Duduk Manis Tidak Peduli Orang Menangis

Ditengah ramainya pernyataan Ketua Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas yang menyindir pejabat negara dan anggota dewan yang kerap kali bergaya perlente. Ia menilai lembaga negara dihuni pemberhala nafsu dan syahwat politik kekuasaan dengan mora­li­tas rendah sehingga mengakibatkan berakarnya budaya korupsi.

Dilain fihak pernyataan ini mendapat tanggapan beragam. Anggota Komisi X DPR Reni Marlinawati punya suara sama dengan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas yang menyentil gaya hidup hedonis pejabat negara. Bagi dia, stigma anggota dewan bergaya hidup mewah kini tidak terbantahkan. Selain itu, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii M­a­arif menilai apa yang disam-pai­kan Busyro tepat. Buya sampai kehabisan kata-kata untuk me­ngomentari gaya hidup pejabat yang hedon tersebut. “Apa lagi yang harus saya ko­mentari. Apa yang disampai­kan Pak Busyro itu memang be­nar. Ini fenomena gunung es,” tutur Buya Syafii 

Sedangkan dari fihak yang berkeberatan diantaranya Politisi Partai Demokrat (PD), Ruhut Sitompul, punya pendapat tersendiri seputar politisi yang hidup mewah. Ia bilang, hidup bergelimang harta tidak masalah asal tidak melanggar aturan. “Buat saya kaya tidak masalah. Yang penting jangan melanggar aturan. Saya tidak takut karena tidak melanggar aturan. Apa salah kalau menjadi orang kaya?” lanjut Ruhut.

Hal yang “netral” diungkapkan oleh Ketua DPR Marzuki Alie yang berpendapat pejabat negara sulit dipaksakan untuk hidup sederhana. Hidup sederhana itu tergantung kebiasaan dan pergaulan. “Semua tergantung pendidikan, itu nggak bisa dipaksakan setelah tumbuh dewasa, ibarat rotan sudah jadi. Sulit untuk dipaksakan,” ujar Marzuki 

Mungkin jaman sekarang, tepat sekali apa yang diungkapkan foto yang saya peroleh beberapa waktu lalu dari Pak Nukman Luthfie, yaitu  “Duduk Manis Tidak Peduli Orang Menangis“……..

 

"Siapa yang Membunuh Mobil Listrik?" (Who Killed the Electric Car?): Korban Konspirasi Korporasi dan Birokrasi

Sebuah film “misteri pembunuhan”, “Siapa yang Membunuh Mobil Listrik?”  (Who Killed the Electric Car?) adalah  salah satu karya dokumenter yang berhasil. Seperti “Inconvenient Truth” dari Al Gore dan dokumenter nonfiksi tentang perang di Irak, film ini penuh dengan informasi dan sejarah tentang upaya untuk memperkenalkan – dan mempertahankan – kendaraan listrik di jalan pada kurun 1996-2006. Untuk sutradara film Chris Paine, bukti-bukti yang ada “terlalu mengerikan dan udara politik terlalu kotor” untuk hidupnya mobil listrik di Amerika Serikat saat itu.  
   
Cepat dan Lugas, film “Siapa yang Membunuh Mobil Listrik?” ditingkahi kisah sedih upaya yang heroik oleh sekelompok orang berpikiran terbuka untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global. Cerita sebagian besar diungkap selama kurun tahun 1990-an, ketika beberapa produsen mobil, termasuk General Motors, yang didorong untuk mengejar masa depan mobil yang bersih. Pada tahun 1990 “California Air Resources Board” mengadopsi mandat “Kendaraan Nol Emisi” dalam upaya untuk memaksa perusahaan mobil untuk memproduksi kendaraan bebas gas buang. Idenya sederhana: “Kita jangan tersedak sampai mati di limbah polusi kita sendiri”. Tujuan itu tampaknya sederhana: pada tahun 1998, 2 persen dari semua mobil baru yang dijual di pasar kendaraan terbesar di negara itu akan tanpa gas-buang, sehingga membuat gaya hidup California lebih ramah lingkungan. 

Mengingat bahwa beberapa perusahaan, termasuk GM, sudah menciptakan prototipe untuk mobil listrik yang dapat diproduksi secara massal. Percaya atau tidak, mobil listrik telah sekitar tentang selama era mobil diciptakan, kata tokoh otomotif Phyllis Diller. Film arahan Paine ini dibumbui dengan kesaksian bintang Hollywood, yang menjelaskan mengapa, di samping ahli mobil, berbicara tentang perlunya mobil listrik sebagai alternatif kendaraan ramah lingkungan . 

Agaknya Pak Paine berpikir, khalayak perlu mendengarkan tokoh terkenal dan tidak terkenal, seperti kasus Nona Diller, yang memberikan bernostalgia kepada kendaraan listrik pertama di depan sebuah lukisan berbingkai Tokoh Komedi Bob Hope. Kedua komedian dan pembuat film pasti tahu bagaimana menarik perhatian kita terhadap nasib mobil listrik pertama GM sat itu.

