You are browsing the archive for E-Learning Archives - Ketika Ilmu Berpadu Dengan Kalbu, Tahu dan Malu.

Kebijakan E-learning Perguruan Tinggi Pada Masa Datang

2 April 2013 in E-Learning, Filosofi, Ilmiah, Informatika, Kebijakan, Kuliah, Lecture, Manajemen, Pemangku Kepentingan, Pendidikan, Telematika, Widyatama

Pemanfaatan internet untuk pembelajaran atau e-learning tidak terlepas dari berbagai kekurangan. Berbagai kritik (Bullen, 2010; Beam, 2007), antara lain dapat disebutkan sbb:

  • Kurangnya interaksi antara dosen dan mahasiswa  atau bahkan antar siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar;
  • Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial;
  • Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan;
  • Berubahnya peran pendidik dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT;
  • Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal;
  • Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer);
  • Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki ketrampilan soal-soal internet; dan
  • Kurangnya penguasaan bahasa komputer.

Hal ini terkait dengan lemahnya kebijakan e-Learning yang terkait dengan “Proses Bisnis” pembelajaran itu sendiri.  Khusus untuk perguruan tinggi di Indonesia, kebijakan e-learning sesuai Rencana Strategis Pendidikan dari Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS) 2009-2014 adalah: “Pengembangan pembelajaran jarak jauh (distance learning) di perguruan tinggi, dengan proyek percontohan pada beberapa perguruan tinggi dan pusat pelatihan hingga tahun 2009, yaitu ITB, ITS, UGM, IPB, UI, UNRI, UNDANA, UNHAS, PENS, dan POLMAL. Diseminasi proyek ini akan dikembangkan pada  UNLAM, UM, UNY, UNP, UNHALU, UNCEN dan PT-PT lainnya.” Sedangkan target yang ditetapkan adalah: “ICT literacy (kemampuan akses, memanfaatkan dan menggunakan radio, televisi, komputer dan internet) 80% untuk kalangan mahasiswa dan dosen” dengan Penguatan Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Citra Publik di bidang: “Peningkatan kapasitas satuan perguruan tinggi dilakukan melalui berbagai program hibah kompetisi yang diselenggarakan oleh pemerintah, seperti program hibah kompetisi, program kemitraan, hibah penelitian, pusat pengembangan pendidikan dan aktivitas instruksional (P3AI). Peningkatan kapasitas pengelolaan juga akan ditunjang dengan penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), seperti pengembangan sistem informasi pendidikan tinggi”.

Dari hal tersebut di atas penulis menyarankan Kebijakan E-learning pada Perguruan Tinggi Masa Datang memakai kerangka kerja (framework) dari Gellman-Danley and Fetzner (2008) sebagai berikut:

Policy Area

Key Issues

Academic Calendar, Course integrity, Transferability, Transcripts, Student/Course evaluation, Admission standards, Curriculum/Course approval, Accreditation, Class cancellations , Course/Program/Degree availability, Recruiting/Marketing
Governance/Administration/Fiscal Tuition rate, Technology fee, FTE’s, Administration cost, State fiscal regulations, Tuition disbursement, Space, Single versus multiple board oversight, Staffing
Faculty Compensation and workload, Development incentives, Faculty training, Congruence with existing union contracts, Class monitoring, Faculty support, Faculty evaluation
Legal Intellectual property, Faculty, Student and institutional liability
Student Support Services Advisement, Counseling, Library access, Materials delivery, Student training, Test proctoring, Videotaping, Computer accounts, Registration, Financial aid, Labs
Technical Systems reliability, Connectivity/access, Hardware/software, Setup concerns, Infrastructure, Technical support (staffing), Scheduling, Costs
Cultural Adoption of innovations, Acceptance of on-line/distance teaching, Understanding of distance education (what works at a distance), Organizational values

Sedangkan “Policy Analysis Framework”  untuk  hirarki kebijakannya dapat menggunakan  model sebagai berikut:

Policy Area

Description

Faculty (including Continuing Education and Cooperative Extension) Rewards (e.g., stipends, promotion and tenure, merit increases, etc.); Support (e.g., student help, technical assistance, training, etc.); Opportunities to learn about technology and new applications (e.g., release time, training, etc.); Intellectual property (e.g. ownership of materials, copyright, etc.)
Students/Participants Support (e.g., access to technology, library resources, registration, advising, financial aid, etc.); Requirements and records (e.g., residency requirements, acceptance of courses from other places, transfer of credit, continuing education, etc.)
Management and Organization Tuition and fee structure; Funding formula;Collaboration (e.g., with other Departments, units, institutions, consortia, intra-and inter-institutional, service areas, etc.); Resources (e.g., financial resources to support distance education, equipment, new technologies, etc.); Curricula/individual courses (e.g., delivery modes, course/program selection, plans to develop, individual sequences, course development, entire program delivery, interactivity requirements, test requirements, contact hour definitions, etc.)

e-Learning Sebagai Bagian Pembelajaran Saat Bencana Terjadi

10 March 2013 in Banjir, E-Learning, Ilmiah, Informatika, Innovation, ITB, Kuliah, Lecture, Pemikiran, Pendidikan, Telematika

Gangguan atau “bencana” di kampus  mungkin mempengaruhi pembelajaran atau kuliah ketika fokusnya adalah dosen di podium  kelas. Sistem administrasi pendidikan mungkin gagal atau tidak berfungsi saat itu, tapi kelas dan pembelajaran harus terus dilanjutkan dimanapun dan kapanpun (kecuali jika bencana ada pada skala yang sangat besar).

Bagaimana bila institusi menyediakan “program online” atau menawarkan “blended learning” pada saat bencana? Dapatkah kampus melayani penggunanya 24 jam 7 hari seminggu tidak peduli apa yang terjadi? Kampus perlu untuk dapat melakukan itu –  itulah salah satu keunggulan  dari e-learning.

Dalam era mahasiswa pengguna TIK,  ruang kelas tanpa batas dan “blended learning”, kontinuitas kemampuan e-Learning yang “fault-tolerant” dan sangat andal harus tersedia di kampus.

Sistem e-Learning harus siap di lingkungan virtualisasi, “cloud computing” dan komunikasi terpadu sehingga semua itu mencerminkan kesiapan pembelajaran saat bencana yang tetap bekerja di pendidikan tinggi dimana organisasi pendukungnya harus siap untuk apa pun yang terjadi.

Bila  perguruan tinggi dapat membentuk lingkungan ketersediaan tinggi untuk pembelajaran (High Avalaibility for Learning), dapat dipastikan akan jauh lebih banyak program “online learning” – dapat memberikan “failover” untuk  pemulihan bencana (Disaster Recovery) sistem pembelajaran termasuk administrasi pendidikannya. Ditambah lagi, dengan pendekatan ini berarti staf kampus  akan dapat memberikan pilihan untuk pemulihan kuliah  tradisional, apakah krisis berlangsung beberapa jam, beberapa hari atau bahkan beberapa minggu.

Pemimpin atau Manajemen kampus harus banyak  melakukan langkah lebih jauh dengan perencanaan “Disaster Recovery” yang didasarkan pada jenis bencana yang mungkin menimpa lembaga mereka. Mereka harus merencanakan strategi didasarkan pada serangkaian pemikiran skenario ”bagaimana jika kita kehilangan layanan pembelajaran”. Itu akan ideal karena memfokuskan sumber daya pada ketersediaan pembelajran ketimbang bencana itu sendiri.

Kebijakan dan Strategi Perguruan Tinggi untuk Hadapi Era Pembelajaran Terbuka

5 March 2013 in E-Learning, Ilmiah, Informatika, ITB, Kebijakan, Kuliah, Lecture, Pendidikan

Menurut UNESCO, pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bergerak ke arah masyarakat berpengetahuan (Knowledge Community) yang saling ketergantungan. Masyarakat di dunia merasakan tantangan dan peluang baru untuk mendesain dan melaksanakan pendidikan. TIK membuka cakrawala baru bagi kemajuan dan pertukaran kreativitas dan dialog antar budaya.

Namun demikian, tumbuh kesenjangan digital (Digital Divide), yang sebenarnya menyebabkan kesenjangan yang lebih besar dalam pembangunan manusia. Hal ini menimbulkan situasi paradoks pendidikan, dimana orang-orang yang memiliki kebutuhan terbesar seperti kelompok tertinggal, masyarakat pedesaan, populasi buta huruf atau bahkan sebagian besar masyarakat yang tidak memiliki akses kepada sarana yang akan memungkinkan mereka menjadi anggota dari masyarakat berpengetahuan.

Di bidang Pendidikan Tinggi, ketimpangan kesempatan ini diperkirakan akan terus berlanjut, terutama melihat proyeksi pertumbuhan penduduk dunia saat ini (UNESCO, 2000 ©). Selain kurangnya kesempatan tersebut, rendahnya kualitas dan tidak relevannya pendidikan juga menjadi perhatian utama. Cepatnya perubahan dalam angkatan kerja, pengangguran serta ketidakpastian menuntut pendidikan yang cepat beradaptasi, tepat waktu dan berkelanjutan seumur hidup.

Misi dari sistem pembelajaran terbuka harus mendefinisikan perannya dalam konteks kebijakan pendidikan nasional. Misi ini dapat diarahkan pada tujuan, target kelompok, daerah, sektor atau tingkat pendidikan dan pelatihan serta didorong oleh nilai-nilai filosofi pembelajaran dan pendidikan. Pernyataan misi lembaga pembelajaran terbuka harus menjadi bagian dari kebijakan pendidikan nasional. Di sisi lain, organisasi pembelajaran terbuka swasta harus merespon kebutuhan segmen pasar tertentu, terutama dari pasar tenaga kerja dengan cepat dan efisien.

Untuk itu dibutuhkan Kebijakan dan Strategi Perguruan Tinggi Untuk Menghadapi Era Open Learning yang ampuh dan berkelanjutan dalam menghadapi era ini. Kebijakan pembelajaran terbuka (Open Learning) itu diantaranya harus mencakup:

  1. Jenis Pelajaran dan Kurikulum yang akan menentukan profil dari sistem atau lembaga. Hal ini harus terkait dengan misi dan kebutuhan dari pasar. Banyak sistem pendidikan terbuka menyediakan kursus dalam persiapan untuk ujian dan gelar yang sama atau mirip dengan yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga konvensional.
  2. Strategi dan Teknik Pembelajaran tergantung pada jenis program dan dirancang untuk memenuhi kebutuhan, filsafat pendidikan, karakteristik pendidikan dan potensi dari teknologi yang digunakan. Sering kali ada hubungan yang erat antara strategi pengajaran, ekonomi dan pilihan teknologi yang digunakan.
  3. Bahan dan Sumber Daya Pembelajaran merupakan komponen penting dari semua sistem pembelajaran. Secara komprehensif, bahan yang dirancang dengan baik dapat merangsang pembelajaran mandiri dan dengan demikian mempengaruhi kualitas dari sistem pembelajaran secara keseluruhan. Desain, pengembangan dan produksi dari bahan pembelajaran sering dianggap sebagai sub-sistem dalam organisasi pembelajaran terbuka (Open Learning).
  4. Komunikasi antara Pendidik dan Peserta Didik merupakan komponen penting dalam Pembelajaran Terbuka (Open Learning) seperti bentuk pendidikan lainnya. Pengetahuan dapat disampaikan kepada sejumlah besar peserta didik, baik secara “synchronous atau asynchronous” yang disiarkan atau dapat diakses melalui audio/video player atau internet. Dengan demikian, Internet akan memungkinkan orang dalam jumlah lebih besar berbagi pengalaman belajar secara “real time”. Atau memungkinkan pembelajar individu untuk memiliki interaksi pribadi yang unik dengan guru atau dengan peserta didik yang lain di mana pun berada.
  5. Manajemen Sub-sistem Mahasiswa dan Staf yang terdiri dari pendaftaran, alokasi untuk pembelajaran dan layanan siswa, pengelolaan pembelajaran serta prosedur mengajar, tugas dan penilaian, pemantauan dan penyelesaian drop-out, serta ujian.
  6. Manajemen dan Staf Administrasi yang efektif tidak hanya membutuhkan staf yang kompeten, tetapi juga dirancang dengan baik, sistem administrasi yang efisien, perencanaan dan monitoring sistem. Ini akan sangat berbeda dari sistem manajemen yang diperlukan dalam pendidikan lain.
  7. Persyaratan Prasarana dan Peralatan juga mungkin sangat berbeda dari institusi pendidikan konvensional. Sebuah pembelajaran terbuka memiliki sedikit kebutuhan ruang kelas/kuliah di lokasi pusat. Fasilitas tersebut mungkin diperlukan secara lokal dan sering disediakan dalam kerjasama dengan lembaga lokal. Di lokasi pusat akan ada kebutuhan untuk fasilitas produksi dan kapasitas penyimpanan, meskipun beberapa desentralisasi produksi juga dimungkinkan.
  8. Terakhir, Sistem Evaluasi dalam rangka memberikan informasi untuk penyesuaian peran dan operasi komponen sistem pembelajaran. Keberhasilan dari setiap institusi Pembelajaran Terbuka (Open Learning) sangat tergantung pada efisiensi dan efektivitas sistem monitoring dan evaluasi.*** 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=3mH0T3_eTwc]

e-Learning Dalam Pendidikan Kedokteran @UINJKT Untuk Membuat Pengalaman Pembelajaran Interaktif

