Analisis Pemangku Kepentingan (Stakeholders) Dalam Manajemen

‘Stakeholders’ menurut definisnya adalah kelompok atau individu yang dukungannya diperlukan demi kesejahteraan dan kelangsungan hidup organisasi. Clarkson membagi Stakeholders menjadi dua: Stakeholders primer dan Stakeholders sekunder. Stakeholders primer adalah ‘pihak di mana tanpa partisipasinya yang berkelanjutan organisasi tidak dapat bertahan.’ Contohnya adalah pemegang saham, investor, pekerja, pelanggan, dan pemasok. Menurut Clarkson, suatu perusahaan atau organisasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem Stakeholders primer – yang merupakan rangkaian kompleks hubungan antara kelompok-kelompok kepentingan yang mempunyai hak, tujuan, harapan, dan tanggung jawab yang berbeda. 

Stakeholders sekunder didefinisikan sebagai ‘pihak yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perusahaan, tapi mereka tidak terlibat dalam transaksi dengan perusahaan dan tidak begitu penting untuk kelangsungan hidup perusahaan.’ Contohnya adalah media dan berbagai kelompok kepentingan tertentu. Perusahaan tidak bergantung pada kelompok ini untuk kelangsungan hidupnya, tapi mereka bisa mempengaruhi kinerja perusahaan dengan mengganggu kelancaran bisnis perusahaan. 

Clarkson (dalam artikel tahun 1994) juga telah memberikan definisi yang bahkan lebih sempit lagi di mana Stakeholders didefinisikan sebagai suatu kelompok atau individu yang menanggung suatu jenis risiko baik karena mereka telah melakukan investasi (material ataupun manusia) di perusahaan tersebut (‘Stakeholders sukarela’), ataupun karena mereka menghadapi risiko akibat kegiatan perusahaan tersebut (‘Stakeholders non-sukarela’). Karena itu, Stakeholders adalah pihak yang akan dipengaruhi secara langsung oleh keputusan dan strategi perusahaan. 

Menurut Freeman (1984), perusahaan-perusahaan terkemuka telah menerima kenyataan bahwa mereka bukanlah semata-mata pelayan kepentingan pemilik modal, melainkan juga pemangku kepentingan lain yang lebih luas. Pemangku kepentingan ini didefinisikan sebagai pihak-pihak yang dapat terpengaruh dan/atau mempengaruhi kebijakan serta operasi perusahaan. Clarkson (1995) semakin meyakinkan dunia bisnis bahwa hanya dengan memperhatikan semua pemangku kepentinganlah sebuah perusahaan dapat mencapai kinerja sosial yang tinggi (yaitu perolehan social license to operate). Permasalahannya, siapa saja yang dapat dianggap sebagai pemangku kepentingan yang sah terhadap operasi perusahaan? Jawaban pertanyaan ini pertama-tama dikemukakan oleh Mitchell, Agle dan Wood (1997), yang menyatakan bahwa derajat kesahihan pemangku kepentingan ditentukan oleh aspek kekuatan, legitimasi, dan urgensi. Sejak itu ketiga kriteria itu dipergunakan secara luas, sampai kemudian Driscoll dan Starik (2004) mengusulkan kedekatan (proximity) sebagai kriteria lainnya.

(Dikutip dari berbagai sumber)
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=bIRUaLcvPe8&w=640&h=410]

e-Learning: Bagai Gajah Yang Diraba Orang Buta

Menurut  Vega Bhutani dari Associate Online Marketing, ada sebuah perumpamaan kuno yang terkenal tentang enam orang buta yang tidak tahu seperti apa gajah itu. Mereka mencoba untuk memahami dengan menyentuhnya karena mereka tidak bisa melihatnya. Namun, setiap dari mereka hanya bisa memahami  sebagian kecil dari realitas gajah tersebut. Orang buta yang menyentuh belalai gajah merasa bahwa itu seperti pipa, yang lain merasa dan  berpikir bahwa gajah itu adalah seperti dinding dan sebagainya. Hal yang sama berlaku untuk e-Learning.

