Persatuan Umat: Suri Tauladan Buya Hamka dan KH Idham Chalid

 
Di bulan Ramadhan ini kita merasakan betapa pentingnya Persatuan Umat dalam melaksanakan kehidupan bergama Islam. Salah satu contoh adalah dimulai dan diakhirinya waktu Bulan Ramadhan yang masih menjai perdebata di antara kita. Banyak Tokoh Cendikiawan dan Umat Muslim masih belum bisa menafsirkan Persatuan Umat secara hakiki seperti yang digambarkan oleh kisah atau suri tauladan sebagai berikut:
Seperti kita tahu Buya Hamka ( Haji Abdul Malik Karim Amrullah ) adalah seorang Ulama yg disegani, tinggi ilmu agama & sastranya, banyak jabatan beliau diantaranya pernah menjadi Ketua MUI & Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
 
Begitu pula K.H Idham Khalid, alm adalah Ulama yg bijaksana, tinggi ilmunya, banyak pula jabatannya selain menjadi ketua MPR beliau adalah Ketua Umum Nahdatul Ulama ( NU ).
 
Pada suatu waktu kedua Ulama ini memimpin rombongan untuk beribadah Haji, saat itu dari Indonesia untuk beribadah Haji ke Mekkah / Baitullah masih menggunakan kapal laut, dan waktu tempuh untuk sampai di Mekkah memerlukan waktu cukup lama, ber minggu2.
 
Saat itu di kapal laut Buya Hamka memimpin ratusan rombongan calon Haji dari para Anggota Muhammadiyah, sedang K.H Idham Khalid juga memimpin ratusan jamaah calon Haji para Nahdiyyin.
 
Secara bergantian kedua ulama besar ini menjadi Imam Sholat Fardhu di kapal laut, dan ketika menjadi Imam sholat Shubuh, Buya Hamka yg ketua Pusat Muhammadiyah memimpin membaca Qunut di rakaat ke 2 sholat Shubuh, padahal dalam ajaran Muhammadiyah membaca qunut itu tidak dijalankan, namun karena Buya Hamka tahu bahwa para makmunnya tidak hanya dari anggota Muhammadiyah, tapi banyak juga para Nahdiyyin, maka beliau membaca qunut.
 
Demikian juga ketika K.H Idham Khalid yg menjadi Imam Sholat Shubuh, saat itu beliau tidak memimpin membaca qunut, karena mahfum para jamaahnya banyak dari anggota Muhammadiyah yg menjadi makmum, padahal para Nahdiyyin selalu membaca qunut dalam sholat Shubuh nya.
 
Demikian teladan dari 2 orang Ulama besar ini, masalah qunut adalah masalah khilafiah sedang menjaga persatuan & kesatuan umat Islam hukumnya adalah wajib dan lebih utama. Subhanallah.
Profil Buya Hamka
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA, yakni singkatan namanya, (lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik.Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usianya mencapai 10 tahun, ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto, dan Ki Bagus Hadikusumo.
Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang andal.
Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Ia mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bid’ah, tarekat, dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Ia menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.
Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya mengundurkan diri pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.
Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia.Disamping Front PertahananNasional yang sudah ada didirikan pula Badan Pengawal Negeri & kota (BPNK). Pimpinan tersebut diberi nama Sekretariat yang terdiri dari lima orang yaitu HAMKA, Chatib Sulaeman, Udin, Rasuna Said dan Karim Halim. Ia menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pemilihan Umum tahun 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960.
Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia, dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.
Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.
Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Merantau ke Deli.
Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan internasional seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.
Hamka meninggal dunia pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Ia bukan saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.
Profil KH. Idham Chalid

Idham Chalid (lahir di Satui, Hindia Belanda, 27 Agustus 1921 – meninggal di Jakarta, 11 Juli 2010 pada umur 88 tahun) adalah salah satu politikus dan menteri Indonesia yang berpengaruh pada masanya. Selain sebagai politikus ia aktif dalam kegiatan keagamaan dan beliau pernah menjabat Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1956-1984.
Sejak berkiprah dari remaja, karier Idham di PBNU terus menanjak. Ketika NU masih bergabung dengan Masyumi (1950), ia menjadi ketua umum Partai Bulan Bintang Kalimantan Selatan. Sementara itu, ia juga menjadi anggota DPR RIS (1949-1950). Dua tahun kemudian, Idham terpilih menjadi ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU (1952-1956). Kemudian, ia dipilih menjadi orang nomor satu NU pada 1956. Bahkan, Idham merupakan orang terlama yang menjadi ketua umum PBNU.
Boleh dikata, selama hampir 30 tahun sebagai orang nomor satu NU, Idham telah mengalami berbagai pasang surut. Di bidang eksekutif, ia beberapa kali jadi menteri, baik saat masa Orde Lama maupun Orde Baru. Ketika Bung Karno jatuh pada 1966, ia menjadi anggota presidium Kabinet Ampera I dan Kabinet Ampera II dan etelah itu ia diangkat menjadi ketua MPR/DPR pada periode 1971-1977. Jauh sebelumnya, pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo II, ia juga menjabat sebagai wakil PM. Dalam posisi pemerintahan, beliau pernah juga mengemban tugas sebagai Ketua DPA.
Print Friendly, PDF & Email

Kesuksesan Seorang Ayah: Antara Karir dan Keluarga

“A wise man is cured of ambition by ambition itself; his aim is so exalted that riches, office, fortune and favor cannot satisfy him”  Samuel Johnson quotes

Kemarin saya mengantar dan mendampingi Firman tes masuk di salahsatu SMP di Bandung. Tes hari itu adalah penguasaan TIK dan merupakan tes terakhir setelah sebelumnya mengikuti TPA dan Bahasa Inggris. Sengaja saya mendampinginya setelah sebelumnya harus berada di belantara Sumbawa karena suatu pekerjaan.

Ya……Setiap zaman ada masanya hubungan orang tua dan anak direpresentasikan. Semua ada “base line” dan “key word” yang tetap sama yang direpresentasikan dengan peribahasa:

“Kasih sayang ayah sepanjang langkah, kasih sayang ibu sepanjang kalbu”.

Benar atau salah, semuanya bermula dari hati (baca: kalbu). Ayah yang sabar (baca: bagi saya ini susyaaah….) pada buah hatinya serta ibu yang selalu merindu pada putra-putrinya dan tawaddu, merupakan salah satu “Key Performance Indicator / KPI” dalam hubungan yang indah namun tidak sesederhana yang kita bayangkan tersebut……..

Banyak para ayahanda melihat perannya di sisi keluarga dari sisi “Hard Power” dan “Maskulinitas”. Adapula yang melihatnya dari sisi seorang “Commander In Chief” membawa biduk keluarga agar tercapai ke pelabuhan bahagia.

Sampai saat ini…setelah bekerja di beberapa perusahaan Multi Nasional (terutama Amerika), dalam diri sudah ditekadkan bahwa keseimbangan kepentingan keluarga dan perusahaan adalah sangat penting..atau sedikit lebih besar….he…he. Ini tidak lepas karena seringnya membaca buku dan melihat film yang pada akhirnya memperlihatkan bahwa seorang manusia pada dasarnya bermula dan berakhir pada keluarganya. Statistik dan fakta: Kerja Normal/Wajib adalah 8 jam/33,3%, sisanya yang 16 jam/66,66% adalah milik keluarga ….walaupun harus dikurangi oleh waktu2 yang berhubungan dengan transportasi, komunikasi dll yang pada dasarnya untuk keluarga juga…. Hal ini ditambah pengalaman beberapa “expat” yang pernah bekerja sama (baca: bekerja sama atau sama2 kerja) dan menjadi panutan karena komitmennya yang sama besar terhadap keluarga dan perusahaan.

“In dwelling, live close to the ground. In thinking, keep to the simple. In conflict, be fair and generous. In governing, don’t try to control. In work, do what you enjoy. In family life, be completely present.”  Tao Te Ching quotes

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/5Tc1992kI3w” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Anakku, Ujian Nasional Bukanlah Batu Penghalang Bagimu

Kami tahu engkau telah berusaha sekuat tenaga 

Mempersiapkan diri menghadapi salah satu ujian dalam hidupmu

Engkau ingin menjadi ahli di bidang sipil juga komputer

Di lain waktu, engkau ingin menjadi wartawan atau reporter

 

Di rumah kita banyak buku yang telah engkau baca dan tamatkan

Mulai dari hikayat Nabi, Napoleon, Mac Arthur, bahkan Soekarno dan Hatta

Anakku, Ujian Nasional Bukanlah Batu Penghalang Bagimu

Doa kami bersama usaha dan tekadmu untuk dapat mencapai tujuan hidupmu

 

Catatan: 

Mohon doanya putra kami, Muhammad Firman Nugraha, dapat melewati Ujian Nasional 7-9 Mei 2012 dan mencapai apa yang dicita-citakannya selama ini….. Amin Ya Robbal Alamin…..

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/7xo0QlavhW0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Kenaikan BBM dan Wafatnya Wakil Menteri ESDM

Kita ketahui beberapa waktu yang lalu timbul perdebatan adanya rencana kenaikan BBM. Setiap kali pemerintah berencana mengurangi subsidi BBM, setiap kali penolakan masyarakat terjadi di berbagai kota. Padahal, harga BBM di Indonesia hampir pasti akan selalu dipengaruhi gejolak harga minyak dunia karena negeri ini telah menjadi importir minyak akibat kebutuhan lebih tinggi dari produksi.

Dalam 10 tahun terakhir, Indonesia sudah mengalami tiga kali kenaikan mencolok harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut mendesak pemerintah menaikkan harga BBM, yakni pada tahun 2005 dan tahun 2008. Pada 1 April 2012, pemerintah tadinya akan menaikkan lagi harga BBM bersubsidi dengan alasan sama, yakni mengamankan anggaran pendapatan dan belanja negara. Tanpa menaikkan harga BBM, besar subsidi dapat mencapai Rp 191 triliun.

Dikutip dari Detik.com, saat itu muncul figur yang menonjol yaitu Wamen ESDM Widjajono Partowidagdo. Beliau muncul terutama saat pembahasan kenaikan BBM bersubsidi lalu. Widjajono dianggap salah satu orang yang paling berani untuk menjelaskan masalah yang menjadi kontroversi itu ke publik.

“Saya mengenal almarhum adalah seorang yang memiliki pikiran strategis dan idealisme yang tinggi. Utamanya di bidang pembangunan energi dan pengembangan energi nasional kita,” kata SBY saat menyampaikan sambutan di rumah duka, Jl Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (22/4/2012).

SBY sudah merasakan semangat kerja guru besar ITB itu sejak direkrut menjadi wamen 6 bulan lalu. Sejak itu, dia aktif membantu pemerintah menyusun strategi dan pengembangan energi nasional, terutama saat usulan perubahan APBN 2012 yang berimbas pada kenaikan harga BBM bersubsidi.

“Kita juga menyaksikan ketika terjadi kontroversi tentang kenaikan harga BBM, almarhum dengan penuh tanggungjawab dan keberanian menjelaskan dengan jernih mengapa harus ada perubahan APBN, mengapa harus ada efisiensi energi, untuk kepentingan kita semua, untuk kepentingan ekonomi di masa depan,” jelas SBY.

Hal itu, kata SBY, dilakukan tanpa pamrih dan kepentingan pribadi. Widjajono bertanggung jawab sebagai abdi negara dan bagian dari penyusunan kebijakan publik.

“Itu adalah catatan abadi yang tidak akan pernah saya lupakan. Itu bagian dari sejarah,” terang SBY yang tampil dengan pakaian serba hitam.

Di lain fihak, Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuzy menyebut almarhum Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo diselamatkan Tuhan saat kisruh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Sekarang di tengah kegalauan kebijakan pemerintah ttg BBM bersubsidi, kita kehilangan seorang pejabat, sekaligus pakar ekonomi energi yang belum ada duanya. Saya yakin beliau disayang Allah, karena dipanggil ke haribaan-Nya, di tengah pergumulan terakhirnya soal kebijakan BBM bersubsidi, yang saya yakin semakin kini semakin menjadi pertarungan banyak kepentingan,” ujar Romy dalam rilisnya kepada INILAH.COM, Minggu (22/4/2012).

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/IjBsCqZHApg” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

 

Print Friendly, PDF & Email

Kematian, Kulminasi Pencapaian Hidup Manusia

Setiap manusia yang dilahirkan selalu mempunyai makna dan mempunyai jalur kehidupannya sendiri. Dimana makna itu akan berkembang seiring dengan pertumbuhan sang manusia yang telah terisi kehidupannya. Manusia pun sesungguhnya sadar bahwa ia terlahir untuk mencapai kehidupan abadi, yakni kematian. Maka dari itu perlu disadari oleh tiap manusia, untuk tidak berhenti di satu titik meski tetap berkembang. Disini penulis menekankan, setiap hari adalah syukur, kematian memang tidak bisa diprediksi karena merupakan rancangan dari Sang Khalik, namun sedianya syukur, penyerahan diri, dan pertobatan haruslah dilakukan. Salah satunya adalah dengan merasakan “everday is my birthday”, dimana tiap harinya adalah rasa syukur akan nafas hari ini.  

Dilain fihak, Kematian adalah keniscayaan yang tidak terelakkan. Ia merupakan drama penuh misteri dan seketika yang dapat mengubah jalan hidup seseorang. Karena begitu misterius dan menakutkannya kematian, tidak sedikit umat manusia merasa perlu menambah masa hidupnya, seperti yang terangkum dalam pernyataan Chairil Anwar: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”

Membahas kematian bisa menimbulkan sebuah ‘pemberontakan’ yang menyimpan kepedihan pada jiwa manusia, yaitu kesadaran dan keyakinan bahwa mati pasti akan tiba dan musnahlah semua yang dicintai dan dinikmati dalam hidup ini. Kesadaran itu memunculkan penolakan bahwa kita tidak ingin (cepat) mati. 

Buku Psikologi Kematian karya Komaruddin Hidayat secara khusus berbicara kematian. Dalam pengantarnya, M Quraish Shihab mengakui buku best seller itu dapat membantu pembacanya bukan saja untuk memahami psikologi kematian, namun juga rahasianya dan yang lebih penting lagi ialah menuntut kita menjemput maut dengan hati yang damai. 

Menurut Komaruddin Hidayat, keengganan manusia untuk menjemput kematiannya disebabkan, setidaknya dua hal. Pertama, manusia terlanjur dimanjakan dengan aneka kenikmatan duniawi yang telah dipeluknya erat-erat. Kedua, sifat kematian yang misterius. Kematian ditakuti karena manusia tidak tahu persis apa yang akan terjadi setelah kematian itu 

Setiap orang bila ingin berkembang dan maju harus menerjang banyak ujian dari front yang berbeda dan banyak bentuknya, dimana tiap fase tidaklah sesuai dengan kemampuan kita namun tidak melampaui daya kita dan rintangan itu biasanya diatas kemampuan kita, guna mengembangkan pribadi sebagai pribadi yang lebih matang dan siap dalam menghadapi dunia. Dalam istilah sufi, diri kita terdapat arassy atau singgasan Tuhan, sehingga kalau seseorang bisa menyerap sifat-sifat ilahi ke dalam hatinya, maka ia akan lebih besar ketimbang langit dan bumi.  

“Rasa takut itu berakar pada keinginan laten untuk selalu hidup nyaman, dan rasa takut itu kemudian menjalar kepada bebagai wilayah aktifitas manusia. Lebih jauh lagi, rasa takut itu kemudian melahirkan anak-pinak, yaitu takut akan bayang-bayang ketakutan itu sendiri sehingga muncul ungkapan, musuh terbesar dan terdekat kita adalah rasa takut itu sendiri yang berakar kuat dalam diri. Esensinya ialah sikap penolakan akan kematian karena kematian itu selalu diidentikkan dengan tragedi, sakit, ketidak berdayaan, kehilangan dan kebangkrutan hidup” ~ Komaruddin Hidayat

Manusia modern, ditekankan adalah manusia yang biasanya bertindak di comfort zone, dimana area ini adalah kenyamanan dan kepuasan dimana manusia yang meninggalinya tidak akan pernah beranjak atau enggan meninggalkan area ini, karena ia sudah merasa aman dan terlindungi, sedangkan manusia hidup berdampingan dengan apa yang kita sebut sebagai kerja keras dan usaha, dengan pelu keringat dan memutar otak namun kadang manusia keluar dari jalurnya dan menekankan kehidupan sebagai keegoan, ini menyebabkan kententraman dunia bukan berada pada genggaman. Untuk menghentikan keegoan ini haruslah kita mencari Tuhan, namun sebelum masuk ke dalam pernyataan carilah Tuhan, penulis menulis dengan cukup lantang carilah dulu cinta, cinta kepada sesama, cinta kepada orang tua dan cinta lainnya, penulis menulis bahwa Tuhan memang tidak dapat disamakan dengan manusia, namun dengan adanya cinta itu manusia diharapkan dapat sadar dan merasakan kenikmatan rasa rindu akan Tuhan.

Bagi penganut mazhab religius, mengejar-ngejar kenikmatan hidup duniawi dan memperoleh self-glory hanya akan menghambat diraihnya kesuksesan hidup di akhirat. Penguasa, misalnya, jangan hanya mabuk kekuasaan dan uang, tapi kesejahteraan rakyatnya harus diperhatikan agar kenyamanan hidup setelah kematian bukan sebatas impian. 
Kedua, mazhab sekuler yang tidak peduli dan tidak yakin adanya kehidupan setelah kematian. Kelompok itu dibedakan dua. Pertama, meskipun mereka tidak peduli kehidupan akhirat, kelompok ini berusaha mengukir namanya dalam lintasan sejarah. Seperti, demi popularitas, orang kaya rela membantu yang miskin. Kedua, mereka yang memang pemuja hidup hedonistis yang sama sekali tidak peduli dengan pengadilan dan penilaian sejarah. 
Apakah benar kehidupan bermakna?

