bapinger.web.id/?p=845) sbb:
  1. Discovery Phase: Fase ini dialami Anda yang berusia 20 tahunan. Berlangsung sekitar sepuluh tahun pertama dalam dunia kerja. Di tahap ini, Anda adalah angkatan kerja baru karena kemungkinan besar Anda baru lulus dari bangku perguruan tinggi.
  2. Consolidation Phase: Fase ini biasanya berlangsung pada usia 30-40 tahunan. Ada yang memulai fase ini lebih awal dan ada pula yang terlambat. Demikian pula dengan akhir fase ini, ada yang mengakhirinya lebih awal, dan ada pula yang terlambat.
  3. Maturity Phase: Inilah fase terakhir dari sebuah perjalanan karier. Fase ini banyak diisi oleh mereka yang memasuki usia 50an ke atas.
Menurut Norman L. Webb dari Pusat Penelitian Pendidikan Wisconsin Amerika Serikat pada Jurnal “Tingkat Kedalaman Empat  Wilayah Pengetahuan  28 Maret 2002”: “Menafsirkan dan menegaskan bahwa Tingkat Kedalaman  Pengetahuan untuk tujuan  standar dan item penilaian merupakan persyaratan penting dari keselarasan analisis pembelajaran pengetahuan. Tingkat Kedalaman Empat  Wilayah Pengetahuan digunakan oleh Norman Webb meliputi:
  1. Seni Bahasa (Membaca, Menulis), 
  2. Matematika, 
  3. Ilmu Pengetahuan, dan 
  4. Studi Sosial. 
Sebuah definisi umum untuk masing-masing (menurut Webb) terlihat pada Tabel 1 di bawah, dengan spesifikasi lebih lanjut dan contoh untuk setiap tingkat DOK (Depth of Knowledge). Webb merekomendasikan bahwa untuk skala besar, penilaian  hanya harus menilai Kedlaman Pengetahuan Tingkat 1, 2, dan 3. Kedalaman Pengetahuan di Level 4 dalam ilmu  disediakan untuk penilaian lokal saja.
Deskriptor dari Tingkat DOK untuk Sains (berdasarkan Webb dan Wixson, Maret 2002):

