Budaya Institusi Suatu Usaha Menuju Perubahan

Mengubah budaya korporat pada dasarnya mengubah kebiasaan (yaitu bagaimana pekerjaan diselesaikan) dalam suatu institusi dan jika berhasil menghasilkan komitmen-komitmen baru, empowerment sumber daya manusia, dan ikatan yang lebih kuat antara institusi dengan pelanggannya (Porter dan Parket 1992). Setelah nilai-nilai baru terbentuk dan budaya korporasi disepakati menjadi bagian dari strategi korporat, institusi perlu terus memperkuatnya agar ia menjadi tradisi baru yang benar-benar mampu memberikan jawaban terhadap perubahan.

 

 

Adakalanya nilai dan budaya yang selama ini ada dianggap belum dapat memenuhi dinamika perubahan yang terjadi di dunia “Academic, Business and Goverment (ABG)”. Di atas kertas, mungkin suatu institusi sudah mencantumkan dan mengkampanyekan nilai-nilai institusi, namun kenyataannya hal tersebut mungkin tidak atau belum pernah dilaksanakan oleh staf dan karyawan. Dalam proses perubahan budaya perusahaan hal yang sering kali ditemui adalah upaya yang dilakukan bukan membawa perubahan perilaku dalam organisasi tetapi justru memukul perusahaan tersebut ke belakang atau malah tidak menghasilkan apa-apa. Hal ini mungkin karena upaya yang dilakukan masih terjebak dalam sebuah formalitas. Dalam proses perubahan budaya perusahaan di hal itulah yang ditakutkan akan terjadi dan menjadi sebuah pengulangan dari kesalahan-kesalahan banyak institusi dan perusahaan lainnya.

 

Baraya, Basa Sunda Heunteu Menta Loba

 

Lamun urang ngaregepkeun salawasna

Basa Sunda Heunteu Menta Loba 

Ngan saukur dipiara jeun diseja kuurang sarerea

Teu hayang jadi basa keur sakumna umat manusa

 

Saheunteuna dipake keur saukur jirimna

Oge tong teuing jiga teu dipalire samanea

Bisi urang hanjakal engke kadituna

Baraya, Basa Sunda Heunteu Menta Loba 

 

 

#ManajemenPembebas Nilai dan Budaya Institusi: Sebuah Contoh Rekomendasi Agar Diimplementasi

Pendahuluan
Tujuan dari penyusunan sebuah dokumen “Filosofi dan Rekomendasi Nilai dan Budaya Institusi Bagi Staf dan Pimpinan” adalah untuk  memberi pijakan Pengembangan Kapasitas Organisasi dan Institusi. Rekomendasi ini akan memenuhi kebutuhan  untuk merespon perlunya referensi, sosialisasi dan implementasi  memungkinkan organisasi untuk melaksanakan  sebagai “Nilai dan Budaya Institusi”.

 

Ringkasan Rekomendasi
Rekomendasi “Nilai dan Budaya Institusi” akan bermanfaat untuk Pengembangan Kapasitas Organisasi dan Institusi   sebagai berikut :
  1. Nilai dan Budaya  merupakan sebuah tranformasi sehingga akan menjadi “Strategic Value & Culture” jangka panjang dalam rangka mengembangkan  sebagai institusi terkemuka di Indonesia dan Asia Tenggara. 
  2. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dengan transformasi ke arah pengembangan organisasi dan institusi sehingga  dapat lebih efektif dan efisien.
  3. Merancang sebuah Kerangka Kerja (Framework) dan Peta Jalan (Roadmap)  “Nilai dan Budaya Institusi” untuk melayani karyawan dan semua Pemangku Kepentingan (Stakeholder) .
  4. Program sosialisasi dan implementasi   sebagai “Nilai dan Budaya Institusi ” bertujuan untuk membangun dan meningkatkan  kapasitas (Capacity building) organisasi dan Institusi dengan tujuan spesifik sebagai berikut:
  • Merancang pemberdayaan pimpinan dan staf yang handal untuk sosialisasi dan implementasi.
  • Merancang proses dan teknologi untuk mengimplementasikan.
  • Merancang model dan tata kelola organisasi yang mendukung sosialisasi dan implementasi.
  • Terciptanya model pebelajaran dan manajemen pengetahuan dalam pengembangan.
  • Mengembangkan Studi Kasus dan “Best Practice” untuk sosialisasi dan implementasi  
Sesuai dokumen “Nilai dan Budaya Institusi ” yang kami susun untuk Pengembangan Kapasitas Organisasi dan Institusi , untuk Tahap-1  akan dilaksanakan:
  1. Menyediakan SDM, proses dan alat/ sarana untuk mengevaluasi “Nilai dan Budaya” sebelumnya.
  2. Menyediakan sumber daya untuk merancang dan menerapkan  sebagai “Nilai dan Budaya Institusi”.
  3. Menerapkan aplikasi  sebagai “Nilai dan Budaya Institusi ” beserta komponen standar yang dibutuhkannya.
  4. Membuat Kerangka Kerja (Framework) dan Peta Jalan (Roadmap)  yang dipilih, serta memberikan pendampingan untuk piloting implementasi  sebagai “Nilai dan Budaya Institusi ”. 
Langkah-langkah ini sesuai dengan rencana  yang disetujui oleh semua pemangku kepentingan, sebagai bagian Pengembangan Kapasitas Organisasi dan Institusi untuk menyongsong pengemangbangan SDM (Human Capital Develoment) sebagai modal utama institusi.