The eLearning Elephant!
e-Learning digunakan sangat luas saat ini dalam organisasi akademis, bisnis dan pemerintahan untuk pelatihan dan pembelajaran.  Tapi orang memiliki pemahaman berbeda tentang e-Learning. Bagi sebagian orang, hal itu adalah teknologi pembelajaran atau pelatihan, atau semua hal tentang animasi dan interaksi,  atau juga  ada yang menganggap sebuah situs web. Jadi, menurut Anda, apa definisi sesungguhnya dari e-learning?

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=JMCq4PDnjUU&w=640&h=390]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Kebijakan Diklat PNS (e-Learning Untuk Diklat PNS Bag.1)

sumber gambar http://kompasiana.com

Pendidikan dan Pelatihan atau lebih dikenal dengan istilah Diklat untuk Pegawai Negri Sipil (PNS) diatur dalam UU 43/1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. Selain itu, kebijakan mengenai Diklat PNS juga diatur dalam Keputusan Presiden RI No. 87 Th. 1999 tentang rumpun Jabatan Fungsional PNS, PP 101/2000 tentang Diklat Jabatan PNS dan Pedoman Umum Diklat Jabatan PNS 193/2001.

Diklat menurut jenisnya terdiri dari Diklat Prajabatan dan Diklat Dalam Jabatan. Diklat merupakan bagian integral dari sistem pembinaan PNS dan mempunyai keterkaitan dengan pengembangan karir PNS. Diklat diarahkan untuk mempersiapkan PNS agar memenuhi persyaratan jabatan yang ditentukan dan kebutuhan organisasi termasuk pengadaan kader pimpinan dan staf. Sistem Diklat meliputi proses identifikasi kebutuhan, perencanaan, penyelenggaraan, dan evaluasi Diklat.

Tujuan Diklat

Diklat untuk PNS memiliki tujuan meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatan secara profesional dengan dilandasi kepribadian dan etika PNS sesuai dengan kebutuhan instansi. Dengan diklat diharapkan tercipta aparatur yang mampu berperan sebagai pembaharu dan perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Diklat juga bertujuan untuk memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang beorientasi pada pelayanan, pengayoman dan pemberdayaan masyarakat.Pada akhirnya, peningkatan kualiatas aparatur melalui Diklat PNS bertujuan untuk dapat menciptakan pemerintahan yang baik (good governance).

Fenomena Diklat yang Terjadi

Sistem Diklat yang banyak dilakukan saat ini memiliki beberapa kelemahan. Diklat yang ada baru berfokus pada Diklat Penjenjangan (Kepemimpinan). Diklat Teknis dan Fungsional belum ditangani dengan baik. Selain itu, Training Needs belum dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan pola Diklat yang sistemik dan berbasis kompetensi. Tuntutan saat ini adalah Diklat harus dapat mengisi kompetensi dalam jabatan. Sehingga Diklat yang dikembangkan haruslah berbasis kompetensi.

E-Learning sebagai pendukung proses pembelajaran dapat diterapkan dalam Diklat PNS. E-Learning memiliki keunggulan-keunggulan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas Diklat PNS.

Dimuat juga di http://idelearning.com/2011/08/16/kebijakan-diklat-pns-telaah-diklat-pns-bag-1  

(bersambung ke bagian 2 “E-Learning untuk Diklat PNS”)

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=zgri3qKNzec&w=640&h=410]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Djadja Sardjana Life as Professional

professional (as recite from Wiki) is a member of a vocation founded upon specialized educational training. Examples of professions include: medicinelawengineering and social work. The word professional traditionally means a person who has obtained a degree in a professional field. The term is used more generally to denote a white collar worker, or a person who performs commercially in a field typically reserved for hobbyists or amateurs.

In western nations, such as the United States, the term commonly describes highly educated, mostly salaried workers, who enjoy considerable work autonomy, a comfortable salary, and are commonly engaged in creative and intellectually challenging work.[1][2][3][4] Less technically, it may also refer to a person having impressive competence in a particular activity.[5]

Because of the personal and confidential nature of many professional services and thus the necessity to place a great deal of trust in them, most professionals are held up to strict ethical and moral regulations.

