Gerakan Anti Korupsi dan Kesadaran Pendidikan Manusia Yang Memanusiakan

Foto dari detik.com
Korupsi Dan Pergulatan Kekuasaan
 
Tanggal 9 Desember diperingati sebagai Hari Anti Korupsi Internasional yang diperingati Komisi Pemberantasan Korupsi bersama pegiat dan organisasi antikorupsi lainnya dengan menyelenggarakan rangkaian acara menarik di berbagai kota di Indonesia. Kita semua percaya, jujur adalah langkah awal berantas korupsi! Untuk itulah, berbagai acara yang dikemas apik ini secara serentak akan menyuarakan Berani Jujur, Hebat!
Bukan hanya di Indonesia, di seluruh dunia korupsi menjadi penyakit yang sangat berbahaya dalam kehidupan manusia. Karena kerugiannya bukan hanya bersifat material namun juga rusaknya moral serta akhlak dimana manusia yang bersangkutan tidak bisa menjaga amanah yang telah dipercayakan padanya untuk di kelola dan dipegang. Korupsi bukan hanya dilakukan oleh seorang bos atau pemimpin, namun mulai dari kelas pegawai rendahan sekalipun sudah terjangkiti.
Korupsi di negeri kita benar-benar sudah sangat parah karena sudah jadi kerak yang susah sekali di kikis, hampis semua sistem tatanan bernegara kita sampai saat ini masih terjadi praktek-praktek penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan yang merugikan kepentingan negara dan rakyat satu negara hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan tertentu. 
Hal di atas terbuktikan dengan kejadian berikut ini:
Suatu Malam terjadi kehebohan di Gedung KPK……Mirip dengan peristiwa bersejarah Reformasi pada bulan Mei 1998, rakyat “berkumpul” di depan gedung para “Satria Anti Korupsi” itu didukung “Rakyat Internet” melalui Media Sosial. Hubungan Polri dan KPK meregang setelah penyidik Polri di KPK, Noval Baswedan, rencananya akan ditangkap Polda Bengkulu, Jumat (5/10) kemarin. 
Jika insiden KPK ini dibiarkan, bukan mustahil suatu saat ada polisi yang menyerbu istana presiden tanpa sepengetahuan Kapolri. Jika alasannya ingin menangkap penyidik KPK yang terlibat masalah hukum, seharusnya dilakukan sesuai SOP yaitu lewat surat panggilan pertama dan kedua.
Peringatan Allah Terhadap Bahaya Korupsi
Dikutip dari Lintas.me, entah apakah ini suatu kebetulan atau memang Allah sudah mengingatkan kita semua termasuk semua pemimpin umat dan pemimpin negara, pemimpin golongan,  pemimpin apapun yang ada untuk tetap menjaga amanah. Menjaga janji dan sumpah yang telah diucapkan.  Mari sejenak kita merenungkan ayat Al-Quran dibawah ini.
Surat ke 9 Al-Quran yaitu Surat At-Taubah Ayat Ke-12  yang artinya:
[9:12] Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.
Coba kita renungkan dan cerna maksud ayat diatas, apakah maksud Allah dalam ayat tersebut? ini mungkin bisa menjadi bahan refleksi serta koreksi bagi kita semua, karena kita semua hakekatnya adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas amanah yang telah dipercayakan padanya. Kita coba untuk memberantas korupsi dari diri kita masing-masing kita cegah korupsi dari diri kita lingkungan kita. Semoga Allah Tuhan semesta alam memberikan berkah dan kebaikan bagi negeri yang sesungguhnya kaya raya ini.
Korupsi dan Kemanjuran Pendidikan

Dari fenomena akhir-akhir ini ternyata pendidikan dirasakan belum memberikan kemanjuran (efficacy) terhadap permasalahan peradaban bangsa Indonesia. Banyak permasalahan besar yang menyangkut nilai-nilai mendasar kemanusiaan yang belum terselesaikan oleh bangsa ini untuk menyambut persaingan antar bangsa yang semakin ketat dan berkelanjutan. Diantaranya kasus korupsi menjadi sorotan yang banyak fihak karena telah “mengkerdilkan” logika sederhana manusia terhadap arti kebenaran dan kemanusiaan.
Selain itu, sebagai menu tambahan, ada juga masyarakat di lingkungan pendidikan yang masih mengedepankan penyelesaian “jalan pintas” dengan mengatas-namakan pendidikan untuk masalah sepele atau tujuan yang tidak ketahuan ujung pangkalnya. Di fihak lain, adanya sinyalemen bahwa Sertifikasi Pendidik yang memakan biaya tidak sedikit, ternyata belum memberikan pemicu kinerja tenaga pendidik menjadi lebih baik atau memenuhi syarat minimal. So, apakah kita termasuk “Pendidik” yang Manusia Yang Memanusiakan?

#PendidikPembebas: Tantangan Pendidik Atas Fakta Kehidupan Manusia Saat Ini

 

Pada sebuah seminar Guru yang diadakan oleh Bapinger Education, dipaparkan tantangan pendidik atas fakta-fakta yang melingkupi kehidupan manusia saat ini:
  • Akses Wikipedia dan Google
  • Saat ini ada 540.000 kata dalam bahasa Inggris: 5 kali lebih banyak daripada masa hidup Shakespeare.
  • Saat ini banyaknya teks yang dikirim dan diterima dalam sehari melebihi populasi manuisa di bumi (6 milyar jiwa).
  • Setengah dari yang dipelajari pada tahun pertama akan menjadi kadaluwarsa di tahun ke tiga.
  • Sepuluh (10) profesi top di tahun 2012 belum eksis di tahun 2004.
  • Orang akan lebih mudah berganti pekerjaan, karena lebih mudah mempelajari kompetensi baru dengan kemampuan belajar lebih tinggi dan menggunakan cara belajar gaya baru.
  • Masalah dunia semakin tergantung dan saling terkait dengan perubahan iklim global dan krisis ekonomi
Visi Guru sebagai Pelaku Perubahan dan Pendidik Karakter semestinya menjadi bagian hakiki sebagai seorang guru garda terdepan dalam arus perubahan. Mengeksplorasi lebih mendalam bagaimana para guru dapat memahami hakikat perubahan itu sendiri. Pendidik yang mampu mengembangkan sebuah strategi untuk memulai, menerapkan dan melestarikan perubahan dalam dunia pendidikan dan masyarakat secara umum.

