Tips Merancang dan Menjalankan Corporate University

 

 

Merancang Corporate University

  1. Tentukan dengan tim senior eksekutif bagaimana pembelajaran mendukung strategi dan visi organisasi.
  2. Mengidentifikasi cara untuk menyelaraskan fungsi pelatihan dengan masing-masing inisiatif perusahaan.
  3. Membuat nama, logo dan merek universitas perusahaan (corporate university) .
  4. Mengembangkan pernyataan visi, misi dan nilai-nilai untuk corporate university.
  5. Menentukan inisiatif kunci dan ukuran keberhasilan.
  6. Menilai kekuatan dan komitmen terhadap proses perubahan anggota tim saat ini.
  7. Bekerja dengan kelompok pemasaran untuk membuat rencana pemasaran untuk universitas.
  8. Membuat rencana peluncuran untuk universitas perusahaan (corporate university) dan memastikan bahwa itu menyentuh dan melibatkan setiap bagian dari organisasi.

Menjalankan Corporate University

  • Melakukan pemasaran suatu kompetensi inti.

Bekerja sama dengan kelompok pemasaran  Anda untuk merek universitas perusahaan Anda. Jadilah bergairah dan ulet tentang merek universitas Anda dan bagaimana Anda dirasakan oleh pelanggan dan stakeholder. Pertimbangkan bagaimana Anda akan mengiklankan program dan kegiatan, jenis penelitian perlu dilakukan, bagaimana PR dapat manfaat penyebabnya Anda (kisah sukses dan praktik terbaik dari garis depan dan tim kepemimpinan) dan bagaimana Anda akan harga layanan Anda.

  • Beroperasi seperti sebuah bisnis.

Dalam bisnis, ada bidang mendasar praktek: keuangan dan akuntansi, penjualan dan pemasaran, pelatihan, operasi, administrasi, teknologi informasi, penelitian dan desain dan sumber daya manusia. Buat rencana dan memiliki individu yang bertanggung jawab untuk setiap area bisnis tradisional. Ini mungkin tidak ada pekerjaan full-time, tapi seseorang akan bertanggung jawab atas dan bergairah tentang aspek yang sangat penting dari universitas perusahaan Anda.

  • Rayakan belajar dan menggunakan kekuatan pengakuan.

Ini adalah sifat manusia untuk mencintai untuk diakui. Gunakan ini kebutuhan manusia untuk keuntungan Anda, dan memaksimalkan kekuatan penghargaan untuk mendorong menyebabkan Anda. Menggunakan kendaraan komunikasi internal untuk mengenali mereka yang telah berkomitmen untuk belajar dan mereka yang telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan orang lain. Posting foto di intranet orang, menggali cerita dari praktik terbaik dan keberhasilan dari lapangan, dan mencari jalan pengakuan publik yang akan mengakui kontributor.

  • Menjadi fasilitator pembelajaran.

Jika Anda berpikir tim Anda sebagai fasilitator pembelajaran dan belum tentu sebagai guru, Anda akan menemukan bahwa banyak kemungkinan muncul. Jack Welch dari General Electric adalah guru banyak waktu untuk program kepemimpinan Crotonville, tetapi Anda bisa bertaruh ada orang-orang di belakang layar yang penting untuk pembelajaran. Anda mungkin menemukan bahwa tim eksekutif tidak hanya terdiri dari instruktur yang indah, tetapi juga bahwa mereka ditantang oleh proses dan kebutuhan belajar lebih sering dipertimbangkan dalam rencana organisasi. Ada juga terikat untuk menjadi orang-orang dalam organisasi Anda yang ahli di bidangnya, atau dekat dengan tindakan dari Anda, dan program Anda dapat memiliki dampak yang lebih besar dengan memaksimalkan keahlian mereka.

  • Merangkul teknologi.

Banyak universitas perusahaan pertama dimulai di Silicon Valley. Mereka tentu memahami pentingnya menggunakan teknologi untuk memberikan pembelajaran jarak jauh dan pembelajaran virtual ekonomis dan efektif. Menggunakan teknologi ini, pembelajaran bisa menjadi baik terus menerus dan segera. Selain itu, biaya perjalanan dapat diminimalkan, dan populasi pelajar yang beragam dapat dibawa bersama sebagai praktek masyarakat tidak seperti sebelumnya.

