Ujian Nasional: Antara Evaluasi Dan Monitoring Kinerja Proses Pembelajaran

 
Menurut Kamus Bahasa Indonesia Online makna “ujian” adalah: 
uji.an [n] (1) hasil menguji; hasil memeriksa; (2) sesuatu yg dipakai untuk menguji mutu sesuatu (kepandaian, kemampuan, hasil belajar, dsb): ~ kenaikan kelas diselenggarakan di sekolah masing-masing; (3) cobaan: musibah ini adalah ~ dari Tuhan. 
 
Sedangkan Ujian Nasional biasa disingkat UN / UNAS adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdiknas (sekarang Kemdikbud) di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.  
 
[slideshare id=1147554&doc=ujiannasionaldanpeningkatanmutupend-drramliz-090315093406-phpapp01]
   
Ada yang menarik dari Undang-undang tersebut bahwa selain evaluasi, UN/UNAS merupakan “proses pemantauan (Monitoring) evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan”. Apa artinya? Berarti “Keyword” (Kata Kunci)  penting lainnya adalah “Proses Pemantauan secara berkesinambungan”. Dalam bahasa lain ada proses “Monitoring” di sana. 
 
Dari “Kamus Bahasa Indonesia Online” makna “monitor” adalah: 
mo.ni.tor [n] orang yg memantau; (2) n alat untuk memantau (spt alat penerima yg digunakan untuk melihat gambar yg diambil oleh kamera televisi, alat untuk mengamati kondisi atau fungsi biologis, alat yg memantau kerja suatu sistem, terutama sistem komputer, dsb); (3) n alat semprot air dng tekanan 4-7 atmosfer yg digunakan pd tambang timah aluvial untuk menambang biji timah; (4) n alat yg dirancang untuk mengobservasi, mengawasi, mengontrol, atau memverifikasi operasi suatu sistem; (5) n pengawasan dan tindakan memverifikasi kebenaran operasi suatu program selama pelaksanaannya berdasarkan rutin diagnostik yg digunakan dr waktu ke waktu untuk menjawab pertanyaan tt program tsb; (6) v pantau; cek secara cermat
   
Permasalahan UN/UNAS menjadi pelik ketika ada “Disparitas” (Perbedaan Yang Mencolok) dan “Proses Yang Tidak Berkesinambungan” dari proses pendidikan. Menurut pasal-1 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003:  
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”  
 
 
  
Disini jelas bahwa perlu monitoring berkesinambungan dari “usaha sadar dan terencana” menuju “suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya”. Jelas perlu metoda dan alat ukur yang tepat guna agar peserta didik “memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”    
  
 
Secara filosofis UN/UNAS baik konsepnya, namun perlu ditekankan bahwa prosesnya tidak hanya ditekankan pada akhir tahun ajaran. Ia harus merupakan bagian “Sistem Pendidikan Berkelanjutan” yang dimonitor setiap waktu terhadap semua pemangku kepentingan utama pendidikan yaitu Kepala Sekolah, Guru, Peserta Didik, Tenaga Non-Kependidikan, Dinas Pendidikan, Kemdikbud bahkan Orang Tua/Wali.   
  
  
 
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=R73fdqhpJBo&w=600&h=450]

Kewirausahaan: Penjualan PARASIT (Bersatunya Tekad dan Nekad)

Laporan Kegiatan Kewirausahaan Hasil Penjualan

PARASIT ( PISANG AROMA PANGSIT)

Kelompok 1

  

Dosen : Djadja Ahmad Sardjana S.T., M.M.

 

Disusun Oleh :

Gaby Permata           0110u196

Eka Andika .P.          0110u127

Ari Achmad               0105076

Meriani                       0110u324

Rickna Fitria .S.        0110u157

 

 

Fakultas Ekonomi

Universitas Widyatama

 

Pendahuluan

Latar belakang

Pisang adalah nama umum yang diberikan pada tumbuhan terna raksasa berdaun besar memanjang dari suku Musaceae. Buah ini tersusun dalam tandan dengan kelompok-kelompok tersusun menjari, yang disebut sisir. Hampir semua buah pisang memiliki kulit berwarna kuning ketika matang, meskipun ada beberapa yang berwarna jingga, merah, hijau, ungu, atau bahkan hampir hitam. Buah pisang sebagai bahan pangan merupakan sumber energi (karbohidrat) dan mineral, terutama kalium.

Pisang mempunyai kandungan gizi sangat baik, antara lain menyediakan energi cukup tinggi dibandingkan dengan buah-buahan lain. Pisang kaya mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, besi, dan kalsium. Pisang juga mengandung vitamin, yaitu C, B kompleks, B6, dan serotonin yang aktif sebagai neurotransmitter dalam kelancaran fungsi otak.

Berdasarkan cara konsumsi buahnya, pisang dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu pisang meja (dessert banana) dan pisang olah (plantain, cooking banana). Pisang meja dikonsumsi dalam bentuk segar setelah buah matang, seperti pisang ambon, susu, raja, seribu, dan sunripe. Pisang olahan dikonsumsi setelah digoreng, direbus, dibakar, atau dikolak, seperti pisang kepok, siam, kapas, tanduk, dan uli. Buah pisang diolah menjadi berbagai produk, seperti sale, kue, ataupun arak (di Amerika Latin).

Selain memberikan kontribusi gizi lebih tinggi daripada apel, pisang juga dapat menyediakan cadangan energi dengan cepat bila dibutuhkan. Termasuk ketika otak mengalami keletihan. Beragam jenis makanan ringan dari pisang yang relatif populer antara lain Kripik Pisang asal Lampung, Sale pisang (Bandung), Pisang Molen (Bogor), dan epe (Makassar).

            Dalam pembelajaran menjadi seorang pewirausaha pemula kita sebagai mahasiswa mencoba memberikan ide dalam melakukan suatru usaha, usaha ini didasari dari tugas yang diberikan oleh dosen kewirausahaan untuk memenuhi salah satu tugas akhir semester 3.

Kelompok kita adalah terdiri dari 5 orang yang terdiri dari Ari, Eka, Rickna, Gaby, dan Meriani. Pada awalnya kita memulainya dengan cara berdiskusi dan menemukan ide yg terinspirasi dari pisang aroma yang awalnya bernama papangsit (pisang pangsit) namun karena nama tersebut kurang enak didengar namanya di ubah menjadi PARASIT (pisang aroma pangsit).

