REZA HERAWAN 0607004: Implementasi COBIT Pada Kerja Praktek di ”PT. TRANSINDO JAYA KOMARA”

Pendahuluan

COBIT yaitu Control Objectives for Information and Related Technology yang merupakan audit sistem informasi dan dasar pengendalian yang dibuat oleh Information Systems Audit and Control Association (ISACA), dan IT Governance Institute (ITGI) pada tahun 1992.

  1. Business information requirements, terdiri dari : Information : effectiveness (efektif), efficiency (efisien), (keyakinan), integrity (integritas), availability (tersedia), (pemenuhan), reliability (dipercaya). 
  2. Confidentiality compliance  
  3. Information Technology Resource, terdiri dari : People, applications, technology, facilities, data. 
  4. High – Level IT Processes.

 

COBIT didasari oleh analisis dan harmonisasi dari standar teknologi informasi dan best practices yang ada, serta sesuai dengan prinsip governance yang diterima secara umum. COBIT berada pada level atas yang dikendalikan oleh kebutuhan bisnis, yang mencakupi seluruh aktifitas teknologi informasi, dan mengutamakan pada apa yang seharusnya dicapai dari pada bagaimana untuk mencapai tatakelola, manajemen dan kontrol yang efektif. COBIT Framework bergerak sebagai integrator dari praktik IT governance dan juga yang dipertimbangkan kepada petinggi manajemen atau manager; manajemen teknologi informasi dan bisnis; para ahli governance, asuransi dan keamanan; dan juga para ahli auditor teknologi informasi dan kontrol. COBIT Framework dibentuk agar dapat berjalan berdampingan dengan standar dan best practices yang lainnya.

 

Implementasi dari best practices harus konsisten dengan tatakelola dan kerangka kontrol Perusahaan, tepat dengan organisasi, dan terintegrasi dengan metode lain yang digunakan. Standar dan best practices bukan merupakan solusi yang selalu berhasil dan efektifitasnya tergantung dari bagaimana mereka diimplementasikan dan tetap diperbaharui. Best practices biasanya lebih berguna jika diterapkan sebagai kumpulan pinsip dan sebagai permulaan (starting point) dalam menentukan prosedur. Untuk mencapai keselarasan dari best practices terhadap kebutuhan bisnis, sangat disarankan agar menggunakan COBIT pada tingkatan teratas (highest level), menyediakan kontrol framework berdasarkan model proses teknologi informasi yang seharusnya cocok untuk perusahaan  secara umum.

 

COBIT FRAMEWORK

Kerangka kerja CobIT terdiri dari beberapa guidelines (arahan), yakni :

a.    Control Objectives

Terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat tinggi (high level control objectives) yang tercermin dalam 4 domain, yaitu : planning & organization, acquisition & implementation, delivery & support, dan monitoring.

b.    Audit Guidelines

Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendali rinci (detailed control objectives) untuk membantu para auditor dalam memberikan management assurance atau saran perbaikan.

 

 

c.    Management Guidelines

Berisi arahan baik secara umum maupun spesifik mengenai apa saja yang mesti dilakukan, seperti : apa saja indicator untuk suatu kinerja yang bagus, apa saja resiko yang timbul, dan lain-lain.

d.    Maturity Models

Untuk memetakan status maturity proses-proses IT (dalam skala 0 – 5).

 

Pengelolaan TI (Tata Kelola TI)

Teknologi informasi memiliki peranan penting bagi setiap perusahaan yang memanfaatkan teknologi informasi pada kegiatan bisnisnya, serta merupakan salah satu faktor dalam mencapai tujuan perusahaan. Peran TI akan optimal jika pengelolaan TI maksimal. Pengelolaan TI yang maksimal akan dilaksanakan dengan baik dengan menilai keselarasan antara penerapan TI dengan kebutuhan perusahaan sendiri.

Semua kegiatan yang dilakukan pasti memiliki resiko, begitu juga dengan pengelolaan TI. Pengelolaan TI yang baik pasti mengiidentifikasikan segala bentuk resiko dari penerapan TI dan penanganan dari resiko-resiko  yang akan dihadapi. Untuk itu perusahaan memerlukan adanya suatu penerapan yang harus dilakukan perusahaan, yakni menerapkan Tata Kelola TI (IT Governance).

 

PT. Transindo Jaya Komara 

KOPERASI LANGIT BIRU yang sebelumnya dikenal dengan PT. Transindo Jaya Komara (PT. TJK) dengan Akte Notaris H. Feby Rubein Hidayat SH No. AHU. 0006152.AH.01.09. Tahun 2011 adalah perusahaan konvensional yang sudah berdiri 2 tahun dan bergerak khusus mengelola daging sapi dan air  mineral.
Saat ini KOPERASI LANGIT BIRU telah memiliki 62 suplayer pemotongan dan pendistribusian daging sapi serta pusat pendistribusian air mineral SAFWA. Adalah Ustad Jaya Komara sebagai Direktur utama memiliki pengalaman 16 Tahun dalam pengelolaan daging sapi. Ustad yang selalu berpenampilan sederhana dan apa adanya ini memiliki visi misi besar untuk kesejahteraan bersama khususnya Umat Islam. Untuk mengembangkan usahanya ini Ustad jaya Komara pada awalnya hanya menggandeng masyarakat sekitar saja untuk ikut serta menikmati keuntungan hasil usaha daging sapinya.

Berawal dari pandanganya terhadap strata kehidupan masyarakat Indonesia dimana yang kaya makin kaya dan yang miskin tetap miskin. Maka tercetuslah ide kreatif untuk pengembangan usahanya dengan mengikutsertakan masyarakat pada umumnya. Pada awalnya hanya diadakan arisan daging untuk masyarakat sekitar saja, yang hasilnya dibagikan tiap lebaran haji baik berupa keuntungan berupa uang dan daging sapi itu sendiri, hal ini sudah dilakukan oleh ustad jaya komara sebelum KOPERASI LANGIT BIRU resmi berdiri.