  • Pikirkan pembelajaran sebagai proses yang berkelanjutan.

Belajar harus menjadi suatu proses dan bukan hanya suatu peristiwa atau program pelatihan. Universitas perusahaan Anda perlu memiliki alat untuk membantu menciptakan keberhasilan dalam organisasi Anda, dan itu berarti lebih dari mengenakan kelas. Tentukan bagaimana Anda akan menilai peserta didik pengetahuan, keterampilan dan kebutuhan, memberikan kesempatan untuk belajar dalam berbagai cara (yang dipimpin instruktur, asynchronous online, secara online sinkron) dan menggunakan alat penguatan, fungsi dukungan dan cara bahwa individu dapat memvalidasi apa yang telah mereka pelajari.

  • Pertimbangkan menawarkan program sertifikasi atau gelar.

Alih-alih berpikir secara kursus-by-kursus, menentukan rencana pembangunan jangka panjang bagi karyawan Anda dan menawarkan kesempatan untuk mendapatkan sertifikasi profesional atau gelar universitas perusahaan. Sebutan ini dapat secara ketat didasarkan pada persyaratan dari universitas perusahaan, atau kelompok pelatihan dapat menerima persetujuan pihak ketiga untuk program mereka.

  • Evaluasi inisiatif belajar Anda.
Raja pengukuran ketika datang ke pelatihan Donald Kirkpatrick. Nya empat tingkat evaluasi sering digunakan oleh perusahaan untuk mengukur hasil dari pelatihan mereka. Tingkat Kirkpatrick adalah: reaksi (Bagaimana peserta didik bereaksi terhadap pelatihan?), Pembelajaran (Berapa peserta belajar dari pelatihan?), Perilaku (Bagaimana perilaku berubah sebagai hasil dari pelatihan ini?) Dan hasil (Apa jenis hasil melakukan pelatihan capai?).
Dalam menentukan bagaimana Anda akan mendefinisikan dan mengukur keberhasilan, mempertimbangkan hasil Anda berusaha untuk mencapai dalam hal sumber daya manusia (retensi, pengembangan, dll), dampak yang terkait dengan pelanggan dan stakeholder dan bagaimana Anda akan mencapai hasil yang terkait dengan tujuan bisnis dan strategi .
  • Membangun komunitas  praktek.

Sebuah komunitas praktek adalah sekelompok orang yang datang bersama-sama untuk memanfaatkan pengetahuan kolektif mereka pada peran pekerjaan tertentu atau fungsi dalam perusahaan. Mereka dapat baik formal maupun informal dan sering menggunakan beberapa jenis teknologi yang memungkinkan kolaborasi. Dengan membangun komunitas praktek, Anda memungkinkan organisasi Anda untuk menjadi lebih inovatif, karena Anda menciptakan lebih banyak kesempatan untuk interaksi dan pemecahan masalah. Anda dapat mempercepat waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pengetahuan ke berbagai kelompok, karena Anda dapat menangkap pembelajaran seperti itu terjadi dan segera memberikan orang lain akses ke sana.

 

Menciptakan Sukses Bersama

Banyak yang dapat dicapai dalam suatu organisasi melalui model yang kuat dari universitas perusahaan. Keselarasan yang lebih baik dengan tujuan perusahaan dan inisiatif, buy-in di seluruh organisasi untuk menekankan pembelajaran dan pemanfaatan konsep merek yang kuat untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan semua mungkin. Pelanggan dan pemegang saham juga mendapat manfaat dari universitas perusahaan, sebagai profesional pelatihan lebih fokus perhatian pada berbagai paradigma pembelajaran yang sukses.

 

Print Friendly, PDF & Email

Kebijakan E-learning Perguruan Tinggi Pada Masa Datang

Pemanfaatan internet untuk pembelajaran atau e-learning tidak terlepas dari berbagai kekurangan. Berbagai kritik (Bullen, 2010; Beam, 2007), antara lain dapat disebutkan sbb:

  • Kurangnya interaksi antara dosen dan mahasiswa  atau bahkan antar siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar;
  • Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial;
  • Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan;
  • Berubahnya peran pendidik dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT;
  • Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal;
  • Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer);
  • Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki ketrampilan soal-soal internet; dan
  • Kurangnya penguasaan bahasa komputer.

