Peran Dosen Dalam Pengembangan Otak dan Watak Mahasiswa

Baru saja saya berbicara dengan salah seorang mahasiswa. Ya, dalam beberapa kali kesempatan saya berusahan untuk “berkolaborasi” Dalam Pengembangan Otak dan Watak Mahasiswa. Saya cuplik obrolan online sebagai berikut:

Mahasiswa:

Oya, tadi malam saya teringat pada salah satu pembicaraan saya dan Bapak pada saat setelah perkuliahan dahulu. Bapak pernah berkata pada saya dan teman2, bahwa “usaha keras disertai doa, tentunya menghasilkan hal yang baik”. Terima kasih atas kata2 yang luar biasa tersebut, kata2 tersebut membuat saya untuk selalu berusaha utk mnjadi lebih baik, serta senantiasa bersyukur atas apa yg saya peroleh. terima kasih Banyak Pak Djadja. Kata yang singkat namun banyak manfaat! luar biasa!
terima kasih Banyak Pak Djadja. Kata yang singkat namun banyak manfaat! luar biasa!
Saya:
He..he…he..Tolong ditularkan pada teman2…Sering jalan yang berliku bukan merupakan jalan yang tercepat namun kan terisa indah kalau kita menimatinya….Berilah manfaat pada banyak orang….Seringkali kita lupa hanya memperhatikan otak (baca: IQ/IP) namun lupa pada watak (EQ/SQ) yang banyak dicari orang saat ini
Mahasiswa:
baik Pak
terima kasih banyak, sungguh, kata2 itu juga menjadi motivasi saya dalam berbagai macam kegiatan (salah satunya pengerjaan TA) apa yang Bapak katakan tersebut persis seperti apa yang Ayah dan Ibu saya katakan
Saya:
 OK sukses selalu ya
Mahasiswa:
Terima kasih Pak, sukses juga untuk Pak Djadja dan Keluarga.
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=qTG6V2wIrl0]

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) DIKTI: Berkah Atau Masalah Bagi Dosen Pembimbing?

 

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) DIKTI
PKM merupakan salah satu bentuk upaya yang dilakukan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M), Ditjen Dikti dalam meningkatkan kualitas peserta didik (mahasiswa) di perguruan tinggi agar kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan meyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta memperkaya budaya nasional.

 

PKM dilaksanakan pertama kali pada tahun 2001, yaitu setelah dilaksanakannya program restrukturisasi di lingkungan Ditjen Dikti. Kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang selama ini sarat dengan partisipasi aktif mahasiswa, diintegrasikan ke dalam satu wahana yang diberi nama Program Kreativitas Mahasiswa. PKM dikembangkan untuk mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang tinggi.

 

 

Dalam rangka mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang cendekiawan, wirausahawan serta berjiwa mandiri dan arif, mahasiswa diberi peluang untuk mengimplementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggungjawab, membangun kerjasama tim maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu yang ditekuni.

 

Pada awalnya, dikenal 5 (lima) jenis kegiatan yang ditawarkan dalam PKM, yaitu PKMPenelitian (PKM-P), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), dan PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dan PKM-Penulisan Ilmiah (PKM-I). Dalam upaya mengefisiensikan proses penilaian dan penyediaan reviewer, maka seluruh usulan akan dikelompokkan ke dalam masing-masing bidang PKM yang dituju (-P, -T, -K, -M, KT).

 

 

Selanjutnya setiap usulan dalam setiap bidang PKM dikelompokkan lagi ke dalam tujuh kelompok bidang ilmu, yaitu:
  • Bidang Kesehatan, yang meliputi: Farmasi, Gizi, Kebidanan, Kedokteran, Kedokteran Gigi, Keperawatan, Kesehatan Masyarakat, Psikologi.
  • Bidang Pertanian, yang meliputi: Kedokteran Hewan, Kehutanan, Kelautan, Perikanan, Pertanian, Peternakan, Teknologi Pertanian.
  • Bidang MIPA, yang meliputi: Astronomi, Biologi, Geografi, Fisika, Kimia, Matematika.
  • Bidang Teknologi dan Rekayasa, yang meliputi: Informatika, Teknik, Teknologi Pertanian.
  • Bidang Sosial Ekonomi, yang meliputi : Agribisnis (Pertanian), Ekonomi, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
  • Bidang Humaniora, yang meliputi : Agama, Bahasa, Budaya, Filsafat, Hukum, Sastra, Seni.
  • Bidang Pendidikan, yang meliputi Program Studi Ilmu-Ilmu Pendidikan di bawah Fakultas Kependidikan.

 

 
Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) : Berkah Atau Masalah Bagi Dosen Pembimbing?

Bagi beberapa dosen ini mungkin ada pertanyaan strategis sbb: Berkah Atau Masalah Bagi Dosen Pembimbing?
Seperti diketahui,  tidak ada honor/renumerasi PKM untuk dosen 🙂 
Hal inilah yang mungkin membuat dosen agak enggan untuk membimbing mahasiswa yang ikut PKM….

