Blackberry dan RIM: Ketika Kreatifitas dan Inovasi Berhenti

 

Selalu sedih melihat perusahaan  besar yang tersapu ke dalam kelesuan, tak memperoleh angin dari komunitas teknologi, serta secara bertahap keluar dari Silicon Valley sampai “jatuh ke tempat gelap”. Setelah itu, mati dan secara menyedihkan dilupakan. Itu memang sedikit melodramatis.

Research In Motion; Mereka benar-benar berjaya dengan pesan dan “multitasking software Blackberry Messenger” di tahun 2000an ini. Mereka juga bertanggung jawab untuk ponsel pertama yang benar-benar terhubung dengan orang kaya dan pengusaha yang miskin waktu, yang memungkinkan penguasa industri untuk berbaring sementara tetap terhubung ke kantor setiap saat.  


Tapi saat ini berbeda, khususnya antara 2007/8 ketika RIM dan perangkat Blackberry mempunyai masa jayanya. Enkripsi yang ditawarkan pada semua pesan dan email yang dikirim melalui handset adalah menarik bagi bisnis, dan semuanya berjalan baik pada perangkat RIM untuk waktu yang singkat. Meskipun penting untuk diingat, ini adalah waktu ketika iPhone tidak mampu menangani layanan email terenkripsi dan Android hanyalah isapan jempol imajinasi di Microsoft. RIM berada di atas, dan tampak seperti itu bisa tetap seperti itu.

Tapi seperti halnya dengan semua perusahaan yang tak tertandingi, RIM sedikit terlalu puas serta agak terlalu malas ketika mengembangkan perangkat lunak baru dan model untuk smartphone mereka. Mengapa mengubah produk setelah semua menjadi pemenang? Nah RIM, itu dilema teknologi yang Anda hadapi – anda bukan sepasang itu Levi atau Magimix, yang kekuatannya terletak pada warisan mereka – dimana formula mereka  tetap tak berubah selama 50 tahun terakhir.  

 

 

Dan inilah kepuasan yang mengakibatkan situasi saat ini dihadapi RIM: model bisnis bombastis dengan telepon imajinatif. Untuk pengguna bisnis kelas atas yang menginginkan antarmuka multimedia ramping serta fungsionabilitas bisnis, ada iPhone. Untuk pelanggan finansial yang ingin akses ke App Store, ada Android. Apakah RIM cocok dalam dunia teknologi yang baru ini? Kita tidak  tahu pasti. Kita hanya bisa berharap bahwa  mereka bangkit dari abu kehancuran diri mereka sendiri .

Lengkapnya bisa dibaca di http://www.the7thchamber.com/2012/04/the-death-of-rim/  

<a href=”http://www.mbaonline.com/death-of-rim/”><img src=”http://images.mbaonline.com.s3.amazonaws.com/death-of-rim.gif” alt=”Death of RIM” width=”600″  border=”0″ /></a><br />Created by: <a href=”http://www.mbaonline.com/”>MBAOnline.com</a>

Print Friendly, PDF & Email

Kenaikan BBM dan Wafatnya Wakil Menteri ESDM

Kita ketahui beberapa waktu yang lalu timbul perdebatan adanya rencana kenaikan BBM. Setiap kali pemerintah berencana mengurangi subsidi BBM, setiap kali penolakan masyarakat terjadi di berbagai kota. Padahal, harga BBM di Indonesia hampir pasti akan selalu dipengaruhi gejolak harga minyak dunia karena negeri ini telah menjadi importir minyak akibat kebutuhan lebih tinggi dari produksi.

Dalam 10 tahun terakhir, Indonesia sudah mengalami tiga kali kenaikan mencolok harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut mendesak pemerintah menaikkan harga BBM, yakni pada tahun 2005 dan tahun 2008. Pada 1 April 2012, pemerintah tadinya akan menaikkan lagi harga BBM bersubsidi dengan alasan sama, yakni mengamankan anggaran pendapatan dan belanja negara. Tanpa menaikkan harga BBM, besar subsidi dapat mencapai Rp 191 triliun.

Dikutip dari Detik.com, saat itu muncul figur yang menonjol yaitu Wamen ESDM Widjajono Partowidagdo. Beliau muncul terutama saat pembahasan kenaikan BBM bersubsidi lalu. Widjajono dianggap salah satu orang yang paling berani untuk menjelaskan masalah yang menjadi kontroversi itu ke publik.