Menurut Komaruddin Hidayat, kehidupan sangat bermakna dimana makna itu berjenjang. Faktor usia, tingkat pendidikan, dan status ekonomi serta nasib akan mempengaruhi dalam memahami dan menghayati makna hidup. Hidup sebagai tindakan bermakna, makna itu bisa kita dapatkan bila kita mengenal akan agama yang kita anut, seperti sudah dikatakan sebelumnya agama adalah jalan yang jelas, dan acuan yang tepat sasaran. Tepat sasaran menuju kehidupan abadi yakni kematian. Merenungkan makna kematian tidak berarti lalu kita pasif. Sebaliknya, justru lebih serius menjalani hidup, mengingat fasilitas umur yang teramat pendek. Makna panjang umur meninggalkan kisah baik untuk menuju kebaikan surgawi.  Giving dan serving oriented diakui sebagai sumber kebahagiaan dan puncak prestasi

Dalam pandangan Komaruddin Hidayat, keyakinan dan ketidakyakinan manusia bahwa setiap saat kita bisa dijemput kematian memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Begitu pula dengan keyakinan adanya kehidupan setelah kematian. Dengan harapan memperoleh kebahagiaan di akhirat, misalnya, maka raja-raja Mesir membangun Piramida dengan pucuknya runcing dan menjulang ke langit agar memudahkan perjalanan arwahnya menuju surga. 

Islam secara tegas mengajarkan bahwa tiada seorang pun yang bisa menemani dan menolong perjalanan arwah kecuali akumulasi amal kebaikan kita sendiri. Kenikmatan dan gemerlap kehidupan duniawi akan ditinggalkan dan tidak ada bekal yang berharga bagi kelanjutan perjalanan hidup manusia kecuali amal kebaikan yang telah terekam dalam disket rohani yang nantinya akan di-print out di akhirat. 

Frank J Tipler dalam bukunya The Psysics of Immortality (1994) menyarankan manusia agar selalu berbuat baik demi kesuksesan dunia-akhirat. Kebaikan membuat kita tersenyum ketika malaikat maut menjemput meskipun keluarga yang akan kita tinggalkan menangis. Sebaliknya, kebejatan akan membuat kita menangis ketakutan, sedangkan orang-orang di sekitar kita tersenyum gembira karena merasa risih akan keberadaan kita sendiri. 

Catatan:

Disusun bersamaan dengan meninggalnya Wakil Menteri  ESDM, Widjajono Partowidagdo (http://news.detik.com/read/2012/04/21/202934/1898186/10/widjajono-gemar-mendaki-gunung-untuk-dekatkan-diri-dengan-tuhan?nd992203605)

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/Nv5xr9ybT24″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Kuingin Umurku Menjadi Tabungan Akhiratku

Ku tahu masih banyak tabungan yang harus kulaju
Antara kepentingan benalu, nafsu, dan qalbu
Seiring waktu kehidupan fana kencang berlalu
Tamatkan halaman perjalanan yang membiru

 

Ingin kutengok buku tabungan amalku
Terlihat masih banyak bolong sanubariku
Sungguh, itu bukan kesengajaan tentu
Kuingin Umurku Menjadi Tabungan Akhiratku

 

Note:
Dihaturkan terima atas semua doa, kasih sayang, dorongan dan kerja sama kepada semua keluarga, sahabat, handai tolan, teman, kolega dan semua fihak yang pernah bersilaturahim dengan saya

 

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/FQbwj368Vas” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
Print Friendly, PDF & Email

Pojok Pendidikan: Ingin Seperti Air, Menjadi Kekuatan Pendorong di Alam Pendidikan

