Karakter Bangsa dan Kebutuhan Hidup: Apakah Hubungan Mereka Akan Seia Sekata?

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara serta pembentuk Karakter Bangsa Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat KebijaksanaanDalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Perlu diketahui, sila-sila ini tercantum pada paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945.

Pertanyaannya adalah:

“Apakah Karakter Bangsa ini bisa berdampingan Seia Sekata dengan Niat (Heart), Pikiran (Head) dan Tindakan (Hand) warga negara dalam mencukupi Kebutuhan Hidup?”

Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mensejahterakan kehidupan bangsa. Salah satu langkah strategis adalah setiap warga negara Indonesia harus memperoleh pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, ras, etnis, agama, dan gender. Pemerataan dan mutu pendidikan  akan membuat warga negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya, mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila. 

Pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan manusia sepanjang hayatnya, baik sebagai individu, kelompok sosial, maupun sebagai bangsa. Pendidikan telah terbukti mampu mengembangkan sumber daya manusia yang merupakan karunia Allah SWT, serta memiliki kemampuan untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga kehidupan manusia semakin beradab.

John Vaisey, mengemukakan bahwa pendidikan adalah dasar dari pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, sains dan teknologi, menekan dan mengurang kemiskinan dan ketimpangan pendapatan, serta peningkatan kualitas peradaban pada umumnya. Selanjutnya dikemukakan juga oleh John Vayse bahwa sejumlah besar dari apa yang kita ketahui diperoleh dari proses belajar secara formal di lembaga-lembaga pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi).  

Berdasarkan pandangan di atas, Cristope J. Lucas  begitu yakin bahwa pendidikan menyimpan kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan keseluruhan aspek lingkungan hidup dan dapat memberikan informasi yang paling berharga mengenai pegangan hidup masa depan di dunia, serta membantu anak didik dalam mempersiapkan kebutuhan hidup yang esensial demi menghadapi perubahan di masa depan.  Sementara itu John Dewey berpendapat bahwa pendidikan sebagai salah satu kebutuhan hidup (a neccesity of life), sebagai bimbingan (a direction), sebagai sarana pertumbuhan(as growth), yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup.

Pendidikan mengandung misi keseluruhan aspek kebutuhan hidup serta perubahan-perubahan yang terjadi.

 

“;

Sekolah Yang Baik: SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) atau SBA (Sekolah Bertaraf Akhirat)

Menurut Wikipedia, Sekolah berasal dari bahasa Yunani σχολή (schole), yang aslinya berarti “kesenangan”, atau juga “Tempat yang menyenangkan” (Gambar-1). Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk memungkinkan dan mendorong siswa (atau “murid”) untuk belajar di bawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, siswa mengalami kemajuan melalui serangkaian tingktan sekolah. Nama-nama untuk sekolah berbeda di setiap negara, tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anak dan sekolah menengah bagi remaja yang telah menyelesaikan pendidikan dasar.

Hari Sabtu kemarin saya mengambil raport tengah semester milik Firman. Cukup terkejut karena raport dibagikan di lantai 8 Gedung Pos Indonesia….Bagi sekolah yang termasuk kluster 2 dan “gratis” di Bandung, ini termasuk sangat mewah……

Acara dibuka dengan “School Profile” berupa film singkat yang digarap cukup apik dan profesional. Kemudian Kepala Sekolah menyampikan betapa pentingnya sekolah tidak hanya berfikir tentang SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) yang hanya mementingkan intelejensia. Namun SMP ini bertekda menjadi SBA (Sekolah Bertaraf Akhirat) yang mempunyai kesetimbangan IQ, EQ dan SQ agar anak bisa tumbuh berkembang dengan wajar dan natural.

Kemudian seorang pembicara dari ESQ Center memberikan beberapa contoh masyarakat di manapun agar menjadikan 7 Budi Utama yaitu: Jujur, Tanggung Jawab, Visioner, Disiplin, Kerjasama, Adil, dan Peduli sebagai karakter bangsa. Prinsip-prinsip yang tidak sesuai dengan suara hati akan berakhir dengan kegagalan, baik kegagalan lahiriah maupun kegagalan batiniah. Dunia telah membuktikan bahwa prinsip yang tidak sejalan dengan suara hati atau mengabaikan hati nurani seperti contoh diatas, terbukti hanya mengakibatkan kesengsaraan bahkan kehancuran. 

Sekolah ini Berdasarkan Visi dan Misinya, memiliki tujuan:

  1. Membentuk pribadi yang religius,agamis ,berakhlak solih/solihat ,cerdas dan berpengetahuan luas serta mampu membuat inovasi dalam dunia pendidikan.
  2. Menciptakan sebuah lembaga pendidikan yang membekali keterampilan dan kecakapan hidup berbasis teknologi untuk dapat hidup lebih maju dan mandiri serta dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
  3. Dapat memberikan bekal dalam menghadapi tantangan kehidupan dan unggul menghadapi berbagai tantangan dalam era globalisasi.

Sedngkan strategi pembelajaran dari sekolah ini adalah:

  1. Setiap hari melaksanakan pembiasaan Asmaul Husna dan sholat dhuha.
  2. Pembelajaran baca Al Qur’an (surat pendek) setelah shalat dhuhur berjamah selama 20 menit.
  3. Mengikuti kejuaraan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) minimal tingkat kota Bandung.

