MPPL: PENGEMBANGAN WEB BAPINGER UNTUK DATABASE BUKU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DENGAN MYSQL


PENGEMBANGAN WEB BAPINGER UNTUK DATABASE
BUKU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DENGAN MYSQL

 

Guna memenuhi Tugas Manajemen Proyek Perangkat Lunak

di Jurusan Teknik Informatika

 

 Disusun oleh :

Kelompok 3 Kelas A

0607055 – Anisa Andini – Project Manager

0607052 – Acep Mulyana – Documenter

0607033 – Tina Agustin – Programmer

0607054 – Melinda Fatimah – Analyst

0607042 – Roni Wahyu Gunawan – Tester

 

UNIVERSITAS WIDYATAMA

BANDUNG

 

Pengembangan Web Bapinger untuk Database Buku Sekolah Menengah Pertama dengan MySql

 

Ringkasan Eksekutif

Web Bapinger merupakan web penddikan yang berisikan mengenai informasi yang berhubungan dengan dunia pendidikan sekarang ini. Perkembangan teknollogi internet yang pesat memungkinkan kita memiliki akses yang cepat terhadap informasi yang kita butuhkan. Internet menyajikan informasi tanpa dibatasi ruang dan waktu dimana hal ini tidak bisa lepas dari adanya web sebagai sumber informasi di intenet.

Dengan adanya web Bapinger yang menyediakan berbagai informasi khususnya mengenai informasi dunia pendidikan, diharapkan bisa memenuhi kebutuhan akan informasi dalam hal ini informasi data buku pelajaran SMP.

Dalam web Bapinger terdapat berbagai nformasi, salah satunya yaitu informasi data buku pelajaran SMP. Untuk memberikan informasi yang lebih data buku tersebut terdiri dari dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Selain bahasa informasi yang ada pada data buku yakni informasi an terdiri dari : judul buku, pengarang, penerbit dan tahun terbit. Informsi data buku SMP ini dilengkapi dengan gambar sampul buku. Untuk memudahkan pencarian informasi, data buku dikelaskan kedalam tiga kelas yang terdiri dari kelas vii untuk data buku SMP kelas 1, kelas viii untuk data buku SMP kelas 2 dan kelas ix untuk data buku SMP kelas 3. 

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/vDs0Pl710ZM” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Indonesian Networkers Event @ITENAS Pembicara Himawan Nugroho (@hnugroho)

Sangat menarik setelah menjadi moderator Indonesian Networkers Event @ITENAS dengan Pembicara Himawan Nugroho (@hnugroho), Security dan Service Provider. Di dunia kerja, Himawan Nugroho terbilang profesional langka. Sarjana Teknik Mesin ITB ini salah satu dari segelintir orang di Indonesia yang mengantongi sertifikasi Cisco Certified Internetwork Expert (CCIE) di tiga bidang yang berbeda (Routing, Security, Service Provider) yang biasa disebut Triple CCIE – di seluruh dunia, hanya 300-an orang yang memilikinya. Sempat berkarier di IBM Global Services sebagai konsultan, November 2006 ia bergabung dengan Cisco System yang berbasis di Singapura, untuk mengerjakan proyek konsultasi untuk pelanggan di Asia Pasifik. Sekarang ia dipercaya menjabat sebagai Technical Lead, Solution Architect, Senior Consultant di Cisco System, Dubai, Uni Emirat Arab, mengerjakan proyek untuk pelanggan di Eropa, Timur Tengah dan Afrika.
Banyak orang yang bermimpi dan bercita-cita untuk bekerja di luar negeri. Pendapatan yang relatif lebih besar, mendapat pengalaman dan cerita unik, membuka wawasan, maupun taraf hidup yang lebih baik merupakan beberapa alasan mengapa orang-orang tertarik untuk merantau jauh meninggalkan kehidupan nyaman di Indonesia. Di sesi “Berkompetisi di Pasar Global sebagai IT Professional” di depan mahasiswa dan Alumni Elektro ITENAS ini pembicara Himawan Nugroho berbagi pengalaman pribadinya selama 10 tahun lebih bekerja di luar negeri dengan pokok pembahasan tentang program sertifikasi yang bisa membantu karir, case study tentang proyek IP Next Generation Network (NGN) di salah satu customer Service Provider, dan tips dalam berkompetisi di pasar international. Tujuan utama dari sesi ini adalah memberikan masukan khususnya buat para mahasiswa Indonesia dalam berkarir dan mempersiapkan diri memasuki pasar global, baik di luar maupun dalam negri, yang semakin hari semakin kompetitif.
“Setiap mahasiswa harus mempersiapkan diri untuk masa depan dirinya termasuk mengambil sertifikasi yg mendukung kariernya” kata @hnugroho. Ia tambahkan: “Sertifikasi penting untuk memperoleh pengakuan profesional di suatu bidang yg kompetitif dan selektif”. Saat ini kata dia, ada beberapa Level N/W Engineer yaitu : “Configurator” aka “Copy Paste Monkey”, terus “Troublehooter”, kemudian “Specialist”, dilanjutkan “Designer”, selanjutnya “Architect” dan terakhir tingkat “Expert”.
Namun, “Dalam bekerja selain hal teknis perlu menguasai soft-skill terutama pada saat kritis menghadapi konsumen”. Hal ini didasarkan pengalaman ketika suatu pekerjaan yg “impossible” pernah hrs diselesaikan oleh @hnugroho spt “Memanggil 9 wanita utk melahirkan dalam waktu 1 bulan”. Ya, dia dan rekan-rekanya pernah diminta menyelesaika masalah dimana “customer” tidak mempunyai dokumentasi sama sekali yang semestinya ada padahal mereka meminta tenggat waktu yang ketat dalam pengerjaannya.
Re.@hnugroho saat kuliah, ada 10 hal agar kita berhasil yaitu:
  1. Melakukan banyak kesalahan dan mau ambil risiko yang diantisipasi.
  2. Temukan sesuatu yang anda suka lebih awal.
  3. Bekerja keras pada sesuatu yang bernilai. 
  4. Selesaikan apapun yang kita mulai.
  5. Buat jaringan pergaulan lebih banyak dan luas
  6. Selalu mencoba menjadi pemimpin 
  7. Lebih banyak meningkatkan berkomunikasi dan presentasi.
  8. Mengontrol keuangan dengan bijaksana. 
  9. Berkontribusi kepada komunitas.  
  10. Cobalah untuk berkeliling dunia.
Dia akhiri sesi ini dengan kata mutiara: “Jangan melihat kasta pekerjaan, seseorang dilihat dari hasil pekerjaannya.” Juga Kata Penutup: “Dream. Fight. Love. Live. Seize The Day”
Trims Mas.@hnugroho yg telah memberikan pencerahan pada mahasiswa alumni Elektro ITENAS SERTA Kg @tedhiachdiana semoga kariernya semakin gemilang.
<iframe width=”600″ height=”440″ src=”http://www.youtube.com/embed/Rm5sfgAYJBA” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
Print Friendly, PDF & Email

Seminar “Ecotourism based on Environment, Education and Creative Industry” di Hotel Mangkubumi Indah Tasikmalaya

 

Pada tanggal 24 Maret 2012 saya menghadiri seminar “Ecotourism based on Environment, Education and  Creative industry” di Hotel Mangkubumi Indah Tasikmalaya. Ekowisata (Ecotourism) merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Tidak ada definisi yang diterima secara universal tentang ekowisata. Evans-Pritchard dan Salazar [1992, dikutip dalam Mowforth dan Munt, 1998, p.104] mencatat bahwa “Kita  tidak mengetahui tepatnya apakah istilah ‘ekowisata’ dimaksudkan sebagai konsep murni atau sebagai istilah yang secara umum digunakan “. Secara teoritis, ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu jenis pariwisata di mana lingkungan, masyarakat lokal dan pengunjung semuanya memperoleh manfaat . Dalam prakteknya, istilah ‘ekowisata’ sering digunakan oleh operator tur sebagai alat pemasaran untuk mempromosikan segala bentuk pariwisata yang berhubungan dengan wistata alam. Sebagai Wight [1994, hal.39] catatan:

“Tampaknya ada dua pandangan yang berlaku pada ekowisata: satu fihak memandang bahwa kepentingan umum pada lingkungan dapat digunakan untuk memasarkan produk, yang lain melihat bahwa ketertarikan yang sama dapat digunakan untuk menyelamatkan sumber daya di mana produk ini didasarkan. Pandangan ini tidak perlu saling berhubungan”.

Berbagai konferensi telah diadakan membahas ekowisata dan pariwisata yang bertanggung jawab untuk mempromosikan pandangan di atas. Pada Konferensi Dunia Tahun 1995 tentang Pariwisata Berkelanjutan yang diselenggarakan di Lanzarote, disepakati bahwa:

“Pariwisata akan berkelanjutan ketika pembangunan dan operasinya  memasukkan partisipasi penduduk lokal, perlindungan lingkungan, hasil ekonomi yang adil untuk industri dan masyarakat sekitarnya, serta  memuaskan dan saling menghargai semua pihak yang terlibat” [Jafari, 1996 , p.959]. Dari konferensi tersebut dan literatur tentang ekowisata telah muncul prinsip pariwisata yang harus dipatuhi jika ingin didefinisikan sebagai ekowisata. 

Salah satu pembicara adalah Jalu Sugih Cahyanto yang membuat beragam kerajinan kap lampu, miniatur sepeda, vas bunga, dan baki lamaran yang dipamerkan Kreativitas Seni Saung EGP. Jika dilihat sekilas, mungkin tak ada yang menyangka bahwa beragam produk berbahan dasar sampah. Ya, memang benar-benar hanya sampah kertas koran, kertas majalah, serta jenis kertas sisa lainnya. Namun, sampah-sampah kertas itu di tangan Jalu, sang pemilik ide kreatif di Saung EGP, dapat menjadi produk yang indah dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Jalu, yang berlatar belakang pendidikan di bidang ekonomi, memang suka usil mengutak-atik benda-benda di sekitarnya. Produk limbah kertas yang dijual dengan kisaran harga Rp 30 ribu hingga Rp 200.000 itu pun ternyata buah dari keusilan Jalu.

“Inspirasinya karena memang saya suka jail dan usil. Saya sering iseng-iseng membuat kerajinan dan ternyata kertas itu sangat mudah diutak-atik sehingga akhirnya menjadi barang kerajinan seperti ini,” katanya.

Pemilihan sampah kertas, lanjut Jalu, merupakan satu bentuk kepeduliannya terhadap lingkungan. Selain sampah kertas terbilang mudah dijumpai, ternyata kepekaan Jalu terhadap isu pemanasan global juga menjadi alasan yang mendasari pemilihan kertas sebagai bahan dasar kerajinannya.

“Dapat ide buat kerajinan dari kertas karena kebetulan di sekitar saya banyak kertas. Dulu pernah bikin kerajinan pakai plastik, tapi terbentur masalah bahan. Kertaskan ada di mana-mana, jadi mudah mendapatkannya. Selain itu, saya juga punya misi cinta lingkungan. Kertas itu limbah yang ramah lingkungan. Terkait isuglobal warming, kita juga ingin bersahabat dengan alam. Itulah sebabnya saya memilih bahan yang ramah lingkungan,” ujar Jalu.

Setelah selesai mengikuti “Tasikmalaya Ecotourism Seminar” ini ada berita menggembirakan dari Ketua Kadin Tasikmalaya Wahyu Tri Rahmadi bahwa @pojokpendidikan (www.pojokpendidikan.com) akan dilibatkan untuk berpatisipasi dalam perencanaan dan eksekusi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di sekolah-sekolah TK. SD, SMP, SMU dan SMK di Tasikmalaya.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/enWkNtzxcMc” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Organizational Learning: Konfigurasi Cisco Sederhana Kuliah Applied Networking IV

Pembelajaran dengan berorganisasi adalah suatu bidang pengetahuan dalam teori organisasi yang mempelajari model-model dan teori tentang bagaimana suatu organisasi belajar dan beradaptasi.
 
Dalam Pengembangan Organisasi (Organizational Development/OD), belajar merupakan karakteristik dari sebuah organisasi adaptif, yaitu sebuah organisasi pembelajaran yang mampu merasakan perubahan sinyal dari lingkungannya (baik internal maupun eksternal) dan beradaptasi sesuai keadaan.  Spesialis OD berusaha untuk membantu klien mereka untuk belajar dari pengalaman dan menggabungkan pembelajaran sebagai umpan balik ke dalam proses perencanaan.
  
Sering dalam kelas saya minta mahasiswa melakukan pembejaran ini dan salah satunya mereka diminta membuat Konfigurasi Cisco Sederhana  pada Kuliah Applied Networking IV sebagai berikut:  

KONFIGURASI CISCO SEDERHANA

 

Organizational Learning

 

Applied Networking IV

Kelas A

 

TEKNIK INFORMATIKA – UNIVERSITAS WIDYATAMA

BANDUNG

2012

Topologi yang dirancang:


Gambar  1 Topologi

 

Topologi kami memiliki dua PC dan dua Router, masing-masing device memiliki ip address seperti gambar di atas.

Langkah konfigurasi topologi ini:

1.       Hyper Terminal (Win XP)

2.       Router 1 dan 2 (Console via Win XP)

3.       Client 1 dan 2 (OS Win XP)

Konfigurasi Hyper Terminal

1.       Start -> All Programs -> Accessories -> Communications -> Hyper Terminal

2.       Connection Description: Name: Cisco, Icon: Bebas.

3.       Konfigurasi:

a.       Connect Using: COM1

b.      Bit Rate:  9600

 

 

 

Konfigurasi Router 1

Press Enter to Start 

Router>
Router>ena
Router#conf t
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.
Router(config)#hostname Router1
Router1(config)#int fa0/0
Router1(config-if)#ip addr 202.123.40.21 255.255.255.252
Router(config-if)#no shut
Router1(config-if)#ex
Router1(config)#int fa0/1
Router1(config-if)#ip addr 192.168.1.1 255.255.255.0
Router1(config-if)#no shut
Router1(config-if)#ip route 192.168.2.0 255.255.255.0 202.123.40.21
Router1(config)#end
Route1r#wr mem
Building configuration…
[OK]

 

Konfigurasi Router2

Press Enter to Start 

Router>ena
Router#conf t
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.
Router(config)#hostname Router2
Router2(config)#int fa0/0
Router2(config-if)#ip addr 202.123.40.22 255.255.255.252
Router2(config-if)#no shut
Router2(config-if)#ex
Router2(config)#int fa0/1
Router2(config-if)#ip addr 192.168.2.1 255.255.255.0
Router2(config-if)#no shut
Router2(config-if)#ip route 192.168.1.0 255.255.255.0 202.123.40.22
Router2(config)#end
Router2#wr mem
Building configuration…
[OK]

PC0 :

ip addr 192.168.1.2
netmask 255.255.255.0
gateway 192.168.1.1 

 

PC1 :

ip addr 192.168.2.2
netmask 255.255.255.0
gateway 192.168.2.1

 

 

 

 

Hasil Ping PC1 ke PC0 dengan Static Routing

Gambar 2 Hasil Ping dari PC1 ke PC0

 

 

Pada saat akan me- routing kembali, tiba-tiba saja username dan password yang dimasukan invalid, dan langkah selanjutnya yang kami kerjakan adalah mencari tahu cara untuk me-reset username dan password menjadi default atau kembali ke awal.