Level 1 mengingat kembali dan Reproduksi:
Membutuhkan penarikan kembali informasi seperti fakta, definisi, istilah, atau prosedur sederhana, serta melakukan proses sains sederhana atau prosedur. Level 1 hanya membutuhkan peserta didik untuk menunjukkan respon hafalan, menggunakan rumus yang sudah dikenal, melakukan prosedur yang ditetapkan (seperti resep), atau melakukan serangkaian langkah yang jelas. Sebuah prosedur “sederhana”  didefinisikan dengan baik dan biasanya melibatkan hanya satu langkah. Kata kerja seperti “mengidentifikasi,” “ingat,” “mengenali,” “menggunakan”, “menghitung”, dan “ukuran” umumnya merupakan kerja kognitif pada tingkat recall dan reproduksi. Sederhana kata masalah yang dapat langsung diterjemahkan ke dalam dan diselesaikan dengan rumus dianggap Level 1. Kata kerja seperti “menjelaskan” dan “Menjelaskan” dapat diklasifikasikan pada tingkat DOK berbeda, tergantung pada kerumitan apa yang akan terjadi dijelaskan dan dijelaskan. Seorang siswa menjawab Tingkat 1 item baik tahu jawabannya atau tidak: yaitu, jawabannya tidak perlu harus “tahu” atau “dipecahkan.” Dengan kata lain, jika pengetahuan yang diperlukan untuk menjawab item secara otomatis menyediakan jawaban untuk item, maka item tersebut di Level 1. Jika pengetahuan yang diperlukan untuk menjawab soal tidak secara otomatis memberikan jawabannya, item tersebut paling tidak di Level 2.
Level 2 Keterampilan dan Konsep:
Mencakup keterlibatan beberapa proses mental untuk mengingat atau mereproduksi tanggapan. Isi atau proses Pengetahuan yang terlibat lebih kompleks daripada di tingkat 1. Hal ini mengharuskan mahasiswa untuk membuat beberapa keputusan tentang bagaimana untuk mendekati pertanyaan atau masalah. Kata kunci yang umumnya membedakan Level 2 termasuk “mengklasifikasi”, “mengatur,” “memperkirakan,” “melakukan pengamatan,” “Mengumpulkan dan menampilkan data,” dan “membandingkan data.” Tindakan ini menyiratkan lebih dari satu langkah. Misalnya, untuk membandingkan data membutuhkan pertama mengidentifikasi karakteristik objek atau fenomena dan kemudian mengelompokan atau memilah objek. Tingkat 2 meliputi kegiatan melakukan pengamatan dan mengumpulkan data; mengklasifikasikan, pengorganisasian, dan membandingkan data, dan mengatur dan menampilkan data dalam tabel, grafik, dan grafik. Beberapa kata kerja, seperti “menjelaskan”, “menjelaskan,” atau “menafsirkan,” dapat diklasifikasikan pada berbagai tingkat DOK, tergantung pada kompleksitas dari tindakan. Misalnya, menafsirkan informasi dari grafik sederhana, membutuhkan informasi dari membaca grafik, adalah Level 2. Item yang memerlukan interpretasi dari grafik yang kompleks, seperti membuat keputusan mengenai fitur grafik yang perlu dipertimbangkan dan bagaimana informasi dari grafik dapat dikumpulkan, adalah di Level 3.
Level 3 Berpikir Strategis:
 Memerlukan pengetahuan yang mendalam menggunakan penalaran, perencanaan, menggunakan bukti, dan  tingkat berpikir lebih tinggi dari dua tingkat sebelumnya. Tuntutan kognitif di Level 3 sangat kompleks dan abstrak. Kompleksitas tidak mengakibatkan hanya dari fakta bahwa mungkin ada beberapa jawaban,  tapi juga membutuhkan penalaran lebih runut. Dalam kebanyakan kasus, peserta didik diminta menjelaskan pemikiran mereka ada di Level 3; jika diminta penjelasan sangat sederhana satu atau dua kata harus dikategorikan di Level 2. Sebuah kegiatan yang memiliki lebih dari satu jawaban yang mungkin dan menuntut siswa untuk membenarkan respon mereka berikan akan menjadi Level 3. Eksperimental desain dalam Tingkat 3 biasanya melibatkan lebih dari satu variabel dependen. Tingkat 3 yang lain meliputi kegiatan mendeskripsikan kesimpulan dari pengamatan; mengutip bukti dan mengembangkan argumen logis untuk konsep berfikir; menjelaskan fenomena dalam konsep, dan menggunakan konsep-konsep untuk memecahkan masalah acak atau tidak rutin.
Level 4 Berpikir Secara Luas:
Memerlukan daya kognitif tinggi dan sangat kompleks. Peserta didik diminta untuk membuat beberapa koneksi ide yang berhubungan dalam satu area atau antar area pengetahuan-dan harus memilih atau merancang satu pendekatan di antara banyak alternatif tentang bagaimana situasi dapat dipecahkan. Banyak instrumen penilaian tidak dapat mencakup kegiatan penilaian yang dapat diklasifikasikan sebagai Tingkat 4. Namun, standar, tujuan, dan tujuan dapat dinyatakan sedemikian rupa untuk mengharapkan siswa untuk melakukan berpikir secara luas. “Mengembangkan generalisasi dari hasil yang diperoleh dan strategi yang digunakan dan menerapkannya terhadap situasi masalah” adalah contoh tujuan pembelajaran yang merupakan Level 4. Banyak, tapi tidak semua, kinerja penilaian dan kegiatan penilaian terbuka yang membutuhkan pemikiran yang signifikan akan berada pada Tingkat 4. Level 4 membutuhkan penalaran desain,  eksperimental dan perencanaan yang kompleks, dan mungkin akan memerlukan jangka waktu, baik untuk meneliti ilmu pengetahuan yang diperlukan oleh suatu tujuan, atau untuk melaksanakan beberapa langkah dari item penilaian. Namun, periode perpanjangan waktu bukan merupakan faktor yang membedakan jika pekerjaan yang dibutuhkan adalah hanya berulang dan tidak memerlukan pemahaman konseptual yang signifikan dan berpikir tingkat tinggi. Sebagai contoh, jika seorang peserta didik harus mengambil suhu air dari sungai setiap hari selama satu bulan dan kemudian membuat grafik, ini akan diklasifikasikan sebagai kegiatan Tingkat 2. Namun, jika mahasiswa melakukan sebuah penelitian sungai yang membutuhkan keputusan dengan mempertimbangkan sejumlah variabel, ini akan menjadi Tingkat 4.

