@DosenInspiratif Bersatunya Kuliah Applied Networking, Pemutaran Film Anti Rokok dan Rasa Terima Kasih Mahasiswa

Kemarin ada beberapa peristiwa yang merupakan “Mile Stone” dalam kehidupan saya sebagai dosen:

Kuliah Applied Networking 

Dalam kuliah ini disampaikan teori dan praktek perihal Router   sebagai sebuah komputer  khusus.   Router   mempunyai  komponen-ko mponen  dasar  yang  sama  dengan   PC    desktop ,   Router   mempunyai   CPU ,  memori,  sistem bus ,  dan  banyak   interface input/output .   Router   didisain  untuk  melakukan  tugas khusus  yang tidak  dimiliki  oleh   PC   desktop.  Contoh,   router menghubungkan  dan mengijinkan  komunikasi  antara  dua  jaringan  dan  menentukan  jalur  data  yang melalui koneksi jaringan.  

Komponen  utama  dari   router   adalah   random-access  memory   ( RAM ),   nonvolatile  random-access  memory   ( NVRAM ),   flash memory,  read-only  memory   ( ROM )  dan interface-interface. 

Network Interface  adalah  sebuah  Interface   yang berfungsi untuk  menyambungkan sebuah   host   ke   network .    Network  Interface adalah  perangkat  keras  yang  bekerja pada   layer   1  dari  Model  OSI (Open  System  Interconnection).   Network  Interface dibutuhkan  oleh   Router   untuk  menghubungkan   Router   dengan  sebuah  LAN  atau WAN.  Karena   Router   bertugas menyambungkan   network-network ,  sebuah   router harus  mempunyai  minimal  2   network  interface.  Dengan  konfigurasi  minimal ini,   router   tersebut bisa  menghubungkan dua   network,  karena  masing-masing   network  membutuhkan satu  network interface yang terhubung ke  Router.  

Pemutaran Film Anti Rokok 

Pada saat akan masuk kelas, ada pemandangan yang mebuat saya prihatin. Para mahasiswa bergerombol yang banyak diantaranya sambil menikmati rokok masing-masing. Seperti disampaikan di artikrl blog  sebelumnya, saya sampaikan Tag-Line “Silahkan Anda Merokok, Asal Pakai Kresek Di Kepala Anda“, sebagai penolakan kepada orang yang merokok.

Melihat hal tersebut, saya katakan saat ini banyak orang mempermasalahkan rokok dari sisi kesehatan, agama, ekonomi bahkan ideologi, politik, sosial dan budaya. Bahkan pada artikel Detik.com disebutkan bahwa: “Lama sudah Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan polemik rokok dalam UU Kesehatan. Namun hingga saat ini Menteri Kesehatan belum melaksanakan poin-poin putusan MK yang menyudahi silang sengketa tersebut.” 

Kemudian di tengah kuliah saya melakukan Pemutaran Film Anti Rokok yang isinya Fakta mengenai Industri dan bisnis Rokok di Indonesia, serta Penetrasi Rokok dalam masyarakat Indonesia yang memprihatinkan. Dalam Konferensi Dunia untuk Tembakau 2010 Koresponden Christof Putzel pergi menyelinap dan melakukan pembicaraan dengan karyawan perusahaan tembakau. Ia juga melakukan wawancara dan investigasi langsung mengenai bocah perokok terkecil di Dunia serta memaparkan mengenai fakta-fakta cengkraman bisnis tembakau global di Indonesia. Film ini Disharing oleh Yayasan Jantung Indonesia melalui Komisi Nasional Pengendalian Tembakau serta Current TV Untuk Kepentingan edukasi mengenai bahaya rokok.

Tayangan ini melengkapi video berjudul “Smoking Kid” yang dibuat oleh Yayasan Promosi Kesehatan Thailand. Di awal terlihat beberapa perokok dewasa sedang asyik merokok. Mereka tidak sadar sedang diambil gambar lantaran dilakukan dengan kamera tersembunyi. Tiba-tiba saat sedang asyik mengepulkan asap kenikmatan, masing-masing perokok di tempat berbeda itu didatangi bocah, satu laki-laki dan perempuan. Perokok dewasa, laki-laki dan perempuan, terkejut saat sang bocah hendak meminjam korek sembari mengeluarkan sebatang rokok. Lucunya para perokok dewasa itu tidak mau meminjamkan korek kepada para bocah itu. Bahkan dalam salah satu adegan, seorang perokok wanita mengatakan hal itu tidak baik buat kesehatan dan menyuruh anak itu berhenti merokok. Ada salah satu perokok pria sempat menceramahi bocah itu jika kegiatan merokok itu dapat menyebabkan kanker, emfisema, stroke, dan lainnya. Saat asyik menceramahi, tiba-tiba para bocah itu balik bertanya, “Jadi kenapa Anda merokok?” Langsung saja para perokok dewasa itu tidak berkutik menghadapi pertanyaan itu. Sejurus kemudian, anak laki-laki dan perempuan itu menyodorkan sebuah kertas berisi kalimat berbunyi, ‘Anda peduli dengan saya. Lalu kenapa Anda tidak peduli dengan diri Anda? Ingatkan diri Anda adalah langkah paling efektif buat berhenti merokok.’ Setelah kedua bocah itu meninggalkan masing-masing perokok, mereka pun terdiam dengan ekspresi wajah yang kaget, terdiam, menggaruk kepala, dan langsung memasukkan kertas itu langsung ke sakunya……… 

Rasa Terima Kasih Mahasiswa 

Tadi malam ada beberapa mahasiswa yang datang ke rumah untuk menyampaikan rasa terima kasih karena telah dibimbing Program Kreatif Mahasiswa (PKM) DIKTI. Mereka lolos sebagai salah satu tim yang masuk PIMNAS di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu dengan karya “WEB GIS Untuk Tracking Rute Perjalanan Transportasi Umum Dengan Menggunakan Algoritma Dijikstra dan Google Maps API”. 

Saat itu tim dari Teknik Informatika Universitas Widyatama berada di Univesitas Muhammadiyah Yogyakarta mengikuti PIMNAS ke 25 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tim yang adalah 4 (empat) peserta PKM yang terpilih sebelumnya dan lolos didanai DIKTI tahun 2012. 

Kedatangan mereka ke rumah saya merupakan penghargaan  kepada dosen yang telah meluangkan waktu dan pikiran dalam bagian kesuksesan mereka di PIMNAS. Sungguh suatu perilaku yang sangat saya hargai, bukan dari “buah tangannya”, namun perhatian pada profesi “pendidik yang karirnya tidak pernah berakhir“. Menurut saya, Ini adalah salah satu implementasi dari filososfi “Basa mah teu meuli” antara pendidik yang ikhlas dengan siswanya yang santun serta semoga membentuk mereka menjadi manusia yang lebih baik….Amin Ya Robbal Alamin…….

Kesuksesan Seorang Ayah: Antara Karir dan Keluarga

“A wise man is cured of ambition by ambition itself; his aim is so exalted that riches, office, fortune and favor cannot satisfy him”  Samuel Johnson quotes

Kemarin saya mengantar dan mendampingi Firman tes masuk di salahsatu SMP di Bandung. Tes hari itu adalah penguasaan TIK dan merupakan tes terakhir setelah sebelumnya mengikuti TPA dan Bahasa Inggris. Sengaja saya mendampinginya setelah sebelumnya harus berada di belantara Sumbawa karena suatu pekerjaan.

Ya……Setiap zaman ada masanya hubungan orang tua dan anak direpresentasikan. Semua ada “base line” dan “key word” yang tetap sama yang direpresentasikan dengan peribahasa:

“Kasih sayang ayah sepanjang langkah, kasih sayang ibu sepanjang kalbu”.

Benar atau salah, semuanya bermula dari hati (baca: kalbu). Ayah yang sabar (baca: bagi saya ini susyaaah….) pada buah hatinya serta ibu yang selalu merindu pada putra-putrinya dan tawaddu, merupakan salah satu “Key Performance Indicator / KPI” dalam hubungan yang indah namun tidak sesederhana yang kita bayangkan tersebut……..

Banyak para ayahanda melihat perannya di sisi keluarga dari sisi “Hard Power” dan “Maskulinitas”. Adapula yang melihatnya dari sisi seorang “Commander In Chief” membawa biduk keluarga agar tercapai ke pelabuhan bahagia.

Sampai saat ini…setelah bekerja di beberapa perusahaan Multi Nasional (terutama Amerika), dalam diri sudah ditekadkan bahwa keseimbangan kepentingan keluarga dan perusahaan adalah sangat penting..atau sedikit lebih besar….he…he. Ini tidak lepas karena seringnya membaca buku dan melihat film yang pada akhirnya memperlihatkan bahwa seorang manusia pada dasarnya bermula dan berakhir pada keluarganya. Statistik dan fakta: Kerja Normal/Wajib adalah 8 jam/33,3%, sisanya yang 16 jam/66,66% adalah milik keluarga ….walaupun harus dikurangi oleh waktu2 yang berhubungan dengan transportasi, komunikasi dll yang pada dasarnya untuk keluarga juga…. Hal ini ditambah pengalaman beberapa “expat” yang pernah bekerja sama (baca: bekerja sama atau sama2 kerja) dan menjadi panutan karena komitmennya yang sama besar terhadap keluarga dan perusahaan.

“In dwelling, live close to the ground. In thinking, keep to the simple. In conflict, be fair and generous. In governing, don’t try to control. In work, do what you enjoy. In family life, be completely present.”  Tao Te Ching quotes

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/5Tc1992kI3w” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Moko Darjatmoko: Antara Titik Karir dan Perjalanan Kehidupan (Manfaat Nonton Film “Revenge of the Electric Car”)

 

Tadi malam saya nonton film “Revenge of the Electric Car”  di COMLABS-ITB.  Film ini merupakan sekuel dari film “Who Killed the Electric Car?” yang penuh dengan informasi dan sejarah tentang upaya untuk memperkenalkan – dan mempertahankan – kendaraan listrik di jalan Amerika pada kurun 1996-2006. Untuk sutradara film, Chris Paine, bukti-bukti yang ada “terlalu mengerikan dan udara politik terlalu kotor” untuk hidupnya mobil listrik di Amerika Serikat saat itu.

Yang menarik, film ini adalah salah satu cara dari Mas Moko Darjatmoko berbicara tentang kehidupan khususnya pendidikan. Beliau di Kampus ITB sering disebut sebagai “insinyur sesat” (sudah susah-susah diajari ngelmu engineering tetapi berkecimpung dibidang yang sama sekali lain). Mengapa?  Mas Moko alumni Sipil ITB yang hidup dan bekerja di US (30 tahun di Madison, Wisconsin) dan sekarang sedang melakukan riset di Indonesia a.l. dalam bidang pendidikan dan antropologi di desa Cijengkol-Lembang, Bandung.

Dikutip dari Portal Senyum ITB, sadar bahwa bangsa ini tidak punya library (yang memadai), beberapa tahun belakangan ini Mas Moko mencoba membuat semacam digital library (untuk anak-anak) yang terdiri dari buku-buku yang “specially selected”. Sebagian besar adalah berbahasa Inggris (karena tujuan tertentu), dari jaman keemasan “picture book” di literature barat (sekitar pertengahan abad ke 19 sampai awal abad ke 20); plus beberapa contoh yang bagus-bagus dari berbagai negara di dunia; plus koleksi “award winning picture books” dari Persia selama 3 dekade terakhir .. total sekitar 2000-an buku. Ini masih harus digarap satu-per-satu, dipilih mana yang paling cocok untuk kultur kita (cultural adjustment).

Karena keunikan selera itu, beliau terus melakukan trial and error, sampai ketemu cerita yang paling disukai, sampai ketemu cerita atau buku yang “turns the kid on.” “Karena saya sering “salah tembak” — apa yang saya anggap bagus/menarik kadang sama sekali tidak menarik, dan sebaliknya. Ini pengalaman nyata di Cijengkol. Solusinya? aku bawa beberapa (puluh) buku, dan coba satu-per-satu, mana yang cocok bagi mereka (dari kacamata anak-anak Cijengkol). Well, sembari mengajar kita memang harus juga belajar — that’s the law of the universe.” kata Mas Moko.

Sementara itu beliau juga sudah memulai menggarap buku-buku untuk kelompok umur remaja (young adult) yang terutama dari corpus (body of works) pengarang klasik (yang coyrightnya sudah expired), seperti Agatha Christie, Athur Conan Doyle, C. S. Lewis, Charles Dickens, L. Frank Baum, Lewis Carroll, Mark Twain, Rudyard Kipling, Grimm Brothers, H. C. Andersen, H. G. Wells, Horatio Alger. Disamping itu ada yang masih ber-copywright tetapi perlu mulai dipikirkan, seperti karya sci-fi grandmasters Arthur C. Clarke, Isaac Asimov, Robert Heinlein; atau yang masih “muda-muda” seperti Roald Dahl, Enid Blyton, John Grisham, Neil Gaiman, Stephen King, etc … (his goal at least 1000 books)…

Well, ini memang kerjaan kolosal, tetapi kurasa aku bisa menyelesaikannya, sendirian, “in my life time” (if I’m lucky). Tentu saja kalau ada yang bantu-bantu, kerjaannya akan jadi lebih enteng. Syaratnya cuma satu .. you have a great love for books and reading.

Kelihatan bahwa “passion” serta “want and need” beliau sekarang seperti “Connecting The Dots” dari Steve Jobs yang menyatukan semua pengalaman dan ekspresi hidup mulai dari lulus Teknik Sipil ITB,  hidup di negeri orang (Madison, Wisconsin) kemudian akhirnya memberikan inspirasi di desa Cijengkol-Lembang, Bandung.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/nH_vJRRMkvE” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Kuingin Umurku Menjadi Tabungan Akhiratku

Ku tahu masih banyak tabungan yang harus kulaju
Antara kepentingan benalu, nafsu, dan qalbu
Seiring waktu kehidupan fana kencang berlalu
Tamatkan halaman perjalanan yang membiru

 

Ingin kutengok buku tabungan amalku
Terlihat masih banyak bolong sanubariku
Sungguh, itu bukan kesengajaan tentu
Kuingin Umurku Menjadi Tabungan Akhiratku

 

Note:
Dihaturkan terima atas semua doa, kasih sayang, dorongan dan kerja sama kepada semua keluarga, sahabat, handai tolan, teman, kolega dan semua fihak yang pernah bersilaturahim dengan saya

 

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/FQbwj368Vas” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Guru….Karier Yang Tidak Pernah Berakhir

 

Menurut saya menjadi Guru….Karier Yang Tidak Pernah Berakhir….. Tidak ada “bekas guru” mirip dengan tidak adanya “Bekas Orang Tua atau Anak”….Berbeda dengan Mantan Bos atau atasan dari suatu karir di perusahaan. Selain Guru memberikan pengabdian secara profesional, juga baktinya melibatkan emosional yang kuat tehadap anak didiknya.

Mungkin kita masih ingat buku “Laskar Pelangi” dari Andrea Hirata….atau film dokumenter “Kepala Sekolahku Pemulung” di Metro TV? Masih banyak lagi peristiwa, hikmah dan memoar yang menggambarkan peran guru bagi bangsa ini…..

Ayah pun seorang guru dan salah satu cerita yang tidak pernah kulupa adalah sebagai berikut:

“Suatu hari diadakan razia rambut panjang dimana beliau menjadi kepala sekolah…..Diantara muridnya ada seorang murid yang tidak mau mencukur rambutnya dengan alasan tidak punya uang…..Seketika itu juga ayah pun memberinya uang untuk mencukur rambutnya….”

“Cerita belum berakhir disitu….Beberapa puluh tahun kemudian…Kejadian “sepele” tadi diingatkan oleh muridnya yang sekarang jadi pengusaha sukses kepada ayah…Dia katakan kejadian itu tidak akan dilupakan seumur hidupnya karena setelah kejadian itu bukan hanya rambutnya yang berubah…namun hatinya telah terbuka lebar….”

“Dan pada saat saya dan istri menjalankan ibadah Umrah 1426 H (2005M), murid ayah ini (yang sudah punya putra yg dewasa) menceritakan kejadian ini kepada kami dan putra-putrinya sebagai kejadian yang mengubah jalan hidupnya”…

Jelas peristiwa ini akan berubah konstelasinya bila dilakukan bukan oleh guru pada muridnya karena ternyata setiap pemikiran, emosi dan langkahnya menjadi ikatan yang tidak pernah hilang……

Guru….Karier Yang Tidak Pernah Berakhir…..

 

*Selamat Hari Guru:

Dipersembahkan kepada Pendidik yang selalu memaknai dan menghidmati bahwa peserta didik adalah amanah orangtua mereka dengan harapan membuncah seperti pada anak kita sendiri

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=3DOv_H2m11g?rel=0&w=640&h=480]

Karir Apa Yang Anda Pilih?

Anda and Paper Airplanes

Image by bre pettis via Flickr

Fase Karier (Refer: Andrew Mayo):

  1. Discovery Phase: Fase ini dialami Anda yang berusia 20 tahunan. Berlangsung sekitar sepuluh tahun pertama dalam dunia kerja. Di tahap ini, Anda adalah angkatan kerja baru karena kemungkinan besar Anda baru lulus dari bangku perguruan tinggi.
  2. Consolidation Phase: Fase ini biasanya berlangsung pada usia 30-40 tahunan. Ada yang memulai fase ini lebih awal dan ada pula yang terlambat. Demikian pula dengan akhir fase ini, ada yang mengakhirinya lebih awal, dan ada pula yang terlambat.
  3. Maturity Phase: Inilah fase terakhir dari sebuah perjalanan karier. Fase ini banyak diisi oleh mereka yang memasuki usia 50an ke atas.

Apa Yang Perlu Kita Fahami:

  1. Kadang-kadang pilihan karir itu berubah sesuai beranjaknya waktu dan keadaan yang mempengaruhinya.
  2. Karir itu hanya objek dan yang jadi subjek adalah kita sebagai umat manusia.
  3. Semestinya didasari oleh kecintaan, tanggung jawab dan komitmen yang kuat.
[slideshare id=2341748&doc=presentasi-wisuda-itenas-29mar08-091025114233-phpapp02]