Dikutip dari Jurnal Mahasiswa Filsafat UGM, Manusia merupakan perwujudan dari alam bukan sebagai penakluk alam, namun menjadi penyelaras di alam serta bukan menjadi pemangsa alam. Manusia sebagai perwujudan dari alam seharusnya mengungkapkan keindahan, kebenaran, dan kebaikan alam; dan mengartikulasikannya dalam pengolahan moral atau alam dari kehidupan manusia atau sifat manusia. Sebagai bagian dan bidang dari alam, manusia tidak berdiri menentang alam dengan cara yang bermusuhan. Sebaliknya, manusia memiliki keprihatinan dan perhatian yang mendalam pada alam  karena cocok dengan sifatnya sendiri. Untuk pertumbuhan dan kesejahteraannya sendiri, manusia harus mengolah hubungan internal dalam dirinya antara dirinya dan alam semesta. Menaklukkan alam dan mengeksploitasinya adalah bentuk perusakan diri dan perendahan diri bagi manusia.
Dalam dunia modern, kesejahteraan manusia sangat ditentukan oleh usaha-usaha yang dilakukan manusia itu sendiri, sehingga ada orang yang kaya dan orang yang miskin. Usaha-usaha yang dilakukan manusia tersebut ada yang bersifat individual (untuk kepentingan prinbadi) yang menghalalkan segala cara demi kesejahteraan pribadi, dan ada yang bersifat komunal (untuk masyarakat) yang mementingkan keseimbangan yang ada dalam lingkungan.Sikap egois manusia yang tidak pernah habis-habisnya untuk memperoleh keuntungan sesaat telah menghasilkan kecenderungan manusia untuk melakukan manipulasi terhadap lingkungan. Ini mengganggu keseimbangan antara manusia dan lingkungannya dan intensitas ketergantungan itu semakin lama semakin meningkat kualitasnya.
Saat sekarang ini ilmu pengetahuan, juga sedang memerankan fungsi yang tidak baik, dia tidak saja mencemari lingkungan manusia, merusak jaringan tubuh manusia, pada akhirnya manusia jahat ingin menggantikan manusia baik. Ada juga masalah pencemaran yang lebih parah pada manusia, yakni bahwa air tawar di atas dunia sekarang ini, hampir tidak ada yang murni lagi. Baik itu air dibawah tanah atau diatas tanah, bagaimanapun manusia berusaha agar air tersebut disaring dan dimurnikan, juga tidak dapat mencapai tingkat kemurnian yang benar-benar dari air itu.
Untuk itulah Pojok Pendidikan lahir dari keinginan dan kebutuhan (Need and Want) Lingkungan Pendidikan yang alami.
“Education is not a preparation for life, education is life itself.”
Pendidikan bukanlah persiapan untuk kehidupan, pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Demikian John Dewey menegaskan pemikirannya tentang pendidikan. Dengan demikian, umur pendidikan sama dengan keberadaan manusia di muka bumi ini.
Dikutip dari tulisan Drs. Suparlan, M.Ed; Ketika Adam diciptakan oleh Tuhan, bersama itu pulalah proses pendidikan telah berlangsung, sebagai suatu sistem yang dibangun oleh Allah SWT. Adam diajari untuk dapat menyebutkan nama-nama yang ada di bumi, tempat kehidupan Adam dan keturunannya. Dengan demikian, yang dimaksud pendidikan sebenarnya memang dengan makna kehidupan itu sendiri. 
Tidak demikianlah halnya dengan malaikat dan iblis. Adam dapat menyebutkan nama-nama, sementara malaikat dan iblis tidak dapat menyebutkan nama-nama itu. Mengapa? Karena hanya manusialah yang telah memperoleh pendidikan, langsung dari Allah SWT. Itulah proses pendidikan yang dilakukan oleh manusia untuk pertama kalinya. Proses itu kemudian dikembangkan sendiri oleh manusia, karena manusia memiliki otak, faktot penentu kelebihan manusia dibandingkan dengan mahluk lain yang sama-sama diciptakan Allah SWT. 
Untuk menjadi manusia yang sempurna, manusia tidak boleh tidak memang harus belajar, atau harus memperoleh pendidikan. Manusia merupakan mahluk yang dapat diajar dan dapat mengajar. Siapa yang berhenti belajar, artinya ia telah mati.

“Animat educandum dan animal educancus. Manusia mahluk pembelajar, mahluk yang dapat dididik dan dapat mendidik.”
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/QcnzHlcfvPU” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Bercermin Dari Semut: Silaturahmi Mendatangkan Rejeki

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;
Maka Sulaiman tersenyum karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh”
(An-Naml [27] ayat 18 dan 19:  Kisah raja semut dan tentaranya)
Mengapa Semut Saling Bersalaman ketika Bertemu?
Kita sering meihat semut. Mereka seperti “bersalaman dan saling bersilaturahmi” antar mereka bertegur sapa layaknya manusia di saat bertemu,,, cuma kita tidak bisa menalarkan karena itu bahasa binatang.
Dikutip dari blog Hoeda-manis, sebenarnya semut bukan bersalaman, tapi menepuk. Saling menepuk satu sama lain antara semut adalah cara mereka berkomunikasi. Tepukan yang keras menjadi tanda bahaya, sementara tepukan yang lembut di antara dua ekor semut adalah isyarat untuk menunjukkan/memberitahu adanya makanan bagi semut yang lain.
Apakah Semua Semut Bersifat Sosial?
Semua jenis semut adalah hewan sosial, dalam arti mereka hidup dalam kelompok, dan masing-masingnya memiliki pekerjaan yang harus dilakukan di dalam koloni. Setiap koloni umumnya juga memiliki satu betina yang bertugas untuk bertelur, yaitu ratu semut.
Para ilmuwan menyatakan bahwa semut-semut itu seperti kita, mereka melaksanakan tugas-tugas mereka secara efisien. Sambil kerja, semut-semut berbicara satu sama lain dan berkata seperti manusia. Kita menemukan bahwa semut-semut mengorganisir proses pengumpulan makanan dan tugas-tugas lain melalui bunyi-bunyi tertentu dan berbagai perintah yang dilepaskannya, sementara semut-semut lain mendengar dan merespon!
Manusia semestinya saling bertegur sapa sehingga dapat menyambung silaturahmi, bukankah silaturahmi itu mendatangkan rejeki buat kita. Itulah yang saya coba dengan rekan, teman, kolega dan sahabat sejak saya sekolah (TK-Perguruan Tinggi), saat bekerja sampai dengan sekarang. Sering kali saya memperoleh “bantuan dan dukungan” yang tidak disangka-sangka karena mempereoleh manfaat dari “Silaturahmi Mendatangkan Rejeki“.
<iframe width=”600″ height=”420″ src=”http://www.youtube.com/embed/IMqoA3iaw1Q” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
Print Friendly, PDF & Email

Halo Para Ayah, Peranan Apa Yang Sedang Anda Mainkan?

Banyak para ayahanda melihat perannya di sisi keluarga dari sisi “Hard Power” dan “Maskulinitas”. Adapula yang melihatnya dari sisi seorang “Commander In Chief” membawa biduk keluarga agar tercapai ke pelabuhan bahagia.
————————————
Jika Randy Pausch seorang professor dari Carnegie Mellon University berperan bagaimana ia berusaha untuk membantu setiap orang yang dikenalnya (minimal adalah para mahasiswanya) untuk dapat merealisasikan mimpi-mimpi masa kecil mereka. Serta bagaimana kita dapat memaknai hidup bila kita tahu kalau kita hanya punya sedikit kesempatan, dan kesempatan itu akan segera habis. 
“If you lead your life the right way, the karma will take care of itself. The dreams will come to you.” Itulah salah satu pesan dari Randy, dan itulah keyakinan yang terus menuntun Randy hingga akhir hidupnya.
Kuliah terakhir Randy sangat fenomenal. Bukan karena yang menyampaikannya adalah seorang yang sedang sekarat akibat kanker, tapi karena apa yang disampaikannya benar-benar menginspirasi. Rekaman kuliah terakhir ini dengan cepat beredar di youtube, kemudian juga dibukukan. Dan telah menginspirasi banyak orang yang menonton ataupun membaca bukunya.
Randy sendiri merekam kuliah terakhirnya tersebut bukan untuk sebuah kenangan semata-mata. Tetapi untuk ketiga anaknya, Dylan (6 tahun), Logan (3 tahun) dan Chloe (18 bulan). Randy sangat tahu bahwa kelak, ketiga anak-anaknya mungkin tidak akan ingat dengan jelas seperti apa sosok ayahnya. Mereka hanya akan mengenal ayahnya melalui foto dan cerita. Yang diinginkan Randi adalah agar kelak anak-anaknya bukan hanya mengenangnya (melalui rekaman kuliah terakhir itu), tapi juga yakin bahwa ayah mereka selalu mencintai mereka. Melalui rekaman kuliah terakhir tersebut, Randy ingin mengajarkan pada anak-anaknya, “how to live this life through achieving your childhood dreams”.
————————————