Usaha ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan suatu profit dan juga mendapatkan pengalaman dalam berwirausaha. Dalam melakukann suatu usaha kita melalui beberapa tahap aspek :

1. Sales

2. Marketing

3. Wawancara Konsumen

4. Sosialisasi produk

 

Pelaksanaan Kegiatan

Waktu dan Tempat

          Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan di sekitar kampus dalam waktu yang sama selama 3 hari, yaitu:

          Hari/Tanggal  : Jumat,Sabtu, dan Senin (tanggal 9,10, dan12 Desember 2011)

         Waktu            : Pukul 13.00– 17.00 WIB

Segmen pasar dalam hal ini adalah semua kalangan masyarakat, dari mulai masyarakat tingkat atas, menengah, dan bawah. Harga parasit ini sangan terjangkau sehingga bisa dirasakan oleh semua tingkatan masyarakat. Target market yang dipilih diantaranya adalah mahasiswa, dosen, warga sekitar kampus widyatama dan seluruh masyarakat.

Produk

Makanan yang dibuat adalah makanan ringan dari pisang, yaitu pisang aroma yang berbentuk seperti pangsit. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan parasit ini adalah bahan-bahan yang mudah di dapat di pasaran dan terbilang murah, diantaranya adalah gula pasir, susu, messes, kulit lumpia, minyak goreng, dan bahan utamanya yaitu pisang.

Parasit ini terdiri dari 5 rasa, yaitu rasa manis original, rasa keju coklat, rasa colat, rasa keju, dan rasa susu. Semuanya memiliki sensasi tersendiri. Bentuknya berbeda dari pisang aroma lain, dengan bentuk seperti pangsit, parasit ini bisa menarik rasa penasaran pembeli untuk mencobanya. Dan rasa pada isinya yang bercampur dengan pisang akan membuat pembeli ketagihan.

 

Pencatatan Keuangan Penjualan Parasit

Selama 3 hari (Tgl. 9,10,12 Desember 2011)

 

Tanggal

Keterangan

Debit

Kredit

Saldo

8 Des 2011

Modal awal 5 orang @12.000

Rp.   60.000

 

Rp.   60.000

 

Belanja hari ke 1:

 

 

 

 

·         Pisang 2kg

 

Rp.   8.000

Rp.   52.000

 

·         Lumpia 10 bungkus

@2.500

 

Rp. 10.000

Rp.   42.000

 

·         Susu kaleng

 

Rp.   7.000

Rp.   35.000

 

·         Gula

 

Rp.   4.000

Rp.   31.000

 

·         Minyak goreng

 

Rp. 15.200

Rp.   15.800

 

·         Meises

 

Rp.   5.000

Rp.   10.800

 

·         Plastik bening

3 bungkus @1.000

 

Rp.   3.000

Rp.     7.800

 

·         Tisu makan

 

Rp.   3.000

Rp.     4.800

9 Des 2011

Penghasilan hari ke 1:

45 buah

Rp.   71.000

 

Rp.   75.800

10 Des 2011

Belanja hari ke 2:

 

 

 

 

·         Pisang 2,5kg

 

Rp.   7.500

Rp.   68.300

 

·         Lumpia 10 bungkus @2.500

 

Rp. 10.000

Rp.   58.300

 

·         Keju batang

 

Rp. 15.000

Rp.   43.300

 

·         Meises

 

Rp.   3.500

Rp.   39.800

 

·         Tisu makan

 

Rp.   2.000

Rp.   37.800

 

·         Kantung kresek

 

Rp.   2.000

Rp.   35.800

 

·         Minyak goreng

 

Rp. 12.600

Rp.   23.200

10 Des 2011

Penghasilan hari ke 2:

60 buah

Rp. 120.400

 

Rp. 143.600

12 Des 2011

Belanja hari ke 3:

 

 

 

 

·         Lumpia 3 bungkus

@2.500

 

Rp.   7.500

Rp. 136.100

 

·         Susu 2 bungkus

@2.500

 

Rp.   5.000

Rp. 131.100

12 Des 2011

Penghasilan hari ke 3:

77 buah

Rp. 150.500

 

Rp. 281.600

 

Rincian Biaya Belanja Perhari:

 

*      Belanja hari ke 1:

·         Pisang 2kg                                                 Rp.   8.000

·         Lumpia 10 bungkus @2.500                     Rp. 10.000

·         Susu kaleng                                               Rp.   7.000

·         Gula                                                          Rp.   4.000

·         Minyak goreng                                          Rp. 15.200

·         Meises                                                       Rp.   5.000

·         Plastik bening 3 bungkus @1.000            Rp.   3.000

·         Tisu makan                                                Rp.   3.000

Total                                                         Rp. 55.200

 

*      Belanja hari ke 2:

·         Pisang 2,5kg                                              Rp.   7.500

·         Lumpia 10 bungkus @2.500                     Rp. 10.000

·         Keju batang                                               Rp. 15.000

·         Meises                                                       Rp.   3.500

·         Tisu makan                                                Rp.   2.000

·         Kantung kresek                                         Rp.   2.000

·         Minyak goreng                                          Rp. 12.600

Total                                                         Rp. 52.600

 

*      Belanja hari ke 3:

·         Lumpia 3 bungkus @2.500                       Rp.   7.500

·         Susu 2 bungkus @2.500                           Rp.   5.000

Total                                                         Rp. 12.500

 

 

Pemasaran

            Proses pemasaran parasit dilakukan seperti kebanyakan penjual lainnya yaitu dengan cara promosi ke costumer yang berada dikampus Universitas Widyatama dengan cara mendatangi ke beberapa ukm dan juga dilakukan dengan cara broadcast via bbm dan lewat sms.

            Dalam melakukan pemasaran ketika bertemu langsung dengan costumer kita melakukan beberapa cara dalam menarik pelanggan seperti perkenalan terlebih dahulu, bersikap ramah, dan meyakinkan pembeli terhadap produk tersebut.

 

Penjualan

            Penjualan dilakukan dengan cara menjual produk yang dikemas sendiri dimana penjualan merupakan suatu proses bertemunya seorang penjual dan pembeli untuk melakukan suatu transaksi jual beli guna mencapai kesepakatan dengan tujuan memperoleh laba.

            Dalam proses wirausaha ini kami mencoba menjual suatu produk yang sudah tidak asing lagi dengar di kalangan masyarakat yaitu produk yang diolah dari pisang namun cara penampilannya yang kita ubah menjadi unik dan beda dari pisang aroma pada umumnya.

 

Hasil dan Pembahasan

Analisa Usaha

            Dari keseluruhan kegiatan usaha yang telah kami lakukan selama 3 hari kami dapat menganalisis bahwa usaha yang kita dapat dibilang sukses karena pihak konsumen di lingkungan kampuspun dapat menerima dan juga dilihat dari modal yang kita keluarkan sedikit namun profit yang kita dapat banyak .

            Hal ini juga dapat terjadi karena sebuah strategi yang kita lakukan yaitu dengan cara setiap harinya harga penjualan produk dinaikan secara bertahap sehingga profit yang dihasilkan mengalami peningkatan setiap harinya. Dari kegiatan inipun kami banyak belajar dalam hal pengalaman dan mengetahui bahwa sebagai seorang pewirausaha bukanlah hal yang mudah melainkan membutuhkan kesabaran, keuletan, resiko, dan motivasi yang timbul dalam diri seorang pewirausaha pemula khususnya.

 

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

            Kesimpulan dari melakukan suatu kegiatan ini kita dapat belajar menjadi seorang pewirausaha dimana kita dari awal mencari sebuah ide untuk menciptakan suatu produk, resiko yang harus diambil saat berjualan, dan strategi dalam pemasaran suatu produk. Selain itu kegiatan inipun sangat baik bagi proses belajar mahasiswa sehingga mahasiswa mampu berpikir untuk lebih luas dalam mencari inovasi-inovasi baru dan juga dapat merealisasikan ilmunya dengannya cara turun kelapangan secara langsung.

 

Saran

            Saran dari kita bagi para pewirausaha pemula janganlah takut untuk belajar menjadi seorang pewirausaha karena hal yang terpenting adalah motivasi dalam diri kita dalam menjalankan suatu usaha dan mampu menerima resiko yang ada. Disamping itu juga kita harus mampu bekerja sama dengan rekan-rekan karena dengan demikian suatu usaha dapat berjalan dengan baik dan efisien sehingga dapat menemukan banyak peluang dalam menjalankan suatu usaha.

Filosofi Pembelajaran Dengan Bermain Peran (Role Playing)

Bermain Peran, turunan dari sosiodrama, adalah metode untuk menjelajahi isu yang terlibat dalam situasi sosial yang kompleks. Ini dapat digunakan untuk pelatihan profesional atau di ruang kelas untuk memahami sastra, sejarah, dan bahkan teknik, kedokteran serta ilmu pengetahuan.
FYI. Saya sudah lakukan untuk Kuliah Kewirausahaan, Ekonomi Teknik, Manajemen Inovasi, Pengantar Lingkungan Industri, IT Audit, Applied Networking-IV, bahkan Statistik ๐Ÿ™‚
Psikolog perkembangan terkenal, Jean Piaget, menggambarkan dua mode belajar: “Akomodasi” dan “Asimilasi”. Dalam asimilasi, peserta didik seperti “mengisi” peta mental sesuai dunia mereka. Sementara pada akomodasi, mereka mengubah peta mental, dengan memperluas atau mengubahnya agar sesuai dengan persepsi baru mereka. Kedua proses saling melengkapi dan bersamaan, namun berbagai jenis pembelajaran cenderung hanya menekankan salah satu modus.
Menghafal hafalan cenderung menekankan asimilasi. Sebaliknya, belajar memanjat pohon, berenang, atau naik sepeda menekankan akomodasi. Akomodasi melibatkan cara mendapatkan sebuah “bakat”, dan cenderung menjadi semacam pembelajaran yang hampir tidak mungkin untuk dilupakan. Belajar asimilatif, seperti yang kita semua tahu, adalah sangat mudah dilupakan.
Beberapa jenis hafalan dapat menjadi akomodatif sampai-sampai kata-kata, atmosfir atau gagasan terkait dengan ritme, irama puitis, dan musik sehingga mengapa kelompok kecil tertentu mudah memibacakan atau memainkan naskah atau lagu narasi Shakespeare. Hal ini memungkinkan seseorang jauh lebih mudah memahami dan menguasai daripada, katakanlah menghafal daftar kosakata yang harus dikuasai dan kemudian dilupakan. Ini ada hubungannya dengan penggunaan informasi dan metodologi tertentu seperti Bermain Peran.
Sayangnya, begitu banyak pendidikan berorientasi pada jenis pembelajaran yang dapat lebih mudah diuji, yang sifatnya asimilatif, yaitu tipe belajar penghafalan. Namun yang dunia benar-benar butuhkan adalah orang yang memiliki keahlian, dan keterampilan melampaui pengetahuan fakta belaka. Keterampilan, memerlukan pengujian kinerja berorientasi lebih kompleks yang membutuhkan perhatian lebih dari pendidik, mencakup variabel yang lebih dalam dan halus. Dan kompetensi serta keterampilan mencerminkan jenis pembelajaran akomodatif.
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/mhtdwIHXeU8″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Apakah Peserta Didik Menikmati Pembelajaran Dengan “Role Playing Game”?

Sering saya melakukan pembelajaran dengan “Role Playing Game”, apakah mereka menikmatinya? Berikut adalah hasil karya mahasiswa TEKNIK ELEKTRO – ITENAS, BANDUNG dengan topik “Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air”:

TUGAS KULIAH PENGANTAR LINGKUNGAN INDUSTRI

TEKNIK ELEKTRO – ITENAS, BANDUNG

 

Anggota:Abdul Rohman 11-2006-084    [masyarakat]

Tri Wahyu Rubianto 11-2007-004   [teknisi]

Devi Slamet 11-2007-015   [humas]

Budhi Taufiq 11-2007-025    [hukum]

Crisca Angelia Yuda 11-2007-045     [akuntan]

 

Tema:PEMBANGKIT

 

Judul:Perencanan Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air

 

Inti cerita:

Awalnya melakukan tinjauan terhadap suatu daerah dari segi hubungan antara masyarakat dalam meminta persetujuan untuk melakukan pembangunan pembangkit listrik tenaga air, kemudian dalam melakukan pembangunan dibutuhkan surat legalitas dalam pembangunan, namun dalam mendapatkan persetujuan terdapat masalah dari sisi masyarakat yang menolak pembangunan tersebut, untuk itu terdapat humas yang membawa teknisi agar dapat mejelaskan lebih lanjut dalam pembangunan dan manfaat dari pembangunan PLTA ini, dan juga akuntan dan bagian hukum yang menjelaskan dari sisi ganti rugi dan surat legalitas yang bersangkutan dalam pembangunan ini, hingga mendapatkan hak legalitas dalam pembangunan PLTA ini.