 
Cara mengajar yang sekedar duduk di depan kelas sesungguhnya menjadi tanda kurangnya dinamisme sebagai seorang pendidik sejati. Bisa jadi ini hanya sebuah simbolis dan tidak mewakili sosok guru seutuhnya secara keseluruhan. Jika demikian adanya, seakan jauh rasanya seorang guru dapat menciptakan pembelajaran yang produktif dan profesional. Padalah guru juga memiliki tanggungjawab dalam memodifikasi proses integrasi dan optimalisasi sistem pendidikan di sekolah. Harapannya, dapat memberikan peran yang sangat signifikan bagi proses pembentukan kepribadian siswa yang kokoh yakni intelektual, moral dan spiritual.
 
Meskipun tampaknya guru sulit untuk dapat berubah dalam waktu singkat, namun guru terlanjur mengemban peran istimewa dalam masyarakat sebagai pelaku perubahan. Guru bukan sekedar pelaku perubahan yang menggerakkan roda transformasi sosial dalam masyarakat. Lebih dari itu, guru memiliki peranan utama sebagai pendidik karakter suatu masyarakat.

 

Pendidik bukan sekedar mengubah hidup siswa, namun juga memperkokoh kepribadian siswa agar memiliki nilai-nilai sebagaimana yang diharapkan masyarakat.

Petuah @DausGonia @PojokPendidikan Imaji+Nasi: Perpaduan Antara Idealisme (Imaji) dan Penghidupan (Nasi) Manusia

Pada hari Ulang Tahun @DausGonia, salah satu tokoh @PojokPendidikan saya selalu teringat Idiom darinya yaitu “Imaji+Nasi”. Dalam blognya DausGonia.com menulis “Jangan tanyakan siapa itu Daus Gonia, tapi tanyakan apa yang telah engkau berikan kepada negara.” Selain berkarya di Pojok Pendidikan, Ia juga menulis “Seringnya ngaku-ngaku pengangguran, padahal Freelancer dan menyibukan diri sebagai Self Employed di Playwork-ID juga sebagai penggembira di salah satu perusahaan Game Developer di Bandung. Selain suka bikin kopi dan bikin pusing, saya juga suka bikin Game dan Apps baik untuk mobile ataupun untuk Web Apps. Aktif di sosial Media Twitter dengan akun @dausgonia, enggan aktif di radio karena nanti disangka radio aktif. Padahal cita-citanya dulu jadi Pohon Pisang.”

Bagi saya, benar adanya bahwa kehidupan kita harus berdasarkan kesetimbangan serta Perpaduan Antara Idealisme (Imaji) dan Penghidupan (Nasi) Manusia. Idealisme yang kita anut, serta realisme kita hadapi. Ketika suatu sistem atau tatanan lingkungan bertentangan dengan idealisme kita, berpikir bijaklah, tidak harus dengan pemberontakan dan kata tegas yang kemungkinan akan mengeluarkan kita dari sistem tersebut. Karena ketika kita keluar dari sistem maka sulit bagi kita memperbaiki. 

Ada memang beberapa diskusi  menunjukkan adanya suatu tantangan bagi kita yang khususnya ketika masuk dunia kerja. Apakah idealisme masih perlu dipegang seiring dengan tuntutan kepada kita yang nyata dan realitis adanya? Tantangan untuk mewujudkan idealisme sementara sistem dan lingkungan yang kita masuki mungkin berlawanan dengan idealisme yang dianut.

Dalam situasi ini, kita dihadapkan pada pilihan antara idealisme dan kenyataan bahwa proses negoisasi dan kompromi sering terjadi dalam lingkungan kita. Semua itu adalah proses, maka apabila posisi kita dalam posisi sudah menikmati “Nasi” (Penghidupan), atau menjadi pengambil keputusan/kebijakan mulailah untuk mewujudkan “Imaji” (Idealisme) tersebut.

Selamat Ulang Tahun Daus Gonia, semoga selalu bisa menjaga Imaji+Nasi 🙂

@LingkunganPembebas Kemana Larinya Airku: Antara Kebutuhan dan Keinginan Penduduk Bandung

 
Saat ini di Muararajeun, tempat tinggal kami, air menjadi barang langka. Setelah mengalami keberlimpahan, saat ini air hanya bisa didapat dengan biaya yang cukup “mahal”. Termasuk di rumah saya yang sekarang, selain ada sumur bor, harus juga menggunakan Filter Air dari Pak Iyan Sofyan salah satu pakar filter dari ITB.
 
Dulu (20 tahun lalu) sumur bor rumah kami dengan kedalaman 6 meter sudah menghasilkan air bersih. Sekarang rata-rata sumur bor di lingkungan kami sudh berkedalaman 12-18 meter. Bahkan di rumah kakak ipar sumbur bornya mempunyai kedalaman 24 meter.
 
Hal ini sesuai dengan prakiraan dan riset tahun 2007 yang menyatakan pengambilan air bawah tanah yang tak terkendali menyebabkan penurunan muka air tanah yang signifikan. Itulah pula yang menyebabkan banyak daerah di Kota Bandung dan sekitarnya digolongkan sebagai daerah rawan dan kritis air. Daerah yang mengalami penurunan lapisan air tanah paling besar adalah kawasan Bandung selatan. Daerah tersebut berpotensi banjir karena lapisan tanahnya sebagian besar terdiri dari lempung yang kurang mampu menyerap air, sementara saluran keluarnya tidak ada.
 
Penurunan tanah ini merupakan salah satu faktor signifikan yang menyebabkan banjir. Ketika titik-titik tanah pada satu kawasan menurun, daerah tersebut menjadi lebih rendah dari tempat-tempat lainnya dan membentuk cekungan, maka daerah tersebut akan menjadi daerah yang berpotensi banjir terutama saat musim hujan. Ironisnya, air menjadi sesuatu yang sulit didapat setiap musim kemarau.
 
Jika diasumsikan jumlah penduduk kawasan Bandung Raya mencapai 7 juta orang dan kebutuhan air bersih sebanyak 125 liter per hari per orang, kebutuhan air yang harus tersedia sekitar 350 juta m3 per tahun.
 
Kebutuhan air bersih untuk industri diperkirakan mencapai 132 juta m3 per tahun, sedangkan untuk keperluan sosial (tempat ibadah, dsb.) dan perkantoran diperkirakan mencapai 30 juta m3 per tahun. Dengan demikian, total kebutuhan air bersih di kawasan ini mencapai 512 juta m3 per tahun.
 
 
Sementara itu, pemenuhan kebutuhan air bersih yang mampu disediakan PDAM Kota Bandung hanya sekitar 17 juta m3 per tahun. Sedangkan PDAM Kab. Bandung-Cimahi baru mampu menyediakan sekitar 19 juta m3 per tahun.
 
Secara keseluruhan, pemenuhan air bersih oleh kedua PDAM itu baru mencapai 36,5 juta m3 per tahun dengan proporsi sumber air bakunya 40% berasal dari air permukaan dan 60% dari air tanah. Pengambilan air tanah yang dilakukan industri terjadi karena PDAM memang tak mampu menyediakan kebutuhan air mereka.
 
Penurunan muka air tanah yang drastis terjadi terutama sejak tahun 1980-an. Hal itu seiring dengan pesatnya perkembangan industri dan permukiman penduduk. Penurunan muka air tanah paling parah terjadi di daerah industri, seperti Cimahi (sekitar Leuwigajah), Batujajar, sekitar Jln. Moh. Toha, Dayeuhkolot, Rancaekek-Cicalengka, Ujungberung, Cicaheum, dan Kiaracondong.
 
Ayo Urang Bandung…….Jangan hamburkan air tanah untuk mencegah Bandung makin ambles atau “tenggelam”…………………..
 

Silaturahmi Mendatangkan Rejeki

Silaturahmi mungkin sudah menjadi nisbi

Antara adat kebiasaaan dan Wahyu Ilahi

Sungguh manusia itu tidak bisa hidup sendiri

Ia juga punya kehidupan yang hakiki

 

Pantas orang tua berpesan pada diri

Janganlah memutuskan tali silaturahmi

Itu jadi penjaga hidup tidak nafsi-nafsi

Benarlah bahwa Silaturahmi Mendatangkan Rejeki

 

#Mudik #IedulFitri: Antara Kejayaan dan Keruntuhan Sepeda Motor Serta Kemenangan Umat Manusia

Selesai sudah “Upacara Rutin” setahun sekali dimana para pemudik bertemu sanak keluarga di tempat kelahiran untuk merayakan Iedul Fitri. Mereka berbondong-bondong melakukan “hijrah” untuk bersilaturahmi dan berbagi kebahagiaan yang dirindukan dengan menggunakan berbagai moda transportasi baik darat, laut maupun udara.

Yang menarik banyak diantara mereka menggunakan sepeda motor untuk mudik bersama keluarga. Alasannnya bermacam-macam, mulai dari penghematan, prestise, “kenyamanan” bahkan alasan lain yang klise. Menurut data, Pengguna sepeda motor dalam mudik lebaran tahun ini meningkat sebesar 20 persen hingga 25 persen atau sekitar 10-15 persen diatas prediksi pemerintah yang hanya sekitar 6,16 persen dari tahun lalu. Meningkatnya penggunaan sepeda motor pada waktu musim mudik lebaran akan mempengaruhi meningkatnya angka kecelakaan di jalan raya. 

 Meskipun dalam beberapa tahun terakhir masih terdapat kecelakaan fatal yang dialami angkutan umum, namun penggunan angkutan umum masih tergolong cukup aman dibandingkan dengan sepeda motor. Penggunaan sepeda motor pada waktu musim mudik lebaran memiliki presentasi 70 persen dari seluruh kecelakaan yang terjadi.   

Fenomena di lapangan yang penulis alami adalah banyak dari pengendara sepeda motor karena alasan ingin cepat sampai, mengorbankan keamanan dan kenyamanan diri dan keluarganya. Mereka seperti “sengaja memperdagangkan” keluarga mereka agar dimengerti oleh pengguna jalan lain untuk diberikan “keutamaan” di jalan.
Tidak jarang mereka melakukan manuver berbahaya dengan meliuk-liuk diantara sesama sepeda motor dan kendaraan lain. Sering juga membuat “Racing Line” seperti Rossi, Lorenzo atau Pedroza di Sirkuit MotoGP tanpa memperdulikan rambu lalu lintas dan kode etik berkendara. 
Tidak heran Semangat Kemenangan Umat Manusia berubah menjadi Kejayaan dan Keruntuhan (Rise and Fall) dari Sepeda Motor pada saat mudik tahun ini. Dikuti dari TEMPO.CO, Jakarta – Setiap tahun menjelang Lebaran, selalu bertambah jumlah pemudik yang mengalami kecelakaan. Hingga H+2 Hari Raya Idul Fitri, polisi mencatat sebagian besar korban tewas akibat kecelakaan adalah pengguna sepeda motor. Jumlahnya sebanyak 75,5 persen atau 518 orang adalah pengguna sepeda motor. 

