Tadinya ingin jadi @Avatar-IT tapi tak apalah jadi @Ngabaduy-IT

Ngabaduy, kalau dalam istilah mah disebutnya ngalalana atau hitchiker dalam bahasa Inggris. 

Kata ini diperkenalkan oleh Pak Djadja Sardjana saat tim Comlabs melaksanakan tugas-tugasnya ke seantero nusantara. 

Bercirikan gembolan tas, dan perangkat-perangkat yang dibawa, jadilah kami komplotan ngabaduy………

Fan Page: http://www.facebook.com/NgabaduyIt

 

Print Friendly, PDF & Email

AT Mahmud dan Hari Anak Nasional: Kecintaan Seorang Bapak Pada Penerusnya

Dipinjam dari http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1279798501/hari-anak-nasional
“AMBILKAN bulan, bu. Ambilkan bulan, bu, yang selalu bersinar di langit. Di langit, bulan benderang. Cahayanya sampai ke bintang. Ambilkan bulan bu, ambilkan bulan, bu. Untuk menerangi, tidurku yang lelap di gelap.”
Itulah salah satu lagu yang ingin saya “tangkap” pada peringatan  Hari anak nasional  yang diciptakan oleh AT Mahmud karena kecintaannya pada pendidikan anak. Hari anak nasional pertama kali dicanangkan oleh Alm. mantan Presiden Suharto yaitu pada tanggal 23 Juli tahun 1986. Berarti tahun ini usia HAN menginjak usia yang ke 26 tahun. Harapan Almarhum mantan Presiden Suharto, dengan adanya Hari Anak Nasional di Indonesia ini akan dapat menjadi awal kunci kemajuan bangsa.
Ia melihat anak-anak sebagai aset kemajuan bangsa. Karena itulah, sejak tahun 1984, berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 44 tahun 1984, tanggal 23 Juli ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional. Peringatan Hari Anak Nasional dilakukan sejak tahun 1986 sampai saat ini. Perayaan ini dilakukan untuk menggugah kepedulian maupun partisipasi seluruh rakyat Indonesia dalam menghormati dan menjamin hak-hak anak tanpa diskriminasi.
Setiap tahun, Hari Anak Nasional di Indonesia selalu diperingati dengan tema yang berbeda. Misalnya pada tahun 2009, Hari Anak Nasional dirayakan dengan tema “Saya Anak Indonesia, Kreatif, Inovatif, dan Unggul Untuk Menghadapi Tantangan di Masa Depan”. Puncak perayaan Hari Anak Nasional dirayakan di Taman Impian Jaya Ancol dengan menghadirkan operet musikal karya A.T Mahmud, berjudul “Ambilkan Bulan, Bu.”
Musik dan Pendidikan memang dunia yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan pria kelahiran Palembang ini. Massagus Abdullah Mahmud, demikian nama pemberian kedua orang tuanya sejak lahir 3 Februari 1930 silam. Keluarga dan teman-temannya semasa sekolah SMP lebih sering memanggilnya dengan sebutan Totong. Kebiasaan memangil dengan nama Totong tersebut terbawa sampai SMA, ijazahnya pun diberi nama Abdullah Totong Mahmud dan lebih dikenal dengan AT Mahmud yang kini dikenal masyarakat sebagai pencipta lagu anak-anak.
Anak kelima dari sepuluh bersaudara ini baru menemukan kembali momentum dalam mengembangkan bakat bermusiknya ketika ia bertugas di Sekolah Guru Taman Kanak-kanak (SGTK) setelah sebelumnya ia mendaftarkan diri di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta. Di SGTK, ia pun berkreasi terutama mencipta lagu anak-anak. Kehidupan anak-anak yang senang bermain menjadi inspirasi utamanya dalam menciptakan lagu.
Selain di SGTK, inspirasi terbesar Totong juga datang dari ketiga anaknya. Ruri Mahmud, Rika Vitrina dan Revina Ayu. Ketiga buah cinta dari pernikahannya dengan Mulyani Sumarman pun menjadi inspirasi dari sebagian besar lagu gubahannya. Lagu Pelangi terinspirasi dari Rika ketika masih duduk di Taman Kanak-kanak (TK). Ketika dalam perjalanan ke sekolah, Rika menunjuk ke arah langit dan berteriak kepada sang ayah, “Pelangi!” Kejadian ini memberinya ide untuk membuat sebuah lagu mengenai pelangi. Ia pun menyusun kata-kata yang tepat sesuai pikiran anak-anak yang menggambarkan indahnya ketika pelangi muncul. Dengan iringan gitar maka jadilah sebuah lagu Pelangi yang sampai sekarang sering dinyanyikan di TK dan SD.