 

 

 PERENCANAN PEMBANGUNAN

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR

 

Suatu perusahaan yang bergerak dibidang teknologi yang terbarukan akan melakukan suatu proyek mengenai pembangkit listrik. Proyek ini akan dibangun di tempat atau daerah terpencil yang terdapat banyak penduduk yang belum terjangkau oleh pasokan listrik dari PLN. Sebelum dilakukan pembangunan proyek tersebut, dari perusahaan melakukan survey yang meliputi bebrapa faktor dan diantaranya yaitu lokasi pemukiman yang dihuni oleh banyak penduduk, belum ada pasokan listrik dari PLN atau belum semua penduduk bisa memanfaatkan listrik PLN (hanya sebagian kecil saja yang menggunakan listrik PLN), sumber energi yang cukup dan dapat diperbaharui.

 

Dalam situasi rapat:

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : “Assalamu’alaikum wr.wb.”

Bpk. Devi Slamet (Humas)             : ”Wa’alaikumsalam wr.wb.”

Bpk Budhi Taufiq (Hukum)            : ”Wa’alaikumsalam wr.wb.”

Ibu Crisca A. Y. (Akuntan)             : ”Wa’alaikumsalam wr.wb.”

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : “Terima kasih kpd bpk-bpk dan ibu yg telah hadir dalam rapat proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga hydro ini. Di sini kita akan membahas persiapan dalam melakukan survey di desa yang masih belum terjangkau pasokan listrik. Dari kriteria yang kita tentukan dan dari beberapa desa yg meiliki kriteria tersebut, dipilih Desa Tak Tahu Di mana. Kepada bagian humas diharapkan bisa bersosialisasi dengan masyarakat di sana.”

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Baik, saya akan laksanakan. Saya akan bersosialisasi dengan masyarakat disana dan meminta bantuan dari tokoh masyarakatnya agar masyarakat lebih bisa mengerti maksud dan tujuan proyek ini.”

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : ” Terima kasih, mohon kerjasamanya. Kepada bagian Hukum, agar dipersiapkan segala persiapan yang berkaitan dengan proyek ini. Dimulai dari berkas-berkas sampai surat-surat berharga lainnya, agar memperoleh kelegalan persetujuan dari semua pihak.”

 

Bpk Budhi Taufiq (Hukum)                        : ”OK, saya sudah persiapkan semua berkas-berkas yang diperlukan dan segala surat-surat penting lainnya.”

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : ”Terima kasih, mohon kerjasamanya. Kemudian untuk proses pengalihan lahan, biaya, ganti rugi, dan sebagainya, agar bagian Akuntan bisa mengatasinya. Dalam hal ini dibantu oleh bagian Hukum dan Humas.”

 

Ibu Crisca A. Y. (Akuntan)             : “Baik Pak, saya akan persiapkan segala sesuatunya mengenai hal tersebut. Kepada bagian Hukum dan Humas saya mohon kerjasamanya agar proyek ini bisa berjalan sukses.”

 

Bpk Budhi Taufiq (Hukum)                        : ”Baik Bu, saya akan melakukan yang terbaik agar proyek ini bisa berjalan sukses.”

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Baik, kalau begitu kita harus terus melakukan koordinasi jika ada sesuatu hal yang membutuhkan bantuan.”

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : ” OK, jadi semua bagian sudah memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing dalam proyek ini. Namun, jangan sampai mementingkan diri sendiri. Dimohon dalam proyek ini kerja sama dari setiap bagian dapat terkoordinasi dengan baik. Demikian rapat kali ini dan besok kita berangkat menuju Desa Tak Tahu Dimana untuk melaksanakan proyek ini. Terima kasih semuanya. Wassalamu’alaikum wr.wb.”

 

Humas, Hukum, Akuntan                : ”Sama-sama, Wa’alaikumsalam wr.wb.”

 

 

Di lokasi proyek Desa Tak Tahu Dimana:

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           :”Kita telah berada di Desa Tak Tahu Dimana, bagaimana dengan persiapan dan kelengkapan dari setiap bagian?”

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Saya telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk sosialisasi nanti dengan masyarakat desai ini. Saya juga telah menghubungi tokoh masyarakat desa ini dan meminta bantuannya untuk mengumpulkan masyarakat dalam rangka sosialisasi.”

 

Bpk Budhi Taufiq (Hukum)                        : ”Saya juga telah mempersiapkan semua berkas dan surat-surat yang nantinya dibutuhkan dalam proses pembangunan proyek ini. Selain itu, saya telah menghubungi pihak berwajib untuk meminta bantuan keamanan agar pada saat terjadi sesuatu yang berhubungan dengan keamanan misalkan kericuhan ataupun kekacauan bisa terkendali. Namun, di sini kita berharap hal tersebut tidak sampai terjadi.”

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : ”Tentu, kita semua di sini mengharapkan yang terbaik dan hal-hal seperti itu jangan sampai terjadi, walaupun hal seperti itu sampai terjadi kita harus bisa menyigapinya dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin agar dapat mengurangi dampak yang seminimal mungkin. Selanjutnya bagaimana dengan bagian Akuntan? Apakah semua sudah dipersiapkan?”

 

Ibu Crisca A. Y. (Akuntan)             : ”Semua kebutuhan dan hal penting lainnya telah dipersiapkan, seperti biaya, ganti rugi, proses pengalihan lahan kepemilikan, surat-surat penting, catatan-catatan, dan sebagainya. Nanti saya beserta bagian Humas dan Hukum akan saling berkoordinasi kembali.”

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : ”Baiklah jika semua sudah beres dan telah dipersiapkan. Sekarang kita akan bertemu dengan masyarakat , mereka telah berkumpul di balai desa dan kita akan menuju ke sana.”

 

Tempat Sosialisasi :

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Assalamu’alaikum wr.wb.”

 

Masyarakat                                        : ”Wa’alaikumsalam wr.wb.”