“Saya mengenal almarhum adalah seorang yang memiliki pikiran strategis dan idealisme yang tinggi. Utamanya di bidang pembangunan energi dan pengembangan energi nasional kita,” kata SBY saat menyampaikan sambutan di rumah duka, Jl Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (22/4/2012).

SBY sudah merasakan semangat kerja guru besar ITB itu sejak direkrut menjadi wamen 6 bulan lalu. Sejak itu, dia aktif membantu pemerintah menyusun strategi dan pengembangan energi nasional, terutama saat usulan perubahan APBN 2012 yang berimbas pada kenaikan harga BBM bersubsidi.

“Kita juga menyaksikan ketika terjadi kontroversi tentang kenaikan harga BBM, almarhum dengan penuh tanggungjawab dan keberanian menjelaskan dengan jernih mengapa harus ada perubahan APBN, mengapa harus ada efisiensi energi, untuk kepentingan kita semua, untuk kepentingan ekonomi di masa depan,” jelas SBY.

Hal itu, kata SBY, dilakukan tanpa pamrih dan kepentingan pribadi. Widjajono bertanggung jawab sebagai abdi negara dan bagian dari penyusunan kebijakan publik.

“Itu adalah catatan abadi yang tidak akan pernah saya lupakan. Itu bagian dari sejarah,” terang SBY yang tampil dengan pakaian serba hitam.

Di lain fihak, Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuzy menyebut almarhum Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo diselamatkan Tuhan saat kisruh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Sekarang di tengah kegalauan kebijakan pemerintah ttg BBM bersubsidi, kita kehilangan seorang pejabat, sekaligus pakar ekonomi energi yang belum ada duanya. Saya yakin beliau disayang Allah, karena dipanggil ke haribaan-Nya, di tengah pergumulan terakhirnya soal kebijakan BBM bersubsidi, yang saya yakin semakin kini semakin menjadi pertarungan banyak kepentingan,” ujar Romy dalam rilisnya kepada INILAH.COM, Minggu (22/4/2012).

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/IjBsCqZHApg” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Print Friendly, PDF & Email

Analisis Lingkungan Politik dan Hukum Grameen Telecom

   
Dalam menjalankan kegiatannya, Grameen Telecom  menghadapi lingkungan eksternal berupa Lingkungan Umum (Makro),  Lingkungan Industri (Mikro) dan Lingkungan Operasional dan Lingkungan Operasional (Internal) yang masing-masing dianalisis yang menjadi dasar bagi perumusan strategi.
 
Lingkungan makro adalah suatu lingkungan dalam lingkungan eksternal yang faktor-faktornya memiliki ruang lingkup yang luas dan faktor-faktor tersebut pada dasarnya diluar dan terlepas dari operasi perusahaan. Arah dan stabilitas dari faktor politik dan hukum merupakan pertimbangan utama bagi manajer dalam memformulasikan strategi. Kondisi Politik dan Hukum di Bangladesh ikut menyertai Grameen Phone dan Grameen Telecom dengan segala pasang surutnya.Seperti diketahui, pada tahun 1996 Kementrian Pos dan Telekomunikasi Bangladesh (MOPT) telah memberikan lisensi untuk operator GSM kepada TM International (Bangladesh), Grameen Phone Ltd. (Operator dari Grameen Telecom) dan Sheba Telecom Ltd. untuk jangka waktu 15 tahun. 
 
Grameen Phone Ltd. (GP Ltd.) kemudian memperkenalkan skema untuk menyediakan telepon bergerak kepada wanita pedesaan yang tarifnya disubsidi dalam rangka pemberdayaan masyarakat miskin yang berkolaborasi  dengan Grameen Bank (yang didirikan oleh Prof. Muhammad Yunus) dan telah menjadi kisah kebehasilan baik dibidang telekomunikasi dan pengurang kemisikinan di daerah pedesaan Bangladesh. 
 