Definition

Main criteria for professional include the following:

  1. Expert and specialized knowledge in field which one is practicing professionally.[6]
  2. Excellent manual/practical and literary skills in relation to profession.[7]
  3. High quality work in (examples): creations, products, services, presentations, consultancy, primary/other research, administrative, marketing or other work endeavors.
  4. A high standard of professional ethics, behavior and work activities while carrying out one’s profession (as an employee, self-employed person, career, enterprise, business, company, or partnership/associate/colleague, etc.). The professional owes a higher duty to a client, often a privilege of confidentiality, as well as a duty not to abandon the client just because he or she may not be able to pay or remunerate the professional. Often the professional is required to put the interest of the client ahead of his own interests.
  5. Reasonable work morale and motivation. Having interest and desire to do a job well as holding positive attitude towards the profession are important elements in attaining a high level of professionalism.
  6. Participating for gain or livelihood in an activity or field of endeavor often engaged in by amateurs b : having a particular profession as a permanent career c : engaged in by persons receiving financial return[6]
  7. Appropriate treatment of relationships with colleagues. Special respect should be demonstrated to special people and interns. An example must be set to perpetuate the attitude of one’s business without doing it harm.
  8. A professional is an expert who is master in a specific field.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=nc7oX71IGZM&w=640&h=390]

You also can see the long version below:

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=dYC6lqapKLI&w=640&h=510]

References

  1. ^ Gilbert, D. (1998). The American class structure: In an age of growing inequality. Belmont, CA: Wadsworth Press.
  2. ^ Beeghley, L. (2004). The structure of social stratification in the United States. Boston: Allyn & Bacon.
  3. ^ Eichar, D. (1989). Occupation and Class Consciousness in America. Westport, CT: Greenwood Press. ISBN 978-0-313-26111-4
  4. ^ Ehrenreich, B. (1989). Fear of falling: The inner life of the middle class. New York: Harper Prennial.
  5. ^ definition of professional from Oxford Dictionaries Online. Askoxford.com. Retrieved on 2011-01-29.
  6. a b Professional – Definition and More from the Free Merriam-Webster Dictionary. Merriam-webster.com (2010-08-13). Retrieved on 2011-01-29.
  7. ^ Professional | Define Professio
    nal at Dictionary.com
    . Dictionary.reference.com. Retrieved on 2011-01-29.

 

Djadja Sardjana Life as Lecturer


“I have come to believe that a great teacher is a great artist and that there are as few as there are any other great artists. Teaching might even be the greatest of the arts since the medium is the human mind and spirit.” ~ John Steinbeck quotes

(American Novelist and Writer, Nobel Prize for Literature for 1962, 1902-1968)

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=E-xf_X0-g8Q&w=640&h=390]

The Long Version can be seen below: 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=3DOv_H2m11g&w=640&h=510]

 

 

Pendidikan: Benteng Terakhir Peradaban Manusia

 

Menurut Wikipedia, Istilah peradaban sering digunakan sebagai persamaan yang lebih luas dari istilah “budaya” yang populer dalam kalangan akademis.  Dimana setiap manusia dapat berpartisipasi dalam sebuah budaya, yang dapat diartikan sebagai “seni, adat istiadat, kebiasaan … kepercayaan, nilai, bahan perilaku dan kebiasaan dalam tradisi yang merupakan sebuah cara hidup masyarakat”. Namun, dalam definisi yang paling banyak digunakan, peradaban adalah istilah deskriptif yang relatif dan kompleks untuk pertanian dan budaya kota. Peradaban dapat dibedakan dari budaya lain oleh kompleksitas dan organisasi sosial dan beragam kegiatan ekonomi dan budaya.