Langkah yang kami lakukan untuk me-reset password adalah:

 

Reset password

1.    Matikan router

2.    Cabut compact flash

3.    Hidupkan router

4.    Pada mode rommon 1 ketikkan confreg 0x2142

5.    Maka akan pindah ke rommon 2 dan ketika reset

6.    Selesai

 

Maka konfigurasi yang telah kami kerjakan pun harus dimulai dari awal kembali. Namun karena kemarin cukup banyak kendala yang menyebabkan waktu cukup banyak habis terbuang, maka sebagian dari kami pun membuat simulasi konfigurasi di atas dengan menggunakan Packet Tracer dan hasilnya pun seperti pada gambar 2.

 

NB :

Untuk Pembagian tugas pada praktikum Tanggal 12 Maret 2012 sudah terlampir dalam file excel sbb:

 

Print Friendly, PDF & Email

Apakah Peserta Didik Menikmati Pembelajaran Dengan “Role Playing Game”?

Sering saya melakukan pembelajaran dengan “Role Playing Game”, apakah mereka menikmatinya? Berikut adalah hasil karya mahasiswa TEKNIK ELEKTRO – ITENAS, BANDUNG dengan topik “Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air”:

TUGAS KULIAH PENGANTAR LINGKUNGAN INDUSTRI

TEKNIK ELEKTRO – ITENAS, BANDUNG

 

Anggota:Abdul Rohman 11-2006-084    [masyarakat]

Tri Wahyu Rubianto 11-2007-004   [teknisi]

Devi Slamet 11-2007-015   [humas]

Budhi Taufiq 11-2007-025    [hukum]

Crisca Angelia Yuda 11-2007-045     [akuntan]

 

Tema:PEMBANGKIT

 

Judul:Perencanan Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air

 

Inti cerita:

Awalnya melakukan tinjauan terhadap suatu daerah dari segi hubungan antara masyarakat dalam meminta persetujuan untuk melakukan pembangunan pembangkit listrik tenaga air, kemudian dalam melakukan pembangunan dibutuhkan surat legalitas dalam pembangunan, namun dalam mendapatkan persetujuan terdapat masalah dari sisi masyarakat yang menolak pembangunan tersebut, untuk itu terdapat humas yang membawa teknisi agar dapat mejelaskan lebih lanjut dalam pembangunan dan manfaat dari pembangunan PLTA ini, dan juga akuntan dan bagian hukum yang menjelaskan dari sisi ganti rugi dan surat legalitas yang bersangkutan dalam pembangunan ini, hingga mendapatkan hak legalitas dalam pembangunan PLTA ini.

 

 

 PERENCANAN PEMBANGUNAN

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR

 

Suatu perusahaan yang bergerak dibidang teknologi yang terbarukan akan melakukan suatu proyek mengenai pembangkit listrik. Proyek ini akan dibangun di tempat atau daerah terpencil yang terdapat banyak penduduk yang belum terjangkau oleh pasokan listrik dari PLN. Sebelum dilakukan pembangunan proyek tersebut, dari perusahaan melakukan survey yang meliputi bebrapa faktor dan diantaranya yaitu lokasi pemukiman yang dihuni oleh banyak penduduk, belum ada pasokan listrik dari PLN atau belum semua penduduk bisa memanfaatkan listrik PLN (hanya sebagian kecil saja yang menggunakan listrik PLN), sumber energi yang cukup dan dapat diperbaharui.

 

Dalam situasi rapat:

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : “Assalamu’alaikum wr.wb.”

Bpk. Devi Slamet (Humas)             : ”Wa’alaikumsalam wr.wb.”

Bpk Budhi Taufiq (Hukum)            : ”Wa’alaikumsalam wr.wb.”

Ibu Crisca A. Y. (Akuntan)             : ”Wa’alaikumsalam wr.wb.”

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : “Terima kasih kpd bpk-bpk dan ibu yg telah hadir dalam rapat proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga hydro ini. Di sini kita akan membahas persiapan dalam melakukan survey di desa yang masih belum terjangkau pasokan listrik. Dari kriteria yang kita tentukan dan dari beberapa desa yg meiliki kriteria tersebut, dipilih Desa Tak Tahu Di mana. Kepada bagian humas diharapkan bisa bersosialisasi dengan masyarakat di sana.”

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Baik, saya akan laksanakan. Saya akan bersosialisasi dengan masyarakat disana dan meminta bantuan dari tokoh masyarakatnya agar masyarakat lebih bisa mengerti maksud dan tujuan proyek ini.”

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : ” Terima kasih, mohon kerjasamanya. Kepada bagian Hukum, agar dipersiapkan segala persiapan yang berkaitan dengan proyek ini. Dimulai dari berkas-berkas sampai surat-surat berharga lainnya, agar memperoleh kelegalan persetujuan dari semua pihak.”

 

Bpk Budhi Taufiq (Hukum)                        : ”OK, saya sudah persiapkan semua berkas-berkas yang diperlukan dan segala surat-surat penting lainnya.”

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : ”Terima kasih, mohon kerjasamanya. Kemudian untuk proses pengalihan lahan, biaya, ganti rugi, dan sebagainya, agar bagian Akuntan bisa mengatasinya. Dalam hal ini dibantu oleh bagian Hukum dan Humas.”

 

Ibu Crisca A. Y. (Akuntan)             : “Baik Pak, saya akan persiapkan segala sesuatunya mengenai hal tersebut. Kepada bagian Hukum dan Humas saya mohon kerjasamanya agar proyek ini bisa berjalan sukses.”

 

Bpk Budhi Taufiq (Hukum)                        : ”Baik Bu, saya akan melakukan yang terbaik agar proyek ini bisa berjalan sukses.”

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Baik, kalau begitu kita harus terus melakukan koordinasi jika ada sesuatu hal yang membutuhkan bantuan.”

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : ” OK, jadi semua bagian sudah memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing dalam proyek ini. Namun, jangan sampai mementingkan diri sendiri. Dimohon dalam proyek ini kerja sama dari setiap bagian dapat terkoordinasi dengan baik. Demikian rapat kali ini dan besok kita berangkat menuju Desa Tak Tahu Dimana untuk melaksanakan proyek ini. Terima kasih semuanya. Wassalamu’alaikum wr.wb.”

 

Humas, Hukum, Akuntan                : ”Sama-sama, Wa’alaikumsalam wr.wb.”

 

 

Di lokasi proyek Desa Tak Tahu Dimana:

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           :”Kita telah berada di Desa Tak Tahu Dimana, bagaimana dengan persiapan dan kelengkapan dari setiap bagian?”

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Saya telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk sosialisasi nanti dengan masyarakat desai ini. Saya juga telah menghubungi tokoh masyarakat desa ini dan meminta bantuannya untuk mengumpulkan masyarakat dalam rangka sosialisasi.”

 

Bpk Budhi Taufiq (Hukum)                        : ”Saya juga telah mempersiapkan semua berkas dan surat-surat yang nantinya dibutuhkan dalam proses pembangunan proyek ini. Selain itu, saya telah menghubungi pihak berwajib untuk meminta bantuan keamanan agar pada saat terjadi sesuatu yang berhubungan dengan keamanan misalkan kericuhan ataupun kekacauan bisa terkendali. Namun, di sini kita berharap hal tersebut tidak sampai terjadi.”

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : ”Tentu, kita semua di sini mengharapkan yang terbaik dan hal-hal seperti itu jangan sampai terjadi, walaupun hal seperti itu sampai terjadi kita harus bisa menyigapinya dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin agar dapat mengurangi dampak yang seminimal mungkin. Selanjutnya bagaimana dengan bagian Akuntan? Apakah semua sudah dipersiapkan?”

