Innovation: Oxygen of Balanced Scorecard and Key Performance Indicators

 

Innovation and Entrepreneurship

 

Last Tuesday I have one full day session as lecturer of Corporate Development Management Magister (MM_Cordev) students @IMtelkom on “Innovation & Entrepreneurship”. I commenced lecture especially on topicf of “Innovation, Creating & Sharing Knowledge”.

 

“Innovation is the process by which new ideas are successfully exploited to create economic, social and environmental value” refer to BIS (2011).  On the other hand Gurling said: “Innovation is the process of successfully bringing something new into use, to a market/community, that satisfies need/latent demand”. Innovation is therefore an essential ingredient to a free-market economy to encourage growth in demand and supply as basic economics.

 

Innovation creates value of Economic, Financial, Social, Environmental and Aesthetic. As told by (Kuhn,1985): “Creativity forms something from nothing but that innovation shapes that something into products & services“. Steve Johnson have strategic and interesting questions on his film: Where do ideas come from? What sparks the flash of brilliance? How does groundbreaking innovation happen? 

 

Its also mean Design links creativity+innovation. Shapes ideas practical and attractive propositions for customers. Design described as creativity specific end. So, Idea/Invention form Design Application/Prototyping/Piloting which become Innovation.

 

 

Balanced Scorecard for Port Management

 

Conjunction with my lecture above, I have Balanced Scorecard for Port Management training session for Pelindo-3.  This institution is one of state owned corporation which operate several big port in Indonesia which has Headquater at Surabaya.

 

The balanced scorecard translates an organization’s mission and strategy into a comprehensive set of performance measures. The balanced scorecard does not focus solely on achieving financial objectives. It highlights the nonfinancial objectives that  an organization must achieve in order to meet its financial objectives.

 

This training explain of Balanced Scorecard for Port Management whose mission is achieving a significant leap in knowledge and application of methodologies simulation,  and improving the capacity port of container terminals  (PCT), their performance and service level.

 

The strategy unfolds in achieving five objectives:
  • identifying the increasing of the PCT as a nodal system within the frame of the port logistics chain,
  • analysing the feasibility of introducing technological innovations (automation) and management innovations.
  • measuring performance, capacity and service levels offered by the PCT,
  • customizing the Balanced Scorecard tool for the PCT and,
  • developing an appropriate simulation model.

Niat, Pikiran dan Tindakan Agar Sekolah Menjadi Tempat Yang Menyenangkan

Education is not a preparation for life, education is life itself

Pendidikan bukanlah persiapan untuk kehidupan, pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Demikian John Dewey menegaskan pemikirannya tentang pendidikan. Dengan demikian, umur pendidikan sama dengan keberadaan manusia di muka bumi ini.

Dikutip dari tulisan Drs. Suparlan, M.Ed; Ketika Adam diciptakan oleh Tuhan, bersama itu pulalah proses pendidikan telah berlangsung, sebagai suatu sistem yang dibangun oleh Allah SWT. Adam diajari untuk dapat menyebutkan nama-nama yang ada di bumi, tempat kehidupan Adam dan keturunannya. Dengan demikian, yang dimaksud pendidikan sebenarnya memang dengan makna kehidupan itu sendiri. 

Menurut Wikipedia, Sekolah berasal dari bahasa Yunani σχολή (schole), yang aslinya berarti “kesenangan”, atau juga “Tempat yang menyenangkan” . Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk memungkinkan dan mendorong maha/siswa (atau “murid”) untuk belajar di bawah pengawasan dosen/guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, maha/siswa mengalami kemajuan melalui serangkaian tingkatan sekolah. Nama-nama untuk sekolah berbeda di setiap negara, tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anak, sekolah menengah bagi remaja serta “Sekolah Tinggi” bagi mahasiswa (siswa yang “maha” hanya ada di Indonesia)  yang telah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah.