Sedangkan pada Pak Raden/Drs.Suyadi, saya menyaksikan love & passion yg kuat dr beliau thd peran dan profesinyaPada umur 78 tahun beliau masih bersemangat dan mau membagi ilmu thd animator muda…..Sungguh, Unyil itu bukan dibuat olehnya….tapi seperti Pinokio “sebagai anak” Gepetto….Ia “dilahirkan” oleh tangan dingin Drs.Suyadi……
Betapa falsafah kebangsaan…Dari tokoh Cuplis, Pak Ogah, Pak Raden, Meilan sd Orang Gila…..nilai itu telah ditanamkan pada animasi Unyil….Itu datang dari kecintaaannya pada anak2 dan bangsa ini…..Sangat tepat kalau beliau disebut Bapak Animasi Indonesia……..
————————————
Lain lagi peran yang dimainkan dan keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. “Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,”kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini.
Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesiadapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.
————————————
Keduanya berasal dari Pagerageung, Tasikmalaya. Beliau berdua mewakili latar belakang demografis yang berbeda. Almarhum kakek dari fihak Ibu (alm. H. Abdul Aziz) adalah seorang petani yang kemudia bermetamorfosis menjadi tokoh sentral lokal yang disegani. Masih segar di ingatan saya, pada saat beliau naik haji tahun 1970-an ribuan orang mengantar kepergian beliau dengan seperti oarang yang tidak akan kembali. Teringat juga cerita orang tua bahwa beliau menyumbangkan tanahnya seluas 100 Ha kepada negara dalam rangka perjuangan melawan penjajah.
Almarhum kakek dari fihak ayah (alm. Oewon Natamihardja) berasal juga dari Pagerageung. Hanya saja beliau sudah lama tinggal di Bandung dan bekerja di GBO (yang kemudian berubah nama menjadi PLN) sejak jaman “Noormal”. Kakek bekerja di instansi ini sejak tahun 1930 sampai dengan pensiun 1970, suatu masa kerja yang cukup panjang dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi beliau. Beliau adalah salah seorang pendiri Masjid Nugraha – Bandung dan tokoh masyarakat Muararajeun yang hidup dengan segala kesederhanaannya.
————————————
Ayah adalah seorang guru dan salah satu cerita yang tidak pernah kulupa adalah sebagai berikut:
“Suatu hari diadakan razia rambut panjang dimana beliau menjadi kepala sekolah…..Diantara muridnya ada seorang murid yang tidak mau mencukur rambutnya dengan alasan tidak punya uang…..Seketika itu juga ayah pun memberinya uang untuk mencukur rambutnya….”
“Cerita belum berakhir disitu….Beberapa puluh tahun kemudian…Kejadian “sepele” tadi diingatkan oleh muridnya yang sekarang jadi pengusaha sukses kepada ayah…Dia katakan kejadian itu tidak akan dilupakan seumur hidupnya karena setelah kejadian itu bukan hanya rambutnya yang berubah…namun hatinya telah terbuka lebar….”
“Dan pada saat saya dan istri menjalankan ibadah Umrah 1426 H (2005M), murid ayah ini (yang sudah punya putra yg dewasa) menceritakan kejadian ini kepada kami dan putra-putrinya sebagai kejadian yang mengubah jalan hidupnya”…
Jelas peristiwa ini akan berubah konstelasinya bila dilakukan bukan oleh guru pada muridnya karena ternyata setiap pemikiran, emosi dan langkahnya menjadi ikatan yang tidak pernah hilang……
————————————
Artikel Terkait:
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/EIX5TwrEJ1A” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
Print Friendly, PDF & Email

“Prestasi anak-anak di sekolah meningkat pesat saat sudah tidak ada lagi budaya merokok.”~Idris@MataNajwa MetroTV

 

Itulah yang dikatakan M. Idris, Kepala Desa Bone-bone, Enrekang, Sulawesi Selatan untuk membahas desa bebas rokok yang dipimpinnya di acara Mata Najwa  di Metro TV. Menurut dia “Saya ingat waktu kuliah dulu, teman2 saya yang perokok di kampung tidak ada yg jd orang,belum lagi anak2 yg sudah merokok sejak cilik.” Dia berfikir dan mengkhidmati “Sejak itulah saya berpikir,harus ada yang dilakukan tentang hal ini (kebiasaan merokok). Ini untuk memperbaiki taraf kehidupan.” Kemudian Idris melakukan gebrakan: “Saat sy pulang kampung, sy mulai ajak seluruh pemuka desa utk memberdayakan desa bebas asap rokok ini&semuanya langsung mendukung.”  sehingga mulai tahun 2005, desa kami sudah benar-benar tidak ada lagi yang merokok. 

Ada yang unik cara bagaimana Idris bisa sukses: “Bagi yg ketahuan merokok, hukuman pertamanya adalah, harus berteriak di speaker masjid bahwa dia ketahuan merokok”. Kemudian pabila ketahuan lg, hukumannya adalah bekerja untuk umum, semisal memperbaiki jalan, membersihkan masjid, bersihkan MCK, dll. Ini berlaku bagi semua, termasuk pendatang. Kalau ada pendatang ketahuan merokok, dia dipersilakan meninggalkan desa. “Pernah juga turis Prancis ketahuan merokok, dia mau kasih uang suap,kmi tolak,dia mau sembunyi,kmi bilang tak ada tempat sembunyi.” kata Idris. 
Hal ini membuat Bupati pun sempat segan utk masuk desa kami karena masih perokok aktif. Baru tahun 2008 dia berani masuk desa setelah berhenti merokok. Selain itu di desa tersebut juga dilarang menjual makanan yang mengandung zat pewarna dan zat pengawet.Kalau ada yg ketahuan menjual, hukumannya adalah membuatkan/menggantikan biaya pembuatan bubur kacang ijo untuk seluruh anak di desa. “Prestasi anak-anak di sekolah meningkat pesat saat sudah tidak ada lagi budaya merokok.” – Idris mengakhiri ceritanya.
Bagaimana dengan kita?
Menurut saya …….Silahkan Anda Merokok, Asal Pakai Kresek Di Kepala Anda……Mengapa? Sesuai HAM kita bebas merokok karena itu hak azasi, namun anda tidak boleh meracuni udara di sekitar kita karena itu bukan milik anda 🙂
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/ZfqojfipwN0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email