Dalam sebuah pemahaman lama tetapi masih sering dipergunakan adlah istilah “peradaban” dapat digunakan dalam cara sebagai normatif baik dalam konteks sosial di mana rumit dan budaya kota yang dianggap unggul lain “ganas” atau “biadab” budaya, konsep dari “peradaban” digunakan sebagai sinonim untuk “budaya (dan sering moral) Keunggulan dari kelompok tertentu.” Dalam artian yang sama, peradaban dapat berarti “perbaikan pemikiran, tata krama, atau rasa”.  “Peradaban” dapat juga digunakan dalam konteks luas untuk merujuk pada seluruh atau tingkat pencapaian manusia dan penyebarannya (peradaban manusia atau peradaban global). Istilah peradaban sendiri sebenarnya bisa digunakan sebagai sebuah upaya manusia untuk memakmurkan dirinya dan kehidupannya. Maka, dalam sebuah peradaban pasti tidak akan dilepaskan dari tiga faktor yang menjadi tonggak berdirinya sebuah peradaban. Ketiga faktor tersebut adalah sistem pemerintahan, sistem ekonomi, dan IPTEK.

Dari sumber yang sama, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran. Anggota keluarga mempunyai peran pendidikan yang amat mendalam — sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka — walaupun pendidikan anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

Lebih lanjut, Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.

Dari fenomena akhir-akhir ini ternyata pendidikan dirasakan belum memberikan kemanjuran (efficacy) terhadap permasalahan peradaban bangsa Indonesia. Banyak permasalahan besar yang menyangkut nilai-nilai mendasar kemanusiaan yang belum terselesaikan oleh bangsa ini untuk menyambut persaingan antar bangsa yang semakin ketat dan berkelanjutan. Diantaranya kasus korupsi (dengan pemeran utama Gayus) menjadi sorotan yang banyak fihak karena telah “mengkerdilkan” logika sederhana manusia terhadap arti kebenaran dan kemanusiaan. Selain itu, sebagai menu tambahan, ada juga masyarakat di lingkungan pendidikan yang masih mengedepankan penyelesaian “barbarian” dengan membakar atau merusak  sarana pendidikan karena masalah sepele atau bahkan tidak ketahuan ujung pangkalnya. Di fihak lain, adanya sinyalemen bahwa Sertifikasi Pendidik yang memakan biaya tidak sedikit, ternyata belum memberikan pemicu kinerja tenaga pendidik menjadi lebih baik atau memenuhi syarat minimal.

Disadari bahwa setiap praktik pendidikan atau pembelajaran tidak terlepas dari sejumlah masalah dalam mencapai tujuannya. Upaya pemecahan masalah tersebut akan memerlukan landasan teoretis-filosofis mengenai apa hakikat pendidikan dan bagaimana proses pendidikan dilaksanakan. Henderson dalam Sadulloh (2004) mengemukakan bahwa filsafat pendidikan adalah filsafat yang diaplikasikan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan. Peranan filsafat yang mendasari berbagai aspek pendidikan merupakan suatu sumbangan yang berharga dalam pengembangan pendidikan , baik pada tataran teoretis maupun praktis. Filsafat sebagai suatu sistem berpikir dengan cabang-cabangnya (metafisika, epistemologi, dan aksiologi) dapat mendasari pemikiran tentang pendidikan bagi peradaban manusia.

Menurut Brubacher (1959), terdapat tiga prinsip filsafat yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu: (1) persoalan etika atau teori nilai; (2) persoalan epistemologi
atau teori pengetahuan; dan (3) persoalan metafisika atau teoni hakikat realitas. Untuk menentukan tujuan pendidikan, memotivasi belajar, mengukur hasil, pendidikan akan berhubungan dengan tata nilai. Persoalan kuriikulum akan berkaitan dengan epistemologi. Pembahasan tentang hakikat realitas, pandangan tentang hakikat dunia dan hakikat manusia khususnya, diperlukan untuk menentukan tujuan akhir pendidikan.

Jadi……Apakah anda setuju bahwa Pendidikan Adalah Benteng Terakhir Peradaban Manusia (Education is The Last Bastion of Human Civilization ~ Djadja Sardjana)?

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=lhN1I1P9Q3k&w=640&h=510]

 

Perguruan Tinggi Jelajahi Peran Media Baru dalam Pendidikan

Gardner Campbell

Gardner Campbell

Karena teknologi terus berubah dengan cepat, perguruan tinggi dan universitas di Amerika sedang mencoba untuk mencari tahu apa peran perubahan ini agar lebih berarti bagi pendidikan.

