Tips Merancang dan Menjalankan Corporate University

 

 

Merancang Corporate University

  1. Tentukan dengan tim senior eksekutif bagaimana pembelajaran mendukung strategi dan visi organisasi.
  2. Mengidentifikasi cara untuk menyelaraskan fungsi pelatihan dengan masing-masing inisiatif perusahaan.
  3. Membuat nama, logo dan merek universitas perusahaan (corporate university) .
  4. Mengembangkan pernyataan visi, misi dan nilai-nilai untuk corporate university.
  5. Menentukan inisiatif kunci dan ukuran keberhasilan.
  6. Menilai kekuatan dan komitmen terhadap proses perubahan anggota tim saat ini.
  7. Bekerja dengan kelompok pemasaran untuk membuat rencana pemasaran untuk universitas.
  8. Membuat rencana peluncuran untuk universitas perusahaan (corporate university) dan memastikan bahwa itu menyentuh dan melibatkan setiap bagian dari organisasi.

Menjalankan Corporate University

  • Melakukan pemasaran suatu kompetensi inti.

Bekerja sama dengan kelompok pemasaran  Anda untuk merek universitas perusahaan Anda. Jadilah bergairah dan ulet tentang merek universitas Anda dan bagaimana Anda dirasakan oleh pelanggan dan stakeholder. Pertimbangkan bagaimana Anda akan mengiklankan program dan kegiatan, jenis penelitian perlu dilakukan, bagaimana PR dapat manfaat penyebabnya Anda (kisah sukses dan praktik terbaik dari garis depan dan tim kepemimpinan) dan bagaimana Anda akan harga layanan Anda.

  • Beroperasi seperti sebuah bisnis.

Dalam bisnis, ada bidang mendasar praktek: keuangan dan akuntansi, penjualan dan pemasaran, pelatihan, operasi, administrasi, teknologi informasi, penelitian dan desain dan sumber daya manusia. Buat rencana dan memiliki individu yang bertanggung jawab untuk setiap area bisnis tradisional. Ini mungkin tidak ada pekerjaan full-time, tapi seseorang akan bertanggung jawab atas dan bergairah tentang aspek yang sangat penting dari universitas perusahaan Anda.

  • Rayakan belajar dan menggunakan kekuatan pengakuan.

Ini adalah sifat manusia untuk mencintai untuk diakui. Gunakan ini kebutuhan manusia untuk keuntungan Anda, dan memaksimalkan kekuatan penghargaan untuk mendorong menyebabkan Anda. Menggunakan kendaraan komunikasi internal untuk mengenali mereka yang telah berkomitmen untuk belajar dan mereka yang telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan orang lain. Posting foto di intranet orang, menggali cerita dari praktik terbaik dan keberhasilan dari lapangan, dan mencari jalan pengakuan publik yang akan mengakui kontributor.

  • Menjadi fasilitator pembelajaran.

Jika Anda berpikir tim Anda sebagai fasilitator pembelajaran dan belum tentu sebagai guru, Anda akan menemukan bahwa banyak kemungkinan muncul. Jack Welch dari General Electric adalah guru banyak waktu untuk program kepemimpinan Crotonville, tetapi Anda bisa bertaruh ada orang-orang di belakang layar yang penting untuk pembelajaran. Anda mungkin menemukan bahwa tim eksekutif tidak hanya terdiri dari instruktur yang indah, tetapi juga bahwa mereka ditantang oleh proses dan kebutuhan belajar lebih sering dipertimbangkan dalam rencana organisasi. Ada juga terikat untuk menjadi orang-orang dalam organisasi Anda yang ahli di bidangnya, atau dekat dengan tindakan dari Anda, dan program Anda dapat memiliki dampak yang lebih besar dengan memaksimalkan keahlian mereka.

  • Merangkul teknologi.

Banyak universitas perusahaan pertama dimulai di Silicon Valley. Mereka tentu memahami pentingnya menggunakan teknologi untuk memberikan pembelajaran jarak jauh dan pembelajaran virtual ekonomis dan efektif. Menggunakan teknologi ini, pembelajaran bisa menjadi baik terus menerus dan segera. Selain itu, biaya perjalanan dapat diminimalkan, dan populasi pelajar yang beragam dapat dibawa bersama sebagai praktek masyarakat tidak seperti sebelumnya.

  • Pikirkan pembelajaran sebagai proses yang berkelanjutan.

Belajar harus menjadi suatu proses dan bukan hanya suatu peristiwa atau program pelatihan. Universitas perusahaan Anda perlu memiliki alat untuk membantu menciptakan keberhasilan dalam organisasi Anda, dan itu berarti lebih dari mengenakan kelas. Tentukan bagaimana Anda akan menilai peserta didik pengetahuan, keterampilan dan kebutuhan, memberikan kesempatan untuk belajar dalam berbagai cara (yang dipimpin instruktur, asynchronous online, secara online sinkron) dan menggunakan alat penguatan, fungsi dukungan dan cara bahwa individu dapat memvalidasi apa yang telah mereka pelajari.

  • Pertimbangkan menawarkan program sertifikasi atau gelar.

Alih-alih berpikir secara kursus-by-kursus, menentukan rencana pembangunan jangka panjang bagi karyawan Anda dan menawarkan kesempatan untuk mendapatkan sertifikasi profesional atau gelar universitas perusahaan. Sebutan ini dapat secara ketat didasarkan pada persyaratan dari universitas perusahaan, atau kelompok pelatihan dapat menerima persetujuan pihak ketiga untuk program mereka.

