Konser #LadyGaga, “Benefit dan Profit Setan” Serta Hilangnya “Subsidi Media”

 

 

Saat ini masyarakat, fihak berwenang sedang sibuk dengan “Distorsi Infomasi” tentang Konser #LadyGaga.  Dikutip dari @DetikNews (Kamis, 17/05/2012 14:04 WIB), Konser Lady Gaga di Jakarta terancam batal. Polri masih mengkaji untuk melakukan keputusan yang terbaik terkait pemberian izin untuk konser meski Polda Metro Jaya tidak merekomendasikan digelarnya konser Lady Gaga.

 

Bahkan pemerintah  Malaysia selaku negara serumpun dengan Indonesia punya sikap senada. “Sama dengan kebijakan pemerintah Indonesia ha ha,” ujar Menteri Koordinator Hukum dan Keamanan Malaysia, Dato Seri Mohamed Nazri Bin Abdul Azis, usai bertamu ke kediaman Ketua MPR, Taufik Kiemas, di Jl Teuku Umar, Jakarta, Kamis (17/5/2012). Tahun lalu, radio-radio di Malaysia pernah memboikot salah satu single Lady Gaga yang berjudul ‘Born This Way’. Mereka khawatir lagu yang disebut-sebut sebagai lagunya kaum gay itu bisa menyakiti perasaan warga Malaysia.  

 

 

Banyak fihak yang menganggap Konser Konser #LadyGaga ini akan berkontribusi pada “Benefit dan Profit Setan” dengan berbagai alasan. Bisa jadi ini juga merupakan pergulatan sengit kapitalis “Fun, Food and Fashion” dari Amerika, Eropa, Jepang, Korea bahkan Cina untuk mempertahankan pangsa pasarnya. Mereka mencoba menjadikan Indonesia seperti Spanyol yang netral pada Perang Dunia Kedua, namun penuh intrik spionase untuk memperebutkan pengaruh “Human Capital” (Modal Insani) Indonesia di masa datang.

 

Dilain fihak, ada masukan dari beberapa elemen yang menjadi acuan polisi untuk tidak merekomendasikan pemberian izin digelarnya konser musik penyanyi dunia Lady Gaga. Elemen tersebut diantaranya organisasi masyarakat, fraksi di DPR dan lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Ada 8 elemen yang memberi masukan untuk tidak diberi rekomendasi,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (16/5/2012).

 

Pada sisi lain mungkin ini mirip dengan fenomena “Distorsi Infomasi” pada saat BBM akan dinaikkan beberapa waktu yang lalu. Terlihat hilangnya “Subsidi Media” pada beberapa kesempatan dimana “subsidi” yang harusnya diterima oleh rakyat banyak yang masih sangat membutuhkan pangan dan papan. “Subsidi  informasi”, layaknya Subsisid BBM, seharusnya merupakan representasi kepentingan bagi ratusan juta Bangsa Indonesia yang lebih berhak menikmati subsidi ini untuk memperoleh data, informasi, pengetahuan dan “Wisdom” (kebijakan/kearifan) dari Media.

 

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/G49q6uPcwY8″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Renungan Hari Pendidikan Nasional 2012: Apa Yang Harus Dicapai Bangsa Ini Melalui Pendidikan?

  
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. (UUSPN, 2003).
 
Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, ras, etnis, agama, dan gender. Pemerataan dan mutu pendidikan  akan membuat warga negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya, mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila. 
 
Pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan manusia sepanjang hayatnya, baik sebagai individu, kelompok sosial, maupun sebagai bangsa. Pendidikan telah terbukti mampu mengembangkan sumber daya manusia yang merupakan karunia Allah Swt., serta memiliki kemampuan untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga kehidupan manusia semakin beradab.
 
John Vaisey, mengemukakan bahwa pendidikan adalah dasar dari pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, sains dan teknologi, menekan dan mengurang kemiskinan dan ketimpangan pendapatan, serta peningkatan kualitas peradaban pada umumnya. Selanjutnya dikemukakan juga oleh John Vayse bahwa sejumlah besar dari apa yang kita ketahui diperoleh dari proses belajar secara formal di lembaga-lembaga pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi).  
 
Berdasarkan pandangan di atas, Cristope J. Lucas  begitu yakin bahwa pendidikan menyimpan kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan keseluruhan aspek lingkungan hidup dan dapat memberikan informasi yang paling berharga mengenai pegangan hidup masa depan di dunia, serta membantu anak didik dalam mempersiapkan kebutuhan hidup yang esensial demi menghadapi perubahan di masa depan.  Sementara itu John Dewey berpendapat bahwa pendidikan sebagai salah satu kebutuhan hidup (a neccesity of life), sebagai bimbingan (a direction), sebagai sarana pertumbuhan(as growth), yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup. Pendidikan mengandung misi keseluruhan aspek kebutuhan hidup serta perubahan-perubahan yang terjadi.  
  