 

Hubungan Jatuhnya Sukhoi, Sidak Dahlan Iskan ke ATC dan Kebiasaan Merokok

Selesai sudah Operasi Evakuasi Korban Sukhoi di Gunung Salak yang Dihentikan Sore Ini. Menurut  Detik.com, Jumat (18/5/2012) ini merupakan hari kesepuluh dilakukannya operasi evakuasi korban pesawat Sukhoi SuperJet 100 yang mengalami kecelakaan di Gunung Salak. Karena tidak ditemukan lagi tanda-tanda adanya korban, operasi evakuasi dihentikan mulai sore ini.

“Hari ini Jumat adalah hari kesepuluh dilaksanakan operasi SAR atau proses evakuasi. Sesuai perluasan tidak ditemukan tanda-tanda adanya korban karena itu evakuasi terhitung sore ini, Jumat 18 Mei 2012 dihentikan,” terang Kepala Basarnas, Marsdya Daryatmo, di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Jumat (18/5/2012).

Sukhoi dan “Air Traffic Control” (ATC): Misteri Yang Belum Terpecahkan

Ada yang menarik dari peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100 ini, diantaranya dalah perihal “kegalauan informasi” turunnya pesawat dari 10.000 kaki ke 6.000 yang disinyalir diijinkan oleh ATC memberikan kontribusi serius pada peristiwa ini. Dikutip dari MediaIndonesia.com (Kamis, 10 Mei 2012), “Itu yang masih diselidiki. Nanti setelah KNKT bicara dengan ATC baru ketahuan. Itu juga pertanyaan dari pihak Rusia (Sukhoi) maupun kami,” ujar Sunaryo. 

ATC yang terakhir menemukan koordinat SSJ-100 adalah ATC di Cengkareng. Namun hingga kini, tidak diketahui siapa yang memberi otorisasi kepada pilot untuk menurunkan ketinggian pesawat hingga akhirnya menabrak Gunung Salak. 

Ketinggian puncak Gunung Salak diketahui mencapai 7.253,93 kaki (2.211 meter) sementara ketinggian terakhir pesawat SSJ 100 yang diminta oleh pilot menurun dari 10.000 kaki (3.048 meter) menjadi 6.000 kaki (1.828,8 meter). Posisi serpihan pesawat saat ditemukan pagi ini ada diketinggian 5.500 kaki. 

“Nampaknya (descent; penurunan ketinggian) itu sebelum (puncak gunung). Seperti yang kita hitung semalam,” jawab Sunaryo kepada Mediaindonesia.com. 

Teknologi SSJ 100 sendiri merupakan hasil kerjasama antara Sukhoi Civic Aviation dengan Boeing dan pihak Prancis. “Kalau soal teknologi, pesawat ini cukup bagus kok,” kata Sunaryo. 

Ia juga membantah bahwa pesawat tidak memiliki peta topografi wilayah Indonesia. “Kalau itu pasti ada,” katanya. 

