Kewirausahaan Akuntansi @Utama: Hubungan Kepemimpinan, Kasih Sayang Orang Tua dan Mahasiswa Sukses Wirausaha @Kurisol

Kuliah Kewirausahaan yang saya ampu hari ini dari jam 07.00-16.00 di Akuntansi Universitas Widyatama dipenuhi emosi yang bergejolak. Satu saat mahasiswa tertawa terbahak-bahak, dilain waktu mereka diam membisu bahkan menangis ketika mengikuti kuliah ini. Berikut adalah cuplikannya:

Kepemimpinan


 

 

Kasih Sayang Orang Tua

Kadang tidak mudah bagi mahasiswa untuk menghargai kasih sayang orang tua, padahal mereka menebar cinta  dalam setiap desahan nafas, gerak bibir dan ayunan langkah. Tak ada yang mereka pikirkan begitu penting selain keluarga, ini mungkin nasehat lama yang sudah terlalu sering kita dengar, namun tak pernah usang karena orang tua selalu sangat penting. Mengenang orang tua sebenarnya mengenang keberadaan diri kita sendiri. Kita terlahir dari buah kasih sayang, tumbuh dalam naungan kasih sayang, memang tak ada yang terlambat untuk menyadari betapa besar cinta mereka.

Anak durhaka adalah seorang anak yang tidak pernah dapat membuat kedua orang tuanya tersenyum bangga. Ketika ia berada disisi orang tuanya kadang kala anak mereka durhaka. Mereka tidak pernah tahu apa keinginan orang tuanya. Dengan mengasihi mereka, mungkin itu cukup untuk membuatnya bangga meskipun tak tersenyum. Terakhir jadilah anak yang membuat Orang Tua tersenyum bangga karena kehadiran kita disisnya. Sebagai contoh kasus, saya ceritakan betapa kasih sayang Dahlan Iskan dan Chairul Tanjung pada orang tua mereka, teruta ibu, membuat mereka sukses seperti sekarang ini. Cinta orang tua mereka yang membuat mereka seperti sekarang ini…………

Kuliah kali ini diselingi dengan pemutaran clip video kasih sayang orang tua yang membuat anak mereka “terbang tinggi dengan sayap mereka sendiri”. Para mahasiswa (terutama mahasiswi) matanya berkaca-kaca bahkan sebagian menangis ingat orang tua mereka……Saya minta pada mereka setelah pulang kuliah segera memeluk dan mencium tangan orang tua merka sebagai ungkapan kasih sayang………

Setelah itu saya putar beberapa clip video menggugah namun lucu diantaranya “Forrest Gump”. Film ini menceritakan seorang “idiot” (diperankan oleh aktor pemenang Oscar Tom Hank) yang karena kegigihannya dan kasih sayang ibunya bisa menjadi pengusaha sukses. Para mahasiswa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Forrest Gump yang lugu namun cerdas. Saya ceritakan juga hikmah dari film ini, diantaranya bahwa bila seseorang itu “Leukeun Pasti Pakeun” (sesorang yang teguh dalam tujuannya pasti berhasil)….
 

Mahasiswa Sukses Berwirausaha

Sebagai bagian akhir kuliah, saya mempersilakan  kelompok-5 KELAS-G untuk mempresentasikan tugas wawancara wirausaha. Kelompok ini terdari dari:

  1. 0111U140 Elsa Oktaviana @tomomielso
  2. 0111U142 Asti Sundari @astisundari
  3. 0111U117 Tiara Cahya S @tiaracs
  4. 0111U206 Destiyani @destyezy
  5. 0111U229 Dewi Ambarwati @deewipandaa

Mereka  berhasil membuat reportase video Rizki Pratama seorang mahasiswa angkatan 2010 yang berhasil menjadi pengusaha kuliner dengan merek “Kurisol” sebuah Brands Kuliner yang sedang Berekspansi Di Kota Bandung Indonesia. Walau masih mahasiswa, dia berhasil menjadi pengusaha setelah terinpirasi dari mengerjakan tugas kuliah wirausaha di kampusnya. Para mahasiswa terinspirasi oleh “kawan sebaya” mereka yang berhasil mewujudkan keinginannya karena “Junun” (serius dan fokus) dalam usaha tanpa mengganggu kuliahnya.

