Tugas Kewirausahaan: Analisis Kegagalan Manajemen Adam Air

 

OLEH: KELOMPOK 3

  Andi Fajrin                           (11-2007-013)

  Dyan Juniarto                       (11-2007-020)

  Abdul Rochmat S                 (11-2007-019)

  R. Teguh A                            (11-2007-034)

  Leo  Renanto                         (11-2007-026)

                       

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI

INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL


1.      Apa yang mendasari adam air didirikan?

Pembelian Adam Air didasarkan pada pertimbangan bahwa potensi yang bisa diraih terkait dengan peluang pertumbuhan bisnis penerbangan. Dengan pasar domestik yang besar, investasi melalui Adam Air, memberi peluang bagi Adam Air untuk memanfaatkan jaringan rute penerbangan yang luas dengan brand nasional yang kuat serta memungkinkan menjadikan Adam Air sebagai maskapai penerbangan modern yang menawarkan keamanan, dapat diandalkan, dengan harga terjangkau.

Adam Air, dengan nama resmi PT. Adam SkyConnection Airlines, pertama kali beroperasi pada Desember 2003. Maskapai penerbangan ini didirikan oleh Sandra Ang dan Agung Laksono, yang juga menjabat sebagai mantan Ketua DPR. Pimpinan tertingginya adalah Adam Aditya Suherman, sekaligus sebagai CEO, dipercaya nama penerbangan ini diambil dari nama pendirinya. Airline ini berbasis utama di bandara Sukarno-Hatta Cengakreng. Adam air merupakan salah satu perusahaan penerbangan berbiaya rendah atau low cost carrier yang berkembang pesat di Indonesia.

 

2.      Siapakah pemegang saham (orang – orang penting) di adam air?

          Maskapai penerbangan ini didirikan oleh Sandra Ang dan Agung Laksono, yang juga menjabat sebagai mantan Ketua DPR.

          Pimpinan tertingginya (presiden) adalah Adam Aditya Suherman, sekaligus sebagai CEO

          Pada April 2007, PT. Bhakti Investama melalui anak perusahaannya Global Air Transport membeli 50% saham Adam Air dari keluarga Sandra Ang dan Adam Suherman, namun setahun kemudian pada 14 Maret 2008 menarik seluruh sahamnya karena merasa Adam Air tidak melakukan perbaikan tingkat keselamatan serta tiadanya transparansi.

 

3.      Apa yang membuat perusahaan Adam Air bangkrut?

 Faktor-faktor apa yang menjadi penyebab Adam Air bangkrut? Kasus Adam Air ini lah yang menjadi topik dalam Komunikasi Ilmiah yang diadakan pada tanggal 28 April 2008 lalu.

Komunikasi Ilmiah yang diadakan oleh Laboratorium Inovasi dan Pengembangan Organisasi ini dihadiri tiga dosen dari Program Studi Teknik Industri: Bapak Budiarto Subroto, Bapak Mame Slamet Sutoko, dan Bapak Gunawan. Ketiganya ikut berdiskusi bersama para asisten lab.

Acara dimulai dengan pemaparan mengenai profil singkat Adam Air dan kecelakaan-kecelakaan yang menimpa perusahaan ini. Di dalam presentasi yang disampaikan terdapat breakdown masalah yang didapatkan dengan menggunakan tools yaitu Fishbone Diagram. Dengan menggunakan Fishbone Diagram diidentifikasi beberapa penyebab bangkrutnya Adam Air, diantaranya faktor manusia, mesin, metode, dan lingkungan.

Isu-isu mengenai ketidak terampilan pilot Adam Air dalam mengemudikan pesawat mengindikasikan adanya proses rekrutmen yang buruk dan kurangnya pelatihan yang diberikan dari pihak Adam Air. Selain itu, terdapat kontrak kerja yang tidak jelas antara para pegawai dan pihak manajemen. Korupsi pun menjadi salah satu isu penting dalam runtuhnya Adam Air ini. Kasus-kasus korupsi yang terdapat pada Adam Air diantaranya korupsi BBM, audit tidak transparan, bukti-bukti pembelian suku cadang yang mahal namun tidak berkualitas baik dan adanya penipuan pada laporan kewajiban pajak.

Faktor usia pesawat menyumbang resiko yang cukup besar pada terjadinya kecelakaan pesawat. Mayoritas aircraft di Indonesia memang cukup tua. Hal ini berarti lower ownership cost. Namun dibutuhkan higher maintenance cost agar pesawat tetap dapat berfungsi dengan semestinya. Pesawat Adam Air sendiri sudah berumur 18 tahun saat kecelakaan terjadi dan telah melalui inspeksi seminggu sebelum kecelakaan (25 Desember 2006). Diduga Adam Air tidak memiliki sistem maintenance  yang baik dan memadai.

Etika bisnis yang buruk juga salah satu hal yang patut disoroti dalam kasus Adam Air ini. Tekanan psikologis yang diberikan pihak manajemen kepada seluruh karyawan termasuk pilot dan pramugari menjadi hal yang cukup menyalahi aturan. Selain itu sistem pembayaran hutang yang tidak teratur menjadikan Adam Air perusahaan penerbangan dengan tingkat hutang yang tinggi.

             Ditinjau dari faktor lingkungan, Adam Air merupakan organisasi dengan tekstur lingkungan yang kacau dan memiliki ketidakpastian lingkungan yang tinggi. Adam Air juga melakukan Interlocking Directorates, yaitu pengangkatan Direktorat Keuangan yang berasal dari investor yaitu PT Bakrie Investama.

                Dalam diskusi mengenai topik ini, Bapak Budiarto menyebutkan mengenai Capital Intensif yaitu kecukupan modal kerja yang dalam bisnis penerbangan seharusnya biaya operasional yang ada harus mencukupi biaya minimum untuk tiga bulan ke depan. Sementara itu, profit yang diperoleh kecil sekali, bahkan untuk memperoleh 5% saja sulit. Kenyataan ini cukup mengherankan dimana banyak perusahaan maskapai penerbangan mampu menawarkan tarif pesawat serendah mungkin.

 

4.      Apa yang harus dihindarkan suatu perusahaan agar tidak mengalami seperti Adam Air?

          Memberikan pelatihan terhadap pilot agar lebih terampil.

          Membisakan hidup disiplin, jujur, tidak korupsi, dll.

          Memperbaiki hubungan antara pegawai dan majaement.

          Mengganti pesawat yang usianya cukup tua dengan pesawat yang lebih layak.

          Harus memiliki sistem maintenance  yang baik dan memadai.

          Menciptakan etika bisnis yang baik.

5. Jika anda mempunyai usaha, nilai-nilai penting apa yang akan anda terapkan dalam perusahaan tersebut ?

 Nilai-nilai penting yang akan diterapkan :

a.       Material dan fisik, Contoh : kesehatan, comfort, security
b.      Ekonomi, Contoh : Benefit dan profit yang seimbang
c.       Moral, Contoh : kejujuran, keadilan
d.      Sosial, Contoh : sopan santun
e.       Politis, Contoh : kebebasan & keadilan
f.       Estetika, Contoh : keindahan, kesopanan, kerapihan
g.      KerohanianContoh : beriman, takwa
h.      IntelektualContoh : kecerdasan
i.        ProfesionalContoh : bekerja sesuai penempatan
j.        SentimentalContoh : sangat perasa

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/2YK136amZYI” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Mengapa Kewirausahaan di Perguruan Tinggi Sangat Penting?

“Seorang Wirausaha adalah orang yang bersedia dan mampu untuk mengkonversi  ide atau penemuan baru menjadi sukses inovasi, sekaligus menciptakan produk dan model bisnis baru yang memberi sumbangan atas pertumbuhan dinamisme industri dan ekonomi jangka panjang.”~Joseph A. Schumpeter  

Daya saing, inovasi dan pertumbuhan ekonomi tergantung pada kemampuan untuk menghasilkan pemimpin masa depan dengan keterampilan, sikap dan perilaku untuk menjadi wirausaha dan  di saat yang sama bertanggung jawab secara sosial. Kewiraswastaan tidak hanya tentang membuat rencana bisnis dan  usaha. Hal ini juga tentang kreativitas, inovasi dan pertumbuhan, cara berpikir dan bertindak yang relevan dengan semua bagian dari ekonomi dan masyarakat serta seluruh ekosistem sekitarnya. Dalam konteks ini ekosistem kewirausahaan dapat dicirikan sebagai kerangka saling tergantung dan interaktif untuk aktivitas kewirausahaan. Saling ketergantungan ini terdiri dari aturan kelembagaan dan kondisi lingkungan  yang menentukan rentang dari sosial dan ekonomi peluang kewirausahaan yang layak. Serta cara di mana pengusaha dan pemangku kepentingan lainnya membentuk kondisi kelembagaan dan lingkungan sekitarnya.

Orang yang kreatif, inovatif dan berwirausaha sangat penting untuk penciptaan kekayaan dan pertumbuhan ekonomi. Pengusaha Inovatif  datang dalam segala bentuk. Mereka memulai dan menumbuhkan perusahaan, menginkubasi perusahaan dari universitas atau organisasi lain, merestrukturisasi perusahaan yang membutuhkan pemusatan, atau berinovasi dalam organisasi yang lebih besar.

Dalam mengembangkan kewirausahaan, lulusan pendidikan tinggi memiliki peran penting untuk bermain. Hal ini dapat dipahami sebagai proses seumur hidup yang mengembangkan keterampilan individu, sikap dan perilaku. Penting untuk memulai sedini mungkin di semua tingkat pendidikan formal dan informal. Itu harus diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan dasar dan sekolah menengah serta pendidikan tinggi. Untuk pendidikan kewirausahaan yang efektif, kurikulum selama bertahun-tahun haruslah konsisten dan terkoordinasi dan pendidikan kewirausahaan harus terus mendapat tempat  lembaga pendidikan tinggi.

Program dan modul Kewirausahaan dapat memiliki berbagai tujuan, seperti:

  1. Pengembangan Kewirausahaan di kalangan siswa (meningkatkan kesadaran dan motivasi);
  2. Mengembangkan kemampuan kewirausahaan untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang;
  3. Pelatihan keterampilan yang dibutuhkan untuk memulai  dan mengelola pertumbuhan  bisnis. 

Dalam semua konteks ini, penting untuk mendorong mahasiswa untuk berpikir dan bertindak kewirausahaan serta punya etis dan bertanggung jawab sosial.

<iframe width=”640″ height=”480″ src=”http://www.youtube.com/embed/Z9dzOUUt4AM” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Kewirausahaan: Wawancara Dengan Pengusaha Warung Kopi (Pewawancara: Dimas Kustya Prayoga)

Wawancara Dengan Pengusaha Warung Kopi

            Pewawancara    : Dimas kustya prayoga

            Narsumber        : Komar ( Sebagai pemilik warung kopi)

Kami mewawancarai pemilik warung yang baru membuka usahanya. Berikut hasil wawancara kami dengan narasumber yang bernama Pak komar:

1.       Kenapa bapak membuka warung ini?

Pertamanya saya hanya ingin mempunyai usaha sendiri walaupun dengan modal yang pas-pasan saya beranikan diri untuk membuka warung ini.

2.       Bagaimana upaya bapak agar usaha bapak semakin berkembang dan bertahan dari persaingan?

Menurut pendapat saya ya dek, kalo mau usaha kita lancer yang uitama kita harus menjaga kepercayaan orang yang membeli kepada kita dengan tidak mengurangi dan melebih-lebihkan takaran atau harga barang dagangan yang kita jual

3.       Target apa yang belum bapak capai?

Sampai saat ini saya masih berharap mendapatkan modal lebih dari luar untuk lebih bisa membantu usaha saya ini menjadi lebih maju. Dengan begitu saya bisa menambah barang yang saya jual 

4.       Bagaimana respon dari konsumen kepada produk anda?

Sampai saat ini respon konsumen sangat baik tidak ada complain dari konsumen, itu semua karena Saya selalu menjaga kualitas produk,

Siapa target dari produk anda?

Ya target saya sudah pasti anak-anak kosan di daerah ini lagi pula di sini masih jarang yang menjual makanan ringan karena biasanya anak kos sangatsuka jajan mas.

6.       Siapa saja yang mengelola usaha bapak?

Saya sendiri aja dek,soalnya saya belum sanggup menggaji karyawan  dek saya kan baru saja membuka usaha baru jadi modal aja belum balik dulu.

7.       Mengapa bapak memilih usaha ini?

Melihat dari keadaan lingkungan yang cukup strategis disini saya berfikir kenapa saya tidak membuka usaha yang bisa menguntungkan bagi saya karena disini belum ada pesaingnya.

8.       Dari mana modal di dapatkan? Apakah ada modal dari luar?

Saat ini saya memulai modal dari pribadi, modal awal 500 ribu belum termasuk sewa tempatnya dek.

9.       Dari mana bisa mendapatkan barang untuk di jual?

Barang didapat langsung dari pasar induk dan di beli sendiri. Di pasar induk sudah tersedia berbagai bahan dengan kwalitas yang tidak kalah bagus

10.   Berapa kira-kira pendapatan anda per hari nya?

Pendapatan bersih perhari kurang lebih Rp.100.000.

11.   Jam berapa anda memulai usaha anda?

Saya memulai usaha saya sekitar jam 06.00-20.00

12.   Apa kiat-kiat atau pesan yang ingin bapak sampaikan bagi orang yang ingin membuka usaha seperti bapak?

Mungkin yang bisa saya sampaikan jangan menyerah dengan yang anda yakini. Mulai lah usaha dengan sepenuh hati, mulailah dari sesuatu yang anda senangi sehingga anda tidak memiliki beban melakukannya.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/-JKnhDd1ato” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Kewirausahaan: Penjualan PARASIT (Bersatunya Tekad dan Nekad)

Laporan Kegiatan Kewirausahaan Hasil Penjualan

PARASIT ( PISANG AROMA PANGSIT)

Kelompok 1

  

Dosen : Djadja Ahmad Sardjana S.T., M.M.

 

Disusun Oleh :

Gaby Permata           0110u196

Eka Andika .P.          0110u127

Ari Achmad               0105076

Meriani                       0110u324

Rickna Fitria .S.        0110u157

 

 

Fakultas Ekonomi

Universitas Widyatama

 

Pendahuluan

Latar belakang

Pisang adalah nama umum yang diberikan pada tumbuhan terna raksasa berdaun besar memanjang dari suku Musaceae. Buah ini tersusun dalam tandan dengan kelompok-kelompok tersusun menjari, yang disebut sisir. Hampir semua buah pisang memiliki kulit berwarna kuning ketika matang, meskipun ada beberapa yang berwarna jingga, merah, hijau, ungu, atau bahkan hampir hitam. Buah pisang sebagai bahan pangan merupakan sumber energi (karbohidrat) dan mineral, terutama kalium.