 

Berkaitan dengan pertimbangan diatas, perlu adanya suatu metode untuk mengelola IT. Dalam hal ini, metode COBIT perlu diterapkan dalam pengelolaan perusahaan agar pengguna IT sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan menghasilkan kinerja yang efisien dan efektif serta mencegah atau meminimalisir adanya resiko terhadap penggunaan IT. Dalam hal ini saya mencoba merancang penerapan COBIT pada PT. Transindo Jaya Komara.

1.    Analisis Permasalahan

·         Pada PT. Transindo Jaya Komara sudah memiliki prosedur pengelolaan teknologi informasi yang dijalankan, tetapi faktanya prosedur tersebut tidak sepenuhnya dijalankan, sehingga user biasanya melakukan secara manual.

·         Mengetahui berbagai kendala dalam pengelolaan teknologi informasi yang dijalankan.

·         Perusahaan menginginkan adanya suatu evaluasi tata kelola teknologi informasi untuk peningkatan mutu perusahaan .

·         Pengolahan Data

PO 1 Merencanakan rencana strategis IT

Pada PT. Transindo Jaya Komara sudah mengetahui akan rencana strategis TI, meski kenyataannya pelaksanaannya sering diabaikan. Pendokumentasian belum terstruktur dengan jelas. Dan hanya diketahui oleh beberapa pegawai yang berkepentingan saja. Update dari rencana strategis TI merupakan respon dari permintaan pihak perusahaan dan juga berdasarkan perubahan kondisi yang ada. Keputusan-keputusan stategis yang diambil hanya berdasarkan pada masalah yang ada dalam proyek yang dilaksanakan, belum berdasarkan rencana strategis TI yang telah ditetapkan secara konsisten.

Tetapi pada perusahaan ini sudah adanya solusi TI yang dibuat untuk menghadapi masalah yang ada. Penyampaian kepada konsumen juga sudah dilakukan, hanya belum berjalan dengan maksimal. Penyampaian kepada konsumen dilakukan secara online, dengan website yang diberikan perusahaan.

Seperti adanya rencana strategis dalam pemanfataan TI pada perusahaan ini yakni :

·         Solusi menyeluruh untuk industri perdagangan dan investasi

·         Solusi TI menyeluruh dengan nilai yang luar biasa

·         Solusi TI menyeluruh dengan kompetensi yang tinggi

 

PO 2 Arsitektur Informasi

Belum semua instansi memiliki sistem informasi dan sistem informasi yang dikembangkan belum terintegrasi.

PO 3 Arah Teknologi

Teknologi yang digunakan belum begitu canggih karena sarana dan prasarana belum memadai.

PO 4 Organisasi TI dan hubungan

Sudah ada sebuah organisasi yang jelas dan secara khusus menangani bidang IT, tetapi belum bekerja secara maksimal.

 

PO 5 Investasi TI

Belum adanya rancangan anggaran TI yang menyeluruh.

Alokasi anggaran yang terbatas.

 

PO6 Komunikasi tujuan dan arah manajemen

Masih lemahnya koordinasi pembagian produk produk. Hal ini menyebabkan

koordinasi koperasi kurang efektif dan antrian yang semakin panjang.

 

PO 7 Manage SDM

Penempatan SDM yang tidak tepat dan pembagian tugas yang tidak jelas.

Pengelolaan sumber daya yang belum optimal baik di tingkat teknis operasional

maupun manajerial.

 

PO 8 Kesesuaian dengan external requirement

Kurangnya kesiapan dalam antisipasi (change of management) baik terhadap

perkembangan teknologi informasi dan komunikasi maupun terhadap tuntutan

masyarakat (globalisasi).i TI menyeluruh untuk industri transportasi dan perjalan

PO 9 Menilai Resiko TI

Di PT. Transindo Jaya Komara sudah adanya  kebijakan akan manajemen resiko, karena sebagian besar pelaksanaan kegiatan bisnis di Departemen TI di perusahaan ini sudah memanfaatkan teknologi 100 %. Manajemen resiko dilakukan sesuai dengan proses yang telah ditentukan perusahaan, namun belum ada standart khusus untuk mengatur kebijakan manajemen resiko tersebut. Tetapi manajemen resiko pada perusahaan ini belum disosialisasikan kepada seluruh pegawai, jadi hanya pihak terkait atau manager yang mengaturnya dan menjalankannya. Apabila terjadi kesalahan manajer yang memberitahukan secara manual kepada pegawainya.

Proses kelonggaran/mitigasi yang diberikan terhadap resiko proyek, baik proyek baru atau lama semuanya diperiksa oleh manager, tetapi masih belum konsisten karena tidak adanya standart khusus untuk proses tersebut.

PO 10 Manajemen Proyek

Pada perusahaan ini, menajemen untuk proyek telah memenuhi kebutuhan user. User disini ialah pegawai, manager, pimpinan dan stakeholders lainnya. Namun, proses pedokumentasian belum berjalan dengan baik serta pengembangan dan penggunaan teknik juga belum dilaksanakan dengan baik. Serta aplikasi dari penerapan management proyek tergantung pada kebijakan dari manager.

PO 11 Manajemen kualitas

Kurangnya tenaga ahli yang mampu mengawasi kualitas TI dan rendahnya penghargaan terhadap SDM TI terampil mempengaruhi kualitas sistem dan pengembangan TI.