 

Saya sendiri berpedoman pada “Pernyataan Filosofis Pendidikan”  diantaranya berbunyi sebagai berikut:
Tujuan saya dalam mendidik tidak terbatas pada domain pengetahuan. Pendidik harus belajar keterampilan kerja sama dan manajemen tim juga. Mengekspos struktur “Permainan Peran” atau metode lain yang mendasari pembelajar bekerja ketika menyelesaikan sebuah tugas, merencanakan atau mengkritisi tim, atau membuat keputusan kepemimpinan pembelajaran. Model ini mengarah pada langkah penting memberikan umpan balik yang dapat diidentifikasi. Pembelajar juga harus memberikan umpan balik kepada pendidik namun biasanya pendidik yang memintanya.

 

Pendidik harus bertanggung jawab besar dalam proses pembelajaran. Mereka harus mengambil pendekatan aktif untuk belajar. Saya percaya pembelajar yang sukses berkembang memiliki pengulangan teori atau kasus untuk menghubungkan pengalaman kerja mereka dengan pengetahuan yang ada di luar. Pada akhir pendidikan, diharapkan pembelajar yang sukses dapat belajar di luar konteks kasus, karena mereka berusaha untuk “menguasai” lapangan kehidupan.

 

 

Usulan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2012

Saat ini Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Pendidikan Tinggi memberi kesempatan kepada mahasiswa perguruan tinggi negeri maupun swasta untuk mengajukan usulan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 5 bidang yaitu : PKMP, PKMM, PKMK, PKMT dan PKMKC yang akan didanai tahun 2013.

 

DIKTI menginformasikan bahwa sesuai panduan PKM tahun 2012, pengajuan usulan proposal dan tata cara pengiriman proposal On-Line ke Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Dit. Litabmas) dapat di download pada website http://dikti.go.id, dengan headline : Usulan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2012.

 

Untuk itulah saya telah menginformasikan program dimaksud kepada mahasiswa Universitas Widyatama, sebagai berikut :
  1. Pendaftaran dilakukan Oleh Staf bagian Kemahasiswaan Perguruan Tinggi dengan alamat http://simlitabmas.dikti.go.id.
  2. Pengunggahan dokumen dilakukan oleh mahasiswa setelah proses pendaftaran yang dilakukan selesai.
  3. Pendaftaran dan pengunggahan dokumen usulan on-line mulai tanggal 29 Oktober s.d. 24 November 2012, apabila lewat dari batas waktu yang telah ditentukan maka proses pendaftaran dan pengunggahan tidak dapat dilakukan.
  4. Dit. Litabmas tidak menerima Proposal Usulan dalam bentuk Hardcopy (dokumen tersebut disimpan di Perguruan Tinggi pengusul untuk keperluan administrasi).
  5. Selanjutnya Kemahasiswaan Universitas Widyatama menerima email dari pkm.dp2m@dikti.go.id untuk user dan password operator kemahasiswaan.

 

@PendidikPembebas Apakah Anda Pendidik Yang Menarik Bagi Peserta Didik?