Dalam mendidik, saya sendiri berpedoman pada “Pernyataan Filosofis Pendidikan”  diantaranya berbunyi sebagai berikut:

Tujuan saya dalam mendidik tidak terbatas pada domain pengetahuan. Pendidik juga harus belajar keterampilan kerja sama dan manajemen tim. Pembelajaran mengekspos struktur “Permainan Peran” atau metode lain yang mendasari pembelajar bekerja ketika menyelesaikan sebuah tugas, merencanakan atau mengkritisi tim, atau membuat keputusan kepemimpinan. Model ini mengarah pada langkah penting adanya umpan balik yang dapat diidentifikasi. Pembelajar juga harus memberikan umpan balik kepada pendidik namun biasanya pendidik yang memintanya.

 Pendidik harus bertanggung jawab besar dalam proses pembelajaran. Mereka harus mengambil pendekatan aktif untuk belajar. Saya percaya pembelajar yang sukses berkembang tidak hanya memiliki pengulangan teori atau kasus untuk menghubungkan pengalaman kerja mereka dengan pengetahuan yang ada di luar. Pada akhir pendidikan, diharapkan pembelajar yang sukses dapat belajar di luar konteks kasus, karena mereka berusaha untuk “menguasai” lapangan kehidupan.

Sering pembelajaran yang saya lakukan memakai berbagai metodologi dengan menggunakan metode-metode seperti small group discussion, simulation, case study, discovery learning (DL), self directed (learning (SDL), cooperative learning (CL), collaborative learning (CBL), contextual instruction (CI), project based learning (PJBL) dan Problem based learning an Inquiry (PBL).
Sebagai contoh, mulai dari Simulasi “Role Playing” KULIAH PENGANTAR LINGKUNGAN INDUSTRI di ITENAS, Project Based Learning (PJBL) Kuliah Manajemen Proyek Sistem Informasi di Universitas Widyatama,  Contextual nstruction (CI) Kuliah  ILKOM dan Pendidikan ILKOM UPI, Case Study  di “International Training Program on Information and Communication Technology Support for Palestinian SMEs Development” di COMLABS-ITB, sampai Cooperative Learning (CL) Creative Management IMTelkom Post-Graduate Lecture. Masih banyak metodologi pembelajaran saya eksplorasi, hal ini dimaksudkan agar sekolah menjadi tempat yang menyenangkan karena Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman karena:

Kita telah melihat individu mengalami pembelajaran, melihat individu berperilaku dalam cara tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, dan beberapa dari kita (bahkan  mayoritas dari kita) telah “belajar” dalam suatu tahap dalam hidup. Dengan perkataan lain, kita dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan merespon sebagai hasil dari pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari caranya berperilaku sebelumnya.


#PendidikPembebas @PojokPendidikan Apakah Kita Sudah Memberikan Yang Terbaik Bagi Anak Didik Kita?

 

Pagi ini saya menjadi “Nara Sumber Dadakan” di acara “Teacher Social Media” yang diadakan Pojok Pendidikan dan LPP Masjid Salman-ITB. Sebagai sesama pendidik, selalu saya tekankan pada mereka agar Mencintai Profesinya sebagai Pendidik karena “Guru bukan sebuah Profesi atau Pengabdian, namun kecintaan dan gelora untuk melakukan perubahan”. Selain itu, Peran Guru  berubah, dia bukan lagi satu-satunya sumber kebenaran namun koki yang menyajikan pembelajaran agar menarik dan  bermanfaat bagi peserta didik.

 

Para guru yang paling dikagumi  anak didik adalah mereka yang tetap punya  keingin-tahuan secara intelektual dan profesional baik di dalam dan di luar kelas. Mereka menghindari stagnasi (kebekuan) dan mempertahankan semangat yang patut ditiru dalam proses belajar dan kehiduapan mereka sendiri. Mereka tetap hidup dalam kenangan siswa selamanya karena, rasa kreativitas menyenangkan, dan kasih sayang mereka.

 

Berikut adalah kualitas pendidik paling  berkontribusi agar  sukses, tahan lama, dan bahagia dalam karir mereka:

 

 

1. Guru yang sukses mempunyai harapan tinggi:
Para guru yang paling efektif mengharapkan prestasi besar dari siswa mereka, dan mereka tidak menerima sesuatu yang kurang dari itu. Di bidang pendidikan, harapan membentuk “self-fulfilling prophecy.” Ketika guru percaya bahwa setiap siswa dapat melambungkan harapan melampaui batas imajinasinya, anak-anak akan merasakan kepercayaan dan bekerja dengan guru untuk mewujudkannya.

 

 

2. Mereka berpikiran kreatif:
Para guru terbaik berpikir di luar kotak (Out of The Box), di luar kelas dan di luar norma. Mereka melompat “ke luar dinding kelas” dan mengajak siswa  dengan mereka! Sebisa mungkin, guru  mencoba untuk membuat pengalaman kelas yang menarik dan mengesankan bagi para siswa. Mereka mencari cara untuk memberikan siswa mereka aplikasi dunia nyata untuk pengetahuan, mengambil pembelajaran ke depan tindakan-dikemas tingkat. Bila kita berpikir taktis, tak terduga, berorientasi gerakan, dan sedikit gila … maka Anda akan berada di jalur yang benar.

 

 

3. Guru yang baik fleksibel dan sensitif:
Para guru terbaik meninggalkan kebutuhan mereka sendiri dan tetap peka terhadap kebutuhan orang lain, termasuk para siswa, orang tua, kolega, dan masyarakat. Ini menantang, karena setiap individu membutuhkan sesuatu yang berbeda, tapi guru yang sukses adalah jenis khusus yang memainkan banyak peran yang berbeda dalam hari tertentu dengan “fluiditas” dan rahmat, namun tetap setia kepada diri mereka sendiri.

 

 

4. Mereka penasaran, percaya diri, dan berkembang:
Kita semua akrab dengan guru yang stagnan, sinis, rendah-energi serta mengulur waktu mereka sampai pensiun. Mereka juga “menonton jam” (hanya mengisi waktu) bahkan lebih parah daripada siswa yang sekolah. Itulah yang TIDAK boleh dilakukan oleh guru. Sebaliknya, guru yang paling dikagumi memperbaharui energi mereka dengan belajar ide-ide baru dari guru yang lebih muda, dan mereka tidak merasa terancam oleh cara-cara baru dalam melakukan sesuatu di sekolah atau kampus. Mereka memiliki prinsip-prinsip yang kuat, tapi masih berkembang dengan perubahan zaman. Mereka “merangkul” teknologi baru dan percaya diri maju ke masa depan.

 

 

5. Mereka adalah manusia yang tidak sempurna:
Para pendidik yang paling efektif membawa diri mereka ke seluruh tantangan yang ada. Mereka merayakan keberhasilan siswa, menunjukkan belas kasih bagi orang tua yang berjuang, menceritakan kisah dari kehidupan mereka sendiri, menertawakan kesalahan mereka, berbagi kebiasaan unik mereka, dan tidak takut untuk menjadi manusia tidak sempurna  di depan murid-murid mereka.

Mereka memahami bahwa guru tidak hanya memberikan pelajaran dan kurikulum, melainkan guru-guru terbaik adalah pemimpin inspiratif yang menunjukkan kepada siswa bagaimana harus bersikap dalam semua bidang kehidupan dan di semua jenis situasi. Guru yang baik mengakui ketika mereka tidak tahu jawabannya. Mereka meminta maaf bila diperlukan dan memperlakukan siswa dengan hormat.

 

 

6. Guru yang sukses menyenangkan dalam belajar dan dalam kehidupan:
Para guru yang paling dikagumi menyenangkan, ringan  serta keluar dari pembelajaran yang serius. Mereka tidak takut untuk menjadi konyol karena mereka dapat memusatkan perhatian siswa kembali – dengan hanya bahasa tubuh atau perubahan nada suara.

 

@EduLiberator Bagaimana Kita serta Bangsa Palestina Memandang Betapa Pentingnya Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

Sebagai salah satu wujud komitmen Pemerintah Indonesia untuk memberikan bantuan peningkatan kapasitas (capacity building) bagi 1000 orang Palestina dalam kurun waktu 2008-2013, Direktorat Kerja Sama Teknik, Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kemlu RI mengadakan kembali kegiatan pelatihan untuk Palestina.

Untuk itu tanggal 19-27 September  2012 diselenggarakan “International Training Program on Information and Communication Technology Support for Palestinian SMEs Development. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Bandung, 19-27 September 2012, bekerja sama dengan COMLABS dan  Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan, Institut Teknologi Bandung (LPIK ITB).

Acara pelatihan dibuka secara resmi oleh Duta Besar Suprapto Martosetomo, Staf Ahli Bidang Kelembagaan Kemlu RI (19/09/12). Dalam sambutannya, Bapak Duta Besar Suprapto, menyampaikan bahwa kemandirian bangsa Palestina merupakan salah satu kunci utama bagi Palestina untuk mencapai kemerdekaan. 

Saya sendiri memberikan pelatihan untuk topik “Knowledge Managament for SME” dan “e-Learning for SME” yang diharapkan menjadi bekal  kemandirian ekonomi yang harus dibangun agar Palestina memiliki masa depan yang berkelanjutan. Salah satunya adalah dengan mengembangkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mengingat perannya yang signifikan dalam menopang pembangunan ekonomi. 

UKM memperluas lapangan pekerjaan, membuka peluang yang lebih baik, dan meningkatkan potensi ekonomi lokal. Lebih lanjut Duta Besar Suprapto menyampaikan bahwa disaat krisis ekonomi pada waktu lalu, Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia terbukti tangguh menghadapi krisis dan menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi. Melalui pelatihan seperti ini, Indonesia ingin membagi pengalaman dan kapasitasnya di bidang ICT guna membantu pengembangan UKM di Palestina.

Sejalan dengan hal tersebut, Duta Besar Palestina untuk Indonesia menyampaikan bahwa terdapat berbagai program pelatihan peningkatan kapasitas untuk Palestina. Tidak hanya terbatas dalam program yang dilaksanakan oleh Direktorat Kerja Sama Teknik, tetapi juga dalam kerangka New Asia Africa Strategic Partnership (NAASP). 

 

My Report Speech on “International Training Program on Information and Communication Technology Support for Palestinian SMEs Development”

 
Excellencies,
 
Ladies and Gentlemen,
 
On behalf of the COMLABS Bandung Institut of Technology I wish you warmly pleased to our report of “International Training Program on Information and Communication Technology Support for Palestinian SMEs Development” at  Bandung from 19 – 27 September 2012. I am very pleased to see such a distinguished audience today here in the collaboration venue of the Ministry of Foreign Affairs and Bandung Institut of Technology. With this Training we want to remind the quote of Ambassador Suprapto Martosetomo, Special Advisor to the Minister on Institutional Relations, the Ministry of Foreign Affairs in his Opening Remarks (19/09/12) underlined the importance of independent Palestine not only politically, but also in social-economic development so that the future of Palestine state will be viable and enduring.  “One of the concrete ways to support economic development is through the significant role of small and medium enterprises (SMEs).
 
 
We can reported that this training hope can be In line with statement of  Ambassador of the State of Palestine in his remarks mentioned that the program of Capacity Building for Palestine by Indonesian Government can  support on the independence and the development of Palestine and wished that in the future Palestine would be able to do the same way as Indonesian does. The Ambassador also encouraged the participants to learn how Indonesian’s SMEs are connected and being competitive.
 
The training topic it self consist of:
  1. Sofware As A Services
  2. IT Services for SME’s
  3. IT Business Plan for SME’s
  4. Benefit of IT for SME’s
  5. eCommerce
  6. OnLine Market
  7. Knowledge Management for SME’s | Djadja A. Sardjana, MM
  8. Facebook for SME’s
  9. IT Infrastructure for SME’s
  10. Digital Enterprise
  11. Social Media for SME’s
  12. eLearning for SME’s | Djadja A. Sardjana, MM
 
Ladies and Gentlemen,
 
Bandung Institut of Technology is not passively following the changing world. We are adjusting to new situations in the international environment. We at Bandung Institut of Technology understood the challenges of modern diplomacy from the Global perspective. Bandung Institut of Technology is one of the leading univesity amongst the ASEAN countries and we are eager to share again our experiences in the future. We thank you Ministry of Foreign Affairs, His Excellency Ambassador of Palestina and Indonesia which make this venue happen and our friends  from Palestina can come to Bandung and share our views and ideas especially about ICT for SMEs.
 
Thank you very much for you attention and cooperation.
 

Become Trainer of International Training Program on ICT Support for Palestinian SMEs Development

 
As part of Indonesia’s commitment to support Palestine in building its capacity development by providing trainings for 1000 Palestinians (2008 – 2013), Directorate of Technical Cooperation, Directorate General of Information and Public Diplomacy, Ministry of Foreign Affairs, is holding “International Training Program on Information and Communication Technology Support for Palestinian SMEs Development, Bandung, from 19 – 27 September 2012.
 
It is organized in cooperation with the Institute for Innovation and Entrepreneurship Development, Bandung Institute of Technology (LPIK ITB).
 
Ambassador Suprapto Martosetomo, Special Advisor to the Minister on Institutional Relations, the Ministry of Foreign Affairs in his Opening Remarks (19/09/12) underlined the importance of independent Palestine not only politically, but also in social-economic development so that the future of Palestine state will be viable and enduring.  “One of the concrete ways to support economic development is through the significant role of small and medium enterprises (SMEs).
 
 
SMEs create more employment, provide better opportunity and empower local economic potentials, and prove to be able to survive and remain to be the back bone of economic development during economic crises. And Indonesia has valuable experience to share on this with our Palestine brother in today’s training in Bandung, the city of scholar, fashion, cuisine”, said Ambassador Suprapto.
 
In line with that, Ambassador of the State of Palestine in his remarks mentioned that the program of Capacity Building for Palestine by Indonesian Government are various and it is not only limited on the program done by Technical Cooperation Directorate, but also in the framework of New Asia Africa Strategic Partnership (NAASP).
 
For that, the Ambassador conveyed his grateful acknowledgment to the government and the people of Indonesia for their support on the independence and the development of Palestine and wished that in the future Palestine would be able to do the same way as Indonesian does. The Ambassador also encouraged the participants to learn how Indonesian’s SMEs are connected and being competitive. 
 
 
Meanwhile, the Director for Technical Cooperation reported that the training program is one of numerous training programs for Palestine conducted by the Directorate of Technical Cooperation of the Indonesian Foreign Ministry. In the period of 2008-2011 the Directorate has launched 7 capacity building programs. 
 
In the current program, there are 7 Palestinians taking part on the training.  It will make the total number of Palestinians trained under the Directorate of Technical Cooperation programs becomes 42 persons entirely from 2008-2012.
 
For Palestine, The Directorate has designed several scenarios of trainings and other capacity building programs. Many discussions and meetings have been organized. The directorate also plans to hold trainings in Ramallah, Palestine, in order to establish more effective trainings with larger number of participants.
 
 
During the training, the participants will have the opportunity to enrich their knowledge, advance their skills and upgrade their competency particularly related to information and communication technology on SMEs sector.
 
The participants will acquire theoretical, technical and practical courses from number of exceptional speakers, practitioners and experts. The participants are also arranged to have opportunity to visit Museum of Asia Africa in Bandung, Saung Angklung Udjo, and other potential markets from SMEs actors in Bandung.
 
“It is hoped that the training will not only be merely one way education session, but will also be the forum for exchanging ideas and experiences between Indonesia and Palestine in order to build synergies and strengthen cooperation in SMEs development”, said Director Siti Nugraha Mauludiah ended her official report.
 
 

Angklung dan TIK: Salah Satu Pusaka dan Kemajuan Teknologi Dari Bandung

Sebetulnya ketertarikan saya pada Angklung sudah dimulai sejak lama. Hal ini kemudian dipacu karena salah satu teman di SMP adalah putra dari Ujo Ngalagena tokoh angklung yang sangat terkenal itu. Pernah juga beberapa kali memainkan alat musik ini di sekolah namun tidak begitu intens karena dikemudian hari lebih menyenangi Tembang Cianjuran.
Ketertarikan dan Kebutuhan (Want & Need) itu berubah ketika putri kami memilih angklung sebagai ekstra-kurikulernya di sekolahnya SMP Negeri 5 dan SMA Negeri 3 Bandung . Tambahan lagi setelah mendapat kesempatan untuk ikut  pementasan di luar negeri, ketertarikan ini menjadi berganda. Mungkin kebetulan atau tidak, Riris menyenangi angklung. Ternyata banyak hal yang bisa didapat dari alat musik asal Bandung ini. Bagi putri kami ini, saya lihat sisi positif diantaranya adanya keseimbangan bagi otak kanannya (seni, kreatifitas dll.) sebagai kompensasi setelah memperoleh gemblengan untuk otak kirinya (logika, ilmu dll.) di sekolah dan di rumah.
Kemudian, pada Techno.Edu.Preneur Seminar+Expo 31 Mei 2012 yang diadakan di Aula Barat ITB dimeriahkan oleh penampilan Robot Angklung karya Kurnia Jaya Eliazar (Alumni Informatika Universitas Widyatama) dan Ferry Stephanus Suwita (Siswa SMK-4 Bandung) yang memberi hiburan tersendiri bagi hadirin. Karya kombinasi High-Tech dan Kearifan Lokal ini membius para pembicara, peserta seminar dan pengunjung expo terutama saat memainkan lagu “Pahlwan Tanpa Tanda Jasa”. Semoga karya “Urang Bandung” ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Bahkan bererapa hari lalu, perwakilan dari ITB dan Saung sempat berdiskusi dengan mereka berdua dan menyatakan kekagumannya.
Angklung yang terdiri dari batang bambu vertikal yang digerakkan atau digoyang sehingga menimbulkan bunyi, kelihatannya sebuah alat musik sederhana. Tapi alat musik ini sebagai Salah Satu Pusaka Dari Bandung dapat memberi nuansa orkestra yang kental bilamana dimainkan dengan benar dan penuh penghayatan. Hal ini terbukti dari pementasan yang diadakan di Saung Mang Ujo dan luar negeri sering mendapat sambutan meriah dan “Standing Ovation” dari turis mancanegara bahkan pecinta  musik dari berbagai negara.
Nah kayaknya tidak salah kalau kita mencintai alat musik ini khan?
Angklung memang salah satu pusaka dari Bandung
Engkau tidak hanya pantas menjadi bintang panggung
Menjadi ciri integritas dan keramahan yang adiluhung
Satukan jiwa dan rasa dalam musik yang agung
Angklung  jangan sampai tersandung
Boleh dimainkan oleh  orang sekampung
Namun jangan  kita terus terkungkung
Alat musik ini harus menjadi sesuatu yang terhitung

Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo Aula Barat ITB – 31 Mei 2012

Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Comlabs USDI ITB dan Pojok Pendidikan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional. Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo memiliki tiga kegiatan utama, yaitu seminar, expo, dan lomba untuk guru.


Seminar

Seminar yang akan diselenggarakan terdiri dari dua sesi seminar, yaitu:

  • Seminar Pendidikan Kreatif dan Kewirausahaan.
    Seminar ini ditujukan untuk Guru pendidikan dasar dan menengah, Pemerhati/Komunitas pendidikan, Perusahaan pendukung pendidikan, Wirausahawan, Mahasiswa dan Umum.
  • Seminar E-Learning dan Knowledge Management.
    Seminar ini ditujukan untuk Akademisi, Korporasi, Penyelenggara Training, Penyedia layanan Distance Learning, Departemen pemerintahan.

Informasi lengkap seminar dapat dilihat di sini.


Expo

Expo terdiri dari dua rangkaian utama yakni Pameran Kreativitas dan Paralel Session. Pameran Kreativitas akan diisi insan-insan kreatif dalam pendidikan maupun korporat untuk menampilkan hasil karyanya serta memotivasi pengunjung. Pameran ini akan menampilkan alat peraga hasil karya finalis kompetisi alat peraga pengajaran. Selain itu, akan ditampilkan juga produk-produk dari komunitas kreatif serta dari perusahaan sponsor.

Liputan The-Marketeers.com: COMLABS-USDI ITB, E-LEARNING UNTUK INDONESIA

[Live Interview]   ComLabs USDI ITB, E Learning untuk Indonesia

Source: http://comlabstraining.files.wordpress.com/

ComLabs USDI ITB, sebuah terobosan baru yang mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. E-Leraning, sebutan yang tidak asing jika kita mendengar kata tersebut. Banyak hal yang kita lakukan di luar kegiatan dan rutinitas sehari-hari yang masuk ke dalam e-learning. Media sosial seperti facebook, twitter,hingga  youtube dan google mampu memberikan pengetahuan yang tidak kita dapatkan di tempat biasa. Tapi, mungkin banyak yang memandang e-learning hanya dari satu sudut saja. Yaps, electronic learning, hanya itu yang umumnya orang ketahui, dan e-learning sebenarnya lebih dari itu. E-Learning adalah sebuah konsep belajar digital yang berisi tentang banyak hal dan tidak dapat dilihat dari perspektif kecil saja. Di luar negeri, konsep e-learning ini sudah banyak digunakan, dan sangat mudah didapatkan, ada yang bersifat gratis, hingga bersifat bisnis, sesuai dengan kebutuhan dari si pengguna.

Adalah ComLabs USDI ITB yang diplot oleh ITB sebagai gateway bagi para mahasiswa hingga pengajarnya untuk dapat mulai beradaptasi dengan metode e-learning tersebut. Sudah digunakan secara parsial di tahun 2002-an, ComLabs ITB semakin berkembang dan menjadi pusat informasi serta pengembangan e-learning kepada kalangan akademisi hingga kebutuhan-kebutuhan lain di luar itu, seperti pelatihan gratis dan training-training yang mendukung. Fokus di awal tahun 2007, ComLabs USDI ITB sudah mampu memberikan dampak positif kepada lingkungan internal ITB. Dosen-dosen yang selama ini menggunakan metode konvensional di dalam standard pengajarannya, mulai mau beradaptasi dan belajar dalam menjalankan metode e-learning tersebut. Metode yang digunakan pun tidak sembarangan, Metode SCORM, metode yang merupakan standard NASA dan digunakan dalam bentuk konsep dan sudah dipakai di hampir semua jajaran militer di US. Bukan hal yang mengherankan jika pada akhirnya ComLabs USDI ITB menjadi pusat e-learning yang paling progresif di tanah air.

Djadja Achmad Sardjana, ST, MM

Pak Djadja Achmad Sardjana, ST, MM yang merupakan Project Management & Knowledge Management – E-Learning Consutant menambahkan, tingginya antusiasme para e-learner yang ada di ITB pada khususnya dan para pelaku industri pada umumnya. Saya juga sempat ditunjukan beberapa contoh training project dari berbagai perusahaan yang menggunakan ComLabs USDI ITB sebagai konseptornya dan penggagasnya. Menarik, yap, itu kata yang tepat untuk menggambarkannya, banyaknya konten lokal hingga dialog interaktif yang ditunjukan pada sesi itu benar-benar membuat saya takjub, bahwa ComLabs USDI ITB sudah mampu melampaui batas pola pikir pendidikan yang konvensional dan kadang membosankan. “Berhasilnya suatu sistem e-learning, tergantung pada keberagaman dan keberlangsungan konsep yang sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan”. Kata-kata Pak Djadja tersebut seharusnya mampu memotivasi para pelaku akademisi terutama yang berfokus pada e-learning untuk dapat lebih dinamis dan inovatif dalam mengembangkan pasar yang terbilang masih baru ini, untuk ukuran formal tentunya.

Memiliki lebih ari 20 orang pegawai dan beberapa kontributor dari kalangan internal ITB, ComLabs USDI ITB, nantinya diharapkan mampu menjadi wadah bagi para akademisi yang mau menjalankan konsep e-learning ini dengan lebih baik. Walaupun di dalam prosesnya sendiri, ITB masih menggunakan standard belajar 25:75 untuk komposisi e-learning dan pembelajaran konvensional. Tapi tergantung pada pengajar jika ingin menggunakan porsi lebih banyak untuk sisi e-learningnya selama tidak jauh dari konsep pembelajaran awal dan hal yang ingin dicapai.

Terakhir, ComLabs USDI ITB juga selalu berkembang dan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik untuk perkembangan e-learning. Salah satunya adalah memberikan Free Saturday Lesson yang diadakan di gedung ComLabs USDI ITB sendiri dan para pembicaranya dihadirkan secara cuma-cuma dengan topik yang selalu up-to-date.  Sehingga tidak ada kata berhenti untuk belajar, karena bagaimanapun juga, “hasil terbaik itu berasal dari sebuah kerjasa team”, tanpa kerjasama, segala sesuatunya akan menjadi lebih sulit. Sukses selalu untuk ComLabs USDI ITB !!