 

Ibu Crisca A. Y. (Akuntan)             : ”Semua kebutuhan dan hal penting lainnya telah dipersiapkan, seperti biaya, ganti rugi, proses pengalihan lahan kepemilikan, surat-surat penting, catatan-catatan, dan sebagainya. Nanti saya beserta bagian Humas dan Hukum akan saling berkoordinasi kembali.”

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : ”Baiklah jika semua sudah beres dan telah dipersiapkan. Sekarang kita akan bertemu dengan masyarakat , mereka telah berkumpul di balai desa dan kita akan menuju ke sana.”

 

Tempat Sosialisasi :

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Assalamu’alaikum wr.wb.”

 

Masyarakat                                        : ”Wa’alaikumsalam wr.wb.”

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Terima kasih sebelumnya saya ucapkan kepada masyarkat yang telah meluangkan waktunya dan bersedia menghadiri acara sosialisai ini dan juga para tokoh masyarakat yang bersedia membantu kami dalam sosialisasi ini. Terutama kepada Bpk. Lurah Desa Tak Tahu Dimana yang telah berada bersama kita di ruangan ini. Terima kasih Pak atas kesediaan Bapak untuk mengajak masyarakt untuk berkumpul di sini bersama kami. Baiklah, langsung saja kita mulai acara sosialisasi ini. Namun sebelumnya, kami akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Devi Slamet sebagai HUMAS. Kemudian ada Bpk. Tri Wahyu Rubianto sebagai TEKNISI. Ada Bpk Budhi Taufiq yang bergerak di bagian HUKUM dan yang terakhir merupakan yang tercantik di antara kami karena satu-satunya wanita, beliau adalah Ibu Crisca Angelia  bergerak di bagian AKUNTAN. Kami merupakan orang-orang yang berasal dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi terbarukan. Tujuan kami di sini untuk membangun suatu pembangkit listrik yang menggunakan tenaga air. Sebelumnya kami telah melakukan survey di beberapa lokasi, setelah di analisa kami memilih desa ini karena sesuai dengan kriteria yang ada. Selain itu, kami juga di sini dalam rangka kerja sosial karena proyek ini bertujuan untuk kepentingan masyarakat di sini. Namun, di sini kami tidak dapat berkerja sendiri, kami membutuhkan bantuan bapak ibu sekalian. Dalam proyek ini kami membutuhkan lahan yang tidak sedikit.”

 

Masyarakat                                        : ”Kenapa harus desa kami Pak? Lahan yang gak sedikit emangnya baut apa? Apa bapak mau memeras kami sebagai orang yang gak berpendidikan ini? Bapak Ibu sekalian, kita jangan mau dibodohin oleh orang-orang seperti mereka yang mau memanfaatkan dan menghasilkan keuntungan buat mereka sendiri.” (Masyarakat lain berkata     : ”Yaaaa…. Betul…! Betul…!)

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Bapak-bapak, Ibu-ibu, mohon dengarkan penjelasan kami dulu. Kami tidak ada maksud seperti itu.”

 

Masyarakat                                        : ”Aaah…. Bohong! Bapak-bapak, Ibu-ibu jangan sampe percaya gitu ajah sama orang-orang ini. Kita gak tau sebenarnya apa yang mereka inginkan.”

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Tenang dulu bapak-bapak, ibu-ibu, dan sodara sekalian. Kami mengumpulkan masyarakat di sini bermaksud menjelaskan maksud dan tujuan pembangunan proyek ini. Untuk itu bapak ibu sekalian kami mohon dengan sangat kepada semuanya yang ada di sini untuk mendengarkan dan memberi kesempatan kepada kami agar jelas persoalannya. Soal lahan atau tanah, tentu saja kami tidak akan merugikan masyarakat di sini. Kami tentu akan membayarnya dan memberi ganti rugi yang sepantasnya atas lahan yang akan kami digunakan nanti sebagai lahan proyek ini.” (Bpk. Lurah menenangkan warganya agar dapat mendengarkan penjelasan proyek tersebut).

 

Masyarakat                                        : ”Mohon maaf kalo begitu, kami sebagai masyarakat di sini hanya tidak ingin dirugikan dan dimanfaatkan untuk keuntungan semata oleh bapak sekalian. Silahkan bapak jelaskan kembali kepada kami dan kami akan mendengarkannya.”

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Baik, terima kasih atas perhatian semuanya. Untuk penjelasan mengenai proses pembangunan pembangkit ini akan saya serahkan kepada bagian TEKNISI kami.”

 

Bpk. Tri Wahyu Rubianto (Teknisi)           : ”Terima kasih sebelumnya. Kami di sini bermaksud untuk membangun sebuah pembangkit listrik tenaga air yang memanfaatkan aliran sungai yang cukup besar di desa ini. Dari survey yang kami lakukan,  desa ini belum terjangkau oleh pasokan listrik dari PLN dan kalu pun ada yang menggunakan listrik itu hanya sebagian kecil saja bagi mereka yang berkecukupan. Untuk itu, kami ingin membantu masyarakat di sini agar dapat menikmati penggunaan listrik. Selain itu, proyek ini nantinya bisa mengembangkan potensi usaha yang ada di desa ini sehingga masyarakat di sini bisa mendapatkan penghasilan tambahan bahkan bisa mengembangkan jenis industri yang besar. Sebelumnya, untuk membantu proses pembangunan proyek ini kami membutuhkan lahan dan lokasi yang strategis sebagai tempat pengoperasian dan perawatannya. Lokasinya harus berada di sekitar sungai, mudah terjangkau, dan listrik bisa terdistribusikan secara merata ke rumah-rumah masyarakat. Oleh karena itu kami akan mengganti lahan yang akan kami gunakan dalam proyek  ini dengan penggantian yang sesuai dan tidak merugikan.”

 

Masyarakat                                        : ”Bagai mana dengan pekerjaan kami pak? Karena lahan yang digunakan merupakan tempat pencaharian kami sebagai petani. Dari mana kami bisa mendapatkan penghasilan kalau lahan yang kami gunakan sebagai pencaharian kami sudah tidak ada?

 

Bpk. Tri Wahyu R. (Teknisi)           : ”Untuk soal itu sebaiknya akan lebih jelas bila bagian HUKUM dan AKUNTAN yang menjelaskannya.”

 

Bpk Budhi Taufiq (Hukum)                        : ”Baiklah, untuk persoalan lahan tanah dan legalisasinya akan saya urus. Saya beserta bagian AKUNTAN akan mengurus surat-surat tanah dan penggantiannya dengan harga yang sesuai. Saya akan melengkapi semua berkas-berkas kepemilikan lahan atau tanah bila memang masih belum lengkap dan merundingkan mengenai legalitasnya dengan Bapak Ibu sekalian sesuai hukum yang berlaku. Selain itu juga, saya akan membuat perjanjian dari semua pihak agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Tentu saja perjanjian tersebut kita buat bersama warga yang bersangkutan dan disaksikan oleh oleh beberapa saksi dari semua pihak. Sehingga tidak ada yang merasa dirugikan dan semua menyetujuinya. Kemudian untuk biaya dan hal lain akan disampaikan oleh bagian AKUNTAN.”