20 December 2012 in DIKLAT, E-Learning, Ilmiah, Innovation, Jakarta, Lecture, Pemikiran, Pendidikan, Telematika

Tanggal 19 Desember 2012 kemarin, saya menjadi nara sumber e-Learning untuk Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ya, para dosen kedokteran yang juga rata-rata dokter, mengkhidmati betapa pentingna metode  ini sebagai bagian peningkatan pembelajaran untuk mahasiswa dan pemangku kepentingan di Fakultas Kedokteran.
E-learning telah membuat peran besar di segala bidang,  tidak berbeda di bidang kesehatan. Saat ini, e-learning secara luas digunakan untuk membuat pengalaman pembelajaran interaktif  dengan kualitas tinggi dalam pendidikan serta pelatihan kesehatan, farmasi, dan  perawat berkelanjutan.
Industri kesehatan di luar negeri telah  di garis depan menggunakan platform e-learning  dan sistem pembelajaran manajemen (LMS) untuk meningkatkan pengetahuan dan kinerja pekerja klinis atau non-klinis. Dalam lingkungan bisnis saat ini, e-learning membantu organisasi kesehatan sebanyak  45 persen pada pelatihan  dan pendidikan kesehatan berkelanjutan.
Dekan/Kaprodi sebagai pengambil keputusan dalam organisasi pendidikan kesehatan, dapat memanfaatkan e-learning untuk berbagi, mempromosikan atau mentransfer pengetahuan kepada staf pengajar. Jika ya, apa saja tantangan utama yang dihadapi selama implementasi e-learning? Marilah kita cari tahu tentang hal ini sebagai berikut:
Efektivitas biaya
Biaya menentukan kualitas operasi dalam industri apapun, tidak terkecuali kesehatan. E-learning mengurangi biaya sewa, pengajaran, personil, materi, ruang, dll. Sumber daya yang ada dapat digunakan untuk memenuhi tujuan bisnis lainnya.
Pengalaman Belajar Tambahan
Kebanyakan  modul  e-Learning kesehatan menggunakan media pembelajaran yang berbeda untuk mengajar para profesional kesehatan. Pembelajar mendapat manfaat dari simulasi komputer interaktif pada prosedur bedah, video real-time operasi dan prosedur virtual lainnya. Ini memberi dokter dan perawat pengetahuan dari tangan pertama, tanpa menghadiri pelatiahan atau pendidikan konvensional.
Keluwesan
Meskipun jadwal mereka sibuk  di kampus dan rumah sakit, calon dokter atau perawat dapat memperbarui keterampilan mereka melalui e-learning pelatihan dan pendidikan.
Memperluas pengetahuan
E-learning membuka perbatasan baru pada basis pengetahuan bagi para profesional kesehatan. Misalnya, dokter belajar tentang gadget baru dan terobosan baru-baru ini dengan berlangganan pelajaran dari e-learning .
Disesuaikan Dengan Ritme Belajar
Setiap individu mampu mencapai hasil yang diinginkan dengan melakukan kursus sesuai kecepatan yang mereka sukai. Peserta yang pandai tidak terhambat oleh mahasiswa yang lambat dan sebaliknya.
Mengurangi beban tutor/dosen
E-learning mengurangi tekanan pada tutor/dosen dan memungkinkan mereka punya waktu yang cukup untuk berkonsentrasi pada masalah-masalah mendesak lainnya. Selain itu, e-learning mengurangi kebutuhan bahan yang mahal, membosankan dan kebutuhan pelatihan memakan yang waktu.
Mendidik pasien untuk jangka panjang 
Untuk jangka panjang, e-learning membantu dalam mendidik pasien tentang penyakit dan proses pengobatannya. E-learning membantu pasien untuk bekerja sama dengan dokter dan membantu mereka memahami penyakit dan tidak panik saat darurat.
Membangun kesadaran
E-learning adalah alat yang paling efektif dalam pendidikan massal. Dalam kasus epidemi “break-out” atau darurat medis nasional, hal itu adalah metode yang paling praktis dan paling cepat menyampaikan informasi untuk mendidik masyarakat. Hal ini tidak hanya biayanya efektif tetapi  tidak memakan waktu pembelajaran.