Adapun total korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas selama penyelengaraan Operasi Ketupat sejak 11 Agustus mencapai 686 jiwa, naik dari tahun lalu, sebanyak 622 nyawa melayang. Jumlah kecelakaan ini mengalami kenaikan dibanding tahun lalu, yakni 3.927 kecelakaan di tahun ini dibanding tahun lalu 3.777 kecelakaan. 

“Kebanyakan penyebabnya adalah human error, seperti melanggar batas kecepatan, melanggar rambu-rambu, dan tidak disiplin dalam berlalu-lintas,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 23 Agustus 2012. 

Data kepolisian pun menunjukkan bahwa sebagian besar kecelakaan lalu lintas atau 69,5 persennya melibatkan sepeda motor. Adapun total kendaraan yang terlibat kecelakaan berjumlah 6.695 kendaraan. 

Selain menyebabkan lebih dari 600 orang tewas, kecelakaan lalu lintas selama Operasi Ketupat pun menyebabkan 1.093 orang luka berat dan 3.750 lainnya luka ringan. 

 

Renungan Hari Kebangkitan Nasional: Pendidikan Sebagai Pangkal Kebangkitan Bangsa

 Dikutip dari http://amriawan.blogspot.com/2012/05/hari-kebangkitan-nasional-20-mei-2012.html

Hari ini diperingati sebagai  Hari Kebangkitan Nasional, suatu perjalanan Bangsa yang sudah mencapai dua generasi sejak 20 Mei 1908. Kebangkitan Nasional adalah Masa dimana Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Saat ini kita masih menunggu dan mengejar agar bangsa ini bangkit menuju peradaban yang lebih baik dan berkesinambungan. Masalah yang dihadapi cukup rumit, terutama generasi saat ini yang melihatnya dari peristiwa Reformasi 20 Mei 1998. Saat itu banyak fihak berharap akan terjadi perubahan mendasar setelah 14 tahun reformasi itu terjadi.

Namun, apa mau dikata, Reformasi telah “menelan korban dan biaya” yang tidak sedikit. Baik dari sisi aset fisik,  budaya, sosial, psikologis dan aspek kemanuasian lain, peradaban kita ada di ambang “To Be or Not To Be”. Banyak pemangku kepentingan bangsa kebingungan dengan “Prioritas Mana Yang Harus Dipilih Oleh Bangsa Indonesia?”. Mereka masih gamang “irama apa yang harus dimainkan?”.

Lini Masa Kesadaran Kebangkitan Bangsa

Setelah Indonesia merdeka, khususnya pada masa orde lama, keinginan untuk menjadi bangsa yang bangkit dan mandiri terus dikumandangkan oleh pemimpin nasional saat itu. Soekarno senantiasa membangkitkan semangat rakyat Indonesia untuk menjadi bangsa yang mandiri dengan ajakan berdikari, yaitu “berdiri di atas kaki sendiri”. Soekarno mengajak bangsa dan seluruh rakyat Indonesiauntuk tidak bergantung pada bangsa lain, melainkan harus menjadi bangsayang mandiri. Ajakan untuk menjadi bangsa yang mandiri ini dilanjutkan dengan “Trisakt”i, yaitu kemandirian di bidang politik, ekonomi, dan budaya. Semangat untuk menjadi bangsa yang berkarakter dan mandiri ditegaskan oleh Soekarno dengan mencanangkan “Nation and Character Building” dalam rangka membangun dan mengembangkan karakter bangsa Indonesia guna mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Secara spesifik Soekarno menegaskan dalam amanat “Pembangunan Semesta Berencana” tentang pentingnya karakter ini sebagai “mental investment”, yang mengatakan bahwa kita jangan melupakan aspek mental dalam pelaksanaan pembangunan dan mental yang dimaksud adalah mental Pancasila.

Pada masa orde baru, keinginan untuk bangkit menjadi bangsa yang bermartabat tidak pernah surut. Soeharto, sebagai pemimpin orde baru, menghendakibangsa Indonesia senantiasa bersendikan pada nilai-nilai Pancasila dan ingin menjadikan warga negara Indonesia menjadi manusia Pancasila melalui penataran P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Secara filosofis penataran ini sejalan dengan kehendak pendiri negara, yaitu ingin menjadikan rakyat Indonesia sebagai manusia Pancasila, namun secara praksis penataran ini dilakukan dengan metodologi yang tidak tepat karena menggunakan cara-cara indoktrinasi dan tanpa keteladanan yang baik dari para penyelenggara negara sebagai prasyarat keberhasilan penataran P-4. Sehingga bisa dipahami jika pada akhirnya penataran P-4 ini mengalami kegagalan, meskipun telah diubah pendekatannya dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