 

Ibu Crisca A. Y. (Akuntan)             : ”Terima kasih. Untuk biaya penggantian lahan atau ganti rugi telah saya persiapkan dan akan saya perhitungkan dengan baik. Penggantian ini akan saya bicarakan terlebih dahulu dengan pihak yang bersangkutan mengenai lahan dan ganti rugi. Segala biaya akan kami sediakan sampai proyek ini selesai. Untuk persoalan mengenai pekerjaan Dapak Ibu sekalian, Tujuan kami di sini memang untuk membantu dan mengembangkan potensi usaha yang ada di desa ini. Dalam proses pembangunan nanti, kami akan membutuhkan pekerja yang berasal dari desa ini juga dan akan kami upah yang sesuai. Kemudian jika ada lulusan-lulusan Sekolah Menengah Kejuruan yang memeiliki keahlian di bidang teknisi atau pun kelistrikan akan kami pekerjakan dan menjadi pekerja tetap dalam proyek pembangkit ini. Namun, jika tidak ada atau hanya sedikit yang lulusan SMK, kami akan memberikan pelatihan terlebih dahulu agar memiliki keahlian dan mendapat pekerjaan agar tidak menjadi pengangguran. Tidak hanya itu, kami juga memberi pelatihan-pelatihan kepada masyarakat di sini agar mendapat keahlian yang berkaitan dengan potensi yang ada seperti pengembangan usaha pertanian, perkebunan, dan sebagainya. Demikian penjelasan dari saya.”

 

Bpk. Devi Slamet (Humas)               : ”Terima kasih. Baiklah bapak-bapak, Ibu-ibu, dan sodara sekalian, demikian untuk sosialisai mengenai proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga air ini. Kami mohon kerja samanya dari semua pihak, semoga kedepannya proyek ini terus berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat yang besar bagi kita semua, khususnya untuk masyarakat Desa Tak Tahu Di mana ini. Amin…! Proyek ini akan dilaksanakan sebulan kemudian setelah semua perjanjian dan kesepakatan dari semua pihak telah disetujui dan mendapat legalisasi. Bila ada sesuatu hal yang ingin disampaikan bisa langsung menghubungi kami. Demikian dari kami, mohon maaf bila ada kesalahan dan kata-kata yang kurang berkenan di hati Bapak Ibu sekalian. Akhir kata kami ucapkan terima kasih. Wassalamu’alaikum wr.wb.”

 

Masyarakat                                        : ”Wa’alaikumsalam wr.wb.”

 

 

Semua bersalaman dengan masyarakat dan tokoh masyarakat di sana. Walaupun sempat terjadi penolakan dari masyarakat, namun semua berakhir dengan baik. Setelah sebulan mendapat persetujuan dan legalisasi, proyek pun dilaksanakan sampai selesai. Dalam proses pembangunan proyek yang dilaksanakan tentu saja masih ada kendala-kendala lain yang harus diselesaikan, namun semua diselesaikan dengan baik-baik untuk mendapat titik tujuan yang tidak saling merugikan. Setelah proyek selesai dibangun, masyarakat Desa Tak Tahu Dimana dapat menikmati penggunaan listrik dan bisa mengembangkan pontensi usaha yang ada di sesa itu. Masyarakatnya pun sekarang telah memiliki penghasilan lebih bahkan melebihi penghasilan sebagai petani yang sebelumnya. Meraka pun berharap menjadi masyarakat yang selalu berkembang dan menjadi lebih baik lagi, namun tidak melakukan segala sesuatu secara berlebihan dan tetap menjaga kelestarian alam dan lingkungan mereka agar bisa dinikmati oleh cucu-cucu mereka di masa yang akan datang.

 -SEKIAN-

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/mhtdwIHXeU8″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Kemana perginya EsEmKa? Mirip Hikayat Kelahiran Mobil Listrik Pertama di Amerika

Pupus sudah harapan Walikota Solo dan komunitas SMK yang membangun mobil EsEmKa ketika belum lulus Uji Emisi  Euro 2 di Balai Thermodinamika Motal dan Propulsi (BTMP), Serpong, Tangerang. Dikuti dari Tribun News 2 Maret 2012Jokowi dan Rudy, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo kecewa karena Esemka tak lolos uji emisi. Pasalnya dari 11 item yang diujikan, Esemka, mobil rakitan anak bangsa itu, gagal pada dua item.
Pertama, Esemka gagal pada standar gas buang karbonmonoksida yang seharusnya (CO) 5 gram/km dan HC+NOx standar 0,70 gram/km, namun terbukti CO-nya 11,63 gram/km dan HC+NOx sebesar 2,69 gram/km. Kegagalan kedua yakni tingkat terang lampu, seharusnya 12.000 candle (CD), namun lampu Esemka hanya mampu bersinar pada 10.900 CD, lampu kanan dan sebelah kiri 6.700 CD. Standar-standar itu mengacu pada Kepmen KLHJ No 04/2009 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang untuk Kendaraan Bermotor Tipe Baru.
Terlepas dari masalah, saya jadi teringat kejadian ini Mirip Hikayat Kelahiran Mobil Listrik Pertama di Amerika. Cerita sebagian besar diungkap selama kurun tahun 1990-an, ketika beberapa produsen mobil, termasuk General Motors, yang didorong untuk mengejar masa depan mobil yang bersih. Pada tahun 1990 “California Air Resources Board” mengadopsi mandat “Kendaraan Nol Emisi” dalam upaya untuk memaksa perusahaan mobil untuk memproduksi kendaraan bebas gas buang. Idenya sederhana: “Kita jangan tersedak sampai mati di limbah polusi kita sendiri”. Tujuan itu tampaknya sederhana: pada tahun 1998, 2 persen dari semua mobil baru yang dijual di pasar kendaraan terbesar di negara itu akan tanpa gas-buang, sehingga membuat gaya hidup California lebih ramah lingkungan. 
Henry Ford dan minyak murah membantu mencegah mobil listrik dipergunakan di jalan-jalan Amerika, meninggalkan sistem jalan raya yang tumbuh cepat dengan mesin yang memuntahkan polusi pembakaran internal. Dalam film berjudul “Siapa yang Membunuh Mobil Listrik,?” (Who Killed the Electric Car?) bergerak cepat antara wawancara dan  tayangan visual yang mengejutkan,  menjabarkan bagaimana “kisah cinta negara AS dengan mobil haus bensin”, serta berubah menjadi cinta buta. Pada tahun 1950-an, dimana Jack Kerouac dan James Dean bersinar,  pejalan kaki Los Angeles yang menerjang jalan-jalan kota terlihat menutupi mulut mereka dengan sapu tangan, mencoba untuk menyaring udara. Beberapa dekade kemudian, negara mengambil tindakan berani untuk mencegah polusi dari kendaraan bermotor. Apa yang terjadi selanjutnya, Mr Paine menjelaskan, adalah kisah adanya keserakahan korporasi dan korupsi pemerintah, berhadapan dengan semangat idealisme dan kemarahan. 
Inipun kelihatannya terjadi di Indonesia dengan mobil EsEmKa. Banyak orang yang masih ingin menikmati “Kursi Empuk” (Comfort Zone), sehingga belum rela melihat mobil “Produk Indonesia” menggelinding di jalan raya. Pertarungannya bukan hanya level emisi yang harus dipenuhi, tapi akan merupan pertarungan “David vs Goliath” otomotif di Indonesia. Memang banyak pertaruhannya, menurut majalah Kontan, Indonesia menjadi harapan pertumbuhan industri otomotif dunia yang sedang sendu. Setelah China, industri otomotif dunia melirik pasar mobil yang menggiurkan di Nusantara, apalagi Indonesia memiliki populasi penduduk terbanyak di Asia Tenggara.
Analis dari IHS Otomotif dan JPMorgan Chase & Co menyebutkan, industri otomotif saat ini saja sudah menikmati kenaikan pendapatan warga Indonesia. “Pasar mobil Indonesia berada di ambang booming,” kata Jessada Thongpak, analis senior di IHS Otomotif. Jessada menuturkan, Indonesia menjadi incaran produk otomotif karena mencatat pertumbuhan ekonomi dengan kondisi inflasi rendah dan suku bunga yang stabil. Ia berani memprediksikan, penjualan mobil di Indonesia akan melesat hingga 50% dalam lima tahun ke depan.
Adalah suatu kewajiban kita dari kalangan “Academic, Business & Government/ABG” (Akademisi, Bisnis dan Pemerintah) melihat secara jernih “Mau Dibawa Kemana” industri otomotif Indonesia. Apakah membiarkan EsEmKa “Layu Sebelum Berkembang” atau kita berani mendorongnya  dari “Ulat, Kepompong menjadi Kupu-Kupu” otomotif Indonesia?
Artikel Terkait:
Print Friendly, PDF & Email

(Universal Services Obligation/USO): Apakah Kita Dapat Bercermin dari Grameen Telecom?