Jadi jika pesawat sudah dilengkapi dengan peta topografi wilayah Indonesia, dan ATC juga memiliki peta yang sama kenapa terjadi kecelakaan? Apakah human error atau malfunction system? “Kalau itu kita harus tunggu dulu. Itu sudah masuk wilayah KNKT, saya tidak berwenang menjawabnya,” ujar Sunaryo. 

Sidak Dahlan Iskan ke ATC Soekarno Hatta

Beberapa waktu sebelum kejadian di atas, Siti Ita Nasyi’ah menulis pada facebook-nya sebagai berikut:

Hari Minggu pukul 06.00 wib bulan Februari 2012  saat jalanan di Jakarta masih lengang, mobil Mercy L 1 JP melaju kencang menuju bandara Soekarto Hatta. Penumpangnya hanya berempat. Pak Menteri BUMN aku dan pak Jusak. Pak Dis duduk di depan kiri berdampingan dengan Zahidin, sopir pribadinya. Sedangkan aku dan pak Jusak, duduk di belakang. Kami berdua seperti juragan di mobil mewah itu. Terlihat beberapa botol air mineral dan camilan kecil tersedia rapi. Juga ada permen. ”Kita berangkat pagi, karena aku pingin mampir ATC (Auto Traffic Control) di Soeta,” kata pak menteri sambil menggulung lengan hem bergaris-garis warna biru yang dikenakan. 

Saat sampai di pintu gerbang Perum Angkasa Pura (PAP), mobil melaju pelan. Pak menteri bergegas menurunkan kaca sambil menyapa sekurity dan satpam yang tengah berjaga. ”Pagi, pak. Permisi, ya” sapa pak Dis dengan ramah. Belum sempat menjawab, mobil yang membawa kita melaju menuju sebuah gedung paling ujung. Rupanya gedung ini adalah tempat paling vital milik PAP. Karena di gedung inilah letak berbagai mesin pengontrol lalu lintas udara yang ada di bandara Soeta. 

Setengah berlari, kuikuti langkah pak Dis menuju sebuah gedung yang salah satu mejanya bertuliskan receptionis. ”Pagi, Assalamulaikum, permisi,” sapa pak Dis. Ternyata, ruangan itu kosong. Tak ada jawaban. Namun demikian, Pak Dis tetap bertahan dan berusaha memasuki ruang demi ruang yang ada sambil melihat-lihat keadaan. Kotor dan perlatan kantor berserakan tidak pada tempatnya. Disamping itu, terlihat meja kerja maupun meja tamu, terdapat botol air mineral, bekas piring makan dan satu lagi, asbak penuh puntung rokok. Padahal, ruangan itu full AC. Dingiiiiiin. 

Budaya Kerja dan Kebiasaan Merokok 

Sampai akhirnya, ada ruangan yang bertuliskan ATC. Bergegas, pak Dis masuk. ”Nah, ini dia,” ucapnya dengan wajah berbinar.

Akupun mengikuti langkah pak Dis. Benar. Di ruangan yang agak tersembunyi itu, terdapat sebuah ruangan khusus. Di dalam ruangan itu ada beberapa orang bekerja. Sambil mengucapkan salam, pak Dis menyalami satu persatu karyawan yang tengah bertugas. Tentu saja mereka kaget. Tidak mengira, jika ruangan mereka dikunjungi menteri. Beberapa orang yang tadinya santai, terlihat kembali ke komputernya. Begitu juga yang tengah merokok, meletakkan putung rokoknya di asbak yang ada di sampingnya. ”Wah, nglembur ya. Maaf, saya menganganggu,” ucap pak Dis sambil bertanya-tanya pada karyawan yang berkerja kala itu. Setelah meminta penjelasan bagian apa ruangan yang tengah didatangi, pak Dis minta ditunjukkan tangga menuju tower ATC. ”Wah, disini perokok semua ya,” kata pak Dis setengah menyindir. Kudengar ada yang menjawab dan ada yang membisu, sambil mematikan putung rokoknya. Beberapa orang, kulihat sibuk menelepon. Entah siapa yang ditelepon.

Pastinya, ada dua orang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai supervisor menjadi penunjuk jalan menuju tower. Kamipun berjalan menuju ruangan yang ditunjukkan. ”Di sini pak. Mari,” ucap lelaki bertubuh tegap yang mengenakan hem kuning muda. Di depan pintu masuk ruangan itu, terdapat tulisan ”dilarang masuk” dan tulisan ”steril”. SElain itu juga ada tulisan ”jagalah kebersihan”.