Hal ini terkait dengan lemahnya kebijakan e-Learning yang terkait dengan “Proses Bisnis” pembelajaran itu sendiri.  Khusus untuk perguruan tinggi di Indonesia, kebijakan e-learning sesuai Rencana Strategis Pendidikan dari Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS) 2009-2014 adalah: “Pengembangan pembelajaran jarak jauh (distance learning) di perguruan tinggi, dengan proyek percontohan pada beberapa perguruan tinggi dan pusat pelatihan hingga tahun 2009, yaitu ITB, ITS, UGM, IPB, UI, UNRI, UNDANA, UNHAS, PENS, dan POLMAL. Diseminasi proyek ini akan dikembangkan pada  UNLAM, UM, UNY, UNP, UNHALU, UNCEN dan PT-PT lainnya.” Sedangkan target yang ditetapkan adalah: “ICT literacy (kemampuan akses, memanfaatkan dan menggunakan radio, televisi, komputer dan internet) 80% untuk kalangan mahasiswa dan dosen” dengan Penguatan Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Citra Publik di bidang: “Peningkatan kapasitas satuan perguruan tinggi dilakukan melalui berbagai program hibah kompetisi yang diselenggarakan oleh pemerintah, seperti program hibah kompetisi, program kemitraan, hibah penelitian, pusat pengembangan pendidikan dan aktivitas instruksional (P3AI). Peningkatan kapasitas pengelolaan juga akan ditunjang dengan penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), seperti pengembangan sistem informasi pendidikan tinggi”.

Dari hal tersebut di atas penulis menyarankan Kebijakan E-learning pada Perguruan Tinggi Masa Datang memakai kerangka kerja (framework) dari Gellman-Danley and Fetzner (2008) sebagai berikut:

Policy Area

Key Issues

Academic Calendar, Course integrity, Transferability, Transcripts, Student/Course evaluation, Admission standards, Curriculum/Course approval, Accreditation, Class cancellations , Course/Program/Degree availability, Recruiting/Marketing
Governance/Administration/Fiscal Tuition rate, Technology fee, FTE’s, Administration cost, State fiscal regulations, Tuition disbursement, Space, Single versus multiple board oversight, Staffing
Faculty Compensation and workload, Development incentives, Faculty training, Congruence with existing union contracts, Class monitoring, Faculty support, Faculty evaluation
Legal Intellectual property, Faculty, Student and institutional liability
Student Support Services Advisement, Counseling, Library access, Materials delivery, Student training, Test proctoring, Videotaping, Computer accounts, Registration, Financial aid, Labs
Technical Systems reliability, Connectivity/access, Hardware/software, Setup concerns, Infrastructure, Technical support (staffing), Scheduling, Costs
Cultural Adoption of innovations, Acceptance of on-line/distance teaching, Understanding of distance education (what works at a distance), Organizational values

Sedangkan “Policy Analysis Framework”  untuk  hirarki kebijakannya dapat menggunakan  model sebagai berikut:

Policy Area

Description

Faculty (including Continuing Education and Cooperative Extension) Rewards (e.g., stipends, promotion and tenure, merit increases, etc.); Support (e.g., student help, technical assistance, training, etc.); Opportunities to learn about technology and new applications (e.g., release time, training, etc.); Intellectual property (e.g. ownership of materials, copyright, etc.)
Students/Participants Support (e.g., access to technology, library resources, registration, advising, financial aid, etc.); Requirements and records (e.g., residency requirements, acceptance of courses from other places, transfer of credit, continuing education, etc.)
Management and Organization Tuition and fee structure; Funding formula;Collaboration (e.g., with other Departments, units, institutions, consortia, intra-and inter-institutional, service areas, etc.); Resources (e.g., financial resources to support distance education, equipment, new technologies, etc.); Curricula/individual courses (e.g., delivery modes, course/program selection, plans to develop, individual sequences, course development, entire program delivery, interactivity requirements, test requirements, contact hour definitions, etc.)
Print Friendly, PDF & Email

e-Learning Sebagai Bagian Pembelajaran Saat Bencana Terjadi

Gangguan atau “bencana” di kampus  mungkin mempengaruhi pembelajaran atau kuliah ketika fokusnya adalah dosen di podium  kelas. Sistem administrasi pendidikan mungkin gagal atau tidak berfungsi saat itu, tapi kelas dan pembelajaran harus terus dilanjutkan dimanapun dan kapanpun (kecuali jika bencana ada pada skala yang sangat besar).