Restruktrurisasi telekomunikasi  sangatlah problematik. Walaupun kecenderungan liberalisasi dan  privatisasi secara global berkembang, namun pelayanan telekomunikasi di banyak negara berkembang masih didominasi oleh institusi yang sebagian besar atau semuanya dikuasai negara. Pada beberapa negara seperti India, Algeria dan Kamerun; pelayanan telekomunikasi masih menjadi bagian departemen dari negara-negara tersebut. Pada beberapa negara lain seperti Ekuador, Indonesia, Yordania dan Thailand menyelenggarakan pelayanan telekomunikasi semi-independen melalui institusi atau perusahaan milik negara dan perusahaan swasta yang dilindungi hukum. Argentina, Chili dan Meksiko menggunakan organisasi  seperti ini sebelum privatisasi terjadi tahun 1987 dan 1990.   Penyelenggara telekomunikasi yang hanya sebagian tereformasi ini menghambat perkembangan dari pelayanan telekomunikasi. Sebagai contoh, perusahaan milik pemerintah dan penyelenggara telekomunikasi ini kurang mandiri, mempunyai organisasi dan manjemen yang tanggung, dan kekurangan dana investasi. Sebagai tambahan, bentuk organisasi  ini menghambat perkembangan telekomunikasi secara umum.
Sebagai bukti, pemerintah seringkali mengarahkan penyelenggara telekomunikasi untuk mendiskriminasikan daerah miskin atau terpencil yang secara politis tidak berarti. Tambahan lagi, daripada menginvestasikan penghasilan  kepada pemangunan jaringan, operator lebih menyukai membelanjakannya untuk kepentingan lain. Bahkan pada saat sektor swasta memainkan  peran utama pada sektor telekomunikasi, daerah miskin atau terpencil cenderung diabaikan. Adanya struktur biaya pembangunan jaringan, operator telekomunikasi ragu-ragu untuk menginvestasikannya di daerah miskin atau terpencil. Tidak hanya karena biaya yang tinggi, namun juga disebabkan permintaan yang rendah dan tidak menentu dibanding daerah yang menguntungkan atau potensial. 
Meskipun menghadapi hambatan dalam restrukturisasi  industri telekomunikasimya, beberapa negara berkembang telah berhasil tidak hanya membuka kompetisi.  Mereka pun secara bersamaan mencapai kewajiban pelayanan telekomunikasi untuk umum (Universal Services Obligation/USO). Misalnya  pencapaian yang dilakukan oleh Grameen Phone di.Bangladesh.  Mereka  secara komersial telah berhasil melayani pelanggan seluler di daerah urban/pedesaan dan rural/terpencil sebanyak 40 ribu  pelanggan.  Program rintisan dari Grameen Phone bekerja sama dengan pemberi mikro-kredit Grameen Bank melalui anak perusahaan yg dinamakan Grameen Telecom, yang memungkinkan anggota wanitanya memperoleh kredit bergulir untuk berushan di bidang warung telekomunikasi di daerah pedesaan. Proyek pertamanya meliputi 950 Vilage Phone (baca; Telepon Pedesaan) dan memberikan akses kepada 65.000orang. 
Kasus di Bangladesh ini menimbulkan pertanyaan; “Bagaimana model organisasi yang sukses ini dapat diterapkan di negara-negara lain. Apakah solusi unik ini hanya berlaku untuk reformasi telekomunikasi di Bangladesh? Atau apakah hal ini dapat direplikasi pada konteks spesifik dari negara berkembang. Apabila Model Grameen tidak dapat direplikasi seutuhnya, hal apa yang harus diadaptasi untuk memenuhi kondisi di setiap tempat? 
Untuk itu kita perlu mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dimana konteks spesifik suatu negara adalah kritis dalam menentukan kesuksesan di bidang reformasi telekomunikasi. Karena dasar itulah bahwa model bisnis Grameen yang ada di Bangladesh tidak dapat secara langsung direplikasi di negara berkembang lainnya. Untuk bisa dilaksanakan pada konteks yang berbeda, hal ini haruslah memahami hambatan spesifik yang ada di negara tersebut. Bahkan model tersebut harus diubah untuk menyelesaikan hambatan struktural yang spesifik di suatu negara. 
Artikel terkait:
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/mKCTg8iFPTo” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
Print Friendly, PDF & Email

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA (PKM): E-learning Pembelajaran Bahasa Sunda

 

 

Diusulkan oleh: 

Rachmi Utami Rachmatyani (06.08.075)                                 (ANGKATAN 2008)

Tri SusantoNugroho (06.07.059)                                             (ANGKATAN 2007)

Ramdani Gopur (06.08.085)                                                    (ANGKATAN 2008)

Tania Destiana Berlianty (06.08.070)                                      (ANGKATAN 2008)

 Abraham Mikhael (06.11.P002)                                           (ANGKATAN 2011)

UNIVERISTAS WIDYATAMA

 

RINGKASAN

 

Perkembangan teknologi di masa sekarang terus meningkat. website tidak hanya digunakan untuk e-commerce, forum, personal, bahkan blog dan lain-lain, tetapi dapat juga untuk menjalankan dan merancang berbagai kebutuhan, seperti game, perangkat ajar, pemutar audio, kamus digital, dan sebagainya. Bahasa merupakan bagian yang tak terpisahkan pada semua itu, namun kali ini kami menawarkan sesuatu yang baru, dimana kami menawarkan media pembelajaran bahasa Sunda secara online (e-learning).

Bahasa Sunda  merupakan salah satu budaya Bangsa, yang artinya harus di lestarikan dan dipergunakan agar tidak terjadi kepunahan. Hal ini dapat kita perhatikan diantaranya karena Bahasa Sunda sendiri hanya diajarkan hampir di semua sekolah di Jawa Barat (selaku bahasa daerah), sehingga membatasi penyebarluasannya (terbatas pada jarak dan komunitas). Selain itu juga pembelajaran disekolah khususnya bagi anak-anak kecil itu kurang menarik.

Untuk menanggapi pembelajaran ataupun keinginan dari masyarakat luas bahkan internasional untuk belajar Bahasa Sunda, maka kami menggagaskan untuk membuat e-learning ahasa Sunda. yang di dalamnya di buat visualisasi (gambar) dari benda-benda dengan bahasa Sunda lengkap dengan cara membacanya, kamus, dan mungkin bisa ditambahkan beberapa percakapan dasar yang sederhana. Selain itu untuk belajar bahasa inggris untuk anak percakapan tersebut disajikan dengan gambar-gambar pilihan seperti flash cartoon, interface dll yang mudah di mengerti dan menarik bagi anak,

Kata Kunci : E-learning bahasa sunda, kamus bahasa sunda, kamus bergambar bahasa sunda untuk anak


BAGIAN INTI

 A.      Pendahuluan

Perkembangan teknologi terus meningkat. Komputer tidak hanya digunakan untuk mengolah data saja tetapi dapat juga untuk menjalankan dan merancang berbagai aplikasi, seperti game, perangkat ajar, pemutar audio, kamus digital, dan sebagainya.