Pisang mempunyai kandungan gizi sangat baik, antara lain menyediakan energi cukup tinggi dibandingkan dengan buah-buahan lain. Pisang kaya mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, besi, dan kalsium. Pisang juga mengandung vitamin, yaitu C, B kompleks, B6, dan serotonin yang aktif sebagai neurotransmitter dalam kelancaran fungsi otak.

Berdasarkan cara konsumsi buahnya, pisang dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu pisang meja (dessert banana) dan pisang olah (plantain, cooking banana). Pisang meja dikonsumsi dalam bentuk segar setelah buah matang, seperti pisang ambon, susu, raja, seribu, dan sunripe. Pisang olahan dikonsumsi setelah digoreng, direbus, dibakar, atau dikolak, seperti pisang kepok, siam, kapas, tanduk, dan uli. Buah pisang diolah menjadi berbagai produk, seperti sale, kue, ataupun arak (di Amerika Latin).

Selain memberikan kontribusi gizi lebih tinggi daripada apel, pisang juga dapat menyediakan cadangan energi dengan cepat bila dibutuhkan. Termasuk ketika otak mengalami keletihan. Beragam jenis makanan ringan dari pisang yang relatif populer antara lain Kripik Pisang asal Lampung, Sale pisang (Bandung), Pisang Molen (Bogor), dan epe (Makassar).

            Dalam pembelajaran menjadi seorang pewirausaha pemula kita sebagai mahasiswa mencoba memberikan ide dalam melakukan suatru usaha, usaha ini didasari dari tugas yang diberikan oleh dosen kewirausahaan untuk memenuhi salah satu tugas akhir semester 3.

Kelompok kita adalah terdiri dari 5 orang yang terdiri dari Ari, Eka, Rickna, Gaby, dan Meriani. Pada awalnya kita memulainya dengan cara berdiskusi dan menemukan ide yg terinspirasi dari pisang aroma yang awalnya bernama papangsit (pisang pangsit) namun karena nama tersebut kurang enak didengar namanya di ubah menjadi PARASIT (pisang aroma pangsit).

Usaha ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan suatu profit dan juga mendapatkan pengalaman dalam berwirausaha. Dalam melakukann suatu usaha kita melalui beberapa tahap aspek :

1. Sales

2. Marketing

3. Wawancara Konsumen

4. Sosialisasi produk

 

Pelaksanaan Kegiatan

Waktu dan Tempat

          Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan di sekitar kampus dalam waktu yang sama selama 3 hari, yaitu:

          Hari/Tanggal  : Jumat,Sabtu, dan Senin (tanggal 9,10, dan12 Desember 2011)

         Waktu            : Pukul 13.00– 17.00 WIB

Segmen pasar dalam hal ini adalah semua kalangan masyarakat, dari mulai masyarakat tingkat atas, menengah, dan bawah. Harga parasit ini sangan terjangkau sehingga bisa dirasakan oleh semua tingkatan masyarakat. Target market yang dipilih diantaranya adalah mahasiswa, dosen, warga sekitar kampus widyatama dan seluruh masyarakat.

Produk

Makanan yang dibuat adalah makanan ringan dari pisang, yaitu pisang aroma yang berbentuk seperti pangsit. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan parasit ini adalah bahan-bahan yang mudah di dapat di pasaran dan terbilang murah, diantaranya adalah gula pasir, susu, messes, kulit lumpia, minyak goreng, dan bahan utamanya yaitu pisang.

Parasit ini terdiri dari 5 rasa, yaitu rasa manis original, rasa keju coklat, rasa colat, rasa keju, dan rasa susu. Semuanya memiliki sensasi tersendiri. Bentuknya berbeda dari pisang aroma lain, dengan bentuk seperti pangsit, parasit ini bisa menarik rasa penasaran pembeli untuk mencobanya. Dan rasa pada isinya yang bercampur dengan pisang akan membuat pembeli ketagihan.

 

Pencatatan Keuangan Penjualan Parasit

Selama 3 hari (Tgl. 9,10,12 Desember 2011)

 

Tanggal

Keterangan

Debit

Kredit

Saldo

8 Des 2011

Modal awal 5 orang @12.000

Rp.   60.000

 

Rp.   60.000

 

Belanja hari ke 1:

 

 

 

 

·         Pisang 2kg

 

Rp.   8.000

Rp.   52.000

 

·         Lumpia 10 bungkus

@2.500

 

Rp. 10.000

Rp.   42.000

 

·         Susu kaleng

 

Rp.   7.000

Rp.   35.000

 

·         Gula

 

Rp.   4.000

Rp.   31.000

 

·         Minyak goreng

 

Rp. 15.200

Rp.   15.800

 

·         Meises

 

Rp.   5.000

Rp.   10.800

 

·         Plastik bening

3 bungkus @1.000

 

Rp.   3.000

Rp.     7.800

 

·         Tisu makan

 

Rp.   3.000

Rp.     4.800

9 Des 2011

Penghasilan hari ke 1:

45 buah

Rp.   71.000

 

Rp.   75.800

10 Des 2011

Belanja hari ke 2:

 

 

 

 

·         Pisang 2,5kg

 

Rp.   7.500

Rp.   68.300

 

·         Lumpia 10 bungkus @2.500

 

Rp. 10.000

Rp.   58.300

 

·         Keju batang

 

Rp. 15.000

Rp.   43.300

 

·         Meises

 

Rp.   3.500

Rp.   39.800

 

·         Tisu makan

 

Rp.   2.000

Rp.   37.800

 

·         Kantung kresek

 

Rp.   2.000

Rp.   35.800

 

·         Minyak goreng

 

Rp. 12.600

Rp.   23.200

10 Des 2011

Penghasilan hari ke 2:

60 buah

Rp. 120.400

 

Rp. 143.600

12 Des 2011

Belanja hari ke 3:

 

 

 

 

·         Lumpia 3 bungkus

@2.500

 

Rp.   7.500

Rp. 136.100

 

·         Susu 2 bungkus

@2.500

 

Rp.   5.000

Rp. 131.100

12 Des 2011

Penghasilan hari ke 3:

77 buah

Rp. 150.500

 

Rp. 281.600

 

Rincian Biaya Belanja Perhari:

 

*      Belanja hari ke 1:

·         Pisang 2kg                                                 Rp.   8.000

·         Lumpia 10 bungkus @2.500                     Rp. 10.000

·         Susu kaleng                                               Rp.   7.000

·         Gula                                                          Rp.   4.000

·         Minyak goreng                                          Rp. 15.200

·         Meises                                                       Rp.   5.000

·         Plastik bening 3 bungkus @1.000            Rp.   3.000

·         Tisu makan                                                Rp.   3.000

Total                                                         Rp. 55.200

 

*      Belanja hari ke 2:

·         Pisang 2,5kg                                              Rp.   7.500

·         Lumpia 10 bungkus @2.500                     Rp. 10.000

·         Keju batang                                               Rp. 15.000

·         Meises                                                       Rp.   3.500

·         Tisu makan                                                Rp.   2.000

·         Kantung kresek                                         Rp.   2.000

·         Minyak goreng                                          Rp. 12.600

Total                                                         Rp. 52.600

 

*      Belanja hari ke 3:

·         Lumpia 3 bungkus @2.500                       Rp.   7.500

·         Susu 2 bungkus @2.500                           Rp.   5.000

Total                                                         Rp. 12.500

 

 

Pemasaran

            Proses pemasaran parasit dilakukan seperti kebanyakan penjual lainnya yaitu dengan cara promosi ke costumer yang berada dikampus Universitas Widyatama dengan cara mendatangi ke beberapa ukm dan juga dilakukan dengan cara broadcast via bbm dan lewat sms.