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Terima kasih sebelumnya saya ucapkan kepada masyarkat yang telah meluangkan waktunya dan bersedia menghadiri acara sosialisai ini dan juga para tokoh masyarakat yang bersedia membantu kami dalam sosialisasi ini. Terutama kepada Bpk. Lurah Desa Tak Tahu Dimana yang telah berada bersama kita di ruangan ini. Terima kasih Pak atas kesediaan Bapak untuk mengajak masyarakt untuk berkumpul di sini bersama kami. Baiklah, langsung saja kita mulai acara sosialisasi ini. Namun sebelumnya, kami akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Devi Slamet sebagai HUMAS. Kemudian ada Bpk. Tri Wahyu Rubianto sebagai TEKNISI. Ada Bpk Budhi Taufiq yang bergerak di bagian HUKUM dan yang terakhir merupakan yang tercantik di antara kami karena satu-satunya wanita, beliau adalah Ibu Crisca Angelia  bergerak di bagian AKUNTAN. Kami merupakan orang-orang yang berasal dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi terbarukan. Tujuan kami di sini untuk membangun suatu pembangkit listrik yang menggunakan tenaga air. Sebelumnya kami telah melakukan survey di beberapa lokasi, setelah di analisa kami memilih desa ini karena sesuai dengan kriteria yang ada. Selain itu, kami juga di sini dalam rangka kerja sosial karena proyek ini bertujuan untuk kepentingan masyarakat di sini. Namun, di sini kami tidak dapat berkerja sendiri, kami membutuhkan bantuan bapak ibu sekalian. Dalam proyek ini kami membutuhkan lahan yang tidak sedikit.”

 

Masyarakat                                        : ”Kenapa harus desa kami Pak? Lahan yang gak sedikit emangnya baut apa? Apa bapak mau memeras kami sebagai orang yang gak berpendidikan ini? Bapak Ibu sekalian, kita jangan mau dibodohin oleh orang-orang seperti mereka yang mau memanfaatkan dan menghasilkan keuntungan buat mereka sendiri.” (Masyarakat lain berkata     : ”Yaaaa…. Betul…! Betul…!)

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Bapak-bapak, Ibu-ibu, mohon dengarkan penjelasan kami dulu. Kami tidak ada maksud seperti itu.”

 

Masyarakat                                        : ”Aaah…. Bohong! Bapak-bapak, Ibu-ibu jangan sampe percaya gitu ajah sama orang-orang ini. Kita gak tau sebenarnya apa yang mereka inginkan.”

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Tenang dulu bapak-bapak, ibu-ibu, dan sodara sekalian. Kami mengumpulkan masyarakat di sini bermaksud menjelaskan maksud dan tujuan pembangunan proyek ini. Untuk itu bapak ibu sekalian kami mohon dengan sangat kepada semuanya yang ada di sini untuk mendengarkan dan memberi kesempatan kepada kami agar jelas persoalannya. Soal lahan atau tanah, tentu saja kami tidak akan merugikan masyarakat di sini. Kami tentu akan membayarnya dan memberi ganti rugi yang sepantasnya atas lahan yang akan kami digunakan nanti sebagai lahan proyek ini.” (Bpk. Lurah menenangkan warganya agar dapat mendengarkan penjelasan proyek tersebut).

 

Masyarakat                                        : ”Mohon maaf kalo begitu, kami sebagai masyarakat di sini hanya tidak ingin dirugikan dan dimanfaatkan untuk keuntungan semata oleh bapak sekalian. Silahkan bapak jelaskan kembali kepada kami dan kami akan mendengarkannya.”

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Baik, terima kasih atas perhatian semuanya. Untuk penjelasan mengenai proses pembangunan pembangkit ini akan saya serahkan kepada bagian TEKNISI kami.”

 

Bpk. Tri Wahyu Rubianto (Teknisi)           : ”Terima kasih sebelumnya. Kami di sini bermaksud untuk membangun sebuah pembangkit listrik tenaga air yang memanfaatkan aliran sungai yang cukup besar di desa ini. Dari survey yang kami lakukan,  desa ini belum terjangkau oleh pasokan listrik dari PLN dan kalu pun ada yang menggunakan listrik itu hanya sebagian kecil saja bagi mereka yang berkecukupan. Untuk itu, kami ingin membantu masyarakat di sini agar dapat menikmati penggunaan listrik. Selain itu, proyek ini nantinya bisa mengembangkan potensi usaha yang ada di desa ini sehingga masyarakat di sini bisa mendapatkan penghasilan tambahan bahkan bisa mengembangkan jenis industri yang besar. Sebelumnya, untuk membantu proses pembangunan proyek ini kami membutuhkan lahan dan lokasi yang strategis sebagai tempat pengoperasian dan perawatannya. Lokasinya harus berada di sekitar sungai, mudah terjangkau, dan listrik bisa terdistribusikan secara merata ke rumah-rumah masyarakat. Oleh karena itu kami akan mengganti lahan yang akan kami gunakan dalam proyek  ini dengan penggantian yang sesuai dan tidak merugikan.”

 

Masyarakat                                        : ”Bagai mana dengan pekerjaan kami pak? Karena lahan yang digunakan merupakan tempat pencaharian kami sebagai petani. Dari mana kami bisa mendapatkan penghasilan kalau lahan yang kami gunakan sebagai pencaharian kami sudah tidak ada?

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : ”Untuk soal itu sebaiknya akan lebih jelas bila bagian HUKUM dan AKUNTAN yang menjelaskannya.”

 

Bpk Budhi Taufiq (Hukum)                        : ”Baiklah, untuk persoalan lahan tanah dan legalisasinya akan saya urus. Saya beserta bagian AKUNTAN akan mengurus surat-surat tanah dan penggantiannya dengan harga yang sesuai. Saya akan melengkapi semua berkas-berkas kepemilikan lahan atau tanah bila memang masih belum lengkap dan merundingkan mengenai legalitasnya dengan Bapak Ibu sekalian sesuai hukum yang berlaku. Selain itu juga, saya akan membuat perjanjian dari semua pihak agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Tentu saja perjanjian tersebut kita buat bersama warga yang bersangkutan dan disaksikan oleh oleh beberapa saksi dari semua pihak. Sehingga tidak ada yang merasa dirugikan dan semua menyetujuinya. Kemudian untuk biaya dan hal lain akan disampaikan oleh bagian AKUNTAN.”