Sumber: DOK_Science _2_.doc 

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/u6XAPnuFjJc” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Manajemen Pengetahuan dan Daya Saing UKM

Globalisasi adalah sebuah era yang tidak dapat dihindarkan. Saat ini, semua bangsa sedang bersaing untuk menjadi yang terdepan dalam era persaingan. Berbicara tentang persaingan antara bangsa, tentu saja setiap bangsa dituntut untuk memiliki daya saing yang tinggi. Bangsa yang memiliki daya saing tinggi ditandai dengan kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang andal, penguasaan pengetahuan yang tinggi, dan penguasaan perekonomian global.

Berdasarkan Global Competitiveness Report (2006) yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF), Indonesia menempati peringkat ke-50. Kita bandingkan dengan beberapa negara tetangga, antara lain Singapura (5), Malaysia (26) dan Thailand (35).

Berdasarkan Human Development Report (2006) yang dikeluarkan UNDP, posisi Indonesia dalam hal kualitas SDM (human development index) adalah peringkat ke-108 dari 177 negara. Bandingkan dengan beberapa negara tetangga, yaitu Singapura (25), Brunei Darusallam (34), Malaysia (61), Thailand (74), Filipina (84), Vietnam (109), Kamboja (129), Myanmar (130), Laos (133), dan Timor Leste (142). Data tersebut menunjukkan bahwa daya saing Indonesia belum sesuai dengan harapan. Kemerdekaan yang sudah berlangsung lebih dari 61 tahun belum mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyat Indonesia. Ini adalah hasil dari sistem yang buruk.

Usaha Kecil Menengah (UKM) adalah salah satu elemen bangsa Indonesia. Jumlah tenaga kerja yang termasuk tenaga kerja kerah biru (informal) sekitar 70,2 juta jiwa atau 74 persen (BPS, 2005). Sisanya adalah tenaga kerja kerah putih (formal), yaitu sekitar 24,7 juta jiwa atau 26 persen. Sebagian besar tenaga kerja berada di sektor pertanian (44 persen), diikuti perdagangan, perumahan dan perhotelan (20 persen), industri pengolahan (12 persen) dan jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan (11 persen).

Besarnya tenaga kerja pada sektor UKM tidak diikuti dengan produktivitas yang tinggi. Pada tahun 2003, jumlah produk domestik bruto (PDB) yang dihasilkan sektor industri kecil dan menengah hanya 199 triliun rupiah dengan jumlah unit usaha sebanyak 3,02 juta dan jumlah tenaga kerja sebanyak 8,09 juta jiwa. Bandingkan dengan industri besar yang menghasilkan PDB sebesar 312 triliun rupiah dengan jumlah unit usaha hanya 7.593 buah dan tenaga kerja sebesar 4,39 juta jiwa.

Manajemen Pengetahuan untuk UKM.

Perbandingan tersebut menunjukkan ketimpangan yang sangat besar antara sektor UKM (dalam hal ini dapat diwakili dengan industri kecil menengah) dan usaha besar. Rendahnya daya saing sektor UKM tentu saja berpengaruh terhadap daya saing bangsa Indonesia. Hal ini tidak lain karena sektor UKM merupakan penyerap terbesar tenaga kerja Indonesia.

Secara umum, permasalahan yang sering terjadi pada UKM adalah permodalan, pemasaran, kurangnya pengetahuan dan SDM yang kurang berkualitas. Dalam konteks peningkatan daya saing, penguasaan pengetahuan adalah faktor penting untuk mendongkrak daya saing. Di sinilah kelemahan terbesar UKM. Rendahnya penguasaan pengetahuan pada UKM dipengaruhi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah (1) kurangnya kesadaran dan kemauan untuk menerapkan pengetahuan yang tepat guna, (2) keterbatasan modal untuk meningkatkan penguasaan teknologi, (3) kurangnya kemampuan untuk memanfaatkan dunia usaha dan (4) kurangnya akses terhadap sumber teknologi dan pengetahuan.

