#PendidikPembebas: Tantangan Pendidik Atas Fakta Kehidupan Manusia Saat Ini

 

Pada sebuah seminar Guru yang diadakan oleh Bapinger Education, dipaparkan tantangan pendidik atas fakta-fakta yang melingkupi kehidupan manusia saat ini:
  • Akses Wikipedia dan Google
  • Saat ini ada 540.000 kata dalam bahasa Inggris: 5 kali lebih banyak daripada masa hidup Shakespeare.
  • Saat ini banyaknya teks yang dikirim dan diterima dalam sehari melebihi populasi manuisa di bumi (6 milyar jiwa).
  • Setengah dari yang dipelajari pada tahun pertama akan menjadi kadaluwarsa di tahun ke tiga.
  • Sepuluh (10) profesi top di tahun 2012 belum eksis di tahun 2004.
  • Orang akan lebih mudah berganti pekerjaan, karena lebih mudah mempelajari kompetensi baru dengan kemampuan belajar lebih tinggi dan menggunakan cara belajar gaya baru.
  • Masalah dunia semakin tergantung dan saling terkait dengan perubahan iklim global dan krisis ekonomi
Visi Guru sebagai Pelaku Perubahan dan Pendidik Karakter semestinya menjadi bagian hakiki sebagai seorang guru garda terdepan dalam arus perubahan. Mengeksplorasi lebih mendalam bagaimana para guru dapat memahami hakikat perubahan itu sendiri. Pendidik yang mampu mengembangkan sebuah strategi untuk memulai, menerapkan dan melestarikan perubahan dalam dunia pendidikan dan masyarakat secara umum.

 
Cara mengajar yang sekedar duduk di depan kelas sesungguhnya menjadi tanda kurangnya dinamisme sebagai seorang pendidik sejati. Bisa jadi ini hanya sebuah simbolis dan tidak mewakili sosok guru seutuhnya secara keseluruhan. Jika demikian adanya, seakan jauh rasanya seorang guru dapat menciptakan pembelajaran yang produktif dan profesional. Padalah guru juga memiliki tanggungjawab dalam memodifikasi proses integrasi dan optimalisasi sistem pendidikan di sekolah. Harapannya, dapat memberikan peran yang sangat signifikan bagi proses pembentukan kepribadian siswa yang kokoh yakni intelektual, moral dan spiritual.
 
Meskipun tampaknya guru sulit untuk dapat berubah dalam waktu singkat, namun guru terlanjur mengemban peran istimewa dalam masyarakat sebagai pelaku perubahan. Guru bukan sekedar pelaku perubahan yang menggerakkan roda transformasi sosial dalam masyarakat. Lebih dari itu, guru memiliki peranan utama sebagai pendidik karakter suatu masyarakat.

 

Pendidik bukan sekedar mengubah hidup siswa, namun juga memperkokoh kepribadian siswa agar memiliki nilai-nilai sebagaimana yang diharapkan masyarakat.

Hikayat 1 November: Lahirnya Paul Tibbets Yang Menjatuhkan Bom Atom “Little Boy” di Hiroshima

Paul Warfield Tibbets, Jr. (Quincy, Illinois, Amerika Serikat, 23 Februari 1915–Columbus, Ohio, 1 November 2007) adalah seorang perwira AS yang terkenal. Ia dikenal sebagai pilot Enola Gay, pesawat yang menjatuhkan bom atom (“Little Boy”) di atas kota Hiroshima-Jepang. Pada tanggal 6 Agustus 1945, pertama kalinya penjatuhan bom atom itu menimbulkan kematian massal warga sipil.
Bom yang dijatuhkan Tibbets menewaskan 140.000 orang Jepang dengan seketika. Pesawat tempur Enola Gay mendapatkan namanya dari ibu Paul Tibbets.
Setelah perang, Tibbets naik pangkat di US Air Force dari kolonel ke brigadir pada tahun 1959. Paul Tibbets pensiun dari kedudukan itu pada tanggal 31 Agustus 1966. Ia tak pernah menyesalkan pengeboman Hiroshima, dan mengatakan bahwa bila terjadi keadaan yang sama ia akan mengulanginya.
Setelah kematiannya mayatnya dikremasikan dan dimakamkan di tanah tak bernisan. Ia memastikan bahwa kuburannya takkan pernah bisa menjadi tempat peziarahan bagi penentang penggunaan senjata nuklir.

