Selaksa Rasa Di Hari Selasa: “Workshop e-Learning”, SIM “Human Capital” dan “Solve Inventory Problem”

 
Hari ini “Full Speed” dalam beraktifitas.
 
Mulai menjadi pemberi materi “New Role of HRM on Human Capital” dan “People Development by Knowledge Management and eLearning” untuk “Workshop eLearning for Human Capital Development”.
 
 
Dilanjutkan dengan persiapan “Soft-Launch” Implementasi Sistem Informasi Manajemen (SIM) “Human Capital”.
 
 
Diakhiri dengan “Solve Inventory Problem”.
 

@EduLiberator Bagaimana Kita serta Bangsa Palestina Memandang Betapa Pentingnya Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

Sebagai salah satu wujud komitmen Pemerintah Indonesia untuk memberikan bantuan peningkatan kapasitas (capacity building) bagi 1000 orang Palestina dalam kurun waktu 2008-2013, Direktorat Kerja Sama Teknik, Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kemlu RI mengadakan kembali kegiatan pelatihan untuk Palestina.

Untuk itu tanggal 19-27 September  2012 diselenggarakan “International Training Program on Information and Communication Technology Support for Palestinian SMEs Development. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Bandung, 19-27 September 2012, bekerja sama dengan COMLABS dan  Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan, Institut Teknologi Bandung (LPIK ITB).

Acara pelatihan dibuka secara resmi oleh Duta Besar Suprapto Martosetomo, Staf Ahli Bidang Kelembagaan Kemlu RI (19/09/12). Dalam sambutannya, Bapak Duta Besar Suprapto, menyampaikan bahwa kemandirian bangsa Palestina merupakan salah satu kunci utama bagi Palestina untuk mencapai kemerdekaan. 

Saya sendiri memberikan pelatihan untuk topik “Knowledge Managament for SME” dan “e-Learning for SME” yang diharapkan menjadi bekal  kemandirian ekonomi yang harus dibangun agar Palestina memiliki masa depan yang berkelanjutan. Salah satunya adalah dengan mengembangkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mengingat perannya yang signifikan dalam menopang pembangunan ekonomi. 

UKM memperluas lapangan pekerjaan, membuka peluang yang lebih baik, dan meningkatkan potensi ekonomi lokal. Lebih lanjut Duta Besar Suprapto menyampaikan bahwa disaat krisis ekonomi pada waktu lalu, Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia terbukti tangguh menghadapi krisis dan menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi. Melalui pelatihan seperti ini, Indonesia ingin membagi pengalaman dan kapasitasnya di bidang ICT guna membantu pengembangan UKM di Palestina.

Sejalan dengan hal tersebut, Duta Besar Palestina untuk Indonesia menyampaikan bahwa terdapat berbagai program pelatihan peningkatan kapasitas untuk Palestina. Tidak hanya terbatas dalam program yang dilaksanakan oleh Direktorat Kerja Sama Teknik, tetapi juga dalam kerangka New Asia Africa Strategic Partnership (NAASP). 

 

@NgabaduyIT Team @ariefbb @djadjas @ruangchupa On The Move: We Are Back To Batu Hijau

From Tue (18 Sep) to (20 Sep 2012) we are from @NgabaduyIT On The Move To Batu Hijau. We continue our journey on “The Rise of COMLABS e-Learning” at Sumbawa Besar one of big mine company. Our team consist of  @ariefbb (Arief Bahtiar), @djadjas (Djadja Sardjana) and @ruangchupa (Muhammad Yusuf).

My journey started from Bandung on 1:30PM and take only 3 hours to Soekarno Hatta International Airport (SHIA) Lion Air Terminal 1A by XTrans Travel….Amazing, that it can be done in the middle of Monday traffict jam at  Jakarta. For the next flight from SHIA we must predict approximately how lang it take jour from Bandung to Cengkareng because our flight is on 8PM 🙂

The other surprising moment that “Air Lion 1” JT650 (We call our flight to LOP fom JKT) only delayed ~30 minutes. You can imagine if our flight delay more than that, we will arrive at LOP in early morning of the next day. Below is our foto right after landed on 11:30PM on the same day 🙂

This mission merely stress on Content especially for TOEIC, Safety and Licensing. We hope this mission satisfy or goal and can give “sustainable operation”……Common Agent @ruangchupa we count on you 🙂 

In the middle of ATP, I still can write this blog as part of @Ngabaduy-IT task to give routine report to Control Room at Bandung. We hope our job in the good shape and achieve satisfying goal. We ended this report as Wa Kepoh said: “Euh, waktosna seep pamiarsa…. Urang sambung deui sanes waktos……” 😀

 

#TelematikaPembebas Bersiaplah karena @NgabaduyIT akan mengguncang Indonesia!

Ngabaduy, kalau dalam istilah mah disebutnya ngalalana atau hitchiker dalam bahasa Inggris. 

Kata ini diperkenalkan oleh Pak Djadja Sardjana saat tim Comlabs melaksanakan tugas-tugasnya ke seantero nusantara. 

Bercirikan gembolan tas, dan perangkat-perangkat yang dibawa, jadilah kami komplotan ngabaduy.