Faktor eksternal yang mempengaruhi adalah (1) hasil penelitian dan pengembangan yang belum tepat untuk pengembangan UKM, (2) proses alih teknologi pada UKM belum maksimal, (3) keterbatasan publikasi hasil penelitian dan pengembangan dan (4) skim pembiayaan yang masih terbatas dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Konsep manajemen pengetahuan (knowledge management) adalah sebuah konsep baru di dunia bisnis yang telah dterapkan berbagai perusahaan besar di dunia. Pada prinsipnya, konsep knowledge management bertujuan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan dengan memperbaiki komunikasi antara seluruh bagian perusahaan dan meningkatkan penguasaan pengetahuan dengan melakukan transfer pengetahuan (knowledge sharing).

Pengetahuan terbagi menjadi dua jenis, yaitu tacit knowledge dan explicit knowledge. Tacit knowledge adalah pengetahuan yang tersimpan dalam otak manusia, misalnya pemikiran, hapalan dan lain-lain. Explicit knowledge adalah pengetahuan yang berada di luar kepala, misalnya buku, jurnal, dokumen dan lain-lain. Konsep knowledge management berusaha untuk memadukan dan mengkombinasikan pengetahun tersebut untuk meningkatkan daya saing.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=9vm77Ge2Kxs&w=600&h=400]

Forum Knowledge Management Society Indonesia (KMSI): Mendapatkan Keunggulan dengan Pengetahuan

“Aset paling berharga yang dimiliki oleh sebuah perusahaan adalah pengetahuan. Kemampuan untuk menciptakan dan berbagi pengetahuan akan menjadi factor #1 penentu kesuksesan di abad mendatang.” – Manajer sebuah perusahaan otomotif di AS

Hal itulah yang saya  dapat saat mengikuti  Acara Forum Knowledge Management Society Indonesia (KMSI) sbb:

Hari/Tanggal    : Kamis, 16 Februari 2012

Waktu                   : Pkl 09.00 – 15.15 WIB
Tempat                 : PT Telkom, 
Jl. Japati No. 1 Bandung, Ruang Infocom GKP TELKOM Lt. 8

Agenda Acara

Waktu 

Agenda 

PIC 

09.00 – 09.15

Registrasi

Panitia

09.15 – 09.45

Sambutan dari Direktur HCGA TELKOM

Bapak Faisal Syam *

09.45 – 10.00

Sambutan dari KMSI

Prof. Jann Hidajat (Presiden of KMSI)

10..00 – 10.30

Break

Acoustic Play

10.30 – 11.15

Implementasi Knowledge Management di Telkom

VP BPE PT. Telkom

11.45 – 12.00

KAMPIUM sebagai Knowledge Repository

AVP KM dan Tim PT. Telkom

12.00 – 13.00

ISOMA

13.00 – 15.00

Sharing Knowledge Map

1.     The Ecosistem of Knowledge Assesment for Knowledge Audit and Mapping

2.     Metodologi pengembangan Knowledge-Map

1.     M. Santo (founder Mobeeknowledge)

2.     Moh. Haitan Rachman (VP KMSI program)

15.00 – 15.15

Penutup

Prof. Jann Hidajat (Presiden of KMSI)

Banyak perusahaan yang punya kepedulian besar terhadap “Knowledge Management” (Manajemen Pengetahuan) untuk Mendapatkan Keunggulan dengan Pengetahuan. Diantaranya adalah Telkom, Pertamina, PLN, Pos Indonesia dan masih banyak BUMN dan perusahaan di Indonesia yang memahami, melaksanakan dang mengevaluasi “Knowledge Management” di Perusahaannya.

Mereka menyadari pernyataan Peter Drucker pada tahun 1995 bahwa “pengetahuan telah menjadi sumber daya ekonomi utama dan sumber paling dominan untuk unggul dalam persaingan telah menunjukkan pentingnya memperhatikan pengetahuan dengan serius.” Dalam buku “Mendapatkan Keunggulan dengan Pengetahuan” karangan Rudy Ruggles dari “The Ernst & Young Center for Business Innovation”, serta Dan Holtshouse dari “Xerox Corporation” memperlihatkan arti dan kebijaksanaan sebenarnya dari memperoleh keunggulan kompetitif dengan pengetahuan.  Buku ini juga memaparkan beberapa pandangan tentang sejarah pengelolaan pengetahuan dan merefleksikan sejarah itu melalui kacamata keunggulan dengan pengetahuan.

