Kerjasama Telematika Dalam Rangka Mengantisipasi ACFTA

Berdasarkan kenyataan yang ada saat ini, dunia Teknologi Telematika sudah menjadi ilmu atau sebuah terapan yang wajib dimengerti oleh masyarakat pada umumnya terutama setelah diterapkannya “ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA)”. Persaingan yang ketat di pentas ekonomi dunia memunculkan  kesadaran perlunya pemahaman serta penguasaan Teknologi Telematika untuk memenangkan persaingan. 

Kerja sama dunia akademik, profesional/bisnis dan pemerintah (ABG/ Academic, Business & Goverment) yang berkesinambungan dan saling menguntungkan sangatlah diperlukan untuk  meningkatkan dan mengefektifkan sumber daya manusia Indonesia. Kerjasama yang melibatkan universitas, dunia usaha dan pemerintah diharapkan akan memberikan manfaat di bidang telekomunikasi dan informatika terhadap perkembangan dan peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia sesuai salah satu pernyataan dari Direktur Utama PT Telkomsel Sarwoto Atmo Sutarwo bahwa “Sekitar 1% pertumbuhan telekomunikasi bisa membantu 1% pertumbuhan GNP.” 

Tentunya program ini memiliki banyak manfaat. Bagi kalangan birokrat, kerja sama yang dilakukan diharapkan dapat menjadi terciptanya salah satu Pusat Unggulan Riset dan Inovasi Teknologi Telematika (Center for Research and Innovation of Competitive Telematics Technology). Di lain fihak kerjasama ini dapat menghasilkan riset bagi pengusaha yang bermanfat diantaranya untuk mengetahui mapping situasi pasar, kendala operasional, segmentasi sosial dan ekonomi serta perilaku konsumen. 

Sedangkan bagi kalangan akademis, manfaatnya adalah dapat memperoleh ”Transfer of Knowledge, Transfer of Technology, dan Transfer of Resources” dari salah operator telekomunikasi di Indonesia. Pada akhirnya hal ini akan menguntungkan seluruh pemangku kepentingan akademis dalam menyongsong persaingan kompetensi sumber daya manusia dibidang Teknologi Telematika.

Adapun Maksud dan Tujuan dari kerja sama ini adalah:

a.    Sebagai sarana “Corporate Social Responsibility (CSR)”:

Dengan dilandasi kebersamaan dan ikatan yang kuat dalam implementasi “Corporate Social Responsibility (CSR)” kepada dunia pendidikan, maka kehidupan akademis dalam suatu univeitas akan terbentuk dengan sangat baik didukung kompetensi dan pengalaman usaha dan kewirausahaan yang mapan. Pembinaan univeristas yang dilakukan tidaklah hanya terbatas pada bantuan dana maupun sejenisnya, namun juga pelatihan, pembinaan manajerial & kewirausahaan, akses kepada dunia kerja dan usaha  yang juga sangat perlu dan penting. Pembinaan secara langsung ini merupakan bagian dari upaya Telkomsel dalam membentuk SDM yang unggul dalam memenangkan persaingan ekonomi di Indonesia.

  

b.    Sebagai sarana “Link & Match” timbal balik / dua arah:

Sebagai sarana “Link & Match”  timbal balik antara kalangan akademis, bisnis dan pemerintah merupakan bagian dari kebutuhan ekosistem dunia usaha dan akademis dibidang Teknologi Telematika. Dunia akademis merupakan salah satu faktor penentu maju mundurnya dunia usaha yang harus mampu membantu memberikan kontribusi ilmiah dan terapan yang kuat, sehingga dunia usaha dapat maju dan berjalan dengan baik sebagaimana yang diharapkan. Kerjasama dan komunikasi dua arah sebagai pemecah kebuntuan dalam dunia usaha dan akademis menjadi langkah yang strategis bagi manajemen dalam menjalankan roda organisasi serta pemangku kepentingan akademis dalam memenuhi tingkat kompetensi yang dibutuhkan dunia usaha. Tatanan kerjasama dan komunikasi yang dinamis ini menjadi salah satu parameter bagi kesuksesan suatu negara dalam menempatkan dunia akademis sebagai basis dari “Human Capital Management “ bagi dunia usaha.

