Hikayat 1 November: Lahirnya Paul Tibbets Yang Menjatuhkan Bom Atom “Little Boy” di Hiroshima

Paul Warfield Tibbets, Jr. (Quincy, Illinois, Amerika Serikat, 23 Februari 1915–Columbus, Ohio, 1 November 2007) adalah seorang perwira AS yang terkenal. Ia dikenal sebagai pilot Enola Gay, pesawat yang menjatuhkan bom atom (“Little Boy”) di atas kota Hiroshima-Jepang. Pada tanggal 6 Agustus 1945, pertama kalinya penjatuhan bom atom itu menimbulkan kematian massal warga sipil.
Bom yang dijatuhkan Tibbets menewaskan 140.000 orang Jepang dengan seketika. Pesawat tempur Enola Gay mendapatkan namanya dari ibu Paul Tibbets.
Setelah perang, Tibbets naik pangkat di US Air Force dari kolonel ke brigadir pada tahun 1959. Paul Tibbets pensiun dari kedudukan itu pada tanggal 31 Agustus 1966. Ia tak pernah menyesalkan pengeboman Hiroshima, dan mengatakan bahwa bila terjadi keadaan yang sama ia akan mengulanginya.
Setelah kematiannya mayatnya dikremasikan dan dimakamkan di tanah tak bernisan. Ia memastikan bahwa kuburannya takkan pernah bisa menjadi tempat peziarahan bagi penentang penggunaan senjata nuklir.

Kematian, Kulminasi Pencapaian Hidup Manusia

Setiap manusia yang dilahirkan selalu mempunyai makna dan mempunyai jalur kehidupannya sendiri. Dimana makna itu akan berkembang seiring dengan pertumbuhan sang manusia yang telah terisi kehidupannya. Manusia pun sesungguhnya sadar bahwa ia terlahir untuk mencapai kehidupan abadi, yakni kematian. Maka dari itu perlu disadari oleh tiap manusia, untuk tidak berhenti di satu titik meski tetap berkembang. Disini penulis menekankan, setiap hari adalah syukur, kematian memang tidak bisa diprediksi karena merupakan rancangan dari Sang Khalik, namun sedianya syukur, penyerahan diri, dan pertobatan haruslah dilakukan. Salah satunya adalah dengan merasakan “everday is my birthday”, dimana tiap harinya adalah rasa syukur akan nafas hari ini.  

Dilain fihak, Kematian adalah keniscayaan yang tidak terelakkan. Ia merupakan drama penuh misteri dan seketika yang dapat mengubah jalan hidup seseorang. Karena begitu misterius dan menakutkannya kematian, tidak sedikit umat manusia merasa perlu menambah masa hidupnya, seperti yang terangkum dalam pernyataan Chairil Anwar: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”

Membahas kematian bisa menimbulkan sebuah ‘pemberontakan’ yang menyimpan kepedihan pada jiwa manusia, yaitu kesadaran dan keyakinan bahwa mati pasti akan tiba dan musnahlah semua yang dicintai dan dinikmati dalam hidup ini. Kesadaran itu memunculkan penolakan bahwa kita tidak ingin (cepat) mati. 

Buku Psikologi Kematian karya Komaruddin Hidayat secara khusus berbicara kematian. Dalam pengantarnya, M Quraish Shihab mengakui buku best seller itu dapat membantu pembacanya bukan saja untuk memahami psikologi kematian, namun juga rahasianya dan yang lebih penting lagi ialah menuntut kita menjemput maut dengan hati yang damai. 

Menurut Komaruddin Hidayat, keengganan manusia untuk menjemput kematiannya disebabkan, setidaknya dua hal. Pertama, manusia terlanjur dimanjakan dengan aneka kenikmatan duniawi yang telah dipeluknya erat-erat. Kedua, sifat kematian yang misterius. Kematian ditakuti karena manusia tidak tahu persis apa yang akan terjadi setelah kematian itu 

Setiap orang bila ingin berkembang dan maju harus menerjang banyak ujian dari front yang berbeda dan banyak bentuknya, dimana tiap fase tidaklah sesuai dengan kemampuan kita namun tidak melampaui daya kita dan rintangan itu biasanya diatas kemampuan kita, guna mengembangkan pribadi sebagai pribadi yang lebih matang dan siap dalam menghadapi dunia. Dalam istilah sufi, diri kita terdapat arassy atau singgasan Tuhan, sehingga kalau seseorang bisa menyerap sifat-sifat ilahi ke dalam hatinya, maka ia akan lebih besar ketimbang langit dan bumi.  