Sejarah Singkat Pengelolaan (Manajemen) Pengetahuan

Telah ada beberapa karya tentang pengelolaan pengetahuan, termasuk The Knowledge-Creating Company (Perusahaan Pencipta Pengetahuan) karya Ikujiro Nonaka dan Hirota Takeuchi, tulisan-tulisan Tom Stewart dalam majalah Fortune tentang kekuatan otak dan modal intelektual dan bukunya yang berjudul Intellectual Capital (Modal Intelektual), selain itu ada Fifth Discipline (Ilmu/Disiplin Kelima) karya Peter Senge, yang mengangkat istilah “learning organization” menjadi pembicaraan umum di bidang bisnis.

Pengelolaan pengetahuan, sebagian berakar dari adanya sistem kecerdasan dan keahlian buatan.  Di tahun 1960an dan 1970an, orang mengira bahwa computer akan menyimpan pengetahua untuk kita, tetapi ternyata pengetahuan masih tersimpan dalam otak manusia.

Di akhir tahun 1980an, terjadi pengurangan jumlah pekerja sehingga perusahaan-perusahaan harus memikirkan cara baru memindahkan pengetahuan.  Pemberhentian karyawan tingkat menengah mengakibatkan hilangnya sumber pengetahuan (pengalaman yang dimiliki karyawan).  

Bersamaan dengan itu, rekayasa ulang proses bisnis berusaha menangkap pengetahuan yang berhubungan dengan proses, tetapi ada kelemahannya yaitu hanya meperhatikan pengetahuan yang eksplisit.  Usaha-usaha tersebut, dan ditambah dengan Total Quality Control dan ISO, mendorong berbagai organisasi untuk mengungkapkan dengan jelas apa yang me
reka ketahui dan lakukan.

Pengaruh-pengaruh lain berasal dari Leif Edvinsson yang menulis tentang modal intelektual, dan Margaret Wheatley yang menulis tentang kepemimpinan dan sains baru. Selain itu, munculnya internet menjadi kultur populer, dan dibantu oleh berbagai browser, memungkinkan semua orang di dalam dan diluar organisasi untuk mengakses data dan informasi dalam jumlah besar.

Sekarang, perusahaan-perusaan dengan masalah yang lebih besar, yang melibatkan lebih banyak orang.  Sayangnya, jumlah pekerja ahli tidak banyak. Selain itu perusahaan-perusahaan juga memiliki masalah dalam mengambil pengetahuan yang dimiliki oleh karyawan senior dan berpengalaman sebelum mereka pensiun.

Model bisnis secara keseluruhan telah berubah. Sekitar tahun 1980an, orang-orang mulai dimasukkan ke dalam kelompok-kelomppok kerja, dan kelompok bisa menentukan cara melakukan pekerjaan mereka sendiri.  Agar bisa melakukan hal ini, mereka memerlukan informasi yang lengkap, dan mereka membutuhkannya dengan cepat.  Terdapat sebuah siklus yang menarik, kita dihadapkan dengan berbagai ekspektasi kerja, kemudian teknologi dikembangkan untuk mendukung berbagai gaya kerja, yang kemudian memungkinkan bertambahnya ekspektasi kerja.  Saat ini, teknologi membukakan berbagai pintu bagi semua orang untuk mendapatkan pengetahuan dan menerapkannya.  Pengetahuan diakui sebagai alat yang bisa digunakan oleh semua orang.

Perkembangan Saat Ini

Dalam beberapa tahu terakhir, terjadi perubahan besar dalam lingkungan bisnis umum, yang kemudian meningkatkan kebutuhan akan pengelolaan pengetahuan yang lebih aktif daripada sebelumnya. Sekarang kita akan membahas lingkungan di mana pengelolaan pengetahuan diterapkan.