Setelah bekerja keras, dan memiliki semangat besar untuk karir menjadi pendidik, kini saatnya untuk mencoba keterampilan Anda sebagai pendidik. Kemungkinan besar Anda akan merasa lelah, dan kadang-kadang menantang fisik dan mental kita. Berikut adalah cara baru melihat kelas dan menjadi bagian dari Anda sendiri sebagai seorang pemimpin kelas.
  1. Baca semua bahan yang telah diperoleh tentang mengajar dan mendidik siswa (Pedagogik dan Andragogik) sebelum masuk kelas. Mencobanya tanpa bahan dan rencana yang Anda percayai, tidak akan membantu saat Anda benar-benar di dalam kelas.
  2. Terbuka terhadap kritik. Sebagai seorang pendidik, membuat kesalahan adalah normal. Ingatlah bahwa tidak ada yang sempurna. Bahkan para ahli pendidikan pun kadang-kadang keluar jalur ketika mereka “terganggu”. Tapi jangan menyerah, bertahanlah dan Anda akan meningkatkannya dengan pengalaman dan praktek yang rutin.
  3. Lakukan penelitian untuk mengetahui tentang Lembaga Pendidikan anda. Pelajari aturan dan kebijakan, termasuk informasi berpakaian (semua ini akan membantu Anda jika siswa menguji Anda, serta mencoba untuk mencari tahu berapa banyak atau sedikit Anda ketahui). Cari tahu apa daerah yang dianggap “di luar batas” (pelanggaran) kepada siswa, mencari tahu di mana staf bergaul, dan bahkan apakah  mungkin bagi Anda untuk mendapatkan stiker parkir mobil atau motor. Setiap hal kecil penting untuk implementasi pendidikan yang mulus.
    • Pelajari tentang lingkup kerja sekolah, dewan sekolah (jika relevan), asosiasi orang tua guru, dan semua organisasi/badan yang menyertai institusi ini.
    • Tahu di mana bentuk-bentuk izin untuk maha/siswa dan dokumen penting lainnya
    • Tanyakan apakah ada masalah hukum atau pembatasan yang perlu diperhatikan jika Anda belum pernah diinformasikan.
    • Lakukan Pencarian online untuk sumber daya untuk membantu kita. Ada banyak situs dengan informasi yang cocok untuk maha/siswa dan pendidik, dan Anda juga mungkin dapat menemukan forum untuk berhubungan denganpendidik lain untuk berbagi cerita dan dukungan.
4. Buat hanya sekitar 5 atau 6 set aturan. Sisanya adalah prosedur dan proses untuk setiap kegiatan dan situasi, bukan aturan seperti: balik dalam pekerjaan, pengujian harapan, lab, seni, aula, toilet, perpustakaan, dll. Kebutuhan masing-masing prosedur  disederhanakan serta cepat diinstruksikan atau setiap kali diingatkan.
Miliki aturan dasar kelas sebelum Anda berdiri di depan kelas untuk pertama kalinya (misalnya, mengangkat tangan ketika ingin berkomunikasi, menghormati orang lain, bersiaplah untuk mendengarkan, dll). Anda  dapat membahasnya dengan siswa dari awal.
5. Bicaralah dengan atasan yang bertanggung jawab untuk mengawasi apa yang Anda lakukan.  Tanyakan padanya filsafat pendidikan atau yang menjadi harapannya, bersamaan dengan belajar tentang program pendidikan dan pengajaran yang diharapkan selama Anda bekerja dengan dia. Pastikan untuk mengetahui apakah Anda memiliki kebebasan atau batasan pada metode pengajaran, topik, dan isu relevan lainnya. Juga ada baiknya untuk memiliki waktu rutin bertemu untuk diskusi atau mengajukan pertanyaan kepada pendidik lain.
6. Jangan takut gugup. Ketika Anda pertama kali memasuki kelas, mungkin  kepala Anda akan dipenuhi dengan semua hal yang telah diajarkan tentang mendidik dan mengajar. Semua itu penting, namun sisihkan kebutuhan untuk kesempurnaan dan berkonsentrasi pada “memadamkan saraf”  dan ketakutan Anda. Para siswa akan mengharapkan Anda untuk tampil percaya diri, santai dan tenang. Dengan demikian, berpura-puralah sampai Anda berhasil! Dan, lakukan seluruh pendekatan dan pengalaman dengan sikap positif, serts berharap untuk menemukan pengalaman yang baik – dan Anda akan menemukan ini sebagai hasilnya.
7. Tetap bersikap alami. Sangat penting untuk memberi perhatian terhadap detail tetapi tidak berharap untuk menjadi sempurna. Hindari konfrontasi yang tidak perlu. Mengakui bahwa Anda sendiri seorang pembelajar, dan menyadari betapa seorang pembelajar harus  “berpura-pura” terlihat menjadi seorang pendidik yang tangguh! Para siswa akan mencoba seberapa “kendur” Anda, jika Anda ramah dan mudah didekati – harus tegas tapi tidak kaku.
8. Jangan bertindak secara berlebihan. Sangat penting untuk tidak menjadi pendidik yang karikatur. Tugas kita sebenarnya adalah untuk menyampaikan informasi kepada siswa, dengan Anda sebagai saluran tersebut. Hal ini tidak untuk meyakinkan siswa bahwa Anda adalah seorang guru model. Namun, tidak ada yang salah dengan berbagi gairah Anda untuk mendidik mereka! Hal yang perlu dipertimbangkan meliputi:
  • Hindari sebagai figur yang terlalu menakutkan atau terlalu ketat.  Ingat,  Anda masih seorang pembelajar! Apakah Anda menyukai hal itu, jika pendidik melakukan itu kepada Anda? Sampaikan pada para siswa bahwa Anda tahu apa yang mereka rasakan, dan bahwa Anda berada di “frekwensi” mereka. Terima kebaruan situasi bagi Anda dan siswa.