 

KESIMPULAN

Metode cobit perlu diterapkan pada PT Transindo Jaya Komara, hal ini berdasarkan atas kelemahan-kelemahan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya. Dengan diterapkannya metode cobit diharapkan kinerja PT Transindo Jaya Komara dapat lebih baik dan terorganisir sehingga visi dan misi perusahaan dapat tercapai dan juga dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi investor koperasi, pemegang saham dan pemerintah.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/WxwXshM2v3Y” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Presiden Fidel Ramos: Peduli, Berbagi dan Berani (Caring, Sharing and Daring)

 
Pertemuan saya dengan Mantan Presiden Fidel V. Ramos  pada 2012 International Conference on Business, Entrepreneurship and Management” (ICBEM2012) di San Beda College, Manila-Filiipina sangat mendalam dan tidak mudah dilupakan. Mantan Presiden Fidel V. Ramos datang dengan tujuan yang jelas, mencolok, dan nyata menjadi pusat perhatian peserta konferensi.  
Dia memiliki reputasi sebagai pembawa kedamaian. Selama masa kepresidenannya, ia diakui dalam melakukan negosiasi perdamaian dengan separatis Muslim dan Komunis serta melaksanakan peningkatan stabilitas di Filipina. Saya bertanya kepadanya tentang perannya sebagai pembawa kedamaian – serta apa artinya bagi dia.
 
“Saya telah menjadi tentara selama empat puluh dua tahun,” kembali dia bicara perlahan namun tegas. “Saya adalah seorang prajurit yang menginginkan perdamaian dan itu yang paling penting bagi kita.”  
Gaya “propaganda”-nya jitu. Dia menunjukkan kepada saya brosur resmi dari Pusat Perdamaian dan Pengembangan Ramos, yang berjudul “The Visionary” dan subjudul artikelnya berbicara tentang perdamaian dan kerja sama internasional “Menuju Hidup Yang Lebih Baik untuk Masyarakat Demokratis.”   
 
Mantan Presiden Fidel V. Ramos sekarang mendedikasikan hidupnya untuk visi kerjasama perdamaian dan pembangunan diantara Negara-negara Pasifik. Visioner ini bertindak dan melakukan kegiatannya mencakup berbicara di depan tokoh negara dan masyarakat, membuat dia harus berkelana dari Cina ke Taiwan serta dari Jepang ke Malaysia sampai ke New Haven, Connecticut. Di negara-negara tersebut, ia mengemukakan pesan globalisasi kerja sama dan komunikasi yang akan mengarah pada kemajuan kehidupan manusia.
 
Tujuan akhirnya adalah perdamaian dan pembangunan “Pax Asia-Pacifica,” sebut dia, merujuknpada artikelnya yang sesuai di The Visionary. Tentu saja, maka pertanyaannya adalah: Apa yang menghalangi jalan damai? Jawaban yang jelas adalah kesenjangan, ketidakadilan, ketidaksetaraan. Ramos memperluasnya menjadi metafora mencolok.
 
“Berapa jumlah satu ditambah satu?” Tanya dia. Dua jawab hadirin. “Dua. Tapi bagaimana kalau satu ditambah satu sama dengan nol? Atau -5 “Kesenjangan ini, katanya, menghalangi manusia dari apa yang ia tunjuk sebagai kebutuhan yang paling penting:” yaitu “makanan, air minum, dan pendidikan “.
 
Kita harus bekerja sama menuju sebuah dunia di mana satu ditambah satu sama dengan dua. Untuk tujuan ini, rencana Ramos untuk Pax Asia-Pacifica adalah salah satu “Peduli, berbagi, dan berani.” (Caring, Sharing and Daring). Melalui usaha bersama, ia berharap untuk menutup kesenjangan antara kaya dan miskin, sehat dan orang sakit, orang berpendidikan dan orang yang bodoh.
 
Dia berbicara gagasan mengenai peningkatan sesama. Dia mengambil tangan saya, dan mengangkatnya ke udara. “Engkau harus membantu sesamamu manusia,” katanya serius. “Tapi,” tambahnya sambil tertawa, “bukan istri sesamamu.” Saat pidato, Ramos hampir tidak ada yang berbeda dari orang dengan siapa saya berjabat serta berbagi percakapan di Pelataran San Beda College. Dalam 2012 International Conference on Business, Entrepreneurship and Management” (ICBEM2012) di San Beda College, Manila-Filiipina, ia memberikan pidato yang di dalamnya ia berbagi pesan yang sama tentang kerjasama internasional ke arah perdamaian dan pembangunan yang ia tulis dalam buku “The Visionary.”
 
Ramos muncul sangat manusiawi dan mudah dimengerti. Dia sangat langsung dan jujur ​​dalam pidato-serta membangun semacam hubungan percakapan dengan penonton. “Itu cara orang harus berinteraksi,” katanya. “Kita harus bertukar, dialog dan bicara tentang perdamaian.” Dia memimpin peserta konferensi untuk berjabat tangan dengan orang di sebelah kanan, kiri, depan dan belakang kami. Dia juga minta untuk sekarang merangkul mereka. 
 
Karena sesungguhnya, “Bagaimana kita akan memiliki perdamaian di dunia di antara faksi-faksi yang berperang kecuali kita merangkul satu sama lain?” Menurut dia, Dasar bagi perdamaian terletak pada hubungan manusia. 
  <iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/bFeYSpNzYxo” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
Print Friendly, PDF & Email

BJ HABIBIE: Ketika Prestasi Tokoh Bangsa Hanya Dianggap Iseng Belaka

Cuplikan Kunjungan Mantan Presiden BJ HABIBIE ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia yang saya peroleh dari Sahabat Suprayogi Permadi yang pernah sama-sama bekerja di Merpati Nusantara Airlines.
————————————————————————————-
Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta
12 Januari 2012

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-

escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN.
Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

“Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..”Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek.


Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900
jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….

Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Brazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….

Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?

Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.

Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas…………………..

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11.
Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad”
sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

– Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten- C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis- D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya
1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya.
Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar.
Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam………………………..seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

  1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa! 
  2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus……………
  3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.


Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia………….

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat………….saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara.
Isinya sangat inspiratif……………….”

(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).

Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012
Salam,
Capt. Novianto Herupratomo

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=WTkg5AFdsFU&w=600&h=400]
Print Friendly, PDF & Email

Jose Rizal: Bukan Hanya Sekedar Pahlawan Nasional

Tanggal  24 Januari 2012 saya berkesempatan melakukan City Tour ke beberapa tempat bersejaran di Manila diantaranya Fort Santiago tempat dimana Jose Rizal ditahan. Dia Bukan Hanya Sekedar Pahlawan Nasional namun telah menjadi simbol kuat perjuangan dan kemanusiaan bagi Bangsa dan Negara Filipina. Hidupnya hanya dalam waktu yang singkat karena ia meninggal pada usia muda (~35 tahun) akibat ditembak mati Tentara Penjajahan Spanyol.
José Protasio Rizal Mercado y Alonso Realonda (lahir di Calamba, Provinsi Laguna, Filipina, 19 Juni 1861 – meninggal di Dapitan, provinsi Zamboanga (Mindanao), Filipina, 30 Desember 1896 pada umur 35 tahun) adalah tokoh bangsa Filipina. Ia diberikan bermacam-macam gelar: “Kebanggaan Ras Melayu,” “Tokoh Besar Malaya,” “Tokoh Utama Filipino,” “Tokoh Revolusi,” “Pahlawan Universal,” dan lain-lain. Hari peringatan kematian José Rizal adalah 30 Desember dan merupakan hari libur di Filipina.
Ia adalah seorang yang berbakat. Selain dari menjadi seorang dokter, ia juga seorang arsitek, seniman, pendidik, ekonom, etnolog, ahli pertanian, sejarahwan, jurnalis, pemusik, mitologiwan, internasionalis, naturalis, dokter mata, sosiolog, pematung, penyair, penulis drama dan novelis.
Ia menguasai 22 bahasa, di antaranya: Tagalog, Cebuano, Melayu, Tionghoa, Arab, Ibrani, Inggris, Jepang, Spanyol, Catalan, Italia, Portugis, Latin, Perancis, Jerman, Yunani, Rusia, Sanskerta dan dialek-dialek Filipina yang lain.
Sebagai seorang patriot tertinggi bagi bangsa Filipina, hari kematiannya pada 30 Desember kini diperingati sebagai hari libur di Filipina, yang disebut hari Rizal.
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=zb48ch6JGh4&w=600&h=400]
Print Friendly, PDF & Email

Saya dan Presiden Fidel Ramos: Filosofi "Global, Dynamic, Entrepreneurship"

Saya dan Presiden Ramos

Tanggal 26 Januari 2012 adalah hari istimewa bagi saya dan Asep Tsauri pada saat mengikuti “2012 International Conference on Business, Entrepreneurship and Management” (ICBEM2012) di San Beda College Manila, Philippines. Hari itu pada saat para tamu sudah memasuki arena konferensi, saya dan Asep sedang ber-narsis ria mendokumentasikan kegiatan ini untuk Universitas Widyatama, COMLABS-ITB dan Pojok Pendidikan. Tiba-tiba, kami lihat sosok yang sudah saya kenal sejak lama dan menjadi idola banyak orang di Filipina dan Asia Tenggara bahkan dunia termasuk saya. Dialah Fidel Valdez Ramos Presiden Filipina ke-12 yang lahir di Lingayen, Pangasinan, Filipina, 18 Maret 1928. Ia menggantikan Corazon Aquino dan mengakhiri jabatan kepresidenannya pada tahun 1998, saat digantikan oleh Joseph Estrada.

Adalah suatu kehormatan dan kebetulan tanggal lahir saya sama dengan beliau yaitu 18 Maret. Beliau beberapa kali mengatakan pada saya kata-kata “Global, Dynamic, Entrepreneurship” dengan penekanan pada nilai-nilai yang mirip dengan “Silaturahmi Mendatangkan Rejeki”. Ya, Fidel Ramos walaupun seorang tentara dengan masa kerja lebih dari 40 tahun, adalah seorang Negarawan yang cinta perdamaian pada semua kalangan. Bahkan ia menceritakan secara menggelitik pertemuannya dengan salah satu tokoh pemerintahan Indonesia yang Muslim dan mengkorelasikannya dengan hubungan kedua negara yang selama ini terjalin dengan baik. Itu dibuktikannya dengan digenggam dan dijabatnya tangan saya selama kurang lebih 20 menit oleh mantan presiden Philipina Fidel V. Ramos sebagai tanda persahabatan dan penghormatan kepada tamu seolah sahabat dekatnya 🙂

Fidel “Eddie” Valdez Ramos (lahir 18 Maret 1928), dikenal sebagai FVR, adalah Presiden Filipina ke-12 1992-1998. Selama enam tahun berkuasa, Ramos dikenal secara luas dan dikagumi oleh banyak orang untuk revitalisasi dan memperbaharui kepercayaan internasional dalam perekonomian Filipina. Sebelum terpilih sebagai presiden, Ramos bertugas di Kabinet Presiden Corazon Aquino, pertama sebagai kepala staf Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) dan kemudian, sebagai Sekretaris Pertahanan Nasional 1986-1991.

Selama Revolusi EDSA 1986 yang bersejarah dikenal dengan “People Power”, Ramos atas undangan Menteri Pertahanan Juan Ponce Enrile, dielu-elukan sebagai pahlawan meskipun dia bukan bagian dari rencana banyak orang Filipina karena keputusannya untuk melepaskan diri dari pemerintahan Ferdinand Marcos serta berjanji setia dan loyal kepada pemerintah revolusioner yang baru dibentuk Presiden Aquino, mengikuti kejatuhan Marcos dari kekuasaan pada Februari 1986. Sebelumnya, dia adalah wakil kepala staf AFP di bawah Presiden Marcos.