Henry Ford dan minyak murah membantu mencegah mobil listrik dipergunakan di jalan-jalan Amerika, meninggalkan sistem jalan raya yang tumbuh cepat dengan mesin yang memuntahkan polusi pembakaran internal. Bergerak cepat antara wawancara dan sebuah tayangan visual yang mengejutkan,  Mr Paine menjabarkan bagaimana “kisah cinta negara AS dengan mobil haus bensin”, serta cepat berubah menjadi cinta buta. Pada tahun 1950-an, dimana Jack Kerouac dan James Dean bersinar,  pejalan kaki Los Angeles yang menerjang jalan-jalan kota terlihat menutupi mulut mereka dengan sapu tangan, mencoba untuk menyaring udara. Beberapa dekade kemudian, negara mengambil tindakan berani untuk mencegah polusi dari kendaraan bermotor. Apa yang terjadi selanjutnya, Mr Paine menjelaskan, adalah kisah adanya keserakahan korporasi dan korupsi pemerintah, berhadapan dengan semangat idealisme dan kemarahan. 

Ini adalah kisah Mr Paine dengan “gigitan keras” pada konspirasi hilangnya mobil listrik saat itu. Pada tahun 1996 surat kabar Los Angeles melaporkan bahwa “dewan pengawasan udara California ragu dengan kesediaan konsumen untuk menerima mobil listrik, yang harganya mahal dan memiliki jarak perjalanan yang terbatas.” Mr Paine melampaui laporan ini, menunjukkan bahwa salah satu alasan dewan ragu-ragu karena ketuanya pada waktu itu, Alan C. Lloyd, telah bergabung dengan “California Fuel Cell Partnership”. Didirikan pada tahun 1999, kemitraan ini merupakan upaya bersama dari badan-badan federal dan negara, perusahaan sel bahan bakar, produsen mobil seperti GM dan energi seperti Exxon untuk mengeksplorasi “potensi” kendaraan bertenaga sel bahan bakar hidrogen.

Mengapa perusahaan seperti Exxon tertarik teknologi kendaraan nol-emisi – menurut beberapa pihak berwenang yang diwawancarai dalam film, seperti Joseph J. Romm, seorang sekretaris asisten di Departemen Energi selama pemerintahan Clinton dan penulis “The Hype About Hydrogen”– mengatakan adalah jauh dari kenyataan penggunaanya di jalan raya? Jawabannya mungkin tidak mengejutkan Anda, terutama jika Anda cenderung untuk menonton film berjudul “Siapa yang Membunuh Mobil Listrik,?” (Who Killed the Electric Car?). Mr Paine dengan tegas menjelaskan, cerita dari mobil listrik lebih besar dari satu perjalanan bergairah dari orang-orang yang menyukainya. Ini seperti cerita es di kutub utara yang terpisah sampai ke Los Angeles, suatu cerita besar tentang kehidupan, dan mendesak untuk dipikirkan sebagai solusi ramah lingkungan.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=nsJAlrYjGz8&w=640&h=360]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Makna Hidup: Apa Priortas Hidup Anda?

 Apa kegiatan anda sehari-hari?  

Santai dan  “easy going” ? Tak tahu mana yang  penting dan genting?  Menikmati kegiatan yang penting namun tidak genting? Pusing tujuh keliling dengan hal yang tidak penting namun genting?  Serta “having fun” untuk kegiatan yang tidak penting dan tidak genting?

Apa sesungguhnya  prioritas  anda dalam hidup ini?  Keluarga, Karir,  Kesenangan, Harga diri, Uang/Kekayaan, Pendidikan atau sama saja? Pilihan atau prioritas tersebut menjadi semacam “komedi putar” yang membingungkan kita semua untuk menentukan yang terbaik. Coba lihat matriks  waktu  di bawah ini………

Pada matriks-1 terlihat contoh2 kegiatan yang memakan energi besar (ingat Teori: Energi=  Daya/Gaya x Waktu) karena sifatnya yang penting dan genting (“urgent”)  . Matriks-2 memperlihatkan kegiatan penting namun tidak genting. Matriks-3 dipenuhi kegiatan yang tidak penting namun tiba2/mendadak harus diselesaikan…….. Terakhir Matriks-4 kegiatan yang tidak penting dan juga tidak genting….

Sesuai dengan arahan dari Bapak Stephen Covey, sebetulnya yang perlu menjadi prioritas kita adalah kegiatan pada maktriks-2 dengan mendahulukan kegiatan2 penting namun tidak genting seperti Pencegahan (Prevention…Inga2……..mencegah itu lebih baik dari pada mengobati/memperbaiki), Membangun Hubungan Baik (Relationship), Perencanaan/Persiapan (Planning/Preparation), Sistem Implementasi(Implementing Systems) dan Pengetahuan Profesional (Proffesional Knowledge). 