“Pendidik perlu cara berpikir dan berpartisipasi dalam lingkungan ‘New Media‘ untuk pembelajaran. Sebuah cara produktif dan memuaskan yang penuh dengan inspirasi,” kata Gardner Campbell, direktur pengembangan profesional dan inisiatif inovatif di Virginia Tech.

Siswa semakin berharap untuk menggunakan perangkat mobile, situs jejaring sosial dan alat-alat lain untuk menemukan informasi dalam kelas. Dan fakultas harus mencari berbagai cara untuk memasukkan alat-alat komputasi yang kuat ini ke dalam metodologi pendidikan.

“Jika kita bersikeras menggunakan teknik tua dan kuno untuk mengajar mereka, kita akan kehilangan mereka,” kata Doug Rowlett, koordinator desain instruksional  di Houston Community College Southwest. Jika ingin efektif, Anda harus beradaptasi, daripada mencoba untuk memaksa siswa ke dalam suasana dan keadaan yang mereka anggap tidak cocok, katanya.

Dalam seminar media baru yang dilakukan Gardner Campbell di banyak Negara bagian; pendidik, fakultas, staf dan mahasiswa pascasarjana memulai percakapan dan diskusi tentang apa yang akan mereka lakukan di kelas dan bagaimana teknologi mengubah pendidikan di perguruan tinggi mereka.

Landasan peluncuran

Ketika masih di Baylor University di Texas, Campbell memulai seminar dengan sekelompok kecil dosen dan staf di musim semi 2010 serta menyusun silabus yang ditulis pada buku “The New Media Reader”.

Satu jam setengah jam setiap Rabu, mahasiswa pascasarjana, staf pengajar dari berbagai disiplin ilmu dan staf, termasuk pustakawan, bertemu untuk membicarakan apa yang mereka baca. Seminar-seminar ini memberikan ruang di mana fakultas, staf dan lulusan siswa dapat berbagi pemikiran dan membantu memfasilitasi diskusi.

“Di jantung setiap anggota fakultas ada yang penasaran dan benar-benar terpesona oleh dunia di sekitar mereka,” kata Campbell. Setelah berbicara tentang seminar di konferensi yang berbeda, ia menggelitik minat perguruan tinggi dan universitas lain. Alan Levine dari Konsorsium New Media membantunya dengan ide agar sejumlah sekolah berpartisipasi dalam seminar. Mereka akan memiliki silabus umum, bekerja melalui fase pembelajaran itu pada saat yang sama, dan menulis blog tentang apa yang mereka pelajari.

Tom Haymes dari Houston Northwest Community College juga membantunya memikirkan bagaimana jaringan yang akan terlibat. Selama tahun akademik 2010-2011, sekitar 12 orang telah  menciptakan kelompok-kelompok lokal yang berkecimpung.
Melalui seminar ini, orang menyadari bahwa mereka bergulat dengan orang lain yang punya perjuangan isu-isu inti yang sama, Campbell mengatakan. Mereka bisa mengambil peluang kepemimpinan dengan menjadi fasilitator seminar. Dan kontribusi individual mereka dapat diperluas skalanya sampai ke jaringan nasional.

Perjalanan
Houston Northwest Community College
Di Houston Community College Northwest, diskusi kelompok dirancang untuk mendapatkan pemikiran dari para pendidik dan fakultas, kata Tom Haymes, direktur teknologi dan komputasi instruksional serta seorang profesor pemerintah federal.

“Seminar ini bukan tentang jawaban, ini tentang pertanyaan, dan ini tentang bagaimana seseorang membuat untuk mengajukan pertanyaan yang tepat.”

Mereka berpikir tentang hal-hal seperti hak cipta, sifat dan perilaku mahasiswa saat ini dan teknologi yang tepat untuk digunakan.