            Dalam melakukan pemasaran ketika bertemu langsung dengan costumer kita melakukan beberapa cara dalam menarik pelanggan seperti perkenalan terlebih dahulu, bersikap ramah, dan meyakinkan pembeli terhadap produk tersebut.

 

Penjualan

            Penjualan dilakukan dengan cara menjual produk yang dikemas sendiri dimana penjualan merupakan suatu proses bertemunya seorang penjual dan pembeli untuk melakukan suatu transaksi jual beli guna mencapai kesepakatan dengan tujuan memperoleh laba.

            Dalam proses wirausaha ini kami mencoba menjual suatu produk yang sudah tidak asing lagi dengar di kalangan masyarakat yaitu produk yang diolah dari pisang namun cara penampilannya yang kita ubah menjadi unik dan beda dari pisang aroma pada umumnya.

 

Hasil dan Pembahasan

Analisa Usaha

            Dari keseluruhan kegiatan usaha yang telah kami lakukan selama 3 hari kami dapat menganalisis bahwa usaha yang kita dapat dibilang sukses karena pihak konsumen di lingkungan kampuspun dapat menerima dan juga dilihat dari modal yang kita keluarkan sedikit namun profit yang kita dapat banyak .

            Hal ini juga dapat terjadi karena sebuah strategi yang kita lakukan yaitu dengan cara setiap harinya harga penjualan produk dinaikan secara bertahap sehingga profit yang dihasilkan mengalami peningkatan setiap harinya. Dari kegiatan inipun kami banyak belajar dalam hal pengalaman dan mengetahui bahwa sebagai seorang pewirausaha bukanlah hal yang mudah melainkan membutuhkan kesabaran, keuletan, resiko, dan motivasi yang timbul dalam diri seorang pewirausaha pemula khususnya.

 

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

            Kesimpulan dari melakukan suatu kegiatan ini kita dapat belajar menjadi seorang pewirausaha dimana kita dari awal mencari sebuah ide untuk menciptakan suatu produk, resiko yang harus diambil saat berjualan, dan strategi dalam pemasaran suatu produk. Selain itu kegiatan inipun sangat baik bagi proses belajar mahasiswa sehingga mahasiswa mampu berpikir untuk lebih luas dalam mencari inovasi-inovasi baru dan juga dapat merealisasikan ilmunya dengannya cara turun kelapangan secara langsung.

 

Saran

            Saran dari kita bagi para pewirausaha pemula janganlah takut untuk belajar menjadi seorang pewirausaha karena hal yang terpenting adalah motivasi dalam diri kita dalam menjalankan suatu usaha dan mampu menerima resiko yang ada. Disamping itu juga kita harus mampu bekerja sama dengan rekan-rekan karena dengan demikian suatu usaha dapat berjalan dengan baik dan efisien sehingga dapat menemukan banyak peluang dalam menjalankan suatu usaha.

Formulasi Strategi: Jaminan Menuju “Kemenangan” Manajemen

           

Perumusan strategi atau formulasi strategi merupakan proses penyusunan langkah-langkah ke depan yang dimaksudkan untuk membangun visi dan misi organisasi, menetapkan tujuan strategis dan keuangan perusahaan, serta merancang strategi untuk mencapai tujuan tersebut dalam rangka menyediakan customer value terbaik.

Morton (1996 : 17-22) mengatakan bahwa ada keterikatan yang saling menunjang antara Struktur  Organisasi & Budaya Perusahaan, Teknologi, Peran Individu, Struktur Organisasi dan Proses Manajemen yang dipengaruhi oleh Lingkungan Sosio-Ekonomis External dan Lingkungan Teknologi External dalam metodologi pembentukan Strategi Formulasi seperti digambarkan dalam gambar berikut:

Untuk itu, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan perusahaan sebagai berikut :

  1. Identifikasi lingkungan yang akan dimasuki oleh perusahaan pada masa depan. Tentukan misi perusahaan untuk mencapai visi yang dicita-citakan dalam lingkungan tersebut.
  2. Lakukan analisis lingkungan intern dan ekstern untuk mengukur kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang akan dihadapi perusahaan dalam menjalani misi dan  meraih keunggulan bersaing (competitive advantage).
  3. Rumuskan faktor-faktor penting ukuran keberhasilan (key succes factors) sesuai dengan perubahan lingkungan yang dihadapi.

Tentukan tujuan dan target terukur, identifikasi dan evaluasi alternatif strategi dan rumuskan strategi terpilih untuk mencapai tujuan dan ukuran keberhasilan. Dalam tahap ini penyusun strategi harus melakukan analisis terhadap opsi yang dimiliki perusahaan dengan mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki dengan fakta ekstern yang dihadapi. Tentukan strategic option yang paling dikehendaki diantara opsi yang ada sesuai dengan misi organisasi. Tentukan tujuan yang bersifat jangka panjang dan strategi utama untuk mencapai opsi yang paling dikehendaki. Tentukan target tahunan dan strategi jangka pendek yang sesuai dengan tujuan jangka panjang dan strategi utama.  

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/8DllJxaaUGc” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 


Nilai dan Budaya Perusahaan: Perpaduan Antara “Pedal Gas dan Rem” Kelangsungan Institusi

 

Sebuah sistem nilai adalah seperangkat nilai-nilai etika yang konsisten (lebih spesifik lagi, nilai-nilai pribadi dan budaya) dan langkah-langkah yang digunakan untuk tujuan integritas etis atau ideologis. Sistem nilai yang didefinisikan dengan baik adalah sistem moral (Code of Conduct) dari suatu institusi.  

 

Pribadi dan Komunitas 

Satu atau lebih orang dapat memegang sistem nilai. Demikian juga, sistem nilai dapat diterapkan pada salah satu atau banyak orang. Sebuah sistem nilai pribadi dipegang oleh dan diterapkan pada satu orang saja. Sebuah sistem nilai budaya komunitas dipegang  dan diterapkan pada intitusi/kelompok masyarakat. Beberapa sistem nilai komunitas yang tercermin dalam bentuk moral hukum atau hukum positif.

 

Sistem Nilai Perusahaan

Fred Wenstop dan Arild Myrmel mengusulkan struktur untuk sistem nilai perusahaan yang terdiri dari tiga kategori nilai yang komplementer dan disandingkan pada tingkat yang sama sebagai berikut:

·         Kategori pertama adalah nilai Nilai Inti yang mengatur sikap dan karakter organisasi, dan sering ditemukan di bagian-bagian tentang Kode etik pada institusi. Filosofis nilai-nilai dari Anteseden ini, yang sering dikaitkan dengan etika Kebajikan Aristoteles.

·         Kategori kedua adalah Nilai yang dilindungi melalui peraturan, standar dan sertifikasi. Hal ini sering berhubungan dengan bidang-bidang seperti kesehatan, lingkungan dan keamanan.

·         Kategori ketiga  adalah Nilai  yang Diciptakan dari nilai-nilai stakeholders termasuk pemegang saham yang diharapkan sebagai imbalan atas kontribusi mereka kepada perusahaan.

Nilai-nilai ini tunduk pada “trade-off” atau proses tawar-menawar oleh pengambil keputusan atau pemangku kepentingan. Proses ini sering dijelaskan lebih lanjut dalam teori Pemangku Kepentingan (Stakeholder).  

 

1. 

1.1. 

1.2. 

Konsistensi

Sebagai anggota kelompok, masyarakat atau institusi, seseorang dapat memegang kedua sistem nilai pribadi dan sistem nilai komunal pada saat yang sama. Dalam hal ini, dua sistem nilai (satu pribadi dan satu komunal) secara eksternal konsisten asalkan mereka tidak ada kontradiksi atau pengecualian diantara mereka.