Bagaimana bila institusi menyediakan “program online” atau menawarkan “blended learning” pada saat bencana? Dapatkah kampus melayani penggunanya 24 jam 7 hari seminggu tidak peduli apa yang terjadi? Kampus perlu untuk dapat melakukan itu –  itulah salah satu keunggulan  dari e-learning.

Dalam era mahasiswa pengguna TIK,  ruang kelas tanpa batas dan “blended learning”, kontinuitas kemampuan e-Learning yang “fault-tolerant” dan sangat andal harus tersedia di kampus.

Sistem e-Learning harus siap di lingkungan virtualisasi, “cloud computing” dan komunikasi terpadu sehingga semua itu mencerminkan kesiapan pembelajaran saat bencana yang tetap bekerja di pendidikan tinggi dimana organisasi pendukungnya harus siap untuk apa pun yang terjadi.

Bila  perguruan tinggi dapat membentuk lingkungan ketersediaan tinggi untuk pembelajaran (High Avalaibility for Learning), dapat dipastikan akan jauh lebih banyak program “online learning” – dapat memberikan “failover” untuk  pemulihan bencana (Disaster Recovery) sistem pembelajaran termasuk administrasi pendidikannya. Ditambah lagi, dengan pendekatan ini berarti staf kampus  akan dapat memberikan pilihan untuk pemulihan kuliah  tradisional, apakah krisis berlangsung beberapa jam, beberapa hari atau bahkan beberapa minggu.

Pemimpin atau Manajemen kampus harus banyak  melakukan langkah lebih jauh dengan perencanaan “Disaster Recovery” yang didasarkan pada jenis bencana yang mungkin menimpa lembaga mereka. Mereka harus merencanakan strategi didasarkan pada serangkaian pemikiran skenario “bagaimana jika kita kehilangan layanan pembelajaran”. Itu akan ideal karena memfokuskan sumber daya pada ketersediaan pembelajran ketimbang bencana itu sendiri.

Print Friendly, PDF & Email

Kebijakan dan Strategi Perguruan Tinggi untuk Hadapi Era Pembelajaran Terbuka

Menurut UNESCO, pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bergerak ke arah masyarakat berpengetahuan (Knowledge Community) yang saling ketergantungan. Masyarakat di dunia merasakan tantangan dan peluang baru untuk mendesain dan melaksanakan pendidikan. TIK membuka cakrawala baru bagi kemajuan dan pertukaran kreativitas dan dialog antar budaya.

Namun demikian, tumbuh kesenjangan digital (Digital Divide), yang sebenarnya menyebabkan kesenjangan yang lebih besar dalam pembangunan manusia. Hal ini menimbulkan situasi paradoks pendidikan, dimana orang-orang yang memiliki kebutuhan terbesar seperti kelompok tertinggal, masyarakat pedesaan, populasi buta huruf atau bahkan sebagian besar masyarakat yang tidak memiliki akses kepada sarana yang akan memungkinkan mereka menjadi anggota dari masyarakat berpengetahuan.

Di bidang Pendidikan Tinggi, ketimpangan kesempatan ini diperkirakan akan terus berlanjut, terutama melihat proyeksi pertumbuhan penduduk dunia saat ini (UNESCO, 2000 ©). Selain kurangnya kesempatan tersebut, rendahnya kualitas dan tidak relevannya pendidikan juga menjadi perhatian utama. Cepatnya perubahan dalam angkatan kerja, pengangguran serta ketidakpastian menuntut pendidikan yang cepat beradaptasi, tepat waktu dan berkelanjutan seumur hidup.

Misi dari sistem pembelajaran terbuka harus mendefinisikan perannya dalam konteks kebijakan pendidikan nasional. Misi ini dapat diarahkan pada tujuan, target kelompok, daerah, sektor atau tingkat pendidikan dan pelatihan serta didorong oleh nilai-nilai filosofi pembelajaran dan pendidikan. Pernyataan misi lembaga pembelajaran terbuka harus menjadi bagian dari kebijakan pendidikan nasional. Di sisi lain, organisasi pembelajaran terbuka swasta harus merespon kebutuhan segmen pasar tertentu, terutama dari pasar tenaga kerja dengan cepat dan efisien.