Buku karya Chris Meyer dan Stan Davis berjudul “BLUR” menyiratkan bahwa: “kerja pikiran mulai mengungguli kerja otot dalam kaitannya dengan nilai dalam ekonomi global”.  George Gilder dalam buku “Microcosm” menyatakan:  “Kejadian utama pada abad keduapuluh adalah jatuhnya nilai materi.  Dalam hal teknologi, ekonomi, dan politik, nilai dan signifikansi kekayaan dalam bentuk fisik akan terus berkurang.  Kekuatan pikiran akan muncul di mana-mana dan mengungguli kekuatan fisik.”  Pengetahuan diterapkan untuk menciptakan nilai dengan lebih efektif.  Selain itu, koneksi elektronik memungkinkan kita mempertemukan orang-orang yang jaraknya jauh untuk mencipta dan berbagi ide, yang merupakan hal penting bagi industri dan perusahaan.

Jadi, pengetahuan adalah produk dari lingkungan.  Pengetahuan adalah respon organisasional terhadap perubahan.  Dulu, sumberdaya yang patut dikelola dengan efektif adalah lahan, pekerja, dan modal uang, sekarang aset yang lebih berharga adalah modal pengetahuan.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=TYnDxCaJ-ys?feature=player_embedded&w=600&h=400]

Konferensi ICBEM2012-Manila: Manajemen Pengetahuan Untuk UKM, Metode dan Sistem Apa Yang Tepat?

Konsep Knowledge Management dapat menjadi sebuah solusi untuk meningkatkan penguasaan pengetahuan UKM. Konsep tersebut memiliki ruang lingkup luas, meliputi teknologi informasi, dukungan dari pihak manajemen, budaya, strategi dan tujuan, struktur organisasi, motivasi dan manajemen SDM. Penerapannya dapat dilakukan dengan menganalisis kebutuhan dasar dari UKM, pemetaan konsep dan sasaran, implementasi dan menerima umpan balik.
Strategi implementasi Knowledge Management dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu dari sudut eksternal dan internal. Dari sudut eksternal, peran tersebut dilakukan oleh pemerintah, yaitu dengan melakukan pembinaan berkelanjutan, melakukan studi banding terhadap negara tetangga yang sukses dalam mengembangkan UKM, memfasilitasi dalam pelaksanaan transfer pengetahuan, memberikan fasilitas teknologi informasi dan membantu UKM dalam membangun jaringan.
Pendekatan internal adalah peran yang dilakukan dari UKM sendiri, yaitu membangun jaringan antara UKM dalam bidang sejenis (cluster), membangun budaya saling belajar, aktif dalam membina SDM, memberikan dukungan kepemimpinan dan memanfaatkan teknologi informasi. Pendekatan dari dua sisi secara simultan dan berkesinambungan akan meningkatkan penguasaan pengetahuan dari UKM.
Menurut Nonaka dan Takeuchi, sebagian besar perusahaan Jepang memiliki keunggulan dan daya saing tinggi karena mereka memahami bahwa pengetahuan adalah kunci untuk meningkatkan inovasi. Pengetahuan harus dikelola (managed), direncanakan dan diimplementasikan.
UKM di Tasikmalaya dapat belajar dari penerapan konsep knowledge management di Jepang. Saat ini, penguasaan pengetahuan adalah kunci untuk memenangkan persaingan. Penguasaan pengetahuan dapat diwujudkan dalam bentuk teknologi, metode kerja dan budaya kerja. Meningkatnya daya saing UKM akan berpengaruh terhadap produkvitas dan kontribusi bagi negara. Dengan meningkatnya daya saing UKM, daya saing bangsa Indonesia akan ikut terdongkrak naik.
Arah dari model pembinaan UKM dilihat dari segi kelembagaan kedudukan pembina-pendamping (misalnya melibatkan KADIN Tasikmalaya, Dinas Koperasi PKM, dinas lain dan mungkin LSM) mampu menstimulir, mendorong, memfasilitasi sebuah lembaga pembinaan UKM yang berasal dari UKM untuk kepentingan UKM sendiri. Tentang bentuknya mungkin dapat berupa Komunitas Fisik dan Maya UKM Tasikmalaya atau bentuk yang lainnya, yang dapat disebut Lembaga Manajemen Pengetahuan UKM (LMP-UKM). Untuk menuju pada institution building tersebut dibutuhkan langkah-langkah pendekatan terhadap UKM untuk memahami permasalahan penguasaan pengetahuan untuk usaha, khususnya yang terkait dengan Manajemen Pengetahuan usahanya.
Pembina memberikan motivasi bahwa pemecahan terbaik untuk mengatasi persoalan usaha khususnya bidang Manajemen Pengetahuan sebaiknya unit-unit UKM yang kecil-kecil bersatu bersama-sama mengatasi persoalan tersebut dibawah suatu bentuk organisasi/lembaga yang mereka bentuk sendiri. Lembaga pembina berfungsi memberikan fasilitas dan bantuan di berbagai bidang keahlian yang diperlukan termasuk sistem awal Manajemen Pengetahuan untuk UKM. Pembina berkewajiban memberikan bimbingan, konsultasi, advokasi terhadap UKM anggota baik diminta maupun tidak.
[slideshare id=11361094&doc=knowledgemanagementforsmallandmediumenterprisestowinthecompetitionontheknowledgeeconomyera-v1-0-120131220723-phpapp02&type=d]

