Angklung, Engkau Selalu Ada di Di Relung Bandung

 

Setelah putri kami memilih angklung sebagai ekstra-kurikuler di sekolahnya baik SMP dan SMA, saat ini putra kedua kami ikut jejak kakaknya. Tadi pagi ia ikut “mentas” dalam acara “Angklung Day” di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Minggu (18/11/2012).

 

Tambahan lagi setelah putri kami mendapat kesempatan untuk ikut  pementasan di luar negeri, ketertarikan ini menjadi berganda. Mungkin kebetulan atau tidak, Riris dan Firman menyenangi angklung. Ternyata banyak hal yang bisa didapat dari alat musik asal Bandung ini. Bagi putra putri kami ini, saya lihat sisi positif diantaranya adanya keseimbangan bagi otak kanannya (seni, kreatifitas dll.) sebagai kompensasi setelah memperoleh gemblengan untuk otak kirinya (logika, ilmu dll.) di sekolah dan di rumah.

 

Dikutip dari detik.com, Ribuan pelajar dari sejumlah sekolah di Jawa Barat berkumpul di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Minggu (18/11/2012). Mereka memeriahkan peringatan Hari Angklung sambil menenteng alat musik tradisional angklung.

 

Ketua Panitia Pelaksana Anglung Day, Agung Setiana, mengatakan pelajar yang mengikuti acara ini berasal dari tingkat TK hingga SMA. Selain itu, turut meramaikan kalangan mahasiswa, masyarakat umum, serta komunitas angklung.

 

“Ini merupakan peringatan dua tahun diumumkannya angklung oleh UNESCO. Angklung diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia,” ucap Agung ditemui di lokasi acara.

 

Alat musik tradisional khas Jawa Barat yang terbuat dari bambu ini dikukuhkan UNESCO sebagai The Intangible Heritage pada 18 November 2010 di Nairobi, Kenya. Angklung ditetapkan sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia.

 

“Panitia mengundang sekitar 60 sekolah, dan ribuan pelajar turut hadir dalam Angklung Day ini,” kata Agung.

 

Pelajar itu berbaris di halaman Gedung Sate untuk memainkan anglung secara serentak diiringi perkusi dan paduan suara. Tiap pelajar memegang angklung berbeda nada antara barisan satu dengan lainnya. Kegiatan tersebut berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga jelang siang.

 

Reuni @sman5bdg: Antara Donor Darah, Himne Guru dan Kontribusi Alumni Bagi Sekolahnya

 
Dari pagi sampai siang saya mengikuti reuni di SMA Negeri 5 Bandung. Tak terasa umur yang sudah ABG (Angkatan Babe Gue) ini menjadi “muda” kembali. Terutama melihat “Cinta Pada Pandangan Pertama” yang sampai sekarang masih tidak berani saya ungkapkan…..waduh kok jadi begini…… Ada memang yang sudah sangat berubah rupa dan penampilan, namun semua itu hanya “Iceberg” saja ūüôā
 
Susunan Acara reuni kali ini adalah:
  1. 08.00 – 11.00 Pelaksanaan Donor Darah di Kampus Belitung. 
  2. 11.00-12.00 Sessi Photo Bersama seluruh Angkatan di depan kampus Belitung 8 dan kelas masing2.
  3. 12.00-13.00 Ishoma.
  4. 13.00-16.00 Tepang Sono dengan jajaran Civitas Sekolah dan eks Guru SMA 5 Bandung
 

Acara langsung “digebrak” dengan Donor Darah dan saya kebagian urutan nomor 5 (The Lucky Number)……. Saat itu datang juga sahabat Heru Pramono yang saya “paksa” agar darahnya mau “disedot” PMI. Kemudian dengan “enggan” dia mau masuk ke bilik Donor Darah…… Taraaa! Kurang lebih setengah jam kemudian dia keluar dengan wajah berseri tanpa “penyesalan” ūüôā

 

Sungguh terasa bahwa “Setetes Darah Kita, Menyelamatkan Nyawa Orang Lain”, panitia Reuni kali tidak ingin kehilangan momentum. Meeka sadar bahwa reuni bukan hanya masalah “having fun” (baca: hura2) namun lebih kepada semangat sesuai spanduk reuni yang berbunyi “Berjumpa……Berkumpul……Bermakna”.