Sebuah sistem nilai dalam dirinya sendiri secara internal konsisten ketika nilai-nilainya tidak bertentangan satu sama lain dengan nilai perusahaan serta cukup untuk digunakan pada semua situasi dan diterapkan secara konsisten.

 

 

Saat ini Institusi  dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Kemampuan menyikapi tantangan dan tren yang dibawa oleh zaman akan sangat menentukan apakah sebuah institusi dapat tetap kompetitif atau kehilangan pasar. Tantangan dan tren inilah yang memaksa dan mengharuskan institusi untuk menerapkan logika korporasi, dengan mengedepankan prinsip-prinsip efisiensi pembiayaan, memperhitungkan setiap risiko (Calculability), dan kemampuan untuk memprediksi tantangan dan tren ke depan (Predictability).

Maka tidak heran apabila peran seorang pemimpin institusi semakin menyerupai manajer perusahaan, dan manajemennya makin menitikberatkan pada akuntabilitas. Salah satu dampak dari perubahan ini adalah bergesernya fokus institusi dari sasaran utamanya tidak hanya Civitas Akademika ITB sebagai konsumen internal, namun juga konsumen eksternal dari kalangan “Academic, Business and Goverment (ABG)”. Karena di sini konsumen ada pada posisi produk yang dihasilkan oleh seluruh proses yang ada di institusi.

Proses bisnis (Business Process) sangat ditentukan oleh bagaimana cara menanganinya atau mengelolanya. Jika manajemen sebuah institusi yang dipimpin oleh seorang pemimpin itu bagus, sebagai akibat penerapan nilai dan budaya perusahaan yang konsisten serta berkelanjutan maka otomatis produk atau jasa yang dihasilkannya juga bagus. Jadi sesungguhnya sasaran akhirnya tetap mengarah pada konsumen baik internal maupun eksternal.

Tuntutan kualitas institusi yang bermutu dan terjangkau dapat menyulitkan institusi dalam mendesain, baik program maupun kepastian produk dan jasanya agar dapat diterima pasar. Setiap institusi memiliki problem tersendiri. Dan pada saat yang sama, kalangan “Academic, Business and Goverment (ABG)” juga mempunyai masalah dan isu yang berkaitan dengan kebutuhan tenaga di bidang IT dan Manajemen yang semakin besar. Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut bergantung pada kondisi struktur dan kepemimpinan di tingkat lokal dan latar belakang kalangan “Academic, Business and Goverment (ABG)” itu sendiri. Segenap potensi sumber daya institusi seharusnya dapat digunakan untuk memperbarui, memvalidasi, dan memperluas wilayah keilmuan dan kepakaran yang bersifat humanis dengan menggunakan metode-metode pengetahuan standar.

“Sebuah pertanyaan kritis muncul berkaitan dengan fenomena perusahaan dengan excellent performance seperti GE, Sony, Toyota, atau IBM: bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut mampu bertahan puluhan bahkan ratusan tahun dan selama waktu tersebut mampu secara konsisten mempertahankan kinerjanya yang excellen? Bagaimana mereka bisa demikian adaptif, kuat, dan tegar menghadapi sebesar apa pun hempasan perubahan lingkungan bisnis? Begitu juga bagaimana mereka bisa demikian inovatif dan mampu dengan cepat memanfaatkan peluang-peluang bisnis baru dan reinventing the industry yang menjadi basis dan menentukan masa depannya?”

 Jawaban yang tepat dalam kacamata Hermawan Kartajaya terhadap hal tersebut adalah karena mereka mempunyai tiga komponen inti dari sebuah perusahaan: yaitu inspirasi, kultur, dan institusi yang kokoh. Ketiganya harus padu satu sama lain.

Maka untuk membangun sebuah “Corporate Value and Culture” dalam institusi, pertama adalah usaha mengenali, menemukan, menyadari dan menguraikan budaya perusahaan yang build-in dalam organisasi tersebut. Kemudian menetapkan sasaran yang jelas dan terukur. Sasaran program, dan sasaran kultural yang berupa keyakinan, sikap maupun perilaku.

Dilanjutkan dengan perencanaan dan penerapan dari tindakan-tindakan yang secara ideal akan mewujudkan perubahan pada empat dimensi, yaitu pada individu, pada anggota tim sekerja, pada pimpinan, dan organisasi secara proses, sistem, kebijakan dan struktur.

 Untuk itu karena “cara bekerja” sebuah organisasi harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terus berubah, maka usaha untuk membentuk “Corporate Value and Culture” sebaiknya ditinjau sebagai suatu sistem. Timbal balik sebaiknya diperoleh secara berkala guna meninjau kembali kecocokan dari asumsi semula dan menyesuaikan tindakan selanjutnya. Selain itu setiap pemimpin harus memikul beban untuk membentuk atau memelihara “Corporate Value and Culture” sesuai dengan otoritasnya. Ia merupakan penerjemah bagi bawahan di unit kerjanya. Terjemahannya itu tentu dipengaruhi oleh apakah ia mengerti dan menerima nilai dan budaya makro dari perusahaannya. Bila sudah jelas, ia wajib memelihara, menguatkan dan mempertimbangkannya dalam setiap ketetapan dan kebijaksanaan perusahaan. Bila setiap manager mampu untuk menerjemahkan “nilai dan budaya makro” institusi menjadi suatu “nilai dan budaya mikro” di unitnya masing-masing, maka institusi itu akan seperti berlian: satu badan tetapi banyak segi. Adapun institusi yang memiliki Corporate Value and Culture” yang positif ibarat berlian yang tetap diasah dengan baik: meski banyak segi, cahayanya dapat menyatu.  

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/6AFn0vFtLC0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Kewirausahaan: Laporan Kegiatan Praktek Lapangan Penjualan Roti Bakar



Laporan Kegiatan Kewirausahaan Praktek Lapangan Kelompok 7

Dosen : Djadja Ahmad Sardjana

Disusun Oleh :

Efrianty Sitanggan – 0108278

Chaerul Rizal – 0108298

Sheila Tofani – 0110U321

Muhammad Ryan Rinaldhi – 0110U027

 

Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi – S1

Universitas Widyatama

2011

 

Pendahuluan

Dalam menghadapi tantangan bisnis termasuk menghadapi customer maka sebagai mahasiswa kita juga harus belajar dalam memasarkan suatu produk. Dalam tugas akhir mata kuliah kewirausahaan ini kami mencoba melakukan sebuah usaha sederhana guna mendapatkan pembelajaran untuk menjadi seorang wirausahawan. Usaha ini didasari oleh tugas kelompok kelas Kewirausahaan dimana tugas ini dikerjakan secara berkelompok, terdiri dari Efrianty Sitanggang, Chaerul Rizal, Sheila Tofani.

Usaha yang kami jalankan merupakan sebuah usaha singkat yang mungkin bisa menjadi peluang bagi setiap individu untuk masa yang akan datang. Saat ini kami mencoba menawarkan roti bakar di lingkungan Universitas Widyatama.

Tujuan usaha ini merupakan sebuah pencapaian tujuan usaha yaitu profit, akan tetapi tidak hanya sekedar profit saja yang kami coba temukan melainkan penekanan pada pengalaman sebuah proses wirausaha. Karena melalui penjualan dan pemasaran ini kami dituntut untuk berinteraksi dengan orang banyak, bagaimana cara menawarkan dengan baik dan sopan, meyakinkan pembeli untuk membeli produk yang kita tawarkan dan memberikan pelayanan yang terbaik agar customer merasa puas.