Coba kita lihat dan renungkan gambar di bawah. Seseorang sedang menuangkan kerikil, pasir dan air ke sebuah bejana? Urutan mana yang harus diikuti diantara ketiganya bila massanya sama besar agar bejana dapat menampung sebanyak-banyaknya? Apa perbedaannya?

Foto dari: http://i4.photobucket.com/albums/y137/hanan2jahid/Gelas.jpg

Menurut percobaan bila kita urutkan pengisian bejana dengan urutan:
  1. Mengisi bejana dengan kerikil terlebih dahulu
  2. Kemudian dimasukkan pasir pada bejana dan diratakan atau di-goyang2 agar masuk di-sela kerikil.
  3. Terakhir air dituangkan sampai memenuhi bejana.

Terbukti dengan urutan diatas, volume yang dapat diterima oleh bejana akan paling besar dibanding dengan urutan penuangan yang lain.

Hal ini sesuai dengan hukum fisika sederhana sbb: 

  1. Kerikil akan mengisi bejana dengan volume paling besar.
  2. Pasir akan mengisi volume dari bejana diantara rongga kerikil2 yang ada
  3. Air akan memenuhi semua tempat yang tersisa dari bejana sampai penuh.

Apa hubungannya dari perumpamaan di atas dengan prioritas hidup anda?

Sekali lagi menurut Pak Covey (lihat clip videonya disini), dalam hidup kita harus mencari kegiatan dengan prioritas pertama dan utama (digambarkan dengan kerikil) seperti kegiatan matriks-2. Kemudian kita mengisi sela atau celah waktu kita dengan kegiatan pada matriks-1(digambarkan dengan pasir) dan matriks-3 (digambarkan dengan air) dengan jumlah persentase gabungan keduanya tidak boleh melebihi kegiatan matriks-2 . Sedangkan kegiatan pada matriks-4 hanyalah merupakan kegiatan yg boleh ada atau bisa jadi tiada serta tidak merugikan diri anda. 

So….bagaimana dengan anda?

Pojok Pendidikan Publishing: Buku "Bunga Rampai Pendidikan Kreatif Edisi-1" Sudah Terbit

 

Saya selalu mengatakan bahwa: “Pendidikan adalah Benteng Terakhir Peradaban Manusia”. Mengapa, betapa besar peranan pendididikan dlam hajat hidup manuasia yang dikatakan oleh Aristoteles: “Pendidikan adalah bekal paling baik dalam menghadapi hari tua”.


Pendidikan dalam kaitannya dengan mobilitas sosial harus mampu untuk mengubah arus utama (mainstream) peserta didik akan realitas sosialnya. Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Pendidikan dapat menjadi penyandar bagi mobilitas. Seiring dengan perkembangan zaman kemudian kita lebih mempercayai kemampuan individu atau keterampilan yang bersifat praktis daripada harus menghormati kepemilikan ijasah yang kadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Inilah yang ahirnya memberikan peluang bagi tumbuhnya pendidikan  yang lebih bisa memberikan keterampilan praktis bagi kebutuhan dunia yang tentunya memiliki pengaruh bagi seseorang.

Pendidikan yang tepat untuk mengubah paradigma ini adalah pendidikan kritis yang pernah digulirkan oleh Paulo Freire. Sebab, pendidikan kritis mengajarkan kita selalu memperhatikan kepada kelas-kelas yang terdapat di dalam masyakarakat dan berupaya memberi kesempatan yang sama bagi kelas-kelas sosial tersebut untuk memperoleh pendidikan. Disini fungsi pendidikan bukan lagi hanya sekedar usaha sadar yang berkelanjutan. Akan tetapi sudah merupakan sebuah alat untuk melakukan perubahan dalam masyarakat. Pendidikan harus bisa memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang realitas sosial, analisa sosial dan cara melakukan mobilitas sosial.  

Tulisan dalam Buku “Bunga Rampai Pendidikan Kreatif” ini dimaksudkan sebagai tambahan menu dalam dunia pendidikan yang mudah-mudahan memberikan wawasan baru. Walaupun bukan merupakan buku referensi dan ditulis dengan gaya populer, diharapkan menambah khasanah bagi semua pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia.

Semoga.

 Pendidik Pembebas

Djadja Achmad Sardjana

Buku bisa dipesan di : http://www.nulisbuku.com/books/view/bunga-rampai-pendidikan-kreatif-edisi-1

 

[slideshare id=6413231&doc=presentasigurukreatifpojokpendidikan-30dec10-101231023256-phpapp01]

 

Related articles, courtesy of Zemanta:

Status Terbaru Pendidikan Digital (The State of Digital Education Infographic)

Internet telah banyak mengubah tatanan industri. Hal ini juga yang harus dipersiapkan untuk transformasi pendidikan kita. Berikut adalah analisis dari Knewton tentang Status Terbaru Pendidikan Digital (The State of Digital Education Infographic).