Korelasi Simpati HUT TNI, Empati Pada KPK dan Emosi Tinggi Polisi

Simpati HUT TNI

Kemarin adalah HUT TNI yang ke 67……………Belajar dari Gerakan Reformasi tahun 1998, TNI telah belajar banyak bagaimana menarik simpati rakyat. Bahkan pada tanggal 5 Oktober 2012,  Salah satu lagu yang dibawakan Adam Levine saat itu adalah Move Like Jagger. Lagu itu turut mengiringi aksi 100 penerjun payung free fall dalam salah satu demonstrasi di rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Tentara Indonesia ke-67 di apron Bandar Udara Halim Perdanakusuma.

Bersamaan dengan iringan lagu yang dinyanyikan Adam Levine bersama Christina Aguilerra ini, para penerjun payung satu per satu berusaha mendaratkan dirinya dengan mulus di sekitar mimbar kehormatan, tempat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono melihat demonstrasi.

Setelah Move Like Jagger, atraksi yang juga dilengkapi delapan penerjun srikandi dari ketiga angkatan TNI dan Kepolisian RI ini kemudian disambung dengan lagu Bendera karya band lokal, Cokelat. Iringan penerjun payung pun ditutup dengan aksi perdana Pembantu Letnan Dua Dwijo sembari membawa bendera merah putih. Dengan parasut berwarna biru, sekitar dua menit, Dwijo bermanuver sendiri membentuk zig-zag. Hingga akhirnya dia mendarat beberapa meter dari mimbar kehormatan.

Peringatan HUT TNI tahun ini memang mengambil tema demonstrasi pasukan. Sejak sekitar pukul 09.00 pagi tadi, begitu upacara selesai, aneka demonstrasi pasukan pun digelar untuk menghibur para hadirin. Upacara dimulai dengan senam balok, senam perahu karet, dan bela diri militer dari Angkatan Darat. Bersamaan dengan senam, aneka pesawat milik TNI Angkatan Udara melakukan fly pass, termasuk dua pesawat Super Tucano asal Brazil yang didatangkan beberapa pekan lalu.

Tak hanya aksi penerjun payung gaya bebas yang menghiasi angkasa Halim dalam dirgahayu para tentara ini. Sekitar 625 penerjun payung menyambung aksi 100 rekannya, kali ini dengan gaya statik.

Bagai ilusi asap di balik awan, mereka terjun dari pesawat Hercules C130, masing-masing dua penerjun. Menggunakan parasut hijau, mereka terjun mulai dari arah kiri lapangan lalu membentuk rangkaian penerjun saat Hercules perlahan terbang ke arah kanan lapangan.

Tak hanya penerjun, dua atraksi mengenakan pesawat dan helikopter juga menghibur para hadirin, atau dikenal dengan Dynamic Pegasus dan Jupiter Aerobatik. Atraksi manuver-manuvernya mengundang decak kagum para hadirin. Di antaranya, gaya goyang ngebor dan gaya berciuman helikopter Pegasus.

Empati Pada KPK 

Malam tadi terjadi kehebohan di Gedung KPK……Mirip dengan peristiwa bersejarah Reformasi pada bulan Mei 1998, rakyat “berkumpul” di depan gedung para “Satria Anti Korupsi” itu didukung “Rakyat Internet” melalui Media Sosial. Hubungan Polri dan KPK kembali meregang setelah penyidik Polri di KPK, Noval Baswedan, rencananya akan ditangkap Polda Bengkulu, Jumat (5/10) kemarin. 