9. Berkelilinglah. Jadilah “anugrah” saat Anda mendidik, dan Anda akan disambut dan didukung oleh maha/siswa. Jadilah fasilitator bagi mereka.
  • Jangan duduk di satu tempat. Berlutut atau duduk diantara mereka, tetap menyadari bahwa membungkuk rendah dapat menempatkan Anda dalam ruang hati seseorang – dan  berlakulah riang atau lucu.
10. Hindarilah “gangguan”. Katakan: “Saya akan kembali dalam satu menit …”, jika seorang maha/siswa tampak takut atau marah dengan perhatian Anda.
  • Jangan bertindak terlalu suka memerintah: Aanda hanya menyampaikan fakta.
11. Dapatkan rasa hormat. Meskipun Anda mungkin merasa bahwa ini bertentangan dengan langkah-langkah sebelumnya, adalah penting untuk mendapatkan rasa hormat tanpa menakutkan/terlalu ketat – atau terlalu akrab dengan siswa. Lakukan ini melalui sikap percaya diri, dengan menyampaikan bahwa Anda mengharapkan kepatuhan terhadap aturan. Selain itu, jika sesuatu membutuhkan kedisiplinan, Anda tidak melampaui perilaku buruk kepada mereka. Ini hanya  perlu terjadi sekali bagi maha/siswa untuk memahami bahwa Anda tidak berlebihan.
  • Berusaha keras untuk tidak terlihat atau terdengar gugup. Jika Anda takut ini terjadi, manfaatkan jeda, dan mengambil napas dalam-dalam untuk memulihkan ketenangan Anda sebelum berbicara. KemudianTersenyum. Antusiaslah, tetapi tidak berlebihan dalam melakukannya. Anda tidak perlu terburu-buru.
  • Jangan takut tidak disukai. Beberapa maha/siswa akan selalu mendorong batas kesabaran dan membuat mereka tidak menyukai Anda. Bagaimanapun, kenyataannya adalah bahwa kebanyakan siswa akan merespon jauh lebih hormat kepada pendidik yang “menempel batas”  terdefinisi dengan baik daripada yang menyerah, atau bertindak mengecewakan karena Anda tidak suka. Anda berada di sana  tidak  untuk menjadi seorang “sobat”.
12. Hormati maha/siswa. Berbicaralah dengan hormat dan tunjukkan dukungan (Katakanlah, “Terima kasih atas perhatian Anda.” Atau “Dapatkah saya menunjukkan ini …” atau “Benar!” Atau “Ide bagus. Coba ini.”). Kritik hasil kerja mereka, bukan maha/siswa. Mendapatkan rasa hormat akan kembali dengan unjuk kerja yang terbaik. Hindari menggunakan otoritas Anda sebagai pemegang kekuasaan yang menyebabkan Anda lupa bahwa mahasiswa adalah manusia juga. Kembali ke niat  Anda mengapa  menjadi pendidik, jika Anda merasa kehilangan  perspektif tentang ma/siswa.
  • Jadilah diri anda. Tampilkan minat nyata dalam upaya  Anda dan memuji pekerjaan mereka ketika Anda memiliki kesempatan.
13. Teraturlah dan bersiaplah. Selalu datang dengan pelajaran yang telah disiapkan. Semua guru profesional diharapkan selalu siap, sehingga akan menjadi kesalahan jika Anda sebagai pendidik tidak siap. Ini adalah untuk  masa depan karir Anda, membuat sebagian besar perbedaan dari hal itu.
  • Buatlah jadwal untuk menandai dan mempersiapkan pelajaran. Ini adalah kesempatan pertama Anda untuk meningkatkan intensitas dalam mengajar, di mana perlu terlibat secara mental sepanjang Anda mengajar. Ini adalah waktu yang fantastis untuk mengembangkan manajemen waktu dan keterampilan organisasi pribadi yang akan membuat Anda memperoleh manfaat yang baik untuk sisa karir mengajar Anda.
14. Penuhi janji Anda. Jika Anda memberitahu maha/siswa, Anda akan memiliki kuis, proyek khusus, atau pekerjaan yang akan diperiksa  minggu depan, selalu lakukan apa yang Anda janjikan. Teladani  mereka untuk melihat dan menanggapi, jika tidak, Anda tidak bisa mengharapkan mereka untuk melakukan apa yang mereka seharusnya kerjakan!
15. Nikmati karir anda! Menjadi seorang pendidik dapat, dan harus, benar-benar menyenangkan. Ini adalah kesempatan untuk bertemu orang-orang baru (bisa saja hanya beberapa tahun lebih muda dari Anda), mendapatkan uang atau kredit, dan untuk menemukan ritme karir Anda. Gunakan rasa humor untuk memperoleh keuntungan yang terbaik dengan melibatkan orang lain dan memperjelas beberapa aspek yang menantang. Dengan cara seperti itu, Anda sudah siap untuk menikmati pengalaman Anda lebih banyak lagi.
  • Bergaullah dengan guru-guru lainnya. Datanglah awal, pulanglah agak terlambat. Cari informasi: Dengarkan. Staf sekolah/universitas dapat menjadi sumber informasi, dukungan, ide, dan kontak masa depan. Lakukan yang terbaik untuk mengembangkan hubungan baik dengan staf fakultas/sekolah.
  • Berteman baik dengan orang tua maha/siswa. Tetap berhubungan dengan orang tua secara rutin akan membentuk hubungan yang sangat baik, dan membantu untuk menyampaikan sesuatu yang positif bahwa anak mereka telah melakukannya sekarang dan kemudian.
  • Jika diperbolehkan, setelah pelajaran, bersosialisasilah di kampus/sekolah dengan maha/siswa Anda sambil menikmati kopi atau chatting bersama mereka. Janganlah menjadi teman pribadi. Tergantung pada usia maha/siswa dan jenis sekolah Anda mengajar,  mungkin itu tidak  cocok. Kalau bisa, setidaknya, menghadiri acara sosial yang diadakan untuk maha/siswa, seperti  acara  seni dan olahraga.