Di bawah Ramos, Filipina mengalami periode stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi yang cepat dan ekspansif, sebagai akibat dari kebijakan dan program yang dirancang untuk mendorong rekonsiliasi nasional dan persatuan. Ramos mampu mengamankan perjanjian damai besar dengan separatis Muslim, pemberontak komunis dan pemberontak militer, yang didukung kepercayaan investor dalam perekonomian Filipina. Ramos juga agresif mendorong deregulasi industri utama bangsa dan privatisasi aset pemerintah yang buruk. Sebagai hasil pendekatan ekonominya, Filipina dijuluki oleh majalah internasional dan berbagai pengamat sebagai Harimau Berikutnya dari Pertumbuhan Ekonomi Asia.

Namun, momentum dalam keuntungan ekonomi yang dibuat di bawah Administrasi Ramos sempat terganggu selama terjadinya Krisis Keuangan Asia 1997. Namun demikian, selama tahun terakhir istilah, perekonomian berhasil membuat rebound karena tidak parah terkena krisis dibandingkan dengan negara Asia lainnya.

Dia adalah satu-satunya orang Filipina yang menerima Gelar Bangsawan Kehormatan dari Kerajaan Inggris (British Knighthood from the United Kingdom, the GCMG or the Knight Grand Cross of the Most Distinguished Order of St Michael and St George). Ini diberikan kepadanya oleh Ratu Elizabeth II pada tahun 1995 untuk pengabdiannya di bidang politik dan pemerintahan.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=bFeYSpNzYxo&w=600&h=420]

Print Friendly, PDF & Email

Restropeksi: From Zero To Hero (And Back Again To Zero)

 

Sering kita lihat tayangan (terutama di TV) dan liputan (media cetak dan elektronik) yang menceritakan sepak terjang seseorang dari nol kemudian menjadi terkenal (From Zero To Hero). Di lain fihak media yang sama mengisahkan juga cerita sedih seseorang yang terkenal menjadi bukan siapa-siapa (From Hero To Zero) dan kembali ke titik nol (Ground Zero).

Dari cerita dan khazanah tersebut ada benang merah yang mungkin perlu kita resapi dan selami bahwa: Tidak selamanya “kesuksesan” itu adalah benar-benar pencapaian yang abadi dan mutlak. Kadangkala itu merupakan perangkap diri (Self Trap) karena salah mempersepsikan sebuah kesuksesan.

Ukuran kesuksesan mutlak (Absolute Successful Measurement) kadangkala bercampur dengan metoda atau takaran yang berbeda untuk setiap orang, kalangan/golongan bahkan bangsa. Sebagai contoh, bila ukurannya penguasaan bangsa, betapa Majapahit telah menguasai bangsa-bangsa di dunia sebagai “Super Power” (So….ini seperti sebuah “arisan” dimana bangsa-bangsa besar pernah menjadi “penguasa dunia”). Ini juga berlaku untuk perseorangan, ada yang mempunyai ukuran bahwa “Tahta (Power/Position), Harta (Wealth/Money) dan Wanita (Spouse)” sebagai acuan kesuksesan.

Variabel yang mutlak adalah waktu (plus takdir/kehendak yang Maha Kuasa) karena sesuatu akan dianggap sukses dalam suatu era dan lokasi geografis (atau mungkin suatu konstelasi), berubah drastis dalam era dan geografis yang berbeda. So…Kalau tidak hati-hati, kesuksesan itu bisa berubah menjadi “mode” yang tidak cocok di segala jaman serta gampang berubah sesuai minat zaman dan lokasi di mana kesuksesan itu diukur.

Penutup:
Kita semua punya pilihan dan kesempatan yang sama untuk mewujudkan “From Zero To Hero” atau “Bisa Juga: From Hero To Zero”.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=QWZiftO2Q78?rel=0&w=600&h=420]