Sebagai perbandingan, beberapa pendapat pakar & dosen di Indonesia dapat dibaca di sini:  http://pendidikpembebas.wordpress.com/2011/07/29/pendidikan-digital-utopia-atau-harapan-sebuah-obrolan-di-dunia-maya/

The State of Digital Education

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=tahTKdEUAPk&w=640&h=410]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Liputan Inilah.com: Pesantren IT Arahkan Pengajar Jadi Pendidik

Pesantren IT Arahkan Pengajar Jadi Pendidik

Kegiatan Pesantren IT yang digagas Comlabs ITB mengajarkan supaya seorang guru tidak hanya menjadi seorang pengajar, namun sebagai pendidik. – inilah.com/Ageng Rustandi
Oleh: Ageng Rustandi
Jabar – Rabu, 24 Agustus 2011 | 22:20 WIB

INILAH.COM, Bandung – Kegiatan Pesantren IT yang digagas Comlabs ITB bersama dengan Pojok Pendidikan mengajarkan supaya seorang guru tidak hanya menjadi seorang pengajar, namun mengarahkan seorang guru sebagai pendidik.

“Dengan hanya berpikir sebagai seorang pengajar, guru hanya memberikan materi ajar di depan kelas tanpa mampu mentrasfer nilai-nilai pokok dari sebuah pendidikan. Dan kami di sini mencoba untuk membuka wawasan guru tentang hal tersebut, tidak hanya mengajar tapi juga berperan sebagai pendidik,” ungkap Senior Advisor ComLabs ITB & Pojok Pendidikan Djadja Sardjana kepada INILAH.COM di sela-sela pelaksanaan Pesantren IT di Gedung ComLabs ITB, Jalan Ganeca Kota Bandung, Rabu (24/8/2011).

Peran seorang guru, lanjutnya, tidak hanya bertindak sebagai seseorang yang melakukan transfer ilmu kepada muridnya. Guru harus berperan sebagai benteng dari serangan-serangan pengaruh buruk bagi muridnyam baik pengaruh dari dalam maupun luar lingkungannya.

“Untuk itu, salah satu materi yang diberikan adalah filosofi dan psikologis pembelajaran. Dengan ini diharapkan seorang guru atau dosen mampu mencintai profesinya tersebut dengan utuh. Karena guru merupakan profesi yang harus menjadi tuntutan dan contoh bagi muridnya,” tambahnya.

Selain itu, untuk membekali guru dalam pembelajaran, diberikan juga materi tentang aplikasi information technology(IT) dalam materi pembelajaran. Dengan tuntutan zaman yang semakin mengarah pada IT, guru dituntut mampu mengembangkan media pembelajaran sesuai dengan tuntutan zaman.

“Terkait IT ini memang sudah cukup banyak sekolah maupun guru yang memiliki fasilitas. Namun pengoptimalan fasilitas tersebut untuk sarana pembelajaran masih kurang,” tutur Kepala Deputi ComLabs ITB Arief Bahtiar.

Melalui Pesantren IT, guru diajarkan bagaimana menyiapkan materi pembelajaran dengan menggunakan IT. Tidak hanya materi pembelajaran untuk satu pertemuan, satu semester, namun materi pembelajaran untuk satu tahun pelajaran.

“Minimal mereka bisa menggunakan Microsoft Office Power Point sebagai media materi pembelajarannya. Dan itu akan lebih efisien dalam pemberian materi ajar tersebut,” tegasnya.[den]

http://www.inilahjabar.com/read/detail/1768561/pesantren-it-arahkan-pengajar-jadi-pendidik

 [youtube http://www.youtube.com/watch?v=0ZzCTGieOH0&w=640&h=410]

 

Related articles, courtesy of Zemanta:

What Can We Learn from Higher Education?

By Mike Dickinson on http://www.learningsolutionsmag.com/articles/731/what-can-we-learn-from-higher-education 

“Start with a desired and deliberate pedagogy or strategy, and then figure out which technological and interpersonal tools will help that strategy succeed. Apply the key factors from higher education that I have outlined here; these are already known to contribute to student success.”

(Yes, this is a trick question.) 

My focus the past 20 years has been internal corporate instructional design with an emphasis on eLearning. Recently I had occasion to come up for air and I saw some fascinating developments in higher education with respect to eLearning. After scouring some of the literature, I believe our colleagues in higher education have identified some instructional strategies and critical success factors that may be helpful for those in the corporate world.

Definitions

For the sake of this article, I’d like to establish the way I’ll be using some key terms.

I’ll use “online learning” to mean a course that is delivered and mediated at least 80% by computer.

I’ll use “eLearning” to describe a broader set of elements delivered or facilitated by computer, some of which may even be human-mediated such as online discussions. Other elements that I’ll include under the eLearning label could include delivery and tracking of assignments, course schedules, and online stand-alone quizzes and tests. I’ll treat eLearning and distance learning as synonyms.

Course” has two meanings:

  • If the context is a corporate setting, then a “course” generally means a one-time, often contiguous activity that may last from 15 minutes to several days.
  • If the context is higher education, then “course” generally means a semester-long series of classes. A course may have been converted from a “traditional” course (classroom lecture) to an “eLearning” (or “distance learning”) course with components like those described above.