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/qjjhMvkNkKY” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Pendidikan Nasionalisme: Antara “Perjuangan” SuJu, Justin Bieber dan Syahrini

Dikutip dari http://1.bp.blogspot.com/-Mt8iaL-2Fp4/TgGZpIjXXsI/AAAAAAAAAf0/2s3hGWUG8i4/s1600/HORMAT.jpg
Kaum muda Indonesia dihebohkan dengan pemunculan dan show Boy Band SuJu dari Korea Selatan. Mereka berbondong-bondong mengelu-elukan idolanya pada “batas yang tidak bisa dibayangkan”. Bahkan ada beberapa yang “mencapai kepuasan batin tak terhingga” setelah melihat atau bertemu dengan idola mereka.
Dikutip dari Kompas, sepanjang pertunjukkan mereka menjerit sambil mengacungkan “light stick” warna biru safir yang harganya sekitar Rp 250.000 per batang dan meneriakkan nama-nama personel kelompok yang kini beranggotakan 11 penyanyi itu. Kadang mereka ikut bernyanyi dan menggoyangkan badan saat band bentukan Lee Soo Man, pendiri SM Entertainment di Korea Selatan, itu mendendangkan lagu-lagu hitsnya. Sejak awal hampir seluruh penonton yang memenuhi ruang konser berlantai tiga itu seperti terbius pertunjukan penyanyi-penyanyi muda Korea tersebut.
Di lain tempat, Justin Bieber seperti yang dikutip dari Republika, salah satu idola dari “Negeri Seberang” memberikan pernyataan kontroversial yang menghina Indonesia sebagai negara tidak jelas dan kualitas rekaman Indonesia buruk yang terus menuai pro-kontra dari para penggemarnya di Indonesia. Salah satu fans Indonesia mengatakan: “Memang dari awal munculnya Justin Bieber juga sudah banyak kontroversial. Bukan cuma sekali ini saja dia menghina atau berulah yang bikin orang sakit hati. Dia juga pernah kasar dengan fansnya.”
Kemudian muncullah figur Syahrini yang mencoba “membela” negaranya Indonesia dengan memberikan pernyataan sengitnya pada Justin Bieber. Diberitakan sebelumnya, Syahrini “berkicau” agar Bieber meminta maaf kepada publik berkait dengan pernyataannya dalam acara bincang-bincang di sebuah stasiun televisi dengan menyebut Indonesia sebagai a random country, yang diartikan sebagai negeri entah berantah. Bukannya disambut positif, akun Twitter @princessyahrini justru diserang para Belieber selama tiga hari berturut-turut.
Ketiga peristiwa tersebut, punya kesamaan “Pemain Peran” yang sama dan sangat penting yaitu Kaum Muda Indonesia. Bagaimana mereka melihat nasionalisme dari sudut pandang remaja Indonesia dihubungkan dengan fenomena “agama baru” yang dinamakan “Fun, Food & Fashion”?
Pada Bukunya bertajuk “Nasional.Is.Me”, Pandji Pragiwaksono (salah satu Tokoh Muda Indonesia Kontemporer) menggugat etos nasionalisme kaum muda yang sedang tergerus. Saat ini, spirit kaum muda banyak yang “absen” dengan nilai perjuangan yang tertancap dalam monumen perjuangan.
 
Penulis melihat melihat ada beberapa indikasi makin runtuhnya nasionalisme kaum muda di tengah gempuran globalisasi. Pertama, Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang.
 
Kedua, dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala erkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
 
Ketiga, masyarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
 
Keempat, adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.
 
Kelima, munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.
 
Kelima hal tersebut menjadikan nasionalisme tak lagi menancap dalam gerak kaum muda hari ini. Berbagai jebakan yang mengitari kanan-kiri menjadikan kaum muda kehabisan energi melakukan gerak perubahan untuk bangsa.
 
Dalam konteks ini, penulis melihat bahwa perlu gerak rekonstruksi nasionalisme kaum muda hari ini. Tantangan kebangsaan yang kita hadapi sekarang ini telah bergeser dari isu-isu lama ke isu-isu kontemporer yang membutuhkan nilai-nilai baru yang dikonstruksikan sesuai dengan tantangan zaman.
 
Tantangan yang harus diatasi oleh kaum muda hari ini adalah membuat Indonesia berdaulat. Berdaulat atas tanah, air, dan segala yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Kedaulatan tak akan berarti jika kesejahteraan hanya menjadi pepesan kosong, sekadar retorika politik yang manis dan bual. Kedaulatan juga tak akan bermakna manakala harkat dan martabat bangsa sering diinjak-injak bangsa lain.
 
Nasionalisme baru kaum muda adalah nasionalisme original yang tidak dibangun dari atas lalu meluncur ke bawah yang oleh sejarawan Charles Tilly, disebut sebagai state-led nationalism. Sebab, nasionalisme kaum muda adalah nasionalisme yang tidak dibentuk oleh rezim, melainkan sesuatu yang muncul secara alamiah.
“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno)
Itulah yang dikatakan oleh Bung Karno atas harapannya pada kaum muda. Apakah nasionalisme kaum muda sekarang bisa menjawab tantangan Bung Karno tersebut? Wallahu Alam Bissawab 
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/uT43dUQ3H18″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Seminar @WiFiUtama: Social Media, Ancaman Atau Kesempatan Bagi Pendidikan?

Kemarin saya jadi moderator dan “pembicara”  acara yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Widyatama bertajuk Widyatama Informatics Festival (WIFi). Rangkaian acara ini telah dimulai sejak awal April kemarin dan akan mencapai puncaknya pada tanggal 26 – 28 April 2012.

WIFi  menggelar seminar dan workshop ditambah dengan berbagai macam kompetisi. Seminar diadakan pada tanggal 28 April 2012 di Universitas Widyatama, Jl. Cikutra 204, Bandung. Seminar akan terdiri dari dua bagian. Seminar pertama akan membahas tentang SAP dan akan diselenggarakan pada pukul 09.30 sampai pukul 12.00. Seminar SAP ini diisi oleh Wahyudi (Staff Ahli Direksi PT. Kereta Api Indonesia) dan Ribkah Gustina (Metrasys) dan moderator Djadja Sardjana.

Seminar kedua  dilaksanakan pada pukul 13.30 – 16.30. Seminar ini berkonsep seminar dan talkshow dan  mengangkat tema “The Power of Sosial Media Community”. Bagian kedua ini akan diisi oleh Reza Budi Prabowo (FOWAB), Winastwan Gora (Intel), Wiku Baskoro (DailySocial),  dan Willis Wee (Techinasia) dan moderator Yohan Totting (FOWAB). 

Sesuai yang disampaikan Pak Winastwan Gora (Intel), menarik membicarakan Social Media ini, apakah  Ancaman Atau Kesempatan Bagi Pendidikan khususnya di Indonesia? 

Jaringan sosial online sekarang begitu dalam tertanam dalam gaya hidup anak-anak, remaja bahkan orang dewasa yang bersaing dengan televisi untuk menarik perhatian mereka, menurut sebuah studi baru dari Grunwald Associates LLC. Penelitian itu menunjukkan, anak berumur 9 sampai 17 tahun, sekarang menghabiskan waktu menggunakan layanan jejaring sosial dan situs web hampir sama seperti mereka menghabiskan menonton televisi. Diantaranya sekitar sembilan jam seminggu digunakan kegiatan pada jejaring sosial dan sekitar 10 jam seminggu menonton TV.

Siswa kebanyakan tidak pasif pada saat online. Selain berkomunikasi, banyak siswa terlibat dalam kegiatan yang sangat kreatif di situs jaringan sosial – dan proporsi yang cukup besar dari mereka adalah menjadi “nara sumber” pendidikan yang mengatur “kecepatan belajar” bagi rekan-rekan mereka.

Dalam hal ini, melalui beberapa Social Media termasuk Facebook dan Twitter, Inisiatif Intel® Education adalah sebuah komitmen yang berkelanjutan untuk mempercepat proses pengembangan pendidikan menghadapi ekonomi baru yang berbasis pengetahuan (knowledge economy). Sebagai partner yang telah dipercaya oleh pemerintah berbagai negara dan dunia pendidikan di seluruh dunia dan investasi tahunan sebesar USD 100 juta di lebih dari 50 negara, program Intel® Education memiliki fokus untuk: meningkatkan proses belajar mengajar melalui penggunaan teknologi yang efektif, dan mengembangkan pendidikan serta penelitian dalam matematika, ilmu pengetahuan alam, dan rekayasa. Semua ini ditujukan untuk mencapai pendidikan yang mampu menjawab tantangan abad 21.

Indonesia menjadi Negara ke 45 yang mengimplementasikan Program Intel® Teach. Hingga tahun 2011, program ini telah di implementasikan di 70 negara dan melatih lebih dari 10 juta guru diseluruh dunia. Intel Indonesia memulai program pada pertengahan tahun 2007, MOU antara Departemen Pendidikan Nasional dan Intel Indonesia yang ditandatangai tanggal 16 Mei 2007 menandai dimulainya pelaksanaan program Intel teach di Indonesia.

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/3zKdPOHhNfY” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Kerja Sama Internasional Perguruan Tinggi: Antara Harapan dan Kenyataan

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri penandatangan MOU antara STMIK DCI Tasikmalaya dengan Southern Leyte State University. Mengapa ini perlu dilakukan? Apa manfaatnya bagi kedua belah fihak? Bagaimana dampaknya ke depan bagi kedua institusi?

Pendidikan tinggi adalah variabel ekonomi yang mempengaruhi semua negara industri atau berkembang. Namun, untuk memenuhi prioritas kebutuhan dari masyarakat, sebuah pendekatan lebih fleksibel diperlukan dalam setiap aspek pendidikan tinggi, yaitu: pengelolaan sistem dan institusi, struktur dan isi kurikulum dan link ke dunia kerja. Oleh karena itu semangat proaktif dan kompetitif diperlukan pendidikan tinggi  untuk mewujudkan potensinya. Meskipun banyak kemajuan telah dibuat, masih banyak yang harus dilakukan untuk memastikan bahwa pendidikan tinggi membahas kebutuhan masyarakat dalam memproduksi tenaga terdidik serta dapat memberikan kontribusi ilmiah pengembangan teknologi, ekonomi, sosial dan budaya tidak hanya di negara mereka sendiri tetapi juga internasional.

Transmisi pengetahuan terus menjadi tujuan utama lembaga pendidikan tinggi, tetapi ini harus diimbangi dengan kecukupani pasar tenaga kerja sehingga diperlukan keahlian yang mumpuni. Pemimpin pendidikan tinggi menghadapi tugas kompleks dalam peramalan untuk membantu memastikan kebijakan, sistem, lembaga dan sumber daya manusia yang baik untuk abad ke 21. Tidak disangkal sulitnya tantangan ini untuk menggabungkan visi dan tindakan mencapai tujuan ini. Selain itu, kepemimpinan Perguruan Tinggi harus kuat menghadapi resistensi terhadap perubahan yang berjalan.

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/u52zfNGRP_o” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Peran Teknologi Telematika dalam Kepemimpinan Bangsa

Pada saat ini bangsa kita sedang dalam tahapan rekonstruksi setelah mengalami krisis ekonomi, sosial, dan politik yang terburuk pada tiga tahun terakhir ini. Kepercayaan masyarakat kepada lembaga-lembaga formal amat tipis, bahkan kepercayaan antar kelompok-kelompok dalam masyarakatpun terkikis. Sedangkan gejala disintegrasi bangsa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita. Upaya rekonstruksi diharapkan dapat membawa bangsa kita menjadi suatu masyarakat madani yang bersatu dalam negara Republik Indonesia.

Memasuki milenium ketiga, globalisasi yang semula merupakan suatu kecenderungan telah menjadi suatu realitas, sedangkan alternatifnya adalah pengucilan dari kancah pergaulan antar bangsa. Globalisasi menuntut adanya berbagai macam standar, pengaturan, kewajiban, dan sekaligus juga memberi hak kepada anggota masyarakat global. Berbagai aturan dikenakan secara global (misalnya, WTO, IMF, UN, dan lain-lain). Tuntutan berkompetisi, dan sekaligus berkolaborasi, memaksa kita untuk terus menerus meningkatkan daya saing bangsa kita, baik dalam pasar lokal, regional, maupun dalam pasar global.


Sementara itu, era reformasi memungkinkan kita untuk menelaah dan memperbaiki dampak negatif dari sentralisasi yang berlebihan di masa lalu. Pola sentralisasi selain mengabaikan inisiatif masyarakat, juga cenderung meniadakan proses pengambilan keputusan yang didasarkan pada kriteria obyektif berdasarkan data dan informasi. Setelah beberapa dasawarsa di bawah pemerintahan tersentralisasi, kebijakan pucuk pimpinan seringkali menjadi satu-satunya acuan yang harus diikuti. Akibatnya, keputusan lebih banyak dilakukan atas dasar kesesuaian dengan kebijakan atasan daripada berdasarkan fakta dan informasi, sehingga informasi yang dikumpulkan dari lapangan menjadi kurang dihargai.

Selain masalah-masalah tersebut di atas, perkembangan teknologi juga memberikan tantangan tersendiri pada berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Salah satu teknologi yang berkembang pesat dan perlu dicermati adalah teknologi informasi. Tanpa penguasaan dan pemahaman akan Teknologi Telematika ini, tantangan globalisasi akan menyebabkan ketergantungan yang tinggi terhadap pihak lain dan hilangnya kesempatan untuk bersaing karena minimnya pemanfaatan teknologi informasi sebagai alat bantu dalam Kepemimpinan Bangsa. Mengingat perkembangan Teknologi Telematika yang demikian pesat, maka upaya pengembangan dan penguasaan Teknologi Telematika yang didasarkan pada kebutuhan sendiri haruslah mendapat perhatian maupun prioritas yang utama untuk dapat menjadi masyarakat yang lebih maju.


 Dengan tantangan yang beragam seperti itu, Pemerintah Republik Indonesia harus terus melakukan upaya-upaya untuk mengatasinya dan mengantisipasi langkah-langkah yang terbaik untuk bangsa Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana Teknologi Telematika (untuk selanjutnya akan disingkat TI atau IT-Information Technology) dapat berperan dalam langkah-langkah yang sedang, dan akan dilakukan dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

 

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/82tR63FQnMw” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Re-post: Kartini….Adakah cita-citamu sudah tercapai kini???

 

Engkau mungkin dikagumi wanita-wanita yang kucintai
Walaupun waktu memisahkan eramu dengan jati diri….
Tidakkah kau mengerti ada banyak salah persepsi
Diantara asa dan perjuangan penuh emosi

Kartini,mungkin jiwamu beserta kaum yang kami hormati
Namun arah itu telah jauh dari makna emansipasi
Yang kami coba untuk selalu memaknai
Bahwa hidup itu bukan untuk nafsi-nafsi

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/E6_a8dc1QlQ” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Perjuangan Wanita Indonesia: Antara Pemikiran Kartini dan Tindakan Dewi Sartika

  
Hari ini kita peringati sebagai Hari Kartini, sebuah batu loncatan yang diakui sebagai “Pejuang Wanita Indonesia”. Semua itu didasarkan pada apa yang dilakukan Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.
Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
 
Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…” Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
 
Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.
 
Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang.  
  
 
Di lain fihak, ada satu lagi tokoh wanita yang kalibernya sama yaitu Dewi Sartika (Bandung, 4 Desember 1884 – Tasikmalaya, 11 September 1947), tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. 
Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula. Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda.
Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.
Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.
Ketika sudah mulai remaja, Dewi Sartika kembali ke ibunya di Bandung. Jiwanya yang semakin dewasa semakin menggiringnya untuk mewujudkan cita-citanya. Hal ini didorong pula oleh pamannya, Bupati Martanagara, pamannya sendiri, yang memang memiliki keinginan yang sama. Tetapi, meski keinginan yang sama dimiliki oleh pamannya, tidak menjadikannya serta merta dapat mewujudkan cita-citanya. Adat yang mengekang kaum wanita pada waktu itu, membuat pamannya mengalami kesulitan dan khawatir. Namu karena kegigihan semangatnya yang tak pernah surut, akhirnya Dewi Sartika bisa meyakinkan pamannya dan diizinkan mendirikan sekolah untuk perempuan.
Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru.
Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu
Usai berkonsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara, pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya tiga orang; Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang, menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung.
Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910, menggunakan hartanya pribadi, sekolahnya diperbaiki lagi sehingga bisa lebih mememnuhi syarat kelengkapan sekolah formal.
Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.
Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi “Sakola Raden Déwi”. Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda.
Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/XhyLZCpeaaM” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Liputan The-Marketeers.com: COMLABS-USDI ITB, E-LEARNING UNTUK INDONESIA

[Live Interview]   ComLabs USDI ITB, E Learning untuk Indonesia

Source: http://comlabstraining.files.wordpress.com/

ComLabs USDI ITB, sebuah terobosan baru yang mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. E-Leraning, sebutan yang tidak asing jika kita mendengar kata tersebut. Banyak hal yang kita lakukan di luar kegiatan dan rutinitas sehari-hari yang masuk ke dalam e-learning. Media sosial seperti facebook, twitter,hingga  youtube dan google mampu memberikan pengetahuan yang tidak kita dapatkan di tempat biasa. Tapi, mungkin banyak yang memandang e-learning hanya dari satu sudut saja. Yaps, electronic learning, hanya itu yang umumnya orang ketahui, dan e-learning sebenarnya lebih dari itu. E-Learning adalah sebuah konsep belajar digital yang berisi tentang banyak hal dan tidak dapat dilihat dari perspektif kecil saja. Di luar negeri, konsep e-learning ini sudah banyak digunakan, dan sangat mudah didapatkan, ada yang bersifat gratis, hingga bersifat bisnis, sesuai dengan kebutuhan dari si pengguna.

Adalah ComLabs USDI ITB yang diplot oleh ITB sebagai gateway bagi para mahasiswa hingga pengajarnya untuk dapat mulai beradaptasi dengan metode e-learning tersebut. Sudah digunakan secara parsial di tahun 2002-an, ComLabs ITB semakin berkembang dan menjadi pusat informasi serta pengembangan e-learning kepada kalangan akademisi hingga kebutuhan-kebutuhan lain di luar itu, seperti pelatihan gratis dan training-training yang mendukung. Fokus di awal tahun 2007, ComLabs USDI ITB sudah mampu memberikan dampak positif kepada lingkungan internal ITB. Dosen-dosen yang selama ini menggunakan metode konvensional di dalam standard pengajarannya, mulai mau beradaptasi dan belajar dalam menjalankan metode e-learning tersebut. Metode yang digunakan pun tidak sembarangan, Metode SCORM, metode yang merupakan standard NASA dan digunakan dalam bentuk konsep dan sudah dipakai di hampir semua jajaran militer di US. Bukan hal yang mengherankan jika pada akhirnya ComLabs USDI ITB menjadi pusat e-learning yang paling progresif di tanah air.

Djadja Achmad Sardjana, ST, MM

Pak Djadja Achmad Sardjana, ST, MM yang merupakan Project Management & Knowledge Management – E-Learning Consutant menambahkan, tingginya antusiasme para e-learner yang ada di ITB pada khususnya dan para pelaku industri pada umumnya. Saya juga sempat ditunjukan beberapa contoh training project dari berbagai perusahaan yang menggunakan ComLabs USDI ITB sebagai konseptornya dan penggagasnya. Menarik, yap, itu kata yang tepat untuk menggambarkannya, banyaknya konten lokal hingga dialog interaktif yang ditunjukan pada sesi itu benar-benar membuat saya takjub, bahwa ComLabs USDI ITB sudah mampu melampaui batas pola pikir pendidikan yang konvensional dan kadang membosankan. “Berhasilnya suatu sistem e-learning, tergantung pada keberagaman dan keberlangsungan konsep yang sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan”. Kata-kata Pak Djadja tersebut seharusnya mampu memotivasi para pelaku akademisi terutama yang berfokus pada e-learning untuk dapat lebih dinamis dan inovatif dalam mengembangkan pasar yang terbilang masih baru ini, untuk ukuran formal tentunya.

Memiliki lebih ari 20 orang pegawai dan beberapa kontributor dari kalangan internal ITB, ComLabs USDI ITB, nantinya diharapkan mampu menjadi wadah bagi para akademisi yang mau menjalankan konsep e-learning ini dengan lebih baik. Walaupun di dalam prosesnya sendiri, ITB masih menggunakan standard belajar 25:75 untuk komposisi e-learning dan pembelajaran konvensional. Tapi tergantung pada pengajar jika ingin menggunakan porsi lebih banyak untuk sisi e-learningnya selama tidak jauh dari konsep pembelajaran awal dan hal yang ingin dicapai.

Terakhir, ComLabs USDI ITB juga selalu berkembang dan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik untuk perkembangan e-learning. Salah satunya adalah memberikan Free Saturday Lesson yang diadakan di gedung ComLabs USDI ITB sendiri dan para pembicaranya dihadirkan secara cuma-cuma dengan topik yang selalu up-to-date.  Sehingga tidak ada kata berhenti untuk belajar, karena bagaimanapun juga, “hasil terbaik itu berasal dari sebuah kerjasa team”, tanpa kerjasama, segala sesuatunya akan menjadi lebih sulit. Sukses selalu untuk ComLabs USDI ITB !!

Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM): Manfaat penggunaan software Open Source untuk mengurangi pembajakan software di Indonesia

 

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL

Manfaat penggunaan software Open Source untuk mengurangi pembajakan software di Indonesia dan cara menanggulanginya dengan Audit System Information

 

JENIS KEGIATAN :

PKM Penelitian (PKM-P)

 

Dikutip dari PKM-P yang diusulkan oleh:

 

Riski Setioajie                        2006                06.06.080       

Budi Hariyanto                      2006                06.06.070       

Karismawaty Sintia D.         2008                06.08.114       

Dahlia Guteres B.                2008                06.08.139       

Norma Sela R                        2008                06.08.048       

 

UNIVERSITAS WIDYATAMA BANDUNG 2011

 

Pendahuluan

Latar Belakang

            Perkembangan yang pesat pada bidang teknologi informasi saat ini memunculkan keniscayaan bahwa setiap aspek kehidupan sangat dimudahkan dengan teknologi informasi. Kondisi ini menimbulkan pemanfaatan yang tinggi terhadap teknologi informasi tersebut. Ironisnya, terdapat fakta bahwa di seluruh dunia khususnya Indonesia terdapat suatu tindakan ilegal atas teknologi informasi ini, yaitu pembajakan perangkat lunak (software).

Permasalahan yang cukup menggelitik adalah kenyataan bahwa penggunaan software bajakan ini tidak hanya melingkupi publik secara umum saja, namun pula mencakup kalangan korporat, pemerintahan, atau bahkan para penegak hukum (www.detik.com).

Terkait pembajakan, pemerintah telah memberlakukan Undang-undang nomor 19 tahun 2002 atau sering disebut UU HAKI. UU ini menjelaskan lebih lengkap tentang permasalahan hak cipta termasuk masalah penggunaan software. Pemberlakuan UU HAKI menunjukkan niat baik pemerintah untuk memberantas atau paling tidak mengurangi tingkat pelanggaran hak cipta, termasuk penggunaan software bajakan.

Setelah dikeluarkannya UU HAKI, para pembuat software pun semakin gencar menempuh jalan hukum  di pengadilan Indonesia. (www.detik.com)

            Peristiwa tersebut memunculkan kekhawatiran bila gugatan semacam itu benar-benar dilakukan lebih intensif. Munculnya kekhawatiran tersebut bermula dari harga-harga software legal yang masih tergolong mahal untuk orang Indonesia. Harga software yang memang agak mahal ditambah kurs rupiah yang lemah terhadap Dollar Amerika semakin membuat software legal sulit terjangkau.

Kondisi tersebut memudahkan orang Indonesia mengambil jalan pintas bila terbentur pada masalah harga software. Software bajakan telah banyak membuat warga Indonesia memiliki ketergantungan terhadap software bajakan meskipun merupakan kegiatan ilegal (melanggar hukum).

Jika usaha-usaha hukum berkiprah lebih intensif untuk memberantas pembajakan software maka perkembangan ini lambat laun akan menumbuhkan kebutuhan solusi alternatif software aplikasi. Salah satu solusi alternatif yang makin digemari komunitas teknologi informasi (TI) di dunia adalah pengunaan software open source (www.pikiran-rakyat.com).

Berdasarkan pada latar belakang masalah yang ada maka penyusunan proposal ini dilaksanakan untuk mensosialisasikan software open source dan mengoptimalisasikan software audit untuk menanggulangi maraknya pembajakan software di Indonesia.

 

Perumusan Masalah

            Pembajakan software yang semakin marak di Indonesia dan munculnya software open source sebagai salah satu solusi alternatif untuk menguranginya merupakan sebuah hal yang menarik untuk diteliti.

Adapun tujuan dan batasan rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain:

a.  Menganalisa persepsi mahasiswa terhadap pembajakan software.

b. Menganalisa pemahaman tentang software open source dari sudut pandang mahasiswa.

c. Menganalisa motivasi dan kendala yang dihadapi oleh mahasiswa dalam penggunaan software open source.

d.  Menganalisa pengaruh penggunaan software open source terhadap pembajakan software berdasarkan pada perspektif mahasiswa.

e.   Upaya untuk mengurangi maraknya pembajakan software di Indonesia.

 

 Tujuan dan Manfaat

Tujuan yang dapat diambil dari Penyusunan Proposal ini adalah:

·         Mengoptimalisasikan kegunaan software IT audit untuk menanggulangi maraknya pembajakan software di Indonesia.

·         Mempermudah dalam proses pemeriksaan software yang akan di audit.

·         Memberikan pemahaman bagi kita semua tentang pentingnya untuk menghargai karya orang lain khususnya dalam bidang teknologi informasi sehingga tidak melakukan tindakan pembajakan software.

·          Memberikan motivasi bagi masyarakat umum dan mahasiswa khususnya untuk belajar tertib, yaitu tertib untuk menggunakan software secara benar.

·         Mengukur pemanfaatan software open source sebagai alternatif dalam mengurangi tindakan pembajakan software.

 

Harapan terakhir dari proses identifikasi dan perumusan masalah yang telah dilakukan adalah dapat mengurangi pembajakan di Indonesia, dikarenakan itu semua memiliki hak cipta yang tidak bisa kita gunakan seenaknya.

 

Kegunaan

            Tujuan audit SIA adalah untuk meninjau dan mengevaluasi pengendalian internal yang melindungi sistem tersebut.Ketika melaksanakan audit sistem informasi, para auditor harus memastikan tujuan-tujuan berikut ini dipenuhi :

1.      Perlengkapan keamanan melindungi perlengkapan komputer,  program, komunikasi, dan data dari akses yang tidak sah, modifikasi, atau penghancuran.

2.      Pengembangan dan perolehan program dilaksanakan sesuai dengan otorisasi khusus dan umum dari pihak manajemen.

3.      Modifikasi program dilaksanakan dengan otorisasi dan persetujuan pihak manajemen.

4.      Pemrosesan transaksi, file, laporan, dan catatan komputer lainnya telah akurat dan lengkap.

5.      Data sumber yang tidak akurat atau yang tidak memiliki otorisasi yang tepat diidentifikasi dan ditangani sesuai dengan kebijakan manajerial yang telah ditetapkan.

6.      File data komputer telah akurat, lengkap, dan dijaga kerahasiaannya.

 

Contoh Tools IT Audit:


1.ACL
            Audit Command Language (ACL) adalah paket perangkat lunak interogasi berdasarkan PC MSDOS dan dirancang untuk menganalisis data keuangan pada tingkat yang sangat cepat. http://www.acl.com/

 

                              

2.Picalo
Picalo merupakan sebuah software CAAT (Computer Assisted Audit Techniques) seperti halnya ACL yang dapat dipergunakan untuk menganalisa data dari berbagai macam sumber  http://www.picalo.org/.

 

 

3. Powertech Compliance Assessment
Powertech Compliance Assessment merupakan automated audit tool yang dapat dipergunakan untuk mengaudit dan mem-benchmark user access to data, public authority to libraries, user security, system security, system auditing dan administrator rights (special authority) sebuah server AS/400.
http://www.powertech.com/

 

                           

4.Nipper
Nipper merupakan audit automation software yang dapat dipergunakan untuk mengaudit dan mem-benchmark konfigurasi sebuah router.
http://sourceforge.net/projects/nipper/

 

                                                

5.Nessus
Nessus merupakan sebuah vulnerability assessment software.
http://www.nessus.org/

 

                          

6.Metasploit
Metasploit Framework merupakan sebuah penetration testing tool.
http://www.metasploit.com/

 

                               
7.NMAP
NMAP merupakan open source utility untuk melakukan security auditing.
http://www.insecure.org/nmap/

 

                                              

8.Wireshark
Wireshark merupakan network utility yang dapat dipergunakan untuk meng-capture paket data yang ada di dalam jaringan komputer.
http://www.wireshark.org/

 

                                              

9.Winaudit

WinAudit adalah audit perangkat lunak freeware yang mengumpulkan informasi yang komprehensif tentang perangkat keras mesin lokal, perangkat lunak, jaringan dan konfigurasi keamanan

www.pxserver.com/WinAudit.html

 

 

Tinjauan Pustaka

Berdasarkan laporan studi yang diterbitkan oleh International Planning and Research Corporation untuk Business Software Alliance (BSA) dan Software & Information Industry Association (SIIA), dapat diketahui bahwa praktek pembajakan software di seluruh dunia sangatlah tinggi.

Khusus di Indonesia, data dari Business Software Alliance (2003) menunjukkan tingkat pembajakan piranti lunak mencapai 88 persen. Indonesia menduduki peringkat keempat dari 20 besar negara dengan tingkat pembajakan software tertinggi di dunia, setelah Cina, Vietnam, dan Ukrania (www.majalahtrust.com).

Menurut daftar yang dikeluarkan United State Trade Representative (2005), saat ini Indonesia masuk dalam kategori “priority watch list” karena masih banyak kasus pembajakan Hak Cipta, khususnya VCD dan software teknologi informasi (www.detik.com).

            Disadari atau tidak, pembajakan software di Indonesia memang marak terjadi. Berbagai macam software dengan mudah dibajak dengan harga penjualan terjangkau di toko-toko penjual software, bahkan di pedagang kaki lima. Kemajuan di bidang teknologi dirasakan turut mempermudah terjadinya pembajakan software.

            Hukum yang mengatur masalah pembajakan di Indonesia sebenarnya sudah cukup tegas. Dalam pasal 72 Undang-Undang Hak Cipta no. 19 tahun 2002 menyebutkan, penggunaan program komputer tak berlisensi untuk kepentingan komersial merupakan tindakan pidana dengan ancaman penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500 juta (www.tempointeraktif.com).

            Meskipun Indonesia telah mempunyai perangkat hukum di bidang Hak Cipta, tetapi penegakan hukum atas pembajakan software ini masih dirasakan sulit dicapai, dan sepertinya pembajakan software akan tetap terjadi, dan permasalahan ini tidak pernah tertuntaskan.

 

Gambaran umum rencana usaha

            Terdapat banyak faktor yang mendukung terjadinya pembajakan software. Software adalah produk digital yang dengan mudah dapat digandakan tanpa mengurangi kualitas produknya, sehingga produk hasil bajakan akan berfungsi sama seperti software asli (www.lkht.net). Selain itu, tidak disangkal lagi, satu hal yang mendukung maraknya pembajakan atas software adalah mahalnya harga lisensi software yang asli. Menurut Wahid (2004), motivasi pembajakan software antara lain:

1. Harga software legal terlalu mahal.

2. Kebutuhan untuk studi.

3. Kebutuhan untuk pekerjaan.

4. Kemungkinan akan ditangkap karena membajak software sangat kecil.

 

            Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi pembajakan di antaranya adalah diskriminasi harga software terutama untuk negara berkembang, penerapan undang-undang secara konsisten termasuk pemberantasan peredaran software bajakan, dan pemasyarakatan penggunaan software open source.

      Menurut Widoyo (2004), dalam mengurangi tindakan pembajakan serta peredaran software bajakan, pemerintah Indonesia telah melakukan peluncuran program yang bernama ”Indonesia Go Open Source (IGOS)” yaitu:

  1. Software open source merupakan salah satu isu global dalam Information Communication and Technology (ICT).
  2. Mengatasi meningkatnya pembajakan software dan berlakunya UU Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).
  3. Adanya kesenjangan teknologi informasi antara negara berkembang dengan negara maju.
  4. Kesepakatan World Summit on Information Society (WSIS) pada Desember 2003, di mana pemerintah bersama swasta bekerja sama dalam pengembangan software open source.
  5. Hasil kajian dari The United Nation Conference on Trade Development (UNCTAD) tahun 2003, di mana negara berkembang direkomendasikan untuk mengadopsi software open source.

 

Metode Pelaksanaan

 

Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini didasarkan pada hasil polling (kuesioner) kepada mahasiswa Universitas di Indonesia pada Jurusan Teknik Informatika yang disebarkan secara acak (random sampling). Pemilihan responden atas mahasiswa Jurusan Teknik Informatika merupakan representasi penguna teknologi informasi, khususnya dalam penggunaan open source dan pembajakan software di tingkat mahasiswa.

 

Sampel Penelitian

Jumlah kuesioner yang dibagikan adalah 150, tetapi hanya 109 yang dapat dianalisis lebih lanjut. Responden terdiri dari 67,9% laki-laki dan 32,1% perempuan.

Kuesioner disebarkan kepada mahasiswa dari berbagai angkatan mulai mahasiswa angkatan 1999 sampai angkatan 2005. Sebanyak 36,7% responden adalah mahasiswa angkatan 2002, 33% angkatan 2004, 22% angkatan 2003, 4,65% angkatan 2005, 2,75% angkatan 2001 dan 0.9% adalah angkatan 1999.

 

 

Persepsi Mahasiswa terhadap Pembajakan Software

Sebagaimana dipaparkan di atas, bahwa pembajakan software bisa muncul dari berbagai macam motivasi. Berdasar pernyataan terkait dengan frekuensi sering tidaknya mahasiswa melakukan pembajakan software, rata-rata mahasiswa menyatakan hampir sangat sering melakukan atau menggunakannya (skor 4,98 untuk skor 1=Tidak Pernah, 5=Sangat Sering).

 

Tabel 1. Skor pernyataan terkait motivasi membajak

Pernyataan

Nilai

Harga software legal terlalu mahal

4.57

 

Saya membutuhkannya untuk studi saya

4.44

Saya membutuhkannya untuk komputer saya

4.33

Saya membutuhkannya untuk pekerjaan saya

3.81

Kemungkinan ditangkap karena membajak software sangat kecil

3.74

Orang lain juga melakukannya

3.68

 

Saya senang memiliki banyak sekali software

3.63

Membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan software yang legal

3.37

Saya tidak tahu di mana dapat membeli software yang legal

3.33

Tantangan yang menarik saya melakukannya

2.71

Saya mendapatkan uang dengannya

2.55

 

Catatan: nilai 1=sangat tidak setuju, 5=sangat setuju.

Pada tabel 1 merangkum skor terhadap pernyataan terkait motivasi pembajakan. Harga software legal yang terlalu mahal dan kebutuhan menjadi motivasi utama dalam membajak bagi mahasiswa.

 

Tabel 2. Skor pernyataan sikap terkait dengan pembajakan

Pernyataan

Nilai

Menurut saya membajak software itu baik

2.84

Menurut saya membajak software itu legal

2.67

Menurut saya membajak software itu etis

2.66

Menurut saya membajak software itu bijak

2.63

 

Catatan: Skor 1=sangat tidak setuju, 5=sangat setuju.

 

Tabel.2 merangkum pernyataan sikap yang terkait dengan pembajakan. Rata-rata responden menyatakan sikap netralnya terhadap pernyataan bahwa pembajakan itu baik (skor 2,84), pembajakan itu legal (2,67), pembajakan itu etis (2,66) dan pembajakan itu bijak (2,63).

            Sebanyak 77,36% responden menyatakan pemberlakuan UU HAKI No. 19 tahun 2002 tidak mempengaruhi tingkat pembajakan software dan 22.64% menyatakan terpengaruh dengan UU tersebut. (lihat Gambar 1).

 

Gambar 1. Apakah pemberlakuan UU Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) No. 19 tahun 2002 mempengaruhi Anda dalam pembajakan software.

 

Sedangkan alasan dari responden yang menyatakan tidak terperngaruh antara lain karena kurang tegasnya aparat dalam penegakan UU HAKI, pembajakan sudah menjadi kebutuhan studi dan isi dari UU HAKI tersebut. Di sisi lain, alasan yang menyatakan terpengaruh antara lain karena ingin mematuhi undang-undang, takut terkena razia dan dihukum.

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

  • Dyson, Esther, 1998, The Open Source Revolution, Release 1.0, November 1998, (DEAD URL).
  • Raharjo, B., 2002, Proyek Penggunaan Open Source untuk Skala Perusahaan. dalam http://budi.insan.co.id/.
  • Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2006, (SNATI 2006) ISSN: 1907-5022, Yogyakarta 17 Juni 2006.
  • Raymond, Eric S., 2000, Frequently Asked Questions about Open Source, per November 2001: http://www.opensource.org/advocacy/faq.html.
  • Samik-Ibrahim, Rahmat M. 2002. Open Source Software (OSS) Keinginan Mulia dan Kenyataan di Lapangan, dalam www.vLSM.org
  • Stallman, Richard M., 1994, Mengapa Perangkat Lunak Seharusnya Tanpa Pemilik, per November 2001: http://gnux.vlsm.org/philosophy/why-free.id.html
  • Stallman, Richard M., 1996, Kategori Perangkat Lunak Bebas dan Tidak Bebas, per November 2001: http://gnux.vlsm.org/philosophy/categories.id.html
  • Stallman, Richard M., 1998, Proyek GNU, per November 2001: http://gnux.vlsm.org/gnu/thegnuproject.id.html.
  • Parson & Oja. 2002. “New Perspective On Computer Concepts”. Course Technology, Thomson Learning.
  • Wahid, F. 2004. “Motivasi Pembajakan Software: Perspektif Mahasiswa”. Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2004. Yogyakarta: UII.
  • Widoyo. 2004. “Implementasi Open Source Software pada Badan Usaha”, Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2004. Yogyakarta: UII.
  • www.detik.comwww.gnu.orgwww.igos.web.idwww.intervisi.relawan.net.
  • www.linuxindo.com
  • www.lkht.net
  • www.pikiran-rakyat.com
  • www.google.com
  • www.tempointeraktif.com

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/27AGe1b0mnI” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>