@DosenInspiratif Bersatunya Kuliah Applied Networking, Pemutaran Film Anti Rokok dan Rasa Terima Kasih Mahasiswa

Kemarin ada beberapa peristiwa yang merupakan “Mile Stone” dalam kehidupan saya sebagai dosen:

Kuliah Applied Networking 

Dalam kuliah ini disampaikan teori dan praktek perihal Router   sebagai sebuah komputer  khusus.   Router   mempunyai  komponen-ko mponen  dasar  yang  sama  dengan   PC    desktop ,   Router   mempunyai   CPU ,  memori,  sistem bus ,  dan  banyak   interface input/output .   Router   didisain  untuk  melakukan  tugas khusus  yang tidak  dimiliki  oleh   PC   desktop.  Contoh,   router menghubungkan  dan mengijinkan  komunikasi  antara  dua  jaringan  dan  menentukan  jalur  data  yang melalui koneksi jaringan.  

Komponen  utama  dari   router   adalah   random-access  memory   ( RAM ),   nonvolatile  random-access  memory   ( NVRAM ),   flash memory,  read-only  memory   ( ROM )  dan interface-interface. 

Network Interface  adalah  sebuah  Interface   yang berfungsi untuk  menyambungkan sebuah   host   ke   network .    Network  Interface adalah  perangkat  keras  yang  bekerja pada   layer   1  dari  Model  OSI (Open  System  Interconnection).   Network  Interface dibutuhkan  oleh   Router   untuk  menghubungkan   Router   dengan  sebuah  LAN  atau WAN.  Karena   Router   bertugas menyambungkan   network-network ,  sebuah   router harus  mempunyai  minimal  2   network  interface.  Dengan  konfigurasi  minimal ini,   router   tersebut bisa  menghubungkan dua   network,  karena  masing-masing   network  membutuhkan satu  network interface yang terhubung ke  Router.  

Pemutaran Film Anti Rokok 

Pada saat akan masuk kelas, ada pemandangan yang mebuat saya prihatin. Para mahasiswa bergerombol yang banyak diantaranya sambil menikmati rokok masing-masing. Seperti disampaikan di artikrl blog  sebelumnya, saya sampaikan Tag-Line “Silahkan Anda Merokok, Asal Pakai Kresek Di Kepala Anda“, sebagai penolakan kepada orang yang merokok.

Melihat hal tersebut, saya katakan saat ini banyak orang mempermasalahkan rokok dari sisi kesehatan, agama, ekonomi bahkan ideologi, politik, sosial dan budaya. Bahkan pada artikel Detik.com disebutkan bahwa: “Lama sudah Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan polemik rokok dalam UU Kesehatan. Namun hingga saat ini Menteri Kesehatan belum melaksanakan poin-poin putusan MK yang menyudahi silang sengketa tersebut.” 

Kemudian di tengah kuliah saya melakukan Pemutaran Film Anti Rokok yang isinya Fakta mengenai Industri dan bisnis Rokok di Indonesia, serta Penetrasi Rokok dalam masyarakat Indonesia yang memprihatinkan. Dalam Konferensi Dunia untuk Tembakau 2010 Koresponden Christof Putzel pergi menyelinap dan melakukan pembicaraan dengan karyawan perusahaan tembakau. Ia juga melakukan wawancara dan investigasi langsung mengenai bocah perokok terkecil di Dunia serta memaparkan mengenai fakta-fakta cengkraman bisnis tembakau global di Indonesia. Film ini Disharing oleh Yayasan Jantung Indonesia melalui Komisi Nasional Pengendalian Tembakau serta Current TV Untuk Kepentingan edukasi mengenai bahaya rokok.

Tayangan ini melengkapi video berjudul “Smoking Kid” yang dibuat oleh Yayasan Promosi Kesehatan Thailand. Di awal terlihat beberapa perokok dewasa sedang asyik merokok. Mereka tidak sadar sedang diambil gambar lantaran dilakukan dengan kamera tersembunyi. Tiba-tiba saat sedang asyik mengepulkan asap kenikmatan, masing-masing perokok di tempat berbeda itu didatangi bocah, satu laki-laki dan perempuan. Perokok dewasa, laki-laki dan perempuan, terkejut saat sang bocah hendak meminjam korek sembari mengeluarkan sebatang rokok. Lucunya para perokok dewasa itu tidak mau meminjamkan korek kepada para bocah itu. Bahkan dalam salah satu adegan, seorang perokok wanita mengatakan hal itu tidak baik buat kesehatan dan menyuruh anak itu berhenti merokok. Ada salah satu perokok pria sempat menceramahi bocah itu jika kegiatan merokok itu dapat menyebabkan kanker, emfisema, stroke, dan lainnya. Saat asyik menceramahi, tiba-tiba para bocah itu balik bertanya, “Jadi kenapa Anda merokok?” Langsung saja para perokok dewasa itu tidak berkutik menghadapi pertanyaan itu. Sejurus kemudian, anak laki-laki dan perempuan itu menyodorkan sebuah kertas berisi kalimat berbunyi, ‘Anda peduli dengan saya. Lalu kenapa Anda tidak peduli dengan diri Anda? Ingatkan diri Anda adalah langkah paling efektif buat berhenti merokok.’ Setelah kedua bocah itu meninggalkan masing-masing perokok, mereka pun terdiam dengan ekspresi wajah yang kaget, terdiam, menggaruk kepala, dan langsung memasukkan kertas itu langsung ke sakunya……… 

Rasa Terima Kasih Mahasiswa 

Tadi malam ada beberapa mahasiswa yang datang ke rumah untuk menyampaikan rasa terima kasih karena telah dibimbing Program Kreatif Mahasiswa (PKM) DIKTI. Mereka lolos sebagai salah satu tim yang masuk PIMNAS di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu dengan karya “WEB GIS Untuk Tracking Rute Perjalanan Transportasi Umum Dengan Menggunakan Algoritma Dijikstra dan Google Maps API”. 

Saat itu tim dari Teknik Informatika Universitas Widyatama berada di Univesitas Muhammadiyah Yogyakarta mengikuti PIMNAS ke 25 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tim yang adalah 4 (empat) peserta PKM yang terpilih sebelumnya dan lolos didanai DIKTI tahun 2012. 