Tadinya ingin jadi Avatar-IT tapi tak apalah jadi Ngabaduy-IT 🙂

Bisa dibaca dan dilihat Sekuelnya di  http://www.facebook.com/NgabaduyIt dan Timeline Twitter di @NgabduyIT 

 

 

#PendidikPembebas 5 Metode Yang Bisa Merevolusi Pendidikan Pada 20 Tahun Mendatang

Menurut Edudemic, dua puluh tahun ke depan, dalam  perekonomian yang semakin global, teknologi yang lebih baik, dana yang kurang untuk sekolah, dan keragaman masyarakat yang lebih kompleks, pendidikan AS (juga di negara kita) akan berubah secara dramatis. Di bawah ini adalah lima area di bidang pendidikan yang akan berubah dalam dua dekade mendatang.
Pendidikan Online Yang Lebih Baik
Karena kemampuan siswa meningkat dalam penggunaan  komputer dan Internet berkembang di mana-mana, pendidikan online adalah salah satu pilihan yang perlu dipertimbangkan. Semakin bangyak negara bagian di Amerika yang kini memiliki Virtual Public School , yang menyediakan sekolah online untuk warga yang tidak mampu atau tidak tersedia di daerah mereka. Saat ini, program pembelajaran seperti EPGY Stanford diarahkan pada anak-anak berbakat, tetapi ada rencana untuk mengubah ini sehingga anak-anak pada semua tingkatan  memiliki akses belajar secara virtual. Universitas telah dilaksanakan program  online sarjana, master, dan PhD  dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Sekolah dasar dan menengah juga sangat ingin untuk menggunakan model ini untuk kemanfaatan dan keuntungan mereka.
Bangkitnya Homeschooling

Homeschooling telah ada selama berabad-abad. Namun pada abad kedua puluh, ini gerakan yang jarang digunakan dan dihindari. Itu berubah di abad kedua puluh satu untuk tiga alasan. Yang pertama adalah bahwa banyak sekolah umum yang tidak menerima dana yang diperlukan untuk menyediakan pendidikan yang memadai. Mengingat perekonomian saat ini, tren ini semakin parah, yang menarik anak  keluar dari sekolah untuk mendidiknya di rumah. Kedua, dengan kemajuan signifikan pendidikan secara online, mengajar anak di rumah relatif mudah. Ketiga, segmen besar dari populasi Amerika Serikat adalah orang yang taat bergama, banyak dari mereka ingin anak-anak mereka memiliki pendidikan yang berpusat pada keagamaan, yang seringkali tidak tersedia di sekolah umum. Oleh karena itu, karena tiga faktor di atas, homeschooling terus meningkat.
Pengajaran Literasi Komputer

Meskipun telah ada kursus komputer di sekolah selama kurang lebih dua dekade, kursus sering terfokus pada tugas-tugas yang sangat spesifik (seperti cara memasukkan angka ke dalam spreadsheet). Serta hal ini disajikan sebagian besar dimana anak-anak diajarkan bagaimana untuk mengetik secara efektif. Pendidikan komputer tersebut terbatas dan tidak layak lagi  – siswa saat ini perlu tahu bagaimana menggunakan berbagai program dan aplikasi. Misalnya, selain mengajari siswa untuk secara resmi dilatih dalam seluk-beluk PowerPoint dan Excel, tetapi juga  video-editing dan cara menggunakan Google Map.
Menggunakan Literasi Komputer

Bersamaan dengan hal di atas, siswa diharapkan untuk menggunakan komputer pada setiap pelajaran di kelas – bukan hanya kelas komputer. Pekerjaan yang paling stabil  dan menjajikan, membutuhkan karyawan yang menggunakan komputer selama berjam-jam sehari – sehingga pendidikan komputer harus diintegrasikan ke dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
Selain itu, di dunia saat ini laptop atau smartphone  digunakan dalam membangun kecerdasan seseorang untuk membantu mereka belajar dan mengekspresikan diri. Ini adalah topik yang dibahas hampir setiap hari di Edudemic dan akan menjadi sangat penting untuk setiap guru yang ingin “merangkul” masa depan pembelajaran.
Lebih Banyak Pendidikan Bilingual 

Menurut LA Times, populasi orang AS yang berbahasa Spanyol sekarang lebih dari 50 juta, dan telah meningkat 43% dalam dekade terakhir. Serta 23% dari semua orang Amerika di bawah usia delapan belas tahun saat ini diidentifikasi sebagai Hispanik. Selain itu, Amerika Hispanik sekarang kelompok minoritas terbesar di Amerika Serikat. Sebagai negara yang bergerak ke suatu negara Dwibudaya, fokus pada pengajaran bahasa Spanyol dan Inggris di dalam kelas akan meningkat, dan lebih banyak siswa akan benar-benar fasih dalam kedua bahasa. Di banyak daerah, guru akan diharapkan untuk mengetahui bahasa Spanyol dan Inggris.

Optimalisasi #HumanCapitalManagement (HCM) Melalui “Knowledge Management & e-Learning”

Pendahuluan

Dalam bukunya “HRM in Knowledge Economy”, Mark Lengnick-Hall dan Cynthia Lengnick-Hall mengatakan belakangan ini fungsi manajemen sumber daya manusia (SDM) di banyak organisasi bersifat dangkal. Mereka cenderung hanya berusaha melakukan pekerjaan rutin  secara lebih baik dan efisien daripada mengevaluasi peran dan kontribusi mereka dalam rangka menyongsong era bisnis baru menuju Human Capital Management (HCM).


Seiring dengan globalisasi, information-based, kemajuan teknologi, dan persaingan ketat, manajemen SDM dituntut meningkatkan kemampuan SDM-nya. Manajemen SDM akan menghadapi kewajiban-kewajiban baru di era bisnis masa kini, yaitu:

·         Membangun Kapabilitas Strategis

Organisasi pada era masa kini perlu membangun kapabilitas strategis, yaitu kapasitas untuk membuat value berdasarkan aset-aset intangible. Yang dimaksud dengan aset intangible adalah aset yang tidak terlihat, sulit dihitung, tidak ada dalam akunting, dan harus dikembangkan dari waktu ke waktu. Misalnya: pengetahuan teknologi, kesetiaan customer, proses bisnis dan lain-lain. Intangible aset inilah yang akan menentukan apakah perusahaan akan berhasil atau gagal.