Pada tanggal 3 Juni 1968, kariernya dalam bermusik semakin menanjak setelah mendapat tawaran membuat acara musik untuk anak-anak dari TVRI, Ayo Menyanyi menjadi judul acara tersebut. Mealuli acara tersebut AT Mahmud memperkenalkan lagu anak-anak dari berbagai pencipta lagu terdahulu seperti Ibu Sud, Pak Dal, Pak Tono, S.M. Moechtar, dan lainnya, acara tersebut juga memberikan kesempatan kepada pencipta lagu baru untuk memperkenalkan lagunya. Ayo Menyanyi juga menjadi tempat yang terbaik untuk memperkenalkan lagu ciptaan AT Mahmud. Selama dua puluh tahun Ayo Menyanyi bertahan menjadi acara pendidikan musik anak dengan penggemar setia. Sampai akhirnya pada 1988, direksi TVRI meminta seluruh kru termasuk AT Mahmud untuk mundur dari acara Ayo Menyanyi.
Namun berkat dedikasinya yang luar dalam perkembangan musik anak-anak beberapa kali ia mendapat penghargaan dari berbagai pihak. Penghargaannya yang pertama diterima dari Menteri Pendidikan Nasional Juwono Sudarsono pada 1999. Selanjutnya rentetan penghargaan menyusul seperti dari Presiden RI Megawati Soekarno Putri (2001), Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden RI, Life Time Achievement Awards pada Anugerah Music Indonesia 2003. 
Penghargaan paling anyar diperoleh pada peringatan Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2010,walaupun ia telah berpulang ke Rahmatullah dua minggu sebelumnya, 6 Juli 2010. Sosok AT Mahmud memang salah satu sosok yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan musik anak-anak di Tanah Air. Lagu-lagu ciptaannya menjadi lagu wajib yang dinyanyikan pada TK atau SD. 
Namun gempuran lagu-lagu dewasa baik itu dari Band, penyanyi dewasa menjadi tantangan besar bagi eksistensi musik sejenis ciptaan AT Mahmud. Namun menurutnya Lagu anak-anak berbeda dengan lagu orang dewasa. Lagu anak-anak harus menggambarkan pikiran, perasaan, dan tingkah laku anak-anak. Anak-anak tidak boleh disuguhkan dengan lagu orang dewasa yang melampaui batas usia anak-anak itu. Maka tidaklah heran ketika pada akhir tahun lalu ia sempat berseloroh mengenai kegelisahannya.
“Saat ini anak-anak lebih hafal lagu orang dewasa ketimbang lagu anak-anak seumuran mereka,” ujarnya di salah satu tayangan televisi nasional. Kekhawatirannya memang cukup beralasan, saat ini urusan cipta mencipta lagu anak-anak tidak sama lagi dengan puluhan tahun yang lalu. Jangankan menemukan lagu anak-anak yang pas dengan usia anak-anak, penyanyi cilik pun susah mendapat tempat di hati penikmat musik. Sehingga kesulitan untuk menemukan pencipta lagu yang berdedikasi pada pendidikan musik anak-anak, sama susahnya dengan menemukan generasi penerus Tasya atau Joshua yang menjadi fenomena musik anak-anak satu dekade silam.
Harapan AT Mahmud agar anak-anak mendapatkan suguhan musik yang sesuai dengan usia, pikiran, tingkah laku anak-anak tampaknya bukan harapan yang muluk-muluk. Anak-anak memang harus mendapatkan pendidikan sesuai usia mereka, dan mungkin semua akan setuju kalau musik ciptaan AT Mahmud merupakan salah satu media pembelajaran terbaik bagi pendidikan anak-anak.
(Dari Berbagai Sumber)
Print Friendly, PDF & Email

Re-post: Kartini….Adakah cita-citamu sudah tercapai kini???