 

Acara kedua adalah Foto Bersama…..Inilah waktunya bernarsis-ria…..Teu emut mun ayeuna geus kapala opat manjing kalima…..Ikut berteriak dan bergaya bebas bak John Travolta atau Mick Jagger……Berkali-kali difoto sampai lupa apakah saya pernah di kelas 3B1 atau 3B2……Pokonamah kafoto we lah ūüėÄ

 

Para alumni berfoto di depan kampus Belitung 8 pada saat cuaca panas……Ya itu tadi, kalau soal berpose mah tidak kalah sama anak cucunya….Meriah dan kekanak-kanakan…..Wajar saja sudah lebih dari seperempat abad tidak bertemu ūüėÄ

 

Kemudian alumni “digiring” ke aula di tingkat 3 sebelah belakang kiri SMA 5 Bandung…..Pangling memang atas perubahan yang ada…Semakin padat dan lengkap, namun hampir semua “renghap ranjug” sampai aula di tingkat tiga bakating ku cape ūüôā

 

Sampai di Aula kelupaan belum sempat Sholat Duhur…….Dan pemirsa…..Turun lagi ke lantai dasar untuk sholat di Musholla yang cukup asri. Saat itu “tampuk pimpinan” (imam) sholat diserahkan kepada saya, mungkin saja karena saat itu “Saltum” (Salah Kostum) pakai batik ke acara alumni sehingga terlihat “berwibawa”.

 

Setelah makan siang dari katering milik sesama alumni, acara dilanjutkan dengan “Tepang Sono dengan jajaran Civitas Sekolah dan eks Guru SMA 5 Bandung”. Saat itu hadir guru-guru seperti Ibu Sukapti (Guru Matematika yang kebetulan juga tetangga rumah), Ibu Ani (Biologi) Ibu Winarsih (Sejarah), Ibu Mami Tumbelaka (Bhasa Inggris), Pak Arief (Fisika), Pak Rusli+Bambang (Olahraga), Pak Margana (Matematika) serta Kepala Sekolah saat ini Bapak Jumdiat Marzuki beserta dua Wakasek. 

 

Acara dibuka dengan semua alumni menyanyikan himne Guru sebagai berikut:

 
Saya sebagai pendidik merasakan “bulu kuduk berdiri” pada saat menyanyikannya…..Tak terasa air mata berkumpul di pelupuk mata………..Betapa peran pendidik itu memang sangat besar dan tidak pernah berakhir….
 
Ada yang menarik dari acara ini…Yaitu Tausiyah dari Ustad yang menyinggung bahwa “Reuni ini jangan dijadikan sebagai sarana ‘CLBK’ (Cinta Lama Bersemi Kembali)” namun harus jadi ajang amal bagi Alumni……..Pasti Pak Ustad, saya datang ke reuni ini untuk bersilaturahmi dan berkontribusi pada SMA Negeri 5 Bandung tercinta……….
 
Acara selanjutnya adalah penyampaian “Salam Kadeudeuh” dari alumni untuk guru-guru kami…..Jangan dilihat besarnya, namun makna kecintaan dan rasa terima kasih kami pada beliau semua. Plus foto bersama dengan alumni yang dibagi dlam beberap “kloter” karena masih banyak yang narsis bersama ibu bapak guru tercinta…..
 
Akhirnya acara ditutup dengan janji alumni untuk memberikan satu ruangan kepada SMA Negeri 5 Bandung……Harapannya akan menjadi ladang amal dan “Tanda Mata” dari semua alumni yang hadir………..
 

@LingkunganPembebas Kemana Larinya Airku: Antara Kebutuhan dan Keinginan Penduduk Bandung

 
Saat ini di Muararajeun, tempat tinggal kami, air menjadi barang langka. Setelah mengalami keberlimpahan, saat ini air hanya bisa didapat dengan biaya yang cukup “mahal”. Termasuk di rumah saya yang sekarang, selain ada sumur bor, harus juga menggunakan Filter Air dari Pak Iyan Sofyan salah satu pakar filter dari ITB.
 
Dulu (20 tahun lalu) sumur bor rumah kami dengan kedalaman 6 meter sudah menghasilkan air bersih. Sekarang rata-rata sumur bor di lingkungan kami sudh berkedalaman 12-18 meter. Bahkan di rumah kakak ipar sumbur bornya mempunyai kedalaman 24 meter.
 