Bertitik tolak dari keinginan diatas semoga kedepan kompetensi sumber daya manusia dibidang Teknologi Telematika yang dimiliki negara ini akan lebih baik.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=SUMnj2dwTdU&w=640&h=450]

ACFTA Trickle Down Effect: ICT Education Roles on Human Resources Readiness for Indonesia

  • World Economic Growth : The cheese already moved to the east (mostly China).
  • CHINA IS A SUPER POWER already:
    • China GDP will grow by seven percent or more next year.
    • China will mandate buy China for domestic usage
    • China will buy IMF bonds
    • China owns about 800 billion of US Treasury
    • China has two trillion dollars of foreign reserve. This will grow to three trillion in next five years.
    • China wants to have significant say at IMF
    • China does not want to called as part of BRIC, It should be renamed as BRIM (Brazil, Russia, India, and Mexico)
  • Countries Economic Characteristics: 
    • ASEAN Needs to Define A Better Strategy 
    • China is an economic giants to ASEAN 
    • GDP and Foreign Reserve of China are far above those of ASEAN members 
    • Trade structure between China and ASEAN members show that Chinese products are highly competitive 
    • Almost all ASEAN members face trade deficit against China 
    • Chinese attractiveness for foreign investment is above that of ASEAN members in average.
  • ACFTA,Gates to Liberalization:
    • ACFTA was agreed in November 2002 and effectively due date on January 01, 2010. Both sides have targeted the realization of ACFTA in 2010 for Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand and China, and 2015 for Cambodia, Lao PDR, Myanmar and Viet Nam. 
    • Under the ACFTA, tariffs on certain products as known as the Early Harvest Program (EHP), were reduced before the onset of the FTA (came into effect on 1 January 2004). 
    • Others agreements by sectors have also been agreed under ACFTA.
  • ICT Education Roleson Human Resources Readiness for Indonesia:
    • Learn from Singapore:
      • Aim: Basic blueprint, Infocomm21, lays out plans to develop Singapore into a dynamic and vibrant infocomm capital with a thriving and prosperous Internet economy by 2010.
      • Vision: To develop Singapore into a dynamic and vibrant global infocomm capital with a thriving and prosperous e-economy and an infocomm-savvy e- society.DR TONY TAN KENG YAM, SINGAPORE ACTING PRIME MINISTER
    • Knowledge-driven Economy – Heavily supported by prominent ICT Education Institution:
      • The knowledge-driven economy continues to be characterized by a rapidly changing and pervasive information infrastructure.
      • The Internet and its accompanying applications # e- Business platforms, interactive experiences with new forms of content, sophisticated consumer devices, leading-edge information technology # are all elements of the digital economy. 
    • Ecosystem of the Infocomms and Media – Education Institution as part of “Innovator & Early-Adopter:
      • Communications 
      • e-Business 
      • Information Technology (IT) 
      • Media & Digital Entertainment (MDE) 
    • e-Powering the Public Sector Strategies:

Education Institution can propose to Telkomsel as “Change Agent” for Educate their external stakeholder (customer , partner, community, supplier etc.) 

  •  
    • Encourage the delivery of online public services
    • Innovate with technology to build new capabilities
    • Develop thought leadership on e-government
    • Promote the use of e-government services
    • Leverage the private sector

Education Institution can propose to Telkomsel as “Change Agent” for Universal Sevice Obligation (USO) stakeholder (customer , partner, community, supplier etc.)

  •  
    • Improve the accessibility of infocomm technology
    • Bridge the digital divide
    • Encourage the adoption of an e-lifestyle 
  • Trend for ICT for the next 5 years –  Education Institution can propose to Telkomsel to Educate & Train their internal stakeholder (employee, manager, shareholder etc.):
    • Network Security
    • Mobile Wireless & Broadband Access
    • Service Delivery Platform (SDP) for Convergence
[slideshare id=9915784&doc=acftatrickledowneffect-djadjawidyatama-draft-v1-0-111027211708-phpapp02]