Pada masa reformasi keinginan bangkit nmembangun karakter bangsa terus berkobar bersamaan dengan munculnya euforia politik sebagai dialektika runtuhnya rezim orde baru. Keinginan menjadi bangsa yang demokratis, bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), menghargai dan taat hukum merupakan beberapa karakter bangsa yang diinginkan dalam kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara. Namun, kenyataan yang ada justeru menunjukkan fenomena sebaliknya. Konflik horizontal dan vertikal yang ditandai dengan kekerasan dan kerusuhan muncul di mana-mana, diiringi mengentalnya semangat kedaerahan dan primordialisme yang bisa mengancam instegrasi bangsa; praktik korupsi, kolusi dan nepotisme tidak semakin surut malahan semakin berkembang; demokrasi penuh etika yang didambakan berubah menjadi demokrasi yang kebablasan dan menjurus pada anarkisme; kesantuan sosial dan politik semakin memudar pada berbagai tataran kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara;kecerdasan kehidupan bangsa yang dimanatkan para pendiri negara semakin tidak tampak, semuanya itu menunjukkan lunturnya nilai-nilai luhur bangsa

Pendidikan Sebagai Pangkal Kebangkitan Bangsa

Ada yang menarik seperti dikutip dari Kompas.com  (Minggu, 20 Mei 2012) , yang menyitir bahwa Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap 20 Mei harus menjadi inspirasi kemajuan pendidikan nasional. Hal itu dikatakan Anggota Komisi X DPR, Raihan Iskandar, Sabtu (19/5/2012) malam kemarin, di Jakarta. Ia mengungkapkan, sejarah lahirnya kebangkitan nasional pada 1908 disebabkan oleh munculnya kaum terpelajar. Menurutnya, tokoh-tokoh pergerakan nasional yang menjadi penggerak munculnya organisasi-organisasi modern pada masa itu, seperti Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Sutomo, Soekarno, Agus Salim, dan sebagainya lahir dari dunia pendidikan.

“Pengaruh pendidikan pada masa perjuangan membuka kesadaran kaum terpelajar untuk bangkit dari keterpurukan sebagai bangsa yang terjajah,” ujarnya.

Kala itu, lanjut dia, meski awalnya Belanda hanya membuka sekolah-sekolah bagi golongan bangsawan dan mampu, tetapi justru dimanfaatkan oleh golongan elit Indonesia untuk mengubah nasib bangsanya. “Oleh karena itu, momentum hari Kebangkitan Nasional tahun ini harus dijadikan inspirasi bagi Pemerintah untuk memajukan bangsa melalui pendidikan,” ujarnya.

Politisi asal fraksi partai PKS ini menegaskan, pemerintah perlu membuat akselerasi kebijakan dalam bidang pendidikan untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju dan beradab. 

Menurutnya, akselerasi kebijakan pendidikan itu harus dilakukan pemerintah dengan keberanian melakukan investasi yang optimal melalui pemberian akses seluas-luasnya bagi setiap warga negara untuk menikmati pendidikan mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai di bangku perguruan tinggi.

Dengan demikian, ia berpendapat jika pemerintah benar-benar serius ingin menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju dan beradab, pemerintah harus menjadikan pendidikan sebagai kebijakan yang bersifat menyeluruh, tidak diskriminatif, dan harus dapat dinikmati oleh setiap warga negara Indonesia.

“Pemerintah harus membiayai penyelenggaraan pendidikan. Tak cukup hanya dengan memulai program wajib belajar 12 tahun, tetapi juga harus dapat menekan biaya kuliah di perguruan tinggi yang sampai sekarang belum bisa terjangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia,” tandasnya.

Pendidikan Adalah Benteng Terakhir Peradaban Manusia

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran. Anggota keluarga mempunyai peran pendidikan yang amat mendalam — sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka — walaupun pendidikan anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

Lebih lanjut, Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.

Dari fenomena akhir-akhir ini ternyata pendidikan dirasakan belum memberikan kemanjuran (efficacy) terhadap permasalahan peradaban bangsa Indonesia. Banyak permasalahan besar yang menyangkut nilai-nilai mendasar kemanusiaan yang belum terselesaikan oleh bangsa ini untuk menyambut persaingan antar bangsa yang semakin ketat dan berkelanjutan. Diantaranya kasus korupsi (dengan pemeran utama Gayus, Nazarudin, Nunun dan lain-lain) menjadi sorotan yang banyak fihak karena telah “mengkerdilkan” logika sederhana manusia terhadap arti kebenaran dan kemanusiaan. Selain itu, sebagai menu tambahan, ada juga masyarakat di lingkungan pendidikan yang masih mengedepankan penyelesaian “barbarian” dengan membakar atau merusak  sarana pendidikan karena masalah sepele atau bahkan tidak ketahuan ujung pangkalnya. Di fihak lain, adanya sinyalemen bahwa Sertifikasi Pendidik yang memakan biaya tidak sedikit, ternyata belum memberikan pemicu kinerja tenaga pendidik menjadi lebih baik atau memenuhi syarat minimal.

Disadari bahwa setiap praktik pendidikan atau pembelajaran tidak terlepas dari sejumlah masalah dalam mencapai tujuannya. Upaya pemecahan masalah tersebut akan memerlukan landasan teoretis-filosofis mengenai apa hakikat pendidikan dan bagaimana proses pendidikan dilaksanakan. Henderson dalam Sadulloh (2004) mengemukakan bahwa filsafat pendidikan adalah filsafat yang diaplikasikan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan. Peranan filsafat yang mendasari berbagai aspek pendidikan merupakan suatu sumbangan yang berharga dalam pengembangan pendidikan , baik pada tataran teoretis maupun praktis. Filsafat sebagai suatu sistem berpikir dengan cabang-cabangnya (metafisika, epistemologi, dan aksiologi) dapat mendasari pemikiran tentang pendidikan bagi peradaban manusia.

