Inovasi Tiada Henti Southwest Airlines Untuk Menjaga Jati Diri

Southwest Airlines Co. merupakan maskapai AS terbesar keempat dalam hal pengangkutan penumpang dan kedua terbesar dalam hal keberangkatan penerbangan domestic. Southwest (LUV) terbang menuju 59 bandar udara di 58 kota, tepatnya di 30 negara. Strategi operasional perusahaan telah dibangun secara menyeluruh menyediakan penerbangan frekuensi tinggi, menempuh jarak pendek, point-to-point (dari titik ke titik), layanan bertarif rendah. Southwest menolak upaya ekspansi terlalu cepat, dan lebih memilih untuk menambah rute tujuan baru hanya ketika perusahaan memiliki sumber daya dan terlebih menghadapi situasi dimana mereka harus mengantisipasi permintaan akan rute lokasi baru dengan minimal penerbangan 10-12 per hari. 
Ada banyak perusahaan yang melakukan perubahan/inovasi. Dell Computer melalui perantaraan iklan dan langsung menjual produknya kepada konsumen. Hanes Corporation mengembangkan supermarket dan toko obat. Nucor Steel kembali membuka pabrik baja. Toyota mengembangkan pabrik mobil. Medco Containment Services menyediakan layanan penjualan obat melalui surat. Perdue mengembangkan bisnis makanan seperti ayam. Timex menjual jam tangan murah. Southwest Airlines melakukan penerbangan dari satu tempat ke tempat lain menggunakan sistem hub-and-spoke.
Dari contoh-contoh tersebut, dapat dilihat bahwa tanpa inovasi baru, perusahaan akan sulit untuk bersaing dengan pemimpin pasar yang sudah ada. Strategi yang memungkinkan untuk mencapai keberhasilan pada situasi tersebut adalah strategi inovasi. Namun, inovasi saja tidak cukup. Perusahaan juga harus memikirkan strategi-strategi baru untuk bersaing di pasaran ketika konsumen menginginkan produk yang lama. Perusahaan-perusahaan melakukan hal-hal gila baru yang tidak lebih dari inovasi. Pertanyaan sesungguhnya adalah “Apakah perusahaan sudah memikirkan semua kemungkinan yang ada?” “ Apa sumber inovasi mereka?”
Ada 5 poin penting yang harus diperhatikan sebelum melakukan stategi inovasi:
  1. Strategi inovasi bukanlah hal baru.
  2. Perusahaan harus melakukan inovasi. Perusahaan harus mempertimbangkan, mengevaluasi, dan membuat keputusan tentang faktor-faktor individual.
  3. Cara untuk melakukan inovasi sesuai dengan kekuatan dan kelemahan perusahaan.
  4. Strategi inovasi mempunyai resiko. Namun, perusahaan dapat mengatasi resiko tersebut dengan melakukan percobaan pada area yang terbatas sebelum sepenuhnya melakukan inovasi tersebut.
  5. Hadir dengan ide-ide baru tidak menjamin kesuksesan. Seluruh perusahaan harus dikelola dengan tepat ketika melakukan strategi baru.
Strategi inovasi terjadi ketika sebuah perusahaan melihat celah (gaps) dalam dunia industry, memutuskan untuk mengisinya, dan celah untuk tumbuh menjadi pasar massa yang baru. Celah (gaps) dapat diartikan:
  1. Segmen konsumen baru atau konsumen yang sudah ada.
  2. Segmen kebutuhan konsumen baru atau kebutuhan konsumen yang sudah ada namun tidak terlayani dengan baik oleh pesaing lain.
  3. Cara baru dalam memproduksi, mengirimkan, atau mendistribusikan produk yang sudah ada atau produk baru kepada konsumen yang sudah ada atau konsumen baru.

Secara konsisten menguntungkan dalam suatu industri yang terkenal kompetitif, Southwest Airlines hanya memperkerjakan 4% dari sembilan puluh ribu orang yang melamar untuk bekerja setiap tahun. Maskapai tersebut menggunakan tes kepribadian untuk mengidentifikasikan pelamar dengan kombinasi antara sikap bersedia bekerja keras,keterampilan komunikasi,dan semangat tim. Pekerja baru diikutsertakan dalam pelatihan yang intensif di “University for People” milik perusahaan sebelum  memulai pekerjaan mereka. Ketika konflik internal kadang-kadang muncul antara karyawan yang menangani pekerjaan yang berbeda,Southwest meminta karyawan untuk bertukar pekerjaan untuk satu hari sehingga mereka dapat melihat persoalan dari sisi orang lain,suatu taktik yang secara umum meredakan ketegangan.

 

Innovation: Oxygen of Balanced Scorecard and Key Performance Indicators

 

Innovation and Entrepreneurship

 

Last Tuesday I have one full day session as lecturer of Corporate Development Management Magister (MM_Cordev) students @IMtelkom on “Innovation & Entrepreneurship”. I commenced lecture especially on topicf of “Innovation, Creating & Sharing Knowledge”.

 

“Innovation is the process by which new ideas are successfully exploited to create economic, social and environmental value” refer to BIS (2011).  On the other hand Gurling said: “Innovation is the process of successfully bringing something new into use, to a market/community, that satisfies need/latent demand”. Innovation is therefore an essential ingredient to a free-market economy to encourage growth in demand and supply as basic economics.

 

Innovation creates value of Economic, Financial, Social, Environmental and Aesthetic. As told by (Kuhn,1985): “Creativity forms something from nothing but that innovation shapes that something into products & services“. Steve Johnson have strategic and interesting questions on his film: Where do ideas come from? What sparks the flash of brilliance? How does groundbreaking innovation happen? 

 

Its also mean Design links creativity+innovation. Shapes ideas practical and attractive propositions for customers. Design described as creativity specific end. So, Idea/Invention form Design Application/Prototyping/Piloting which become Innovation.

 

 

Balanced Scorecard for Port Management

 

Conjunction with my lecture above, I have Balanced Scorecard for Port Management training session for Pelindo-3.  This institution is one of state owned corporation which operate several big port in Indonesia which has Headquater at Surabaya.

 

The balanced scorecard translates an organization’s mission and strategy into a comprehensive set of performance measures. The balanced scorecard does not focus solely on achieving financial objectives. It highlights the nonfinancial objectives that  an organization must achieve in order to meet its financial objectives.

 

This training explain of Balanced Scorecard for Port Management whose mission is achieving a significant leap in knowledge and application of methodologies simulation,  and improving the capacity port of container terminals  (PCT), their performance and service level.

 

The strategy unfolds in achieving five objectives:
  • identifying the increasing of the PCT as a nodal system within the frame of the port logistics chain,
  • analysing the feasibility of introducing technological innovations (automation) and management innovations.
  • measuring performance, capacity and service levels offered by the PCT,
  • customizing the Balanced Scorecard tool for the PCT and,
  • developing an appropriate simulation model.