Karena tempatnya steril, tanpa diminta pak Dis mencopot sepatu ketsnya. Apalagi di tempat itu juga terdapat rak sepatu. ”Di sini tidak sembarang orang boleh masuk, pak,” kata petugas tadi menjelaskan ruangan khusus itu. Pak Dis hanya manggut-manggut. Setelah itu, kami diajak naik ke sebuah tangga. Kalau tidak salah, ada 10 anak tangga yang kami naiki. Di ujung anak tangga, terdapat sebuah ruangan yang dipintunya bertuliskan ”yang tidak berkepentingan di larang masuk”. Rupanya, kita diajak ke sebuah ruangan kontrol yang seluruh ruangannya full komputer. Suasananya ramai. Sedikitnya ada 30 komputer berbagai ukuran. Masing-masing komputer ada seorang operatornya. Cuma sayang, ruangan yang super dingin itu tidak sesteril, seperti selogan yang dituliskan. Buktinya, di samping meja komputer, ada beberapa makanan. Mulai makanan kecil, sampai piring bekas makan mie. Tragisnya, ruangan ber suhu super dingin itu terdapat beberapa asbak ukuran 1 meter. Sangat kontradiksi, memang.

Stress di ATC

Melihat ini semua, pak Dis bertanya-tanya. ”Kenapa masih ada rokok dan bekas makanan di ruangan ini? Katanya steril,” ucap pak Dis serius. Kulihat, leki-laki yang mengaku supervisor itu gelagapan. ”Oh, iya pak. Rokok itu untuk menghilangkan stres saja. Kalau tidak, temen-teman tidak bisa konsentrasi dalam memantau jalur-jalu penerbangan,” jawab lelaki itu sekenanya. ”Oh, gitu ya. Kalau stres ya gak usah bekerja saja. Cukup di rumah. Di sini kan butuh orang sehat. Bukan untuk orang stres,” jawab pak Dis tak mau kalah. Melihat jawaban itu, lelaki tadi tersenyum kecut. ”Iya, pak. Siap,” jawabnya dengan wajah pucat. ”Tolong ya, pak. yang stres diistirahatkan saja,” tambah pak Dis. Setelah itu, pak Dis minta penjelasan tentang komputer raksasa yang baru saja didatangkan oleh kementeriannya. Setelah itu, pak Dis berkeliling dan melihat sekeliling. Begitu melihat ada piring makan, sendok, mangkuk dan beberapa bekas pembungkus mie, pak Dis berucap lagi. ”Lebih komplit disini, dibuka kantin atau resto ya,” ucapnya sinis. Sindiran ini ternyata direspon positif. Buktinya, beberapa lelaki yang sebelumnya mengikuti langkah kita, buru-buru menugasi kawannya membersihkan bekas makanan, piring atau apa saja yang ada di meja sekitar komputer. Akupun hanya senyum-senyum melihat karyawan di bagian komputer itu kelabakan.

Kekecewaan Dahlan Iskan

Puas berkeliling, pak Dis minta ditunjukkan tower tempat mesin ATC berada. Sesuai namanya, Tower ini merupakan bagian tertinggi yang ada di bandara Soeta. Tower inilah tempat paling vital dari setiap bandara. Karena di tempat inilah komunikasi antara petugas dengan pilot pesawat untuk minta ijin landing atau take off pesawat. Sial. Meskipun tempat ini bisa dikatakan jantungnya bandara, tidak seperti yang digambarkan. Super sterilnya tidak tampak. Putung rokok juga masih ada di beberapa tempat. Bahkan, sebuah asbak tinggi, juga disiapkan. Pak menteri, kembali kecewa. Peralatan serba canggih dan super mahal, tidak diimbangi dengan atitu operatornya. Ketka ditanya mengapa masih ada putung dan asbak, petugas tadi berkata lugu.