Jika insiden KPK ini dibiarkan, lanjutnya, bukan mustahil suatu saat ada polisi yang menyerbu istana presiden tanpa sepengetahuan Kapolri. Jika alasannya ingin menangkap penyidik KPK yang terlibat masalah hukum, seharusnya dilakukan sesuai SOP yaitu lewat surat panggilan pertama dan kedua.

Jika yang bersangkutan tidak memenuhi panggilan tersebut, barulah polisi dapat melakukan penangkapan. Penyerbuan yang dilakukan polisi ke KPK diaanggap sebagai wujud asli anggota Polri yang arogan, sewenang-wenang, kerap melakukan kriminalisasi dan kekanak-kanakan.

Emosi Tinggi Polisi

Setelah “dirundung malang” dengan beberapa kasus yang melibatkan polisi dengan kulminasi kasus “Simulator SIM”, banyak fihak merasa gerah. Ini diikuti dengan sikap Polri yang mempersoalkan pengangkatan 28 penyidik pilisi menjadi pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurut Polri, pengangkatan anggota kepolisian sebagai penyidik di KPK telah dilakukan tanpa prosedur dan aturan yang berlaku di lingkungan Polri.

Polri mengatakan, seharusnya para penyidik yang ingin menjadi pegawai tetap di KPK mengajukan pengunduran diri terlebih dulu dari kepolisian. Karenanya, Polri mempertanyakan etika KPK yang telah mengangkat penyidik dari kepolisian. 

“Personel Polri ini diangkat sesuai ketentuan. Bahkan surat perintah pengangkatan perwira Polri itu di Presiden. Kemudian tahu-tahu anak buah kita langsung diputuskan menjadi anak buah orang lain. Lho gimana itu etika lembaganya, seperti apa? Masalah seperti inilah yang justru mengerdilkan diri sendiri (KPK). Bukan membesarkan, membuat kerdil dirinya sendiri,” ujar seorang petinggi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Sabtu (6/10).

Seharusnya, kata dia, KPK berkoordinasi terlebih dahulu dengan jajaran pimpinan Polri terkait pengangkatan 28 penyidik tersebut. Apalagi, KPK tahu bahwa lima dari penyidik tersebut harusnya sudah melewati batas waktu masa tugas dan harus dirotasi.

 

 

#LingkunganPembebas Anak Cucuku, Aku Tinggalkan Air Sebagai Sumber Kehidupan Dan Sarana Penghidupan