Untuk memperkuat kebijakan diatas dan memfasilitasi ketersediaan pelayanan telekomunikasi yang terjangkau, pemerintah Bangladesh menyetujui implementasi dari  Kebijakan Telekomunikasi 2001 (Telecommunication Act of 2001). Dibawah kebijakan ini, sebuah komisi independent yang dinamakan Bangaladesh Telecommunication Regulatory Commission (BTRC) didirikan dan mulai berfungsi pada tanggal  31 Januari 2002. Sebagai Badan Regulator, BTRC menerbitkan lisensi kepada operator dan pengguna telekomunikasi serta diberikan mandat . untuk memfasilitasi pelayanan telekomunikasi dengan kualitas yang bisas diterima pelanggan di semua daerah di Bangladesh. Mandat ini dapat diterjemahkan dengan aktifitas sebagai berikut:
Meningkatkan teledensitas sekurang-kurangnya 10 telephon per 100 penduduk di tahun 2010;
Menyediakan komunikasi telepon disetiap desa pada tahun 2006;
Mempromosikan aplikasi telematika (ICT) untuk mendukung perkembangan sosial ekonomi;
Mengkreasikan lingkungan yang kondusif bagi pelayanan ICT;
Memfasilitasi kerjasama Publik dan Swasta dalam perkembangan ICT; dan
Memfasilitasi aplikasi ICT dalam pengentasan kemiskinan
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/T7c5CDGpFAA” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
Print Friendly, PDF & Email

REZA HERAWAN 0607004: Implementasi COBIT Pada Kerja Praktek di ”PT. TRANSINDO JAYA KOMARA”

Pendahuluan

COBIT yaitu Control Objectives for Information and Related Technology yang merupakan audit sistem informasi dan dasar pengendalian yang dibuat oleh Information Systems Audit and Control Association (ISACA), dan IT Governance Institute (ITGI) pada tahun 1992.

  1. Business information requirements, terdiri dari : Information : effectiveness (efektif), efficiency (efisien), (keyakinan), integrity (integritas), availability (tersedia), (pemenuhan), reliability (dipercaya). 
  2. Confidentiality compliance  
  3. Information Technology Resource, terdiri dari : People, applications, technology, facilities, data. 
  4. High – Level IT Processes.

 

COBIT didasari oleh analisis dan harmonisasi dari standar teknologi informasi dan best practices yang ada, serta sesuai dengan prinsip governance yang diterima secara umum. COBIT berada pada level atas yang dikendalikan oleh kebutuhan bisnis, yang mencakupi seluruh aktifitas teknologi informasi, dan mengutamakan pada apa yang seharusnya dicapai dari pada bagaimana untuk mencapai tatakelola, manajemen dan kontrol yang efektif. COBIT Framework bergerak sebagai integrator dari praktik IT governance dan juga yang dipertimbangkan kepada petinggi manajemen atau manager; manajemen teknologi informasi dan bisnis; para ahli governance, asuransi dan keamanan; dan juga para ahli auditor teknologi informasi dan kontrol. COBIT Framework dibentuk agar dapat berjalan berdampingan dengan standar dan best practices yang lainnya.

 

Implementasi dari best practices harus konsisten dengan tatakelola dan kerangka kontrol Perusahaan, tepat dengan organisasi, dan terintegrasi dengan metode lain yang digunakan. Standar dan best practices bukan merupakan solusi yang selalu berhasil dan efektifitasnya tergantung dari bagaimana mereka diimplementasikan dan tetap diperbaharui. Best practices biasanya lebih berguna jika diterapkan sebagai kumpulan pinsip dan sebagai permulaan (starting point) dalam menentukan prosedur. Untuk mencapai keselarasan dari best practices terhadap kebutuhan bisnis, sangat disarankan agar menggunakan COBIT pada tingkatan teratas (highest level), menyediakan kontrol framework berdasarkan model proses teknologi informasi yang seharusnya cocok untuk perusahaan  secara umum.

 

COBIT FRAMEWORK

Kerangka kerja CobIT terdiri dari beberapa guidelines (arahan), yakni :

a.    Control Objectives

Terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat tinggi (high level control objectives) yang tercermin dalam 4 domain, yaitu : planning & organization, acquisition & implementation, delivery & support, dan monitoring.

b.    Audit Guidelines

Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendali rinci (detailed control objectives) untuk membantu para auditor dalam memberikan management assurance atau saran perbaikan.

 

 

c.    Management Guidelines

Berisi arahan baik secara umum maupun spesifik mengenai apa saja yang mesti dilakukan, seperti : apa saja indicator untuk suatu kinerja yang bagus, apa saja resiko yang timbul, dan lain-lain.

d.    Maturity Models

Untuk memetakan status maturity proses-proses IT (dalam skala 0 – 5).

 

Pengelolaan TI (Tata Kelola TI)

Teknologi informasi memiliki peranan penting bagi setiap perusahaan yang memanfaatkan teknologi informasi pada kegiatan bisnisnya, serta merupakan salah satu faktor dalam mencapai tujuan perusahaan. Peran TI akan optimal jika pengelolaan TI maksimal. Pengelolaan TI yang maksimal akan dilaksanakan dengan baik dengan menilai keselarasan antara penerapan TI dengan kebutuhan perusahaan sendiri.