  • Evaluasi inisiatif belajar Anda.
Raja pengukuran ketika datang ke pelatihan Donald Kirkpatrick. Nya empat tingkat evaluasi sering digunakan oleh perusahaan untuk mengukur hasil dari pelatihan mereka. Tingkat Kirkpatrick adalah: reaksi (Bagaimana peserta didik bereaksi terhadap pelatihan?), Pembelajaran (Berapa peserta belajar dari pelatihan?), Perilaku (Bagaimana perilaku berubah sebagai hasil dari pelatihan ini?) Dan hasil (Apa jenis hasil melakukan pelatihan capai?).
Dalam menentukan bagaimana Anda akan mendefinisikan dan mengukur keberhasilan, mempertimbangkan hasil Anda berusaha untuk mencapai dalam hal sumber daya manusia (retensi, pengembangan, dll), dampak yang terkait dengan pelanggan dan stakeholder dan bagaimana Anda akan mencapai hasil yang terkait dengan tujuan bisnis dan strategi .
  • Membangun komunitas  praktek.

Sebuah komunitas praktek adalah sekelompok orang yang datang bersama-sama untuk memanfaatkan pengetahuan kolektif mereka pada peran pekerjaan tertentu atau fungsi dalam perusahaan. Mereka dapat baik formal maupun informal dan sering menggunakan beberapa jenis teknologi yang memungkinkan kolaborasi. Dengan membangun komunitas praktek, Anda memungkinkan organisasi Anda untuk menjadi lebih inovatif, karena Anda menciptakan lebih banyak kesempatan untuk interaksi dan pemecahan masalah. Anda dapat mempercepat waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pengetahuan ke berbagai kelompok, karena Anda dapat menangkap pembelajaran seperti itu terjadi dan segera memberikan orang lain akses ke sana.

 

Menciptakan Sukses Bersama

Banyak yang dapat dicapai dalam suatu organisasi melalui model yang kuat dari universitas perusahaan. Keselarasan yang lebih baik dengan tujuan perusahaan dan inisiatif, buy-in di seluruh organisasi untuk menekankan pembelajaran dan pemanfaatan konsep merek yang kuat untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan semua mungkin. Pelanggan dan pemegang saham juga mendapat manfaat dari universitas perusahaan, sebagai profesional pelatihan lebih fokus perhatian pada berbagai paradigma pembelajaran yang sukses.

 

Print Friendly, PDF & Email

“Universitas Perusahaan” (Corporate University): Sebuah Model Ajeg Untuk Pembelajaran Karyawan (Bagian-2)

 

Kekuatan dan peran Corporate University sangat jelas. Namun, menjalankan sebuah universitas perusahaan tidak tanpa tantangan. Dalam setiap perubahan, inisiatif atau budaya,   berarti  adanya pergeseran yang  terikat menjadi perlawanan. Untuk itu, kerugian Corporate University harus diidentifikasi terlebih dahulu sebelum dapat diatasi.

Kerugian Menggunakan Universitas Model Perusahaan

  • Jika sekedar nama, Corporate University akan merusak kesempatan untuk berdampak pada perusahaan.

Model ini memang menawarkan “merek” yang kuat, seperti yang ditunjukkan pada bagian sebelumnya. Tapi, jika tidak direncanakan dengan hati-hati, branding ini dapat merugikan Anda. Mengacu pada departemen pelatihan Anda sebagai corporate university, jika hanya sekedar  nama, hal ini hanya “membahayakan” daripada menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Peserta didik akan menjadi sinis tentang pembelajaran di perusahaan, dan mereka mengetahui bahwa komitmen organisasi untuk belajar adalah tidak signifikan dan bukan  fokus perusahaan.

Dalam rangka  meniadakan potensi kerugian ini, pastikan bahwa Anda berhati-hati merencanakan transisi untuk menjadi corporate university (corpu). Tentukan apa yang ingin Anda sampaikan dan lakukan dengan Corpu. Hati-hati menjaga merek Corpu Anda dan hanya digunakan untuk program-program atau inisiatif yang kompatibel dengan misi perusahaan. Hal ini sangat penting ketika mempertimbangkan kualitas pengajar atau program pelatihan tertentu. Kadang-kadang departemen lain dalam perusahaan mungkin ingin meminjam merek Corpu Anda dan menggunakannya untuk program-program mereka. Hati-hati untuk  hal ini dan hanya dipakai ketika masuk akal untuk melakukannya.

  • Banyak yang mengkritik bahwa pembelajaran tidak  sesuai dengan “dunia nyata”.

Banyak orang mengkritik pendidikan tinggi selama bertahun-tahun untuk dihapus dari dunia bisnis saat ini karena terlalu idealis dalam pendekatannya. Kritik yang sama sering dilemparkan pada Corpu. Menggunakan dosen tamu dan memiliki gairah untuk merancang materi pelatihan yang dibuat dari skenario yang sebenarnya dapat menjauhkan dari masalah ini.

  • Penambahan biaya.

Membangun dan memelihara sebuah Corpu bukanlah usaha murah. Perusahaan yang telah menunjukkan komitmen yang kuat untuk pembelajaran dalam organisasi mereka dengan melembagakan Corpu menghabiskan 2,5 persen dari gaji untuk pembelajaran – dua kali lipat rata-rata standar nasional AS. Biaya akan dibenarkan ketika mendapatkan laba atas investasi Anda, tapi menciptakan merek Corpu tanpa menentukan bagaimana Anda akan mengukur dan mencapai hasil, itu bertentangandengan kepentingan perusahaan Anda. Corpu harus bertumpu pada hasil jangka panjang yang dapat dicapai, versus penghematan jangka pendek.

 

 

 

Pemain Besar di Arena Corporate University

Karena Corporate University telah ada selama beberapa dekade, ada banyak contoh perusahaan sebagai model praktik terbaik. Beberapa Corporate University terkemuka  mencakup Universitas Charles Schwab, Disney University, General Electric Crotonville, McDonald Hamburger University, Motorola University, Oracle University dan Universitas Toyota.

Masing-masing kelompok pelatihan ini merupakan contoh yang terbaik dari Corporate University. Mereka mengikat inisiatif perusahaan untuk strategi organisasi mereka, menggunakan teknologi untuk meningkatkan pembelajaran, bermitra dengan penyedia pelatihan yang tepat untuk memaksimalkan pembelajaran organisasi mereka dan mengukur hasilnya.

 

Print Friendly, PDF & Email

Kebijakan E-learning Perguruan Tinggi Pada Masa Datang

Pemanfaatan internet untuk pembelajaran atau e-learning tidak terlepas dari berbagai kekurangan. Berbagai kritik (Bullen, 2010; Beam, 2007), antara lain dapat disebutkan sbb:

  • Kurangnya interaksi antara dosen dan mahasiswa  atau bahkan antar siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar;
  • Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial;
  • Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan;
  • Berubahnya peran pendidik dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT;
  • Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal;
  • Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer);
  • Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki ketrampilan soal-soal internet; dan
  • Kurangnya penguasaan bahasa komputer.

Hal ini terkait dengan lemahnya kebijakan e-Learning yang terkait dengan “Proses Bisnis” pembelajaran itu sendiri.  Khusus untuk perguruan tinggi di Indonesia, kebijakan e-learning sesuai Rencana Strategis Pendidikan dari Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS) 2009-2014 adalah: “Pengembangan pembelajaran jarak jauh (distance learning) di perguruan tinggi, dengan proyek percontohan pada beberapa perguruan tinggi dan pusat pelatihan hingga tahun 2009, yaitu ITB, ITS, UGM, IPB, UI, UNRI, UNDANA, UNHAS, PENS, dan POLMAL. Diseminasi proyek ini akan dikembangkan pada  UNLAM, UM, UNY, UNP, UNHALU, UNCEN dan PT-PT lainnya.” Sedangkan target yang ditetapkan adalah: “ICT literacy (kemampuan akses, memanfaatkan dan menggunakan radio, televisi, komputer dan internet) 80% untuk kalangan mahasiswa dan dosen” dengan Penguatan Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Citra Publik di bidang: “Peningkatan kapasitas satuan perguruan tinggi dilakukan melalui berbagai program hibah kompetisi yang diselenggarakan oleh pemerintah, seperti program hibah kompetisi, program kemitraan, hibah penelitian, pusat pengembangan pendidikan dan aktivitas instruksional (P3AI). Peningkatan kapasitas pengelolaan juga akan ditunjang dengan penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), seperti pengembangan sistem informasi pendidikan tinggi”.

Dari hal tersebut di atas penulis menyarankan Kebijakan E-learning pada Perguruan Tinggi Masa Datang memakai kerangka kerja (framework) dari Gellman-Danley and Fetzner (2008) sebagai berikut:

Policy Area

Key Issues

Academic Calendar, Course integrity, Transferability, Transcripts, Student/Course evaluation, Admission standards, Curriculum/Course approval, Accreditation, Class cancellations , Course/Program/Degree availability, Recruiting/Marketing
Governance/Administration/Fiscal Tuition rate, Technology fee, FTE’s, Administration cost, State fiscal regulations, Tuition disbursement, Space, Single versus multiple board oversight, Staffing
Faculty Compensation and workload, Development incentives, Faculty training, Congruence with existing union contracts, Class monitoring, Faculty support, Faculty evaluation
Legal Intellectual property, Faculty, Student and institutional liability
Student Support Services Advisement, Counseling, Library access, Materials delivery, Student training, Test proctoring, Videotaping, Computer accounts, Registration, Financial aid, Labs
Technical Systems reliability, Connectivity/access, Hardware/software, Setup concerns, Infrastructure, Technical support (staffing), Scheduling, Costs
Cultural Adoption of innovations, Acceptance of on-line/distance teaching, Understanding of distance education (what works at a distance), Organizational values

Sedangkan “Policy Analysis Framework”  untuk  hirarki kebijakannya dapat menggunakan  model sebagai berikut:

Policy Area

Description

Faculty (including Continuing Education and Cooperative Extension) Rewards (e.g., stipends, promotion and tenure, merit increases, etc.); Support (e.g., student help, technical assistance, training, etc.); Opportunities to learn about technology and new applications (e.g., release time, training, etc.); Intellectual property (e.g. ownership of materials, copyright, etc.)
Students/Participants Support (e.g., access to technology, library resources, registration, advising, financial aid, etc.); Requirements and records (e.g., residency requirements, acceptance of courses from other places, transfer of credit, continuing education, etc.)
Management and Organization Tuition and fee structure; Funding formula;Collaboration (e.g., with other Departments, units, institutions, consortia, intra-and inter-institutional, service areas, etc.); Resources (e.g., financial resources to support distance education, equipment, new technologies, etc.); Curricula/individual courses (e.g., delivery modes, course/program selection, plans to develop, individual sequences, course development, entire program delivery, interactivity requirements, test requirements, contact hour definitions, etc.)
Print Friendly, PDF & Email

Banjir…Janganlah Engkau Datang lagi

 

Sudah enam tahun sejak Februari 2007

Engkau datang tanpa diundang

Bukan salahmu memang……

Karena kami sering lupa akan dirimu

 

Hujan itu bukan bencana, 

Namun berkah dari Yang Maha Kuasa

Bukan salahmu engkau jadi murka…..

Itu karena manusia lalai pada alamnya

 

Satu yang kami minta padamu…..

Beritahu dulu kami bila engkau akan tiba

Atau sebaiknya, kami terus terang padamu

Banjir…Janganlah Engkau Datang lagi

 

Print Friendly, PDF & Email

RSBI dan SBI: Antara “Split Personality” dan “Kacang Yang Lupa Pada Kulitnya”

 

Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, ras, etnis, agama, dan gender. Pemerataan dan mutu pendidikan  akan membuat warga negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya, mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila. 

Pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan manusia sepanjang hayatnya, baik sebagai individu, kelompok sosial, maupun sebagai bangsa. Pendidikan telah terbukti mampu mengembangkan sumber daya manusia yang merupakan karunia Allah Swt., serta memiliki kemampuan untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga kehidupan manusia semakin beradab.

Menurut Wikipedia, Sekolah berasal dari bahasa Yunani σχολή (schole), yang aslinya berarti “kesenangan”, atau juga “Tempat yang menyenangkan”. Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk memungkinkan dan mendorong siswa (atau “murid”) untuk belajar di bawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, siswa mengalami kemajuan melalui serangkaian tingktan sekolah. Nama-nama untuk sekolah berbeda di setiap negara, tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anak dan sekolah menengah bagi remaja yang telah menyelesaikan pendidikan dasar.

Berhubungan dengan hal di atas, sepertinya RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) sedang mengalami “Split Personality” (Kepribadian Ganda) setelah putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan payung hukum RSBI dan SBI baru-baru ini.  Dikutip dari ANTARA News – Selasa pekan ini, Mahkamah Konstitusi membuat putusan mengejutkan perihal Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dengan membatalkan Pasal 50 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatur RSBI dan SBI. 

Mahkamah Konstitusi menyimpulkan pasal itu bertentangan dengan UUD 1945. Para hakim konstitusi membongkar sejumlah cacat filosofis dalam RSBI dan SBI. “Ini merupakan bentuk baru liberalisasi dan dualisme pendidikan, serta berpotensi menghilangkan jati diri bangsa dan diskriminasi,” kata Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. Atau dalam dalam istilah lain RSBI dan SBI dianggap seperti Kacang Yang Lupa Pada Kulitnya”.

Sementara hakim konstitusi Anwar Usman menyoroti pembedaan sarana dan prasarana, pembiayaan dan pendidikan SBI/RSBI dari sekolah lain akan mencipta perlakuan berbeda kepada sekolah dan siswa. “Ini bertentangan dengan prinsip konstitusi yang harus memberikan perlakuan yang sama antarsekolah dan antarpeserta didik apalagi sama-sama sekolah milik pemerintah,” kata Anwar.

Dilain fihak, polemik baru segera muncul. Guru dan orangtua pun berbeda pandangan soal inkonstitusionalisasi RSBI ini. “RSBI adalah terobosan dalam tingkatkan pendidikan dan perlu,” kata Wakil Kepala Sekolah SMAN 12 Jakarta, Mulyanto. Dia menilai sekolah bagus tak hanya ditentukan oleh seleksi siswa, tapi juga kemampuan sama bagusnya antara guru dan siswa.

 

Untuk menghadirkan kondisi ideal ini tentu memerlukan kelengkapan-kelengkapan khusus yang berkonsekuensi biaya besar.  Pada di tingkat ini seharusnya negara yang lebih berperan, bukan dikembalikan pada masyarakat. Mulyanto menyayangkan kesalahan dan kekeliruan praktikal RSBI membuat sistem yang dianggapnya baik ini, harus terkorbankan. “Jangan bakar lumbungnya, tapi perbaikilah,” kata dia.

 

Sebagai kata penutup, betapa pentingnya sekolah tidak hanya berfikir tentang SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) yang hanya mementingkan intelejensia. Namun juga harus menjadi SBA (Sekolah Bertaraf Akhirat) yang mempunyai kesetimbangan IQ, EQ dan SQ agar anak bisa tumbuh berkembang dengan wajar dan natural.

 

Print Friendly, PDF & Email

Hubungan “Gangnam Style”, Lagu “Kebangsaan” Kuliah Kewirausahaan dan Sarbanes-Oxley

Tanggal 21 Desember 2012 adalah hari terakhir saya menyampaikan Kuliah Kewirausahaan di Akuntansi Widyatama semester ini. Kuliah diakhiri dengan kegiatan yang memberi “ingatan mengesankan” bagi mahasiswa dan presentasi tugas kelompok penjualan kewirausahaan. Maksudnya adalah mereka mengalami dan mengkhidmati “Individual/Personal Learning”, “Team/Group Learning” dan “Organizational/Class Learning”. Foto-Fotonya bisa dilihat di Facebook………
“Gangnam Style” Penutup Kuliah Kewirausahaan

Untuk S-1 Kelas H, selain presentasi tugas kelompok penjualan kewirausahaan, saya meminta juga mereka (bersama saya) menutup kuliah dengan “Gangnam Style” di “Main Hall” Universitas Widyatama. Tadinya mereka enggan melakukannya, maklum rasa malu menghinggapi mereka, yang sebetulnya saya juga sama mengalaminya 🙂 Namun akhirnya, setelah latihan 2 X 60 menit jadilah kami ber-“Gangnam Style” dengan gaya “Cikutra 204A”, termasuk dosennya yang bergaya Parto menari di acara “Opera Van Java” 😀
Setelah acara “memalukan diri sendiri” ini selesai, banyak pendapat mahasiswa yang saya dengar, namun pada umumnya mereka “Exciting” dan “Having Fun”. Baru pertama kalinya kuliah ditutup dengan kegiatann seperti ini yang tidak akan mereka lupakan seumur hidupnya…..Beriikut pendapat mereka yang saya kutip dari Twitter sbb:

Via : Gangnam Style Kuliah Kewirausahan Kelas-H Akuntansi  

Belajar hari ini bersama kelas H memang beda dan paling asyik, terimakasih pak  pembelajarannya 🙂

This morning was embarrassing, but it’s memorable and unforgettable. Thanks to Mr  and my friends. WE DID GANGNAM STYLE!!  =D

Entrepreneurship is fun   Thanks to Mr  and my friends. WE DID GANGNAM STYLE!!

 

 

Lagu “Kebangsaan’ Kewirausahaan Universitas Widyatama


Kuliah Penutup dilanjutkan untuk kelas-G berencana untuk menyanyikan Lagu “Kebangsaan’ Kewirausahaan Universitas Widyatama. Lagu yang diciptakan dan diaransemen Abdul Aziz (0111U063) mahasiswa Akuntansi Widyatama hanya perlu waktu 60 menit untuk dapat dinyanyikan bersama mahasiswa lain. Kemudian tepat jam 11.00 kami nyanyikan di “Main Hall” Universitas Widyatama tanpa memperdulikan “rasa malu yang membara”. Bahkan ada beberapa mahasiswi yang tertunduk karena menahan malu karena menyanyikan lagu  “kontemporer” itu.
Berikut adalah lirik yang saya rencanakan sebagai Lagu “Kebangsaan’ Kewirausahaan Universitas Widyatama pada setiap Kuliah Kewirausahaan yang saya ampu:
Tumbuhkan Gelora Muda Usaha 
Tunjukkan Innovasimu
Dengan Kreativitasmu
Namun Kadang Ada Resiko
Tapi Ini Bakat Kubutuh
Berikut adalah komentar mereka di Twitter 🙂

RT : Via : “Tumbuhkan Gelora Muda Usaha” Lagu “Kebangsaan” Kuliah Kewirausahan Kelas-G … 

Via : Gangnam Style Kuliah Kewirausahan Kelas-H Akuntansi  

Bakat kubutuh pak :DRT : Tumbuhkan Gelora Muda Usaha” Lagu “Kebangsaan” Kuliah Kewirausahan Kelas-G Akuntansi

Kuliah Umum Sarbanne-Oxley
Hari itu ditutup dengan Kuliah Umum Sarbanne-Oxley untuk mahasiswa Teknik Informatika Universitas Widyatama. Seperti diketahui, Sarbanes-Oxley atau kadang disingkat SOx atau Sarbox adalah hukum federal Amerika Serikat yang ditetapkan pada 30 Juli 2002 sebagai tanggapan terhadap sejumlah skandal akuntansi perusahaan besar yang termasuk di antaranya melibatkan Enron, Tyco International, Adelphia, Peregrine Systems dan WorldCom. 
Skandal-skandal yang menyebabkan kerugian bilyunan dolar bagi investor karena runtuhnya harga saham perusahaan-perusahaan yang terpengaruh ini mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap pasar saham nasional. Akta yang diberi nama berdasarkan dua sponsornya, Senator Paul Sarbanes (D-MD) and Representatif Michael G. Oxley (R-OH), ini disetujui oleh Dewan dengan suara 423-3 dan oleh Senat dengan suara 99-0 serta disahkan menjadi hukum oleh Presiden George W. Bush.
Perundang-undangan ini menetapkan suatu standar baru dan lebih baik bagi semua dewan dan manajemen perusahaan publik serta kantor akuntan publik walaupun tidak berlaku bagi perusahaan tertutup. Akta ini terdiri dari 11 judul atau bagian yang menetapkan hal-hal mulai dari tanggung jawab tambahan Dewan Perusahaan hingga hukuman pidana. Sarbox juga menuntut Securities and Exchange Commission (SEC) untuk menerapkan aturan persyaratan baru untuk menaati hukum ini.
Print Friendly, PDF & Email

Inovasi Tiada Henti Southwest Airlines Untuk Menjaga Jati Diri

Southwest Airlines Co. merupakan maskapai AS terbesar keempat dalam hal pengangkutan penumpang dan kedua terbesar dalam hal keberangkatan penerbangan domestic. Southwest (LUV) terbang menuju 59 bandar udara di 58 kota, tepatnya di 30 negara. Strategi operasional perusahaan telah dibangun secara menyeluruh menyediakan penerbangan frekuensi tinggi, menempuh jarak pendek, point-to-point (dari titik ke titik), layanan bertarif rendah. Southwest menolak upaya ekspansi terlalu cepat, dan lebih memilih untuk menambah rute tujuan baru hanya ketika perusahaan memiliki sumber daya dan terlebih menghadapi situasi dimana mereka harus mengantisipasi permintaan akan rute lokasi baru dengan minimal penerbangan 10-12 per hari. 
Ada banyak perusahaan yang melakukan perubahan/inovasi. Dell Computer melalui perantaraan iklan dan langsung menjual produknya kepada konsumen. Hanes Corporation mengembangkan supermarket dan toko obat. Nucor Steel kembali membuka pabrik baja. Toyota mengembangkan pabrik mobil. Medco Containment Services menyediakan layanan penjualan obat melalui surat. Perdue mengembangkan bisnis makanan seperti ayam. Timex menjual jam tangan murah. Southwest Airlines melakukan penerbangan dari satu tempat ke tempat lain menggunakan sistem hub-and-spoke.
Dari contoh-contoh tersebut, dapat dilihat bahwa tanpa inovasi baru, perusahaan akan sulit untuk bersaing dengan pemimpin pasar yang sudah ada. Strategi yang memungkinkan untuk mencapai keberhasilan pada situasi tersebut adalah strategi inovasi. Namun, inovasi saja tidak cukup. Perusahaan juga harus memikirkan strategi-strategi baru untuk bersaing di pasaran ketika konsumen menginginkan produk yang lama. Perusahaan-perusahaan melakukan hal-hal gila baru yang tidak lebih dari inovasi. Pertanyaan sesungguhnya adalah “Apakah perusahaan sudah memikirkan semua kemungkinan yang ada?” “ Apa sumber inovasi mereka?”
Ada 5 poin penting yang harus diperhatikan sebelum melakukan stategi inovasi:
  1. Strategi inovasi bukanlah hal baru.
  2. Perusahaan harus melakukan inovasi. Perusahaan harus mempertimbangkan, mengevaluasi, dan membuat keputusan tentang faktor-faktor individual.
  3. Cara untuk melakukan inovasi sesuai dengan kekuatan dan kelemahan perusahaan.
  4. Strategi inovasi mempunyai resiko. Namun, perusahaan dapat mengatasi resiko tersebut dengan melakukan percobaan pada area yang terbatas sebelum sepenuhnya melakukan inovasi tersebut.
  5. Hadir dengan ide-ide baru tidak menjamin kesuksesan. Seluruh perusahaan harus dikelola dengan tepat ketika melakukan strategi baru.
Strategi inovasi terjadi ketika sebuah perusahaan melihat celah (gaps) dalam dunia industry, memutuskan untuk mengisinya, dan celah untuk tumbuh menjadi pasar massa yang baru. Celah (gaps) dapat diartikan:
  1. Segmen konsumen baru atau konsumen yang sudah ada.
  2. Segmen kebutuhan konsumen baru atau kebutuhan konsumen yang sudah ada namun tidak terlayani dengan baik oleh pesaing lain.
  3. Cara baru dalam memproduksi, mengirimkan, atau mendistribusikan produk yang sudah ada atau produk baru kepada konsumen yang sudah ada atau konsumen baru.

Secara konsisten menguntungkan dalam suatu industri yang terkenal kompetitif, Southwest Airlines hanya memperkerjakan 4% dari sembilan puluh ribu orang yang melamar untuk bekerja setiap tahun. Maskapai tersebut menggunakan tes kepribadian untuk mengidentifikasikan pelamar dengan kombinasi antara sikap bersedia bekerja keras,keterampilan komunikasi,dan semangat tim. Pekerja baru diikutsertakan dalam pelatihan yang intensif di “University for People” milik perusahaan sebelum  memulai pekerjaan mereka. Ketika konflik internal kadang-kadang muncul antara karyawan yang menangani pekerjaan yang berbeda,Southwest meminta karyawan untuk bertukar pekerjaan untuk satu hari sehingga mereka dapat melihat persoalan dari sisi orang lain,suatu taktik yang secara umum meredakan ketegangan.

 

Print Friendly, PDF & Email

Penerapan Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

Strategi Umum E-learning dan Knowledge Management

Umumnya, strategi e-learning dan Knowledge Management diterapkan berdasarkan,

1.       Low cost strategy,

2.       Differentiation strategy,

3.       Niche focus strategy,

Ada tiga kunci penting untuk bisa menjadi trend-setter e-learning dan Knowledge Management di organisasi:

1.       operational excellent, (reliable, easily, dan cost-effective)

2.       customer intimacy , (targeting market precisely)

3.       product leadership, (continuing product innovation yang memenuhi customer needs).

Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan memberdayakan sistem pembelajaran di dalam institusi. Menyediakan sistem pembelajaran akan membuat perusahaan selalui bisa selalu menyegarkan pengetahuan bagi stafnya serta membuat pegawai selalu up-to-date dengan perkembangan yang terjadi baik di dalam maupun di luar perusahaan.

Lima Langkah Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

Berikut adalah tabel lima tugas manajemen strategi untuk e-learning dan Knowledge Management:

Task1

Task2

Task3

Task4

Task5

Membuat visi strategis dan misi bisnis

Menetapkan objektif/goal

Membuat strategi mencapai objektif

menerapkan &mengeksekusi strategi

Mengevaluasi kinerja, monitoring pengembangan baru, serta inisasi koreksi/
penyesuaian

 Faktor untuk Diperhatikan dalam Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

1.       Lingkungan eksternal : Politic (legal), Economic, Social (Ecological), Technological;

2.      Tekanan grup dan stakeholder : Shareholder, competitor, customer, supplier, government, employee, serikat buruh, publik, financial, mass media;

3.       Strategi dan perencanaan internal bisnis : pengembangan internal;

4.       Dari tiga faktor tersebut kemudian dirumuskan strategi bisnis dan perencanaan proses untuk menentukan cakupan.

Faktor-faktor yang perlu untuk diidentifikasi meliputi :

1.       Resiko manajerial dan finansial;

2.       Tingkatan yang diperlukan untuk menciptakan kapabilitas baru;

3.       Struktur organisasi eksisting;

4.       Kemampuan organisasi untuk menerapkan strategi yang dirumuskan (kompetensi, sumberdaya, proses, dan budaya)

5.       Implikasi terhadap customer, partner

6.       Kebutuhan membuat perserikatan,aliansi, joint ventura;

 

Penerapan Strategi

Setelah strategi dibuat, maka perlu dilakukan langkah-langkah penerapan. Setelah langkah tersebut diimplementasikan, maka akan dapat diketahui strategi lanjutan, konstrain-konstrain muncul, opsi baru muncul, peluang baru datang.

Dalam kaitannya dengan penerapan strategi maka perlu diperhatikan pula siklus hidup produk e-learning dan Knowledge Management.

Alat dan Teknik untuk Strategi

Alat dan teknik yang umum digunakan untuk merancang dan merumuskan strategi antara lain:

1.       SWOT Analysis

2.       BCG matrices; untuk resource alocation

3.       Policy/portfolio matricecs

4.       Five forces

5.       Industry analysis

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Nasionalisme Bangsa dan Hubungannya Dengan Kiprah Sepakbola Indonesia

Nasionalisme: Dimanakah Kau Berada?

 

Nasionalisme Bangsa Indonesia ditandai dengan Kebangkitan Nasional dimana Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Saat ini kita masih menunggu dan mengejar agar bangsa ini bangkit menuju peradaban yang lebih baik dan berkesinambungan. Masalah yang dihadapi cukup rumit, terutama generasi saat ini yang melihatnya dari peristiwa Reformasi 20 Mei 1998. Saat itu banyak fihak berharap akan terjadi perubahan mendasar setelah 14 tahun reformasi itu terjadi.

Namun, apa mau dikata, Reformasi telah “menelan korban dan biaya” yang tidak sedikit. Baik dari sisi aset fisik,  budaya, sosial, psikologis dan aspek kemanuasian lain, peradaban kita ada di ambang “To Be or Not To Be”. Banyak pemangku kepentingan bangsa kebingungan dengan “Prioritas Mana Yang Harus Dipilih Oleh Bangsa Indonesia?”. Mereka masih gamang “irama apa yang harus dimainkan?”.

Nasionalisme dan Sepakbola

 

Apakah ada keterkaitan langsung antara nilai nasionalisme dan prestasi sepakbola sebuah bangsa?

Nasionalisme atau paham kebangsaan serupa barang semu. Tidak berbentuk dan hanya ada di dalam benak kepala orang banyak. Benedict Anderson mengatakan, bangsa-bangsa adalah komunitas yang dibentuk secara sosial dan diciptakan dalam persepsi mereka yang berada di dalamnya. Prinsip kebangsaan ini mendapat tempat lebih luas secara politis ketika orang membentuk negara.

Bersumber dari goal.com, disebutkan Sepakbola turut memberikan ruang atas terjadinya persaingan antarbangsa atau antarnegara salah satunya melalui sistem kejuaraan yang dikenal sejak olahraga si kulit bulat ini mewabah secara global.

Dalam ruang yang paling kecil terjadi ketika Indonesia berpartisipasi di AFF Suzuki Cup 2012 baru-baru ini. Kebetulan atau tidak, Indonesia mengawali turnamen melawan Laos dan mengakhirinya dengan menghadapi Malaysia. Hubungan Indonesia dan Malaysia tak ubahnya seperti dua negara tetangga lain di dunia. Saling cela, saling bersaing, saling cemburu, tetapi sebenarnya saling membutuhkan.

Malaysia dalam banyak hal sebenarnya mengagumi Indonesia. Dalam sebuah percakapan dengan seorang teman dari negara jiran itu di Kuala Lumpur dua pekan lalu, generasi muda Malaysia sebenarnya mengakui keunggulan berbagai produk budaya Indonesia. Sayangnya, Indonesia tidak memandang fenomena itu sebagai sebuah hegemoni melainkan menganggapnya sebagai produk yang eksklusif.

Tapi, di lapangan sepakbola Malaysia berhasil mengungguli Indonesia dalam beberapa pertemuan. Jika masyarakat Indonesia merayakan pencapaian timnas di AFF Suzuki Cup dengan gegap gempita, begitu pula dengan masyarakat Malaysia. Jika kepentingan politik Indonesia menempatkan sepakbola di pentas utama, begitu pula halnya dengan Malaysia. Sebabnya sepakbola dianggap berhasil menggelembungkan sikap nasionalisme sepanjang turnamen digelar.

Nasionalisme yang sudah ditinggalkan kalangan posmodernis tetap menjadi barang penting bagi negara dunia ketiga seperti Indonesia dan Malaysia. Jika menilik teori modernisasi Anthony Giddens, entah berada di tahap berapa Indonesia sekarang ini. Bukan negara primordial yang feodalis, tetapi tidak jua lepas landas. Kesadaran manusia, demikian Karl Marx suatu ketika, tergantung pada alat produksi yang dipakainya. Bagi Marx, kesadaran manusia sangat diperlukan demi sebuah kemajuan. Indonesia dan Malaysia, selama AFF Suzuki Cup, ternyata menuju “kemajuan” yang berbeda.

Di Malaysia dewasa ini, kebangsaan adalah isu penting. Dalam beberpa tahun terakhir Pemerintah rajin mempropagandakan kampanye “1Malaysia”, yang bertujuan menyatukan berbagai rumpun budaya — terutama tiga etnis besar: Melayu, Cina, dan India. Bahasa ibu masih akrab di telinga masyarakat sehari-hari karena tidak semua orang Malaysia bisa berbahasa Melayu dan tidak semua orang Malaysia lancar berbahasa Inggris.

Kaum oposisi beranggapan kampanye “1Malaysia” bertujuan melanggengkan status quo generasi rezim pemerintahan dan Anda tahu bahasa yang digunakan media Melayu untuk menyebut kata “oposisi”? “Pembangkang”. Dalam bahasa Indonesia, dua kata tersebut memiliki konotasi yang berbeda. Pendeknya, bagi Malaysia persatuan adalah isu penting. 

Jauh sebelum AFF Suzuki digelar, Pemerintah Malaysia menyertakan sepakbola dalam kurikulum pendidikan nasional. Sejumlah fasilitas akademis plus sepakbola didirikan di beberapa negara bagian — terbaru di negara bagian Pahang. Sistem pembinaan pemain muda ini turut ditunjang kebijakan federasi sepakbola setempat (FAM) yang melarang partisipasi pemain asing dalam kompetisi nasional.

Saat turnamen digelar, euforia kebangsaan Malaysia mulai terpantik ketika sukses menumbangkan Laos dan kemudian Indonesia  2-0 pada laga penyisihan di Kuala Lumpur. Ketika laga  digelar banyak generasi muda Malaysia dengan mendatangi langsung arena nonton bareng di kawasan Bukit Jalil. 