”Biasanya kalau teman-teman panik, pelampiasannya memukul-mukul berbagai alat yang ada untuk pelampiasan kegalauan sambil menyanyi-nyanyi, pak. Apalagi jika cuacanya buruk seperti akhir-akhir ini,” ujar petugas yang bertanggung jawab di bagian tower. Pak Dis pun mendengar dengan serius jawaban petugas tersebut. ”Oh begitu. Bagus, bagus,” jawab menteri kelahiran Takeran sambil mengangguk-anggukkan kepala. Sejenak, pak Dis minta penjelasan secara rinci, bagaimana dan apa keluhan yang dirasakan karyawan di bagian tower itu. Puas, pak Dis mengajak beberapa supervisor turun. Di sebuah ruangan kecil, pak Dis mengatakan, bahwa semua keluhan akan ditindak lanjuti. Utamanya, masalah stres dan menabuh bunyi-bunyian di bagian tower sebagai pelampiasan kegalauan karyawan.

”Ita, tolong, bapak-bapak ini anda beri penjelasan, bagaimana kinerja kita di Jawa Pos dulu. Bila perlu, besok, yang dibagian tower dibuatkan orkestra untuk konser musik. Anda kan mantan wartawan musik toh, jadi gampang untuk mengatur mereka,” kata pak Dis kepadaku. Mendengar ucapan pak Dis kepadaku, beberapa supervisor tadi hanya menganggukkan kepala.

Jelas sekali, jika pak Dis kecewa. Jelas, bila pak menteri gundah. 

ATC Berbenah

Kunjungan ke ATC memang mengagetkan banyak pihak. Kunjungan ke instansi yang ada dalam wilayah Perum Angkasa Pura (PAP) itu membuat pusing banyak kalangan. Namun demikian, semua itu ada hasilnya. Sindiran-sindiran pedas yang disampaikan abah Dis dalam tulisan terdahulu, direspon positif oleh ATC. Bukti konkritnya, ada pengumuman penerimaan karyawan BUMN yang diiklankan di harian Kompas. Pengumuman itu cukup besar. Kalau tidak salah 3 kolom. Syarat utamanya adalah ”tidak merokok” dengan berbagai bagian yang dibutuhkan. Termasuk di ATC. Bukan lantaran, setelah itu abah Dis beberapa kali sidak, jika ATC benar-benar berbenah. Melainkan karena mungkin tingkat kesadaran karyawan dan stafnya mulai tumbuh. Bahwa kebesihan adalah sebagian dari iman, seperti yang ada di dalam stiker yang kulihat di tempelkan di beberapa ruangan.

Abah Dis memang tidak merokok. Tetapi, abah Dis tidak anti pada perokok. Bentuk toleransinya adalah dengan cara meminta merokok di luar ruangan. Apalagi, jika ruangan itu ber AC. Selain akan menganggu kesehatan perokok pasif, merokok menurut bagi pak Dis sangat merugikan. ”Memang tidak mungkin, manusia tidak sakit. Tapi untuk sakit yang ringan-ringan saja, tidak yang berat-berat. Kalau beraaaat, sepertgi saya dulu waaaah, jangan sampailah. Cukup saya saja yang merasakannya,” tuturnya sambil merinci segudang kerugian-kerugian perokok. Mulai dari finansial hingga ancaman kesehatan yang bisa memiskinkan penderita. ”Apalagi masyarakat miskin, kalau bisa jangan sampai sakit. Saya sudah merasakan semuanya. Bagaimana rasanya ibu saya sakit dulu. Bagaimana susahnya bapak saya dulu mencarikan obat hingga menjual semua barang yang dimiliki. Sudahlah, sudah, cukup saya saja,” ujarnya mengurai masa lalu keluarganya.

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/N3PqEydNRls” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Nilai dan Budaya Perusahaan: Perpaduan Antara “Pedal Gas dan Rem” Kelangsungan Institusi

 

Sebuah sistem nilai adalah seperangkat nilai-nilai etika yang konsisten (lebih spesifik lagi, nilai-nilai pribadi dan budaya) dan langkah-langkah yang digunakan untuk tujuan integritas etis atau ideologis. Sistem nilai yang didefinisikan dengan baik adalah sistem moral (Code of Conduct) dari suatu institusi.  