Konferensi ICBEM2012-Manila: Manajemen Pengetahuan Untuk UKM, Sesuatu atau Perlu?

Pada “2012 International Conference on Business,Entrepreneurship+Management” (ICBEM2012) San Beda Manila,Philippines saya menjadi pembicara dengan topik “Knowledge Management for Small and Medium Enterprises to Win the Competition on the Knowledge Economy Era”. Berikut cuplikannya:
Berbagai permasalahan sering muncul sehingga menghambat pertumbungan dan perkembangan UKM. Permasalahan tersebut datang baik dari luar maupun dari dalam UKM itu sendiri. Salah satu permasalahan dalam lingkungan internal UKM adalah keterbatasan penguasaan pengetahuan. Disamping itu, keberadaan UKM semakin terancam ketika perusahaan-perusahaan besar melalui produk-produk yang berkualitas dan berdaya saing tinggi dengan harga penawaran yang terjangkau memasuki pasar Indonesia. 
Oleh sebab itu diperlukan solusi yang dapat diimplementasi dengan sederhana untuk menghadapi tantangan ini. Salah satu caranya adalah menciptakan daya saing melalui implementasi Knowledge Management pada UKM. Menurut Kosasih dan Budiani, hal ini seiring dengan pendapat Priambada bahwa Knowledge Management dapat meningkatkan kinerja suatu perusahaan melalui budaya saling berbagi pengetahuan.
Secara umum, permasalahan yang sering terjadi pada UKM adalah permodalan, pemasaran, kurangnya pengetahuan dan SDM yang kurang berkualitas. Dalam konteks peningkatan daya saing, penguasaan pengetahuan adalah faktor penting untuk mendongkrak daya saing. Di sinilah kelemahan terbesar UKM. Rendahnya penguasaan pengetahuan pada UKM dipengaruhi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah:
  1. Kurangnya kesadaran dan kemauan untuk menerapkan pengetahuan yang tepat guna,
  2. Keterbatasan modal untuk meningkatkan penguasaan teknologi,
  3. Kurangnya kemampuan untuk memanfaatkan dunia usaha dan
  4. Terbatasnya akses terhadap sumber teknologi dan pengetahuan.
Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi adalah:
  1. Hasil penelitian dan pengembangan yang belum tepat untuk pengembangan UKM, 
  2. Proses alih teknologi pada UKM belum maksimal, 
  3. Keterbatasan publikasi hasil penelitian dan pengembangan dan 
  4. Skema pembiayaan yang masih terbatas dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk UKM
Konsep manajemen pengetahuan (knowledge management) adalah sebuah konsep baru di dunia bisnis yang telah dterapkan berbagai perusahaan besar di dunia, namun juga sudah diadopsi oleh komunitas UKM seperti yang dikelola oleh Grameen. Pada prinsipnya, konsep knowledge management bertujuan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan dengan memperbaiki komunikasi antara seluruh bagian perusahaan dan meningkatkan penguasaan pengetahuan dengan melakukan transfer pengetahuan (knowledge sharing).
Pengetahuan terbagi menjadi dua jenis, yaitu tacit knowledge dan explicit knowledge. Tacit knowledge adalah pengetahuan yang tersimpan dalam otak manusia, misalnya pemikiran, hapalan dan lain-lain. Explicit knowledge adalah pengetahuan yang berada di luar kepala, misalnya buku, jurnal, dokumen dan lain-lain. Konsep knowledge management berusaha untuk memadukan dan mengkombinasikan pengetahun tersebut untuk meningkatkan daya saing…..
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=N6nMeXwBG0s&w=640&h=480]