Penerapan Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

Strategi Umum E-learning dan Knowledge Management

Umumnya, strategi e-learning dan Knowledge Management diterapkan berdasarkan,

1.       Low cost strategy,

2.       Differentiation strategy,

3.       Niche focus strategy,

Ada tiga kunci penting untuk bisa menjadi trend-setter e-learning dan Knowledge Management di organisasi:

1.       operational excellent, (reliable, easily, dan cost-effective)

2.       customer intimacy , (targeting market precisely)

3.       product leadership, (continuing product innovation yang memenuhi customer needs).

Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan memberdayakan sistem pembelajaran di dalam institusi. Menyediakan sistem pembelajaran akan membuat perusahaan selalui bisa selalu menyegarkan pengetahuan bagi stafnya serta membuat pegawai selalu up-to-date dengan perkembangan yang terjadi baik di dalam maupun di luar perusahaan.

Lima Langkah Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

Berikut adalah tabel lima tugas manajemen strategi untuk e-learning dan Knowledge Management:

Task1

Task2

Task3

Task4

Task5

Membuat visi strategis dan misi bisnis

Menetapkan objektif/goal

Membuat strategi mencapai objektif

menerapkan &mengeksekusi strategi

Mengevaluasi kinerja, monitoring pengembangan baru, serta inisasi koreksi/
penyesuaian

 Faktor untuk Diperhatikan dalam Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

1.       Lingkungan eksternal : Politic (legal), Economic, Social (Ecological), Technological;

2.      Tekanan grup dan stakeholder : Shareholder, competitor, customer, supplier, government, employee, serikat buruh, publik, financial, mass media;

3.       Strategi dan perencanaan internal bisnis : pengembangan internal;

4.       Dari tiga faktor tersebut kemudian dirumuskan strategi bisnis dan perencanaan proses untuk menentukan cakupan.

Faktor-faktor yang perlu untuk diidentifikasi meliputi :

1.       Resiko manajerial dan finansial;

2.       Tingkatan yang diperlukan untuk menciptakan kapabilitas baru;

3.       Struktur organisasi eksisting;

4.       Kemampuan organisasi untuk menerapkan strategi yang dirumuskan (kompetensi, sumberdaya, proses, dan budaya)

5.       Implikasi terhadap customer, partner

6.       Kebutuhan membuat perserikatan,aliansi, joint ventura;

 

Penerapan Strategi

Setelah strategi dibuat, maka perlu dilakukan langkah-langkah penerapan. Setelah langkah tersebut diimplementasikan, maka akan dapat diketahui strategi lanjutan, konstrain-konstrain muncul, opsi baru muncul, peluang baru datang.

Dalam kaitannya dengan penerapan strategi maka perlu diperhatikan pula siklus hidup produk e-learning dan Knowledge Management.

Alat dan Teknik untuk Strategi

Alat dan teknik yang umum digunakan untuk merancang dan merumuskan strategi antara lain:

1.       SWOT Analysis

2.       BCG matrices; untuk resource alocation

3.       Policy/portfolio matricecs

4.       Five forces

5.       Industry analysis

 

 

#ManajemenPembebas: “Knowledge Management” Di Era Ekonomi Berbasis Pengetahuan

Perusahaan  merupakan  kolaborasi  antara  aset  tangible  dan  intangible dalam mencapai tujuan. Aset tangible    perusahaan dapat berupa berupa “Land, Labour and  Capital”.  Aset  tangible ini  mudah  dikembangkan  dengan meningkatkan kuantitas yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Aset intangible perusahaan  terintegrasi  melalui  labour  yaitu  dalam  proses  regenerasi  melalui sharing knowledge.

Dewasa ini adalah era knowledge based economy, di mana kekuatan inti suatu perusahaan terletak pada human capital. Persaingan antar perusahaan yang semakin  kompetitif  memunculkan  konsep  industri  yang  padat  pengetahuan dengan  menuntut  ketersediaan knowledge  worker  dalam  jumlah  besar  untuk mendukung  kemajuan  suatu  perusahaan. Human  capital  yang  sarat  akan pengetahuan ini memberikan nilai tambah dan meningkatkan produktivitas yang jauh lebih signifikan daripada faktor material seperti lahan atau modal semata.

·         Manfaat Pengetahuan

Francis Bacon pada abad ke – 15 mengungkapkan bahwa “knowledge is a power”. Bill Gates membuktikan kekuatan ilmu pengetahuan tersebut pada abad ke  –  20 melalui kemunculan Microsoft. Lompatan besar dalam knowledge ini mendongkrak kebangkitan teknologi informasi seperti Intel, IBM, Cisco, Lucent, dan Dell. Peter F. Drucker membenarkan pentingnya knowledge yang membawa perubahan besar pada kemajuan dunia modern.

Teori ekonomi modern yang digagas Paul Romer imendukung asumsi mengenai perlunya lembaga dan kebijakan negara memanfaatkan sains, teknologi, dan  inovasi  untuk  mendorong  economic  growth.  Model  Romer  dan  aplikasi empirisnya  menunjukkan  bahwa  inovasi  dan  adopsi  teknologi  pada  dasarnya melekat  di  dalam  pertumbuhan  ekonomi  yang  disebabkan  oleh  kombinasi investasi dalam bidang sains, teknologi, inovasi serta kebijakan yang padu.

Modal intelektual dapat bermanfaat melalui tiga perspektif,  yaitu:  manusia,  struktural,  dan  relasi.  Manfaat  knowledge  dalam  perspektif manusia adalah implicit knowledge yang mencakup skill (kompetensi dan keahlian seseorang dalam suatu bidang khusus) dan attitude(kejujuran, tanggung jawab, visioner,  disiplin,  kooperatif,  ulet  dan  tidak  mudah  menyerah).  Manfaat knowledge   dalam   perspektif   struktural   berupa   explicit   knowledge   yang menunjukkan  proses (sistem  kerja,  manajemen,  korporat,  komputerisasi  dan enterprising  ) serta budaya yang menjunjung tinggi etika. Manfaat knowledge management  dalam  perspektif  relasi  adalah  meningkatkan  kerjasama  antar jaringan, reputasi (pengakuan), dan customer capital (mengkomunikasikan ilmu pengetahuan dengan baik melalui lembaga pendidikan, birokrat, dan industri).

·         Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management)

Knowledge  Management  adalah  merupakan  proses  sistematis  untuk menemukan, memilih, mengelola, menyaring dan menyajikan informasi dalam suatu  cara  yang  dapat  meningkatkan  pengetahuan  individu  dalam  suatu lingkungan. Knowledge management memungkinkan penciptaan,pencapaian dan penggunaan segala macam knowledge untuk mencapai tujuan bisnis.