 

Pelaksanaan Kegiatan

Waktu dan Tempat

          Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan di beberapa tempat dalam waktu satu hari yaitu :

          Hari/Tanggal  : Rabu, 14 Desember 2011

          Waktu             : Pukul 08.00 13.00 WIB

          Kegiatan ini kami lakukan di lingkungan kampus Universitas Widyatama dengan target pemasaran adalah mahasiswa-mahasiswa, karyawan di Universitas Widyatama itu sendiri. Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih 5 jam, kami mencoba menawarkan produk kami ke berbagai kalangan yang ada di sekitar gedung C, gedung K, gedung F, Kopma, Puslok (Pustaka Loka), UKM – UKM yang ada dan beberapa tempat lain di lingkungan Universitas Widyatama.

 

Proses Produksi/ Proses perekrutan barang

          Dalam proses pembuatan roti bakar ini, kami mengerjakannya di pagi hari sebelum di jual dan dipasarkan. Bahan-bahan dibeli sehari sebelum kami mengerjakannya. Adapun bahan-bahan dan peralatan yang dibutuhkan yaitu :

Bahan :

Roti Sharon toas panjang 4 bungkus (isi 18 lembar) @Rp. 30.000,-

Selai Strawberry Paleta 250 gr @Rp. 5.500,-

Selai Blueberry Paleta 250 gr @Rp.5.500,-

Meses Ceres Classic 225 gr @Rp. 16.100,-

Keju Zeddar 250 gr @Rp. 15.000,-

Tissue suntiss 50 lembar @Rp. 2.000,-

Margarin blue band 200 gr @Rp. 5.000,-

Peralatan :

Panggangan roti, penjepit, piring tempat roti, sendok makan.

Pemasaran

Proses pemasaran yang kami lakukan yaitu dengan cara promosi langsung kepada customer, pada saat roti dibakar, dua orang mencari pembeli dan menawarkannya, sehingga seteleh roti matang pembeli bisa langsung menikmatinya. Selain mendatangi orang-orang yang lagi duduk santai menunggu kelas atau hanya bercerita-cerita, kami juga melakukan pemasaran melalui mobile, kami menawarkan roti bakar kepada beberapa teman-teman yang kami kenal untuk membeli. Banyak yang datang untuk mencoba roti bakar kami.

Dengan melakukan tahap-tahap diatas kami berusaha untuk membujuk customer agar tertarik perhatiannya pada produk sehingga pada akhirnya bisa melakukan pembelian atau transaksi. Bahkan setelah kami melakukan sosialisasi produk ada beberapa customer yang langsung membeli. Kebanyakan dari customer kami adalah mahasiswa/i yang sedang menunggu kuliah di lingkungan kampus Universitas Widyatama pada waktu pagi hari karena kebanyakan mahasiswa-mahasiswa yang kuliah pagi hari tidak sempat sarapan dari rumah, sehingga penjualan roti bakar pun dapat berjalan lancar dan banyak yang beli.

Penjualan

            Kegiatan penjualan merupakan kegiatan pelengkap atau suplemen dari transaksi, oleh karena itu kegiatan penjualan terdiri dari serangkaian yang meliputi, menemukan si pembeli, pengenalan produk, negosiasi harga serta syarat-syarat pembayaran. Penjualan yang kami lakukan merupakan sebuah rangkaian penjualan produk dimana produk-produk tersebut merupakan produk pangan.

Dalam kegiatan ini kami mencoba menawarkan roti bakar. Proses penjualan yang kami lakukan berdasarkan segmentasi, targeting dan positioning yang dianalisis secara nalar. Oleh karena itu kami melakukan penjualan kebanyakan pada Mahasiswa-mahasiswa yang kuliah pada pagi hari karena kebanyakan dari mereka tidak sempat sarapan dari rumah sehingga membutuhkan makanan berat untuk menambah energi.

Laporan Keuangan Praktek Lapangan

Anggaran

Realisai

Roti

36.000

30.000

Selai Strawberry

6.300

5.500

Selai Blueberry

6.300

5.500

Meses

14.500

16.100

Keju

16.500

15.000

Tissue

4.500

2.000

Margarin

5.000

5.000

Jumlah

84.100

79.100

 

Modal :

Rp.30.000 x 3 orang

 = Rp. 90.000,-

Realisasi

 = Rp. 79.100,-

Sisa Modal

 = Rp. 10.900,-

Tambahan Modal

 = Rp. 24.000,-

Total sisa modal

 = Rp. 34.900,-

 

Penjualan :

Roti yang terjual habis ada 36 lembar roti x Rp. 3.000 = Rp. 108.000,-

modal yang keluar = Rp. 79.100,-

keuntungan penjualan = Rp. 28.900,-

 Hasil dan Pembahasan

            Kegiatan ini kami lakukan agar mendapatkan sebuah pengalaman dan pembelajaran untuk menjadi seorang Wirausaha yang handal disamping mendapatkan profit. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa khususnya kami, karena dengan melakukan kegiatan seperti ini maka kami mendapatkan sebuah pengalaman untuk menjadi seorang Wirausaha, mempelajari bagaimana cara menawarkan dengan baik dan berinteraksi dengan orang banyak. Dari keseluruhan kegiatan yang kami lakukan maka kami dapat menganalisa usaha yang kami jalankan sebenarnya cocok untuk dilaksanakan secara continue di dalam Lingkungan kampus karena pasar yang potensial dan sangat menerima.

 

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan    

Kesimpulan dari kegiatan yang telah kami lakukan adalah bahwa mahasiswa sangat memerlukan proses pembelajaran seperti ini. Menawarkan dan menjual produk kepada mahasiswa memiliki banyak manfaat untuk menjadi seorang wirausaha yang handal dan sukses. Bahkan dapat kami simpulkan bahwa modal bukan lah segalanya dalam dunia usaha seperti ini, asal ada kemauan dan keinginan untuk berusaha pasti kita bisa melakukannya. Hanya saja kita harus benar-benar melihat peluang yang ada serta berbagai hal yang penting seperti segmentasi, target dan positioningnya.

Saran

          Saran yang ingin kami sampaikan yaitu semoga dalam perkuliahan kewirausahaan selanjutnya kegiatan Praktek Lapangan ini tetap bisa dilaksanakan dan ditingkatkan lebih lagi. Karena sangat bermanfaat bagi para mahasiswa yang ingin menjadi seorang wirausaha yang handal. Kegiatan ini dapat menjadi proses awal bagi mahasiswa sebelum terjun langsung di dunia bisnis. Dan peluang bisnis yang mungkin sangat potensial di lingkungan Universitas Widyatama adalah bisnis pangan, sehingga perlu dilanjutkan secara continue.