Hal ini sesuai dengan prakiraan dan riset tahun 2007 yang menyatakan pengambilan air bawah tanah yang tak terkendali menyebabkan penurunan muka air tanah yang signifikan. Itulah pula yang menyebabkan banyak daerah di Kota Bandung dan sekitarnya digolongkan sebagai daerah rawan dan kritis air. Daerah yang mengalami penurunan lapisan air tanah paling besar adalah kawasan Bandung selatan. Daerah tersebut berpotensi banjir karena lapisan tanahnya sebagian besar terdiri dari lempung yang kurang mampu menyerap air, sementara saluran keluarnya tidak ada.
 
Penurunan tanah ini merupakan salah satu faktor signifikan yang menyebabkan banjir. Ketika titik-titik tanah pada satu kawasan menurun, daerah tersebut menjadi lebih rendah dari tempat-tempat lainnya dan membentuk cekungan, maka daerah tersebut akan menjadi daerah yang berpotensi banjir terutama saat musim hujan. Ironisnya, air menjadi sesuatu yang sulit didapat setiap musim kemarau.
 
Jika diasumsikan jumlah penduduk kawasan Bandung Raya mencapai 7 juta orang dan kebutuhan air bersih sebanyak 125 liter per hari per orang, kebutuhan air yang harus tersedia sekitar 350 juta m3 per tahun.
 
Kebutuhan air bersih untuk industri diperkirakan mencapai 132 juta m3 per tahun, sedangkan untuk keperluan sosial (tempat ibadah, dsb.) dan perkantoran diperkirakan mencapai 30 juta m3 per tahun. Dengan demikian, total kebutuhan air bersih di kawasan ini mencapai 512 juta m3 per tahun.
 
 
Sementara itu, pemenuhan kebutuhan air bersih yang mampu disediakan PDAM Kota Bandung hanya sekitar 17 juta m3 per tahun. Sedangkan PDAM Kab. Bandung-Cimahi baru mampu menyediakan sekitar 19 juta m3 per tahun.
 
Secara keseluruhan, pemenuhan air bersih oleh kedua PDAM itu baru mencapai 36,5 juta m3 per tahun dengan proporsi sumber air bakunya 40% berasal dari air permukaan dan 60% dari air tanah. Pengambilan air tanah yang dilakukan industri terjadi karena PDAM memang tak mampu menyediakan kebutuhan air mereka.
 
Penurunan muka air tanah yang drastis terjadi terutama sejak tahun 1980-an. Hal itu seiring dengan pesatnya perkembangan industri dan permukiman penduduk. Penurunan muka air tanah paling parah terjadi di daerah industri, seperti Cimahi (sekitar Leuwigajah), Batujajar, sekitar Jln. Moh. Toha, Dayeuhkolot, Rancaekek-Cicalengka, Ujungberung, Cicaheum, dan Kiaracondong.
 
Ayo Urang Bandung…….Jangan hamburkan air tanah untuk mencegah Bandung makin ambles atau “tenggelam”…………………..
 

Prestasi @Persib: Antara Kegembiraan Kabayan Serta Fanatisme Viking

 
Persib Bandung, atau sering disingkat menjadi Persib (Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung) adalah salah satu tim sepak bola Indonesia yang terkenal. Sebelum bernama Persib Bandung, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.
 
Pada masa itu, reputasi Persib sebagai salah satu jawara kompetisi perserikatan mulai dibangun. Selama kompetisi perserikatan, Persib tercatat pernah menjadi juara sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1961, 1986, 1990, dan pada kompetisi terakhir pada tahun 1994. Selain itu Persib berhasil menjadi tim peringkat kedua pada tahun 1950, 1959, 1966, 1983, dan 1985.
 
Keperkasaan tim Persib yang dikomandoi Robby Darwis pada kompetisi perserikatan terakhir terus berlanjut dengan keberhasilan mereka merengkuh juara Liga Indonesia pertama pada tahun 1995. Persib yang saat itu tidak diperkuat pemain asing berhasil menembus dominasi tim tim eks galatama yang merajai babak penyisihan dan menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya tampil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol yang diciptakan oleh Sutiono Lamso pada menit ke-76.
 
Sayangnya setelah juara, prestasi Persib cenderung menurun. Puncaknya terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun 2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru-biru ini berhasil bertahan di Divisi Utama.
 