 

#PendidikPembebas @PojokPendidikan Apakah Kita Sudah Memberikan Yang Terbaik Bagi Anak Didik Kita?

 

Pagi ini saya menjadi “Nara Sumber Dadakan” di acara “Teacher Social Media” yang diadakan Pojok Pendidikan dan LPP Masjid Salman-ITB. Sebagai sesama pendidik, selalu saya tekankan pada mereka agar Mencintai Profesinya sebagai Pendidik karena “Guru bukan sebuah Profesi atau Pengabdian, namun kecintaan dan gelora untuk melakukan perubahan”. Selain itu, Peran Guru  berubah, dia bukan lagi satu-satunya sumber kebenaran namun koki yang menyajikan pembelajaran agar menarik dan  bermanfaat bagi peserta didik.

 

Para guru yang paling dikagumi  anak didik adalah mereka yang tetap punya  keingin-tahuan secara intelektual dan profesional baik di dalam dan di luar kelas. Mereka menghindari stagnasi (kebekuan) dan mempertahankan semangat yang patut ditiru dalam proses belajar dan kehiduapan mereka sendiri. Mereka tetap hidup dalam kenangan siswa selamanya karena, rasa kreativitas menyenangkan, dan kasih sayang mereka.

 

Berikut adalah kualitas pendidik paling  berkontribusi agar  sukses, tahan lama, dan bahagia dalam karir mereka:

 

 

1. Guru yang sukses mempunyai harapan tinggi:
Para guru yang paling efektif mengharapkan prestasi besar dari siswa mereka, dan mereka tidak menerima sesuatu yang kurang dari itu. Di bidang pendidikan, harapan membentuk “self-fulfilling prophecy.” Ketika guru percaya bahwa setiap siswa dapat melambungkan harapan melampaui batas imajinasinya, anak-anak akan merasakan kepercayaan dan bekerja dengan guru untuk mewujudkannya.

 

 

2. Mereka berpikiran kreatif:
Para guru terbaik berpikir di luar kotak (Out of The Box), di luar kelas dan di luar norma. Mereka melompat “ke luar dinding kelas” dan mengajak siswa  dengan mereka! Sebisa mungkin, guru  mencoba untuk membuat pengalaman kelas yang menarik dan mengesankan bagi para siswa. Mereka mencari cara untuk memberikan siswa mereka aplikasi dunia nyata untuk pengetahuan, mengambil pembelajaran ke depan tindakan-dikemas tingkat. Bila kita berpikir taktis, tak terduga, berorientasi gerakan, dan sedikit gila … maka Anda akan berada di jalur yang benar.

 

 

3. Guru yang baik fleksibel dan sensitif:
Para guru terbaik meninggalkan kebutuhan mereka sendiri dan tetap peka terhadap kebutuhan orang lain, termasuk para siswa, orang tua, kolega, dan masyarakat. Ini menantang, karena setiap individu membutuhkan sesuatu yang berbeda, tapi guru yang sukses adalah jenis khusus yang memainkan banyak peran yang berbeda dalam hari tertentu dengan “fluiditas” dan rahmat, namun tetap setia kepada diri mereka sendiri.

 

 

4. Mereka penasaran, percaya diri, dan berkembang:
Kita semua akrab dengan guru yang stagnan, sinis, rendah-energi serta mengulur waktu mereka sampai pensiun. Mereka juga “menonton jam” (hanya mengisi waktu) bahkan lebih parah daripada siswa yang sekolah. Itulah yang TIDAK boleh dilakukan oleh guru. Sebaliknya, guru yang paling dikagumi memperbaharui energi mereka dengan belajar ide-ide baru dari guru yang lebih muda, dan mereka tidak merasa terancam oleh cara-cara baru dalam melakukan sesuatu di sekolah atau kampus. Mereka memiliki prinsip-prinsip yang kuat, tapi masih berkembang dengan perubahan zaman. Mereka “merangkul” teknologi baru dan percaya diri maju ke masa depan.

 

 

5. Mereka adalah manusia yang tidak sempurna:
Para pendidik yang paling efektif membawa diri mereka ke seluruh tantangan yang ada. Mereka merayakan keberhasilan siswa, menunjukkan belas kasih bagi orang tua yang berjuang, menceritakan kisah dari kehidupan mereka sendiri, menertawakan kesalahan mereka, berbagi kebiasaan unik mereka, dan tidak takut untuk menjadi manusia tidak sempurna  di depan murid-murid mereka.

Mereka memahami bahwa guru tidak hanya memberikan pelajaran dan kurikulum, melainkan guru-guru terbaik adalah pemimpin inspiratif yang menunjukkan kepada siswa bagaimana harus bersikap dalam semua bidang kehidupan dan di semua jenis situasi. Guru yang baik mengakui ketika mereka tidak tahu jawabannya. Mereka meminta maaf bila diperlukan dan memperlakukan siswa dengan hormat.

 

 

6. Guru yang sukses menyenangkan dalam belajar dan dalam kehidupan:
Para guru yang paling dikagumi menyenangkan, ringan  serta keluar dari pembelajaran yang serius. Mereka tidak takut untuk menjadi konyol karena mereka dapat memusatkan perhatian siswa kembali – dengan hanya bahasa tubuh atau perubahan nada suara.