Semua kegiatan yang dilakukan pasti memiliki resiko, begitu juga dengan pengelolaan TI. Pengelolaan TI yang baik pasti mengiidentifikasikan segala bentuk resiko dari penerapan TI dan penanganan dari resiko-resiko  yang akan dihadapi. Untuk itu perusahaan memerlukan adanya suatu penerapan yang harus dilakukan perusahaan, yakni menerapkan Tata Kelola TI (IT Governance).

 

PT. Transindo Jaya Komara 

KOPERASI LANGIT BIRU yang sebelumnya dikenal dengan PT. Transindo Jaya Komara (PT. TJK) dengan Akte Notaris H. Feby Rubein Hidayat SH No. AHU. 0006152.AH.01.09. Tahun 2011 adalah perusahaan konvensional yang sudah berdiri 2 tahun dan bergerak khusus mengelola daging sapi dan air  mineral.
Saat ini KOPERASI LANGIT BIRU telah memiliki 62 suplayer pemotongan dan pendistribusian daging sapi serta pusat pendistribusian air mineral SAFWA. Adalah Ustad Jaya Komara sebagai Direktur utama memiliki pengalaman 16 Tahun dalam pengelolaan daging sapi. Ustad yang selalu berpenampilan sederhana dan apa adanya ini memiliki visi misi besar untuk kesejahteraan bersama khususnya Umat Islam. Untuk mengembangkan usahanya ini Ustad jaya Komara pada awalnya hanya menggandeng masyarakat sekitar saja untuk ikut serta menikmati keuntungan hasil usaha daging sapinya.

Berawal dari pandanganya terhadap strata kehidupan masyarakat Indonesia dimana yang kaya makin kaya dan yang miskin tetap miskin. Maka tercetuslah ide kreatif untuk pengembangan usahanya dengan mengikutsertakan masyarakat pada umumnya. Pada awalnya hanya diadakan arisan daging untuk masyarakat sekitar saja, yang hasilnya dibagikan tiap lebaran haji baik berupa keuntungan berupa uang dan daging sapi itu sendiri, hal ini sudah dilakukan oleh ustad jaya komara sebelum KOPERASI LANGIT BIRU resmi berdiri.

 

Berkaitan dengan pertimbangan diatas, perlu adanya suatu metode untuk mengelola IT. Dalam hal ini, metode COBIT perlu diterapkan dalam pengelolaan perusahaan agar pengguna IT sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan menghasilkan kinerja yang efisien dan efektif serta mencegah atau meminimalisir adanya resiko terhadap penggunaan IT. Dalam hal ini saya mencoba merancang penerapan COBIT pada PT. Transindo Jaya Komara.

1.    Analisis Permasalahan

·         Pada PT. Transindo Jaya Komara sudah memiliki prosedur pengelolaan teknologi informasi yang dijalankan, tetapi faktanya prosedur tersebut tidak sepenuhnya dijalankan, sehingga user biasanya melakukan secara manual.

·         Mengetahui berbagai kendala dalam pengelolaan teknologi informasi yang dijalankan.

·         Perusahaan menginginkan adanya suatu evaluasi tata kelola teknologi informasi untuk peningkatan mutu perusahaan .

·         Pengolahan Data

PO 1 Merencanakan rencana strategis IT

Pada PT. Transindo Jaya Komara sudah mengetahui akan rencana strategis TI, meski kenyataannya pelaksanaannya sering diabaikan. Pendokumentasian belum terstruktur dengan jelas. Dan hanya diketahui oleh beberapa pegawai yang berkepentingan saja. Update dari rencana strategis TI merupakan respon dari permintaan pihak perusahaan dan juga berdasarkan perubahan kondisi yang ada. Keputusan-keputusan stategis yang diambil hanya berdasarkan pada masalah yang ada dalam proyek yang dilaksanakan, belum berdasarkan rencana strategis TI yang telah ditetapkan secara konsisten.

Tetapi pada perusahaan ini sudah adanya solusi TI yang dibuat untuk menghadapi masalah yang ada. Penyampaian kepada konsumen juga sudah dilakukan, hanya belum berjalan dengan maksimal. Penyampaian kepada konsumen dilakukan secara online, dengan website yang diberikan perusahaan.