Knowledge Management adalah pengelolaan pengetahuan organisasi untuk menciptakan nilai dan menghasilkan keunggulan bersaing atau kinerja prima. Melalui knowledge management, organisasi mengidentifikasikan pengetahuannya, lantas memanfaatkannya guna meningkatkan kinerja dan menghasilkan berbagai inovasi. Guna memperoleh knowledge management sebesar-besarnya, organisasi juga aktif mengidentifikasi dan mengakuisisi pengetahuan berkualitas yang ada di lingkungan eksternal organisasi.

Knowledge  management  dikelompokkan  ke  dalam  empat  arahan  yaitu pertama, sebagai pemrosesan informasi organisasi  (organizational information processing);  kedua,  inteligen  bisnis (business  intelligence);  ketiga,  kognisi organisasi (organizational cognition), dan keempat, pengembangan perusahaan (organizational development).

Peranan   knowledge   management   dapat   dilihat   dari   penggunaan pengetahuan  sebagai  basis  melahirkan  inovasi  juga  landasan  meningkatkan responsivitas  terhadap  kebutuhan  pelanggan  dan  stakeholders.  Selain  itu, pengetahuan juga menjadi basis yang meningkatkan produktivitas dan kompetensi karyawan  yang  telah  diberi  tanggung  jawab.  Secara  generik,  knowledge management dapat dipahami melalui aktivitasnya, yakni mengembangkan dan mempertahankan dinamika serta daya saing perusahaan yang bertumpu kepada sumber daya pengetahuan (knowledge assets). Jadi, sebenarnya, faktor intrinsik perbedaan kinerja antara perusahaan tadi adalah pengetahuan.

Para  pelaku  knowledge  management  cenderung  menggunakan  metode dalam menganalisis suatu proses, keadaan, dan aktivitas bisnis, di mana dalam proses analisis tersebut terdapat siklus atau aliran pengetahuan (knowledge flow). Pada akhirnya, mengatur suatu pengetahuan adalah suatu kebiasaan atau habit yang perlu ditumbuhkan.

 

@HarvardBiz Mindfulness Helps You Become a Better Leader

HBR Blog Network / HBS Faculty

Mindfulness Helps You Become a Better Leader

Ever since the financial crisis of 2008, I have sensed from many leaders that they want to do a better job of leading in accordance with their personal values. The crisis exposed the fallacies of measuring success in monetary terms and left many leaders with a deep feeling of unease that they were being pulled away from what I call their True North.

As markets rose and bonus pools grew, it was all too easy to celebrate the rising tide of wealth without examining the process that created it. Too many leaders placed self-interest ahead of their organizations’ interests, and ended up disappointing the customers, employees, and shareholders who had trusted them. I often advise emerging leaders, “You know you’re in trouble when you start to judge your self-worth by your net worth.” Nevertheless, many leaders get caught up in this game without realizing it.

This happened to me in 1988, when I was an executive vice president at Honeywell, en route to the top. By external standards I was highly successful, but inside I was deeply unhappy. I had begun to focus too much on impressing other people and positioning myself to become CEO. I was caught up with external measures of success instead of looking inward to measure my success as a human and a leader. I was losing my way.

My colleague, Harvard Professor Clayton Christensen, addressed this topic in his HBR article, How Will You Measure Your Life? Clay observed that few people, if any, intend at the outset of their career to behave dishonestly and hurt others. Early on, even Bernie Madoff and Enron’s Jeff Skilling planned to live honest lives. But then, Christensen says, they started making exceptions to the rules “just this once.”

At Harvard Business School, we are challenging students to think hard about their definition of success and what’s important in their lives. Instead of viewing success as reaching a certain position or achieving a certain net worth, we encourage these future leaders to see success as making a positive difference in the lives of their colleagues, their organizations, their families, and society as a whole. The course that I created in 2005, Authentic Leadership Development (ALD), has become one of the most popular elective MBA courses, thanks to my HBS colleagues who are currently teaching it. It enables second-year MBAs to ground their careers in their beliefs, values, and principles, following the authentic leadership process described in my 2007 book, True North. More recently, ALD has become a very popular course for executives of global companies.

With all the near-term pressures in today’s society, especially in business, it is very difficult to find the right equilibrium between achieving our long-term goals and short-term financial metrics. As you take on greater leadership responsibilities, the key is to stay grounded and authentic, face new challenges with humility, and balance professional success with more important but less easily quantified measures of personal success. That is much easier said than done.

The practice of mindful leadership gives you tools to measure and manage your life as you’re living it. It teaches you to pay attention to the present moment, recognizing your feelings and emotions and keeping them under control, especially when faced with highly stressful situations. When you are mindful, you’re aware of your presence and the ways you impact other people. You’re able to both observe and participate in each moment, while recognizing the implications of your actions for the longer term. And that prevents you from slipping into a life that pulls you away from your values.

I don’t use the word “practice” lightly. In order to gain awareness and clarity about the present moment, you must be able to quiet your mind. That is tremendously difficult and takes a lifetime of practice. In 2012, I had the privilege of presenting my ideas on authentic leadership to his Holiness the Dalai Lama. When I asked him what it took to become an authentic leader, he replied, “You must have practices that you engage in every day.”

My most important introspective practice is mediation, something I try to do for twenty minutes twice a day. In 1975 I went with my wife Penny to a Transcendental Meditation (TM) Workshop. Although I never adopted the spiritual portion of TM, the physical practice became an integral part of my daily routine. Meditation has been a godsend for me. As an active leader who has held highly stressful roles since my mid-twenties, I was diagnosed with high blood pressure in my early thirties. When I started meditating, I was able to stay calmer and more focused in my leadership, without losing the “edge” that I believed had made me successful. Meditation enabled me to cast off the many trivial worries that once possessed me and gain clarity about what was really important. I gradually became more self-aware and more sensitive to the impact I was having on others. Just as important, my blood pressure returned to normal and stayed there.

In recent years, medical studies have found evidence of meditation’s many benefits, includingprotecting against health problems from high blood pressure and arthritis to infertilityreducing stress, improving attention and sensory processing; and physically altering parts of the brain associated with learning and memory, emotional regulation, and perspective-taking — critical cognitive skills for leaders attempting to maintain their equilibrium under constant pressure.

While many CEOs and companies are embracing meditation, it may not be for everyone. The important thing is to have a set time each day to pull back from the intense pressures of leadership to reflect on what is happening. In addition to meditation, I know leaders who take time for daily journaling, prayer, and reflecting while walking, hiking or jogging. I also find it extremely helpful to share the day’s events with Penny and seek her counsel.

Regardless of the daily introspective practice you choose, the pursuit of mindful leadership will help you achieve clarity about what is important to you and a deeper understanding of the world around you. Mindfulness will help you clear away the trivia and needless worries about unimportant things, nurture passion for your work and compassion for others, and develop the ability to empower the people in your organization.

More blog posts by Bill George
Bill George

BILL GEORGE

Bill George is professor of management practice at Harvard Business School and former chair and CEO of Medtronic.

Applied Networking: Mobile Device sebagai NMS ( Network Management System )

 

 

TUGAS APPLIED NETWORKING 4

Untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Applied Networking 4

“Mobile Device sebagai NMS ( Network Management System )”

Disusun oleh : 

06060   – Hilman

0607037 – Bobby Febiantoro

06070   – Ruhman Suherman

0607053 – Derri Rana Septiana

0607024 – Heru Prabowo


Laboratorium Network Engineering

Teknik Informatika Universitas Widyatama

Bandung

 

MOBILE DEVICE SEBAGAI NMS ( Network Management System)

Pengertian dari Device Mobile

Mobile Device (juga dikenal dengan istilah cellphone, handheld device, handheld computer, ”Palmtop”, atau secara sederhana disebut dengan handheld) adalah alat penghitung (computing device) yang berukuran saku, ciri khasnya mempunyai layar tampilan (display screen) dengan layar sentuh atau keyboard mini.

MACAM-MACAM MOBILE DEVICE
Mobile Computers :
• Notebook PC
• Ultra-Mobile PC
• Handheld PC
• Personal Digital Assistant/ Enterprise Digital Assistant
• Graphing Calculator
• Pocket Computer

Pengertian dari NMS ( Network Manajemen Sistem)

Definisi normal NMS adalah “Network Management System”.

Sebuah NMS mengelola Elemen Jaringan. Unsur-unsur atau perangkat yang dikelola oleh, NMS sehingga perangkat ini digunakan untuk memanggil sebagai perangkat dikelola. Perangkat manajemen mencakup Kesalahan, Akuntansi, Konfigurasi, Kinerja, dan Keamanan (Fault, Configuration, Accounting, Performance, Security/FCAPS) manajemen. Masing-masing lima fungsi khusus untuk organisasi, tetapi ide dasar untuk mengelola perangkat ini FCAPS.

Sejak berkembangnya Internet dan teknologi komputer, baik perangkatkeras (hardware) maupun perangkat lunak (software) peningkatan penggunaan komputer untuk membantu aktifitas pekerjaan semakin tinggi.Hal ini bertujuan  untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam menyelesaikan pekerjaan. Sistem Operasi yang berkembang mampu mendukung suatu sistem komputer yang saling terhubung, baik komputer pribadi (PC) maupun Server dalam sebuah jaringan LAN (Local Area Network) hingga WAN (Wide Area Network).

Pengembangan sistem jaringan komputer ini memiliki tujuan sebagai berikut:

  • Sistem jaringan komputer mampu bertindak sebagai media komunikasi yang baik bagi para pegawai yang terpisah jauh.
  • Mempercepat tersebarnya informasi yang dibutuhkan dalam lingkungan sub-sistem pemerintahan Kabupaten Parigi Moutong.
  • Menurunkan penyediaan perangkat keras yang berlebihan dengan cara melakukan sharing terhadap perangkat keras tersebut (misalnya : sharing printer).
  • Meningkatkan skalabilitas yaitu kemampuan untuk meningkatkan kinerja sistem secara berangsur-angsur sesuai dengan beban pekerjaan.

Secara umum jaringan komputer dibagi atas lima jenis :

  • Local Area Network (LAN)

Local Area Network (LAN), merupakan jaringan lokal di dalam sebuah gedung yang mampu menjangkau radius beberapa ratus meter. LAN digunakan untuk menghubungkan komputer (workstation) dalam kantor dan memakai bersama sumberdaya (resource), misalnya printer dan saling bertukar informasi. 

  • Metropolitan Area Network (MAN)

Metropolitan Area Network (MAN), pada dasarnya merupakan versi LAN yang lebih besar dan biasanya menggunakan teknologi yang sama dengan LAN. MAN dapat mencakup kantor yang letaknya berdekatan atau juga sebuah kota dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan pribadi atau umum.

  • Wide Area Network (WAN)

Wide Area Network (WAN), jangkauannya mencakup daerah geografis yang luas, seringkali mencakup sebuah negara bahkan benua. WAN terdiri dari kumpulan peralatan (router) sebagai node node penghubung untuk bisa saling berkomunikasi.

  • Internet

Jaringan interkoneksi dimana semua komputer atau antar jaringan dapat terhubung melalui media penyedia jasa ISP (Internet Service Provider). Sebagai media penghubung diperlukan gateway dari masing-masing jaringan tersebut. Kumpulan jaringan yang terinterkoneksi inilah yang disebut dengan internet.

  • Jaringan Tanpa Kabel

Jaringan tanpa kabel merupakan suatu solusi terhadap komunikasi yang tidak bisa dilakukan dengan jaringan yang menggunakan kabel. Misalnya orang yang ingin mendapat informasi atau melakukan komunikasi walaupun sedang berada diatas kendaraan atau di luar kantor (mobile), maka mutlak jaringan tanpa kabel diperlukan. Saat ini jaringan tanpa kabel sudah marak digunakan dengan memanfaatkan jasa satelit dan mampu memberikan kecepatan akses yang lebih cepat dibandingkan dengan jaringan yang menggunakan kabel.

Masing-masing lima fungsi khusus untuk organisasi, tetapi ide dasar untuk mengelola perangkat ini FCAPS.

  1. FCAPS Faults
    Yaitu setiap sebuah infrastruktur terjadi kegagalan, harus muncul sebuah event, yaitu alarm.
  2. Configuration
    Dibagi menjadi 2
    1. Inventorying
      yaitu untuk mengetahui konfigurasi dari perangkat-perangkat yang ada. Misalnya sebuah network, bisa diketahui berapa banyak wireless point, komputer, router yang ada dalam perangkat tersebut, sekaligus konfigurasi seperti IP, dll
    2. Provisioning
      Yaitu apa yang kita bisa lakukan untuk mengkonfigurasi perangkat tersebut. Misal kita punya 10 switch. Apabila harus satu persatu didatangi dan dikonfigurasi, menyulitkan. Dengan ini kita dapat melakukannya langsung dari server
  3. Accountance
    Yaitu charging. Aspek ini akan diangkat kedalam BSS. Ini akan digunakan oleh BSS untuk mengetahui charging dari sebuah perangkat. Misalnya koneksi GPRS. Dengan ini bisa dicatat berapa banyak traffic yang sudah dilakukan, untuk kemudian dibuat billingnya.
  4. Performance
    Dibagi kedalam 2 kelompok, yaitu :
    1. Reliability dan Availability
      menyangkut uptime dan downtime dari perangkat
    2. Usage
      menyangkut okupansi dari perangkat tersebut. Contoh sebuah router maksimum 512 Kbps. Maka harus diketahui bahwa kebutuhannya sebenarnya berapa. Cukupkah? banyak yang terbuangkah? Maka kita harus memetakan. Apakah dengan kondisi sekarang perangkat masih sanggup, atau perlu di cluster, atau di update. Misalnya lagi server. Dapat kita ketahui sudah perlukah server tersebut diupdate, dll
  5. Security
    Ada 2 aspek, yaitu preventif dan korektif. Preventif seperti penggunaan login, enkripsi, password, dll. Misalnya sebuah router, bisa di binding IP berapa yang hanya bisa login ke router tersebut.

