Manajemen: Regenerasi Kreatif Usaha Aktif Menuju Organisasi Kreatif

“The definition of insanity is doing the same thing over and over and expecting different results.” ~ Rita Mae Brown, Sudden Death

Kita hidup dalam abad di mana kekuatan persaingan dan perkembangan teknologi yang berakibat hampir setiap industri sekarang menjadi industri pengetahuan. Meningkatnya harapan orang yang terlibat di industri – yaitu pekerja, vendor  dan pelanggan berpengetahuan mencari kondisi kerja membaik, hubungan komersial dan produk / pelayanan yang berkualitas. Pertanyaannya, apakah sebenarnya mereka adalah kekuatan yang mendorong kreativitas dan inovasi organisasi?

Dalam Buku “CORPORATE CREATIVITY:The Winning Edge”, PRADIP KHANDWALLA  mengacu pada penelitian global untuk wawasan tentang kreativitas organisasi mempunyai premis  bahwa dalam rangka untuk berkembang besok, kita perlu menciptakan visioner saat ini yang dapat melihat dan menangkap peluang dan tidak gentar oleh kegagalan. Untuk itu, kita perlu lebih memahami sifat kreativitas di tempat kerja dan belajar untuk memanfaatkan secara efektif dalam organisasi.

Sebagai konsultan, peneliti, dan tutor  manajemen kreativitas, PN Khandwalla berfokus pada manajemen kreativitas yang berbeda dari kreativitas umum. Karena manajemen kreativitas kolektif melibatkan berbagai tim, departemen, asosiasi organisasi, bahkan sistem pemerintahan, komunitas dan masyarakat. 

Untuk selanjutnya silahkan dibaca:

[slideshare id=10683607&doc=creativeprocess-30sep11-111224214338-phpapp02]

Ketika Tangis Pendidik Menjadi Bermakna

Hari ini kami dari Komunitas “Pojok Pendidikan”   mendapatkan amanah untuk memberikan pelatihan bagi guru2 SD Kecamatan Cileunyi. Tema kegiatannya adalah “Pendidikan Kreatif Memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)”.  Adapun agendanya adalah:

08.00-09.00 pembukaan

09.00-10.30 Filosofi Pendidikan Kreatif (Djadja Sardjana)

10.30-11.30 Pemanfaatan TIK dalam pembalajaran dan framework Pojok Pendidikan (Asep Tsauri)

11.30-12.00 Persiapan Teknis (Tim)

12.00-13.00 Istirahat

13.00-14.00 Dasar2 Windows, Manajemen File, dll (Tim)

14.00-14.30 Demo Jamboreee Boardgame Pojok Pendidikan tentang pramuka  (Asep Tsauri)

Alhamdulllah ya, walapun harus sabar dan tawakal, membimbing bapak & ibu guru SD KKG di Cileunyi itu sesuatu banget karena mereka dengan segala keterbatasan bersemangat mengikuti acara ini sampai selesai. Yang berkesan adalah Sesi “Filosofi Pendidikan” jadi klimaks ketika salah seorang Guru (Ibu Ai) menangis ingat almarhumah gurunya tatkala diminta menulis “Pernyataan Filosofis Pendidikan Pribadi“.

Beliau terkesan atas jasa dan hikmah yang telah diberikan oleh almarhumah gurunya (Ibu Enung) yang memberi semangat agar ia bisa mencapai cita-citanya menjadi seorang guru SD. Dengan sesenggukan Ibu Ai menceritakan betapa Ibu Enung telah menjadi idola serta menanamkan arti dan makna seorang guru pada anak didiknya.

Bagi saya pribadi, tangis ibu guru di atas pd gurunya pada kesempatan pelatihan bagi guru2 SD di KKG Cileunyi ini meneguhkan niat terus menjadi pendidik. “Deep in my heart”…. Itulah hakikat, jalan & makna kehidupan yang ingin saya raih ke depan……

Saya juga menghidmati gerakan @pojokpendidikan bahwa “Benih-benih amal yg ditanam telah mulai tumbuh menjadi bunga-bunga harapan bagi #GuruKreatif yg didambakan” ……. Amin Ya Robbal Alamin …..

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=QcnzHlcfvPU?rel=0&w=640&h=480]

Artikel Terkait:

Pojok Pendidikan Publishing: Buku "Bunga Rampai Pendidikan Kreatif Edisi-1" Sudah Terbit

 

Saya selalu mengatakan bahwa: “Pendidikan adalah Benteng Terakhir Peradaban Manusia”. Mengapa, betapa besar peranan pendididikan dlam hajat hidup manuasia yang dikatakan oleh Aristoteles: “Pendidikan adalah bekal paling baik dalam menghadapi hari tua”.


Pendidikan dalam kaitannya dengan mobilitas sosial harus mampu untuk mengubah arus utama (mainstream) peserta didik akan realitas sosialnya. Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Pendidikan dapat menjadi penyandar bagi mobilitas. Seiring dengan perkembangan zaman kemudian kita lebih mempercayai kemampuan individu atau keterampilan yang bersifat praktis daripada harus menghormati kepemilikan ijasah yang kadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Inilah yang ahirnya memberikan peluang bagi tumbuhnya pendidikan  yang lebih bisa memberikan keterampilan praktis bagi kebutuhan dunia yang tentunya memiliki pengaruh bagi seseorang.

Pendidikan yang tepat untuk mengubah paradigma ini adalah pendidikan kritis yang pernah digulirkan oleh Paulo Freire. Sebab, pendidikan kritis mengajarkan kita selalu memperhatikan kepada kelas-kelas yang terdapat di dalam masyakarakat dan berupaya memberi kesempatan yang sama bagi kelas-kelas sosial tersebut untuk memperoleh pendidikan. Disini fungsi pendidikan bukan lagi hanya sekedar usaha sadar yang berkelanjutan. Akan tetapi sudah merupakan sebuah alat untuk melakukan perubahan dalam masyarakat. Pendidikan harus bisa memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang realitas sosial, analisa sosial dan cara melakukan mobilitas sosial.  

Tulisan dalam Buku “Bunga Rampai Pendidikan Kreatif” ini dimaksudkan sebagai tambahan menu dalam dunia pendidikan yang mudah-mudahan memberikan wawasan baru. Walaupun bukan merupakan buku referensi dan ditulis dengan gaya populer, diharapkan menambah khasanah bagi semua pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia.

Semoga.

 Pendidik Pembebas

Djadja Achmad Sardjana

Buku bisa dipesan di : http://www.nulisbuku.com/books/view/bunga-rampai-pendidikan-kreatif-edisi-1

 

[slideshare id=6413231&doc=presentasigurukreatifpojokpendidikan-30dec10-101231023256-phpapp01]

 

Related articles, courtesy of Zemanta: