e-Learning Sebagai Bagian Pembelajaran Saat Bencana Terjadi

Gangguan atau “bencana” di kampus  mungkin mempengaruhi pembelajaran atau kuliah ketika fokusnya adalah dosen di podium  kelas. Sistem administrasi pendidikan mungkin gagal atau tidak berfungsi saat itu, tapi kelas dan pembelajaran harus terus dilanjutkan dimanapun dan kapanpun (kecuali jika bencana ada pada skala yang sangat besar).

Bagaimana bila institusi menyediakan “program online” atau menawarkan “blended learning” pada saat bencana? Dapatkah kampus melayani penggunanya 24 jam 7 hari seminggu tidak peduli apa yang terjadi? Kampus perlu untuk dapat melakukan itu –  itulah salah satu keunggulan  dari e-learning.

Dalam era mahasiswa pengguna TIK,  ruang kelas tanpa batas dan “blended learning”, kontinuitas kemampuan e-Learning yang “fault-tolerant” dan sangat andal harus tersedia di kampus.

Sistem e-Learning harus siap di lingkungan virtualisasi, “cloud computing” dan komunikasi terpadu sehingga semua itu mencerminkan kesiapan pembelajaran saat bencana yang tetap bekerja di pendidikan tinggi dimana organisasi pendukungnya harus siap untuk apa pun yang terjadi.

Bila  perguruan tinggi dapat membentuk lingkungan ketersediaan tinggi untuk pembelajaran (High Avalaibility for Learning), dapat dipastikan akan jauh lebih banyak program “online learning” – dapat memberikan “failover” untuk  pemulihan bencana (Disaster Recovery) sistem pembelajaran termasuk administrasi pendidikannya. Ditambah lagi, dengan pendekatan ini berarti staf kampus  akan dapat memberikan pilihan untuk pemulihan kuliah  tradisional, apakah krisis berlangsung beberapa jam, beberapa hari atau bahkan beberapa minggu.

Pemimpin atau Manajemen kampus harus banyak  melakukan langkah lebih jauh dengan perencanaan “Disaster Recovery” yang didasarkan pada jenis bencana yang mungkin menimpa lembaga mereka. Mereka harus merencanakan strategi didasarkan pada serangkaian pemikiran skenario “bagaimana jika kita kehilangan layanan pembelajaran”. Itu akan ideal karena memfokuskan sumber daya pada ketersediaan pembelajran ketimbang bencana itu sendiri.

Print Friendly, PDF & Email

e-Learning Dalam Pendidikan Kedokteran @UINJKT Untuk Membuat Pengalaman Pembelajaran Interaktif

Tanggal 19 Desember 2012 kemarin, saya menjadi nara sumber e-Learning untuk Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ya, para dosen kedokteran yang juga rata-rata dokter, mengkhidmati betapa pentingna metode  ini sebagai bagian peningkatan pembelajaran untuk mahasiswa dan pemangku kepentingan di Fakultas Kedokteran.
E-learning telah membuat peran besar di segala bidang,  tidak berbeda di bidang kesehatan. Saat ini, e-learning secara luas digunakan untuk membuat pengalaman pembelajaran interaktif  dengan kualitas tinggi dalam pendidikan serta pelatihan kesehatan, farmasi, dan  perawat berkelanjutan.
Industri kesehatan di luar negeri telah  di garis depan menggunakan platform e-learning  dan sistem pembelajaran manajemen (LMS) untuk meningkatkan pengetahuan dan kinerja pekerja klinis atau non-klinis. Dalam lingkungan bisnis saat ini, e-learning membantu organisasi kesehatan sebanyak  45 persen pada pelatihan  dan pendidikan kesehatan berkelanjutan.
Dekan/Kaprodi sebagai pengambil keputusan dalam organisasi pendidikan kesehatan, dapat memanfaatkan e-learning untuk berbagi, mempromosikan atau mentransfer pengetahuan kepada staf pengajar. Jika ya, apa saja tantangan utama yang dihadapi selama implementasi e-learning? Marilah kita cari tahu tentang hal ini sebagai berikut:
Efektivitas biaya
Biaya menentukan kualitas operasi dalam industri apapun, tidak terkecuali kesehatan. E-learning mengurangi biaya sewa, pengajaran, personil, materi, ruang, dll. Sumber daya yang ada dapat digunakan untuk memenuhi tujuan bisnis lainnya.
Pengalaman Belajar Tambahan
Kebanyakan  modul  e-Learning kesehatan menggunakan media pembelajaran yang berbeda untuk mengajar para profesional kesehatan. Pembelajar mendapat manfaat dari simulasi komputer interaktif pada prosedur bedah, video real-time operasi dan prosedur virtual lainnya. Ini memberi dokter dan perawat pengetahuan dari tangan pertama, tanpa menghadiri pelatiahan atau pendidikan konvensional.
Keluwesan
Meskipun jadwal mereka sibuk  di kampus dan rumah sakit, calon dokter atau perawat dapat memperbarui keterampilan mereka melalui e-learning pelatihan dan pendidikan.
Memperluas pengetahuan
E-learning membuka perbatasan baru pada basis pengetahuan bagi para profesional kesehatan. Misalnya, dokter belajar tentang gadget baru dan terobosan baru-baru ini dengan berlangganan pelajaran dari e-learning .
Disesuaikan Dengan Ritme Belajar
Setiap individu mampu mencapai hasil yang diinginkan dengan melakukan kursus sesuai kecepatan yang mereka sukai. Peserta yang pandai tidak terhambat oleh mahasiswa yang lambat dan sebaliknya.
Mengurangi beban tutor/dosen
E-learning mengurangi tekanan pada tutor/dosen dan memungkinkan mereka punya waktu yang cukup untuk berkonsentrasi pada masalah-masalah mendesak lainnya. Selain itu, e-learning mengurangi kebutuhan bahan yang mahal, membosankan dan kebutuhan pelatihan memakan yang waktu.
Mendidik pasien untuk jangka panjang 
Untuk jangka panjang, e-learning membantu dalam mendidik pasien tentang penyakit dan proses pengobatannya. E-learning membantu pasien untuk bekerja sama dengan dokter dan membantu mereka memahami penyakit dan tidak panik saat darurat.
Membangun kesadaran
E-learning adalah alat yang paling efektif dalam pendidikan massal. Dalam kasus epidemi “break-out” atau darurat medis nasional, hal itu adalah metode yang paling praktis dan paling cepat menyampaikan informasi untuk mendidik masyarakat. Hal ini tidak hanya biayanya efektif tetapi  tidak memakan waktu pembelajaran.
Print Friendly, PDF & Email