Untuk itu dibutuhkan Kebijakan dan Strategi Perguruan Tinggi Untuk Menghadapi Era Open Learning yang ampuh dan berkelanjutan dalam menghadapi era ini. Kebijakan pembelajaran terbuka (Open Learning) itu diantaranya harus mencakup:

  1. Jenis Pelajaran dan Kurikulum yang akan menentukan profil dari sistem atau lembaga. Hal ini harus terkait dengan misi dan kebutuhan dari pasar. Banyak sistem pendidikan terbuka menyediakan kursus dalam persiapan untuk ujian dan gelar yang sama atau mirip dengan yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga konvensional.
  2. Strategi dan Teknik Pembelajaran tergantung pada jenis program dan dirancang untuk memenuhi kebutuhan, filsafat pendidikan, karakteristik pendidikan dan potensi dari teknologi yang digunakan. Sering kali ada hubungan yang erat antara strategi pengajaran, ekonomi dan pilihan teknologi yang digunakan.
  3. Bahan dan Sumber Daya Pembelajaran merupakan komponen penting dari semua sistem pembelajaran. Secara komprehensif, bahan yang dirancang dengan baik dapat merangsang pembelajaran mandiri dan dengan demikian mempengaruhi kualitas dari sistem pembelajaran secara keseluruhan. Desain, pengembangan dan produksi dari bahan pembelajaran sering dianggap sebagai sub-sistem dalam organisasi pembelajaran terbuka (Open Learning).
  4. Komunikasi antara Pendidik dan Peserta Didik merupakan komponen penting dalam Pembelajaran Terbuka (Open Learning) seperti bentuk pendidikan lainnya. Pengetahuan dapat disampaikan kepada sejumlah besar peserta didik, baik secara “synchronous atau asynchronous” yang disiarkan atau dapat diakses melalui audio/video player atau internet. Dengan demikian, Internet akan memungkinkan orang dalam jumlah lebih besar berbagi pengalaman belajar secara “real time”. Atau memungkinkan pembelajar individu untuk memiliki interaksi pribadi yang unik dengan guru atau dengan peserta didik yang lain di mana pun berada.
  5. Manajemen Sub-sistem Mahasiswa dan Staf yang terdiri dari pendaftaran, alokasi untuk pembelajaran dan layanan siswa, pengelolaan pembelajaran serta prosedur mengajar, tugas dan penilaian, pemantauan dan penyelesaian drop-out, serta ujian.
  6. Manajemen dan Staf Administrasi yang efektif tidak hanya membutuhkan staf yang kompeten, tetapi juga dirancang dengan baik, sistem administrasi yang efisien, perencanaan dan monitoring sistem. Ini akan sangat berbeda dari sistem manajemen yang diperlukan dalam pendidikan lain.
  7. Persyaratan Prasarana dan Peralatan juga mungkin sangat berbeda dari institusi pendidikan konvensional. Sebuah pembelajaran terbuka memiliki sedikit kebutuhan ruang kelas/kuliah di lokasi pusat. Fasilitas tersebut mungkin diperlukan secara lokal dan sering disediakan dalam kerjasama dengan lembaga lokal. Di lokasi pusat akan ada kebutuhan untuk fasilitas produksi dan kapasitas penyimpanan, meskipun beberapa desentralisasi produksi juga dimungkinkan.
  8. Terakhir, Sistem Evaluasi dalam rangka memberikan informasi untuk penyesuaian peran dan operasi komponen sistem pembelajaran. Keberhasilan dari setiap institusi Pembelajaran Terbuka (Open Learning) sangat tergantung pada efisiensi dan efektivitas sistem monitoring dan evaluasi.*** 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=3mH0T3_eTwc]

Print Friendly, PDF & Email

e-Learning Dalam Pendidikan Kedokteran @UINJKT Untuk Membuat Pengalaman Pembelajaran Interaktif