Kedatangan mereka ke rumah saya merupakan penghargaan  kepada dosen yang telah meluangkan waktu dan pikiran dalam bagian kesuksesan mereka di PIMNAS. Sungguh suatu perilaku yang sangat saya hargai, bukan dari “buah tangannya”, namun perhatian pada profesi “pendidik yang karirnya tidak pernah berakhir“. Menurut saya, Ini adalah salah satu implementasi dari filososfi “Basa mah teu meuli” antara pendidik yang ikhlas dengan siswanya yang santun serta semoga membentuk mereka menjadi manusia yang lebih baik….Amin Ya Robbal Alamin…….

Hambatan Mengintegrasikan Teknologi Intruksional ke dalam Pendidikan Tinggi

Dikutip dari http://ernisilvernie.wordpress.com/2011/11/08/teknologi-pendidikan/

 

Dikutip dari Jurnal “Mengintegrasikan Teknologi Pembelajaran  ke dalam Pendidikan Tinggi” karya David M. Antonacci University of Missouri-Kansas City IS 11 Desember 2002:

 

“Perguruan tinggi dan universitas melakukan investasi yang cukup besar yang berhubungan dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk mendukung dan meningkatkan instruksional (Massy & Zemsky, 1996). Namun, kebanyakan dosen tidak menggunakan teknologi dalam kuliah mereka (Dewa & Miller, 2001). Perlu langkah strategis untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran pendidikan tinggi.

 

Dalam literatur, penting meneliti hambatan atau rintangan menghambat integrasi teknologi ke dalam pembelajaran. Berdasarkan literatur dan pengalaman praktisi, Leggett & Persichitte (1998) mengidentifikasi lima kategori hambatan untuk integrasi teknologi: waktu, keahlian, akses, sumber daya, dan dukungan.  

 

PL Rogers (2000) mengidentifikasi hambatan yang sama dan mengembangkan model untuk memvisualisasikan hubungan antara hambatan itu. Dalam model ini, sikap dan persepsi pemangku kepentingan terhadap teknologi, penggunaannya dalam pendidikan, dan kelembagaan mendukung menentukan apa yang akan dipertimbangkan.  

 

Setelah itu ditetapkan, tiga hambatan eksternal yang dapat memperlambat atau menghentikan pelaksanaannya: ketersediaan dan akses, dukungan teknis, dan stakeholder pembangunan. Juga, waktu dan dana mempengaruhi tiga hambatan itu.

 

Untuk lengkapnya bisa dibaca di: 

http://associations.missouristate.edu/assets/mohighedweb/IS-TechnologyIntegrationinHigherEducation.pdf  

 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=nJ0nlh5FU5A&w=600&h=400]

Pernyataan Pribadi Filosofi Pendidikan Untuk Dosen

Ketika diminta untuk menulis sebuah pernyataan pada filosofi pendidikan mereka, dosen banyak kemiripan dengan profesional, atlet, atau seniman jika diminta untuk mengartikulasikan bagaimana  mencapai tujuan mereka. Karena berorientasi pada tindakan individu, permintaan untuk menuliskan filosofi pribadi tidak hanya sedikit menjengkelkan, tetapi menyebabkan kecemasan untuk memulainya. Sehingga timbul pertanyaan yang dimaksud dengan Filosofis Pendidikan Untuk Dosen itu apa sih?, Mengapa saya harus menghabiskan waktu untuk menulis ini? Kenapa saya tidak bisa melakukannya? 

Dalam iklim akademis saat ini ada kemungkinan bahwa dosen  akan diminta suatu pernyataan pendidikan pribadi selama karir mereka. Penekanan pada portofolio untuk keputusan personalia atau kenaikan pangkat, komitmen baru lembaga pendidikan, dan pasar kerja akademik yang ketat telah merangsang permintaan agar dosen perguruan tinggi dapat mengartikulasikan filosofi pendidika mereka. Pada banyak perguruan tinggi dan universitas,  Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen menjadi bagian reguler dari syarat/berkas untuk promosi dosen. Pernyataan seperti itu sering diminta untuk pelamar beas siswa atau untuk usulan dana proyek-proyek pendidikan yang inovatif.

Selain memenuhi persyaratan, Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen dapat digunakan untuk merangsang refleksi pada pembelajaran. Tindakan perenungan untuk mempertimbangkan tujuan, tindakan, dan visi seorang dosen memberikan kesempatan bagi pengembangan diri yang dapat memperkaya kemampuan pribadi dan profesional. Meninjau dan merevisi Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen dapat membantu merefleksikan pertumbuhan mereka dan memperbaharui dedikasi mereka untuk tujuan-tujuan dan nilai-nilai pendidikan yang mereka pegang.

Format Surat Pernyataan

Salah satu ciri dari sebuah Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen adalah personal dan individualitas. Namun, beberapa pedoman format umum yang dapat disarankan:

Surat pernyataan harus singkat, satu atau dua halaman paling banyak. Untuk beberapa tujuan, deskripsi yang diperpanjang adalah dimungkinkan, tetapi panjangnya harus sesuai konteks.

Pernyataan harus menghindari istilah teknis, bahasa pendukung dan konsep secara luas dapat digunakan. Jika pernyataan adalah untuk spesialis, pendekatan  lebih teknis dapat digunakan. Aturan umum adalah bahwa pernyataan harus ditulis dengan “penonton dalam pikiran”.

Narasi, pendekatan orang pertama umumnya sesuai. Dalam beberapa bidang, pendekatan yang lebih kreatif, seperti puisi mungkin cocok dan dihargai, tetapi sebagian besar, sebuah pernyataan langsung dan terorganisir dengan baik lebih disukai.