Kekerasan di Sekolah: Antara Proses Peniruan, Hilangnya Ketauladanan dan “Teori Kekacauan”

Menurut Neil Nodding dari Universitas Cambridge (Pengarang buku “Happiness and Education”):

“Kenyataan bahwa arti Kebahagian dan Pendidikan tampaknya semakin bertentangan akhir-akhir ini dan salah satu motif untuk menanganinya secara baik dan menjadi terkait erat. Kebahagiaan harus menjadi tujuan pendidikan, dan pendidikan yang baik harus memberikan kontribusi yang signifikan untuk kebahagiaan pribadi dan kolektif.”

Menurut dia, dari data-data yang ada telah meningkat kekhawatiran tentang hubungan antara hilangnya kebahagiaan, penderitaan, dan kebosanan di sekolah. Mengapa begitu banyak orang-orang kreatif membenci sekolah? Melihat penderitaan mereka yang “terdokumentasi dengan baik”, mengapa kita terus membenarkan dengan alasan lama, “Suatu saat nanti kamu akan berterima kasih atas ini”

Orang tua dan pendidik yang melanjutkan sikap ini, sebagian karena anak-anak dewasa begitu banyak berterima kasih kepada kita untuk kesuksesan  (yang kadang-kadang dipertanyakan konteksnya) yang mereka anggap, bahwa itu adalah hasil kesengsaraan mereka sebelumnya. Maka, mereka siap, bahkan bersemangat, untuk menimbulkan babak baru penderitaan pada orang lain. Memang, banyak orangtua dan guru takut untuk menghindari hal ini, takut bahwa anak-anak akan dimanjakan, tidak disiplin, tidak berhasil, dan akhirnya tidak bahagia.

Proses Peniruan Kekerasan di Sekolah

Dalam konteks kekerasan pada murid sekolah, stereotip yang dihidupkan pasti seputar tingkah laku adik kelasnya yang dinilai sok tahu, sombong, tak sopan, melawan, tak mau diatur oleh kakak kelas. Dengan alasan itulah, kakak kelas merasa punya legitimasi ”mengajari” adik kelasnya. Dengan cara ”mengajari” ini, kelak diharapkan si adik bisa tunduk. Jika tidak tunduk, yang terjadi lebih gawat lagi. Itulah ciri kekerasan ketiga, yaitu meningkatnya bentuk kekerasan.

Jika sebelumnya hanya dalam bentuk hinaan verbal, lama kelamaan baik bentuk maupun frekuensinya akan meningkat. Tak heran anak sekolah sebagai pelaku meningkatkan bentuk kekerasannya dari verbal menjadi fisik seperti yang kita lihat di media televisi. Karena mereka juga meniru kekerasan yang  dilakukan siswa senior, mereka pun meniru model kekerasan  seperti menampar dan menendang.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Dari analisis jender sudah lama sebetulnya ditawarkan agar model pendidikan dan pengasuhan lebih mengutamakan hubungan-hubungan yang didasarkan pada karakter feminin, misalnya mengembangkan kasih sayang daripada menerapkan disiplin gaya maskulin yang didasari karakter keras, melindungi dan bukan menguji nyali, mengutamakan kebersamaan, dan saling mendukung bukan saling bersaing.

Selain itu, kita juga harus bisa memutus rantai kekerasan tersebut dengan menghilangkan faktor-faktor yang membuat anak-anak menjadi frustrasi atau agresif. Mereka terlalu jenuh melihat orang-orang dewasa yang saling membunuh dalam peperangan atau konflik, mereka jijik melihat pertengkaran di parlemen atau partai. Intinya adalah mereka membutuhkan teladan dan bukan hukuman dengan pemecatan. Sebab, pemecatan tak akan menyelesaikan masalah, melainkan hanya memindahkan masalah. Sementara akar masalah yang sebenarnya tak benar-benar diatasi.

Kekerasan Akibat Hilangnya Ketauladanan

 

Kebutuhan anak didik akan figur teladan, bersumber dari kecenderungan meniru yang sudah menjadi karakter manusia. Perbuatan meniru bersumber dari kondisi mental seseorang yang senantiasa merasa bahwa dirinya berada dalam perasaan yang sama dengan kelompok lain, sehingga dalam peniruan ini, anak-anak cenderung meniru orang dewasa, orang lemah cenderung meniru orang yang kuat, bawahan cenderung meniru atasannya dan terkhusus anak didik cenderung meniru pendidiknya.

Dalam hal ini guru mempunyai peran vital dalam proses keteladanan. Sikap dan perilaku guru mempunyai implikasi yang luar biasa terhadap murid-muridnya. Kepribadian guru mempunyai pengaruh langsung dan kumulatif terhadap perilaku siswa. Perilaku guru dalam mengajar secara langsung atau tidak langsung mempunyai pengaruh terhadap motivasi belajar siswa, baik yang sifatnya positif maupun negatif. Artinya jika kepribadian yang ditampilkan guru dalam mengajar sesuai dengan tutur sapa, sikap, dan perilakunya, maka siswa akan termotivasi untuk belajar dengan baik, bukan hanya mengenai materi pelajaran sekolah tapi juga mengenai persoalan kehidupan yang sesungguhnya.

Sejak fase-fase awal kehidupan, seorang anak banyak sekali belajar melalui peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang-orang di sekitarnya. Kecenderungan anak belajar melalui peniruan itu menyebabkan  proses keteladanan menjadi sangat penting artinya dalam proses pembelajaran.

Dalam pendidikan melalui proses keteladanan ada dua macam bentuk, yaitu keteladanan yang disengaja dan keteladanan yang tidak disengaja. Keteladanan yang disengaja ialah keteladanan yang disertai penjelasan atau perintah untuk meniru. Sedangkan keteladanan yang tidak disengaja ialah keteladanan dalam keilmuan, kepemimpinan, sifat-sifat yang baik. Dalam konsep pendidikan Islam, kedua keteladanan ini sama pentingnya, meskipun keteladanan yang disengaja dilakukan secara formal, sedangkan keteladanan yang tidak disengaja dilakukan secara tidak formal.

Kekerasan dan “Teori Kekacauan” (Chaos Theory)

Chaos Theory pertama kali diperkenalkan oleh Charles Sampford dalam bukunya yang berjudul The Disorder of Law: A Critique of Legal Theory. Selain Sampford,ada juga pakar lain yang mengemukakan pendapat lain yang sejenis dan sangat mirip dengan Chaos Theory milik Charles Sampford ini yaitu Denis J. Brion dengan artikelnya tentang “The Chaotic Indeterminacy of Tort Law”, yang termuat dalam Radical Philosophy of Law, 1995. Aliran Legal Melee ini sekaligus merupakan pengecam keras aliran positivisme, dengan tokoh utamanya Hans Kelsen, dimana kaum positivis memandang hukum sebagai suatu sistem yang teratur, determinan, dan linear.

Menurut Sampford, secara teoritis dimungkinkan untuk menemukan suatu sistem hukum dalam suatu masyarakat yang tidak teratur. Bahkan dimungkinkan juga untuk menemukan suatu hukum yang tidak sistematik di dalam suatu masyarakat yang justru teratur. Charles Sampford memandang bahwa hukum bukanlah bangunan yang penuh dengan keteraturan, melainkan suatu yang bersifat cair. 

Menurut Sampford, masyarakat memperlihatkan wujudnya sebagai sebuah bangunan yang memuat banyak kesimpang siuran, yang diakibatkan dari interaksi antar para anggotanya. Masyarakat adalah ajang dari sekian banyak interaksi yang dilakukan antara orang-orang yang tidak memilki kekuatan yang sama, sehingga terjadilah suatu hubungan berdasarkan adu kekuatan (power of relationships). Oleh karena itulah, tatanan yang muncul dari interaksi itu adalah tatanan yang a-simetris. Sampford menyebut keadaan ini sebagai fenomena “social melée” (suatu kondisi sosial yang cair [fluid]).

Pada waktu sistem hukum yang secara formal sudah disusun dengan simetris itu diterapkan dalam masyarakat, maka sistem hukum tersebut dijalankan oleh kekuatan-kekuatan yang a-simetris. Produk sistem hukum yang dijalankan oleh kekuatan-kekuatan yang a-simetris itu adalah hukum yang penuh ketidakteraturan (disordered). Inilah yang kemudian oleh Sampford disebut “legal melée”.

Dengan kekuasaan dan kekuatan yang ada pada masing-masing, para pelaku hukum membuat putusan-putusan yang subjektif. Hakim melihat peranannya sebagai pembuat putusan-putusan pribadi (individual decisions); para advokat akan menggali dalam-dalam perundang-undangan yang ada untuk mencari celah-celah bagi kepentingan kliennya, sedangkan rakyat akan melihat hukum itu sebagai tindakan para pejabat hukum (as the actions of many individual).

Itulah mengapa Perilaku elit negeri yang korup, berkonflik dalam politik dan dipertontonkan di muka umum mempengaruhi perilaku penontonnya termasuk pelajar. Anak usia SMP dan SMA sangat labil dan mudah terpancing bertindak beringas. Para elit negeri ini harus bertanggungjawab, termasuk sebagian masyarakat yang menghalalkan segala cara yang menimbulkan kekacauan kehidupan bernegara yang berimbas pada kekacauan pendidikan…….

 

Print Friendly, PDF & Email

Sementara Waktu Terus Berjalan

 

Kita memang sadar hidup adalah perjalanan

Menuju kilatan kehidupan sepanjang zaman

Dalam rumah kaca harapan yang terpasang 

Di ruang hati berdinding sulam  kasih sayang

 

Sementara waktu terus berjalan 

Jelang malam hari semburat padam

Kembalikan jiwa pasrah yang tenang

Menyambut esok hari ‘kan menjelang

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Gerakan Anti Korupsi dan Kesadaran Pendidikan Manusia Yang Memanusiakan

Foto dari detik.com
Korupsi Dan Pergulatan Kekuasaan
 
Tanggal 9 Desember diperingati sebagai Hari Anti Korupsi Internasional yang diperingati Komisi Pemberantasan Korupsi bersama pegiat dan organisasi antikorupsi lainnya dengan menyelenggarakan rangkaian acara menarik di berbagai kota di Indonesia. Kita semua percaya, jujur adalah langkah awal berantas korupsi! Untuk itulah, berbagai acara yang dikemas apik ini secara serentak akan menyuarakan Berani Jujur, Hebat!
Bukan hanya di Indonesia, di seluruh dunia korupsi menjadi penyakit yang sangat berbahaya dalam kehidupan manusia. Karena kerugiannya bukan hanya bersifat material namun juga rusaknya moral serta akhlak dimana manusia yang bersangkutan tidak bisa menjaga amanah yang telah dipercayakan padanya untuk di kelola dan dipegang. Korupsi bukan hanya dilakukan oleh seorang bos atau pemimpin, namun mulai dari kelas pegawai rendahan sekalipun sudah terjangkiti.
Korupsi di negeri kita benar-benar sudah sangat parah karena sudah jadi kerak yang susah sekali di kikis, hampis semua sistem tatanan bernegara kita sampai saat ini masih terjadi praktek-praktek penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan yang merugikan kepentingan negara dan rakyat satu negara hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan tertentu. 
Hal di atas terbuktikan dengan kejadian berikut ini:
Suatu Malam terjadi kehebohan di Gedung KPK……Mirip dengan peristiwa bersejarah Reformasi pada bulan Mei 1998, rakyat “berkumpul” di depan gedung para “Satria Anti Korupsi” itu didukung “Rakyat Internet” melalui Media Sosial. Hubungan Polri dan KPK meregang setelah penyidik Polri di KPK, Noval Baswedan, rencananya akan ditangkap Polda Bengkulu, Jumat (5/10) kemarin. 
Jika insiden KPK ini dibiarkan, bukan mustahil suatu saat ada polisi yang menyerbu istana presiden tanpa sepengetahuan Kapolri. Jika alasannya ingin menangkap penyidik KPK yang terlibat masalah hukum, seharusnya dilakukan sesuai SOP yaitu lewat surat panggilan pertama dan kedua.
Peringatan Allah Terhadap Bahaya Korupsi
Dikutip dari Lintas.me, entah apakah ini suatu kebetulan atau memang Allah sudah mengingatkan kita semua termasuk semua pemimpin umat dan pemimpin negara, pemimpin golongan,  pemimpin apapun yang ada untuk tetap menjaga amanah. Menjaga janji dan sumpah yang telah diucapkan.  Mari sejenak kita merenungkan ayat Al-Quran dibawah ini.
Surat ke 9 Al-Quran yaitu Surat At-Taubah Ayat Ke-12  yang artinya:
[9:12] Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.
Coba kita renungkan dan cerna maksud ayat diatas, apakah maksud Allah dalam ayat tersebut? ini mungkin bisa menjadi bahan refleksi serta koreksi bagi kita semua, karena kita semua hakekatnya adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas amanah yang telah dipercayakan padanya. Kita coba untuk memberantas korupsi dari diri kita masing-masing kita cegah korupsi dari diri kita lingkungan kita. Semoga Allah Tuhan semesta alam memberikan berkah dan kebaikan bagi negeri yang sesungguhnya kaya raya ini.
Korupsi dan Kemanjuran Pendidikan

Dari fenomena akhir-akhir ini ternyata pendidikan dirasakan belum memberikan kemanjuran (efficacy) terhadap permasalahan peradaban bangsa Indonesia. Banyak permasalahan besar yang menyangkut nilai-nilai mendasar kemanusiaan yang belum terselesaikan oleh bangsa ini untuk menyambut persaingan antar bangsa yang semakin ketat dan berkelanjutan. Diantaranya kasus korupsi menjadi sorotan yang banyak fihak karena telah “mengkerdilkan” logika sederhana manusia terhadap arti kebenaran dan kemanusiaan.
Selain itu, sebagai menu tambahan, ada juga masyarakat di lingkungan pendidikan yang masih mengedepankan penyelesaian “jalan pintas” dengan mengatas-namakan pendidikan untuk masalah sepele atau tujuan yang tidak ketahuan ujung pangkalnya. Di fihak lain, adanya sinyalemen bahwa Sertifikasi Pendidik yang memakan biaya tidak sedikit, ternyata belum memberikan pemicu kinerja tenaga pendidik menjadi lebih baik atau memenuhi syarat minimal. So, apakah kita termasuk “Pendidik” yang Manusia Yang Memanusiakan?
Print Friendly, PDF & Email

Hikmah Dari Lahirnya Oemar Seno Adji, Meninggalnya Mozart dan Peringatan Hari Armada

Hari ini, Tanggal 5 Desember, ada beberapa peristiwa penting yang patut menjadi hikmah. Diantaranya adalah Lahirnya Oemar Seno Adji, Meninggalnya Mozart dan Hari Armada.

Mengenang Oemar Seno Adji

Oemar Seno Adji (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 5 Desember 1915-1984) adalah mantan Ketua Mahkamah Agung RI periode 1974-1982. Alumni dari Universitas Gadjah Mada ini juga pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman. Ia memulai karier sebagai pegawai departemen kehakiman dan sempat menjadi jaksa agung muda.

Setelah masa jabatannya berakhir sebagai Jaksa Agung Muda, sejak tahun 1959 Seno menjadi dosen dan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) dan menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1966-1968). Di pemerintahan, ia dipercaya menjabat Menteri Kehakiman Kabinet Pembangunan I (1968-1973) dan Ketua Mahkamah Agung (1974-1982). Setelah itu, ia kembali ke dunia akademis sebagai rektor memimpin Universitas Krisnadwipayana (1981-1984). Seno juga membuka Kantor Advokat Oemar Seno Adji. 

Berbagai karya tulis dan pandangan Seno dijadikan sebagai referensi penting. Keputusannya juga menjadi yurisprudensi yang menjadi ensiklopedi hukum Indonesia. Beberapa bukunya mengenai hukum seperti : Aspek-Aspek Hukum Pers, Massmedia dan Hukum, serta Hukum (Acara) Pidana dalam Prospeksi telah menjadi rujukan bagi praktisi hukum. Selain itu, makalah-makalahnya di berbagai seminar dan simposium dalam dan luar negeri, juga menjadi referensi. 

Sebagai ahli hukum, beberapa kali menduduki jabatan dalam pemerintahan, antara lain sebagai Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. Berpendidikan Rechtshogeschool di Jakarta dan Fakultas Hukum UGM di Yogyakarta, pernah menjadi pegawai di Departemen Kehakiman (1946-1949), dosen pada Fakultas Hukum UI di Jakarta (1966), menteri Kehakiman (1966-1971), dan kemudian Ketua Mahkamah Agung sampai 1981. Prof. Oemar juga anggota dewan Pembina LIPI dan anggota kehormatan PWI. Tulisan-tulisannya mengenai hukum pidana, undang-undang pers dan masalah hukum, pada umumnya banyak disiarkan dalam bentuk penerbitan dan makalah dalam berbagai seminar. Pemegang berbagai tanda jasa ini juga pernah menerima tanda penghargaan dari Filipina, The Maginoo of the Order of Sikatuna.

Wolfgang Amadeus Mozart: Catatan Kelabu Seorang Pemusik Besar Dunia

Wolfgang Amadeus Mozart yang bernama asli Johannes Chrysostomus Wolfgangus Gottlieb Mozart (lahir di Salzburg, 27 Januari 1756 – meninggal di Wina, Austria, 5 Desember 1791 pada umur 35 tahun)[1][2] adalah seorang komponis. Ia dianggap sebagai salah satu dari komponis musik klasik Eropa yang terpenting dan paling terkenal dalam sejarah. Karya-karyanya (sekitar 700 lagu) termasuk gubahan-gubahan yang secara luas diakui sebagai puncak karya musik simfoni, musik kamar, musik piano, musik opera, dan musik paduan suara. Contoh karyanya adalah opera Don Giovanni dan Die Zauberflöte. Banyak dari karya Mozart dianggap sebagai repertoar standar konser klasik dan diakui sebagai mahakarya musik zaman klasik. Karya-karyanya diurutkan dalam katalog Köchel-Verzeichnis.