Print Friendly, PDF & Email

Restropeksi "Costa Concordia" : Perbedaan Seorang Pengecut dan Pemberani

 The hero and the coward both feel the same thing, but the hero uses his fear, projects it onto his opponent, while the coward runs. It’s the same thing, fear, but it’s what you do with it that matters.    D’Amato, Cus
Peribahasa di atas sangat tepat dengan apa yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Banyak kejadian yang memperlihatkan Perbedaan Seorang Pengecut dan Pahlawan seperti yang digambarkan dengan peristiwa tenggelamnya Kapa Pesiar Costa Concordia baru-baru ini. Berikut ini adalah transkrip yang diterjemahkan dari percakapan antara Kapten Gregorio de Falco (Penjaga Pantai Italia) dan Schettino (Kapten Kapal Pesiar Costa Concordia):
De Falco: Ini adalah De Falco yang berbicara dari Livorno. Apakah saya berbicara dengan Komandan Kapal?
Schettino: Ya. Selamat malam, Komandan De Falco.
De Falco: Tolong beritahu saya nama Anda.
Schettino: Saya Komandan Schettino, komandan.
De Falco: Schettino? Dengarkan Schettino. Ada orang yang terjebak di kapal. Sekarang Anda pergi dengan perahu Anda ke bawah haluan di sisi kanan kapal. Ada sebuah tangga pertolongan. Anda harus menaiki tangga itu dan masuk kapal. Kemudian Anda akan memberitahu saya berapa banyak orang tertinggaldi sana. Apakah itu jelas? Saya merekam percakapan ini, Komodor Schettino …
Schettino: Komandan, biarkan aku memberitahu Anda satu hal …
De Falco: Bicaralah! Letakkan tangan Anda di depan mikrofon dan berbicara lebih keras. Apakah itu jelas?
Schettino: Pada saat ini, kapal ini sudah miring …
De Falco: Saya memahami dan mendengarkan, ada orang-orang yang turun tangga di haluan. Anda naik tangga lain yg tersedia, masuk ke kapal itu dan katakan padaku berapa banyak orang yang masih di dalam. Dan apa yang mereka butuhkan. Apakah itu jelas? Anda perlu memberitahu saya jika ada anak-anak, wanita atau orang yang membutuhkan bantuan. Dan katakan jumlah pasti dari masing-masing kategori. Apakah itu jelas? Dengarkan Schettino,  Anda selamay dari laut, tapi saya akan … benar-benar melakukan sesuatu yang buruk kepada Anda … Saya akan membuat Anda membayar untuk ini. Go on board, (sumpah serapah)!
Schettino: Komandan, silahkan …
De Falco: Tidak, silakan. Anda sekarang bangun dan pergi ke kapal. Mereka mengatakan bahwa kapal masih ada penumpang…
Schettino: Saya di sini dengan perahu penyelamat, saya di sini, saya tidak ke mana-mana, saya di sini …
De Falco: Apa yang Anda lakukan, komandan?
Schettino: Saya di sini untuk mengkoordinasikan penyelamatan …
De Falco: Apa yang Anda koordinasikan di sana? Pergilah ke kapal! Koordinasikan dari kapal penyelamatknnya. Apakah Anda menolak?
Schettino: Tidak, saya tidak menolak.
De Falco: Apakah Anda menolak untuk pergi naik, Komandan? Dapatkah Anda memberitahu saya alasan mengapa Anda tidak pergi?
Schettino: Saya tidak pergi karena sekoci lainnya menghalangi.
De Falco: Anda pergi ke kapal!!! Ini adalah perintah!!! Jangan membuat alasan lagi. Anda telah menyatakan “Tinggalkan kapal”. Sekarang saya yang bertanggung jawab. Anda pergi ke kapal! Apakah itu jelas? Apakah Anda mendengar saya? Pergilah, dan telepon saya ketika Anda naik. Awak udara penyelamatan saya ada di sana.
Schettino: Mana penyelamat Anda?
De Falco: penyelamatan udara saya di haluan. Pergi. Sudah ada di sana, Schettino.
Schettino: Berapa banyak mayat yang ditemukan?
De Falco: Saya tidak tahu.  Anda adalah orang yang harus memberitahu saya tentang banyaknya korban!!!
Schettino: Tapi apakah Anda menyadari suasana gelap dan di sini kita tidak bisa melihat apa-apa …
De Falco: Jadi apa keinginanmu? Anda ingin pulang, Schettino?  Suasana  gelap dan Anda ingin pulang? Arahkan pada haluan kapal dan naik menggunakan tangga pertolongan serta katakan padaku apa yang bisa dilakukan, berapa banyak orang di sana dan apa kebutuhan mereka. Sekarang!
Schettino: … Saya dengan orang kedua (wakil) saya di sini.
De Falco: Jadi Anda berdua harus naik … Anda dan Wakil Anda pergi ke kapal sekarang. Apakah itu jelas?
Schettino: Komandan, saya ingin pergi kel kapa, tapi ada perahu lain di sini yg menghalangi … Ada penyelamat lainnya. Kami berhenti dan menunggu …
De Falco: Telah beberapa jam Anda  mengatakan hal yang
sama. Sekarang, pergi ke kapal. Pergilah ke kapal! Dan kemudian beritahu saya segera berapa banyak orang ada di sana!!!
Schettino: OK, Komandan.
De Falco: Pergilah, segera!
“Dan sejarah mencatat, kisah heroik dibalik kaburnya kapten kapal pesiar Costa Concordia, Francesco Schettino (52). Kepala Pelabuhan Livorno, Gregorio de Falco (48) yang memaki Schettino menjadi salah satu pahlawan diantara kisah heroik lainnya.”
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=vi-3Kr0AILo?rel=0&w=600&h=400]
Print Friendly, PDF & Email

Jenderal Hoegeng: Polisi Yang Tak Pernah Tidur

Jenderal Hoegeng Tidak Bisa Disuap

Barusan saya melihat tayangan ulang sepak terjang almarhum Jendral Hoegeng di @KickAndyShow. Melihat penampilan keluarga amarhum dan sahabat-sahabat beliau, kelihatannya mereka memperoleh “Kenikmatan Yang Tertunda” dan “Sengsara Membawa Nikmat”. Mengapa? Setelah mengalami “pendzoliman” oleh fihak-fihak yang merasa terganggu dengan Niat, Pikiran dan Tindakan (Heart, Head & Hand) untuk memerangi kejahatan dan kemaksiatan, akhirnya almarhum Jendral Hoegeng, keluarga serta sahabat dekat yang satu visi mendapat tempat istimewa di hati masyarakat. Bahkan istri dan keluarganya bisa berangkat ke Hawaii, tempat yang diidamkannya bersama almarhum Jendral Hoegeng, dengan sumbangan dari para donor yang bersimpati dan berterima kasih kepada beliau.

Berikut adalah tulisan Andy F. Noya yang berisi kekagumannya pada Jenderal Hoegeng:

Suatu hari, seorang teman lama menelepon saya. Dia menceritakan kisah yang membuat hati saya tersentak lalu tergerak. Cerita tentang istri almarhum mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Menurut teman saya, ketika Pak Hoegeng masih hidup, dia pernah berjanji suatu hari kelak, jika punya uang, dia akan mengajak istrinya ke Hawai, Amerika Serikat. Mengapa Hawai? Karena mereka berdua begitu mencintai lagu-lagu “irama lautan teduh”.

Hoegeng dan Merry Roeslani, sang istri, sejak muda memang sangat menyukai musik hawaian. Kecintaan pada jenis musik tersebut mendorong mereka menghidupkan kembali kelompok musik Hawaian Seniors yang dulu pernah dibentuk Hoegeng semasa remaja. Mereka bahkan tampil sebulan sekali di TVRI dan merupakan program yang sangat diminati pada tahun 1970-an.