Academia uses the word pedagogy much more commonly than corporate circles do. It is the study of teaching and of being a teacher, especially the strategies involved. (Wikipedia, 2011) A major thrust of this article is the relationship between technologies and pedagogies, or instructional strategies.

What is the corporate eLearning baseline?

Before I discuss some higher education trends, I’d like to look at the current landscape of corporate eLearning, especially concerning stand-alone online courses. Here are some of the challenges that folks in the corporate world wrestle with:

  • The learner’s interaction is almost exclusively with a computer and not with fellow learners or the instructor.
  • It can be difficult to capture and hold the learner’s attention.
  • The training may be perceived as simplistic even when branching or simulations are used.

In my opinion, two defining elements of corporate online learning are the nature
of the objectives (pragmatic; how do I perform a task?) and the nature of the value proposition, namely cost saving. Rarely is our objective to raise the learner’s cognitive skills to the top of Bloom’s taxonomy, and savings in travel cost and time are often the key factor in choosing online delivery. This is not meant as an indictment; it’s merely the nature of corporate job training.

What’s happening in higher education?

So what is it about higher education that caught my attention? First and foremost are the striking things that you can do in a semester-long course vis-à-vis a short, one-time course. Whereas corporate training falls mostly in the category of online learning (a one-time, short course), higher education seems to embrace the full concept of eLearning across an entire semester with a variety of activities to promote richer engagement and deeper understanding.

This longer-term opportunity offers a fascinating chance to focus on effective pedagogies and then apply technology to match the desired teaching strategy. When the converse is done, that is, if we start by folding in technologies without understanding their purpose, learning effectiveness generally suffers.

Course structures vary from university to university and course to course, but there seem to be two nearly universal components: online discussion among students, and much more individual and group interaction between students and the professor. In a very real sense, eLearning enables the course to extend beyond the times and walls of scheduled classroom sessions, immersing the student in the learning. This does not come without a price. Another universal trait is that eLearning tends to be harder and more time consuming than traditional classroom teaching for instructor and students alike. As a result, some students drop out.

What is the trend?

Given the increased opportunity, along with greater difficulty, just what is the eLearning trend in higher education these days? Here are some recent statistics.

Usage:

  • Over 5.6 million students were taking at least one online course during the fall 2009 term. This is an increase of nearly one million students over fall 2008.
  • The 21% growth rate for online enrollments far exceeds the less than 2% growth of the overall higher education student population.
  • Opinions differ whether this is likely to continue at the same pace.

Quality:

  • Over three-fourths of academic leaders at public institutions report that online is as good as or better than face-to-face instruction.

Effect of the economy:

  • Three-quarters of institutions report that the economic downturn has increased demand for online courses and programs. (Allen and Seaman, 2010)

What do students themselves say?

  • In a study, at an American university, of undergraduate students enrolled in both traditional and online courses, students preferred online courses to the traditional classroom. Students said that they learned more in these classes, spent more time on these classes, and found these classes to be more difficult yet of higher quality than traditional classes (Hannay & Newvine, 2006).

Another study examined students’ attitudes to online teaching and learning. It involved 400 responses from students enrolled in 72 online courses offered by 15 different institutions. Students cited the importance of flexibility, good communication, and interaction. They tended to differ in their attitudes toward asynchronous communications. Some students were highly appreciative of the time that online learning offers for thoughtful communication and the ability for all to voice opinions, whereas others missed the face-to-face communication. (More on this when I address learning styles.)

The technology can be used to help or hinder transformative learning, but it all comes down to a teacher/instructional designer combination who understands how to use the technology to create an effective learning experience, and students who can thrive in that environment. Other success factors were the teacher’s ability to be present, to project a personality through cyberspace, and to convey a sense of humor. (Goldsmith, 2001)

What are the implications of eLearning for administrators and faculty? Students value timely feedback, active participation in the online discussions, and quick responses to e-mail. These factors all require faculty to structure their “teaching” time differently from the traditional elements of preparation, class time, and office hours.

Learning styles

One thing that can be done with a semester-long course is to increase both the number and variety of interactions in hopes that this variety will reach students having diverse learning styles. Sometimes you hear this when designing online courses, and people make the argument to provide both text and audio in order to accommodate aural and visual learners.