Seperti adanya rencana strategis dalam pemanfataan TI pada perusahaan ini yakni :

·         Solusi menyeluruh untuk industri perdagangan dan investasi

·         Solusi TI menyeluruh dengan nilai yang luar biasa

·         Solusi TI menyeluruh dengan kompetensi yang tinggi

 

PO 2 Arsitektur Informasi

Belum semua instansi memiliki sistem informasi dan sistem informasi yang dikembangkan belum terintegrasi.

PO 3 Arah Teknologi

Teknologi yang digunakan belum begitu canggih karena sarana dan prasarana belum memadai.

PO 4 Organisasi TI dan hubungan

Sudah ada sebuah organisasi yang jelas dan secara khusus menangani bidang IT, tetapi belum bekerja secara maksimal.

 

PO 5 Investasi TI

Belum adanya rancangan anggaran TI yang menyeluruh.

Alokasi anggaran yang terbatas.

 

PO6 Komunikasi tujuan dan arah manajemen

Masih lemahnya koordinasi pembagian produk produk. Hal ini menyebabkan

koordinasi koperasi kurang efektif dan antrian yang semakin panjang.

 

PO 7 Manage SDM

Penempatan SDM yang tidak tepat dan pembagian tugas yang tidak jelas.

Pengelolaan sumber daya yang belum optimal baik di tingkat teknis operasional

maupun manajerial.

 

PO 8 Kesesuaian dengan external requirement

Kurangnya kesiapan dalam antisipasi (change of management) baik terhadap

perkembangan teknologi informasi dan komunikasi maupun terhadap tuntutan

masyarakat (globalisasi).i TI menyeluruh untuk industri transportasi dan perjalan

PO 9 Menilai Resiko TI

Di PT. Transindo Jaya Komara sudah adanya  kebijakan akan manajemen resiko, karena sebagian besar pelaksanaan kegiatan bisnis di Departemen TI di perusahaan ini sudah memanfaatkan teknologi 100 %. Manajemen resiko dilakukan sesuai dengan proses yang telah ditentukan perusahaan, namun belum ada standart khusus untuk mengatur kebijakan manajemen resiko tersebut. Tetapi manajemen resiko pada perusahaan ini belum disosialisasikan kepada seluruh pegawai, jadi hanya pihak terkait atau manager yang mengaturnya dan menjalankannya. Apabila terjadi kesalahan manajer yang memberitahukan secara manual kepada pegawainya.

Proses kelonggaran/mitigasi yang diberikan terhadap resiko proyek, baik proyek baru atau lama semuanya diperiksa oleh manager, tetapi masih belum konsisten karena tidak adanya standart khusus untuk proses tersebut.

PO 10 Manajemen Proyek

Pada perusahaan ini, menajemen untuk proyek telah memenuhi kebutuhan user. User disini ialah pegawai, manager, pimpinan dan stakeholders lainnya. Namun, proses pedokumentasian belum berjalan dengan baik serta pengembangan dan penggunaan teknik juga belum dilaksanakan dengan baik. Serta aplikasi dari penerapan management proyek tergantung pada kebijakan dari manager.

PO 11 Manajemen kualitas

Kurangnya tenaga ahli yang mampu mengawasi kualitas TI dan rendahnya penghargaan terhadap SDM TI terampil mempengaruhi kualitas sistem dan pengembangan TI.

 

KESIMPULAN

Metode cobit perlu diterapkan pada PT Transindo Jaya Komara, hal ini berdasarkan atas kelemahan-kelemahan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya. Dengan diterapkannya metode cobit diharapkan kinerja PT Transindo Jaya Komara dapat lebih baik dan terorganisir sehingga visi dan misi perusahaan dapat tercapai dan juga dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi investor koperasi, pemegang saham dan pemerintah.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/WxwXshM2v3Y” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Kemana perginya EsEmKa? Mirip Hikayat Kelahiran Mobil Listrik Pertama di Amerika