Menurut Brubacher (1959), terdapat tiga prinsip filsafat yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu: (1) persoalan etika atau teori nilai; (2) persoalan epistemologi atau teori pengetahuan; dan (3) persoalan metafisika atau teoni hakikat realitas. Untuk menentukan tujuan pendidikan, memotivasi belajar, mengukur hasil, pendidikan akan berhubungan dengan tata nilai. Persoalan kuriikulum akan berkaitan dengan epistemologi. Pembahasan tentang hakikat realitas, pandangan tentang hakikat dunia dan hakikat manusia khususnya, diperlukan untuk menentukan tujuan akhir pendidikan.

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/JML2u6her8M” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Mengenang Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih:Gajah Meninggalkan Gading, Manusia Meninggalkan Jasa

Dikutip dari http://klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2012/05/02/33399/540x270/ketua-dpr-kita-kehilangan-orang-baik.jpg

 

 Hari ini Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih (57) dimakamkan sebagai umat yang kembali kehadirat Ilahi. Beliau meninggal karena penyakit kanker paru yang dideritanya setelah di rawat di Paviliun Kencana RSCM. Paviliun dimana Menteri Kesehatan RI, Dr.dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH meresmikannya pada hari Jumat, 7 Mei 2010. Dan Mantan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih meninggal dunia di Paviliun Kencana Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, Rabu (2/5/2012) pukul 11.41 WIB.   

Terkait penyakitnya, Endang menjadi perokok pasif karena Indonesia adalah ”surga” bagi perokok. Asap rokok lingkungan (environmental tobacco smoke) jauh lebih beracun dan karsinogenik dibandingkan asap rokok utama (mainstream smoke). Ini yang mungkin memicu kanker paru yang diidap Endang.   

Ia dan keluarganya untuk pertama kali mengetahui bahwa dirinya mengidap kanker paru ketika melihat hasil rontgen parunya pada 22 Oktober 2010.

Endang tetap tegar. Tanggal 22 Desember 2010 ketika meluncurkan buku Perempuan-perempuan Kramat Tunggak di Bentara Budaya Jakarta, ia masih terlihat sehat dan segar. Dan ia tetap tegak tegar ketika diwawancara di rumah dinasnya beberapa pekan kemudian (Kompas, 23 Januari 2011). Malah ia bisa menertawakan dirinya sendiri sambil menyanyikan lagu David Bowie ”Dead Man Walking”.

Salah satu perjuangan Endang yang berani melawan arus adalah membuat Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan. Kantor Kemenkes tak jarang didemo oleh para petani tembakau dan buruh industri rokok. Bahkan fotonya pernah terpampang di baliho besar sebagai salah satu dari 10 musuh petani tembakau dan buruh industri rokok (Buku Indonesia–The Heaven for Cigarette Companies and the Hell for the People, FKM UI, 2012).

Padahal, tujuan RPP itu tak lain adalah mengamankan mereka yang belum menjadi perokok dan para perokok pasif. Tidak dimaksudkan untuk mematikan industri rokok dan melarang penanaman tembakau.

Disalahpahami dan difitnah memang risiko jabatan bagi pejabat tinggi negara. Namun, Endang telah membuktikan bahwa ia tetap bekerja sampai saat-saat terakhir, sebelum akhirnya ia menyerah dan harus meminta cuti sebulan untuk berobat, lalu dipuncaki dengan permohonannya mengundurkan diri. Ini menunjukkan kejujurannya untuk tidak mengangkangi jabatan yang diamanahkan kepada dirinya. 

Jenazah Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Kamis (3/5/2012), dimakamkan di tempat pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat. Setelah jenazah dimakamkan, tabur bunga dilakukan oleh keluarga dengan diiringi alunan lagu “Gugur Bunga”. 

Selaku inspektur upacara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara simbolis menimbun peti jenazah dengan tanah, yang diikuti oleh keluarga. Baru setelah itu penimbunan dilakukan oleh petugas pemakaman. Upacara pemakaman yang berlangsung secara militer itu diikuti oleh para menteri, antara lain Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

SBY lantas membacakan kata-kata Endang dalam Pengantar buku itu sebagai berikut:

“Saya sendiri belum bisa disebut sebagai survivor kanker. Diagnose kanker paru stadium 4 baru ditegakkan lima bulan yang lalu. Dan sampai kata sambutan ini saya tulis, saya masih berjuang untuk mengatasinya. Tetapi saya tidak bertanya, “Why me?” “Saya menganggap ini adalah salah satu anugerah dari Allah SWT. 

“Sudah begitu banyak anugerah yang saya terima dalam hidup ini: hidup di negara yang indah, tidak dalam peperangan, diberi keluarga besar yang pandai-pandai, dengan sosial ekonomi lumayan, dianugerahi suami yang sangat sabar dan baik hati, dengan dua putera dan satu puteri yang alhamdulillah sehat, cerdas dan berbakti kepada orang tua. Hidup saya penuh dengan kebahagiaan.” 

“So …. Why not? Mengapa tidak, Tuhan menganugerahi saya kanker paru? Tuhan pasti mempunyai rencanaNya, yang belum saya ketahui, tetapi saya merasa SIAP untuk menjalankannya. Insya Allah. Setidaknya saya menjalani sendiri penderitaan yang dialami pasien kanker, sehingga bisa memperjuangkan program pengendalian kanker dengan lebih baik.”

Bagi rekan-rekanku sesama penderita kanker dan para survivor, mari kita berbaik sangka kepada Allah. Kita terima semua anugerah-Nya dengan bersyukur. Sungguh, lamanya hidup tidaklah sepenting kualitas hidup itu sendiri. Mari lakukan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan hari ini. Kita lakukan dengan sepenuh hati. 

Dan …. jangan lupa, nyatakan perasaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi. Bersyukurlah, kita masih diberi kesempatan untuk itu.”