Pada tingkat F, masalah jaringan yang ditemukan dan diperbaiki. masalah di masa depan Potensi diidentifikasi, dan langkah-langkah yang diambil untuk mencegah mereka dari terjadi atau berulang.Dengan cara ini, jaringan disimpan operasional, dan downtime diminimalkan.

Pada tingkat C, operasi jaringan dimonitor dan dikontrol. Hardware dan perubahan program, termasuk penambahan peralatan baru dan program, modifikasi sistem yang ada, dan penghapusan sistem usang dan program, dikoordinasikan Inventarisasi peralatan dan program disimpan dan diperbarui secara teratur.

Tingkat A, yang juga bisa disebut tingkat alokasi, dikhususkan untuk mendistribusikan sumber daya secara optimal dan adil di antara pelanggan jaringan. Hal ini membuat penggunaan paling efektif dari sistem yang tersedia, meminimalkan biaya operasi. Tingkat ini juga bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pengguna ditagih tepat.

Tingkat P terlibat dengan mengelola keseluruhan kinerja jaringan. Throughput dimaksimalkan, bottleneck s dihindari, dan potensi masalah diidentifikasi. Sebagian besar dari upaya ini adalah untuk mengidentifikasi perbaikan akan menghasilkan peningkatan kinerja terbesar secara keseluruhan.

Pada tingkat S, jaringan dilindungi terhadap hacker s, pengguna tidak sah, dan atau elektronik sabotase fisik. Kerahasiaan informasi pengguna dipertahankan bila perlu atau diperlukan. Sistem keamanan juga memungkinkan administrator jaringan untuk mengontrol apa yang berwenang setiap pengguna individu dapat (dan tidak bisa) dilakukan dengan sistem.

Sistem NMS menggunakan berbagai protokol untuk tujuan yang mereka layani. Sebagai contoh, SNMP protokol memungkinkan mereka untuk hanya mengumpulkan informasi dari berbagai perangkat ke jaringan hirarki. NMS perangkat lunak bertanggung jawab untuk identifikasi masalah, sumber yang tepat (s) masalah, dan memecahkan masalah tersebut. sistem NMS tidak hanya bertanggung jawab untuk mendeteksi kesalahan, tetapi juga untuk mengumpulkan statistik perangkat selama periode waktu. Sebuah NMS mungkin termasuk perpustakaan statistik jaringan sebelumnya bersama dengan masalah dan solusi yang berhasil di masa lalu terulang jika kesalahan-berguna. Software NMS kemudian dapat mencari perpustakaan untuk metode terbaik untuk menyelesaikan masalah tertentu.

SNMP

SNMP (Simple Network Management Protocol) berawal dari kebutuhan terhadap suatu alat untuk mengadministrasi atau mengelola (manage) jaringan TCP/IP. Untuk itu perlu standarisasi protokol yang berfungsi untuk mengelola jaringan. Protokol yang didesain untuk itu kemudian dibuat diantaranya adalah SNMP dan CSMIE/CMP (Common Management Information Service Element / Common Management Information).

CMOT (Common Management Information Services and Protocol over TCP/IP) juga dibuat oleh OSI untuk keperluan yang sama. Cepatnya proses standarisasi SNMP oleh IETF dibanding CMOT yang dibuat OSI serta karena SNMP lebih sederhana membuat SNMP lebih cepat digunakan oleh publik.

Sebelumnya SNMP bernama SGMP (Simple Gateway Monitoring Protocol) yang didefinisikan pada RFC 1028 dan telah digunakan untuk monitoring gateway atau router.

SNMP dibuat berawal dari kebutuhan yang didefinisikan pada RFC 1052 (IAB Recommendations for the Development of Internet Network Management Standards). Setelah itu, tahun 1998 beberapa RFC mengenai SNMP dipublikasikan, yaitu:

  • RFC 1065 – Structure and Identification of Management Information for TCP/IP-based internets
  • RFC 1066 – Management Information Base for Network Management of TCP/IP-based internets
  • RFC 1067 – A Simple Network Management Protocol

Setelah mengalami beberapa perubahan, barulah muncul standar SNMP versi 1 yang lengkap pada tahun 1991 dengan beberapa RFC berikut:

  • RFC 1155 – Structure and Identification of Management Information for TCP/IP-based Internets
  • RFC 1212 – Concise MIB Definitions
  • RFC 1213 – Management Information Base for Network Management of TCP/IP-based internets: MIB-II
  • RFC 1157 – Simple Network Management Protocol (SNMP)

April 1993, SNMP versi 2 menjadi standar dengan perubahan utama pada penambahan fitur baru yaitu keamanan dan otentifikasi. SNMP versi 2 tidak kompatibel dengan versi 1 karena SNMP v2 message memiliki header dan format PDU yang berbeda serta menggunakan 2 operasi protokol yang tidak dispesifikasikan pada versi sebelumnya.

  • RFC 1902 – MIB Structure
  • RFC 1903 – Textual Conventions
  • RFC 1904 – Conformance Statements
  • RFC 1905 – Protocol Operations
  • RFC 1906 – Transport Mappings
  • RFC 1907 – MIB
  • RFC 1908 – Coexistence between Version 1 and Version 2

Tahun 1997 SNMP versi 3 mulai dibuat dan pada tahun 2002 menjadi full Internet standard. Dibanding versi sebelumnya, SNMP V3 memiliki fitur-fitur berikut:

– keamanan yang lebih baik dengan enkripsi dan access control,
– pengembangan remote configuration,
– privacy & message integrity

  • RFC 3410 – Intoduction to Network Management Frameworks v3
  • RFC 3411 – An Architecture for Describing SNMP Management Frameworks
  • RFC 3412 – Message Processing and Dispatching
  • RFC 3413 – SNMP Applications
  • RFC 3414 – User-based Security Model (USM)
  • RFC 3415 – View-based Access Control Model (VACM)
  • RFC 3416 – Protocol Operations
  • RFC 3417 – Transport Mappings
  • RFC 3418 – MIB

Arsitektur SNMP

Gambar berikut memperlihatkan bagaimana SNMP digunakan sebagai protokol element management:

Managed device yaitu elemen yang dimonitor atau di-manage oleh NMS. Managed device dapat berupa elemen jaringan seperti router, hub, switch maupun komputer.