One interesting study compared specific learning styles in parallel classroom and online versions of the same course. After considering different learning style instruments, the authors chose the Grasha-Reichmann Student Learning Style Scales (GRSLSS) because they designed it for their target audience, namely high school seniors and college students, and it focuses on how students interact with the instructor, other students, and with learning in general. (Diaz and Cartnal, 1999)

The authors measured the six GRSLSS social learning styles among students who chose either the eLearning or classroom version of the course. Whereas all students exhibit some of each learning style, students usually have one or two predominant styles. A look at the styles and their brief descriptions instantly suggests why some students may prefer classroom learning and others the online version of a course. Here is a brief description of each social learning style:

  • Independent learners prefer independent, self-paced instruction, and they generally prefer to work alone.
  • Dependent learners view the teacher and fellow students as sources of structure and direction.
  • Competitive learners strive to outperform their peers and want recognition for their academic achievements.
  • Collaborative learners prefer to share and cooperate with teachers and peers. They like lectures and small group discussions.
  • Avoidant learners do not care to attend class, and they are often uninterested and overwhelmed by class activities – unless the instructor can find a way to pique these learners’ interest.
  • Participant learners enjoy a class activities and discussion and do as much class work as possible. They are keenly attuned to the teacher’s expectations. (Diaz and Cartnal, 1999)

In college courses where there are both classroom and eLearning versions, it seems likely that students may intuitively self-select the version that best matches their individual preferred learning styles. But such a choice is generally not feasible in the corporate environment, and may be too expensive to offer in higher education, too, so the challenge is how to design one eLearning course that will accommodate all of these learning styles.

The study authors found a strong difference between the groups in the independent and dependent categories. Students with independent learning styles favored the eLearning version, whereas students with dependent learning style tended to favor classroom.

An important conclusion from this study is that faculty should avoid the temptation to merely mimic their traditional course when converting it to the eLearning format. Not only are the physical and cognitive characteristics different, but if allowed to self-select for classroom or eLearning, the composite learning styles of the respective target audiences may be quite different. And, if you’re only offering the eLearning version, then you should design it to accommodate all learning styles. This is a topic for further research.

From several studies, some important considerations for the online discussion component have emerged. Online discussion can occur in one of two ways, either synchronous (with everyone online at the same time) or asynchronous (e.g., e-mail, blogs, and other online discussion forums that involve time delays between input and response).

Synchronous discussions tend to be spontaneous with lively, real-time interaction among participants, even if they are text-based. Asynchronous discussions tend to lead to more thoughtful and literate contributions. One researcher noted that in constructivist eLearning courses, asynchronous discussions were preferred because they led to higher-order thinking, resulting in what the researcher described as “writing oneself into understanding.” (Lapadat, 2002)

Some principles of good practice

It comes back to pedagogy. How exactly can a seasoned classroom instructor modify the course originally designed for eLearning delivery? The following seven principles of good practice are a solid starting point.

Principle 1: Encourage student-faculty contact

 Provide clear guidelines for how students can use discussion forums, e-mail, and phone to connect with their instructor.

Principle 2: Encourage cooperation among the students

 Give students written guidelines for Internet and discussion group etiquette.

Principle 3: Encourage active learning

Give students several opportunities to present and discuss their findings with the rest of the class. Provide case studies and problem-based scenarios. [Note: be sure these are meaningful so learners will not perceive them as mere busywork.]

Principle 4: Give prompt feedback

 Instructors should strive to respond to individual students in a timely manner and be “present” in the course. Caution: instructors should facilitate but not dominate discussions, else student participation is sure to shut down.

Principle 5: Emphasize time-on-task

At the beginning of the course, give students a complete calendar of all activities, assignments, and due dates.

Principle 6: Communicate high expectations

Principle 7: Respect diverse talents and ways of learning

Be mindful of the learning styles described previously, and encourage students to submit ideas or topics that have practical meaning for them. Consider using a learning style assessment to better enable you to adapt the course to the learners.

Can some of these findings be adapted for corporate use?

After reviewing some contemporary literature on the state of effective eLearning in higher education, two elements stand out. I think these would be beneficial, albeit challenging, for online learning in the corporate setting. Those elements are 1) fostering a relationship between the student and a human instructor, and 2) meaningful and supportive interaction between students. Research shows that both of these elements increase the effectiveness of eLearning courses. Surely there is more opportunity to design both of these elements into semester-long courses, but I wonder if designers could strengthen them even around shorter, stand-alone online courses that typify corporate online learning.

Here are some possibilities:

In a medium size company, most employees and managers often know the training staff. Therefore, rather than building a strong student/instructor relationship around an individual course, I have seen instructors assigned to particular business areas within the company where they build a supportive, long-term business relationship. Strengthen this relationship by communicating with learners at key junctures in their professional development journey, for example, by sending a welcome note when an employee registers for a particular online or classroom course. Besides hoping to set expectations in advance, such a personal touch can strengthen the instructor/student bond.

Start with a desired and deliberate pedagogy or strategy, and then figure
out which technological and interpersonal tools will help that strategy succeed. Apply the key factors from higher education that I have outlined here; these are already known to contribute to student success.

One final area of interest is online testing. Given the instructor’s (and even the institution’s) lack of control over the testing environment for online and eLearning courses, test security and academic honesty present one more challenge to design and administer. This is a topic for a future article.

References:

Allen, I.E. & Seaman, J. (2010). Class differences: Online education in the United States, 2010. The Sloan Consortium.

Chickering, A. W., & Gamson, Z. (1987). Seven principles for good practice in undergraduate education. AAHE Bulletin, 40(7), 3-7.

Diaz, D.P. & Cartnal, R.B. (1999). Students’ learning styles in two classes: online distance learning and equivalent on-campus. College Teaching 47(4), 130-135.