Walau belum juara, wajar kiranya bangsa Malaysia merayakannya  berpesta menyambut lolosnya mereka ke semi final di turnamen antarnegara Asia Tenggara itu. Sepakbola dianggap sebagai kebanggaan bersama warga Malaysia. Semua etnis berbaur menjadi satu dalam merayakan keberhasilan tim Harimau Malaya. 

Indonesia menjalani turnamen dengan penuh warna, gagal lolos semi final walau tadinya diharapkan merebut gelar. PSSI bahkan berseteru dengan KPSI sehingga banyak pemain tang bertalenta tidak bisa ikut serta. PSSI memanfaatkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk mendukung timnas dengan memaksa “keterbatasan” mereka.  Di negara kita, isu nasionalisme malah disetir ke arah kepentingan tertentu.

Print Friendly, PDF & Email

Hari Guru Nasional: Antara Pola Pikir, Kebutuhan dan Menata Hidup Guru

Hari Guru Nasional

Tanggal 25 Nopember diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Dikutip dari Koran Pikiran Rakyat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Kementerian Agama dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), tahun ini kembali melaksanakan peringatan Hari Guru Nasional tahun 2012 dan HUT ke-67 PGRI.

HGN diperingati setiap tahun pada tanggal 25 November. Tahun 2012 ini, puncak acara akan berlangsung paling lambat satu minggu setelah tanggal 25 November 2012 di Sentul Convention Center, Bogor, Jawa Barat.

“Acara tersebut akan dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono bersama para guru, siswa-siswi SD, SMP, SMA/SMK, para pejabat pemerintah, serta pemerhati di bidang pendidikan dan kebudayaan,” tutur Kapus Informasi dan Humas Kemdikbud, Ibnu Hamad, melalui siaran pers di Jakarta, Kamis (15/11/12).

Menurut Ibnu, berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyambut kelancaran dan kesuksesan hari guru nasional tersebut. Di antaranya melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, baik pihak-pihak yang menjadi peserta upacara maupun koordinasi antarinstansi terkait.

“Upacara bendera peringatan Hari Guru Nasional akan dilaksanakan di setiap instansi pemerintah mulai tingkat pusat sampai daerah tingkat kecamatan,” ucap Ibnu.

Ibnu menambahkan, berdasarkan pedoman pelaksanaan upacara penyelenggaraan Hari Guru Nasional tahun 2012 dan HUT ke-67 PGRI, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama dan Ketua Umum PB PGRI menjadi pembina upacara di kantor pusat masing-masing.

Berbagai kegiatan kata dia, akan dilakukan di tingkat pusat maupun daerah seperti pertemuan forum ilmiah guru, lomba kreatifitas guru, ASEAN council of teacher, talkshow di RRI dan TVRI, bakti sosial (donor darah dan kebersihan lingkungan), gerak jalan sehat, ziarah ke Taman Makam Pahlawan serta pemberian penghargaan dan tanda kehormatan kepada mereka-mereka yang telah berjasa di bidang pendidikan dan kebudayaan.

Tema peringatan tahun ini adalah ‘Memacu profesionalisasi guru melalui peningkatan kompetensi dan penegakan kode etik’. “Dengan demikian keberadaan dan peran guru sangat menentukan keberhasilan mutu sistem dan hasil pendidikan yang bermutu dan berkualitas karena hakekat pendidikan itu adalah berlangsung seumur hidup, bersifat semesta dan menyeluruh,” katanya.

Sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 78 tahun 1994 telah menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional yang dikuatkan oleh UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen serta peraturan pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru.

Pola Pikir, Kebutuhan dan Menata Hidup Guru

 

Mungkin orang menyangka ku tak pernah terluka

Tegar bagaikan karang, tabu cucurkan air mata

* Kadang ku rasa lelah harus tampil sempurna

Ingin ku teriakkan

Andai mereka tahu rasa dalam hatiku

Lembut bagaikan salju dan menghangatkan kalbu

repeat *

reff:

Guru juga manusia, punya rasa punya hati

Jangan samakan dengan pisau belati

Guru juga manusia, punya rasa punya hati

Jangan samakan dengan pisau belati

repeat *

Guru juga manusia, punya rasa punya hati

Jangan samakan dengan pisau belati

Repeat reff

 

Ya, sesuai lagu yang (mohon maaf) dimodifikasi dari Seurieus ini, pendidik saat ini telah mengalami masa-masa metamorfosis dari “Ulat, Kepompong menjadi Kupu-kupu”. Perhatian para pemangku kepentingan akan pendidikan semakin meningkat, namun di sisi lain masih banyak “Pekerjaan Rumah” yang harus diselesaikan khususnya oleh pendidik.

Mulai dari “Standard Level Agreement/SLA” (Standar Pelayanan Minimum), kesesuaian pendidikan dengan dunia nyata sampai dengan sertifikasi yang diharapkan merubah pola “Hati, Pikir dan Aksi” dari pendidik. Ada beberapa pendidik yang sudah sadar, faham  dan bertindak sesuai “Peran Tauladannya” sebagai pendidik. Adapula yang menganggap anak didiknya sebagai sarana pelampiasan akademis, komersial, bahkan (Audzubillahi Min Dzalik) nafsu birahinya.

 

Para pendidik harus menyadari, walaupun “Mungkin orang menyangka ku tak pernah terluka” tetap harus “Tegar bagaikan karang, tabu cucurkan air mata”. Dilain waktu pendidik “Kadang ku rasa lelah harus tampil sempurna” serta “Ingin ku teriakkan” dan ingin dimengerti “Andai mereka tahu rasa dalam hatiku” kita tetap harus “Lembut bagaikan salju dan menghangatkan kalbu“. Serta terus berusaha menyadarkan khalayak ramai bahwa “Pendidik juga manusia, punya rasa punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati“.

 

Print Friendly, PDF & Email