Namun apa mau dikata. Sebelum janji itu bisa dipenuhi, sang jenderal yang jujur dan sederhana itu lebih dulu dipanggil Tuhan. Hoegeng pergi selama-lamanya tanpa sempat mengajak sang istri menginjak pasir Waikiki Beach di Hawai yang terkenal itu. Hoegeng juga tak pernah sempat mengajak Merry melihat penari hula-hula asli di pulau tersebut. Karena itu, saya bisa membayangkan betapa sedih hati Ibu Merry.

Bagi Anda yang mungkin lupa, selama menjadi Kapolri, Pak Hoegeng setiap akhir bulan tampil bermain musik bersama Hawaian Seniors membawakan lagu-lagu irama lautan teduh. Duet Hoegeng dan Merry sanggup menyihir penonton televisi pada tahun 1970-an.

Bahkan penampilannya di TVRI waktu itu terus berlanjut walau Pak Hoegeng sudah pensiun. Hingga pada 1978, Hawaian Seniors “dicekal” tidak boleh tampil di TVRI oleh penguasa Orde Baru. Tidak pernah jelas mengapa. Alasan “resminya” karena acara tersebut dinilai tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Tetapi diduga pencekalan itu berkaitan dengan keikutsertaan Pak Hoegeng menandatangani “Petisi 50” yang berisi kritikan keras terhadap Pak Harto.

Pencekalan terjadi setelah Pak Hoegeng, Ibu Merry, dan Hawaian Seniors sepuluh tahun tampil menghibur di TVRI. Waktu yang cukup lama. Tetapi, percaya atau tidak, selama itu pula belum pernah sekalipun Ibu Mery menginjakkan kakinya di pasir Waikiki Beach yang terkenal itu. Padahal, sebagai Kapolri, Pak Hoegeng sudah pernah tiga kali bertugas ke Amerika dan sempat mampir di Hawai.

Ibu Merry tidak pernah ikut karena Pak Hoegeng memiliki prinsip yang sangat teguh: selama melakukan perjalanan dinas, istri dan anak-anak tidak boleh ikut “numpang” fasilitas kantor “Dia tidak pernah mengijinkan saya dan anak-anak memanfaatkan kesempatan menggunakan fasilitas dinas,” ungkap Ibu Mery. “Sementara untuk beli tiket dengan uang sendiri kami tidak mampu.”

Ironis memang. Sulit dipercaya ada orang sejujur Pak Hoegeng di negeri ini. Tak heran jika kemudian muncul idiom: Di Indonesia hanya ada tiga polisi yang jujur. Polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng. Begitu jujurnya sampai ketika meninggal tak banyak harta benda yang dia tinggalkan untuk keluarganya. Bahkan setelah 32 tahun mengabdi di kepolisian, uang pensiun yang diterima Pak Hoegeng cuma Rp 10 ribu.

Kawan saya menilai kisah tentang Ibu Mery tersebut layak diangkat di Kick Andy. Agar banyak pihak terbuka matanya bahwa di negeri ini ada sebuah ironi. Ironi kehidupan seorang pejabat yang jujur dan seorang istri yang tabah.

Setelah mendengar kisah tentang Pak Hoegeng dan Ibu Merry, ada “panggilan” yang begitu kuat di dalam dada. Panggilan untuk mewujudkan mimpi Ibu Merry. Mimpi untuk bisa menginjakkan kaki di Pantai Waikiki. Dalam usianya yang sudah di atas 80 tahun, mungkin ini permintaan terakhir yang akan dikenangnya sebelum Tuhan memanggilnya.

Tapi, jujur saja, saya sempat ragu apakah bisa mewujudkan mimpi tersebut. Terutama ketika mendengar cerita bahwa sudah dua kali Ibu Merry ditolak ketika mengajukan visa ke kedutaan besar Amerika Serikat. Tak ada penjelasan mengapa permohonannya ditolak. Sejak penolakan yang kedua, Ibu Merry sudah mengubur dalam-dalam impiannya untuk bisa melihat Hawai.

Saya mencoba menghubungi pihak kedutaan Amerika dan menjelaskan keinginan saya untuk membantu Ibu Merry guna mendapatkan visa. Saya berusaha menjelaskan siapa Pak Hoegeng dan kisah tentang mimpi Ibu Merry untuk bisa menginjakkan kaki di pulau yang selama ini hanya dikenalnya melalui gambar dan cerita-cerita orang.

Pihak kedutaan Amerika mengatakan tidak berjanji dapat mengabulkan permintaan saya itu. Mereka menegaskan adanya peraturan keras dari pemerintah Amerika yang tidak pandang bulu. Saya katakan kepada mereka saya bisa memahami dan tidak akan memaksa. Saya hanya ingin menyenangkan hati seorang wanita luar biasa yang selama hidupnya banyak mengalami kepahitan hidup. Apa salahnya di ujung hidupnya, sekali ini, dia dapat mereguk kebahagiaan. Apalagi ada kemungkinan ini adalah “last wish” atau permintaan terakhirnya.

Akhirnya, kisah tentang Pak Hoegeng, Hawaian Senior, dan Ibu Merry saya angkat di Kick Andy. Pada bagian akhir acara, kepada Ibu Merry saya tanyakan tentang apa keinginannya yang belum terwujud. Dengan suara pelan, sembari menghela nafasnya, Ibu Merry bercerita tentang kerinduannya untuk bisa ke Hawai. Kerinduan yang sudah dikuburnya.

Dua kali visanya ditolak dan keuangan yang terbatas, membuatnya pasrah. Dia juga harus mengubur impiannya untuk bertemu dengan sahabatnya Mukiana, perempuan asal Hawai, yang sangat dirindukannya. Sudah tiga puluh tahun lamanya mereka tidak berjumpa. Mukiana pernah tinggal di Indonesia selama enam tahun dan bersama-sama menari dan bernyanyi di acara Hawaian Seniors.