 

Engkau mungkin dikagumi wanita-wanita yang kucintai
Walaupun waktu memisahkan eramu dengan jati diri….
Tidakkah kau mengerti ada banyak salah persepsi
Diantara asa dan perjuangan penuh emosi

Kartini,mungkin jiwamu beserta kaum yang kami hormati
Namun arah itu telah jauh dari makna emansipasi
Yang kami coba untuk selalu memaknai
Bahwa hidup itu bukan untuk nafsi-nafsi

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/E6_a8dc1QlQ” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Pendidik Juga Manusia, Punya Rasa Punya Hati, Jangan Samakan Dengan Pisau Belati

 

Mungkin orang menyangka ku tak pernah terluka
Tegar bagaikan karang, tabu cucurkan air mata
* Kadang ku rasa lelah harus tampil sempurna
Ingin ku teriakkan
Andai mereka tahu rasa dalam hatiku
Lembut bagaikan salju dan menghangatkan kalbu
repeat *
reff:
Pendidik juga manusia, punya rasa punya hati
Jangan samakan dengan pisau belati
Pendidik juga manusia, punya rasa punya hati
Jangan samakan dengan pisau belati
repeat *
Pendidik juga manusia, punya rasa punya hati
Jangan samakan dengan pisau belati
Repeat reff

Ya, sesuai lagu yang (mohon maaf) dimodifikasi dari Seurieus ini, pendidik saat ini telah mengalami masa-masa metamorfosis dari “Ulat, Kepompong menjadi Kupu-kupu”. Perhatian para pemangku kepentingan akan pendidikan semakin meningkat, namun di sisi lain masih banyak “Pekerjaan Rumah” yang harus diselesaikan khususnya oleh pendidik.

 

Mulai dari “Standard Level Agreement/SLA” (Standar Pelayanan Minimum), kesesuaian pendidikan dengan dunia nyatasampai dengan sertifikasi yang diharapkan merubah pola “Hati, Pikir dan Aksi” dari pendidik. Ada beberapa pendidik yang sudah sadar, faham  dan bertindak sesuai “Peran Tauladannya” sebagai pendidik. Adapula yang menganggap anak didiknya sebagai sarana pelampiasan akademis, komersial, bahkan (Audzubillahi Min Dzalik) nafsu birahinya.

 

Para pendidik harus menyadari, walaupun “Mungkin orang menyangka ku tak pernah terluka” tetap harus “Tegar bagaikan karang, tabu cucurkan air mata”. Dilain waktu pendidik “Kadang ku rasa lelah harus tampil sempurna” serta “Ingin ku teriakkan” dan ingin dimengerti “Andai mereka tahu rasa dalam hatiku” kita tetap harus “Lembut bagaikan salju dan menghangatkan kalbu“. Serta terus berusaha menyadarkan khalayak ramai bahwa “Pendidik juga manusia, punya rasa punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati”.

 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=MMYvZeHVL0k&w=600&h=400]
Print Friendly, PDF & Email

Puisi: Sedu Sedan Antara Tawa dan Airmata

Sudah kering kelopak jiwamu terbawa seka
Seketika kelam sangsaka kelana meratap hampa
Sedu sedan antara tawa dan airmata
Simbah harapan terpaku karma tergolek kasta

Simpan rindu semesta langit karsa
Sampaikan do’a pengiring kalbu kantata
Suguhkan arti semanis hantaran takwa
Sembilu kala derita ruang maya nan hampa

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=orAFPh_KHlg&w=600&h=400]

Print Friendly, PDF & Email

Puisi: Pojok Pendidikan Mengabdi

Yang kami lakukan adalah sesuatu yang nisbi
Dan tahu itu hanya sekedar menginspirasi
Setetes ilmu, nyawa pendidikan bagi guru kami
Profesi pendidik yang penuh kecintaan dan dedikasi

Tugas negara mencerdaskan kehidupan bangsa ini
Namun secara moral tugas setiap orang secara hakiki
Doakan kami sabar  membimbing dengan nurani
Terima kasih untuk pendidik dengan sepenuh hati


[youtube http://www.youtube.com/watch?v=dugyQbNa_AU?rel=0&w=640&h=450]
Print Friendly, PDF & Email

Bung Hatta Dalam Kesederhanaan, Kemuliaan dan Kekuasaan

Kesederhanaan Bung Hatta

 

Menjelang Proklamasi ini saya ingin menulis sedikit salah satu idola diri yang kehidupannya “Lurus” dan bahkan “tanpa rona” dibandingkan Tokoh Kemerdekaan lain. Ia selalu hidup sederhana sesuai aturan agama, bangsa dan negara dan sampai akhir hidupnya. 

Disebut juga Bung Hatta, Lahir di Bukittinggi pada tanggal 12 Agustus 1902 dan meninggal dunia di Jakarta tanggal 14 Maret 1980 adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar. Anak perempuannya bernama Meutia Hatta pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.


Latar belakang dan pendidikan

Hatta lahir dari keluarga ulama Minangkabau, Sumatra Barat. Ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi, dan kemudian pada tahun 1913-1916 melanjutkan studinya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Saat usia 13 tahun, sebenarnya beliau telah lulus ujian masuk ke HBS (setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta), namun ibunya menginginkan Hatta agar tetap di Padang dahulu, mengingat usianya yang masih muda. Akhirnya Bung Hatta melanjutkan studi ke MULO di Padang, baru kemudian pada tahun 1919 beliau pergi ke Batavia untuk studi di HBS. Beliau menyelesaikan studinya dengan hasil sangat baik, dan pada tahun 1921, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handelshogeschool (bahasa inggris: Rotterdam School of Commerce, kini menjadi Erasmus Universiteit). Di Belanda, ia kemudian tinggal selama 11 tahun.

Saat masih di sekolah menengah di Padang, Bung Hatta telah aktif di organisasi, antara lain sebagai bendahara pada organisasi Jong Sumatranen Bond cabang Padang.

Pada tangal 27 November 1956, Bung Hatta memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada di Yoyakarta. Pidato pengukuhannya berjudul “Lampau dan Datang”.

Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond Cabang Padang. Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis.

Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas berangkat ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di Batavia, ia juga aktif di Jong Sumatranen Bond Pusat, juga sebagai Bendahara.

Hatta mulai menetap di Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksternirana

Perjuangan

Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja.

Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat,” aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan.

Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera, “Namaku Hindania!” begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,” rutuk Hatta lewat Hindania.

Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air. Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana Bahder Djohan itupun sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada pembagian pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan penerbitan. Namun, “Karena berbagai hal cita-cita kami itu tak dapat diteruskan,” kenang Hatta lagi dalam Memoir-nya.

Selama menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan percetakan surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta berada di Rotterdam, ia dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang mengemparkan Eropa, Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick man of Europe) memukul mundur tentara Yunani yang dijagokan oleh Inggris. Rentetan peristiwa itu Hatta pantau lalu ia tulis menjadi serial tulisan untuk Neratja di Batavia. Serial tulisan Hatta itu menyedot perhatian khalayak pembaca, bahkan banyak surat kabar di tanah air yang mengutip tulisan-tulisan Hatta.
Perangko Satu Abad Bung Hatta diterbitkan oleh PT Pos Indonesia tahun 2002
Perangko Satu Abad Bung Hatta diterbitkan oleh PT Pos Indonesia tahun 2002

Hatta mulai menetap di Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksterniran akibat kritik mereka lewat tulisan di koran De Expres. Kondisi itu tercipta, tak lepas karena Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) menginisiasi penerbitan majalah Hindia Poetra oleh Indische Vereeniging mulai 1916. Hindia Poetra bersemboyan “Ma’moerlah Tanah Hindia! Kekallah Anak-Rakjatnya!” berisi informasi bagi para pelajar asal tanah air perihal kondisi di Nusantara, tak ketinggalan pula tersisip kritik terhadap sikap kolonial Belanda.