Tanggal 19 Desember 2012 kemarin, saya menjadi nara sumber e-Learning untuk Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ya, para dosen kedokteran yang juga rata-rata dokter, mengkhidmati betapa pentingna metode  ini sebagai bagian peningkatan pembelajaran untuk mahasiswa dan pemangku kepentingan di Fakultas Kedokteran.
E-learning telah membuat peran besar di segala bidang,  tidak berbeda di bidang kesehatan. Saat ini, e-learning secara luas digunakan untuk membuat pengalaman pembelajaran interaktif  dengan kualitas tinggi dalam pendidikan serta pelatihan kesehatan, farmasi, dan  perawat berkelanjutan.
Industri kesehatan di luar negeri telah  di garis depan menggunakan platform e-learning  dan sistem pembelajaran manajemen (LMS) untuk meningkatkan pengetahuan dan kinerja pekerja klinis atau non-klinis. Dalam lingkungan bisnis saat ini, e-learning membantu organisasi kesehatan sebanyak  45 persen pada pelatihan  dan pendidikan kesehatan berkelanjutan.
Dekan/Kaprodi sebagai pengambil keputusan dalam organisasi pendidikan kesehatan, dapat memanfaatkan e-learning untuk berbagi, mempromosikan atau mentransfer pengetahuan kepada staf pengajar. Jika ya, apa saja tantangan utama yang dihadapi selama implementasi e-learning? Marilah kita cari tahu tentang hal ini sebagai berikut:
Efektivitas biaya
Biaya menentukan kualitas operasi dalam industri apapun, tidak terkecuali kesehatan. E-learning mengurangi biaya sewa, pengajaran, personil, materi, ruang, dll. Sumber daya yang ada dapat digunakan untuk memenuhi tujuan bisnis lainnya.
Pengalaman Belajar Tambahan
Kebanyakan  modul  e-Learning kesehatan menggunakan media pembelajaran yang berbeda untuk mengajar para profesional kesehatan. Pembelajar mendapat manfaat dari simulasi komputer interaktif pada prosedur bedah, video real-time operasi dan prosedur virtual lainnya. Ini memberi dokter dan perawat pengetahuan dari tangan pertama, tanpa menghadiri pelatiahan atau pendidikan konvensional.
Keluwesan
Meskipun jadwal mereka sibuk  di kampus dan rumah sakit, calon dokter atau perawat dapat memperbarui keterampilan mereka melalui e-learning pelatihan dan pendidikan.
Memperluas pengetahuan
E-learning membuka perbatasan baru pada basis pengetahuan bagi para profesional kesehatan. Misalnya, dokter belajar tentang gadget baru dan terobosan baru-baru ini dengan berlangganan pelajaran dari e-learning .
Disesuaikan Dengan Ritme Belajar
Setiap individu mampu mencapai hasil yang diinginkan dengan melakukan kursus sesuai kecepatan yang mereka sukai. Peserta yang pandai tidak terhambat oleh mahasiswa yang lambat dan sebaliknya.
Mengurangi beban tutor/dosen
E-learning mengurangi tekanan pada tutor/dosen dan memungkinkan mereka punya waktu yang cukup untuk berkonsentrasi pada masalah-masalah mendesak lainnya. Selain itu, e-learning mengurangi kebutuhan bahan yang mahal, membosankan dan kebutuhan pelatihan memakan yang waktu.
Mendidik pasien untuk jangka panjang 
Untuk jangka panjang, e-learning membantu dalam mendidik pasien tentang penyakit dan proses pengobatannya. E-learning membantu pasien untuk bekerja sama dengan dokter dan membantu mereka memahami penyakit dan tidak panik saat darurat.
Membangun kesadaran
E-learning adalah alat yang paling efektif dalam pendidikan massal. Dalam kasus epidemi “break-out” atau darurat medis nasional, hal itu adalah metode yang paling praktis dan paling cepat menyampaikan informasi untuk mendidik masyarakat. Hal ini tidak hanya biayanya efektif tetapi  tidak memakan waktu pembelajaran.
Print Friendly, PDF & Email