Prestasi Persib selain didukung oleh pemain, pelatih dan manajemen yang baik, juga didukung oleh “bobotoh” (Fans). Menarik adanya fans Persib ini pada saat Viking lahir sebagai bobotoh utama. Viking persib adalah supporter Indonesia dari Persib Bandung yang telah berdiri sejak tahun 1993. Anggota Viking sendiri telah berkembang kurang lebih 40,000 orang yang tersebar di lebih dari 50 kota di sekitar Jawa Barat dan Banten. Dalam website-nya, Viking Persib “mengaku” sebagai supporter terbesar dan terhebat di seluruh Indonesia.
 
Menilik penamaan Viking Persib, mungkin hal ini terinspirasi Bangsa Viking dari Skandinavia yang berprofesi sebagai pedagang, peladang, dan paling terkenal sebagai perompak (seringkali setelah gagal berniaga) yang di antara tahun 800 dan 1050 menjarah, menduduki dan berdagang sepanjang pesisir, sungai dan pulau di Eropa dan pesisir timur laut Amerika Utara, serta bagian timur Eropa sampai ke Rusia dan Konstantinopel. Mereka memanggil diri mereka sebagai Norsemen (orang utara), sedangkan sumber-sumber utama Russia dan Bizantium menyebut mereka dengan nama Varangian. Sampai sekarang orang Skandinavia modern masih merujuk kepada diri mereka sebagai nordbor (penduduk utara).
 
Melihat kenyataan yang ada, saya mengusulkan adanya kelompok bobotoh yang lebih “Local Content” berlatar belakang Sunda seperti  Kabayan Persib Fans Club. Hal ini cocok dengan tokoh Kabayan yang merupakan tokoh imajinatif dari budaya Sunda yang juga telah menjadi tokoh imajinatif masyarakat umum di Indonesia. Polahnya dianggap lucu, polos,tetapi sekaligus cerdas. Cerita-cerita lucu mengenai Kabayan di masyarakat Sunda dituturkan turun temurun secara lisan sejak abad ke-19 sampai sekarang. Seluruh cerita Kabayan juga menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda yang terus berkembang sesuai zaman.
 
Diharapkan, dengan adanya Kabayan Persib Fans Club, para pemain merasa terhibur dan bermain bola penuh kegembiraan. Begitu pula diharapkan para “bobotoh” tidak anarkis karena idola tetap riang gembira dan penuh percaya diri dlam keadaan menang atau kalah. Hal ini akan meberikan angin segara pada persepak-bolaan Bandung, mjawa barat atau Indonesia karena semua fihak merasa terhibur dengan tingkah polah Pemangku Kepentingan Sepak Bola Khas Kabayan yang lucu, polos,tetapi sekaligus cerdas. 
Kumaha mun kitu lur……..
 

#LingkunganPembebas Anak Cucuku, Aku Tinggalkan Air Sebagai Sumber Kehidupan Dan Sarana Penghidupan