 

Kemana perginya EsEmKa? Mirip Hikayat Kelahiran Mobil Listrik Pertama di Amerika

Pupus sudah harapan Walikota Solo dan komunitas SMK yang membangun mobil EsEmKa ketika belum lulus Uji Emisi  Euro 2 di Balai Thermodinamika Motal dan Propulsi (BTMP), Serpong, Tangerang. Dikuti dari Tribun News 2 Maret 2012Jokowi dan Rudy, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo kecewa karena Esemka tak lolos uji emisi. Pasalnya dari 11 item yang diujikan, Esemka, mobil rakitan anak bangsa itu, gagal pada dua item.
Pertama, Esemka gagal pada standar gas buang karbonmonoksida yang seharusnya (CO) 5 gram/km dan HC+NOx standar 0,70 gram/km, namun terbukti CO-nya 11,63 gram/km dan HC+NOx sebesar 2,69 gram/km. Kegagalan kedua yakni tingkat terang lampu, seharusnya 12.000 candle (CD), namun lampu Esemka hanya mampu bersinar pada 10.900 CD, lampu kanan dan sebelah kiri 6.700 CD. Standar-standar itu mengacu pada Kepmen KLHJ No 04/2009 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang untuk Kendaraan Bermotor Tipe Baru.
Terlepas dari masalah, saya jadi teringat kejadian ini Mirip Hikayat Kelahiran Mobil Listrik Pertama di Amerika. Cerita sebagian besar diungkap selama kurun tahun 1990-an, ketika beberapa produsen mobil, termasuk General Motors, yang didorong untuk mengejar masa depan mobil yang bersih. Pada tahun 1990 “California Air Resources Board” mengadopsi mandat “Kendaraan Nol Emisi” dalam upaya untuk memaksa perusahaan mobil untuk memproduksi kendaraan bebas gas buang. Idenya sederhana: “Kita jangan tersedak sampai mati di limbah polusi kita sendiri”. Tujuan itu tampaknya sederhana: pada tahun 1998, 2 persen dari semua mobil baru yang dijual di pasar kendaraan terbesar di negara itu akan tanpa gas-buang, sehingga membuat gaya hidup California lebih ramah lingkungan. 
Henry Ford dan minyak murah membantu mencegah mobil listrik dipergunakan di jalan-jalan Amerika, meninggalkan sistem jalan raya yang tumbuh cepat dengan mesin yang memuntahkan polusi pembakaran internal. Dalam film berjudul “Siapa yang Membunuh Mobil Listrik,?” (Who Killed the Electric Car?) bergerak cepat antara wawancara dan  tayangan visual yang mengejutkan,  menjabarkan bagaimana “kisah cinta negara AS dengan mobil haus bensin”, serta berubah menjadi cinta buta. Pada tahun 1950-an, dimana Jack Kerouac dan James Dean bersinar,  pejalan kaki Los Angeles yang menerjang jalan-jalan kota terlihat menutupi mulut mereka dengan sapu tangan, mencoba untuk menyaring udara. Beberapa dekade kemudian, negara mengambil tindakan berani untuk mencegah polusi dari kendaraan bermotor. Apa yang terjadi selanjutnya, Mr Paine menjelaskan, adalah kisah adanya keserakahan korporasi dan korupsi pemerintah, berhadapan dengan semangat idealisme dan kemarahan. 
Inipun kelihatannya terjadi di Indonesia dengan mobil EsEmKa. Banyak orang yang masih ingin menikmati “Kursi Empuk” (Comfort Zone), sehingga belum rela melihat mobil “Produk Indonesia” menggelinding di jalan raya. Pertarungannya bukan hanya level emisi yang harus dipenuhi, tapi akan merupan pertarungan “David vs Goliath” otomotif di Indonesia. Memang banyak pertaruhannya, menurut majalah Kontan, Indonesia menjadi harapan pertumbuhan industri otomotif dunia yang sedang sendu. Setelah China, industri otomotif dunia melirik pasar mobil yang menggiurkan di Nusantara, apalagi Indonesia memiliki populasi penduduk terbanyak di Asia Tenggara.
Analis dari IHS Otomotif dan JPMorgan Chase & Co menyebutkan, industri otomotif saat ini saja sudah menikmati kenaikan pendapatan warga Indonesia. “Pasar mobil Indonesia berada di ambang booming,” kata Jessada Thongpak, analis senior di IHS Otomotif. Jessada menuturkan, Indonesia menjadi incaran produk otomotif karena mencatat pertumbuhan ekonomi dengan kondisi inflasi rendah dan suku bunga yang stabil. Ia berani memprediksikan, penjualan mobil di Indonesia akan melesat hingga 50% dalam lima tahun ke depan.
Adalah suatu kewajiban kita dari kalangan “Academic, Business & Government/ABG” (Akademisi, Bisnis dan Pemerintah) melihat secara jernih “Mau Dibawa Kemana” industri otomotif Indonesia. Apakah membiarkan EsEmKa “Layu Sebelum Berkembang” atau kita berani mendorongnya  dari “Ulat, Kepompong menjadi Kupu-Kupu” otomotif Indonesia?
Artikel Terkait:

0610U029 Lutfi Azhari: Keuletan Berwirausaha Membawa Nikmat

Tugas Kewirausahaan: Menceritakan Apabila Saya Menjadi Seorang Wiraswasta

Disusun oleh : 0610U029 Lutfi Azhari

Jurusan Teknik Informatika – Universitas Widyatama Bandung

 