Tapi beberapa tantangan menyulitkan pendidik dan fakultas untuk membuka pikiran mereka tentang teknologi. Perguruan tinggi memiliki tradisi panjang yang menganggap teknologi itu sulit, dan banyak pendidik dan fakultas telah dipaksa untuk menggunakan platform teknologi yang buruk, katanya.

Pendidik dan fakultas sangat menolak teknologi baru ke bidang pendidikan karena tidak masuk akal bagi mereka dan biasanya dirancang dengan buruk. Jika Anda memaksakan keduanya bersamaan, orang akan lari, kata Haymes.

Seminar ini membantu orang belajar bagaimana untuk mengadvokasi teknologi yang baik dan mengembangkan tingkat kenyamanan dengan metodologi itu. Karena itu dirancang untuk menjadi pengalaman belajar yang mendalam, sebagian besar manfaat dan efek seminar terjadi beberapa bulan setelah itu berakhir.

Musim gugur ini, anggota fakultas akan berpartisipasi dalam Tantangan “Apple’s Challenge Based Learning Pilot”, sesuatu yang mungkin tidak akan bisa dilakukan tanpa seminar pendahuluan sebelumnya. Itulah salah satu kisah suksesnya.

Houston Community College Southwest 
Sebagian besar anggota pendidik dan fakultas hanya punya waktu untuk menyapa ketika mereka melihat satu sama lain di lorong atau dalam pertemuan Univesitas. Jadi, ketika profesor sosiologi Ruth Dunn memiliki kesempatan untuk berbicara tentang ide-ide besar dan menghubungkannya ke kelasnya, dia menyitir masalah itu:

“Hal terbesar yang saya dapatkan adalah  duduk di sebuah ruangan dengan rekan-rekan saya dan benar-benar mendiskusikan ide-ide yang mendalam.”

Di Houston Community College Southwest, antara 10-12 pendidik/fakultas dan staf perguruan tinggi datang ke seminar setiap minggu di musim semi 2011. Para peserta datang dari berbagai disiplin ilmu dan generasi, dan membawa berbagai perspektif untuk berdiskusi.

Banyak dari pendidik dan fakultas di kampus takut teknologi dan melihatnya hanya sebagai selingan. Dalam satu sesi seminar, seseorang mengatakan dia meminta siswa mematikan perangkat mobile mereka supaya mereka tidak bermain game.

Tapi seorang profesor bahasa Inggris berbicara dan memberi contoh bagaimana alat-alat tersebut dapat digunakan dalam cara yang tidak terduga. Murid-muridnya telah membaca sebuah risalah panjang pada pembelaan hak-hak perempuan yang ditulis oleh Mary Wollstonecraft melalui perangkat tersebut.

Salah satu siswa mengatakan dia pikir penulisnya gila tentang bagaimana perempuan diperlakukan serta  kurang percaya diri dalam penampilan dirinya. Tapi mahasiswa lain mengeluarkan “Smartphone” dan menemukan potret penulis. Dia cantik, dan fakta ini mengubah arah diskusi.

“Itu sebuah contoh bagaimana teknologi dapat digunakan dalam cara luar biasa,  bermanfaat dan berbeda, cara-cara yang kita tadinya bahkan tidak berpikir,” kata Dunn.

Pada kesempatan lain:

“Sebelum fokus pada pedagogi dan strategi, kita perlu memahami apa yang secara fundamental teknologi lakukan untuk kita sebagai masyarakat dan bagaimana hal itu mengubah kita,” kata Rowlett.

Dan kita juga perlu menyadari bahwa proses belajar tidak pernah selesai. Setelah Anda mempelajari sesuatu, Anda harus mempelajari kembali beberapa kali, dan itu sulit bagi pendidik dan fakultas untuk menerimanya.

Enam perguruan tinggi daerah dalam sistem Houston Community College telah mendorong teknologi di Perguruan Tinggi, serta mendesak mereka untuk memodernisasi, dan mempekerjakan orang-orang yang punya keterampilan komputer. Para pendidik dan Fakultas tidak mengerti mengapa itu diperlukan, dan mereka sudah lama ingin seseorang untuk duduk dan membuka dialog tentang hal itu.

Tulane University 
Di Tulane University, sekelompok kecil anggota fakultas dan staf bertemu setiap Jumat untuk makan siang pada musim gugur 2010. Mereka duduk-duduk, mengunyah makanan dan berbicara tentang aplikasi beberapa teori, kata Mike Griffith, spesialis teknologi instruksional dan dosen bahasa Inggris.

Mereka menggunakan silabus standar yang dibuat Campbell di musim gugur, dan pada sesi terakhir, anggota fakultas Griffith mengatakan bahwa mereka ingin melanjutkan sesi “Historical Reading” tersebut di musim semi.

Berminggu- minggu, mereka merancang silabus sendiri yang menyelidiki isu-isu kontemporer yang sering muncul di media. Mereka berbicara tentang WikiLeaks, pergolakan di Timur Tengah dan peristiwa lainnya saat mereka terjadi.

Selama semester kedua, mereka berbicara tentang narasi dari game dan bagaimana game telah berubah selama lima tahun terakhir. Mereka membawa PlayStation 3 dan Wii serta beberapa PC bagi setiap orang untuk bermain bersama.

Sifat interdisipliner dari seminar ini adalah kekuatannya. Pendidik dan Fakultas membawa perspektif yang berbeda sebagai profesor Bahasa Inggris, komunikasi, filsafat dan mata pelajaran lain. Dan staf, termasuk pustakawan ilmu pengetahuan, desainer grafis dan teknologi instruksional, membawa perspektif mereka juga yang membahas peran game dalam pendidikan.

Griffith mengajarkan teori media baru dan mengatakan itu fantastis melihat bagaimana masing-masing disiplin ilmu mendekati media yang muncul dan memiliki ruang untuk berbicara tentang “Historical Reading”.

Rencana Ke Depan

Pada musim gugur, kelompok dari Tulane akan melanjutkannya untuk semester ketiga, dan Griffith akan mulai kelompok lain dengan silabus Campbell. Sejauh ini, 13 perguruan tinggi dan universitas sudah memulai seminar lokal, termasuk Penn State, University of Central Florida dan Universitas Rice. Dan selanutnya Georgetown, UC Berkeley dan Virginia Tech akan berpartisipasi bersama dengan beberapa orang lain.

“Tapi mereka tidak akan menemukan jawaban karena memang tidak ada”, kata Rowlett.

Dan itu hal yang baik tentang seminar media baru ini, serta salah satu wahana agar orang-orang tidak takut dalam melaksanakannya.

“Kami semua meraba-raba akan hal ini, bukan dalam kegelapan, tapi di senja hari serta mencoba untuk mencari tahu arah yang tepat dan menemukan beberapa cara untuk mengatasi tantangan ini.”

Dikutip dari Converge Magazine: http://www.convergemag.com/training/Colleges-Explore-Emerging-Media.html?elq=b3f011832fbf4cf3a8cd1834a4109665


Pengembangan Ilmu Administrasi dan Manajemen Pendidikan

[slideshare id=2753709&doc=tugas-dasar-administrasi-pendidikan-prof-djaman-by-djadjasardjana-13nov09-rev1-1-091220083839-phpapp01&type=d]

Terdapat minat besar dalam manajemen pendidikan di bagian awal abad 21. Hal ini karena kualitas kepemimpinan dipercaya secara luas membuat perbedaan yang signifikan kepada sekolah dan siswa. Di banyak bagian dunia, ada pengakuan bahwa sekolah membutuhkan pemimpin dan manajer yang efektif jika mereka ingin memberikan pendidikan yang terbaik kepada pelajar mereka. Ketika ekonomi global mengalami resesi, pemerintah lebih menyadari bahwa aset utama mereka adalah orang-orang yang kompetitif dan semakin tergantung pada sebuah sistem pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja terampil. Hal ini memerlukan guru-guru yang terlatih dan berkomitmen, dan pada gilirannya, memerlukan kepemimpinan kepala sekolah yang sangat efektif dan dukungan lain manajer senior dan menengah (Bush, in press).