 

Pribadi dan Komunitas 

Satu atau lebih orang dapat memegang sistem nilai. Demikian juga, sistem nilai dapat diterapkan pada salah satu atau banyak orang. Sebuah sistem nilai pribadi dipegang oleh dan diterapkan pada satu orang saja. Sebuah sistem nilai budaya komunitas dipegang  dan diterapkan pada intitusi/kelompok masyarakat. Beberapa sistem nilai komunitas yang tercermin dalam bentuk moral hukum atau hukum positif.

 

Sistem Nilai Perusahaan

Fred Wenstop dan Arild Myrmel mengusulkan struktur untuk sistem nilai perusahaan yang terdiri dari tiga kategori nilai yang komplementer dan disandingkan pada tingkat yang sama sebagai berikut:

·         Kategori pertama adalah nilai Nilai Inti yang mengatur sikap dan karakter organisasi, dan sering ditemukan di bagian-bagian tentang Kode etik pada institusi. Filosofis nilai-nilai dari Anteseden ini, yang sering dikaitkan dengan etika Kebajikan Aristoteles.

·         Kategori kedua adalah Nilai yang dilindungi melalui peraturan, standar dan sertifikasi. Hal ini sering berhubungan dengan bidang-bidang seperti kesehatan, lingkungan dan keamanan.

·         Kategori ketiga  adalah Nilai  yang Diciptakan dari nilai-nilai stakeholders termasuk pemegang saham yang diharapkan sebagai imbalan atas kontribusi mereka kepada perusahaan.

Nilai-nilai ini tunduk pada “trade-off” atau proses tawar-menawar oleh pengambil keputusan atau pemangku kepentingan. Proses ini sering dijelaskan lebih lanjut dalam teori Pemangku Kepentingan (Stakeholder).  

 

1. 

1.1. 

1.2. 

Konsistensi

Sebagai anggota kelompok, masyarakat atau institusi, seseorang dapat memegang kedua sistem nilai pribadi dan sistem nilai komunal pada saat yang sama. Dalam hal ini, dua sistem nilai (satu pribadi dan satu komunal) secara eksternal konsisten asalkan mereka tidak ada kontradiksi atau pengecualian diantara mereka.

Sebuah sistem nilai dalam dirinya sendiri secara internal konsisten ketika nilai-nilainya tidak bertentangan satu sama lain dengan nilai perusahaan serta cukup untuk digunakan pada semua situasi dan diterapkan secara konsisten.

 

 

Saat ini Institusi  dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Kemampuan menyikapi tantangan dan tren yang dibawa oleh zaman akan sangat menentukan apakah sebuah institusi dapat tetap kompetitif atau kehilangan pasar. Tantangan dan tren inilah yang memaksa dan mengharuskan institusi untuk menerapkan logika korporasi, dengan mengedepankan prinsip-prinsip efisiensi pembiayaan, memperhitungkan setiap risiko (Calculability), dan kemampuan untuk memprediksi tantangan dan tren ke depan (Predictability).

Maka tidak heran apabila peran seorang pemimpin institusi semakin menyerupai manajer perusahaan, dan manajemennya makin menitikberatkan pada akuntabilitas. Salah satu dampak dari perubahan ini adalah bergesernya fokus institusi dari sasaran utamanya tidak hanya Civitas Akademika ITB sebagai konsumen internal, namun juga konsumen eksternal dari kalangan “Academic, Business and Goverment (ABG)”. Karena di sini konsumen ada pada posisi produk yang dihasilkan oleh seluruh proses yang ada di institusi.

Proses bisnis (Business Process) sangat ditentukan oleh bagaimana cara menanganinya atau mengelolanya. Jika manajemen sebuah institusi yang dipimpin oleh seorang pemimpin itu bagus, sebagai akibat penerapan nilai dan budaya perusahaan yang konsisten serta berkelanjutan maka otomatis produk atau jasa yang dihasilkannya juga bagus. Jadi sesungguhnya sasaran akhirnya tetap mengarah pada konsumen baik internal maupun eksternal.

Tuntutan kualitas institusi yang bermutu dan terjangkau dapat menyulitkan institusi dalam mendesain, baik program maupun kepastian produk dan jasanya agar dapat diterima pasar. Setiap institusi memiliki problem tersendiri. Dan pada saat yang sama, kalangan “Academic, Business and Goverment (ABG)” juga mempunyai masalah dan isu yang berkaitan dengan kebutuhan tenaga di bidang IT dan Manajemen yang semakin besar. Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut bergantung pada kondisi struktur dan kepemimpinan di tingkat lokal dan latar belakang kalangan “Academic, Business and Goverment (ABG)” itu sendiri. Segenap potensi sumber daya institusi seharusnya dapat digunakan untuk memperbarui, memvalidasi, dan memperluas wilayah keilmuan dan kepakaran yang bersifat humanis dengan menggunakan metode-metode pengetahuan standar.

“Sebuah pertanyaan kritis muncul berkaitan dengan fenomena perusahaan dengan excellent performance seperti GE, Sony, Toyota, atau IBM: bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut mampu bertahan puluhan bahkan ratusan tahun dan selama waktu tersebut mampu secara konsisten mempertahankan kinerjanya yang excellen? Bagaimana mereka bisa demikian adaptif, kuat, dan tegar menghadapi sebesar apa pun hempasan perubahan lingkungan bisnis? Begitu juga bagaimana mereka bisa demikian inovatif dan mampu dengan cepat memanfaatkan peluang-peluang bisnis baru dan reinventing the industry yang menjadi basis dan menentukan masa depannya?”

 Jawaban yang tepat dalam kacamata Hermawan Kartajaya terhadap hal tersebut adalah karena mereka mempunyai tiga komponen inti dari sebuah perusahaan: yaitu inspirasi, kultur, dan institusi yang kokoh. Ketiganya harus padu satu sama lain.

Maka untuk membangun sebuah “Corporate Value and Culture” dalam institusi, pertama adalah usaha mengenali, menemukan, menyadari dan menguraikan budaya perusahaan yang build-in dalam organisasi tersebut. Kemudian menetapkan sasaran yang jelas dan terukur. Sasaran program, dan sasaran kultural yang berupa keyakinan, sikap maupun perilaku.

Dilanjutkan dengan perencanaan dan penerapan dari tindakan-tindakan yang secara ideal akan mewujudkan perubahan pada empat dimensi, yaitu pada individu, pada anggota tim sekerja, pada pimpinan, dan organisasi secara proses, sistem, kebijakan dan struktur.

 Untuk itu karena “cara bekerja” sebuah organisasi harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terus berubah, maka usaha untuk membentuk “Corporate Value and Culture” sebaiknya ditinjau sebagai suatu sistem. Timbal balik sebaiknya diperoleh secara berkala guna meninjau kembali kecocokan dari asumsi semula dan menyesuaikan tindakan selanjutnya. Selain itu setiap pemimpin harus memikul beban untuk membentuk atau memelihara “Corporate Value and Culture” sesuai dengan otoritasnya. Ia merupakan penerjemah bagi bawahan di unit kerjanya. Terjemahannya itu tentu dipengaruhi oleh apakah ia mengerti dan menerima nilai dan budaya makro dari perusahaannya. Bila sudah jelas, ia wajib memelihara, menguatkan dan mempertimbangkannya dalam setiap ketetapan dan kebijaksanaan perusahaan. Bila setiap manager mampu untuk menerjemahkan “nilai dan budaya makro” institusi menjadi suatu “nilai dan budaya mikro” di unitnya masing-masing, maka institusi itu akan seperti berlian: satu badan tetapi banyak segi. Adapun institusi yang memiliki Corporate Value and Culture” yang positif ibarat berlian yang tetap diasah dengan baik: meski banyak segi, cahayanya dapat menyatu.  

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/6AFn0vFtLC0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Bahasa Itu Cerminan Peradaban. Bila Punah, Hilang Pula Peradabannya

 

Bahasa daerah sering kali dianggap sebaga sumber perpecahan, padahal itu membentuk “warna dan tekstur dari lukisan” Bangsa Indonesia. Bahasa daerah itu seperti gen orangtua yang diturunkan pada kita, yang membentuk kehidupan menjadi utuh dan berwarna. Kalau hilang, punah pula “garis keturunan” kebangsaan kita.

Bahasa daerah bukan “anak haram” Bahasa Indonesia, ia berhak hidup utk memberi kebahagiaan pada Bangsa Indonesia yg dicintainya. Ia “dilahirkan dgn tangis bahagia”. Banyak fihak menganggap bahasa daerah adalah “Public Enemy” dr Bangsa Indonesia. Padahal wajah kita pun berbeda agar ada “Bhinneka Tunggal Ika”.

Menurut majalah @the_marketeers budaya lokal makin digandrungi. Seharusnya bahasa daerah mendapat tempat layak sebagai bagian utuh STP  (Segmenting, Targeting, Positioning) Bangsa Indonesia. Kita salut untuk Sule (@sule_prikitw) yang mengajak dan menampilkan agar kru @OVJ_Trans7 memakai bahasa Sunda, Jawa, Padang, Batak, Bugis, Manado, Maluku, Papua dan lain-lain karena kita “Berbeda Namun 1 Jua”

Bahasa daerah bukan “hama yg pelu dibasmi”, namun ia seperti “bakteri dalam lambung” yang membantu “pencernaan” budaya bangsa Indonesia. Berbeda dgn rokok, bahasa daerah sering dianggap “candu” yang harus dibasmi. Padahal ia seperti “Sirih yang dikunyah” dan berfungsi sbg “Antibiotik” bagi budaya asing yang tidak sesuai bagi Bangsa Indonesia.

Bahasa daerah seperti sel-sel yang membentuk Peradaban Indonesia. Kalau ia kena “Kanker” serta memasuki stadium 4, akan sulit bagi kita “mengobatinya” dan akan “menimbulkan kematian” bagi Kebudayaan Indonesia. Jelas bagi kita, bahasa itu cerminan peradaban. Bila punah, hilang pula peradabannya.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/jojUTGdpgaI” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

“Prestasi anak-anak di sekolah meningkat pesat saat sudah tidak ada lagi budaya merokok.”~Idris@MataNajwa MetroTV

 

Itulah yang dikatakan M. Idris, Kepala Desa Bone-bone, Enrekang, Sulawesi Selatan untuk membahas desa bebas rokok yang dipimpinnya di acara Mata Najwa  di Metro TV. Menurut dia “Saya ingat waktu kuliah dulu, teman2 saya yang perokok di kampung tidak ada yg jd orang,belum lagi anak2 yg sudah merokok sejak cilik.” Dia berfikir dan mengkhidmati “Sejak itulah saya berpikir,harus ada yang dilakukan tentang hal ini (kebiasaan merokok). Ini untuk memperbaiki taraf kehidupan.” Kemudian Idris melakukan gebrakan: “Saat sy pulang kampung, sy mulai ajak seluruh pemuka desa utk memberdayakan desa bebas asap rokok ini&semuanya langsung mendukung.”  sehingga mulai tahun 2005, desa kami sudah benar-benar tidak ada lagi yang merokok. 

Ada yang unik cara bagaimana Idris bisa sukses: “Bagi yg ketahuan merokok, hukuman pertamanya adalah, harus berteriak di speaker masjid bahwa dia ketahuan merokok”. Kemudian pabila ketahuan lg, hukumannya adalah bekerja untuk umum, semisal memperbaiki jalan, membersihkan masjid, bersihkan MCK, dll. Ini berlaku bagi semua, termasuk pendatang. Kalau ada pendatang ketahuan merokok, dia dipersilakan meninggalkan desa. “Pernah juga turis Prancis ketahuan merokok, dia mau kasih uang suap,kmi tolak,dia mau sembunyi,kmi bilang tak ada tempat sembunyi.” kata Idris. 
Hal ini membuat Bupati pun sempat segan utk masuk desa kami karena masih perokok aktif. Baru tahun 2008 dia berani masuk desa setelah berhenti merokok. Selain itu di desa tersebut juga dilarang menjual makanan yang mengandung zat pewarna dan zat pengawet.Kalau ada yg ketahuan menjual, hukumannya adalah membuatkan/menggantikan biaya pembuatan bubur kacang ijo untuk seluruh anak di desa. “Prestasi anak-anak di sekolah meningkat pesat saat sudah tidak ada lagi budaya merokok.” – Idris mengakhiri ceritanya.
Bagaimana dengan kita?
Menurut saya …….Silahkan Anda Merokok, Asal Pakai Kresek Di Kepala Anda……Mengapa? Sesuai HAM kita bebas merokok karena itu hak azasi, namun anda tidak boleh meracuni udara di sekitar kita karena itu bukan milik anda 🙂
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/ZfqojfipwN0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>