Beberapa karakteristik perusahaan yang sudah mempunyai kapabilitas strategis adalah: kompetensi bisnis yang tinggi, kemampuan untuk menganalisis kondisi pasar, kemampuan mentransfer skill secara cepat dan akurat di perusahaan, dan lain-lain. Intinya, kapabilitas strategis (Intellectual Capital) adalah kesiapan pada saat ini dan kemampuan beradaptasi pada masa depan.

 

Kapabilitas strategis (Intelectual Capital) diperoleh melalui proses penciptaan, pertukaran, dan mengumpulkan pengetahuan yang membangun kapabilitas individu dan organisasi untuk memberi hasil yang terbaik bagi pelanggan. Kapabilitas strategis terdiri dari tiga komponen yang terkait dengan SDM, yaitu: human capital (skill dan kompetensi individu/organisasi), structural capital (arsitektur organisasi dan proses manajerial), dan relationship capital (hubungan interpersonal di organisasi). Manajemen SDM harus berkontribusi dengan menciptakan dan memelihara ketiga komponen kapabilitas strategis ini melalui program, praktek, dan kebijakan yang mendukung.

·         Memperluas Batas

Orang sering berpikir bahwa tugas manajemen SDM adalah merekrut, mempromosikan, melatih, memecat dan seterusnya serta fungsi manajemen SDM adalah hanya merupakan organisasi tunggal. Jadi menurut pandangan tersebut, manajemen SDM adalah fungsi internal perusahaan. Jarang orang berpikir bahwa manajemen SDM (termasuk program, praktek, dan kebijakannya) bisa diterapkan ke supplier atau distributor, bahkan ke pelanggan.


Hal ini akan menjadi keharusan dalam perkembangan era ekonomi pengetahuan (knowledge economy). Dengan memperluas batas dari perusahaan ke supplier, distibutor, dan pelanggan, manajemen SDM bisa mempunyai pengaruh yang lebih dan signifikan di organisasi. Pada dasarnya, dengan memperluas batas, manajemen SDM menggunakan kemampuan mereka untuk membantu organisasi memberi pengaruh ke pelanggan, supplier, dan seluruh pegawai yang menjalankan aktivitas organisasi.

·         Mengelola Peran Baru

Berdasarkan pandangan lama, peran manajemen SDM adalah menarik dan menyeleksi calon pegawai, mengembangkan manajemen performansi dan sistem kompensasi untuk menyelaraskan tingkah laku pegawai dengan tujuan organisasi, dan mengembangkan dan me-retensi pegawai sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Peran manajemen SDM seperti itu dalam era ekonomi pengetahuan (Knowledge Economy) tidaklah cukup. Bukan berarti manajemen SDM tidak akan melakukan fungsi-fungsi tersebut, peran ini tetap akan dilakukan. Bagaimanapun, untuk mengelola SDM di masa depan, manajemen SDM perlu mengadopsi peran baru untuk menghadapi tantangan.

Tetap bertahan di fungsional birokrasi semata akan menyebabkan fungsi manajemen SDM menjadi kurang efektif dalam organisasi. Kegagalan untuk berubah sesuai dengan tuntutan ekonomi akan menjadikan manajemen SDM kurang penting, di mana tantangan-tantangan baru seperti manajemen pengetahuan (knowledge management) dan pengembangan SDM akan diperankan di tempat lain dalam organisasi. Tetapi hal ini tidak perlu terjadi. Pada kenyataannya, SDM adalah sumber logis dari tantangan-tantangan baru ini. 

Bagaimanapun, untuk menjadi bagian dari solusi dan bukan menjadi kendala, manajemen SDM harus keluar dari birokrasi masa lalu. Ini memerlukan pergeseran paradigma bahwa manajemen SDM tidak hanya sekadar menjalankan fungsi dan proses, tetapi lebih kepada peran.

Definisi peran dalam organisasi adalah tanggung jawab, hubungan, dan area kontribusi, serta harapan-harapan. Peran bisa dianalogikan sebagai pernyataan visi organisasi. Dengan mengelola peran, manajemen SDM memberi kontribusi lebih untuk kesuksesan organisasi. Ini berarti paradigma manajemen SDM telah berubah dari fungsi dan proses menjadi hasil dan pencapaian.


“KNOWLEDGE MANAGEMENT” di Era Ekonomi Berbasis Pengetahuan

Perusahaan  merupakan  kolaborasi  antara  aset  tangible  dan  intangible dalam mencapai tujuan. Aset tangible    perusahaan dapat berupa berupa “Land, Labour and  Capital”.  Aset  tangible ini  mudah  dikembangkan  dengan meningkatkan kuantitas yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Aset intangible perusahaan  terintegrasi  melalui  labour  yaitu  dalam  proses  regenerasi  melalui sharing knowledge.

Dewasa ini adalah era knowledge based economy, di mana kekuatan inti suatu perusahaan terletak pada human capital. Persaingan antar perusahaan yang semakin  kompetitif  memunculkan  konsep  industri  yang  padat  pengetahuan dengan  menuntut  ketersediaan  knowledge  worker  dalam  jumlah  besar  untuk mendukung  kemajuan  suatu  perusahaan.  Human  capital  yang  sarat  akan pengetahuan ini memberikan nilai tambah dan meningkatkan produktivitas yang jauh lebih signifikan daripada faktor material seperti lahan atau modal semata.

·         Manfaat Pengetahuan

Francis Bacon pada abad ke – 15 mengungkapkan bahwa “knowledge is a power”. Bill Gates membuktikan kekuatan ilmu pengetahuan tersebut pada abad ke  –  20 melalui kemunculan Microsoft. Lompatan besar dalam knowledge ini mendongkrak kebangkitan teknologi informasi seperti Intel, IBM, Cisco, Lucent, dan Dell. Peter F. Drucker membenarkan pentingnya knowledge yang membawa perubahan besar pada kemajuan dunia modern.