Agent adalah program atau software module yang berjalan di setiap elemen yang di monitor yang mengetahui informasi yang harus di-manage dan mentranslasikan informasi tersebut menjadi informasi yang kompatibel dengan SNMP atau dapat dikirimkan ke NMS melalui SNMP.
  

 Manager atau NMS (Network-Management Station) adalah elemen yang menjalankan program untuk memonitor dan mengontrol managed device. NMS bisa mendapatkan langsung informasi dari agent misalnya informasi trap (alarm) atau meminta informasi dari agent.

Management Information
Management Information Base (MIB) adalah koleksi informasi yang diorganisasi dalam bentuk hirarki. Sebuah file MIB adalah sebuah teks file dalam format ASN.1 yang merepresentasikan struktur hirarki dari informasi yang dapat diperoleh dari sebuah aplikasi atau sistem.

Managed object atau MIB object adalah sebuah atau beberapa karakteristik pada sebuah managed device misalnya beban CPU, besar memory yang digunakan. MIB pada dasarnya merupakan hirarki dari managed object.

Object identifier atau Obejct ID (OID) digunakan sebagai indentifikasi yang unik untuk setiap managed object yang ada dalam hirarki MIB. OID dapat direprensentasikan dalam sebuah nama misalnya .iso.org.dod.internet.mgmt.mib-2.interfaces.ifnumber atau nomor yang disebut sebagai object descriptor, misalnya .1.3.6.1.2.1.2.1

Sebuah managed object sebagai contoh ifnumber (number of interface) adalah sebuah ide abstrak, sedangkan representasi real dari informasi itu disebut dengan “instance” yang memiliki nilai dari object tersebut. Misalnya instance dari ifnumber adalah ifnumber.0 yang memiliki nilai 3 yang berarti sistem memiliki 3 network interface. Untuk mendapatkan nilai instance tersebut, NMS harus meminta informasi dengan mendefinisikan OID yaitu .1.3.6.1.2.1.2.1.0 (OID dari object ifnumber dengan ditambahkan .0 dibelakangnya).

Ada dua macam managed object, yaitu:

  • Scalar object yaitu sebuah object instance contohnya ifnumber
  • Tabular object yaitu beberapa object instance yang saling berelasi. Sebagai contoh object ifDescr yang merupakan informasi deskripsi dari masing-masing network interface akan memiliki 3 nilai yang berbeda jika jumlah network interface ada 3, misalnya:
    ifDescr.1 = “lo0”
    ifDescr.2 = “ce1”
    ifDescr.3 = “ce2”

Suatu managed object ada yang hanya bisa dibaca dan ada pula yang bisa diset nilainya.

Karena pada awalnya SNMP didesain untuk me-manage jaringan TCP/IP, maka versi pertama MIB memiliki informasi yang spesifik untuk TCP/IP yaitu:

  • Deskripsi dari sistem
  • Jumlah dari networking interfaces yang dimiliki sebuah elemen (Ethernet adapters, serial ports ..)
  • Alamat IP address untuk setiap network interface
  • Jumlah (counts) dari paket atau datagram yang masuk (incoming) dan keluar (outgoing)
  • Tabel informasi tentang koneksi TCP yang aktif

Sebuah perusahaan atau vendor dapat membuat sendiri cabang (branch) dalam struktur MIB yang disebut sebagai private MIB. Cabang tersebut berada dibawah object. iso. org. dod. internet. private. enterprise. dan harus didaftarkan ke IANA        .

 

Selain  protokol  SNMP  digunakan  jg Protokol  CMIP, CMIP yaitu Protokol standar manajemen untuk elemen telekomunikasi. Protokol yang telah menjadi standar untuk jaringan telekomunikasi adalah Common Management Information Protocol (CMIP) yang dibuat oleh ISO yang kemudian diadopsi sebagai standar oleh organisasi telekomunikasi dunia ITU-T yang dispesifikasikan pada recommendation series X.700. Konsep CMIP hampir sama dengan SNMP tetapi CMIP memiliki lebih banyak fitur seperti authorization, access control,reporting yang lebih flexible, mendukung segala jenis tipe action. 3GPP, organisasi yang membuat standarisasi untuk jaringan GSM/UMTS/IMS/LTE juga menggunakan CMIP sebagai protokol manajemen jaringan (Lihat beberapa spesifikasi tentang Solution Set untuk Integration Reference Point pada seri 32).

Walaupun CMIP merupakan standar protokol yang diratifikasi oleh banyak organisasi telekomunikasi berkelas global tetapi pada kenyataannya SNMP masih lebih sering digunakan di jaringan operator.

Protokol lain yang didesain untuk manajemen jaringan misalnya:

Selain protokol-protokol tersebut kadang vendor juga menggunakan protokol sendiri atau menggunakan protokol yang umum seperti CORBA, HTTP.

NMS perlu mengeluarkan alarm Fault, menggenerate report, menggunakan security, melakukan konfigurasi, melakukan akunting, mengetahui performansi. Namun ini adalah kondisi ideal. Terkadang tidak semua aspek ini diperlukan. Jadi disesuaikan saja. Misalnya sebuah sensor suhu sebuah komputer, tentu tidak bisa dilakukan konfigurasi untuk suhu. Namun bisa disesuaikan bila suhu telah mencapai batas aman tertentu, maka diberikan alarm Fault. Dan disini juga tidak memerlukan report akunting. Paling hanya performansi tentang uptime dan downtime dari komputer tersebut.

Ini adalah dasar dari sebuah OSS. Setiap OSS yang sudah besar dan tampak rumit, sebenarnya hanya terdiri dari FCAPS ini saja.

Kesimpulan dari Mobile Device Menggunakan Network Manajemen Sistem (NMS), Yaitu  NMS merupakan Elemen Jaringan yg terdapat pd Mobile Device baik pd handphone maupun notebook yg berfungsi  untuk memanggil sebagai perangkat dikelola. 

Pendapat Kelompok 

Bobby Febiantoro :

Kelebihan :

Mobile device itu bagus,karena mobile device merupakan perkembangan dari kemajuan teknologi saat ini pada dunia teleomunikasi,yang dapat memudahkan dalam membuat suatu koneksi jaringan yang luas secara relasi maupun mobile sehingga dapat memudahkan para pengguna untuk beraktifitas secara instans dan menghemat waktu

Kekurangan :

Dari sisi kekurangan , terkadang dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat itu sendiri membuat efek kecanduan terhadap manusia sehingga memakan waktu dan terkadang tidak bisa membagi waktu dengan rutinitas lainnya.