Jika Saya Menjadi Seorang Wiraswasta

Dalam melakukan berbagai pekerjaan kita tidak boleh malu dengan apa yang kita kerjakan, karena itu merupakan modal utama yang harus dimilki sebagai seseorang yang akan melakukan pekerjaan sebagai seorang wiraswasta, bila akan melakukan perkerjaan sebagai seorang wiraswasta pasti kita akan di hadapkan dengan berbagai orang. Oleh karena itu kita harus membuang rasa ego kita yang miliki supaya sesuatu yang akan dikata lakukan akan berjalan dengan lancar. Impian saya ketika pertama kali saya berkerja sebagai seorang Wiraswasta  saya harus mencari dulu perkerjaan yang nantinya saya bisa mendapatkan modal untuk melakukan berbagai macam aktifitas sebagai seorang Wiraswasta . Saya juga mengerti dalam mengumpukan modal tersebut harus memerlukan waktu yang lama supaya saya bisa melakukan usaha sendiri sebagai seorang Wiraswasta , dan Ketika sesuatu yang saya mau itu sudah terkumpul alias money itu sudah ada saya akan mencari tempat yang setrategis yang dimana tempat tersebut harus selalu ada bibit dalam melakuka akifitas berjualan. Karena apa, kita sebagai seorang Wiraswasta  harus memikirkan tempat, supaya parapembeli itu akan selalu datang untuk membeli barang-barang yang diinginkan dengan jumlah orang yang banyak. Jika kita tidak memperhitungankan itu maka usaha yang kita ciptakan tidak akan berkembang dengan cepat dan mungkin usaha yang kita lakukan tidak akan pernah berjalan dengan lancar. Apabila kita sudah mendapatkan tempat yang strategis dan mempunyai uang yang cukup untuk membangun tempat, kita harus pandai-pandai untuk mempromosikan kepada teman ataupun orang lain bahwa kita itu mulai melakukan bisnis berWiraswasta . Itu merupakan sesuatu yang kecil yang bisa kita lakukan dalam mempromosikan bahwa kita mulai melakukan berWiraswasta . Sebagai seorang wiraswasta kita hendaknya harus menganggap bahwa orang yang berbelanja itu sebagai raja, mengapa saya berkata begitu karena kita kalau orang yang membeli itu tidak nyama dengan pelayanan yang kita berikan maka pembeli tersebut akan selalu datang untuk membeli kembali dan apabila kita memberikan pelayanan yang tidak baik kepada orang yang membeli maka akibatnya orang-orang yang membeli tersebut tidak akan membeli lagi di tempat kita berwiraswasta itu dan nantinya mungkin kita akan rugi/gulungtikar. Dalam berwiraswasta juga kita harus memikirkan barang apa yang mestinya kita jual, mengapa kita harus memkirkan tentang barang apa yang harus kita jual karena itu merupakan sesuatu yang nantinya akan di beli oleh setiap orang. Kita harus pandai-pandai untuk menjual barang yang sering digunakan oleh orang-orang yang setiap hari mereka gunakan dengan begitu maka orang-orang setiap hari pasti akan membeli barang tersebut, tetapi kalau kita menjual barang-barang yang tidak digunkan oleh orang-orang maka barang tersebut yang kita jual akan susah untuk dibeli oleh parapembeli. Kita harus memikirkan bahwa barang tersebut kalau tidak dibeli oleh komsumen maka barang tersebut jangan yang mudah basi, karena jika barang  tersebut belum laku dan basi maka kita akan rugi. Oleh karena itu kita harus memikiran barang yang sering di konsumsi dan tidak mudah basi atau rusak. Setiap orang yang memulai berWiraswasta  pasti mengalami sepinya pembeli kita tidak boleh mudah menyerah apa bila barang-barang yang kita jual belum laku, kita harus sabar dengan itu, itu merupakan resiko yang didapatkan ketika kita memulai suatu usaha dengan berwiraswasta. Kebanyak orang yang berWiraswasta  itu mulai terkenal setelah berbula-bulan atau bertahun-tahun. Dalam berwiraswasta juga kita harus pandai-pandai memilih pekerja yang nantinya dia akan membatu kita dalam melayani parapelanggan. Kebanyak parapekerja walaupun tidak semua kita harus sering memperhatikan karena parapekerja itu tidak semua jujur itu lah yang sangat membahayakan seorang wiraswasta yang pemula selau lalai dalam mematau parapekerja tersebut dan akhirnya pekerjaanya tersebut akan terjadi kegagalan. Dalam berWiraswasta  kita pasti akan mendapakan keuntungan yang didapatkan, keuntungan yang didapat tidak boleh digunakan sesuatu yang tidak bermanfaat karen itu merupakan sesuatu yang mungkin bila kita gunakan untuk membeli barang untuk menambah modal kita, pasti uang tersebut bisa menguntungkan kita. Kita dalam melakakuan berWiraswasta  kita tidak boleh berlaku tidak baik dengan paraWiraswasta  lain karena jika kita melakuakan sesuatu yang tidak baik kepada wiraswasta yang lain dan natinya parakonsumen tau dengan apa yang kita kerjakan maka pasti kita itu dicap dengan berbagai gosip yang tidak baik. Maka dari itu kita harus bersaing dengan sehat dalam melakukan wirwasta tersebut. Ketika saya mempuyai rejeki dan semua barang-barang yang kita jual itu sudah cukup maka yang akan saya lakukan saya  tidak akan menyimpan uang keuntungan itu dengan percuma saya akan menggolangkan uang itu kembali dengan membuat usaha baru yang sama tetapi di tempat yang berbeda. Menurut saya itu merupakan salah satu tindakan yang tepat yang selalu dilakukan oleh orang-orang sudah merasakan manisnya dalam melakukan perkerjakan sebagai Wiraswasta . Meraka ingin uang yang didapatkannya itu dapat bertambah banyak yang mungkin itu bisa megakibatkan orang tersebut harus berkerja dengan ekstra. Dan kita harus ingat bila kita sudah mendapatkan dengan apa yang kita dapatkan kita tidak boleh sombong karena kesombongan akan mendapakan sesuatu yang enyakitkan…terimakiash

Menceritakan Sesuatu Yang Menarik Tentang Keluarga

Saya akan menceritakan kisah sodara saya yang mempunyai kisah unik yang dialami ketika pertama kali melakukan perkerjaan sebagai seorang wiraswasta hingga akhirnya bisa menjadi sukses. Sebut saja EK mempunyai seorang ayah yang bernama ME , dia bekerja sebagai buruh pengantar bako ke setiap jongko pada sebuah pasar. Tetapi dia ulet dalam melakukan perkerjaannya itu. Dia juga bisa meracik dalam pembuatan barang tersebut. Dalam
mengantarkan perkerjaannya itu dia selau diberi gaji setiap hari dan dia selalu menabungkan sebagian gajinya terebut untuk keperluan lainnya nanti. Singkat cerita akhirnya dia bertekad untuk keluar dari perkerjaannya itu dan mulai membuat usaha baru. Dia dengan ulet terus melakukan usaha barunya. dia mempunyai seorang anak yang bernama EK dia lulusan S2 Unversitas pajajan kimia. Ketika sudah lulus dia mempunyai tekad untuk melanjutkan usaha bapaknya yaitu berjulan bako. Dan ayahnya menyuruh dia untuk bekerja disuatu perusahaan. Tapi anehnya ketika dia sudah sudah lulus, dia ditawarkan disuatu perusahan swasta dengan diberikan gaji sebesar 8 juta rupiah perbulan pada tahun 2003 dia menolaknya dengan alasan dia ingin melanjutkan usahanya ayahna, tetapi dia mengaku kepada ayahnya bahwa dia gagal melamar kerja. Tak lama kemudian dia meminta kepada ayahnya bahwa dia ingin bekerja berjualan bako di suatu jongko. Singkat cerita dia diijinkan untuk berjualan dan diberikan modal dengan diberikan sebuah jongko kecil, sudah mendapakan yang dia inginkan tidak lama dia menikah dengan bibi saya dengan bermodal kerja sebagai Wiraswasta
 yang pada saat itu pendapatan yang didapatnya belum tentu mendapakan pembeli atau tidak. dia melakukan pekerjaan setiap hari selama 2 tahun perjaannya itu belum laris juga,  tetapi dia tidak pantang menyerah dia terus saja berjualan hingga akhirnya dia mendapakan pelanggan yang tetap. Hari demi hari dia lewati, pelanggan pun mulai bertambah. Penghasilan yang didapatkan pada tahun ke 4 mulai menjajikan. Hingga beberapa tahun kemudian dia bisa membeli toko di sampingnya untuk dijadikan sebuah gudang. Pada tahun 2008an dia sudah mendapakan manisnya penghasilan yang didapkan akibat keuletan dia, hingga saat ini dia bisa membeli mobil barang dan juga 2 mobil lainya. Tak juga itu keuntungan yang didapakan dari hasil satu jongko itu bisa menghasilakan usaha lain yaitu menyewakan kosan sebanyak 20 kamar, usaha peternakan udang galah, hingga akhrnya sekarang bisa menikmati hasilnya. Itu lah yang didapatkan akibat keuletan dan kejujuran dalam bekerja.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=HPv-zCOVoEQ&w=600&h=400]

Kewirausahaan Mahasiswa: Tugas Praktek Lapangan (Antara Tantangan dan Keuntungan)


Hari ini s/d minggu depan mahasiswa Kewirausahan Prodi Akuntansi Universitas Widyatama melakukan Tugas Praktek Lapangan dengan Dosen Pengampu Djadja Achmad Sardjana S.T.,M.M, untuk melakukan kegiatan Melakukan usaha-usaha Wirausahawan berupa :

  1. Penjualan (Sales)
  2. Marketing (Pemasaran)
  3. Studi Kelayakan Bisnis/Riset
  4. Wawancara Bisnis/Negosiasi
  5. Sosialisasi Produk/Jasa Kewirausahaan

Setelah selesai mereka dimohon membuat dokumen sbb:

  1. Laporan Aktifitas Wirausaha (Word, min.5 hal., A4, Arial/Roman Font 12)
  2. Presentasi Aktifitas Wirausaha (Powerpoint, min.5 hal.)
  3. Clip Video yg diupload ke youtube.com (min. 5 menit, kirimkan link-nya saja)

Ada beberapa kelompok yang mulai menawarkan produk atau jasa kepada mahasiswa, dosen bahkan fihak lain termasuk di Gasibu dan Car Free Day – Dago. Kita tunggu hasilnya minggu depan 🙂

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=Li7Hxjidx1s?rel=0&w=640&h=420]