Innovation: Oxygen of Balanced Scorecard and Key Performance Indicators

13 December 2012 in Business, DIKLAT, E-Learning, IMTelkom, Innovation, ITB, Kuliah, Lecture, Manajemen, Pendidikan, Telematika

 

Innovation and Entrepreneurship

 

Last Tuesday I have one full day session as lecturer of Corporate Development Management Magister (MM_Cordev) students @IMtelkom on “Innovation & Entrepreneurship”. I commenced lecture especially on topicf of “Innovation, Creating & Sharing Knowledge”.

 

“Innovation is the process by which new ideas are successfully exploited to create economic, social and environmental value” refer to BIS (2011).  On the other hand Gurling said: “Innovation is the process of successfully bringing something new into use, to a market/community, that satisfies need/latent demand”. Innovation is therefore an essential ingredient to a free-market economy to encourage growth in demand and supply as basic economics.

 

Innovation creates value of Economic, Financial, Social, Environmental and Aesthetic. As told by (Kuhn,1985): “Creativity forms something from nothing but that innovation shapes that something into products & services“. Steve Johnson have strategic and interesting questions on his film: Where do ideas come from? What sparks the flash of brilliance? How does groundbreaking innovation happen? 

 

Its also mean Design links creativity+innovation. Shapes ideas practical and attractive propositions for customers. Design described as creativity specific end. So, Idea/Invention form Design Application/Prototyping/Piloting which become Innovation.

 

 

Balanced Scorecard for Port Management

 

Conjunction with my lecture above, I have Balanced Scorecard for Port Management training session for Pelindo-3.  This institution is one of state owned corporation which operate several big port in Indonesia which has Headquater at Surabaya.

 

The balanced scorecard translates an organization’s mission and strategy into a comprehensive set of performance measures. The balanced scorecard does not focus solely on achieving financial objectives. It highlights the nonfinancial objectives that  an organization must achieve in order to meet its financial objectives.

 

This training explain of Balanced Scorecard for Port Management whose mission is achieving a significant leap in knowledge and application of methodologies simulation,  and improving the capacity port of container terminals  (PCT), their performance and service level.

 

The strategy unfolds in achieving five objectives:
  • identifying the increasing of the PCT as a nodal system within the frame of the port logistics chain,
  • analysing the feasibility of introducing technological innovations (automation) and management innovations.
  • measuring performance, capacity and service levels offered by the PCT,
  • customizing the Balanced Scorecard tool for the PCT and,
  • developing an appropriate simulation model.

Penerapan Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

10 December 2012 in E-Learning, Ilmiah, Innovation, Leadership, Manajemen, Pemangku Kepentingan, Pendidikan, Telematika

Strategi Umum E-learning dan Knowledge Management

Umumnya, strategi e-learning dan Knowledge Management diterapkan berdasarkan,

1.       Low cost strategy,

2.       Differentiation strategy,

3.       Niche focus strategy,

Ada tiga kunci penting untuk bisa menjadi trend-setter e-learning dan Knowledge Management di organisasi:

1.       operational excellent, (reliable, easily, dan cost-effective)

2.       customer intimacy , (targeting market precisely)

3.       product leadership, (continuing product innovation yang memenuhi customer needs).

Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan memberdayakan sistem pembelajaran di dalam institusi. Menyediakan sistem pembelajaran akan membuat perusahaan selalui bisa selalu menyegarkan pengetahuan bagi stafnya serta membuat pegawai selalu up-to-date dengan perkembangan yang terjadi baik di dalam maupun di luar perusahaan.

Lima Langkah Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

Berikut adalah tabel lima tugas manajemen strategi untuk e-learning dan Knowledge Management:

Task1

Task2

Task3

Task4

Task5

Membuat visi strategis dan misi bisnis

Menetapkan objektif/goal

Membuat strategi mencapai objektif

menerapkan &mengeksekusi strategi

Mengevaluasi kinerja, monitoring pengembangan baru, serta inisasi koreksi/
penyesuaian

 Faktor untuk Diperhatikan dalam Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

1.       Lingkungan eksternal : Politic (legal), Economic, Social (Ecological), Technological;

2.      Tekanan grup dan stakeholder : Shareholder, competitor, customer, supplier, government, employee, serikat buruh, publik, financial, mass media;

3.       Strategi dan perencanaan internal bisnis : pengembangan internal;

4.       Dari tiga faktor tersebut kemudian dirumuskan strategi bisnis dan perencanaan proses untuk menentukan cakupan.

Faktor-faktor yang perlu untuk diidentifikasi meliputi :