Di ujung acara Kick Andy saya menyambungkan hubungan telepon antara Keala Mohikana dan Ibu Merry. Tampak Ibu Merry terkejut mendapat sambungan langsung dengan sahabat yang dirindukannya itu. Ibu Merry lalu menanyakan kapan Keala Mohikana bisa ke Jakarta. Tapi, pada pertengahan pembicaraan, tiba-tiba Keana Mohikana muncul dari balik panggung. Ibu Merry tertegun seakan tak percaya. Sahabatnya itu kini berada tepat di depannya. Kedua wanita tua itu lalu saling berpelukan melepas rindu.

Belum sempat Ibu Merry meredakan rasa harunya, tiba-tiba Aditya, putra Ibu Merry, mengeluarkan visa dari kantongnya. Tuhan maha besar. Kedutaan Amerika kali ini meloloskan Ibu Merry dan juga Aditya untuk masuk wilayah Amerika. Mereka berdua mendapat visa!

Selesai sampai di situ? Belum. Kepada Ibu Mery, saya serahkan sebuah amplop. Isinya kemudian dibaca oleh Ibu Merry: tiket pulang pergi Jakarta-Hawai-Jakarta. Maka sempurnalah perjuangan saya, teman saya, dan Aditya untuk memberikan “hadiah” paling indah dalam hidup Ibu Merry, yakni kesempatan pergi ke Hawai.

Sejumlah penonton di studio tak kuasa menahan haru. Mereka menitikan air mata. Apalagi saat Aditya menunjukkan visa dan kemudian Ibu Merry menerima tiket ke Hawai yang dipersembahkan Surya Paloh, pemilik Metro TV.

Seusai rekaman Kick Andy, semalaman saya tidak bisa tidur. Hati rasanya bahagia sekali. Semua upaya dan jerih payah terbayar sudah. Kalau melihat ke belakang, rasanya semua itu tidak mungkin terjadi. Mulai dari upaya teman saya mendatangkan Mukiana ke Jakarta, usaha untuk mendapatkan visa yang sudah dua kali ditolak, sampai tiket ke Hawai pemberian Surya Paloh, semua berjalan tanpa hambatan. Tuhan maha besar.

(Sebagian Dikutip dari Sumber: http://www.kickandy.com)

 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=PqLmEI8Eroc?rel=0&w=600&h=400]

Print Friendly, PDF & Email

Renungan Hari Pahlawan: Antara Selera Pasar, Globalisasi dan Keberlangsungan Peradaban

Hari Pahlawan dilatar-belakangi peristiwa Pertempuran Surabaya yang merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Setidaknya 6,000 – 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 – 2000 tentara.  Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.
Dalam era globalisasi sekarang ini, pengorbanan para pahlawan saat itu mungkin dianggap aneh karena tidak sesuai dengan “selera pasar“. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.
Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
  1. Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
  2. Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
  3. Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
  4. Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
  5. Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.

Peradaban adalah memiliki berbagai arti dalam kaitannya dengan masyarakat manusia. Seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat yang “kompleks”: dicirikan oleh praktik dalam pertanian, hasil karya dan pemukiman, berbanding dengan budaya lain, anggota-anggota sebuah peradaban akan disusun dalam beragam pembagian kerja yang rumit dalam struktur hirarki sosial.

Istilah peradaban sering digunakan sebagai persamaan yang lebih luas dari istilah “budaya” yang populer dalam kalangan akademis. Dimana setiap manusia dapat berpartisipasi dalam sebuah budaya, yang dapat diartikan sebagai “seni, adat istiadat, kebiasaan … kepercayaan, nilai, bahan perilaku dan kebiasaan dalam tradisi yang merupakan sebuah cara hidup masyarakat”. Namun, dalam definisi yang paling banyak digunakan, peradaban adalah istilah deskriptif yang relatif dan kompleks untuk pertanian dan budaya kota. Peradaban dapat dibedakan dari budaya lain oleh kompleksitas dan organisasi sosial dan beragam kegiatan ekonomi dan budaya.

Dalam sebuah pemahaman lama tetapi masih sering dipergunakan adalah istilah “peradaban” dapat digunakan dalam cara sebagai normatif baik dalam konteks sosial di mana rumit dan budaya kota yang dianggap unggul lain “ganas” atau “biadab” budaya, konsep dari “peradaban” digunakan sebagai sinonim untuk “budaya (dan sering moral) Keunggulan dari kelompok tertentu.” Dalam artian yang sama, peradaban dapat berarti “perbaikan pemikiran, tata krama, atau rasa”. Masyarakat yang mempraktikkan pertanian secara intensif; memiliki pembagian kerja; dan kepadatan penduduk yang mencukupi untuk membentuk kota-kota. “Peradaban” dapat juga digunakan dalam konteks luas untuk merujuk pada seluruh atau tingkat pencapaian manusia dan penyebarannya (peradaban manusia atau peradaban global). Istilah peradaban sendiri sebenarnya bisa digunakan sebagai sebuah upaya manusia untuk memakmurkan dirinya dan kehidupannya. Maka, dalam sebuah peradaban pasti tidak akan dilepaskan dari tiga faktor yang menjadi tonggak berdirinya sebuah peradaban. Ketiga faktor tersebut adalah sistem pemerintahan, sistem ekonomi, dan IPTEK.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=l7AWnfFRc7g&w=640&h=460]
Print Friendly, PDF & Email

Refleksi Sumpah Pemuda: Peran Tak Tergantikan Dalam Kehidupan Berbangsa

Tidak dapat dipungkiri, Peran Pemuda Tak Tergantikan Dalam Kehidupan Berbangsa. Hampir semua bangsa punya tokoh muda yang tampil untuk memeprjuangkan dan menjaga kedaulatan bangsanya. Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia.

Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Pada detik-detik kemerdekaan Indonesia, para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana –yang konon kabarnya terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka –yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran. Pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945, bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok.

Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan dan menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta.

Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu – buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.

Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 – 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=aitpOv8WQqo&w=640&h=480]

Print Friendly, PDF & Email