Teori ekonomi modern yang digagas Paul Romer imendukung asumsi mengenai perlunya lembaga dan kebijakan negara memanfaatkan sains, teknologi, dan  inovasi  untuk  mendorong  economic  growth.  Model  Romer  dan  aplikasi empirisnya  menunjukkan  bahwa  inovasi  dan  adopsi  teknologi  pada  dasarnya melekat  di  dalam  pertumbuhan  ekonomi  yang  disebabkan  oleh  kombinasi investasi dalam bidang sains, teknologi, inovasi serta kebijakan yang padu.

Modal intelektual dapat bermanfaat melalui tiga perspektif,  yaitu:  manusia,  struktural,  dan  relasi.  Manfaat  knowledge  dalam  perspektif manusia adalah implicit knowledge yang mencakup skill (kompetensi dan keahlian seseorang dalam suatu bidang khusus) dan attitude (kejujuran, tanggung jawab, visioner,  disiplin,  kooperatif,  ulet  dan  tidak  mudah  menyerah).  Manfaat knowledge   dalam   perspektif   struktural   berupa   explicit   knowledge   yang menunjukkan  proses (sistem  kerja,  manajemen,  korporat,  komputerisasi  dan enterprising  ) serta budaya yang menjunjung tinggi etika. Manfaat knowledge management  dalam  perspektif  relasi  adalah  meningkatkan  kerjasama  antar jaringan, reputasi (pengakuan), dan customer capital (mengkomunikasikan ilmu pengetahuan dengan baik melalui lembaga pendidikan, birokrat, dan industri).

·         Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management)

Knowledge  Management  adalah  merupakan  proses  sistematis  untuk menemukan, memilih, mengelola, menyaring dan menyajikan informasi dalam suatu  cara  yang  dapat  meningkatkan  pengetahuan  individu  dalam  suatu lingkungan. Knowledge management memungkinkan penciptaan,pencapaian dan penggunaan segala macam knowledge untuk mencapai tujuan bisnis.

Knowledge Management adalah pengelolaan pengetahuan organisasi untuk menciptakan nilai dan menghasilkan keunggulan bersaing atau kinerja prima. Melalui knowledge management, organisasi mengidentifikasikan pengetahuannya, lantas memanfaatkannya guna meningkatkan kinerja dan menghasilkan berbagai inovasi. Guna memperoleh knowledge management sebesar-besarnya, organisasi juga aktif mengidentifikasi dan mengakuisisi pengetahuan berkualitas yang ada di lingkungan eksternal organisasi.

Knowledge  management  dikelompokkan  ke  dalam  empat  arahan  yaitu pertama, sebagai pemrosesan informasi organisasi  (organizational information processing);  kedua,  inteligen  bisnis (business  intelligence);  ketiga,  kognisi organisasi (organizational cognition), dan keempat, pengembangan perusahaan (organizational development).

Peranan   knowledge   management   dapat   dilihat   dari   penggunaan pengetahuan  sebagai  basis  melahirkan  inovasi  juga  landasan  meningkatkan responsivitas  terhadap  kebutuhan  pelanggan  dan  stakeholders.  Selain  itu, pengetahuan juga menjadi basis yang meningkatkan produktivitas dan kompetensi karyawan  yang  telah  diberi  tanggung  jawab.  Secara  generik,  knowledge management dapat dipahami melalui aktivitasnya, yakni mengembangkan dan mempertahankan dinamika serta daya saing perusahaan yang bertumpu kepada sumber daya pengetahuan (knowledge assets). Jadi, sebenarnya, faktor intrinsik perbedaan kinerja antara perusahaan tadi adalah pengetahuan.

Para  pelaku  knowledge  management  cenderung  menggunakan  metode dalam menganalisis suatu proses, keadaan, dan aktivitas bisnis, di mana dalam proses analisis tersebut terdapat siklus atau aliran pengetahuan (knowledge flow). Pada akhirnya, mengatur suatu pengetahuan adalah suatu kebiasaan atau habit yang perlu ditumbuhkan.

 

“E-LEARNING” SEBAGAI SARANA PEMBELAJARAN ORGANISASI (LEARNING ORGANIZATION)

Modal manusia (Human Capital) menjadi sumber utama nilai ekonomi dimana pendidikan dan pelatihan menjadi “upaya” seumur hidup bagi jutaan pekerja (Stokes, 2003; Urdan & Weggen, 2000). Hal ini karena keberhasilan usaha lebih tergantung pada kinerja karyawan berkualitas tinggi, yang pada gilirannya memerlukan pelatihan berkualitas tinggi. Kemajuan teknologi informasi dan hambatan perdagangan yang tidak ada lagi, memfasilitasi bisnis berkembang di seluruh dunia.

Solusi pendidikan dan pelatihan berbasis teknologi yang berkembang harus mengantisipasi kebutuhan perusahaan secara global. Adalah e-Learning dimana tenaga kerja saat ini dapat memproses informasi pendidikan dan pelatihan lebih dalam dengan jumlah waktu yang lebih singkat.

 

Hal ini disebabkan produk-produk baru dan jasa muncul dengan cepat. Siklus produksi dan rentang hidup produk yang semakin singkat, menjadikan informasi dan pelatihan cepat menjadi usang. Ada urgensi pelatihan dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan lebih cepat dan efisien kapanpun dan dimanapun diperlukan. Dalam era produksi “just-in-time”, pelatihan yang tepat waktu dan mutu menjadi elemen penting untuk keberhasilan organisasi (Rosenberg, 2001; Urdan & Weggen, 2000).

Tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi serta skill memadai untuk menunjang perusahaan adalah maksud disediakannya sistem e-learning di korporat. SDM adalah faktor utama keberhasilan perusahaan untuk merealisasikan visi dan misinya. Untuk itu SDM perlu dibangun. Salah satu cara membangunnya adalah mengimplementasikan sistem e-learning.

Supaya implementasi e-learning bisa berjalan sesuai harapan, harus dibuat kerangka strategi implementasinya. Dalam hal tersebut, strategi adalah sekumpulan aksi-aksi terintegrasi yang diarahkan untuk menambah atau meningkatkan kemampuan serta kekuatan enterprise relatif terhadap kompetitor (Porter, 2000).

Manajemen Strategi e-Learning dan Knowledge Management Menuju SDM Kompetitif

Tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi serta skill memadai untuk menunjang perusahaan adalah maksud disediakannya sistem e-learning di korporat. SDM adalah faktor utama keberhasilan perusahaan untuk merealisasikan visi dan misinya. Untuk itu SDM perlu dibangun. Salah satu cara membangunnya adalah mengimplementasikan sistem e-learning dan Knowledge Management.

Supaya implementasi bisa berjalan sesuai harapan, harus dibuat kerangka strategi implementasinya. Dalam hal tersebut, strategi adalah sekumpulan aksi-aksi terintegrasi yang diarahkan untuk menambah atau meningkatkan kemampuan serta kekuatan enterprise relatif terhadap kompetitor (Porter, 2000).

Tanpa strategi, seorang implementor e-learning dan Knowledge Management tidak akan memiliki hal-hal berikut:

·         Tidak memiliki resep untuk melakukan implementasi,

·         Tidak memiliki roadmap untuk keunggulan kompetitif,

·         Tidak memiliki game plan untuk memuaskan stakeholder atau mencapai goal kinerja.

Tiga proses yang mendukung penetapan suatu strategi :

1.       Pemikiran strategis : kreatif, pandangan entrepreneur,

2.       Perencanaan strategis : sistematis, komprehensif, analisis untuk membuat rencana/tindakan,

3.       Pengambilan keputusan: reaksi efektif terhadap peluang dan ancaman yang tidak dikehendaki;

Kaitannya dengan strategi, peranan sistem teknologi informasi atau sistem informasi, IT/IS adalah adalah untuk menerapkan strategi yang dipilih dan juga sebagai enabler untuk strategi bisnis baru atau strategi yang hanya bisa diterapkan dengan alat bantu teknologi informasi.

Lima Langkah Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

Berikut adalah tabel lima tugas manajemen strategi untuk e-learning dan Knowledge Management:

Task1

Task2

Task3

Task4

Task5

Membuat visi strategis dan misi bisnis

Menetapkan objektif/goal

Membuat strategi mencapai objektif

menerapkan &mengeksekusi strategi

Mengevaluasi kinerja, monitoring pengembangan baru, serta inisasi koreksi/
penyesuaian

 

Tiga Faktor untuk Diperhatikan dalam Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

1.       Lingkungan eksternal : Politic (legal), Economic, Social (Ecological), Technological;

2.       Tekanan grup dan stakeholder : Shareholder, competitor, customer, supplier, government, employee, serikat buruh, publik, financial, mass media;

3.       Strategi dan perencanaan internal bisnis : pengembangan internal;

4.       Dari tiga faktor tersebut kemudian dirumuskan strategi bisnis dan perencanaan proses untuk menentukan cakupan.

Faktor-faktor yang perlu untuk diidentifikasi meliputi :

1.       Resiko manajerial dan finansial;

2.       Tingkatan yang diperlukan untuk menciptakan kapabilitas baru;

3.       Struktur organisasi eksisting;

4.       Kemampuan organisasi untuk menerapkan strategi yang dirumuskan (kompetensi, sumberdaya, proses, dan budaya)

5.       Implikasi terhadap customer, partner

6.       Kebutuhan membuat perserikatan,aliansi, joint ventura;

Penerapan Strategi

Setelah strategi dibuat, maka perlu dilakukan langkah-langkah penerapan. Setelah langkah tersebut diimplementasikan, maka akan dapat diketahui strategi lanjutan, konstrain-konstrain muncul, opsi baru muncul, peluang baru datang.

Dalam kaitannya dengan penerapan strategi maka perlu diperhatikan pula siklus hidup produk e-learning dan Knowledge Management.

Alat dan Teknik untuk Strategi

Alat dan teknik yang umum digunakan untuk merancang dan merumuskan strategi antara lain:

1.       SWOT Analysis

2.       BCG matrices; untuk resource alocation

3.       Policy/portfolio matricecs

4.       Five forces

5.       Industry analysis

Strategi Umum E-learning dan Knowledge Management

Umumnya, strategi e-learning dan Knowledge Management diterapkan berdasarkan,

1.       Low cost strategy,

2.       Differentiation strategy,

3.       Niche focus strategy,

Ada tiga kunci penting untuk bisa menjadi trend-setter e-learning dan Knowledge Management di organisasi:

1.       operational excellent, (reliable, easily, dan cost-effective)

2.       customer intimacy , (targeting market precisely)

3.       product leadership, (continuing product innovation yang memenuhi customer needs).

Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan memberdayakan sistem pembelajaran di dalam institusi. Menyediakan sistem pembelajaran akan membuat perusahaan selalui bisa selalu menyegarkan pengetahuan bagi stafnya serta membuat pegawai selalu up-to-date dengan perkembangan yang terjadi baik di dalam maupun di luar perusahaan.