Inovasi Tiada Henti Southwest Airlines Untuk Menjaga Jati Diri

Southwest Airlines Co. merupakan maskapai AS terbesar keempat dalam hal pengangkutan penumpang dan kedua terbesar dalam hal keberangkatan penerbangan domestic. Southwest (LUV) terbang menuju 59 bandar udara di 58 kota, tepatnya di 30 negara. Strategi operasional perusahaan telah dibangun secara menyeluruh menyediakan penerbangan frekuensi tinggi, menempuh jarak pendek, point-to-point (dari titik ke titik), layanan bertarif rendah. Southwest menolak upaya ekspansi terlalu cepat, dan lebih memilih untuk menambah rute tujuan baru hanya ketika perusahaan memiliki sumber daya dan terlebih menghadapi situasi dimana mereka harus mengantisipasi permintaan akan rute lokasi baru dengan minimal penerbangan 10-12 per hari. 
Ada banyak perusahaan yang melakukan perubahan/inovasi. Dell Computer melalui perantaraan iklan dan langsung menjual produknya kepada konsumen. Hanes Corporation mengembangkan supermarket dan toko obat. Nucor Steel kembali membuka pabrik baja. Toyota mengembangkan pabrik mobil. Medco Containment Services menyediakan layanan penjualan obat melalui surat. Perdue mengembangkan bisnis makanan seperti ayam. Timex menjual jam tangan murah. Southwest Airlines melakukan penerbangan dari satu tempat ke tempat lain menggunakan sistem hub-and-spoke.
Dari contoh-contoh tersebut, dapat dilihat bahwa tanpa inovasi baru, perusahaan akan sulit untuk bersaing dengan pemimpin pasar yang sudah ada. Strategi yang memungkinkan untuk mencapai keberhasilan pada situasi tersebut adalah strategi inovasi. Namun, inovasi saja tidak cukup. Perusahaan juga harus memikirkan strategi-strategi baru untuk bersaing di pasaran ketika konsumen menginginkan produk yang lama. Perusahaan-perusahaan melakukan hal-hal gila baru yang tidak lebih dari inovasi. Pertanyaan sesungguhnya adalah “Apakah perusahaan sudah memikirkan semua kemungkinan yang ada?” “ Apa sumber inovasi mereka?”
Ada 5 poin penting yang harus diperhatikan sebelum melakukan stategi inovasi:
  1. Strategi inovasi bukanlah hal baru.
  2. Perusahaan harus melakukan inovasi. Perusahaan harus mempertimbangkan, mengevaluasi, dan membuat keputusan tentang faktor-faktor individual.
  3. Cara untuk melakukan inovasi sesuai dengan kekuatan dan kelemahan perusahaan.
  4. Strategi inovasi mempunyai resiko. Namun, perusahaan dapat mengatasi resiko tersebut dengan melakukan percobaan pada area yang terbatas sebelum sepenuhnya melakukan inovasi tersebut.
  5. Hadir dengan ide-ide baru tidak menjamin kesuksesan. Seluruh perusahaan harus dikelola dengan tepat ketika melakukan strategi baru.
Strategi inovasi terjadi ketika sebuah perusahaan melihat celah (gaps) dalam dunia industry, memutuskan untuk mengisinya, dan celah untuk tumbuh menjadi pasar massa yang baru. Celah (gaps) dapat diartikan:
  1. Segmen konsumen baru atau konsumen yang sudah ada.
  2. Segmen kebutuhan konsumen baru atau kebutuhan konsumen yang sudah ada namun tidak terlayani dengan baik oleh pesaing lain.
  3. Cara baru dalam memproduksi, mengirimkan, atau mendistribusikan produk yang sudah ada atau produk baru kepada konsumen yang sudah ada atau konsumen baru.

Secara konsisten menguntungkan dalam suatu industri yang terkenal kompetitif, Southwest Airlines hanya memperkerjakan 4% dari sembilan puluh ribu orang yang melamar untuk bekerja setiap tahun. Maskapai tersebut menggunakan tes kepribadian untuk mengidentifikasikan pelamar dengan kombinasi antara sikap bersedia bekerja keras,keterampilan komunikasi,dan semangat tim. Pekerja baru diikutsertakan dalam pelatihan yang intensif di “University for People” milik perusahaan sebelum  memulai pekerjaan mereka. Ketika konflik internal kadang-kadang muncul antara karyawan yang menangani pekerjaan yang berbeda,Southwest meminta karyawan untuk bertukar pekerjaan untuk satu hari sehingga mereka dapat melihat persoalan dari sisi orang lain,suatu taktik yang secara umum meredakan ketegangan.