Di Indische Vereeniging, pergerakan putra Minangkabau ini tak lagi tersekat oleh ikatan kedaerahan. Sebab Indische Vereeniging berisi aktivis dari beragam latar belakang asal daerah. Lagipula, nama Indische –meski masih bermasalah– sudah mencerminkan kesatuan wilayah, yakni gugusan kepulauan di Nusantara yang secara politis diikat oleh sistem kolonialisme belanda. Dari sanalah mereka semua berasal.

Hatta mengawali karir pergerakannya di Indische Vereeniging pada 1922, lagi-lagi, sebagai Bendahara. Penunjukkan itu berlangsung pada 19 Februari 1922, ketika terjadi pergantian pengurus Indische Vereeniging. Ketua lama dr. Soetomo diganti oleh Hermen Kartawisastra. Momentum suksesi kala itu punya arti penting bagi mereka di masa mendatang, sebab ketika itulah mereka memutuskan untuk mengganti nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging dan kelanjutannya mengganti nama Nederland Indie menjadi Indonesia. Sebuah pilihan nama bangsa yang sarat bermuatan politik. Dalam forum itu pula, salah seorang anggota Indonesische Vereeniging mengatakan bahwa dari sekarang kita mulai membangun Indonesia dan meniadakan Hindia atau Nederland Indie.

Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda, dan di sinilah ia bersahabat dengan nasionalis India, Jawaharlal Nehru. Aktivitasnya dalam organisasi ini menyebabkan Hatta ditangkap pemerintah Belanda. Hatta akhirnya dibebaskan, setelah melakukan pidato pembelaannya yang terkenal: Indonesia Free.

Pada tahun 1932 Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan. Belanda kembali menangkap Hatta, bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934. Hatta diasingkan ke Digul dan kemudian ke Banda selama 6 tahun.

Pada tahun 1945, Hatta secara aklamasi diangkat sebagai wakil presiden pertama RI, bersama Bung Karno yang menjadi presiden RI sehari setelah ia dan bung karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena peran tersebut maka keduanya disebut Bapak Proklamator Indonesia.

Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally

PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

“Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,” kata AdiSasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesiadapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.

Pemimpin Bangsa yang Bijak

Bulan Agustus ini adalah bulan keramat bagi bangsa Indonesia yang memasuki usia 63 tahun. Salah satu proklamator kita, Bung Hatta, jika beliau masih hidup, tanggal 12 Agustus tadi sudah memasuki usia 106 tahun. Tidak salah kalau rubrik kita kali ini menyoroti keteladanan sang pemimpin bangsa yang senantiasa berjuang bagi kepentingan negara kesatuan Indonesia.


Berprinsip Teguh
Bung Hatta yang dikenal jujur, sabar, cerdas, dan penuh ide ini memegang teguh prinsip yang diyakininya. Sebagai contoh adalah prinsip demokrasi yang diyakini beliau dapat membantu perbaikan kehidupan bangsa. Untuk itu beliau ikut memperjuangkan status Indonesia sebagai negara kesatuan yang dapat mengakomodasi aspirasi semua golongan tanpa kecuali. Beliau ikut mendukung dicabutnya pengusulan pembentukan negara yang memihak pada golongan tertentu saja.

Keteguhan Pak Hatta dalam memegang prinsip bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan bangsa. Ketika beliau berseberangan prinsip dengan pemerintah yang sedang berkuasa saat itu, beliau rela mengundurkan diri guna mempertahankan kesatuan bangsa.