Suatu waktu Mozart mendapat pesanan dari Pangeran Franz von Walsegg untuk membuat sebuah Requiem yang bermaksud menjadikan komposisi tersebut sebagai karyanya untuk mengenang istrinya yang telah meninggal. Mozart tak sempat menyelesaikan karya besar ini lalu diteruskan oleh muridnya, Franz Xaver Süssmayr. Menurut beberapa sumber, Mozart tak sanggup menyanyikan bagian Lacrimosa saat sedang memainkan lagu ini dengan teman-temannya. Dari musiknya yang kelam, Franz Beyer mengomentari, dalam album Requiem ‘Aku bisa mendengar suara Mozart, yang berbicara untuk kepentingannya sendiri, dengan keadaan yang mendesak, seperti anak kecil yang sakit dan melihat ibunya dengan penuh harapan dan ketakutan akan perpisahan. Mozart juga mengalami takut akan kematian. Pada tanggal 5 Desember 1791, Mozart meninggal, jam satu pagi.

Sebab-musabab Mozart meninggal tak pernah tercatat dengan jelas. Para musikolog membuat beberapa dugaan kemungkinan kenapa kuburan Mozart tak diketahui letaknya karena:

  1. Mozart diracuni Salieri yang merupakan saingannya. Ada jurnal di Eropa yang mengatakan Salieri mengakuinya sebelum ia meninggal di tempat tidurnya (1825), walau ada cerita lain yang menentang hal ini.
  2. Pada pemakaman Mozart terdapat badai salju sehingga keluarganya tak bisa mengikuti pemakaman. Cerita ini dibantah oleh catatan cuaca Wina.
  3. Tubuh Mozart dipindahkan ke tempat lain karena keluarganya tak membayar ongkos penguburan.

Republik Indonesia: Negeri Bahari dan Sejarah Hari Armada 

Nun jauh sebelum NKRI berdiri, para pemimpin Kerajaan Sriwijaya di abad ke-7 hingga ke-13 serta Kerajaan Majapahit di ujung abad ke-12 hingga ke-15 telah membuktikan kemampuannya dalam menggunakan wilayah strategis perairan Indonesia dari sisi geopolitik dan geostrategi. ”Kesultanan” kecil seperti Kudus dapat begitu tegasnya memerintahkan ”juru bayarnya” (Kementerian Keuangan dalam konteks Indonesia hari ini) untuk membangun armada laut sangat besar dengan 375 kapal kapal perang raksasa kelas “Jung Jawa”dalam kurun waktu 1 tahun saja, mempersenjatai dan mengerahkan armada kesultanannya (1.000 personel setiap kapalnya).

Ratu Kalinyamat pada 1550 mengirim 4.000 tentara Jepara dalam 40 buah kapal, memenuhi permintaan Sultan Johor untuk membebaskan Malaka dari bangsa Eropa.Armada Jepara ini kemudian bergabung dengan armada pasukan Persekutuan Melayu hingga mencapai 200 kapal perang.Pasukan gabungan tersebut menyerang dari utara dan berhasil merebut sebagian Malaka. 

Cerita tentang Ratu Kalinyamat memang tidak berakhir dengan digelari duchesse atau lord dari Kerajaan Inggris Raya, tetapi namanya ditulis dalam sejarah Portugis dengan julukan yang menggetarkan hati: Rainha de Jepara,Senora Pade Rosa se Rica” (Ratu Jepara yang penuh kekuatan dan kekuasaan). Hari ini kemampuan armada laut kita sangat jauh dari apa yang seharusnya kita miliki. 

Cikal bakal berdirinya Armada Republik Indonesia sebagai bagian dari perjalanan sejarah TNI Angkatan Laut. Sesuai dengan tuntutan perkembangan situasi saat itu, maka harus dilakukan penataan organisasi untuk dapat melakukan koordinasi dalam membangun suatu kekuatan keamanan laut.

Berdasarkan Skep Kasal Nomor: A.4/2/10, tanggal 14 September 1959, ditetapkan berdirinya Armada Angkatan Laut RI yang menggabungkan seluruh jajaran kekuatan tempur laut ke dalam Armada ALRI. Namun mengingat berbagai hal, maka pelaksanaan upacara peresmian Armada ALRI tersebut baru dapat terlaksana pada tanggal 5 Desember 1959. Sejarah inilah yang menjadikan dasar peringatan hari Armada yang kita laksanakan setiap tahunnya.

 

Print Friendly, PDF & Email

Nasionalisme Bangsa dan Hubungannya Dengan Kiprah Sepakbola Indonesia

Nasionalisme: Dimanakah Kau Berada?

 

Nasionalisme Bangsa Indonesia ditandai dengan Kebangkitan Nasional dimana Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Saat ini kita masih menunggu dan mengejar agar bangsa ini bangkit menuju peradaban yang lebih baik dan berkesinambungan. Masalah yang dihadapi cukup rumit, terutama generasi saat ini yang melihatnya dari peristiwa Reformasi 20 Mei 1998. Saat itu banyak fihak berharap akan terjadi perubahan mendasar setelah 14 tahun reformasi itu terjadi.

Namun, apa mau dikata, Reformasi telah “menelan korban dan biaya” yang tidak sedikit. Baik dari sisi aset fisik,  budaya, sosial, psikologis dan aspek kemanuasian lain, peradaban kita ada di ambang “To Be or Not To Be”. Banyak pemangku kepentingan bangsa kebingungan dengan “Prioritas Mana Yang Harus Dipilih Oleh Bangsa Indonesia?”. Mereka masih gamang “irama apa yang harus dimainkan?”.

Nasionalisme dan Sepakbola

 

Apakah ada keterkaitan langsung antara nilai nasionalisme dan prestasi sepakbola sebuah bangsa?

Nasionalisme atau paham kebangsaan serupa barang semu. Tidak berbentuk dan hanya ada di dalam benak kepala orang banyak. Benedict Anderson mengatakan, bangsa-bangsa adalah komunitas yang dibentuk secara sosial dan diciptakan dalam persepsi mereka yang berada di dalamnya. Prinsip kebangsaan ini mendapat tempat lebih luas secara politis ketika orang membentuk negara.