Bahasa sunda merupakan salah satu kebudayaan daerah dari Jawa Barat yang hampir terlupakan dikarenakan minat dari generasi muda yang mulai menurun terhadap kebudayaan daerah tersebut, serta terbatasnya media penyebarluasan dari bahasa tersebut yang diantaranya karena bahasa sunda hanya di ajarkan di Jawa Barat.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka akan dibuatkan “E-learning Pembelajaran Bahasa Sunda Untuk Pengawasan Siswa”. Namun selain itu juga e-learning kami bisa juga dipergunakan untuk umum, untuk mewadahi minat dari orang orang yang ingin belajar bahasa sunda, dan semakin menyebarluaskan kebudayaan daerah.

 

B.      Tujuan

Berdasarkan uraian pada pendahuluan diatas memiliki beberapa tujuan diantaranya:

      Meningkatkan minat siswa untuk mempelajari bahasa sunda dan menggunakanya untuk menjadi bahasa sehari-hari

      Melestarikan bahasa daerah terutama bahasa sunda

      Memudahkan siswa dalam mempelajari bahasa sunda

      Memudahkan guru untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa

      Memanfaatkan visualisasi gambar sebagai sarana interaktif

      Kegiatan pembelajaran dapat di lakukan oleh siapa pun, dan memiliki jangkauan yang lebih luas

      Melestarikan bahasa daerah

 

C.      Manfaat

Manfaat dari e-learning bahasa sunda ini adalah :

    Agar anak-anak lebih tertarik dalam mempelajari bahasa sunda.

    Menambah pengetahuan anak tentang bahasa sunda selain materi yang di dapat di sekolah.

    Meminimalkan biaya kegiatan pembelajaran.

    Memulai pengenalan dan pemanfaatan internet bagi anak-anak.

    Memberikan kesadaran bagi anak-anak bahwa bahasa sunda adalah bahasa daerah yang perlu dilestarikan.

    Memberikan materi yang lebih mudah di ingat karena di sajikan dengan audio visual yang menarik.

    Pengawasan kegiatan belajar siswa dapat diawasi oleh guru maupun orangtua yang ada dirumah.

    Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran.


D.      Gagasan

Teknologi yang terus berkembang mempunyai peran yang sangat tinggi dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi informasi saat ini khususnya internet, mengarahkan sejarah teknologi pendidikan pada alur yang baru. Internet memudahahkan user dalam mencari dan menerima informasi mengenai materi pembelajaran. Penyedia layanan pembelajaran jarak jauh dapat memanfaatkan teknologi internet secara maksimal dapat memberikan efektifitas dalam waktu, tempat dan bahkan meningkatkan kualitas pendidikan.

Perubahan pola hidup membuat bahasa daerah terlupakan, salah satunya yaitu bahasa sunda yang merupakan sebuah bahasa daerah jawa barat. Kecenderungan menggunakan bahasa sunda dalam percakapan keseharian kini sangat jarang. Ironisnya, kondisi ini tidak saja terjadi di kalangan anak-anak zaman sekarang tapi juga di lingkungan orang tua sebagai bahasa indung bahasa sunda seharusnya dipergunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari, minimal di lingkunga keluarga. Sebenarnya pemerintah berupaya melakukan perubahan dan membangkitkan gairah penggunaan bahasa sunda, antara lain melalui pencanangan pelajaran bahasa sunda.

Untuk itu kami mengembangkan sebuah gagasan untuk mengaplikasikan interactive website dimana kami menyediakan suatu media pembelajaran untuk pengembangan kemampuan berbahasa sunda bagi anak-anak dengan format fun interactive-learning.

Aplikasi yang akan kami kembangkan dibangun dengan menggunakan :

1.       Moodle 1.9

2.       Php 4

3.       MySql

 

E.       Kesimpulan

Gagasan yang kami sampaikan yaitu berupa pembangunan aplikasi berbasis e-learning sebagai salah satu sarana pembelajaran yang kompeten. Penggunaan aplikasi moodle diharapkan dapat membantu para siswa dalam menghadapi era globalisasi dimana siswa dituntut untuk mahir dalam berbahasa dan berkomunikasi dalam bahasa sunda, dan diharapkan juga agar siswa dapat mengerti kegunaan dari internet sebagai salah satu media pembelajaran yang kompeten saat ini. Selain itu juga aplikasi yang akan dikembangkan dapat dipergunakan untuk kalangan umum untuk belajar Bahasa Sunda. Aplikasi ini pula memiliki sedikit animasi atau visualisasi untuk lebih menarik minat.

Daftar Pustaka 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=Z0N23rfQDfA&w=600&h=400]

Print Friendly, PDF & Email

Manajemen Proyek Mahasiswa: Pembangunan Aplikasi Penerimaan Bagi Siswa/i Pada Sekolah Menengah Atas

Pembangunan Aplikasi Penerimaan Bagi Siswa/i Pada Sekolah Menengah Atas
Guna memenuhi Tugas Manajemen Proyek Perangkat Lunak di Jurusan Teknik Informatika
Universitas Widyatama Bandung

 

Ringkasan Eksekutif

 Aplikasi berbasis komputer sudah mulai digunakan di lembaga pendidikan seperti di sekolah-sekolah.tekhnologi ini digunakan untuk melakukan beberapa pekerjaan seperti mengolah data, melakukan perhitungan, dan menampilkan informasi. Keuntungan melakukan pekerjaan dengan memanfaatkan tekhnologi komputer adalah mudah dalam penggunaan dan efektif serta efisien dalam pengolahan. Seiring dengan perkembangannya aplikasi berbasis komputer telah banyak digunakan dalam sistem pengolahan data siswa. Perkembangan ini memungkinkan kita mengelola data dengan mudah, sehingga informasi yang diinginkan pun dapat diperoleh dengan cepat. Informasi tersebut dapat dipercaya karena validasi data dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.
Tekhnologi ini dapat diterapkan pada proses penerimaan siswa baru SMA. Biasanya proses pengolahan data pada saat penerimaan siswa baru dilakukan secara manual, sehingga dapat mengakibatkan banyak kesalahan. Selain itu prosesny yang berjalan lambat dan sangat tidak efisien. Maka dari itu perlulah dilakuakan pembangunan sistem informasi penerimaan bagi siswa/i pada sekolah menengah atas untuk mempermudah dan mempercepat pengolahan data calon siswa.
Pada sistem informasi ini kita dapat menginput data calon siswa SMA. Data-data tersebut akan di proses untuk menghasilkan informasi yang terperinci dan jelas yaitu urutan kelulusan siswa berdasarkan NEM. Sistem juga dapat mengatur pembagian kelas untuk siswa yang dinyatakan lulus. Sistem hanya dapat diakses oleh admin, untuk pengumuman kepada calon siswa, informasi dapat dicetak/diprint.
Lembar Persetujuan
 Pembangunan Aplikasi Penerimaan
Bagi Siswa/i Pada Sekolah Menengah Atas
Disusun oleh :
Kelompok 4 Kelas A
0607087 – Nendi Supartiana – Project Manager
0607085 – Hizkia M.S Siregar – Documenter
0607078 – Eka Widya Wardhani – Programmer
0607086 – M. Anggraeno – Analyst
0607083 – Rifaldy Subakti – Tester
Disetujui,
Project Sponsor
Djadja Achmad Sardjana, S.T., M.T.
Dosen

 