Deri Rana Seftiana :

Kelebihan :

Mobile devie sangat membuat kita lebih nyaman dalam beraktifitas dalam berhubungan via internet, Karena dengan mobile device kita dapat mengakses data hanya menggunakan mobile tidak perlu memerlukan PC atau laptop

Kekurangan:

Menrut saya kekurangan nya terdapat pada harga dari mobile device yang sangat tinggi

Heru Prabowo :

Mobile device merupakan network management system jaringan untuk berkomunikasi  

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/4JudKacFj4w” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Forum Knowledge Management Society Indonesia (KMSI): Mendapatkan Keunggulan dengan Pengetahuan

“Aset paling berharga yang dimiliki oleh sebuah perusahaan adalah pengetahuan. Kemampuan untuk menciptakan dan berbagi pengetahuan akan menjadi factor #1 penentu kesuksesan di abad mendatang.” – Manajer sebuah perusahaan otomotif di AS

Hal itulah yang saya  dapat saat mengikuti  Acara Forum Knowledge Management Society Indonesia (KMSI) sbb:

Hari/Tanggal    : Kamis, 16 Februari 2012

Waktu                   : Pkl 09.00 – 15.15 WIB
Tempat                 : PT Telkom, 
Jl. Japati No. 1 Bandung, Ruang Infocom GKP TELKOM Lt. 8

Agenda Acara

Waktu 

Agenda 

PIC 

09.00 – 09.15

Registrasi

Panitia

09.15 – 09.45

Sambutan dari Direktur HCGA TELKOM

Bapak Faisal Syam *

09.45 – 10.00

Sambutan dari KMSI

Prof. Jann Hidajat (Presiden of KMSI)

10..00 – 10.30

Break

Acoustic Play

10.30 – 11.15

Implementasi Knowledge Management di Telkom

VP BPE PT. Telkom

11.45 – 12.00

KAMPIUM sebagai Knowledge Repository

AVP KM dan Tim PT. Telkom

12.00 – 13.00

ISOMA

13.00 – 15.00

Sharing Knowledge Map

1.     The Ecosistem of Knowledge Assesment for Knowledge Audit and Mapping

2.     Metodologi pengembangan Knowledge-Map

1.     M. Santo (founder Mobeeknowledge)

2.     Moh. Haitan Rachman (VP KMSI program)

15.00 – 15.15

Penutup

Prof. Jann Hidajat (Presiden of KMSI)

Banyak perusahaan yang punya kepedulian besar terhadap “Knowledge Management” (Manajemen Pengetahuan) untuk Mendapatkan Keunggulan dengan Pengetahuan. Diantaranya adalah Telkom, Pertamina, PLN, Pos Indonesia dan masih banyak BUMN dan perusahaan di Indonesia yang memahami, melaksanakan dang mengevaluasi “Knowledge Management” di Perusahaannya.

Mereka menyadari pernyataan Peter Drucker pada tahun 1995 bahwa “pengetahuan telah menjadi sumber daya ekonomi utama dan sumber paling dominan untuk unggul dalam persaingan telah menunjukkan pentingnya memperhatikan pengetahuan dengan serius.” Dalam buku “Mendapatkan Keunggulan dengan Pengetahuan” karangan Rudy Ruggles dari “The Ernst & Young Center for Business Innovation”, serta Dan Holtshouse dari “Xerox Corporation” memperlihatkan arti dan kebijaksanaan sebenarnya dari memperoleh keunggulan kompetitif dengan pengetahuan.  Buku ini juga memaparkan beberapa pandangan tentang sejarah pengelolaan pengetahuan dan merefleksikan sejarah itu melalui kacamata keunggulan dengan pengetahuan.

Sejarah Singkat Pengelolaan (Manajemen) Pengetahuan

Telah ada beberapa karya tentang pengelolaan pengetahuan, termasuk The Knowledge-Creating Company (Perusahaan Pencipta Pengetahuan) karya Ikujiro Nonaka dan Hirota Takeuchi, tulisan-tulisan Tom Stewart dalam majalah Fortune tentang kekuatan otak dan modal intelektual dan bukunya yang berjudul Intellectual Capital (Modal Intelektual), selain itu ada Fifth Discipline (Ilmu/Disiplin Kelima) karya Peter Senge, yang mengangkat istilah “learning organization” menjadi pembicaraan umum di bidang bisnis.

Pengelolaan pengetahuan, sebagian berakar dari adanya sistem kecerdasan dan keahlian buatan.  Di tahun 1960an dan 1970an, orang mengira bahwa computer akan menyimpan pengetahua untuk kita, tetapi ternyata pengetahuan masih tersimpan dalam otak manusia.

Di akhir tahun 1980an, terjadi pengurangan jumlah pekerja sehingga perusahaan-perusahaan harus memikirkan cara baru memindahkan pengetahuan.  Pemberhentian karyawan tingkat menengah mengakibatkan hilangnya sumber pengetahuan (pengalaman yang dimiliki karyawan).  

Bersamaan dengan itu, rekayasa ulang proses bisnis berusaha menangkap pengetahuan yang berhubungan dengan proses, tetapi ada kelemahannya yaitu hanya meperhatikan pengetahuan yang eksplisit.  Usaha-usaha tersebut, dan ditambah dengan Total Quality Control dan ISO, mendorong berbagai organisasi untuk mengungkapkan dengan jelas apa yang me
reka ketahui dan lakukan.

Pengaruh-pengaruh lain berasal dari Leif Edvinsson yang menulis tentang modal intelektual, dan Margaret Wheatley yang menulis tentang kepemimpinan dan sains baru. Selain itu, munculnya internet menjadi kultur populer, dan dibantu oleh berbagai browser, memungkinkan semua orang di dalam dan diluar organisasi untuk mengakses data dan informasi dalam jumlah besar.

Sekarang, perusahaan-perusaan dengan masalah yang lebih besar, yang melibatkan lebih banyak orang.  Sayangnya, jumlah pekerja ahli tidak banyak. Selain itu perusahaan-perusahaan juga memiliki masalah dalam mengambil pengetahuan yang dimiliki oleh karyawan senior dan berpengalaman sebelum mereka pensiun.