 

#ManajemenPembebas Implementasi Strategi: Kepemimpinan Strategis (Strategic Leadership)

Dalam makalahnya yang berjudul “KEPEMIMPINAN STRATEGIS DI ABAD XXI”,  Adi Sujatno, Bc.IP, SH, MH (Widyaiswara Utama Lemhannas R.I) menyebutkan bahwa kepemimpinan stategis  beresensi umum berkaitan dengan jenis teori kepemimpinan, konsep dan strategi kepemimpinan.   

Kepemimpinan lahir sebagai suatu konsekuensi logis dari perilaku dan budaya manusia yang terlahir sebagai individu yang memiliki ketergantungan sosial (zoon politicon) yang sangat tinggi dalam memenuhi berbagai kebutuhannya (homo sapiens). ABRAHAM MASLOW mengidentifikasi adanya 5 tingkat kebutuhan manusia :  1). kebutuhan biologis, 2). kebutuhan akan rasa aman, 3). kebutuhan untuk diterima dan dihormati orang lain, 4). kebutuhan untuk mempunyai citra yang baik, dan 5). kebutuhan untuk menunjukkan prestasi yang baik. 

Dalam upaya memenuhi kebutuhannya tersebut manusia kemudian menyusun organisasi dari yang terkecil sampai yang terbesar sebagai media pemenuhan kebutuhan serta menjaga berbagai kepentingannya. Bermula dari hanya sebuah kelompok, berkembang hingga menjadi suatu bangsa. 

Dalam bahasa Indonesia “pemimpin” sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya.

Istilah pemimpin, kepemimpinan, dan memimpin pada mulanya berasal dari kata dasar yang sama “pimpin”. Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda. Pemimpin adalah suatu peran dalam sistem tertentu; karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Adapun istilah Kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan ketrampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang; oleh sebab itu kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan “pemimpin”. Sedangkan istilah Memimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara.

“Sometimes, I think my most important job as a CEO is to listen for bad news. If you don’t act on it, your people will eventually stop bringing bad news to your attention and that is the beginning of the end.” – Bill Gates

Kajian mengenai kepemimpinan termasuk kajian yang multi dimensi, aneka teori telah dihasilkan dari kajian ini. Teori yang paling tua adalah The Trait Theory atau yang biasa disebut Teori Pembawaan. Teori ini berkembang pada tahun 1940-an dengan memusatkan pada karakteristik pribadi seorang pemimpin, meliputi : bakat-bakat pembawaan, ciri-ciri pemimpin, faktor fisik, kepribadian, kecerdasan, dan ketrampilan berkomunikasi. Tetapi pada akhirnya teori ini ditinggalkan, karena tidak banyak ciri konklusif yang dapat membedakan antara pemimpin dan bukan pemimpin.

“A real leader faces the music even when he doesn’t like the tune.” – Arnold H. Glassgow

Dengan surutnya minat pada Teori Pembawaan, muncul lagi Teori Perilaku, yang lebih dikenal dengan Behaviorist Theories. Teori ini lebih terfokus kepada tindakan-tindakan yang dilakukan pemimpin daripada memperhatikan atribut yang melekat pada diri seorang pemimpin. Dari teori inilah lahirnya konsep tentang Managerial Grid oleh ROBERT BLAKE dan HANE MOUTON. Dengan Managerial Grid mereka mencoba menjelaskan bahwa ada satu gaya kepemimpinan yang terbaik sebagai hasil kombinasi dua faktor, produksi dan orang, yaitu Manajemen Grid. Manajemen Grid merupakan satu dari empat gaya kepemimpinan yang lain, yaitu : Manajemen Tim, Manajemen Tengah jalan, Manajemen yang kurang, dan Manajemen Tugas.

“Be as careful as to the books you read as of the company you keep; for your habits and character will be as much influenced by the former as the latter.” – Poxton Hood

Pada masa berikutnya teori di atas dianggap tidak lagi relevan dengan sikon zaman. Timbullah pendekatan Situational Theory yang dikemukakan oleh HARSEY dan BLANCHARD. Mereka mengatakan bahwa pembawaan yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah berbeda-beda, tergantung dari situasi yang sedang dihadapi. Pendekatan ini menjadi trend pada tahun 1950-an.