Berjuang Tanpa Kekerasan
Bung Hatta yang lembut hati, selalu mencari strategi untuk berjuang tanpa kekerasan. Senjata ampuh yang digunakan tokoh proklamator kita ini adalah otak dan pena. Dari pada melawan dengan kekerasan beliau lebih memilih untuk menyusun strategi, melakukan negosiasi, lobbying, dan menulis berbagai artikel dan buku untuk memperjuangkan nasib bangsa. Prinsip tanpa kekerasan ini muncul karena rasa hormat Bung Hatta pada sesama manusia, baik kawan atau pun lawan. Walaupun Bung Hatta tidak setuju dengan pendapat atau pun seseorang, beliau tidak lalu membenci orang tersebut, tetapi tindakan dan pendapatnyalah yang tidak beliau setujui.

Misalnya saja, Bung Hatta yang sangat kuat keteguhan beragamanya tidak menyukai hal-hal yang berbau duniawi yang pada saat itu umumnya berasal dari negeri seberang. Tapi bukan berarti dia lalu membenci orang-orang asing. Beliau memiliki banyak teman bangsa asing dan banyak pemikiran bangsa asing yang positif (disiplin, etos kerja positif) yang beliau adaptasi untuk kemajuan bangsa. Sikap ini menyebabkan Bung Hatta dihormati oleh semua orang: kawan atau pun lawan.

Berusaha Sebaik Mungkin
Bung Hatta selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam segala hal, misalnya dengan bersikap hati-hati dan melakukan perencanaan yang matang. Semua tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dilakukan dengan sepenuh hati, dan direncanakannya dengan sebaik mungkin agar memperoleh hasil yang maksimal.

Semua pidato dan kata-kata beliau untuk publik pun disiapkan secara profesional. Keputusan-keputusan diambil setelah sebelumnya dipikirkan dengan saksama dan didukung dengan data dan informasi yang cukup. Beliau tidak menginginkan terjadinya kegagalan yang disebabkan kecerobohan atau pun karena kurang persiapan.

Berkarya Nyata
Bung Hatta merupakan tokoh yang selalu berkarya nyata. Salah satu karya monumental beliau adalah bentuk koperasi. Pemikiran ini dituangkan pada pembentukkan koperasi pengusaha batik, yang akhirnya sukses sampai saat ini. Koperasi tersebut berhasil mendorong kemajuan bagi pengusaha batik dan memberi mereka kesempatan untuk memperluas usaha dengan ekspor. Karya-karya lainnya adalah berbentuk tulisan.

Pada saat bangsa Indonesia masih berkutat untuk menumbuhkan minat baca, beliau sudah jauh lebih maju, yaitu dengan memberikan teladan bagi bangsa Indonesia untuk menumbuhkan budaya menulis. Kegiatan tulis-menulis ini telah beliau lakukan sejak masih belajar di negeri Belanda sampai akhir hayatnya. Tak terhitung lagi jumlah artikel dan buku yang telah beliau tulis. Sebuah monumen intelektual berupa perpustakaan di Bukittinggi pun telah didirikan untuk mengenang Pak Hatta.

Walaupun Bung Hatta sudah tiada, beliau tetap hidup melalui pemikiran, prinsip, dan kualitas pribadi beliau yang positif. Menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia, bersamaan dengan 100 tahun kelahiran tokoh proklamator kita ini, sudah selayaknyalah kita teladani sisi positif kualitas kepemimpinan beliau yang berpegang teguh pada prinsip, berjuang tanpa kekerasan, berusaha melakukan yang terbaik, dan senantiasa berkarya untuk kepentingan bangsa. Merdeka!

Sebagian Dikutip dari: http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Bung%20Hatta%20Dalam%20Kesederhanaan,%20Kemuliaan%20dan%20Kekuasaan&&nomorurut_artikel=156

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=yGzxb0gFFv4&w=640&h=410]

Print Friendly, PDF & Email