Goldsmith, D. (2001) Communication, Humor and Personality: Student’s attitudes to learning online, Academic Quarterly Exchange, Summer 2001.

Hannay, M. & Newvine, T. (2006, March). Perceptions of distance learning: A comparison of online and traditional learning. Journal of Online Learning and Teaching, 2 (1).

Lapadat, J.C., Written Interaction: A Key Component in Online Learning. Journal of Computer-Mediated Communication, 7 (4), July 2002. http://jcmc.indiana.edu/vol7/issue4/lapadat.html

“Pedagogy,” downloaded Aug. 16, 2011 from http://en.wikipedia.org/wiki/Pedagogy

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=dGCJ46vyR9o&w=640&h=410]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Proses Membuat Kebijakan (e-Learning Untuk Diklat PNS Bag.3)

Menurut Hoogerwerf (1988, 66) pada hakekatnya pengertian kebijakan adalah semacam jawaban terhadap suatu masalah, merupakan upaya untuk memecahkan, mengurangi, mencegah suatu masalah dengan cara tertentu, yaitu dengan tindakan yang terarah. James E. Anderson (1978, 33), memberikan rumusan kebijakan sebagai perilaku dari sejumlah aktor (pejabat, kelompok, instansi) atau serangkaian aktor dalam suatu bidang kegiatan tertentu.

Pada hakekatnya studi tentang policy (kebijakan) mencakup pertanyaan : what, why, who, where dan how. Semua pertanyaan itu menyangkut tentang masalah yang dihadapi lembaga-lembaga yang mengambil keputusan yang menyangkut; isi, cara atau prosedur yang ditentukan, strategi, waktu keputusan itu diambil dan dilaksanakan. Disamping kesimpulan tentang pengertian kebijakan dimaksud, pada dewasa ini istilah kebijakan lebih sering dan secara luas dipergunakan dalam kaitannya dengan tindakan-tindakan pemerintah atau organisasi serta perilaku negara atau  institusi pada umumnya (Charles O. Jones,1991, 166)

Dari definisi ini, maka kebijakan publik meliputi segala sesuatu yang dinyatakan dan dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah.
Disamping itu kebijakan publik adalah juga kebijakan-kebijakan yang dikembangkan/dibuat oleh badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah (James E. Anderson, 1979:3).

Implementasi Kebijakan

Dalam studi kebijakan, perlu dilakukan implementasi kebijakan yang bersangkut paut dengan mekanisme penjabaran keputusan-keputusan politik ke dalam prosedur-prosedur rutin melalui saluran-saluran birokrasi, masalah konflik, keputusan, dan siapa yang memperoleh apa dari suatu kebijakan.
Oleh karena itu, tidaklah terlalu salah jika dikatakan bahwa implementasi kebijakan merupakan aspek yang sangat penting dalam keseluruhan proses kebijakan.

Charles O. Jones (1991) merumuskan kata implementasi diartikan sebagai “getting the job done” dan “doing it”. Dengan rumusan ini, bukan berarti implementasi kebijakan merupakan suatu proses yang dapat dilakukan  dengan  mudah.Dalam pelaksanaannya,  menurut  Jones,  menuntut adanya syarat yang antara lain: adanya orang atau pelaksana, uang dan kemampuan organisasi atau yang sering disebut dengan resources. Lebih lanjut Jones merumuskan batasan implementasi sebagai proses penerimaan sumber daya tambahan, sehingga dapat mempertimbangkan apa yang harus dilakukan.

Analisis Kebijakan

William N. Dunn (2008) mengemukakan bahwa analisis kebijakan adalah suatu disiplin ilmu sosial terapan yang menggunakan berbagai macam metode penelitian dan argumen untuk menghasilkan dan memindahkan informasi yang relevan dengan kebijakan, sehingga dapat dimanfaatkan di tingkat politik dalam rangka memecahkan masalah-masalah kebijakan.

Weimer and Vining, (1998:1): “The product of policy analysis is advice. Specifically, it is advice that inform some public policy decision”.
Jadi analisis kebijakan publik lebih merupakan nasehat atau bahan pertimbangan pembuat kebijakan publik yang berisi tentang masalah yang dihadapi, tugas yang mesti dilakukan oleh organisasi publik berkaitan dengan masalah tersebut, dan juga berbagai alternatif kebijakan yang mungkin bisa diambil dengan berbagai penilaiannya berdasarkan tujuan kebijakan.

Untuk itulah dibutuhkan Analisis sehingga perlu dilakukan suatu kajian untuk mereview terhadap kebijakan tersebut. Mengetahui seberapa baik kebijakan yang dipilih dapat membantu tercapainya tujuan dan untuk mengetahui apakah terdapat dampak-dampak lainnya yang mungkin ditimbulkan oleh kebijakan tersebut.
Dan juga untuk mengetahui masalah apa yang ingin diselesaikan oleh pemerintah, seberapa jauh tingkat keberhasilan kebijakan tersebut dalam memecahkan masalah (mencapai sasaran), serta apakah kebijakan tersebut mengakibatkan dampak lain yang tidak diinginkan, tidak diperhitungkan sebelumnya, atau yang merupakan ancaman risiko bagi pemerintah.