“There are no working hours for leaders.” – James Cardinal Gibbons

Teori yang paling kontemporer adalah teori Jalan Tujuan, Path-Goal Teory. Menurut teori ini nilai strategis dan efektivitas seorang pemimpin didasarkan pada kemampuannya dalam menimbulkan kepuasan dan motivasi para anggota dengan penerapan reward and punisment. 

 “A real leader faces the music even when he doesn’t like the tune.” – Arnold H. Glassgow

Perkembangan teori-teori di atas sesungguhnya adalah sebuah proses pencarian formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya. Atau dengan kata lain sebuah upaya pencarian sistem kepemimpinan yang efektif dan strategis.

 

Peran Teknologi Telematika dalam Kepemimpinan Bangsa

Pada saat ini bangsa kita sedang dalam tahapan rekonstruksi setelah mengalami krisis ekonomi, sosial, dan politik yang terburuk pada tiga tahun terakhir ini. Kepercayaan masyarakat kepada lembaga-lembaga formal amat tipis, bahkan kepercayaan antar kelompok-kelompok dalam masyarakatpun terkikis. Sedangkan gejala disintegrasi bangsa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita. Upaya rekonstruksi diharapkan dapat membawa bangsa kita menjadi suatu masyarakat madani yang bersatu dalam negara Republik Indonesia.

Memasuki milenium ketiga, globalisasi yang semula merupakan suatu kecenderungan telah menjadi suatu realitas, sedangkan alternatifnya adalah pengucilan dari kancah pergaulan antar bangsa. Globalisasi menuntut adanya berbagai macam standar, pengaturan, kewajiban, dan sekaligus juga memberi hak kepada anggota masyarakat global. Berbagai aturan dikenakan secara global (misalnya, WTO, IMF, UN, dan lain-lain). Tuntutan berkompetisi, dan sekaligus berkolaborasi, memaksa kita untuk terus menerus meningkatkan daya saing bangsa kita, baik dalam pasar lokal, regional, maupun dalam pasar global.


Sementara itu, era reformasi memungkinkan kita untuk menelaah dan memperbaiki dampak negatif dari sentralisasi yang berlebihan di masa lalu. Pola sentralisasi selain mengabaikan inisiatif masyarakat, juga cenderung meniadakan proses pengambilan keputusan yang didasarkan pada kriteria obyektif berdasarkan data dan informasi. Setelah beberapa dasawarsa di bawah pemerintahan tersentralisasi, kebijakan pucuk pimpinan seringkali menjadi satu-satunya acuan yang harus diikuti. Akibatnya, keputusan lebih banyak dilakukan atas dasar kesesuaian dengan kebijakan atasan daripada berdasarkan fakta dan informasi, sehingga informasi yang dikumpulkan dari lapangan menjadi kurang dihargai.

Selain masalah-masalah tersebut di atas, perkembangan teknologi juga memberikan tantangan tersendiri pada berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Salah satu teknologi yang berkembang pesat dan perlu dicermati adalah teknologi informasi. Tanpa penguasaan dan pemahaman akan Teknologi Telematika ini, tantangan globalisasi akan menyebabkan ketergantungan yang tinggi terhadap pihak lain dan hilangnya kesempatan untuk bersaing karena minimnya pemanfaatan teknologi informasi sebagai alat bantu dalam Kepemimpinan Bangsa. Mengingat perkembangan Teknologi Telematika yang demikian pesat, maka upaya pengembangan dan penguasaan Teknologi Telematika yang didasarkan pada kebutuhan sendiri haruslah mendapat perhatian maupun prioritas yang utama untuk dapat menjadi masyarakat yang lebih maju.


 Dengan tantangan yang beragam seperti itu, Pemerintah Republik Indonesia harus terus melakukan upaya-upaya untuk mengatasinya dan mengantisipasi langkah-langkah yang terbaik untuk bangsa Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana Teknologi Telematika (untuk selanjutnya akan disingkat TI atau IT-Information Technology) dapat berperan dalam langkah-langkah yang sedang, dan akan dilakukan dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

 

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/82tR63FQnMw” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>