“Demikianlah kata-kata Almarhumah yang penuh nilai, keimanan dan pelajaran ini,” lanjut SBY.

SBY menambahkan, harus diakui bahwa almarhumah selama hidup, telah memberikan begitu banyak jasa kepada masyarakat, bangsa dan negara. SBY mengajak melanjutkan pengabdian Endang dengan tindakan nyata, khususnya dalam peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia.

Catatan: Dikutip dari berbagai sumber

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/wTG2P0TCvik” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Kematian, Kulminasi Pencapaian Hidup Manusia

Setiap manusia yang dilahirkan selalu mempunyai makna dan mempunyai jalur kehidupannya sendiri. Dimana makna itu akan berkembang seiring dengan pertumbuhan sang manusia yang telah terisi kehidupannya. Manusia pun sesungguhnya sadar bahwa ia terlahir untuk mencapai kehidupan abadi, yakni kematian. Maka dari itu perlu disadari oleh tiap manusia, untuk tidak berhenti di satu titik meski tetap berkembang. Disini penulis menekankan, setiap hari adalah syukur, kematian memang tidak bisa diprediksi karena merupakan rancangan dari Sang Khalik, namun sedianya syukur, penyerahan diri, dan pertobatan haruslah dilakukan. Salah satunya adalah dengan merasakan “everday is my birthday”, dimana tiap harinya adalah rasa syukur akan nafas hari ini.  

Dilain fihak, Kematian adalah keniscayaan yang tidak terelakkan. Ia merupakan drama penuh misteri dan seketika yang dapat mengubah jalan hidup seseorang. Karena begitu misterius dan menakutkannya kematian, tidak sedikit umat manusia merasa perlu menambah masa hidupnya, seperti yang terangkum dalam pernyataan Chairil Anwar: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”

Membahas kematian bisa menimbulkan sebuah ‘pemberontakan’ yang menyimpan kepedihan pada jiwa manusia, yaitu kesadaran dan keyakinan bahwa mati pasti akan tiba dan musnahlah semua yang dicintai dan dinikmati dalam hidup ini. Kesadaran itu memunculkan penolakan bahwa kita tidak ingin (cepat) mati. 

Buku Psikologi Kematian karya Komaruddin Hidayat secara khusus berbicara kematian. Dalam pengantarnya, M Quraish Shihab mengakui buku best seller itu dapat membantu pembacanya bukan saja untuk memahami psikologi kematian, namun juga rahasianya dan yang lebih penting lagi ialah menuntut kita menjemput maut dengan hati yang damai. 

Menurut Komaruddin Hidayat, keengganan manusia untuk menjemput kematiannya disebabkan, setidaknya dua hal. Pertama, manusia terlanjur dimanjakan dengan aneka kenikmatan duniawi yang telah dipeluknya erat-erat. Kedua, sifat kematian yang misterius. Kematian ditakuti karena manusia tidak tahu persis apa yang akan terjadi setelah kematian itu 

Setiap orang bila ingin berkembang dan maju harus menerjang banyak ujian dari front yang berbeda dan banyak bentuknya, dimana tiap fase tidaklah sesuai dengan kemampuan kita namun tidak melampaui daya kita dan rintangan itu biasanya diatas kemampuan kita, guna mengembangkan pribadi sebagai pribadi yang lebih matang dan siap dalam menghadapi dunia. Dalam istilah sufi, diri kita terdapat arassy atau singgasan Tuhan, sehingga kalau seseorang bisa menyerap sifat-sifat ilahi ke dalam hatinya, maka ia akan lebih besar ketimbang langit dan bumi.  

“Rasa takut itu berakar pada keinginan laten untuk selalu hidup nyaman, dan rasa takut itu kemudian menjalar kepada bebagai wilayah aktifitas manusia. Lebih jauh lagi, rasa takut itu kemudian melahirkan anak-pinak, yaitu takut akan bayang-bayang ketakutan itu sendiri sehingga muncul ungkapan, musuh terbesar dan terdekat kita adalah rasa takut itu sendiri yang berakar kuat dalam diri. Esensinya ialah sikap penolakan akan kematian karena kematian itu selalu diidentikkan dengan tragedi, sakit, ketidak berdayaan, kehilangan dan kebangkrutan hidup” ~ Komaruddin Hidayat

Manusia modern, ditekankan adalah manusia yang biasanya bertindak di comfort zone, dimana area ini adalah kenyamanan dan kepuasan dimana manusia yang meninggalinya tidak akan pernah beranjak atau enggan meninggalkan area ini, karena ia sudah merasa aman dan terlindungi, sedangkan manusia hidup berdampingan dengan apa yang kita sebut sebagai kerja keras dan usaha, dengan pelu keringat dan memutar otak namun kadang manusia keluar dari jalurnya dan menekankan kehidupan sebagai keegoan, ini menyebabkan kententraman dunia bukan berada pada genggaman. Untuk menghentikan keegoan ini haruslah kita mencari Tuhan, namun sebelum masuk ke dalam pernyataan carilah Tuhan, penulis menulis dengan cukup lantang carilah dulu cinta, cinta kepada sesama, cinta kepada orang tua dan cinta lainnya, penulis menulis bahwa Tuhan memang tidak dapat disamakan dengan manusia, namun dengan adanya cinta itu manusia diharapkan dapat sadar dan merasakan kenikmatan rasa rindu akan Tuhan.