“Rasa takut itu berakar pada keinginan laten untuk selalu hidup nyaman, dan rasa takut itu kemudian menjalar kepada bebagai wilayah aktifitas manusia. Lebih jauh lagi, rasa takut itu kemudian melahirkan anak-pinak, yaitu takut akan bayang-bayang ketakutan itu sendiri sehingga muncul ungkapan, musuh terbesar dan terdekat kita adalah rasa takut itu sendiri yang berakar kuat dalam diri. Esensinya ialah sikap penolakan akan kematian karena kematian itu selalu diidentikkan dengan tragedi, sakit, ketidak berdayaan, kehilangan dan kebangkrutan hidup” ~ Komaruddin Hidayat

Manusia modern, ditekankan adalah manusia yang biasanya bertindak di comfort zone, dimana area ini adalah kenyamanan dan kepuasan dimana manusia yang meninggalinya tidak akan pernah beranjak atau enggan meninggalkan area ini, karena ia sudah merasa aman dan terlindungi, sedangkan manusia hidup berdampingan dengan apa yang kita sebut sebagai kerja keras dan usaha, dengan pelu keringat dan memutar otak namun kadang manusia keluar dari jalurnya dan menekankan kehidupan sebagai keegoan, ini menyebabkan kententraman dunia bukan berada pada genggaman. Untuk menghentikan keegoan ini haruslah kita mencari Tuhan, namun sebelum masuk ke dalam pernyataan carilah Tuhan, penulis menulis dengan cukup lantang carilah dulu cinta, cinta kepada sesama, cinta kepada orang tua dan cinta lainnya, penulis menulis bahwa Tuhan memang tidak dapat disamakan dengan manusia, namun dengan adanya cinta itu manusia diharapkan dapat sadar dan merasakan kenikmatan rasa rindu akan Tuhan.

Bagi penganut mazhab religius, mengejar-ngejar kenikmatan hidup duniawi dan memperoleh self-glory hanya akan menghambat diraihnya kesuksesan hidup di akhirat. Penguasa, misalnya, jangan hanya mabuk kekuasaan dan uang, tapi kesejahteraan rakyatnya harus diperhatikan agar kenyamanan hidup setelah kematian bukan sebatas impian. 
Kedua, mazhab sekuler yang tidak peduli dan tidak yakin adanya kehidupan setelah kematian. Kelompok itu dibedakan dua. Pertama, meskipun mereka tidak peduli kehidupan akhirat, kelompok ini berusaha mengukir namanya dalam lintasan sejarah. Seperti, demi popularitas, orang kaya rela membantu yang miskin. Kedua, mereka yang memang pemuja hidup hedonistis yang sama sekali tidak peduli dengan pengadilan dan penilaian sejarah. 
Apakah benar kehidupan bermakna?

Menurut Komaruddin Hidayat, kehidupan sangat bermakna dimana makna itu berjenjang. Faktor usia, tingkat pendidikan, dan status ekonomi serta nasib akan mempengaruhi dalam memahami dan menghayati makna hidup. Hidup sebagai tindakan bermakna, makna itu bisa kita dapatkan bila kita mengenal akan agama yang kita anut, seperti sudah dikatakan sebelumnya agama adalah jalan yang jelas, dan acuan yang tepat sasaran. Tepat sasaran menuju kehidupan abadi yakni kematian. Merenungkan makna kematian tidak berarti lalu kita pasif. Sebaliknya, justru lebih serius menjalani hidup, mengingat fasilitas umur yang teramat pendek. Makna panjang umur meninggalkan kisah baik untuk menuju kebaikan surgawi.  Giving dan serving oriented diakui sebagai sumber kebahagiaan dan puncak prestasi

Dalam pandangan Komaruddin Hidayat, keyakinan dan ketidakyakinan manusia bahwa setiap saat kita bisa dijemput kematian memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Begitu pula dengan keyakinan adanya kehidupan setelah kematian. Dengan harapan memperoleh kebahagiaan di akhirat, misalnya, maka raja-raja Mesir membangun Piramida dengan pucuknya runcing dan menjulang ke langit agar memudahkan perjalanan arwahnya menuju surga. 

Islam secara tegas mengajarkan bahwa tiada seorang pun yang bisa menemani dan menolong perjalanan arwah kecuali akumulasi amal kebaikan kita sendiri. Kenikmatan dan gemerlap kehidupan duniawi akan ditinggalkan dan tidak ada bekal yang berharga bagi kelanjutan perjalanan hidup manusia kecuali amal kebaikan yang telah terekam dalam disket rohani yang nantinya akan di-print out di akhirat. 

Frank J Tipler dalam bukunya The Psysics of Immortality (1994) menyarankan manusia agar selalu berbuat baik demi kesuksesan dunia-akhirat. Kebaikan membuat kita tersenyum ketika malaikat maut menjemput meskipun keluarga yang akan kita tinggalkan menangis. Sebaliknya, kebejatan akan membuat kita menangis ketakutan, sedangkan orang-orang di sekitar kita tersenyum gembira karena merasa risih akan keberadaan kita sendiri. 