 

Hari Lahir Pancasila dan Techno.Edu.Preneur Seminar+Expo @Pojokpendidikan @ComlabsITB (2)

Dikutip dari http://bappeda.bantulkab.go.id/photo-post/post-43_n.jpg
Perlunya Kerja Sama Dalam Pengembangan Modal Insani (Human Capital)

Keberhasilan suatu bangsa sesuai yang disiratkan sila-sila dalam Pancasila, memerlukan sebuah cara atau sebuah strategi untuk melaksanakannya dan dalam hal ini kaitannya dengan Pengembangan Modal Insani sebagai suatu cara yang perlu mendapatkan pioritas yang tinggi dalam perencanaan pembangunan Sistem Pendidikan di Indonesia. Keberhasilan suatu Sistem Pendidikan dalam membangun bangsa adalah terjadinya keseimbangan tujuan-tujuan pendidikan yang akan mencapai manusia seutuhnya. Dan yang terjadi di Indonesia tidak terjadi sinkronasi antara Sistem Ekonomi Pendidikan dengan faktor makro ekonomi dan faktor mikro ekonomi, hal ini bisa terjadi terjadi karena akademis, bisnis dan pemerintah belum menyediakan parameter jembatan yang tepat (bridging).
Faktor “bridging” ini adalah adanya lembaga-lembaga  akademis, bisnis dan pemerintah yang belum fokus dan tidak punya strategi yang singkron dengan lembaga lainya. Atau dalam istilah sederhananya antar lembaga ini berdiri sendiri-sendiri dengan visi masing-masing tanpa memperhatikan hubungannya dan keterkaitannya dengan lembaga lainnya khususnya kaitannya dengan Pengembangan Modal Insani. Kementerian Pendidikan Nasional seharusnya melibatkan bidang Sumber Daya Manusia (Badan Kepegawaian Negara dan Daerah), Keuangan (Kementerian Keuangan), Pemerintahan (Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah), Sarana dan Prasarana (Kementerian Pekerjaan Umum), Telematika (Kementrian Kominfo), Legal (Kementerian Hukum dan HAM) dan lembaga lain dikalangan akademis dan bisnis untuk mencapai hal itu.
Modal utama dalam keberhasilan suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam membangun modal insani dan membangun jembatannya. Dan dalam hal ini pemerintah belum bisa memberikan strategi yang tepat dalam membangun modal insani yang  dapat dibangun melalui keberhasilan pembangunan pendidikan, termasuk Ekonomi Pendidikan di dalamnya, sebagai fondasi awal. Strategi pembangunan bangsa yang sedari awal sudah salah langkah jika dilihat dari perkembangan negara lain dalam menentukan kebijakan ekonominya. Atau lebih tepatnya adalah bukan salah langkah tapi kurang strategis sebagai langkah awal. Karena strategi kita menggunakan strategi ekonomi terbuka, atau yang dikenal dengan istilah liberasi ekonomi, dan langkah ini berpedoman kepada Konsesus Washington, yang menurut Pemenang Nobel Joseph Stiglitz , negara-negara berkembang yang berpedoman pada konsensus Washington pertumbuhan ekonominya tidak secepat Negara-negara yang tidak berpedoman kepada Konsensus Washington. Yang mana dalam konsensus Washington ini banyak kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada ekonomi mikro, dan modal insani yang keduanya tidak berjalan seimbang dengan ekonomi makro sehingga sangat berpengaruh pada isi dan konteks  dari Persfektif Ekonomi Pendidikan.  
Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo: “Lesson Learned” Dari Beberapa Perusahaan 
 
Sesi ini dibuka oleh Prof Dr. Ir. Bambang Riyanto (Kepala Lembaga Pengkajian Pendidikan , Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat ITB) dan meresmikan Blended Learning ITB yang merupakan portal belajar online bagi mahasiswa ITB yang saat ini telah mengakomodasi 246 mata kuliah. Berisi materi kuliah, platform pengumpulan tugas, bahkan forum diskusi, Blended Learning ITB yang dapat dikunjungi di http://blendedlearning.itb.ac.id ini bertujuan untuk mendukung sistem pembelajaran yang lebih berpusat kepada mahasiswa serta mengintegrasikan pembelajaran online dan tatap muka dengan menyediakan keduanya, sehingga kedua pendekatan ini saling mendukung satu sama lain.  
Hasil yang diharapkan dari adanya Blended Learning ITB yang juga memiliki aktivitas School on Internet dan Distance Education ini antara lain adalah adanya standardisasi pembelajaran, pemberian akses kepada masyarakat umum untuk ikut mempelajari mata kuliah di ITB, dan dalam jangka panjang untuk menciptakan masyarakat pembelajaran. Blended Learning ITB juga dibentuk untuk meningkatkan akses dan visibilitas web ITB, agar ITB makin dikenal oleh masyarakat luas.  
Sebagai Pembicara Pertama sesi ini adalah Hasnul Suhaimi (CEO PT. XL Axiata Tbk) yang menggambarkan Tantangan Terbesar Indonesia yaitu membutuhkan masyarakat Indonesia yang siap menjadi pemimpin global yang kompetitif. Namun demikian masih ada “Education Quality Gap” yang terlalu luas antara Indonesia dan negara sekitarnya. Hal ini disertai kurangnya “character building”, integritas menurun, Tidak mengajarkan Life Skills, Budaya “malu”, rendahnya semangat kompetisi karena rendah diri, dan Kemampuan Berbahasa Inggris praktis.  
Beliau mengatakan: “Indonesia membutuhkan masyarakat Indonesia yang siap menjadi pemimpin global yang kompetitif”. Untuk itulah XL menjawab tantangan Global dengan mengadakan program  “XL Future Leaders” (http://www.xl.co.id/futureleaders) yang bertujuan Menciptakan bibit baru Indonesia yang siap berkompetisi secara global untuk menjadi pemimpin melalui pendidikan Keahlian Utama (Life Skills) berbasis TIK. Kerangka 5 PILAR XL FUTURE LEADERS adalah:
  1. Berpikir Kritis: Kemampuan untuk memproses dan mengevaluasi suatu kondisi menggunakan pengetahuan dan logika, serta menyajikannya dengan cara yang  rasional.
  2. Kepemimpinan: Memupuk kemampuan seseorang menjadi visioner, mampu memotivasi dan menginspirasi orang lain, memiliki rasa yang  kuat keberanian, tanggung jawab dan empati.
  3. Komunikasi: MengarBkulasikan pikiran dan pendapat secara efektif dan bermakna dalam hubungan apapun, serta mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan dan memahami.
  4. Kreatifitas: Stimulasi untuk mendorong batas-batas yang  diketahui dan berpikir di luar kebiasaan, dalam pengembangan metode baru yang inovatif dan solusi.
  5. Sikap: Seorang pemimpin harus memiliki sikap yang baik dan benar.
Pembicara Kedua adalah Harry Hermania (General Function Training Manager, Pertamina Learning Center) dengan judul presentasi “E-Learning Pertamina”. Beliau menggambarkan latar belakang dari program ini adalah: 
  1. Biaya pembelajaran (termasuk  biaya perjalanan dinas) masih relatif  tinggi.
  2. Program pembelajaran masih bersifat konvensional hanya dengan menggunakan metode tatap muka di kelas
  3. Optimalisasi pembelajaran masih relatif rendah dalam mendukung kompetensi teknis setiap pekerja

Adapun objektif yang diinginkan Pertamina dari “E-Learning Pertamina” adalah:

  1. Proses pembelajaran dapat dilakukan melaluipembelajaran jarak jauh.
  2. Mengurangi biaya pembelajaran (termasuk biaya perjalanan dinas)
  3. Menumbuhkan budaya proaktif learning
  4. Optimalisasi pembelajaran yang  mendukung peningkatan kompetensi teknis pekerja secara terukur
Pembicara Ketiga adalah Batara Yohannes (PT. Bank Internasional Indonesia Tbk) yang membahas “New Learning Initiative”. BII e-Learning dmulai dari tahun 2002 dengan biaya 40 juta rupiah dengan 1 modul: Mengenal Nasabah. Saat ini ada  28000 pengguna di 2012 dengan 20 Modul  yaitu  2 Modul Nilai / Induksi, 4 Modul Syariah, 3 modul KYC, 5 modul Manajemen Risiko, 2 Video Layanan Belajar  dan 1 Dalam proses. BII Memulainya dengan mengirim Nota Internal dan Hadiah, dan  Penilaian Kinerja dengan Pelatihan (e-learning) adalah komponen inti serta karyawan harus melewati Masa Percobaan periode dengan e-Learning.
Sesi ini diakhiri oleh dua pembicara yaitu William Tepfenhardt (Nokia) dan Mico Wendy (Konsep.Net) dengan topik “Mobile Learning Application”. Wiliam menginformasikan bahwa Nokia di Indonesia telah melibatkan 12,000 pengembang dari 50 universitas dan 3 operator, 2.5 jutaan orang men-download/minggu, telah ada 3.000 aplikasi lokal  dan  5 Nokia “Data Plan”. Sedangkan Mico mendeskripsikan aplikasi “Baby Play Learn” yang dikembangkannya.
Techno.Edu.Preneur Seminar+Expo juga dimeriahkan oleh penampilan Robot Angklung karya Kurnia Jaya Elizar (Alumni Informatika Universitas Widyatama) dan Ferry (Siswa SMK-4 Bandung) yang memberi hiburan tersendiri bagi hadirin. Bersamaan dengan seminar, dilaksanakan juga expo dan seminar paralel bertemakan pendidikan. Terdapat berbagai organisasi non-profit maupun perusahaan yang memiliki perhatian terhadap pendidikan, antara lain Skhole PM-KM ITB, SD IT Rabbani, Komunitas Lingkungan Hidup, Agate Studio, Npaperbox, Segitiga.net, Rumah Belajar Sahaja, Fantastic Inc., Tim Network Comlabs, YPBB, LPP Salman ITB, Komunitas Sahabat Kota, Marketeers, dan Nyangkod.
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/–u3SyOxfqE” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo Aula Barat ITB – 31 Mei 2012

Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Comlabs USDI ITB dan Pojok Pendidikan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional. Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo memiliki tiga kegiatan utama, yaitu seminar, expo, dan lomba untuk guru.


Seminar

Seminar yang akan diselenggarakan terdiri dari dua sesi seminar, yaitu:

  • Seminar Pendidikan Kreatif dan Kewirausahaan.
    Seminar ini ditujukan untuk Guru pendidikan dasar dan menengah, Pemerhati/Komunitas pendidikan, Perusahaan pendukung pendidikan, Wirausahawan, Mahasiswa dan Umum.
  • Seminar E-Learning dan Knowledge Management.
    Seminar ini ditujukan untuk Akademisi, Korporasi, Penyelenggara Training, Penyedia layanan Distance Learning, Departemen pemerintahan.

Informasi lengkap seminar dapat dilihat di sini.


Expo

Expo terdiri dari dua rangkaian utama yakni Pameran Kreativitas dan Paralel Session. Pameran Kreativitas akan diisi insan-insan kreatif dalam pendidikan maupun korporat untuk menampilkan hasil karyanya serta memotivasi pengunjung. Pameran ini akan menampilkan alat peraga hasil karya finalis kompetisi alat peraga pengajaran. Selain itu, akan ditampilkan juga produk-produk dari komunitas kreatif serta dari perusahaan sponsor.

Seminar @WiFiUtama: Social Media, Ancaman Atau Kesempatan Bagi Pendidikan?

Kemarin saya jadi moderator dan “pembicara”  acara yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Widyatama bertajuk Widyatama Informatics Festival (WIFi). Rangkaian acara ini telah dimulai sejak awal April kemarin dan akan mencapai puncaknya pada tanggal 26 – 28 April 2012.