Hari ini saya memasang Filter Air dari Pak Iyan Sofyan salah satu pakar filter dari ITB. Rumah kami di Muararajeun sebetulnya punya catatan cemerlang di bidang air tanah, karena punya kualitas yang baik disebabkan tanahnya terdiri dari cadas. Namun seperti tempat lainnya di Bandung, mengalami penurunan air tanah yang cepat sehingga mempengaruhi kualitasnya sebagai Sumber Kehidupan. Untuk itulah dibutuhkan solusi dan strategi untuk menyiasati kualitas air yang terus menurun karena banyaknya tempat yang menggunakan air sangat banyak sebagai Sarana Penghidupan seperti Hotel, Kantor, Mal, Tempat Rekreasi, Bengkel dan lain-lain.
Perlu diketahui sesuai data Pikiran Rakyat pada tahun 2007,  pengambilan air bawah tanah yang tak terkendali menyebabkan penurunan muka air tanah yang signifikan. Itulah pula yang menyebabkan banyak daerah di Kota Bandung dan sekitarnya digolongkan sebagai daerah rawan dan kritis air. Daerah yang mengalami penurunan lapisan air tanah paling besar adalah kawasan Bandung selatan. Daerah tersebut berpotensi banjir karena lapisan tanahnya sebagian besar terdiri dari lempung yang kurang mampu menyerap air, sementara saluran keluarnya tidak ada.
Penurunan tanah ini merupakan salah satu faktor signifikan yang menyebabkan banjir. Ketika titik-titik tanah pada satu kawasan menurun, daerah tersebut menjadi lebih rendah dari tempat-tempat lainnya dan membentuk cekungan, maka daerah tersebut akan menjadi daerah yang berpotensi banjir terutama saat musim hujan. Ironisnya, air menjadi sesuatu yang sulit didapat setiap musim kemarau.
Jika diasumsikan jumlah penduduk kawasan Bandung Raya mencapai 7 juta orang dan kebutuhan air bersih sebanyak 125 liter per hari per orang, kebutuhan air yang harus tersedia sekitar 350 juta m3 per tahun.
Kebutuhan air bersih untuk industri diperkirakan mencapai 132 juta m3 per tahun, sedangkan untuk keperluan sosial (tempat ibadah, dsb.) dan perkantoran diperkirakan mencapai 30 juta m3 per tahun. Dengan demikian, total kebutuhan air bersih di kawasan ini mencapai 512 juta m3 per tahun.
Sementara itu, pemenuhan kebutuhan air bersih yang mampu disediakan PDAM Kota Bandung hanya sekitar 17 juta m3 per tahun. Sedangkan PDAM Kab. Bandung-Cimahi baru mampu menyediakan sekitar 19 juta m3 per tahun.
Secara keseluruhan, pemenuhan air bersih oleh kedua PDAM itu baru mencapai 36,5 juta m3 per tahun dengan proporsi sumber air bakunya 40% berasal dari air permukaan dan 60% dari air tanah. Pengambilan air tanah yang dilakukan industri terjadi karena PDAM memang tak mampu menyediakan kebutuhan air mereka.
Penurunan muka air tanah yang drastis terjadi terutama sejak tahun 1980-an. Hal itu seiring dengan pesatnya perkembangan industri dan permukiman penduduk. Penurunan muka air tanah paling parah terjadi di daerah industri, seperti Cimahi (sekitar Leuwigajah), Batujajar, sekitar Jln. Moh. Toha, Dayeuhkolot, Rancaekek-Cicalengka, Ujungberung, Cicaheum, dan Kiaracondong.
Di daerah permukiman dan perumahan, penurunan terjadi pada muka air tanah dangkal. Hal itu terlihat dari sulitnya penduduk mendapatkan air tanah dari sumur-sumur mereka. Berdasarkan data Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jabar, di seluruh cekungan Bandung terdapat 2.237 sumur bor air tanah.
Kondisi penurunan air tanah yang disertai amblesnya permukaan tanah ini terjadi terus setiap tahun. Keadaan ini juga selalu dipaparkan para ahli. Apakah harus menunggu hingga cekungan Bandung benar-benar cekung? Atau, hingga bangunan mulai banyak yang miring karena tiang pancangnya bergeser? Tak ada kata terlambat untuk berbuat, setidaknya mulai dari diri kita sendiri.
Upaya yang dapat dilakukan untuk menekan laju penurunan permukaan tanah di cekungan Bandung salah satunya dengan penggunaan kembali air yang telah digunakan (reuse) sehingga lebih efisien. Implementasi regulasi pengambilan air tanah juga harus ditegakkan dengan rencana tata ruang wilayah yang ditaati dan diimplementasikan secara baik oleh semua pihak, baik oleh masyarakat dan pemerintah. Masyarakat di wilayah cekungan Bandung dapat berbuat dengan memperbanyak air yang meresap ke dalam tanah dengan menanam pepohonan, penghutanan, sumur resapan atau bendung penampung air. Masyarakat juga dapat mengalihkan pemenuhan kebutuhan air bersih yang berasal dari air tanah dengan sumber air lain seperti air permukaan atau penampungan air hujan

Basa Sunda Poe Ieu Keur Meumeujeuhna #SubtitleSunda

Poe ieu di sakulawet nagri Sunda diwajibkeun make Basa Sunda. Kacida sugemana ningali kulawadet anu lain Urang Sunda. Asa leungit kahariwang saperti tulisan simkuring tanggal 31 Januari 2008 nu judulna “Apakah kita perlu menguasai bahasa daerah?“. Komo mun ningali Kalawarta (Time Line) di Twitter saperti di handap beuki reureus jeng hayang seuri wae:

Tren Indonesia 

· Ubah

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/iKHVHLtQgPA” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Tweet 