Catatan:

Disusun bersamaan dengan meninggalnya Wakil Menteri  ESDM, Widjajono Partowidagdo (http://news.detik.com/read/2012/04/21/202934/1898186/10/widjajono-gemar-mendaki-gunung-untuk-dekatkan-diri-dengan-tuhan?nd992203605)

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/Nv5xr9ybT24″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Hubungan "Balanced Scorecard" dan Kehendak Yang Maha Kuasa

 

Beberapa hari lalu saya menjadi Trainer Pelatihan “Efektifitas Balance Scorecard dalam Manajemen Kinerja Perusahaan” diCOMLABS-ITB. Training diikuti oleh peserta dari beberapa BUMN, yang menyadari pentingnya pelatihan ini untuk diterapkan di perusahaan mereka masing-masing.

Kita sadari bahwa penggunaan rasio finansial secara tunggal tidak lagi mencukupi untuk menganalisis kinerja perusahaan. Selain itu hal ini ditambah dengan isu-isu terkini seperti revolusi konsep keberhasilan, pengukuran kinerja vs strategi perusahaan, agenda sosial, aktiva tak berwujud, kekuatan dan kelemahan teknologi informasi, krisis dalam pengukuran kinerja serta biaya pengukuran kinerja Oleh karena itu diperlukan sistem manajemen kinerja yang baru  untuk mengakomodasi perubahan lingkungan persaingan dunia usaha. Hal ini juga dimaksudkan untuk memenangkan keinginan dan kebutuhan dari setiap stakeholder, yang terdiri dari penanam modal, karyawan, pelanggan, pemasok, pemerintah dan masyarakat. 

Salah satu metode yang sering digunakan manajemen kinerja adalah Balanced Scorecard (BSC) sebagai  metode penilaian kinerja organisasi yang berorientasi pada pandangan strategik masa depan. Sedangkan alasan perusahaan menggunakan BSC disebabkan ukuran keuangan hanya mengukur hasil (masa lalu), ukuran keuangan tidak mengukur strategi tetapi hanya hasil strategi serta ukuran keuangan hanya mengukur aset berwujud.Metode ini  menggunakan empat perspektif pengukuran, yaitu: keuangan, pelanggan, pembelajaran dan pertumbuhan SDM, serta proses bisnis internal seperti digambarkan dibawah ini:

Balanced Scorecard (BSC) biasanya menekankan pada pertanyaan strategis yang dihadapi perusahaan yaitu: 

  1. Perspektif Keuangan: Bagaimana organisasi memuaskan pemegang saham, sponsor, donatur?
  2. Perspektif Pelanggan: Bagaimana organisasi memuaskan pelanggan, pengguna jasa, pihak yang dilayani?
  3. Perspektif Proses Bisnis Internal: Apa saja proses yang seharusnya dilakukan untuk mencapai sukses organisasi?
  4. Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan: Bagaimana organisasi dapat mempertahankan dan meningkatkan kemampuan menghadapi perubahan lingkungan internal dan eksternal?

Training ini berjalan lancar dan para peserta mersakan manfaat dari apa yang sudah disampaikan trainer, studi kasus yang dibahas bersama, penggunaan perangkat lunak sebaga alat bantu serta diskusi yang berlangsung cukup intens.

——————————————————————————————-

Hari ini saya dikejutkan dengan berita duka, bahwa salah satu peserta pelatihan Balanced Scorecard (BSC) di atas meninggal dunia karena penyakit jantung. Beliau adalah peserta yang paling aktif dan energik dalam pelatihan ini karena posisinya di Bagian “Strategic Planning” yang juga menyusun kerangka kerja untuk manajemen kinerja perusahaannya. Sungguh umur itu hanya Yang Maha Kuasa yang tahu…….Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun……….

Saya jadi terhenyak dan menyadari perlunya kita mempunyai “Balanced Scorecard (BSC)” versi Allah SWT untuk mempertanggung-jawabkan amal kita kelak.  Bahwa tak ada tempat kita bergantung setiap waktu, kecuali Allah SWT. Di kala maut menghampiri, kita harus menghadapinya sendirian, tiada ayah bunda, tiada suami/istri, anak-anak, saudara, siapa pun tak dapat menolong, kita hanya ditemani oleh belaian-NYA. Cuma Dia yang dapat memudahkan jalan menuju kesana, begitu pun saat memasuki alam kubur, hanya amalan di dunia yang kita bawa sesuai dengan isi Ayat Al-Qur’an “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran [3] : 185)

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=CFkyEi099Zc?rel=0&w=640&h=400]