 

Ibu Crisca A. Y. (Akuntan)             : ”Terima kasih. Untuk biaya penggantian lahan atau ganti rugi telah saya persiapkan dan akan saya perhitungkan dengan baik. Penggantian ini akan saya bicarakan terlebih dahulu dengan pihak yang bersangkutan mengenai lahan dan ganti rugi. Segala biaya akan kami sediakan sampai proyek ini selesai. Untuk persoalan mengenai pekerjaan Dapak Ibu sekalian, Tujuan kami di sini memang untuk membantu dan mengembangkan potensi usaha yang ada di desa ini. Dalam proses pembangunan nanti, kami akan membutuhkan pekerja yang berasal dari desa ini juga dan akan kami upah yang sesuai. Kemudian jika ada lulusan-lulusan Sekolah Menengah Kejuruan yang memeiliki keahlian di bidang teknisi atau pun kelistrikan akan kami pekerjakan dan menjadi pekerja tetap dalam proyek pembangkit ini. Namun, jika tidak ada atau hanya sedikit yang lulusan SMK, kami akan memberikan pelatihan terlebih dahulu agar memiliki keahlian dan mendapat pekerjaan agar tidak menjadi pengangguran. Tidak hanya itu, kami juga memberi pelatihan-pelatihan kepada masyarakat di sini agar mendapat keahlian yang berkaitan dengan potensi yang ada seperti pengembangan usaha pertanian, perkebunan, dan sebagainya. Demikian penjelasan dari saya.”

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Terima kasih. Baiklah bapak-bapak, Ibu-ibu, dan sodara sekalian, demikian untuk sosialisai mengenai proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga air ini. Kami mohon kerja samanya dari semua pihak, semoga kedepannya proyek ini terus berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat yang besar bagi kita semua, khususnya untuk masyarakat Desa Tak Tahu Di mana ini. Amin…! Proyek ini akan dilaksanakan sebulan kemudian setelah semua perjanjian dan kesepakatan dari semua pihak telah disetujui dan mendapat legalisasi. Bila ada sesuatu hal yang ingin disampaikan bisa langsung menghubungi kami. Demikian dari kami, mohon maaf bila ada kesalahan dan kata-kata yang kurang berkenan di hati Bapak Ibu sekalian. Akhir kata kami ucapkan terima kasih. Wassalamu’alaikum wr.wb.”

 

Masyarakat                                        : ”Wa’alaikumsalam wr.wb.”

 

 

Semua bersalaman dengan masyarakat dan tokoh masyarakat di sana. Walaupun sempat terjadi penolakan dari masyarakat, namun semua berakhir dengan baik. Setelah sebulan mendapat persetujuan dan legalisasi, proyek pun dilaksanakan sampai selesai. Dalam proses pembangunan proyek yang dilaksanakan tentu saja masih ada kendala-kendala lain yang harus diselesaikan, namun semua diselesaikan dengan baik-baik untuk mendapat titik tujuan yang tidak saling merugikan. Setelah proyek selesai dibangun, masyarakat Desa Tak Tahu Dimana dapat menikmati penggunaan listrik dan bisa mengembangkan pontensi usaha yang ada di sesa itu. Masyarakatnya pun sekarang telah memiliki penghasilan lebih bahkan melebihi penghasilan sebagai petani yang sebelumnya. Meraka pun berharap menjadi masyarakat yang selalu berkembang dan menjadi lebih baik lagi, namun tidak melakukan segala sesuatu secara berlebihan dan tetap menjaga kelestarian alam dan lingkungan mereka agar bisa dinikmati oleh cucu-cucu mereka di masa yang akan datang.

 -SEKIAN-

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/mhtdwIHXeU8″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

E-Learning: Lingkungan bagi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Berperan Mendukung Proses Pembelajaran

Modus Pembelajaran menurut Horton (Designing Web-Based Training, Wiley, 2010) bisa berupa Mendengarkan kuliah, diskusi; Mencari saran dari dosen, ahli; Membaca buku, artikel; Memperhatikan presentasi, demonstrasi; Menyimak pameran, contoh-contoh;  Menerima kritik dari ahli, sejawat; Memodelkan karakteristik sistem, fenomena; Mengeksplorasi hal-hal baru; Mendiskusikan ide dengan teman, ahli, guru/dosen; Mempraktekkan kemampuan atau Melakukan penelitian.
Bagaimana TIK dapat membantu pembelajaran? 

Menurut Horton pula pada buku tersebut kita dapat memanfaatkan hal-hal  sebagai berikut dalam pembelajaran  yaitu: Penggunaan perangkat keras komputer, Pemanfaatan jaringan komputer (termasuk Internet), Sumber informasi, Sarana komunikasi dan Penggunaan perangkat lunak untuk beragam keperluan yang kemudian disebut dengan Infrastruktur e-Learning.
Definisi E-Learning
Lingkungan yang memberikan kesempatan bagi teknologi informasi untuk berperan dalam mendukung proses pembelajaran
Kalau begitu:
  • E-learning bukan hanya “pemakaian komputer”
  • Ada komponen-komponen lain selain TIK (Integrasi antara “People, Process & Technology”)
  • Proses pembelajaran melibatkan TIK

Mengapa menggunakan E-Learning ?

  • Mengatasi rendahnya rasio pendidik-peserta didik
  • Beban pendidik dapat dikurangi dengan mengalihkan (sebagian) inisiatif pembelajaran kepada Peserta Didik
  • Fleksibilitas dalam pelaksanaan proses pembelajaran
  • Melepaskan dari ketergantungan ruang dan waktu

Hal ini sesuai dengan artikel New Wave Marketing – Marketeers [LIVE INTERVIEW] – E-LEARNING UNTUK INDONESIA yang mengatakan:

Mungkin banyak yang memandang e-learning hanya dari satu sudut saja. Yaps, electronic learning, hanya itu yang umumnya orang ketahui, dan e-learning sebenarnya lebih dari itu.  E-Learning adalah sebuah konsep belajar digital yang berisi tentang banyak hal  dan tidak dapat dilihat dari perspektif kecil saja. Di luar negeri, konsep e-learning ini sudah banyak digunakan, dan sangat mudah didapatkan, ada yang bersifat gratis, hingga bersifat bisnis, sesuai dengan kebutuhan dari si pengguna.

Namun demikian “Berhasilnya suatu sistem e-learning, tergantung pada keberagaman dan keberlangsungan konten yang sesuai dengan kebutuhan”

Artikel Terkait:

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/sxUQsKxcOYM” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Permainan (Game) Dalam Pembelajaran: Suatu Dosa atau Usaha Yang Tidak Memaksa?