WIFi  menggelar seminar dan workshop ditambah dengan berbagai macam kompetisi. Seminar diadakan pada tanggal 28 April 2012 di Universitas Widyatama, Jl. Cikutra 204, Bandung. Seminar akan terdiri dari dua bagian. Seminar pertama akan membahas tentang SAP dan akan diselenggarakan pada pukul 09.30 sampai pukul 12.00. Seminar SAP ini diisi oleh Wahyudi (Staff Ahli Direksi PT. Kereta Api Indonesia) dan Ribkah Gustina (Metrasys) dan moderator Djadja Sardjana.

Seminar kedua  dilaksanakan pada pukul 13.30 – 16.30. Seminar ini berkonsep seminar dan talkshow dan  mengangkat tema “The Power of Sosial Media Community”. Bagian kedua ini akan diisi oleh Reza Budi Prabowo (FOWAB), Winastwan Gora (Intel), Wiku Baskoro (DailySocial),  dan Willis Wee (Techinasia) dan moderator Yohan Totting (FOWAB). 

Sesuai yang disampaikan Pak Winastwan Gora (Intel), menarik membicarakan Social Media ini, apakah  Ancaman Atau Kesempatan Bagi Pendidikan khususnya di Indonesia? 

Jaringan sosial online sekarang begitu dalam tertanam dalam gaya hidup anak-anak, remaja bahkan orang dewasa yang bersaing dengan televisi untuk menarik perhatian mereka, menurut sebuah studi baru dari Grunwald Associates LLC. Penelitian itu menunjukkan, anak berumur 9 sampai 17 tahun, sekarang menghabiskan waktu menggunakan layanan jejaring sosial dan situs web hampir sama seperti mereka menghabiskan menonton televisi. Diantaranya sekitar sembilan jam seminggu digunakan kegiatan pada jejaring sosial dan sekitar 10 jam seminggu menonton TV.

Siswa kebanyakan tidak pasif pada saat online. Selain berkomunikasi, banyak siswa terlibat dalam kegiatan yang sangat kreatif di situs jaringan sosial – dan proporsi yang cukup besar dari mereka adalah menjadi “nara sumber” pendidikan yang mengatur “kecepatan belajar” bagi rekan-rekan mereka.

Dalam hal ini, melalui beberapa Social Media termasuk Facebook dan Twitter, Inisiatif Intel® Education adalah sebuah komitmen yang berkelanjutan untuk mempercepat proses pengembangan pendidikan menghadapi ekonomi baru yang berbasis pengetahuan (knowledge economy). Sebagai partner yang telah dipercaya oleh pemerintah berbagai negara dan dunia pendidikan di seluruh dunia dan investasi tahunan sebesar USD 100 juta di lebih dari 50 negara, program Intel® Education memiliki fokus untuk: meningkatkan proses belajar mengajar melalui penggunaan teknologi yang efektif, dan mengembangkan pendidikan serta penelitian dalam matematika, ilmu pengetahuan alam, dan rekayasa. Semua ini ditujukan untuk mencapai pendidikan yang mampu menjawab tantangan abad 21.

Indonesia menjadi Negara ke 45 yang mengimplementasikan Program Intel® Teach. Hingga tahun 2011, program ini telah di implementasikan di 70 negara dan melatih lebih dari 10 juta guru diseluruh dunia. Intel Indonesia memulai program pada pertengahan tahun 2007, MOU antara Departemen Pendidikan Nasional dan Intel Indonesia yang ditandatangai tanggal 16 Mei 2007 menandai dimulainya pelaksanaan program Intel teach di Indonesia.

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/3zKdPOHhNfY” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Hambatan Mengintegrasikan Teknologi Intruksional ke dalam Pendidikan Tinggi

Dikutip dari http://ernisilvernie.wordpress.com/2011/11/08/teknologi-pendidikan/

 

Dikutip dari Jurnal “Mengintegrasikan Teknologi Pembelajaran  ke dalam Pendidikan Tinggi” karya David M. Antonacci University of Missouri-Kansas City IS 11 Desember 2002:

 

“Perguruan tinggi dan universitas melakukan investasi yang cukup besar yang berhubungan dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk mendukung dan meningkatkan instruksional (Massy & Zemsky, 1996). Namun, kebanyakan dosen tidak menggunakan teknologi dalam kuliah mereka (Dewa & Miller, 2001). Perlu langkah strategis untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran pendidikan tinggi.

 

Dalam literatur, penting meneliti hambatan atau rintangan menghambat integrasi teknologi ke dalam pembelajaran. Berdasarkan literatur dan pengalaman praktisi, Leggett & Persichitte (1998) mengidentifikasi lima kategori hambatan untuk integrasi teknologi: waktu, keahlian, akses, sumber daya, dan dukungan.  

 

PL Rogers (2000) mengidentifikasi hambatan yang sama dan mengembangkan model untuk memvisualisasikan hubungan antara hambatan itu. Dalam model ini, sikap dan persepsi pemangku kepentingan terhadap teknologi, penggunaannya dalam pendidikan, dan kelembagaan mendukung menentukan apa yang akan dipertimbangkan.  

 

Setelah itu ditetapkan, tiga hambatan eksternal yang dapat memperlambat atau menghentikan pelaksanaannya: ketersediaan dan akses, dukungan teknis, dan stakeholder pembangunan. Juga, waktu dan dana mempengaruhi tiga hambatan itu.

 

Untuk lengkapnya bisa dibaca di: 

http://associations.missouristate.edu/assets/mohighedweb/IS-TechnologyIntegrationinHigherEducation.pdf  

 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=nJ0nlh5FU5A&w=600&h=400]