1.       Resiko manajerial dan finansial;

2.       Tingkatan yang diperlukan untuk menciptakan kapabilitas baru;

3.       Struktur organisasi eksisting;

4.       Kemampuan organisasi untuk menerapkan strategi yang dirumuskan (kompetensi, sumberdaya, proses, dan budaya)

5.       Implikasi terhadap customer, partner

6.       Kebutuhan membuat perserikatan,aliansi, joint ventura;

 

Penerapan Strategi

Setelah strategi dibuat, maka perlu dilakukan langkah-langkah penerapan. Setelah langkah tersebut diimplementasikan, maka akan dapat diketahui strategi lanjutan, konstrain-konstrain muncul, opsi baru muncul, peluang baru datang.

Dalam kaitannya dengan penerapan strategi maka perlu diperhatikan pula siklus hidup produk e-learning dan Knowledge Management.

Alat dan Teknik untuk Strategi

Alat dan teknik yang umum digunakan untuk merancang dan merumuskan strategi antara lain:

1.       SWOT Analysis

2.       BCG matrices; untuk resource alocation

3.       Policy/portfolio matricecs

4.       Five forces

5.       Industry analysis

 

 

Aktifitas Yang Padat Minggu Ini: Bersatunya #HumanCapital #KnowledgeManagement #eLearning #Creativity #Innovation #Entrepreneurship dan #Networking

1 December 2012 in Business, DIKLAT, E-Learning, IMTelkom, Innovation, ITB, Jakarta, Kerja, Kuliah, Leadership, Lecture, Manajemen, Pendidikan, Proyek, Telematika, Widyatama, Wirausaha

Minggu ini aktitas saya sangat padat. Itu termasuk kegiatan untuk UIN Jakarta,Bappenas, IMTelkom, UPN, salah satu Bank di SCBD dan Universitas Widyatama …… Belum termasuk “Remote Support” untuk Perusahaan Pertambangan di Sumbawa :-)
Kegiatan awal minggu dimulai dengan pendampingan #eLearning untuk dosen Fakultas Kedokteran UIN Jakarta. Dalam diskusi tersebut dapat disimpulkan manfaat e-Learning diantaranya sbb:
  1. Dapat memantau proses belajar ==> kemajuan individual terekam ==> feedback 
  2. Dapat mengakomodasi 3 macam learning styles: auditory, visual, dan kinesthetic.
  3. Dapat mengakomodasi kecepatan belajar pemelajar: lambat s/d cepat.
  4. Mengembangkan berbagai learning dan soft skills Mahasiswa
  5. Menjadikan Mahasiswa bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri ==> self-regulating learner

Hari yang sama dilanjutkan dengan Kuliah Applied #Networking 3 untuk mahasiswa Teknik Informatika Universitas Widyatama yang membahas Open Source Router ……. Berikut  ini adalah beberapa software router yang gratis / free routing software yang saya mintakan mahasiswa untuk mempelajarinya sebagai alternatif “Proprietary Router”:

  1. IPCop: A secure Linux distribution managed through a web-interface. It turns an old PC into a firewall and VPN gateway. Features an Intrusion Detection System.
  2. Vyatta: Simply put, Vyatta has commoditized router, firewall and VPN deployment in the same way that Linux commoditized the operating system market. Vyatta open-source networking offers you an alternative to over-priced, inflexible products from proprietary vendors.
  3. pfSence: pfSense is a free, open source customized distribution of FreeBSD tailored for use as a firewall and router. In addition to being a powerful, flexible firewalling and routing platform, it includes a long list of related features and a package system allowing further expandability without adding bloat and potential security vulnerabilities to the base distribution.
  4. Zebra: GNU Zebra is free software that manages TCP/IP based routing protocols. It is released as part of the GNU Project, and it is distributed under the GNU General Public License. It supports BGP-4 protocol as described in RFC1771 (A Border Gateway Protocol 4) as well as RIPv1, RIPv2 and OSPFv2.
  5. XORP: XORP is the industry’s only extensible open source routing platform. It is in broad use worldwide, with thousands of downloads by companies and educational institutions and an active international developer community.
  6. Open Router: ORP is a stand-alone GNU/Linux distribution which aims to be a complete PC-based router solution.