Bermacam-macam bentuk dan isi game yang telah beredar luas di masyarakat, terdapat sejumlah game yang bernilai positif untuk mendukung kegiatan belajar mengajar mahasiswa misalnya gamei “Who wants to be a millionaire”. Sebagai contoh, kami dari www.pojokpendidikan.com mengembangkan Gameboard Kreatif Wirausaha Pojok Pendidikan sebagai usaha mengenalkan, merekatkan dan mengajak mahasiswa untuk tidak hanya tahu teori wirausaha namun juga mau mengaplikasikanya ๐Ÿ™‚
Keunggulan game sebagai media pembelajaran diantaranya adalah: materi yang disajikan dalam game mudah diingat, praktis, serta kegiatan belajar mengajar akan lebih menyenangkan karena modelnya variatif. Sejauh ini, game yang beredar di masyarakat kebanyakan hanya dimainkan untuk mengisi waktu luang, menyalurkan hobi, menyegarkan fikiran dan lain-lain. Sedangkan game yang digunakan sebagai media pembelajaran sangat minim dimainkan karena isi dan desain masih membosankan serta dosen belum maksimal mengembangkan game sebagai media pembelajaran.
Game pembelajaran menurut Sir Ken Robinson bermanfaat untuk:
  1. Permainan dapat menawarkan pengalaman estetis. Mereka dapat melibatkan maha/siswa (pemain) dalam situasi yang menantang mereka dan penghargaan kpd mereka spt Sir Ken berkata: “memungkinkan mereka untuk sepenuhnya hidup pd kondisi saat ini”. 
  2. Sir Ken Robinson menyatakan, “kolaborasi adalah bagian dari pertumbuhan … pembelajaran yang besar terjadi dalam kelompok”. Permainan utk pembelajaran tidak perlu bersifat soliter. Sebagian besar permainan telah dirancang dan dibangun pada konstruk beberapa tim memainkan peran yang berbeda dalam sebuah komunitas nayata atau virtual.
  3. Game pembelajaran dapat (dan saya percaya harus) mendukung pemikiran kreatif. Simulasi game adalah cara yang sangat kuat untuk melakukannya. Permainan memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi interaksi yang kompleks dari sebab dan akibat, membangun solusi kreatif mereka untuk masalah saat itu terjadi.
  4. Permainan didasarkan pembelajaran memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi isu-isu dan solusi potensial seperti kewirausahaan, perubahan iklim, kelangkaan bbm, konflik horisontal dan lain2 . Beberapa game pendidikan membutuhkan berbagai tim (stakeholder) untuk mengembangkan solusi dari beragam rangkaian sudut pandang dan dengan demikian menghasilkan pemahaman tentang subjek serta mendorong kemampuan berpikir kritis.
  5. Permainan mendorong maha/siswa dari semua level dan kemampuan untuk bekerja sama dan menyediakan cara untuk melibatkan peserta didik. Mereka dapat melampaui nilai dalam mendorong semangat untuk belajar sehingga menambahkan vitalitas ke dalam kelas.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/-XTCSTW24Ss” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA (PKM): E-learning Pembelajaran Bahasa Sunda

 

 

Diusulkan oleh: 

Rachmi Utami Rachmatyani (06.08.075)                                 (ANGKATAN 2008)

Tri SusantoNugroho (06.07.059)                                             (ANGKATAN 2007)

Ramdani Gopur (06.08.085)                                                    (ANGKATAN 2008)

Tania Destiana Berlianty (06.08.070)                                      (ANGKATAN 2008)

 Abraham Mikhael (06.11.P002)                                           (ANGKATAN 2011)

UNIVERISTAS WIDYATAMA

 

RINGKASAN

 

Perkembangan teknologi di masa sekarang terus meningkat. website tidak hanya digunakan untuk e-commerce, forum, personal, bahkan blog dan lain-lain, tetapi dapat juga untuk menjalankan dan merancang berbagai kebutuhan, seperti game, perangkat ajar, pemutar audio, kamus digital, dan sebagainya. Bahasa merupakan bagian yang tak terpisahkan pada semua itu, namun kali ini kami menawarkan sesuatu yang baru, dimana kami menawarkan media pembelajaran bahasa Sunda secara online (e-learning).

Bahasa Sunda  merupakan salah satu budaya Bangsa, yang artinya harus di lestarikan dan dipergunakan agar tidak terjadi kepunahan. Hal ini dapat kita perhatikan diantaranya karena Bahasa Sunda sendiri hanya diajarkan hampir di semua sekolah di Jawa Barat (selaku bahasa daerah), sehingga membatasi penyebarluasannya (terbatas pada jarak dan komunitas). Selain itu juga pembelajaran disekolah khususnya bagi anak-anak kecil itu kurang menarik.

Untuk menanggapi pembelajaran ataupun keinginan dari masyarakat luas bahkan internasional untuk belajar Bahasa Sunda, maka kami menggagaskan untuk membuat e-learning ahasa Sunda. yang di dalamnya di buat visualisasi (gambar) dari benda-benda dengan bahasa Sunda lengkap dengan cara membacanya, kamus, dan mungkin bisa ditambahkan beberapa percakapan dasar yang sederhana. Selain itu untuk belajar bahasa inggris untuk anak percakapan tersebut disajikan dengan gambar-gambar pilihan seperti flash cartoon, interface dll yang mudah di mengerti dan menarik bagi anak,

Kata Kunci : E-learning bahasa sunda, kamus bahasa sunda, kamus bergambar bahasa sunda untuk anak


BAGIAN INTI

 A.      Pendahuluan

Perkembangan teknologi terus meningkat. Komputer tidak hanya digunakan untuk mengolah data saja tetapi dapat juga untuk menjalankan dan merancang berbagai aplikasi, seperti game, perangkat ajar, pemutar audio, kamus digital, dan sebagainya.

Bahasa sunda merupakan salah satu kebudayaan daerah dari Jawa Barat yang hampir terlupakan dikarenakan minat dari generasi muda yang mulai menurun terhadap kebudayaan daerah tersebut, serta terbatasnya media penyebarluasan dari bahasa tersebut yang diantaranya karena bahasa sunda hanya di ajarkan di Jawa Barat.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka akan dibuatkan “E-learning Pembelajaran Bahasa Sunda Untuk Pengawasan Siswa”. Namun selain itu juga e-learning kami bisa juga dipergunakan untuk umum, untuk mewadahi minat dari orang orang yang ingin belajar bahasa sunda, dan semakin menyebarluaskan kebudayaan daerah.