Pernyataan tersebut harus reflektif dan pribadi. Apa yang membawa Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen adalah untuk kehidupan serta sejauh mana menciptakan potret hidup dari seseorang tentang pembelajaran dan komitmen untuk karir.

Komponen Pernyataan

Komponen utama dari Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen adalah deskripsi tentang bagaimana dosen berpikir pembelajaran terjadi, bagaimana mereka berpikir mereka dapat campur tangan dalam proses ini, apa tujuan utama mereka miliki untuk mahasiswa, dan apa tindakan yang mereka ambil untuk melaksanakan niat mereka.

Konseptualisasi pembelajaran. Menariknya, dosen perguruan tinggi sebagian besar setuju bahwa salah satu fungsi utama mereka adalah untuk memfasilitasi pembelajaran siswa, namun yang paling menarik ketika ditanya bagaimana pembelajaran itu terjadi. Hal ini mungkin disebabkan fakta bahwa ide-ide mereka tentang hal ini lebih bersifat intuitif dan berdasarkan pengalaman, bukan kesadaran pada teori yang diartikulasikan. Kebanyakan belum mempelajari literatur tentang pembelajaran mahasiswa dan pengembangan atau belajar kosa kata untuk menjelaskan pemikiran mereka. Tugas mengartikulasikan konseptualisasi pembelajaran itu memang sulit.

Banyak dosen telah mendekati cara menjelaskan bagaimana cara berpikir siswa saat pembelajaran terjadi melalui penggunaan metafora. Menggambarkan perbandingan dengan contoh diketahui dapat merangsang pemikiran bila metafora benar-benar digunakan dalam pernyataan itu. Sebagai contoh, ketika diminta untuk memberikan metafora, seorang dosen yang menjelaskan pembelajaran siswa tentang amuba. Dia secara rinci menerangkan bagaimana organisme berhubungan dengan lingkungan membran permeabel, gerakannya, dan lingkungannya, serta menerjemahkan ini ke dalam konteks belajar-mengajar dengan gambar atau perbandingan agar mahasiswa menjangkau dan memperoleh pengetahuan ini. Grasha (1996) telah melakukan eksplorasi yang luas dari metafora untuk menjelaskan pengajaran dan pembelajaran. Sebuah contoh klasik yang juga berisi eksplorasi metafora pengajaran dan pembelajaran oleh Israel Scheffler: “The Language of Education” (1960). Reinsmith (1994) menerapkan ide arketipe untuk mengajar. 

Sebuah pendekatan langsung bagi dosen untuk menjelaskan apa yang mereka pikirkan terjadi selama episode pembelajaran, berdasarkan pengamatan dan pengalaman mereka atau berdasarkan literatur yang ada saat ini pada pengajaran dan pembelajaran. Beberapa sumber yang berguna yang meringkas gagasan saat belajar dalam cara yang sangat mudah terkandung pada buku Svinicki (1991), Weinstein & Meyer (1991), dan Bruning (1994). Dosen juga dapat meringkas apa yang telah mereka amati dalam praktek mereka sendiri tentang gaya belajar yang berbeda yang menampilkan tempo yang berbeda, cara mereka bereaksi terhadap kegagalan, dan sejenisnya. Deskripsi tersebut dapat menampilkan kekayaan pengalaman dan kepekaan dosen terhadap pembelajaran mahasiswa.

Konseptualisasi mengajar. Ide tentang bagaimana dosen dapat memfasilitasi proses belajar mengikuti dari model belajar mahasiswa telah dijelaskan. Jika metafora telah digunakan, peran dosen dapat menjadi perpanjangan dari metafora. Misalnya, jika pembelajaran siswa telah digambarkan sebagai pengolahan informasi yang dilakukan oleh komputer, apakah dosen bertindak sebagai teknisi komputer, perangkat lunak, database? Jika deskripsi untuk mengarahkan pembelajaran mahasiswa telah diartikulasikan, apa peran dosen terhadap motivasi mereka? Bagaimana dosen dapat merespon gaya belajar yang berbeda, membantu mahasiswa yang frustasi, mengakomodasi kemampuan yang berbeda?

Tujuan untuk mahasiswa. Menggambarkan peran dan perincian bagaimana dosen dapat membantu mahasiswa belajar, tidak hanya untuk konten tertentu, tetapi juga keterampilan prosesnya, seperti berpikir kritis, menulis, dan memecahkan masalah. Hal ini juga termasuk pada pembelajaran seumur hidup – bagaimana dosen dapat membantu mahasiswa menghargai dan memelihara keingintahuan intelektual mereka, hidup etis, dan memiliki karir yang produktif. Bagi kebanyakan dosen, lebih mudah untuk mulai dengan tujuan konten pembelajaran, misalnya keinginan mahasiswa untuk memahami prinsip-prinsip desain aerodinamis atau pengobatan hipertensi. Tujuan proses terkait, seperti pemecahan masalah atau keterampilan rekayasa dan diagnostik medis, mungkin dijelaskan selanjutnya. Diakhiri, karir dan tujuan seumur hidup: seperti kerja tim, etika, dan komitmen sosial.