Hari ini saya memasang Filter Air dari Pak Iyan Sofyan salah satu pakar filter dari ITB. Rumah kami di Muararajeun sebetulnya punya catatan cemerlang di bidang air tanah, karena punya kualitas yang baik disebabkan tanahnya terdiri dari cadas. Namun seperti tempat lainnya di Bandung, mengalami penurunan air tanah yang cepat sehingga mempengaruhi kualitasnya sebagai Sumber Kehidupan. Untuk itulah dibutuhkan solusi dan strategi untuk menyiasati kualitas air yang terus menurun karena banyaknya tempat yang menggunakan air sangat banyak sebagai Sarana Penghidupan seperti Hotel, Kantor, Mal, Tempat Rekreasi, Bengkel dan lain-lain.
Perlu diketahui sesuai data Pikiran Rakyat pada tahun 2007,  pengambilan air bawah tanah yang tak terkendali menyebabkan penurunan muka air tanah yang signifikan. Itulah pula yang menyebabkan banyak daerah di Kota Bandung dan sekitarnya digolongkan sebagai daerah rawan dan kritis air. Daerah yang mengalami penurunan lapisan air tanah paling besar adalah kawasan Bandung selatan. Daerah tersebut berpotensi banjir karena lapisan tanahnya sebagian besar terdiri dari lempung yang kurang mampu menyerap air, sementara saluran keluarnya tidak ada.
Penurunan tanah ini merupakan salah satu faktor signifikan yang menyebabkan banjir. Ketika titik-titik tanah pada satu kawasan menurun, daerah tersebut menjadi lebih rendah dari tempat-tempat lainnya dan membentuk cekungan, maka daerah tersebut akan menjadi daerah yang berpotensi banjir terutama saat musim hujan. Ironisnya, air menjadi sesuatu yang sulit didapat setiap musim kemarau.
Jika diasumsikan jumlah penduduk kawasan Bandung Raya mencapai 7 juta orang dan kebutuhan air bersih sebanyak 125 liter per hari per orang, kebutuhan air yang harus tersedia sekitar 350 juta m3 per tahun.
Kebutuhan air bersih untuk industri diperkirakan mencapai 132 juta m3 per tahun, sedangkan untuk keperluan sosial (tempat ibadah, dsb.) dan perkantoran diperkirakan mencapai 30 juta m3 per tahun. Dengan demikian, total kebutuhan air bersih di kawasan ini mencapai 512 juta m3 per tahun.
Sementara itu, pemenuhan kebutuhan air bersih yang mampu disediakan PDAM Kota Bandung hanya sekitar 17 juta m3 per tahun. Sedangkan PDAM Kab. Bandung-Cimahi baru mampu menyediakan sekitar 19 juta m3 per tahun.
Secara keseluruhan, pemenuhan air bersih oleh kedua PDAM itu baru mencapai 36,5 juta m3 per tahun dengan proporsi sumber air bakunya 40% berasal dari air permukaan dan 60% dari air tanah. Pengambilan air tanah yang dilakukan industri terjadi karena PDAM memang tak mampu menyediakan kebutuhan air mereka.
Penurunan muka air tanah yang drastis terjadi terutama sejak tahun 1980-an. Hal itu seiring dengan pesatnya perkembangan industri dan permukiman penduduk. Penurunan muka air tanah paling parah terjadi di daerah industri, seperti Cimahi (sekitar Leuwigajah), Batujajar, sekitar Jln. Moh. Toha, Dayeuhkolot, Rancaekek-Cicalengka, Ujungberung, Cicaheum, dan Kiaracondong.
Di daerah permukiman dan perumahan, penurunan terjadi pada muka air tanah dangkal. Hal itu terlihat dari sulitnya penduduk mendapatkan air tanah dari sumur-sumur mereka. Berdasarkan data Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jabar, di seluruh cekungan Bandung terdapat 2.237 sumur bor air tanah.
Kondisi penurunan air tanah yang disertai amblesnya permukaan tanah ini terjadi terus setiap tahun. Keadaan ini juga selalu dipaparkan para ahli. Apakah harus menunggu hingga cekungan Bandung benar-benar cekung? Atau, hingga bangunan mulai banyak yang miring karena tiang pancangnya bergeser? Tak ada kata terlambat untuk berbuat, setidaknya mulai dari diri kita sendiri.
Upaya yang dapat dilakukan untuk menekan laju penurunan permukaan tanah di cekungan Bandung salah satunya dengan penggunaan kembali air yang telah digunakan (reuse) sehingga lebih efisien. Implementasi regulasi pengambilan air tanah juga harus ditegakkan dengan rencana tata ruang wilayah yang ditaati dan diimplementasikan secara baik oleh semua pihak, baik oleh masyarakat dan pemerintah. Masyarakat di wilayah cekungan Bandung dapat berbuat dengan memperbanyak air yang meresap ke dalam tanah dengan menanam pepohonan, penghutanan, sumur resapan atau bendung penampung air. Masyarakat juga dapat mengalihkan pemenuhan kebutuhan air bersih yang berasal dari air tanah dengan sumber air lain seperti air permukaan atau penampungan air hujan

Perjalanan Kehidupan: Merajut Sejarah Hidup Seperti Hikayat “Connecting The Dots” Dari Steve Jobs

 

Sering kehidupan kita seperti hikayat  “Connecting The Dots” dari Steve Jobs. Banyak yang melaksanakan pendidikan, pekerjaan, hobi bahkan kecintaan yang “terlihat” tidak ada hubungannya satu sama lain. Mereka baru menyadari, semua keterkaitan itu setelah mencapai satu kondisi dimana titik-titik itu membentuk “garis yang indah” pada kehidupannya.