Bersumber dari goal.com, disebutkan Sepakbola turut memberikan ruang atas terjadinya persaingan antarbangsa atau antarnegara salah satunya melalui sistem kejuaraan yang dikenal sejak olahraga si kulit bulat ini mewabah secara global.

Dalam ruang yang paling kecil terjadi ketika Indonesia berpartisipasi di AFF Suzuki Cup 2012 baru-baru ini. Kebetulan atau tidak, Indonesia mengawali turnamen melawan Laos dan mengakhirinya dengan menghadapi Malaysia. Hubungan Indonesia dan Malaysia tak ubahnya seperti dua negara tetangga lain di dunia. Saling cela, saling bersaing, saling cemburu, tetapi sebenarnya saling membutuhkan.

Malaysia dalam banyak hal sebenarnya mengagumi Indonesia. Dalam sebuah percakapan dengan seorang teman dari negara jiran itu di Kuala Lumpur dua pekan lalu, generasi muda Malaysia sebenarnya mengakui keunggulan berbagai produk budaya Indonesia. Sayangnya, Indonesia tidak memandang fenomena itu sebagai sebuah hegemoni melainkan menganggapnya sebagai produk yang eksklusif.

Tapi, di lapangan sepakbola Malaysia berhasil mengungguli Indonesia dalam beberapa pertemuan. Jika masyarakat Indonesia merayakan pencapaian timnas di AFF Suzuki Cup dengan gegap gempita, begitu pula dengan masyarakat Malaysia. Jika kepentingan politik Indonesia menempatkan sepakbola di pentas utama, begitu pula halnya dengan Malaysia. Sebabnya sepakbola dianggap berhasil menggelembungkan sikap nasionalisme sepanjang turnamen digelar.

Nasionalisme yang sudah ditinggalkan kalangan posmodernis tetap menjadi barang penting bagi negara dunia ketiga seperti Indonesia dan Malaysia. Jika menilik teori modernisasi Anthony Giddens, entah berada di tahap berapa Indonesia sekarang ini. Bukan negara primordial yang feodalis, tetapi tidak jua lepas landas. Kesadaran manusia, demikian Karl Marx suatu ketika, tergantung pada alat produksi yang dipakainya. Bagi Marx, kesadaran manusia sangat diperlukan demi sebuah kemajuan. Indonesia dan Malaysia, selama AFF Suzuki Cup, ternyata menuju “kemajuan” yang berbeda.

Di Malaysia dewasa ini, kebangsaan adalah isu penting. Dalam beberpa tahun terakhir Pemerintah rajin mempropagandakan kampanye “1Malaysia”, yang bertujuan menyatukan berbagai rumpun budaya — terutama tiga etnis besar: Melayu, Cina, dan India. Bahasa ibu masih akrab di telinga masyarakat sehari-hari karena tidak semua orang Malaysia bisa berbahasa Melayu dan tidak semua orang Malaysia lancar berbahasa Inggris.

Kaum oposisi beranggapan kampanye “1Malaysia” bertujuan melanggengkan status quo generasi rezim pemerintahan dan Anda tahu bahasa yang digunakan media Melayu untuk menyebut kata “oposisi”? “Pembangkang”. Dalam bahasa Indonesia, dua kata tersebut memiliki konotasi yang berbeda. Pendeknya, bagi Malaysia persatuan adalah isu penting. 

Jauh sebelum AFF Suzuki digelar, Pemerintah Malaysia menyertakan sepakbola dalam kurikulum pendidikan nasional. Sejumlah fasilitas akademis plus sepakbola didirikan di beberapa negara bagian — terbaru di negara bagian Pahang. Sistem pembinaan pemain muda ini turut ditunjang kebijakan federasi sepakbola setempat (FAM) yang melarang partisipasi pemain asing dalam kompetisi nasional.

Saat turnamen digelar, euforia kebangsaan Malaysia mulai terpantik ketika sukses menumbangkan Laos dan kemudian Indonesia  2-0 pada laga penyisihan di Kuala Lumpur. Ketika laga  digelar banyak generasi muda Malaysia dengan mendatangi langsung arena nonton bareng di kawasan Bukit Jalil. 

Walau belum juara, wajar kiranya bangsa Malaysia merayakannya  berpesta menyambut lolosnya mereka ke semi final di turnamen antarnegara Asia Tenggara itu. Sepakbola dianggap sebagai kebanggaan bersama warga Malaysia. Semua etnis berbaur menjadi satu dalam merayakan keberhasilan tim Harimau Malaya. 

Indonesia menjalani turnamen dengan penuh warna, gagal lolos semi final walau tadinya diharapkan merebut gelar. PSSI bahkan berseteru dengan KPSI sehingga banyak pemain tang bertalenta tidak bisa ikut serta. PSSI memanfaatkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk mendukung timnas dengan memaksa “keterbatasan” mereka.  Di negara kita, isu nasionalisme malah disetir ke arah kepentingan tertentu.

Print Friendly, PDF & Email

Jaringan Islam Liberal: Suatu Kontradiksi Misi dan Aksi Presisi Yang Harus Di Somasi

 

Epitomologi Jaringan Islam Liberal

Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, Jaringan dimiliki oleh organisme yang telah memiliki pembagian tugas untuk setiap kelompok sel-selnya. Organisme bertalus, seperti alga (“ganggang”) dan fungi (“jamur”), tidak memiliki perbedaan jaringan, meskipun mereka dapat membentuk struktur-struktur khas mirip organ, seperti tubuh buah dan sporofor. Tumbuhan lumut dapat dikatakan telah memiliki jaringan yang jelas, meskipun ia belum memiliki jaringan pembuluh yang jelas.

Dari sumber yang sama, Islam (Arab: al-islām, الإسلام: “berserah diri kepada Tuhan”) adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama besar  di dunia. Islam memiliki arti “penyerahan”, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh).Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan”, atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Sedangkan menurut Wikipedia, Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas.

Jaringan Islam Liberal: Kontradiksi Misi dan Aksi Presisi

Sejak berdirinya Jaringan Islam Liberal telah menimbulkan pertentangan. Dikutip dari eramuslim.com, Setelah didirikan pada tanggal 8 maret 2001, praktis JIL mulai disibukkan pada serangkaian agenda-agenda penting mereka untuk membumikan garis Islam liberal yang sudah sempat booming pada era 1970-an.