Hari kedua diisi dengan diskusi Rencana Implementasi #eLearning Bappenas. Diskusi diisi dengan pembicaraan E-Learning dari sisi “People, Process and Technology”. Hal ini sesuai dengan rencana Bappenas dengan tujuan:

Meningkatkan kompetensi dam produktivitas serta profesionalitas perencana pemerintah di seluruh Indonesia, dalam rangka peningkatan kapasitas instansi perencana pemerintah di pusat dan daerah, sehingga kualitas output dari instansi perencanaan akan meningkat sesuai dengan harapan masyarakat

Hari ketiga saya terbang ke Pasca Sarjaba IM-Telkom untuk menyampaikan kuliah “Creativity Management”. Seperti kita ketahui Kreatifitas dapat diartikan sebagai:

Daya cipta atau kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau anggitan (concept) baru, atau hubungan baru antara gagasan dan anggitan yang sudah ada.

Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran berdayacipta (creative thinking) (kadang disebut pemikiran bercabang) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari daya cipta adalah tindakan membuat sesuatu yang baru.

Daya cipta dalam kemasakinian sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor: keturunan dan lingkungan.

Berikutnya adalah menjadi Pemateri untuk dosen dan tenaga Pusat e-Learning UPN Jakarta. Disini saya membahas Kebijakan dan Manajemen Strategi yang sangat mendukung sukses tidaknya implementasi e-Learning di dunia akademis. Kata kuncinya adalah:

 

E-Learning will be used or not depends on government policy in education and how users view or assess the e-learning.

Generally the use of these technologies depends on: (1). Is the technology was already a requirement?, (2). Is adequate supporting facilities?, (3). Is supported by adequate funding?, and (4). Is there support from policy makers?

 

 

Kemudian setelah menginap di Kalibata City, saya meluncur ke salah satu Bank di SCBD untuk berdikusi pentingnya pengembangan “Human Capital” dengan bantuan  #KnowledgeManagement  dan #eLearning. Adapun materi yang disampaikan adalah :

 

  1. Human Capital Management melalui E-Learning dan Knowledge Management
  2. Analisis Kebijakan dan Strategi E-Learning dan KM di Perusahaan
  3. Mengembangkan Roadmap, Organisasi dan SDM E-Learning di Perusahaan
  4. Model-Model Pengembangan Sistem Manajemen Pelatihan berbasis E-Learning

 

Terakhir, hari ini dari jam 08.00-16.00 saya mengajar Kewirausahaan untuk mahasiswa Akuntansi Universitas Widyatama dengan topik “Manajemen Keuangan & Pembiayaan Usaha”. Dibahas dalam kuliah ini “Konsep Pengelolaan Keuangan Untuk Start-up Business” melalui studi kasus:
Bagong seorang pemuda desa yang memiliki mimpi yang besar. Meskipun berasal dari desa, Bagong bermimpi 20 tahun yang akan datang dapat memiliki restoran yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk mewujudkan mimpinya tersebut Bagong harus memulai langkah pertama, yaitu membangun restoran pertamanya. Bagong percaya, dengan resep masakan bebek goreng warisan dari eyangnya restoran yang akan dia buka akan diminati oleh masyarakat. 

MANAJEMEN STRATEGI E-LEARNING DAN KNOWLEDGE MANAGEMENT MENUJU SDM KOMPETITIF

22 November 2012 in DIKLAT, E-Learning, Ilmiah, Innovation, ITB, Leadership, Manajemen, Pendidikan, Telematika

Tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi serta skill memadai untuk menunjang perusahaan adalah maksud disediakannya sistem e-learning di korporat. SDM adalah faktor utama keberhasilan perusahaan untuk merealisasikan visi dan misinya. Untuk itu SDM perlu dibangun. Salah satu cara membangunnya adalah mengimplementasikan sistem e-learning dan Knowledge Management.

Supaya implementasi bisa berjalan sesuai harapan, harus dibuat kerangka strategi implementasinya. Dalam hal tersebut, strategi adalah sekumpulan aksi-aksi terintegrasi yang diarahkan untuk menambah atau meningkatkan kemampuan serta kekuatan enterprise relatif terhadap kompetitor (Porter, 2000).

Tanpa strategi, seorang implementor e-learning dan Knowledge Management tidak akan memiliki hal-hal berikut:

  • Tidak memiliki resep untuk melakukan implementasi,
  •  Tidak memiliki roadmap untuk keunggulan kompetitif,
  • Tidak memiliki game plan untuk memuaskan stakeholder atau mencapai goal kinerja.