Model bisnis secara keseluruhan telah berubah. Sekitar tahun 1980an, orang-orang mulai dimasukkan ke dalam kelompok-kelomppok kerja, dan kelompok bisa menentukan cara melakukan pekerjaan mereka sendiri.  Agar bisa melakukan hal ini, mereka memerlukan informasi yang lengkap, dan mereka membutuhkannya dengan cepat.  Terdapat sebuah siklus yang menarik, kita dihadapkan dengan berbagai ekspektasi kerja, kemudian teknologi dikembangkan untuk mendukung berbagai gaya kerja, yang kemudian memungkinkan bertambahnya ekspektasi kerja.  Saat ini, teknologi membukakan berbagai pintu bagi semua orang untuk mendapatkan pengetahuan dan menerapkannya.  Pengetahuan diakui sebagai alat yang bisa digunakan oleh semua orang.

Perkembangan Saat Ini

Dalam beberapa tahu terakhir, terjadi perubahan besar dalam lingkungan bisnis umum, yang kemudian meningkatkan kebutuhan akan pengelolaan pengetahuan yang lebih aktif daripada sebelumnya. Sekarang kita akan membahas lingkungan di mana pengelolaan pengetahuan diterapkan.

Buku karya Chris Meyer dan Stan Davis berjudul “BLUR” menyiratkan bahwa: “kerja pikiran mulai mengungguli kerja otot dalam kaitannya dengan nilai dalam ekonomi global”.  George Gilder dalam buku “Microcosm” menyatakan:  “Kejadian utama pada abad keduapuluh adalah jatuhnya nilai materi.  Dalam hal teknologi, ekonomi, dan politik, nilai dan signifikansi kekayaan dalam bentuk fisik akan terus berkurang.  Kekuatan pikiran akan muncul di mana-mana dan mengungguli kekuatan fisik.”  Pengetahuan diterapkan untuk menciptakan nilai dengan lebih efektif.  Selain itu, koneksi elektronik memungkinkan kita mempertemukan orang-orang yang jaraknya jauh untuk mencipta dan berbagi ide, yang merupakan hal penting bagi industri dan perusahaan.

Jadi, pengetahuan adalah produk dari lingkungan.  Pengetahuan adalah respon organisasional terhadap perubahan.  Dulu, sumberdaya yang patut dikelola dengan efektif adalah lahan, pekerja, dan modal uang, sekarang aset yang lebih berharga adalah modal pengetahuan.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=TYnDxCaJ-ys?feature=player_embedded&w=600&h=400]

Djadja Sardjana Life as Professional

professional (as recite from Wiki) is a member of a vocation founded upon specialized educational training. Examples of professions include: medicinelawengineering and social work. The word professional traditionally means a person who has obtained a degree in a professional field. The term is used more generally to denote a white collar worker, or a person who performs commercially in a field typically reserved for hobbyists or amateurs.

In western nations, such as the United States, the term commonly describes highly educated, mostly salaried workers, who enjoy considerable work autonomy, a comfortable salary, and are commonly engaged in creative and intellectually challenging work.[1][2][3][4] Less technically, it may also refer to a person having impressive competence in a particular activity.[5]

Because of the personal and confidential nature of many professional services and thus the necessity to place a great deal of trust in them, most professionals are held up to strict ethical and moral regulations.

Definition

Main criteria for professional include the following:

  1. Expert and specialized knowledge in field which one is practicing professionally.[6]
  2. Excellent manual/practical and literary skills in relation to profession.[7]
  3. High quality work in (examples): creations, products, services, presentations, consultancy, primary/other research, administrative, marketing or other work endeavors.
  4. A high standard of professional ethics, behavior and work activities while carrying out one’s profession (as an employee, self-employed person, career, enterprise, business, company, or partnership/associate/colleague, etc.). The professional owes a higher duty to a client, often a privilege of confidentiality, as well as a duty not to abandon the client just because he or she may not be able to pay or remunerate the professional. Often the professional is required to put the interest of the client ahead of his own interests.
  5. Reasonable work morale and motivation. Having interest and desire to do a job well as holding positive attitude towards the profession are important elements in attaining a high level of professionalism.
  6. Participating for gain or livelihood in an activity or field of endeavor often engaged in by amateurs b : having a particular profession as a permanent career c : engaged in by persons receiving financial return[6]
  7. Appropriate treatment of relationships with colleagues. Special respect should be demonstrated to special people and interns. An example must be set to perpetuate the attitude of one’s business without doing it harm.
  8. A professional is an expert who is master in a specific field.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=nc7oX71IGZM&w=640&h=390]

You also can see the long version below:

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=dYC6lqapKLI&w=640&h=510]

References

  1. ^ Gilbert, D. (1998). The American class structure: In an age of growing inequality. Belmont, CA: Wadsworth Press.
  2. ^ Beeghley, L. (2004). The structure of social stratification in the United States. Boston: Allyn & Bacon.
  3. ^ Eichar, D. (1989). Occupation and Class Consciousness in America. Westport, CT: Greenwood Press. ISBN 978-0-313-26111-4
  4. ^ Ehrenreich, B. (1989). Fear of falling: The inner life of the middle class. New York: Harper Prennial.
  5. ^ definition of professional from Oxford Dictionaries Online. Askoxford.com. Retrieved on 2011-01-29.
  6. a b Professional – Definition and More from the Free Merriam-Webster Dictionary. Merriam-webster.com (2010-08-13). Retrieved on 2011-01-29.
  7. ^ Professional | Define Professio
    nal at Dictionary.com
    . Dictionary.reference.com. Retrieved on 2011-01-29.

 

Managing Telecommunication Project

Project Management Knowledge Areas

Project Management Knowledge Areas

Project Management Definition:  

Project management is the discipline of planning, organizing, planning, organizing, and managing resources to bring about the successful completion of specific project goals and objectives.

Source: David I. Cleland, Roland Gareis (2006). Global project management handbook. McGraw-Hill Professional, 2006

Project Management Scope

A project is a temporary endeavor, having endeavor, a defined beginning and end (usually constrained by date), but can be by funding or deliverables, undertaken to meet particular goals and objectives, usually to objectives, bring about beneficial change or added value

Source: 1. Chatfield, Carl. “A short course in project management”~Microsoft. 2. The Definitive Guide to Project Management. Nokes, Sebastian.

History of Project Management

  1. First applied in construction
  2. Later applied in large government projects (I.e. Defense)
  3. Telecommunication & software deployment: 15-25% of all projects failed to complete. Dissatisfaction with quality, cost, & timeline of those completed
[slideshare id=2463095&doc=lecture-managingtelecommunicationproject-mm-biztel-09nov09-091109230127-phpapp01]

Business Process Alignment

Business Process Reengineering Cycle

Image via Wikipedia

Business Performance is measured by:

  • Market – Demand, Innovation
  • Customers – Quality, Value, Responsiveness
  • Shareholders – Financial Results
  • Suppliers
  • Employees
  • Communities

Operations Performance measures can provide a quantitative view into Enterprise’s execution capability and agility.

[slideshare id=2161099&doc=business-process-alignment-091008010727-phpapp01]