 

B.      Tujuan

Berdasarkan uraian pada pendahuluan diatas memiliki beberapa tujuan diantaranya:

โ—      Meningkatkan minat siswa untuk mempelajari bahasa sunda dan menggunakanya untuk menjadi bahasa sehari-hari

โ—      Melestarikan bahasa daerah terutama bahasa sunda

โ—      Memudahkan siswa dalam mempelajari bahasa sunda

โ—      Memudahkan guru untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa

โ—      Memanfaatkan visualisasi gambar sebagai sarana interaktif

โ—      Kegiatan pembelajaran dapat di lakukan oleh siapa pun, dan memiliki jangkauan yang lebih luas

โ—      Melestarikan bahasa daerah

 

C.      Manfaat

Manfaat dari e-learning bahasa sunda ini adalah :

โ—    Agar anak-anak lebih tertarik dalam mempelajari bahasa sunda.

โ—    Menambah pengetahuan anak tentang bahasa sunda selain materi yang di dapat di sekolah.

โ—    Meminimalkan biaya kegiatan pembelajaran.

โ—    Memulai pengenalan dan pemanfaatan internet bagi anak-anak.

โ—    Memberikan kesadaran bagi anak-anak bahwa bahasa sunda adalah bahasa daerah yang perlu dilestarikan.

โ—    Memberikan materi yang lebih mudah di ingat karena di sajikan dengan audio visual yang menarik.

โ—    Pengawasan kegiatan belajar siswa dapat diawasi oleh guru maupun orangtua yang ada dirumah.

โ—    Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran.


D.      Gagasan

Teknologi yang terus berkembang mempunyai peran yang sangat tinggi dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi informasi saat ini khususnya internet, mengarahkan sejarah teknologi pendidikan pada alur yang baru. Internet memudahahkan user dalam mencari dan menerima informasi mengenai materi pembelajaran. Penyedia layanan pembelajaran jarak jauh dapat memanfaatkan teknologi internet secara maksimal dapat memberikan efektifitas dalam waktu, tempat dan bahkan meningkatkan kualitas pendidikan.

Perubahan pola hidup membuat bahasa daerah terlupakan, salah satunya yaitu bahasa sunda yang merupakan sebuah bahasa daerah jawa barat. Kecenderungan menggunakan bahasa sunda dalam percakapan keseharian kini sangat jarang. Ironisnya, kondisi ini tidak saja terjadi di kalangan anak-anak zaman sekarang tapi juga di lingkungan orang tua sebagai bahasa indung bahasa sunda seharusnya dipergunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari, minimal di lingkunga keluarga. Sebenarnya pemerintah berupaya melakukan perubahan dan membangkitkan gairah penggunaan bahasa sunda, antara lain melalui pencanangan pelajaran bahasa sunda.

Untuk itu kami mengembangkan sebuah gagasan untuk mengaplikasikan interactive website dimana kami menyediakan suatu media pembelajaran untuk pengembangan kemampuan berbahasa sunda bagi anak-anak dengan format fun interactive-learning.

Aplikasi yang akan kami kembangkan dibangun dengan menggunakan :

1.       Moodle 1.9

2.       Php 4

3.       MySql

 

E.       Kesimpulan

Gagasan yang kami sampaikan yaitu berupa pembangunan aplikasi berbasis e-learning sebagai salah satu sarana pembelajaran yang kompeten. Penggunaan aplikasi moodle diharapkan dapat membantu para siswa dalam menghadapi era globalisasi dimana siswa dituntut untuk mahir dalam berbahasa dan berkomunikasi dalam bahasa sunda, dan diharapkan juga agar siswa dapat mengerti kegunaan dari internet sebagai salah satu media pembelajaran yang kompeten saat ini. Selain itu juga aplikasi yang akan dikembangkan dapat dipergunakan untuk kalangan umum untuk belajar Bahasa Sunda. Aplikasi ini pula memiliki sedikit animasi atau visualisasi untuk lebih menarik minat.

Daftar Pustaka 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=Z0N23rfQDfA&w=600&h=400]

Pendidikan: EsEmKa, Proses Pembelajaran Yang Panjang Dari Pemangku Kepentingan

Walaupun bukan ulat atau semut hitam, EsemKa sedang naik daun sekarang, terutama setelah salah satu karyanya dipakai oleh Walikota Solo Joko Widodo. Semua orang terhenyak dengan hasil karya anak bangsa yang begitu mempesona. Mulai dari mobil SMK-2 Solo sampai dengan pesawat terbang Jabiru SMK-29 Jakarta, seolah memperlihatkan SMK sedang meninggalkan lawan-lawannya di arena “Formula-1” pendidikan. Belum lagi SMK-SMK lain dengan hasil karya yang membanggakan, mulai dari inovasi pertanian, otomotif, kimia sampai elektronika. Kelihatannya setelah dulu menjadi “anak tiri”, SMK bangkit menyeruak kekuatan segmen pendidikan yang patut diperhatikan.

Melalui Tag-line “SMK bisa”, perlahan-lahan program yang dikomandani oleh DR. Joko Sutrisno sebagai Direktur Pembinaan SMK KemDikBud telah memperlihatkan hasilnya. Hampir di semua daerah perkotaan dan pedesaan, kebanggaan menjadi siswa SMK begitu besar. Hal ini menjadikan animo semua pemangku kepentingan termasuk guru, siswa, wali dan dinas pendidikan serta kalangan lain bisa bersatu padu dalam pencapaian hasil pendidikan. Bahkan di beberapa daerah, animo masyarakat untuk memasukkan anaknya ke SMK dapat mengalahkan animo masuk SMU karena “Brand” yang lebih kuat melalui iklan TV, pencapaian siswa, kebutuhan dunia usaha dan lain-lain.

Hal ini tidak datang tiba-tiba, saya masih ingat dengan peran ayah sebagai pensiunan pengawas Dikmenjur (Pendidikan Menengah Kejuruan). Beliau pada kurun tujuh-puluhan sampai akhir sembilan-puluhan berusaha keras untuk juga membangun kompetensi dan strategi SMK-SMK di Jawa Barat. Dan sekarang, kelihatannnya program pendidikan SMK saat ini sudah “cukup membumi” sehingga bisa memberikan kepuasan pada kalangan “Academic, Business & Goverment” (Akademis, Bisnis dan Pemerintah). Pada akhirnya ini memberikan “Above Average Return” (Tingkat Pengembalian Di Atas Rata-Rata) pada semua fihak yang terlibat karena mendahuluan filosofis “Benefit” (Manfaat) daripada “Profit” (Keuntungan) …..

Diharapkan filosofis yang sama dapat juga “merasuki” segmen dan tingkat pendidikan yang lain seperti PAUD, SD, SMP, SMU, Perguruna Tinggi serta pendidikan non-formal/informal….Semoga….

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=l2l7Divqnd4?rel=0&w=600&h=400]