Tiga proses yang mendukung penetapan suatu strategi :

1.       Pemikiran strategis : kreatif, pandangan entrepreneur,

2.       Perencanaan strategis : sistematis, komprehensif, analisis untuk membuat rencana/tindakan,

3.       Pengambilan keputusan: reaksi efektif terhadap peluang dan ancaman yang tidak dikehendaki;

Kaitannya dengan strategi, peranan sistem teknologi informasi atau sistem informasi, IT/IS adalah adalah untuk menerapkan strategi yang dipilih dan juga sebagai enabler untuk strategi bisnis baru atau strategi yang hanya bisa diterapkan dengan alat bantu teknologi informasi.

“E-LEARNING” SEBAGAI SARANA PEMBELAJARAN ORGANISASI (LEARNING ORGANIZATION)

20 November 2012 in Business, DIKLAT, E-Learning, Ilmiah, Innovation, Kerja, Manajemen, Pendidikan, Telematika

Modal manusia (Human Capital) menjadi sumber utama nilai ekonomi dimana pendidikan dan pelatihan menjadi “upaya” seumur hidup bagi jutaan pekerja (Stokes, 2003; Urdan & Weggen, 2000). Hal ini karena keberhasilan usaha lebih tergantung pada kinerja karyawan berkualitas tinggi, yang pada gilirannya memerlukan pelatihan berkualitas tinggi. Kemajuan teknologi informasi dan hambatan perdagangan yang tidak ada lagi, memfasilitasi bisnis berkembang di seluruh dunia.

Solusi pendidikan dan pelatihan berbasis teknologi yang berkembang harus mengantisipasi kebutuhan perusahaan secara global. Adalah e-Learning dimana tenaga kerja saat ini dapat memproses informasi pendidikan dan pelatihan lebih dalam dengan jumlah waktu yang lebih singkat.

 

Hal ini disebabkan produk-produk baru dan jasa muncul dengan cepat. Siklus produksi dan rentang hidup produk yang semakin singkat, menjadikan informasi dan pelatihan cepat menjadi usang. Ada urgensi pelatihan dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan lebih cepat dan efisien kapanpun dan dimanapun diperlukan. Dalam era produksi “just-in-time”, pelatihan yang tepat waktu dan mutu menjadi elemen penting untuk keberhasilan organisasi (Rosenberg, 2001; Urdan & Weggen, 2000).

Tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi serta skill memadai untuk menunjang perusahaan adalah maksud disediakannya sistem e-learning di korporat. SDM adalah faktor utama keberhasilan perusahaan untuk merealisasikan visi dan misinya. Untuk itu SDM perlu dibangun. Salah satu cara membangunnya adalah mengimplementasikan sistem e-learning.

Supaya implementasi e-learning bisa berjalan sesuai harapan, harus dibuat kerangka strategi implementasinya. Dalam hal tersebut, strategi adalah sekumpulan aksi-aksi terintegrasi yang diarahkan untuk menambah atau meningkatkan kemampuan serta kekuatan enterprise relatif terhadap kompetitor (Porter, 2000).

 

 

@NgabaduyIT Strikes Again To (Ngalalana Deui Ka) Batu Hijau – Sumbawa

29 October 2012 in Canda, E-Learning, ITB, Lingkungan, Pemangku Kepentingan, Pribadi, Proyek, Telematika

Sekali lagi tim @NgabaduyIT berkelana ke Batu Hijau –Sumbawa. Kali ini tim diperkuat oleh @djadjas, @Tsauri28, Dwi Haryanto dan satu-satunya wanita yaitu Teh @k_amiDong. Misi bertujuan untuk memperkuat e-Learning di institusi tersebut terutama untuk Divisi Training.

Tambang Batu Hijau merupakan tambang terbuka tembaga dan emas.  Tambang dioperasikan oleh Newmont Mining Corporation anak perusahaan PT Newmont Nusa Tenggara (PT Newmont). Tambang ini terletak 1.530 kilometer (950 mil) timur Indonesia dari ibukota Jakarta, di selatan Kabupaten Taliwang , di Pulau Sumbawa sebuah pulau di Nusa Tenggara Barat. Tambang ini adalah hasil dari eksplorasi  dan program pembangunan sepuluh tahun didasarkan pada penemuan deposit tembaga tahun1999. Produksi dimulai pada tahun 2000.

Tambang memanfaatkan  metode penambangan terbuka ”truck and shovel”  dengan bijih yang diproses pada “Semi-Autogenous Grinding” diikuti dengan sirkuit flotas . Produk jadi adalah konsentrat tembaga-emas, yang dikirim melalui pipa ke fasilitas penyimpanan di pantai Samudra Indonesia.