Bidang manajemen pendidikan adalah pluralis, dengan banyaknya kekurangan perspektif dan kesepakatan yang tak terelakkan mengenai definisinya. Salah satu kunci perdebatan apakah manajemen pendidikan telah menjadi bidang yang berbeda atau hanya sebuah cabang studi yang lebih luas dari manajemen. Sementara pendidikan dapat belajar dari manajemen lain, manajemen pendidikan harus terpusat tujuan pendidikan. Tujuan atau tujuan ini memberikan arti penting arah untuk mendukung manajemen sekolah. Kecuali keterkaitan antara tujuan dan manajemen pendidikan yang jelas dan dekat, ada bahaya ‘Managerialism’, “Penekanan pada prosedur dengan mengorbankan tujuan pendidikan serta nilai-nilai ” (Bush, 1999:240). 1. Konsep Manajemen Dari segi bahasa manajemen berasal dari kata manage (to manage) yang berarti “to conduct or to carry on, to direct” (Webster Super New School and Office Dictionary), dalam Kamus Inggeris Indonesia kata Manage diartikan “Mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola”(John M. Echols, Hasan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia) , Oxford Advanced Learner’s Dictionary mengartikan ‘to Manage’ sebagai “to succed in doing something especially something difficult….. Management the act of running and controlling business or similar organization” sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ‘Manajemen’ diartikan sebagai “Prose penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran”(Kamus Besar Bahasa Indonesia). Adapun dari segi Istilah telah banyak para ahli telah memberikan pengertian manajemen, dengan formulasi yang berbeda-beda, berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian manajemen guna memperoleh pemahaman yang lebih jelas.

Konsep Sekolah yang Baik: Tinjauan Filosofis Pendidikan

Education in Indonesia

Motto of Education in Indonesia

Menurut Wikipedia, Sekolah berasal dari bahasa Yunani σχολή (schole), yang aslinya berarti “kesenangan”, atau juga “Tempat yang menyenangkan” (Gambar-1). Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk memungkinkan dan mendorong siswa (atau “murid”) untuk belajar di bawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, siswa mengalami kemajuan melalui serangkaian tingktan sekolah. Nama-nama untuk sekolah berbeda di setiap negara, tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anak dan sekolah menengah bagi remaja yang telah menyelesaikan pendidikan dasar.

Selain sekolah-sekolah inti ini, siswa di negara tertentu mungkin juga memiliki akses ke dan menghadiri sekolah-sekolah sebelum dan sesudah pendidikan dasar dan menengah. TK atau pra-sekolah memberikan beberapa sekolah untuk anak-anak yang masih sangat kecil (biasanya usia 3-5). Universitas, sekolah kejuruan, perguruan tinggi atau seminari mungkin akan tersedia setelah (atau sebagai pengganti) sekolah menengah. Sebuah sekolah mungkin juga didedikasikan untuk satu bidang tertentu, seperti sekolah ekonomi atau sekolah tari. Sekolah dapat menyediakan Alternatif kurikulum dan metode non-tradisional. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai landasan filosofis penyelenggaraan sekolah yang baik , konsep dan karakteristiknya.

[slideshare id=2755509&doc=tugas-persepsisekolahyangbaik-by-djadjasardjana-08dec09-rev1-0-091220190941-phpapp02&type=d]

Kasih sayang ayah sepanjang langkah, kasih sayang ibu sepanjang kalbu

Front of the Quran

Front of the Quran

CMIIW (Correct Me If I’m Wrong).

Setiap zaman ada masanya hubungan orang tua dan anak direpresentasikan. Semua ada “base line” dan “key word” yang tetap sama yang direpresentasikan dengan peribahasa:

“Kasih sayang ayah sepanjang langkah, kasih sayang ibu sepanjang kalbu”.

Benar atau salah, semuanya bermula dari hati (baca: kalbu). Ayah yang sabar (baca: bagi saya ini susyaaah….) pada buah hatinya serta ibu yang selalu merindu pada putra-putrinya dan tawaddu, merupakan salah satu “Key Performance Indicator / KPI” dalam hubungan yang indah namun tidak sesederhana yang kita bayangkan tersebut……..