Situs JIL pun launch bertepatan pada tanggal yang sama. Menurut Budy Munawar Rachman, JIL bukanlah organisasi formal layaknya Muhammadiyah dan NU. JIL hanyalah organisasi jaringan yang lebih bersifat cair dan lepas.

Dalam situsnya, Islam liberal dalam pandangan JIL adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan landasan: Pertama, membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam. Kedua mengutamakan semangat religio-etik dan bukan makna literal teks. Ketika mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.

Keempat memihak pada minoritas yang tertindas. Kelima meyakini kebebasan beragama. Keenam memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi serta keagamaan dan politik (sekularisme).

Para intelektual muda yang terlibat dalam pengelolaan Jaringan Islam Liberal angkatan pertama adalah: Goenawan Mohammad, Ahmad Sahal, Ulil Abshar Abdalla, Luthfie Asy-syaukanie, Hamid Basyaib dan Nong Darol Mahmada. Bisa dikatakan nama-nama ini pas jika dijuluki sebagai founding father JIL secara kelembagaan.

Namun jika dikerucutkan kembali, kemunculan JIL tidak lepas dari tangan Ulil Abshar Abdalla (Lakpesdam NU), Ahmad Sahal (Jurnal Kalam), dan Goenawan Mohamad (ISAI) sebagai trimurti berdirinya JIL yang sempat melontarkan wacana itu ketika duduk-duduk di Jalan Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur, Februari 2001.

Kalau melihat “Asbabun Nuzul”  sejarah dan legenda  masing-masing pendiri JIL ini sangat menarik. Ulil Abshar Abdalla misalnya menyelesaikan pendidikan menengahnya di Madrasah Mathali’ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. M. Ahmad Sahal Mahfudz (wakil Rois Am PBNU periode 1994‑1999). Pernah nyantri di Pesantren Mansajul ‘Ulum, Cebolek, Kajen, Pati, serta Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Dia mendapat gelar Sarjananya di Fakultas Syari’ah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta, dan pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Saat ini ia sedang menempuh program doktoral di Universitas Boston, Massachussetts, AS.
 
Jadi ada unsur “No Free Lunch” disini……. Tidak usah dengan debat agama, Menyitir cara-cara penyelidikan dan penyidikan FBI dan IRS, perlu dibuktikan dengan cara melihat sumber aliran dana yang mengalir pada dirinya 🙂
 
Mengapa?  Berbeda dengan Ulil yang membela Ahmadiyah, KH Sahal Mahfudz justru terkenal keras menentang Ahmadiyah. Romo Kyai -begitu para santri memanggilnya termasuk Ulil- meminta agar Ahmadiyah keluar dari Islam. Beliau terkenal garang dalam mengkritik kalangan muda NU yang memakai jurus “Atas nama HAM” untuk membela kehadiran Ahmadiyah.

KH. Sahal dengan tegas menyatakan bahwa Ahmadiyah mempunyai akidah yang berbeda. KH. Sahal Mahfudz pun telah berkali-kali menyatakan Ahmadiyah sesat dan meminta pemerintah untuk membubarkan dalam kapasitasnya sebagai petinggi Majelis Ulama Indonesia.

Jaringan Islam Liberal Harus Di Somasi

Saat ini banyak organisasi Islam merasa gerah dengan kehadiran JIL. Dikutip dari obornews.com, Ratusan pemuda yang tergabung dalam gerakan Indonesia Tanpa JIL (Jaringan Islam Liberal) menggelar silaturahmi nasional (Silatnas) perdananya di Bandung, Jawa Barat, Minggu (11/11/2012).

“Gerakan Indonesia Tanpa JIL (ITJ) merupakan gerakan simpati yang saat ini tersebar di 25 wilayah di Indonesia,” Kata koordinator ITJ pusat, Fajar Arif Kristanto kepada wartawan di Cikole, Bandung, Minggu (11/11/2012).

Menurut Fajar, gerakan ITJ merupakan gerakan ajakan kepada ummat muslim di Indonesia untuk menolak gerakan islam liberal yang dinilai telah melakukan perusakan akidah generasi muda.

“Gerakan ini terbentuk bulan Februari tahun 2012. TUjuannya menghapuskan gerakan Jaringan Islam Liberal di Indonesia,” katanya.

Hasil dari Silatnas perdana ini menghasilkan empat poin yang diharapkan bisa menyadarkan akan adanya bahaya JIL di Indonesia. Meminta pemerintah, melalui Kemendikbud, menghentikan liberalisasi agama dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, menyerukan tenaga pendidik untuk berani menolak kurikulum pendidikan yang menjurus kepada liberalisasi agama yang dipaksakan.

Selain itu, mereka juga meminta media massa untuk mendukung upaya penyelamatan generasi muda Indonesia dan kepada orang tua untuk memperhatikan penanaman nilai-nilai agama kepada anak-anaknya karena keluarga dinilai sebagai benteng terakhir moralitas generasi muda Indonesia.

Jadi jelas bahwa ada kontradiksi dalam organisasi Jaringan Islam Liberal ini. Ia tumbuh seperti “Lumut” tanpa memiliki jaringan “pembuluh agama” yang jelas. Padahal Islam berarti “penyerahan”, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh). Bukan menjadi Liberal yang menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.
Print Friendly, PDF & Email

Hari Guru Nasional: Antara Pola Pikir, Kebutuhan dan Menata Hidup Guru

Hari Guru Nasional

Tanggal 25 Nopember diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Dikutip dari Koran Pikiran Rakyat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Kementerian Agama dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), tahun ini kembali melaksanakan peringatan Hari Guru Nasional tahun 2012 dan HUT ke-67 PGRI.

HGN diperingati setiap tahun pada tanggal 25 November. Tahun 2012 ini, puncak acara akan berlangsung paling lambat satu minggu setelah tanggal 25 November 2012 di Sentul Convention Center, Bogor, Jawa Barat.

“Acara tersebut akan dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono bersama para guru, siswa-siswi SD, SMP, SMA/SMK, para pejabat pemerintah, serta pemerhati di bidang pendidikan dan kebudayaan,” tutur Kapus Informasi dan Humas Kemdikbud, Ibnu Hamad, melalui siaran pers di Jakarta, Kamis (15/11/12).