 

Pelaksanaan filosofi. Bagian yang sangat penting dari Pernyataan Pribadi Filosofis Pen
didikan Untuk Dosen adalah deskripsi tentang bagaimana konsep tentang pengajaran dan pembelajaran dan tujuan bagi siswa  diterjemahkan ke dalam tindakan. Untuk sebagian besar kita, bagian dari pernyataan itu adalah paling mengungkapkan dan paling berkesan. Hal ini juga umumnya lebih menyenangkan dan kurang menantang untuk ditulis. Di sini, dosen menjelaskan bagaimana mereka melakukan manajemen kelas, mengajar siswa, mengembangkan sumber daya instruksional, atau mengukur kinerja kelas. Dosen menyediakan rincian tentang apa strategi instruksional  yang mereka gunakan sehari-hari. Ini adalah bagian dimana dosen dapat menampilkan kreativitas, antusiasme, dan kebijaksanaan mereka. Mereka dapat menggambarkan bagaimana mereka “Uji Sistem  Tanpa Kesalahan” atau teknik rekaman video untuk mempromosikan keterampilan kepemimpinan serta menerapkan gagasan-gagasan tentang bagaimana dosen dapat memfasilitasi pembelajaran. Dosen dapat menggambarkan apa yang mereka inginkan untuk pengalaman di kelas mahasiswa yang mereka ajarkan, laboratorium dan proyek independen yang mereka awasi. Dosen dapat menggambarkan tingkat energi mereka sendiri, kualitas mereka untuk menunjukkan sebagai model dan pelatih, iklim untuk membangun pengaturan di mana mereka mengajar.

Rencana Pertumbuhan Pribadi. Untuk beberapa tujuan, termasuk pada pertumbuhan pribadi seseorang sebagai seorang dosen juga penting dalam sebuah Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen. Komponen reflektif dapat menggambarkan bagaimana seseorang tumbuh dalam pembelajaran selama bertahun-tahun, apa tantangan pada saat ini, dan apa tujuan jangka panjang diproyeksikan. Dalam menulis bagian ini, hal ini membantu untuk berpikir tentang bagaimana konsep-konsep seseorang serta tindakannya berubah dari waktu ke waktu. Mungkin menarik untuk melihat silabus lama atau sumber daya instruksional yang telah diciptakan sehingg bisa bertanya tentang asumsi implisit di balik produk tersebut. Dialog dengan rekan-rekan, perbandingan praktek pembelajaran dengan visi/misi, dan survey terhadap mahasiswa atau umpan balik pada pengajaran dapat membantu  pertanyaan, teka-teki, dan tantangan ini. Dari hal ini, visi dosen akan muncul serta  dapat menjadi cara yang sangat efektif untuk menyimpulkan Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen.

Contoh Pernyataan

Sejauh ini, Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen dapat ditiru dari para sejawat yang mengajar dalam pengaturan atau disiplin yang sama. Karena pernyataan cenderung disesuaikan dengan konteks spesifik, contoh model “peer to peer” sangat tepat. Dialog dengan rekan-rekan  dapat membantu untuk merangsang ide-ide untuk Pernyataan Pribadi Filosofis Pendidikan Untuk Dosen milik sendiri.

Contoh lain  terkandung dalam buku-buku  portofolio mengajar, seperti Seldin (1993) dan O’Neil & Wright (1993). Buku reflektif pada pengajaran kampus yang efektif seringkali berisi deskripsi luas tentang filosofi pengajaran, seperti bab tentang “Developing a Personal Vision of Teaching” di buku Brookfield “The Skillful Teacher” (1990) dan bab “Three Teaching Principles” pada buku  Louis Schmier’s “Random Thoughts” (1995).

Dikutip dari Tulisan “Nancy Van Note Chism, Ohio State University”

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=SYW7hPOmtzw&w=640&h=410]

 

Referensi

Brookfield, S. (1990). The skillful teacher. San Francisco: Jossey-Bass.

Bruning, R. (1994). The college classroom from the perspective of cognitive psychology. (pp. 3-22) In K. Pritchard & R. Sawyer (Eds.), Handbook of college teaching. Westport, CT: Greenwood Press.

Grasha, A. (1996). Teaching with style. Pittsburgh: Alliance Publishers.

O’Neil, C., & Wright, A. (1993). Recording teaching accomplishment. (4th ed). Halifax, Nova Scotia, CA: Dalhousie University.

Reinsmith, W. (1994). Archetypal forms in teaching. College Teaching, 42, 131-136.

Scheffler, I. (1960). The language of education. Springfield, IL: Charles Thomas.

Seldin, P. (1991). The teaching portfolio. Bolton, MA: Anker.

Seldin, P., & Associates (1993). Successful use of teaching portfolios. Bolton, MA: Anker.

Schmier, L. (1995). Random thoughts: The humanity of teaching. Madison, WI: Magna Publications.

Svinicki, M. (1991). Practical implications of cognitive theories. In R. Menges & M. Svinicki, (Eds.) College teaching: From theory to practice.  New Directions for Teaching and Learning, 45, pp. 27-37. San Francisco: Jossey-Bass.

Weinstein, C., & Meyer, D. (1991). Cognitive learning strategies and college teaching. In R. Menges & M. Svinicki, (Eds.) College teaching: From theory to practice.   New Directions for Teaching and Learning, 45, pp. 15-26. San Francisco: Jossey-Bass.