Coba kita simak kehidupan Steve Jobs dalam “Menyambungkan titik-titik perjalanan hidupnya” yang ditulis dan diterjemahkan “Be Like Bee” sebagai berikut:

Saya putus kuliah dari Reed College setelah enam bulan pertama, namun saya tetap ada di kampus selama 18 bulan kemudian, sebelum benar-benar berhenti.

Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga terpelajar, maka saya pun dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran ingin memiliki bayi perempuan.

Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari pengurus adopsi: “Kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab: “Tentu saja.”

Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi. Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah.

Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua angkat  saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya.

Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka.

Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai.

Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Dan Saya menikmatinya.

Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, yang ternyata kemudian sangat berharga.

Saya beri Anda satu contoh: Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik.

Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu.

Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.

Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang.

Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/UF8uR6Z6KLc” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Moko Darjatmoko: Antara Titik Karir dan Perjalanan Kehidupan (Manfaat Nonton Film “Revenge of the Electric Car”)

 

Tadi malam saya nonton film “Revenge of the Electric Car”  di COMLABS-ITB.  Film ini merupakan sekuel dari film “Who Killed the Electric Car?” yang penuh dengan informasi dan sejarah tentang upaya untuk memperkenalkan – dan mempertahankan – kendaraan listrik di jalan Amerika pada kurun 1996-2006. Untuk sutradara film, Chris Paine, bukti-bukti yang ada “terlalu mengerikan dan udara politik terlalu kotor” untuk hidupnya mobil listrik di Amerika Serikat saat itu.

Yang menarik, film ini adalah salah satu cara dari Mas Moko Darjatmoko berbicara tentang kehidupan khususnya pendidikan. Beliau di Kampus ITB sering disebut sebagai “insinyur sesat” (sudah susah-susah diajari ngelmu engineering tetapi berkecimpung dibidang yang sama sekali lain). Mengapa?  Mas Moko alumni Sipil ITB yang hidup dan bekerja di US (30 tahun di Madison, Wisconsin) dan sekarang sedang melakukan riset di Indonesia a.l. dalam bidang pendidikan dan antropologi di desa Cijengkol-Lembang, Bandung.

Dikutip dari Portal Senyum ITB, sadar bahwa bangsa ini tidak punya library (yang memadai), beberapa tahun belakangan ini Mas Moko mencoba membuat semacam digital library (untuk anak-anak) yang terdiri dari buku-buku yang “specially selected”. Sebagian besar adalah berbahasa Inggris (karena tujuan tertentu), dari jaman keemasan “picture book” di literature barat (sekitar pertengahan abad ke 19 sampai awal abad ke 20); plus beberapa contoh yang bagus-bagus dari berbagai negara di dunia; plus koleksi “award winning picture books” dari Persia selama 3 dekade terakhir .. total sekitar 2000-an buku. Ini masih harus digarap satu-per-satu, dipilih mana yang paling cocok untuk kultur kita (cultural adjustment).

Karena keunikan selera itu, beliau terus melakukan trial and error, sampai ketemu cerita yang paling disukai, sampai ketemu cerita atau buku yang “turns the kid on.” “Karena saya sering “salah tembak” — apa yang saya anggap bagus/menarik kadang sama sekali tidak menarik, dan sebaliknya. Ini pengalaman nyata di Cijengkol. Solusinya? aku bawa beberapa (puluh) buku, dan coba satu-per-satu, mana yang cocok bagi mereka (dari kacamata anak-anak Cijengkol). Well, sembari mengajar kita memang harus juga belajar — that’s the law of the universe.” kata Mas Moko.