Bagi penganut mazhab religius, mengejar-ngejar kenikmatan hidup duniawi dan memperoleh self-glory hanya akan menghambat diraihnya kesuksesan hidup di akhirat. Penguasa, misalnya, jangan hanya mabuk kekuasaan dan uang, tapi kesejahteraan rakyatnya harus diperhatikan agar kenyamanan hidup setelah kematian bukan sebatas impian. 
Kedua, mazhab sekuler yang tidak peduli dan tidak yakin adanya kehidupan setelah kematian. Kelompok itu dibedakan dua. Pertama, meskipun mereka tidak peduli kehidupan akhirat, kelompok ini berusaha mengukir namanya dalam lintasan sejarah. Seperti, demi popularitas, orang kaya rela membantu yang miskin. Kedua, mereka yang memang pemuja hidup hedonistis yang sama sekali tidak peduli dengan pengadilan dan penilaian sejarah. 
Apakah benar kehidupan bermakna?

Menurut Komaruddin Hidayat, kehidupan sangat bermakna dimana makna itu berjenjang. Faktor usia, tingkat pendidikan, dan status ekonomi serta nasib akan mempengaruhi dalam memahami dan menghayati makna hidup. Hidup sebagai tindakan bermakna, makna itu bisa kita dapatkan bila kita mengenal akan agama yang kita anut, seperti sudah dikatakan sebelumnya agama adalah jalan yang jelas, dan acuan yang tepat sasaran. Tepat sasaran menuju kehidupan abadi yakni kematian. Merenungkan makna kematian tidak berarti lalu kita pasif. Sebaliknya, justru lebih serius menjalani hidup, mengingat fasilitas umur yang teramat pendek. Makna panjang umur meninggalkan kisah baik untuk menuju kebaikan surgawi.  Giving dan serving oriented diakui sebagai sumber kebahagiaan dan puncak prestasi

Dalam pandangan Komaruddin Hidayat, keyakinan dan ketidakyakinan manusia bahwa setiap saat kita bisa dijemput kematian memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Begitu pula dengan keyakinan adanya kehidupan setelah kematian. Dengan harapan memperoleh kebahagiaan di akhirat, misalnya, maka raja-raja Mesir membangun Piramida dengan pucuknya runcing dan menjulang ke langit agar memudahkan perjalanan arwahnya menuju surga. 

Islam secara tegas mengajarkan bahwa tiada seorang pun yang bisa menemani dan menolong perjalanan arwah kecuali akumulasi amal kebaikan kita sendiri. Kenikmatan dan gemerlap kehidupan duniawi akan ditinggalkan dan tidak ada bekal yang berharga bagi kelanjutan perjalanan hidup manusia kecuali amal kebaikan yang telah terekam dalam disket rohani yang nantinya akan di-print out di akhirat. 

Frank J Tipler dalam bukunya The Psysics of Immortality (1994) menyarankan manusia agar selalu berbuat baik demi kesuksesan dunia-akhirat. Kebaikan membuat kita tersenyum ketika malaikat maut menjemput meskipun keluarga yang akan kita tinggalkan menangis. Sebaliknya, kebejatan akan membuat kita menangis ketakutan, sedangkan orang-orang di sekitar kita tersenyum gembira karena merasa risih akan keberadaan kita sendiri. 

Catatan:

Disusun bersamaan dengan meninggalnya Wakil Menteri  ESDM, Widjajono Partowidagdo (http://news.detik.com/read/2012/04/21/202934/1898186/10/widjajono-gemar-mendaki-gunung-untuk-dekatkan-diri-dengan-tuhan?nd992203605)

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/Nv5xr9ybT24″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Pendidik Juga Manusia, Punya Rasa Punya Hati, Jangan Samakan Dengan Pisau Belati

 

Mungkin orang menyangka ku tak pernah terluka
Tegar bagaikan karang, tabu cucurkan air mata
* Kadang ku rasa lelah harus tampil sempurna
Ingin ku teriakkan
Andai mereka tahu rasa dalam hatiku
Lembut bagaikan salju dan menghangatkan kalbu
repeat *
reff:
Pendidik juga manusia, punya rasa punya hati
Jangan samakan dengan pisau belati
Pendidik juga manusia, punya rasa punya hati
Jangan samakan dengan pisau belati
repeat *
Pendidik juga manusia, punya rasa punya hati
Jangan samakan dengan pisau belati
Repeat reff

Ya, sesuai lagu yang (mohon maaf) dimodifikasi dari Seurieus ini, pendidik saat ini telah mengalami masa-masa metamorfosis dari “Ulat, Kepompong menjadi Kupu-kupu”. Perhatian para pemangku kepentingan akan pendidikan semakin meningkat, namun di sisi lain masih banyak “Pekerjaan Rumah” yang harus diselesaikan khususnya oleh pendidik.

 

Mulai dari “Standard Level Agreement/SLA” (Standar Pelayanan Minimum), kesesuaian pendidikan dengan dunia nyatasampai dengan sertifikasi yang diharapkan merubah pola “Hati, Pikir dan Aksi” dari pendidik. Ada beberapa pendidik yang sudah sadar, faham  dan bertindak sesuai “Peran Tauladannya” sebagai pendidik. Adapula yang menganggap anak didiknya sebagai sarana pelampiasan akademis, komersial, bahkan (Audzubillahi Min Dzalik) nafsu birahinya.

 

Para pendidik harus menyadari, walaupun “Mungkin orang menyangka ku tak pernah terluka” tetap harus “Tegar bagaikan karang, tabu cucurkan air mata”. Dilain waktu pendidik “Kadang ku rasa lelah harus tampil sempurna” serta “Ingin ku teriakkan” dan ingin dimengerti “Andai mereka tahu rasa dalam hatiku” kita tetap harus “Lembut bagaikan salju dan menghangatkan kalbu“. Serta terus berusaha menyadarkan khalayak ramai bahwa “Pendidik juga manusia, punya rasa punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati”.

 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=MMYvZeHVL0k&w=600&h=400]