Menurut Ibnu, berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyambut kelancaran dan kesuksesan hari guru nasional tersebut. Di antaranya melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, baik pihak-pihak yang menjadi peserta upacara maupun koordinasi antarinstansi terkait.

“Upacara bendera peringatan Hari Guru Nasional akan dilaksanakan di setiap instansi pemerintah mulai tingkat pusat sampai daerah tingkat kecamatan,” ucap Ibnu.

Ibnu menambahkan, berdasarkan pedoman pelaksanaan upacara penyelenggaraan Hari Guru Nasional tahun 2012 dan HUT ke-67 PGRI, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama dan Ketua Umum PB PGRI menjadi pembina upacara di kantor pusat masing-masing.

Berbagai kegiatan kata dia, akan dilakukan di tingkat pusat maupun daerah seperti pertemuan forum ilmiah guru, lomba kreatifitas guru, ASEAN council of teacher, talkshow di RRI dan TVRI, bakti sosial (donor darah dan kebersihan lingkungan), gerak jalan sehat, ziarah ke Taman Makam Pahlawan serta pemberian penghargaan dan tanda kehormatan kepada mereka-mereka yang telah berjasa di bidang pendidikan dan kebudayaan.

Tema peringatan tahun ini adalah ‘Memacu profesionalisasi guru melalui peningkatan kompetensi dan penegakan kode etik’. “Dengan demikian keberadaan dan peran guru sangat menentukan keberhasilan mutu sistem dan hasil pendidikan yang bermutu dan berkualitas karena hakekat pendidikan itu adalah berlangsung seumur hidup, bersifat semesta dan menyeluruh,” katanya.

Sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 78 tahun 1994 telah menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional yang dikuatkan oleh UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen serta peraturan pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru.

Pola Pikir, Kebutuhan dan Menata Hidup Guru

 

Mungkin orang menyangka ku tak pernah terluka

Tegar bagaikan karang, tabu cucurkan air mata

* Kadang ku rasa lelah harus tampil sempurna

Ingin ku teriakkan

Andai mereka tahu rasa dalam hatiku

Lembut bagaikan salju dan menghangatkan kalbu

repeat *

reff:

Guru juga manusia, punya rasa punya hati

Jangan samakan dengan pisau belati

Guru juga manusia, punya rasa punya hati

Jangan samakan dengan pisau belati

repeat *

Guru juga manusia, punya rasa punya hati

Jangan samakan dengan pisau belati

Repeat reff

 

Ya, sesuai lagu yang (mohon maaf) dimodifikasi dari Seurieus ini, pendidik saat ini telah mengalami masa-masa metamorfosis dari “Ulat, Kepompong menjadi Kupu-kupu”. Perhatian para pemangku kepentingan akan pendidikan semakin meningkat, namun di sisi lain masih banyak “Pekerjaan Rumah” yang harus diselesaikan khususnya oleh pendidik.

Mulai dari “Standard Level Agreement/SLA” (Standar Pelayanan Minimum), kesesuaian pendidikan dengan dunia nyata sampai dengan sertifikasi yang diharapkan merubah pola “Hati, Pikir dan Aksi” dari pendidik. Ada beberapa pendidik yang sudah sadar, faham  dan bertindak sesuai “Peran Tauladannya” sebagai pendidik. Adapula yang menganggap anak didiknya sebagai sarana pelampiasan akademis, komersial, bahkan (Audzubillahi Min Dzalik) nafsu birahinya.

 

Para pendidik harus menyadari, walaupun “Mungkin orang menyangka ku tak pernah terluka” tetap harus “Tegar bagaikan karang, tabu cucurkan air mata”. Dilain waktu pendidik “Kadang ku rasa lelah harus tampil sempurna” serta “Ingin ku teriakkan” dan ingin dimengerti “Andai mereka tahu rasa dalam hatiku” kita tetap harus “Lembut bagaikan salju dan menghangatkan kalbu“. Serta terus berusaha menyadarkan khalayak ramai bahwa “Pendidik juga manusia, punya rasa punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati“.

 

Print Friendly, PDF & Email

Pelayanan Rawat Jalan: Apakah Sebanding Dengan Mengantri Selama Tiga Setengah Jam?

 

Hari ini saya dan istri mengantar Firman yang mengalami alergi berkepanjangan ke dokter kulit di salah satu rumah sakit swasta di Jl.Ir.Haji Juanda. Kami tiba  jam 8 pagi di lantai 2 rumah sakit tersebut dan langsung mendaftar sebagai pasien rawat jalan. Diinformasikan oleh petugas administrasi bahwa dokter kulit sudah praktek sejak jam 7 pagi.

 

Kami menuju ruang praktek dan Firman langsung diperiksa tekanan darah dan pra-pemeriksaan lainnya oleh suster. Setelah 1 jam (jam 09.00) kami lihat pasien mulai banyak, namun dokter belum ada.

 

Kira-kira jam 10.00 dokter yang mempunyai nama seperti pahlawan wanita bangsa Prancis ini tiba di tempat prakteknya. Pakaiannya “Chic” dan dia “Good Looking” untuk wanita seukurannya……..

 

 

Setelah menunggu 2 jam ada rasa kecewa dan jenuh, mengapa rumah sakit sebesar dan “sebaik” ini tidak punya “Communication Plan” yang baik dan benar. Seharusnya ada indikator berapa lama pasien harus menunggu sesuai urutannya, apakah dengan cara TIK (Teknologi Informasi dan Kumunikasi) atau dengan cara “Basa mah teu meuli” melalui suster atau tenaga administrasinya.

 

Barulah setelah tiga jam setengah  (jam 11:30) yang menjemukan dan menguras “social & emotional cost” yang cukup besar, Firman dipanggil masuk ke ruang praktek untuk diperiksa…..Taraaa…15 menit kemudian pemeriksaan selesai diiringi perasaan lega….

 

Pada saat keluar, selain resep,  FIrman membawa surat keterangan dari dokter bahwa ia terlambat ikut Ekstra Kurikuler di sekolahnya karena harus berobat ke  dokter……Pertanyaan strategisnya:

 

Apakah Pelayanan Rawat Jalan Sebanding Dengan Mengantri Selama Tiga Setengah Jam?

 


Print Friendly, PDF & Email