Sementara itu beliau juga sudah memulai menggarap buku-buku untuk kelompok umur remaja (young adult) yang terutama dari corpus (body of works) pengarang klasik (yang coyrightnya sudah expired), seperti Agatha Christie, Athur Conan Doyle, C. S. Lewis, Charles Dickens, L. Frank Baum, Lewis Carroll, Mark Twain, Rudyard Kipling, Grimm Brothers, H. C. Andersen, H. G. Wells, Horatio Alger. Disamping itu ada yang masih ber-copywright tetapi perlu mulai dipikirkan, seperti karya sci-fi grandmasters Arthur C. Clarke, Isaac Asimov, Robert Heinlein; atau yang masih “muda-muda” seperti Roald Dahl, Enid Blyton, John Grisham, Neil Gaiman, Stephen King, etc … (his goal at least 1000 books)…

Well, ini memang kerjaan kolosal, tetapi kurasa aku bisa menyelesaikannya, sendirian, “in my life time” (if I’m lucky). Tentu saja kalau ada yang bantu-bantu, kerjaannya akan jadi lebih enteng. Syaratnya cuma satu .. you have a great love for books and reading.

Kelihatan bahwa “passion” serta “want and need” beliau sekarang seperti “Connecting The Dots” dari Steve Jobs yang menyatukan semua pengalaman dan ekspresi hidup mulai dari lulus Teknik Sipil ITB,  hidup di negeri orang (Madison, Wisconsin) kemudian akhirnya memberikan inspirasi di desa Cijengkol-Lembang, Bandung.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/nH_vJRRMkvE” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Duduk Manis Tidak Peduli Orang Menangis

Ditengah ramainya pernyataan Ketua Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas yang menyindir pejabat negara dan anggota dewan yang kerap kali bergaya perlente. Ia menilai lembaga negara dihuni pemberhala nafsu dan syahwat politik kekuasaan dengan mora­li­tas rendah sehingga mengakibatkan berakarnya budaya korupsi.

Dilain fihak pernyataan ini mendapat tanggapan beragam. Anggota Komisi X DPR Reni Marlinawati punya suara sama dengan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas yang menyentil gaya hidup hedonis pejabat negara. Bagi dia, stigma anggota dewan bergaya hidup mewah kini tidak terbantahkan. Selain itu, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii M­a­arif menilai apa yang disam-pai­kan Busyro tepat. Buya sampai kehabisan kata-kata untuk me­ngomentari gaya hidup pejabat yang hedon tersebut. “Apa lagi yang harus saya ko­mentari. Apa yang disampai­kan Pak Busyro itu memang be­nar. Ini fenomena gunung es,” tutur Buya Syafii 

Sedangkan dari fihak yang berkeberatan diantaranya Politisi Partai Demokrat (PD), Ruhut Sitompul, punya pendapat tersendiri seputar politisi yang hidup mewah. Ia bilang, hidup bergelimang harta tidak masalah asal tidak melanggar aturan. “Buat saya kaya tidak masalah. Yang penting jangan melanggar aturan. Saya tidak takut karena tidak melanggar aturan. Apa salah kalau menjadi orang kaya?” lanjut Ruhut.

Hal yang “netral” diungkapkan oleh Ketua DPR Marzuki Alie yang berpendapat pejabat negara sulit dipaksakan untuk hidup sederhana. Hidup sederhana itu tergantung kebiasaan dan pergaulan. “Semua tergantung pendidikan, itu nggak bisa dipaksakan setelah tumbuh dewasa, ibarat rotan sudah jadi. Sulit untuk dipaksakan,” ujar Marzuki 

Mungkin jaman sekarang, tepat sekali apa yang diungkapkan foto yang saya peroleh beberapa waktu lalu dari Pak Nukman Luthfie, yaitu  “Duduk Manis Tidak Peduli Orang Menangis“……..

 

Refleksi Sumpah Pemuda: Peran Tak Tergantikan Dalam Kehidupan Berbangsa

Tidak dapat dipungkiri, Peran Pemuda Tak Tergantikan Dalam Kehidupan Berbangsa. Hampir semua bangsa punya tokoh muda yang tampil untuk memeprjuangkan dan menjaga kedaulatan bangsanya. Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia.

Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Pada detik-detik kemerdekaan Indonesia, para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana –yang konon kabarnya terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka –yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran. Pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945, bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok.

Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan dan menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta.

Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu – buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.

Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 – 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=aitpOv8WQqo&w=640&h=480]