Stalk of jackfruit. Father’s wedding. Tuesday did not tell me (Tongtolang nangka. Kawinan bapa. Poe salasa teu beja-beja) 

 

“Squidward, maneh ngebul, siga sayur anu di sepan, tapi leuwih pinter” -spongebob 

Knock Knock Kolenknock. The hedgehog dead sleepy (Trang trang kolentrang. Si londok paeh nundutan)  

Mr Delon, Mr Delon. Please open the wind gate (Pa Deong, Pa Deong. Pangmukakeun Lawang Angin)  

 

hirup leuwih pondok lamun maneh teu nyobian cinta urang, wkwkwkwk 

Doesn’t want father+mother.Want to kid w/ tapering eyelash>Alim karamana alim ka ibuna,hoyong kaputrana nu centik bulu socana

Forrest Gump: “Saur ’ema, hirup teh jiga sawadaheun coklat. Maneh moal terang maneh deuk meunang naon.” 

Eminem: Hampura ema, abdi teu maksad nganyeyeri ema. abdi teu maksad ema janten ceurik. Wengi ayeuna abdi bebersih kloset.

Yoda: “Heug. Budakna teh goreng adat. Jiga abahna weh kumaha.” 

Upami anjeun palay nyitak gul,anjeun kedah ngahontal target. ~Fabio Capelo~  

Kuring, bade sataranjang panon poe tibeulat ka anjeun RT : Aku, akan setelanjang matahari mencintaimu.

AbdullahHasan:Maneh urg Amerika teu ngaroko deui.Hirup maraneh paranjang+ngabosenkeun  

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/roq0guyG8Bs” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Angklung dan TIK: Salah Satu Pusaka dan Kemajuan Teknologi Dari Bandung

Sebetulnya ketertarikan saya pada Angklung sudah dimulai sejak lama. Hal ini kemudian dipacu karena salah satu teman di SMP adalah putra dari Ujo Ngalagena tokoh angklung yang sangat terkenal itu. Pernah juga beberapa kali memainkan alat musik ini di sekolah namun tidak begitu intens karena dikemudian hari lebih menyenangi Tembang Cianjuran.
Ketertarikan dan Kebutuhan (Want & Need) itu berubah ketika putri kami memilih angklung sebagai ekstra-kurikulernya di sekolahnya SMP Negeri 5 dan SMA Negeri 3 Bandung . Tambahan lagi setelah mendapat kesempatan untuk ikut  pementasan di luar negeri, ketertarikan ini menjadi berganda. Mungkin kebetulan atau tidak, Riris menyenangi angklung. Ternyata banyak hal yang bisa didapat dari alat musik asal Bandung ini. Bagi putri kami ini, saya lihat sisi positif diantaranya adanya keseimbangan bagi otak kanannya (seni, kreatifitas dll.) sebagai kompensasi setelah memperoleh gemblengan untuk otak kirinya (logika, ilmu dll.) di sekolah dan di rumah.
Kemudian, pada Techno.Edu.Preneur Seminar+Expo 31 Mei 2012 yang diadakan di Aula Barat ITB dimeriahkan oleh penampilan Robot Angklung karya Kurnia Jaya Eliazar (Alumni Informatika Universitas Widyatama) dan Ferry Stephanus Suwita (Siswa SMK-4 Bandung) yang memberi hiburan tersendiri bagi hadirin. Karya kombinasi High-Tech dan Kearifan Lokal ini membius para pembicara, peserta seminar dan pengunjung expo terutama saat memainkan lagu “Pahlwan Tanpa Tanda Jasa”. Semoga karya “Urang Bandung” ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Bahkan bererapa hari lalu, perwakilan dari ITB dan Saung sempat berdiskusi dengan mereka berdua dan menyatakan kekagumannya.
Angklung yang terdiri dari batang bambu vertikal yang digerakkan atau digoyang sehingga menimbulkan bunyi, kelihatannya sebuah alat musik sederhana. Tapi alat musik ini sebagai Salah Satu Pusaka Dari Bandung dapat memberi nuansa orkestra yang kental bilamana dimainkan dengan benar dan penuh penghayatan. Hal ini terbukti dari pementasan yang diadakan di Saung Mang Ujo dan luar negeri sering mendapat sambutan meriah dan “Standing Ovation” dari turis mancanegara bahkan pecinta  musik dari berbagai negara.
Nah kayaknya tidak salah kalau kita mencintai alat musik ini khan?
Angklung memang salah satu pusaka dari Bandung
Engkau tidak hanya pantas menjadi bintang panggung
Menjadi ciri integritas dan keramahan yang adiluhung
Satukan jiwa dan rasa dalam musik yang agung
Angklung  jangan sampai tersandung
Boleh dimainkan oleh  orang sekampung
Namun jangan  kita terus terkungkung
Alat musik ini harus menjadi sesuatu yang terhitung

Bandung Air Show : Bersatunya Teknologi dengan Vakansi

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=cDmlIKm94Ek&w=600&h=400]

Bandung Air Show Dibanjiri Ribuan Pengunjung    25/09/2010 19:07

Taufik Hidayat, Liputan6.com, Bandung: Peristiwa jatuhnya pesawat aerobatik tidak menyurutkan niat pengunjung, untuk mengunjungi arena Bandung Air Show di Pangkalan Husein Sastranegara, Bandung,Jawa barat, Sabtu (25/9). Antrean panjang terlihat di gerbang masuk menuju arena.Pameran yang dilaksanakan dalam rangka menyambut HUT Kota Bandung itu dibanjiri sedikitnya 20 ribu pengunjung. Mereka ingin melihat beragam pesawat terbang dari dekat. Misalnya saja, pesawat produksi PT Dirgantara Iindonesia dansejumlah pesawat terbang milik TNI Angkatan Udara. (APY/SHA)
Related articles

Implementasi Elearning Memerlukan Dukungan Kebijakan

E-learning (right page)

Image by mushon via Flickr

Implementasi Elearning Memerlukan Dukungan Kebijakan

Posted on December 9, 2010 by bayu

Bandung, comLabs.itb.ac.id-¬†‚ÄúImplementasi Elearning akan berdampak kecil jika hanya dilakukan berdasarkan inisiatif dosen/guru atau prodi, untuk melakukan implementasi elearning secara berhasil maka dibutuhkan dukungan kebijakan terpusat oleh Rektor atau Kepala Sekolah (pimpinan tertinggi) di Institusi Pendidikan‚ÄĚ.¬†Inilah yang diungkapkan oleh Penggagas BlendedLearning ITB, Bapak Prof. Ichsan Setyaputra dalam Seminar Nasional eLearning: ‚ÄúPeran eLearning dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia‚ÄĚ, 06 Desember 2010, bertempat di Aula Timur ITB.

ITB berpengalaman dalam melakukan implementasi program blendedlearning sehingga berhasil melakukan transformasi pendidikan yang semakin berkualitas dengan menggunakan dukungan teknologi informasi khususnya elearning. Dengan program Blendedlearning, maka kegiatan tatap muka tetap dilaksanakan, namun pola collaboratif learning antara dosen/pengajar dan mahasiswa/siswa, dan antar pelajar sendiri dapat dilaksanakan melalui online. Dengan cara seperti ini, maka proses belajar mengajar akan berjalan dengan lebih efektif walaupun pada tahap awal dibutuhkan effort lebih yang harus dilakukan oleh dosen/pengajar.

Acara seminar nasional ini juga menghadirkan para pembicara ahli dibidang elearning yaitu Bapak Dwi Hendratmo Ph.D (Kepala Pusat Pembelajaran Jarak Jauh ITB), Bapak Arief Bahtiar (Koordinator Blendedlearning ITB) dan Bapak Djadja Ahmad Sardjana, S.T, M.M (Dosen, Praktisi eLearning dan Pendidikan) dengan moderator Bapak Bayu Adhitya Nugraha (Instruktur eLearning ComLabs USDI ITB)

Acara yang dilaksanakan oleh ComLabs USDI ITB ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari kalangan dunia pendidikan di Indonesia, terbukti dengan membludaknya jumlah peserta yang hadir sehingga mencapai 400 orang. Kedepan, ComLabs USDI ITB akan terus mengadakan kegiatan-kegiatan seminar dan workshop elearning untuk mendukung pengembangan komunitas ICT yang kokoh di Indonesia dalam rangka penerapan teknologi Informasi di dunia pendidikan.
Bagi Anda yang menginginkan materi para pembicara Seminar Nasional Elearning dapat mengunduhnya (download) di : http://www.comlabs.itb.ac.id/workshop/seminar/