Pendahuluan

Latar Belakang
Sistem Informasi berasal dari kata Sistem yang berarti suatu kesatuan yang terdiri dari dua atau lebih komponen atau sub sistem yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan dan Informasi adalah hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya, yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian (event) yang nyata (fact) yang digunakan untuk mengambil keputusan. Dari kedua hal diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sistem informasi adalah suatu kesatuan sistem yang menyajikan hasil dari pengolahan data yang lebih berarti yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk mencapai suatu tujuan.
Sistem informasi manajemen pendidikan merupakan sekumpulan sistem informasi yang saling berinteraksi, terkoordinasi secara terpadu, sehingga mampu mentransformasi data menjadi informasi yang berguna bagi para menejer pendidikan dalam melaksanakan peran dan fungsinya guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan visi dan misi entitas organisasi pendidikan.
Dalam hal ini kita mengambil konsep tentang sistem informasi menejeman pendidikan guna membantu mempermudah pengolahan data dalam suatu organisasi atau instansi pendidkan. Yang dalam hal ini kami menyajikan suatu sistem informasi dalam Penerimaan Siswa Baru pada Sekolah Menengah Atas (SMA). Hal ini di dasarkan pada pentingnya penerapan suatu sistem informasi untuk mempermudah pengolahan data dalam Penerimaan Siswa Baru.
Rumusan Masalah
Aplikasi ini dibangun dengan melihat kondisi dan kebutuhan sekolah dimana dapat dijabarkan sebagai beriku. :
  1. Bagaiamana mempermudah pihak sekolah yang terkait dalam pengolahan dan pemrosesan data-data pendaftar ?
  2. Bagaiamana cara memperoleh informasi tentang kelulusan dan pembagian kelas secara cepat, tepat dan akurat ?
  3. Data-data apa sajakah yang dibutuhkan dalam proses Penerimaan Siswa Baru?
  4. Bagaimana cara pemamfaatan teknologi informasi yang baik dalam bidang penerimaan suatu sekolah ?
Maksud danTujuan
Maksud yang kami tonjolkan dalam pembuatan perangkat lunak ini yaitu aplikasi yang membantu suatu SMA untuk menentukan siapa siswa/i yang akan dinyatakan diterima dan akan di klasifikasikan dalam kelas-kelas di sekolah tersebut.
Sedangkan tujuannya adalah :
  1. Mempermudah proses penyaringan masuk siswa/i yang mendaftar.
  2. Mempermudah penentuan kelas yang akan dimasuki oleh siswa/i yang masuk.
  3. Mempermudah pemberian jadwal dan wali kelas yang akan diterima siswa/i yang telah dinyatakan lulus.
  4. Mengefisienkan waktu dalam segala proses yang dulu saat teknologi informasi belum diterapkan pada proses penerimaan dan penyeleksian siswa/i baru.
Batasan Masalah
Mengingat harusnya ada batasan masalah dan persoalan yang harus dihadapi suatu aplikas ato perangkat lunak yang akan dibuat,maka kami pun memberikan batasan – batasan untuk aplikasi ini,yaitu :
  1. Informasi yang akan diinput
a.       Biodata
b.      NEM
  1. Informasi yang akan di olah/di tampilkan :
a.       Informasi kelulusan/penerimaan siswa/i baru
b.      Informasi kelas
c.       Informasi jadwal mata pelajaran
d.      Informasi wali kelas
Keuntungan yang Diperoleh dari Proyek
Dengan proyek ini, Sekolah akan memiliki aplikasi yang dapat memudahkan dalam penerimaan siswa/i baru dan dapat mengefisienkan waktu agar tidak terlalu banyak SDM yang digunakan dalam pengerjaan penerimaan dan pengklasifikasian kegiatan ini.
 
Metodologi Pembangunan Sistem
Aplikasi ini akan dibangun dengan menggunakan teknik penyelesaian Fountain lifecycle, adapun tahapan yang akan dilakukan oleh penulisan yaitu :
Tahap I: pendefinisian kebutuhan
Di dalam tahap ini, tim akan mengerjakan rancanagan dari desain interface dari aplikasi yang akan dibuat,merumuskan bahasa pemograman yang akan digunakan,struktur pengerjaan dan apa saja yang akan dibutuhkan tim secara teknis untuk kedepannya.
Tahap II: desain
Di dalam tahap ini, tim akan mengimplementasikan semua rancangan desain yang telah digambarkan dalam tahapan pendefinisian kebutuhan pada pertemuan sebelumnya.
Tahap III: koding dan unit testing
Di dalam tahap ini, tim akan melakukan peng-embed-an coding untuk aplikasi yang akan dibuat dengan menggunakan bahasa pemograman Visual Basic .Net, lalu akan melakukan pengecekan secara berkala setiap tahapan coding yang baru selesai agar kesalahan yang di temukan tidak terlalu rumit dan banyak.
Tahap IV: pengujian
Di dalam tahap ini, tim akan mengerjakan Pengujian pada keseluruhan aplikasi yang telah dibuat pada proses I,II,III untuk mengetahui seberapa berfungsi dan bergunanya program yang telah dibuat oleh tim kami,dan juga untuk mengidentifikasi setiap kesalahan secara menyeluruh dari awal coding pada aplikasi.
Tahap V: implementasi
Di dalam tahap ini, tim akan mengerjakan implementasi program dengan menggunakan vb.net dan database dengan SQL server
Tahap  VI : Dokumentasi
Di dalam tahap ini, tim akan menyusun dokumen dari proyek yang sudah dibuat.

 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=7ur3BEpzPsQ&w=600&h=400]

Print Friendly, PDF & Email

Pendidikan: EsEmKa, Proses Pembelajaran Yang Panjang Dari Pemangku Kepentingan

Walaupun bukan ulat atau semut hitam, EsemKa sedang naik daun sekarang, terutama setelah salah satu karyanya dipakai oleh Walikota Solo Joko Widodo. Semua orang terhenyak dengan hasil karya anak bangsa yang begitu mempesona. Mulai dari mobil SMK-2 Solo sampai dengan pesawat terbang Jabiru SMK-29 Jakarta, seolah memperlihatkan SMK sedang meninggalkan lawan-lawannya di arena “Formula-1” pendidikan. Belum lagi SMK-SMK lain dengan hasil karya yang membanggakan, mulai dari inovasi pertanian, otomotif, kimia sampai elektronika. Kelihatannya setelah dulu menjadi “anak tiri”, SMK bangkit menyeruak kekuatan segmen pendidikan yang patut diperhatikan.

Melalui Tag-line “SMK bisa”, perlahan-lahan program yang dikomandani oleh DR. Joko Sutrisno sebagai Direktur Pembinaan SMK KemDikBud telah memperlihatkan hasilnya. Hampir di semua daerah perkotaan dan pedesaan, kebanggaan menjadi siswa SMK begitu besar. Hal ini menjadikan animo semua pemangku kepentingan termasuk guru, siswa, wali dan dinas pendidikan serta kalangan lain bisa bersatu padu dalam pencapaian hasil pendidikan. Bahkan di beberapa daerah, animo masyarakat untuk memasukkan anaknya ke SMK dapat mengalahkan animo masuk SMU karena “Brand” yang lebih kuat melalui iklan TV, pencapaian siswa, kebutuhan dunia usaha dan lain-lain.

Hal ini tidak datang tiba-tiba, saya masih ingat dengan peran ayah sebagai pensiunan pengawas Dikmenjur (Pendidikan Menengah Kejuruan). Beliau pada kurun tujuh-puluhan sampai akhir sembilan-puluhan berusaha keras untuk juga membangun kompetensi dan strategi SMK-SMK di Jawa Barat. Dan sekarang, kelihatannnya program pendidikan SMK saat ini sudah “cukup membumi” sehingga bisa memberikan kepuasan pada kalangan “Academic, Business & Goverment” (Akademis, Bisnis dan Pemerintah). Pada akhirnya ini memberikan “Above Average Return” (Tingkat Pengembalian Di Atas Rata-Rata) pada semua fihak yang terlibat karena mendahuluan filosofis “Benefit” (Manfaat) daripada “Profit” (Keuntungan) …..

Diharapkan filosofis yang sama dapat juga “merasuki” segmen dan tingkat pendidikan yang lain seperti PAUD, SD, SMP, SMU, Perguruna Tinggi serta pendidikan non-formal/informal….Semoga….

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=l2l7Divqnd4?rel=0&w=600&h=400]

Print Friendly, PDF & Email