Pupus sudah harapan Walikota Solo dan komunitas SMK yang membangun mobil EsEmKa ketika belum lulus Uji Emisi  Euro 2 di Balai Thermodinamika Motal dan Propulsi (BTMP), Serpong, Tangerang. Dikuti dari Tribun News 2 Maret 2012Jokowi dan Rudy, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo kecewa karena Esemka tak lolos uji emisi. Pasalnya dari 11 item yang diujikan, Esemka, mobil rakitan anak bangsa itu, gagal pada dua item.
Pertama, Esemka gagal pada standar gas buang karbonmonoksida yang seharusnya (CO) 5 gram/km dan HC+NOx standar 0,70 gram/km, namun terbukti CO-nya 11,63 gram/km dan HC+NOx sebesar 2,69 gram/km. Kegagalan kedua yakni tingkat terang lampu, seharusnya 12.000 candle (CD), namun lampu Esemka hanya mampu bersinar pada 10.900 CD, lampu kanan dan sebelah kiri 6.700 CD. Standar-standar itu mengacu pada Kepmen KLHJ No 04/2009 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang untuk Kendaraan Bermotor Tipe Baru.
Terlepas dari masalah, saya jadi teringat kejadian ini Mirip Hikayat Kelahiran Mobil Listrik Pertama di Amerika. Cerita sebagian besar diungkap selama kurun tahun 1990-an, ketika beberapa produsen mobil, termasuk General Motors, yang didorong untuk mengejar masa depan mobil yang bersih. Pada tahun 1990 “California Air Resources Board” mengadopsi mandat “Kendaraan Nol Emisi” dalam upaya untuk memaksa perusahaan mobil untuk memproduksi kendaraan bebas gas buang. Idenya sederhana: “Kita jangan tersedak sampai mati di limbah polusi kita sendiri”. Tujuan itu tampaknya sederhana: pada tahun 1998, 2 persen dari semua mobil baru yang dijual di pasar kendaraan terbesar di negara itu akan tanpa gas-buang, sehingga membuat gaya hidup California lebih ramah lingkungan. 
Henry Ford dan minyak murah membantu mencegah mobil listrik dipergunakan di jalan-jalan Amerika, meninggalkan sistem jalan raya yang tumbuh cepat dengan mesin yang memuntahkan polusi pembakaran internal. Dalam film berjudul “Siapa yang Membunuh Mobil Listrik,?” (Who Killed the Electric Car?) bergerak cepat antara wawancara dan  tayangan visual yang mengejutkan,  menjabarkan bagaimana “kisah cinta negara AS dengan mobil haus bensin”, serta berubah menjadi cinta buta. Pada tahun 1950-an, dimana Jack Kerouac dan James Dean bersinar,  pejalan kaki Los Angeles yang menerjang jalan-jalan kota terlihat menutupi mulut mereka dengan sapu tangan, mencoba untuk menyaring udara. Beberapa dekade kemudian, negara mengambil tindakan berani untuk mencegah polusi dari kendaraan bermotor. Apa yang terjadi selanjutnya, Mr Paine menjelaskan, adalah kisah adanya keserakahan korporasi dan korupsi pemerintah, berhadapan dengan semangat idealisme dan kemarahan. 
Inipun kelihatannya terjadi di Indonesia dengan mobil EsEmKa. Banyak orang yang masih ingin menikmati “Kursi Empuk” (Comfort Zone), sehingga belum rela melihat mobil “Produk Indonesia” menggelinding di jalan raya. Pertarungannya bukan hanya level emisi yang harus dipenuhi, tapi akan merupan pertarungan “David vs Goliath” otomotif di Indonesia. Memang banyak pertaruhannya, menurut majalah Kontan, Indonesia menjadi harapan pertumbuhan industri otomotif dunia yang sedang sendu. Setelah China, industri otomotif dunia melirik pasar mobil yang menggiurkan di Nusantara, apalagi Indonesia memiliki populasi penduduk terbanyak di Asia Tenggara.
Analis dari IHS Otomotif dan JPMorgan Chase & Co menyebutkan, industri otomotif saat ini saja sudah menikmati kenaikan pendapatan warga Indonesia. “Pasar mobil Indonesia berada di ambang booming,” kata Jessada Thongpak, analis senior di IHS Otomotif. Jessada menuturkan, Indonesia menjadi incaran produk otomotif karena mencatat pertumbuhan ekonomi dengan kondisi inflasi rendah dan suku bunga yang stabil. Ia berani memprediksikan, penjualan mobil di Indonesia akan melesat hingga 50% dalam lima tahun ke depan.
Adalah suatu kewajiban kita dari kalangan “Academic, Business & Government/ABG” (Akademisi, Bisnis dan Pemerintah) melihat secara jernih “Mau Dibawa Kemana” industri otomotif Indonesia. Apakah membiarkan EsEmKa “Layu Sebelum Berkembang” atau kita berani mendorongnya  dari “Ulat, Kepompong menjadi Kupu-Kupu” otomotif Indonesia?
Artikel Terkait:
Print Friendly, PDF & Email