Proses Desain Kebijakan

Problem Analisys
1. Tahap pengkajian persoalan.
2. Penetapan tujuan dan sasaran kebijakan.
3. Penyusunan model.
Solution Analisys
4. Perumusan alternatif kebijakan.
5. Penentuan kriteria pemilihan alternatif kebijakan.
6. Penilaian alternatif kebijakan.
7. Perumusan rekomendasi kebijakan.

(Telaah e-Learning Untuk Diklat PNS selesai) 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=VZMHaf6GWhM&w=640&h=410]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Kebijakan Diklat PNS (e-Learning Untuk Diklat PNS Bag.1)

sumber gambar http://kompasiana.com

Pendidikan dan Pelatihan atau lebih dikenal dengan istilah Diklat untuk Pegawai Negri Sipil (PNS) diatur dalam UU 43/1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. Selain itu, kebijakan mengenai Diklat PNS juga diatur dalam Keputusan Presiden RI No. 87 Th. 1999 tentang rumpun Jabatan Fungsional PNS, PP 101/2000 tentang Diklat Jabatan PNS dan Pedoman Umum Diklat Jabatan PNS 193/2001.

Diklat menurut jenisnya terdiri dari Diklat Prajabatan dan Diklat Dalam Jabatan. Diklat merupakan bagian integral dari sistem pembinaan PNS dan mempunyai keterkaitan dengan pengembangan karir PNS. Diklat diarahkan untuk mempersiapkan PNS agar memenuhi persyaratan jabatan yang ditentukan dan kebutuhan organisasi termasuk pengadaan kader pimpinan dan staf. Sistem Diklat meliputi proses identifikasi kebutuhan, perencanaan, penyelenggaraan, dan evaluasi Diklat.

Tujuan Diklat

Diklat untuk PNS memiliki tujuan meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatan secara profesional dengan dilandasi kepribadian dan etika PNS sesuai dengan kebutuhan instansi. Dengan diklat diharapkan tercipta aparatur yang mampu berperan sebagai pembaharu dan perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Diklat juga bertujuan untuk memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang beorientasi pada pelayanan, pengayoman dan pemberdayaan masyarakat.Pada akhirnya, peningkatan kualiatas aparatur melalui Diklat PNS bertujuan untuk dapat menciptakan pemerintahan yang baik (good governance).

Fenomena Diklat yang Terjadi

Sistem Diklat yang banyak dilakukan saat ini memiliki beberapa kelemahan. Diklat yang ada baru berfokus pada Diklat Penjenjangan (Kepemimpinan). Diklat Teknis dan Fungsional belum ditangani dengan baik. Selain itu, Training Needs belum dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan pola Diklat yang sistemik dan berbasis kompetensi. Tuntutan saat ini adalah Diklat harus dapat mengisi kompetensi dalam jabatan. Sehingga Diklat yang dikembangkan haruslah berbasis kompetensi.

E-Learning sebagai pendukung proses pembelajaran dapat diterapkan dalam Diklat PNS. E-Learning memiliki keunggulan-keunggulan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas Diklat PNS.

Dimuat juga di http://idelearning.com/2011/08/16/kebijakan-diklat-pns-telaah-diklat-pns-bag-1  

(bersambung ke bagian 2 “E-Learning untuk Diklat PNS”)

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=zgri3qKNzec&w=640&h=410]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Policy Analysis: Evaluating Policy Performance

Table of Contents :

  1. Ethics and Values in Policy Analysis 
    • Thinking about Values 
    • Ethics and Metaethics 
    • Standards of Conduct 
  2. Descriptive Ethics, Normative Ethics and Metaethics 
    • Descriptive Value Typologies 
    • Developmental Value Typologies 
    • Normative Theories 
    • Metaethical Theories
  3. Evaluation in Policy Analysis 
    • The Nature of Evaluation 
    • Functions of Evaluation 
    • Criteria for Policy Evaluation 
  4. Approaches to Evaluation 
    • Pseudo-evaluation 
    • Formal Evaluation 
    • Varieties of Formal Evaluation 
    • Decision-Theoretic Evaluation 
  5. Methods For Evaluation

A strong public policy analysis focus on:

  1. To distinguish policy outcomes, impacts, processes, and inputs 
  2. Compare and contrast social systems accounting, social experimentation, social auditing, and research and practice syntheses 
  3. To describe and illustrate criteria for evaluating policy performance 
  4. To contrast decision-theoretic evaluation and metaevaluation 
  5. To distinguish values, ethics and metaethics 

[slideshare id=2753635&doc=dunn-policy-analysis-chapter07-djadjaachmadsardjana0907904-v1-1-091220075550-phpapp02]

Related articles, courtesy of Zemanta: