Kerja Sama Internasional Perguruan Tinggi: Antara Harapan dan Kenyataan

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri penandatangan MOU antara STMIK DCI Tasikmalaya dengan Southern Leyte State University. Mengapa ini perlu dilakukan? Apa manfaatnya bagi kedua belah fihak? Bagaimana dampaknya ke depan bagi kedua institusi?

Pendidikan tinggi adalah variabel ekonomi yang mempengaruhi semua negara industri atau berkembang. Namun, untuk memenuhi prioritas kebutuhan dari masyarakat, sebuah pendekatan lebih fleksibel diperlukan dalam setiap aspek pendidikan tinggi, yaitu: pengelolaan sistem dan institusi, struktur dan isi kurikulum dan link ke dunia kerja. Oleh karena itu semangat proaktif dan kompetitif diperlukan pendidikan tinggi  untuk mewujudkan potensinya. Meskipun banyak kemajuan telah dibuat, masih banyak yang harus dilakukan untuk memastikan bahwa pendidikan tinggi membahas kebutuhan masyarakat dalam memproduksi tenaga terdidik serta dapat memberikan kontribusi ilmiah pengembangan teknologi, ekonomi, sosial dan budaya tidak hanya di negara mereka sendiri tetapi juga internasional.

Transmisi pengetahuan terus menjadi tujuan utama lembaga pendidikan tinggi, tetapi ini harus diimbangi dengan kecukupani pasar tenaga kerja sehingga diperlukan keahlian yang mumpuni. Pemimpin pendidikan tinggi menghadapi tugas kompleks dalam peramalan untuk membantu memastikan kebijakan, sistem, lembaga dan sumber daya manusia yang baik untuk abad ke 21. Tidak disangkal sulitnya tantangan ini untuk menggabungkan visi dan tindakan mencapai tujuan ini. Selain itu, kepemimpinan Perguruan Tinggi harus kuat menghadapi resistensi terhadap perubahan yang berjalan.

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/u52zfNGRP_o” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Jose Rizal: Bukan Hanya Sekedar Pahlawan Nasional

Tanggal  24 Januari 2012 saya berkesempatan melakukan City Tour ke beberapa tempat bersejaran di Manila diantaranya Fort Santiago tempat dimana Jose Rizal ditahan. Dia Bukan Hanya Sekedar Pahlawan Nasional namun telah menjadi simbol kuat perjuangan dan kemanusiaan bagi Bangsa dan Negara Filipina. Hidupnya hanya dalam waktu yang singkat karena ia meninggal pada usia muda (~35 tahun) akibat ditembak mati Tentara Penjajahan Spanyol.
José Protasio Rizal Mercado y Alonso Realonda (lahir di Calamba, Provinsi Laguna, Filipina, 19 Juni 1861 – meninggal di Dapitan, provinsi Zamboanga (Mindanao), Filipina, 30 Desember 1896 pada umur 35 tahun) adalah tokoh bangsa Filipina. Ia diberikan bermacam-macam gelar: “Kebanggaan Ras Melayu,” “Tokoh Besar Malaya,” “Tokoh Utama Filipino,” “Tokoh Revolusi,” “Pahlawan Universal,” dan lain-lain. Hari peringatan kematian José Rizal adalah 30 Desember dan merupakan hari libur di Filipina.
Ia adalah seorang yang berbakat. Selain dari menjadi seorang dokter, ia juga seorang arsitek, seniman, pendidik, ekonom, etnolog, ahli pertanian, sejarahwan, jurnalis, pemusik, mitologiwan, internasionalis, naturalis, dokter mata, sosiolog, pematung, penyair, penulis drama dan novelis.
Ia menguasai 22 bahasa, di antaranya: Tagalog, Cebuano, Melayu, Tionghoa, Arab, Ibrani, Inggris, Jepang, Spanyol, Catalan, Italia, Portugis, Latin, Perancis, Jerman, Yunani, Rusia, Sanskerta dan dialek-dialek Filipina yang lain.
Sebagai seorang patriot tertinggi bagi bangsa Filipina, hari kematiannya pada 30 Desember kini diperingati sebagai hari libur di Filipina, yang disebut hari Rizal.
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=zb48ch6JGh4&w=600&h=400]