 

Print Friendly, PDF & Email

Penerapan Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

Strategi Umum E-learning dan Knowledge Management

Umumnya, strategi e-learning dan Knowledge Management diterapkan berdasarkan,

1.       Low cost strategy,

2.       Differentiation strategy,

3.       Niche focus strategy,

Ada tiga kunci penting untuk bisa menjadi trend-setter e-learning dan Knowledge Management di organisasi:

1.       operational excellent, (reliable, easily, dan cost-effective)

2.       customer intimacy , (targeting market precisely)

3.       product leadership, (continuing product innovation yang memenuhi customer needs).

Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan memberdayakan sistem pembelajaran di dalam institusi. Menyediakan sistem pembelajaran akan membuat perusahaan selalui bisa selalu menyegarkan pengetahuan bagi stafnya serta membuat pegawai selalu up-to-date dengan perkembangan yang terjadi baik di dalam maupun di luar perusahaan.

Lima Langkah Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

Berikut adalah tabel lima tugas manajemen strategi untuk e-learning dan Knowledge Management:

Task1

Task2

Task3

Task4

Task5

Membuat visi strategis dan misi bisnis

Menetapkan objektif/goal

Membuat strategi mencapai objektif

menerapkan &mengeksekusi strategi

Mengevaluasi kinerja, monitoring pengembangan baru, serta inisasi koreksi/
penyesuaian

 Faktor untuk Diperhatikan dalam Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

1.       Lingkungan eksternal : Politic (legal), Economic, Social (Ecological), Technological;

2.      Tekanan grup dan stakeholder : Shareholder, competitor, customer, supplier, government, employee, serikat buruh, publik, financial, mass media;

3.       Strategi dan perencanaan internal bisnis : pengembangan internal;

4.       Dari tiga faktor tersebut kemudian dirumuskan strategi bisnis dan perencanaan proses untuk menentukan cakupan.

Faktor-faktor yang perlu untuk diidentifikasi meliputi :

1.       Resiko manajerial dan finansial;

2.       Tingkatan yang diperlukan untuk menciptakan kapabilitas baru;

3.       Struktur organisasi eksisting;

4.       Kemampuan organisasi untuk menerapkan strategi yang dirumuskan (kompetensi, sumberdaya, proses, dan budaya)

5.       Implikasi terhadap customer, partner

6.       Kebutuhan membuat perserikatan,aliansi, joint ventura;

 

Penerapan Strategi

Setelah strategi dibuat, maka perlu dilakukan langkah-langkah penerapan. Setelah langkah tersebut diimplementasikan, maka akan dapat diketahui strategi lanjutan, konstrain-konstrain muncul, opsi baru muncul, peluang baru datang.

Dalam kaitannya dengan penerapan strategi maka perlu diperhatikan pula siklus hidup produk e-learning dan Knowledge Management.

Alat dan Teknik untuk Strategi

Alat dan teknik yang umum digunakan untuk merancang dan merumuskan strategi antara lain:

1.       SWOT Analysis

2.       BCG matrices; untuk resource alocation

3.       Policy/portfolio matricecs

4.       Five forces

5.       Industry analysis

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Kuliah @HimatifUtama APNET-3: Trouble Shooting Konverter “Serial To USB” Untuk Konsol Router

 

Hari ini disela-sela kuliah, Mahasiswa @HimatifUtama APNET-3 sibuk Trouble Shooting Konverter “Serial To USB” Untuk Konsol Router. Bahkan saya bilang kalau tidak bisa nilainya sekelas akan dikurangi 😀

 

Berkomunikasi dengan perangkat RS232 saat ini tampaknya benar-benar sulit. Sekarang  laptop terbaru tidak memiliki port serial RS232. Sebelumnya para mahasiswa telah mencoba 2 adapter dan mendiskusikan dengan beberapa orang lain, dan sejauh ini belum menemukan cara untuk membuatnya bekerja dengan baik.

 

Adapter pertama yang dicoba, direkomendasikan oleh mahasiswa angkatan sebelumnya. Sistem melaporkan bahwa perangkat lunak yang diinstal dengan benar, dan tes diagnostik dalam perangkat lunak melaporkan bahwa ia bekerja dengan baik. Tapi kami tidak bisa mendapatkan sinyal dari Konverter “Serial To USB” itu..

 

Adapter Kedua, direkomendasikan sebagai alternatif oleh mahasiswa lain, tampaknya bekerja ketika menggunakan program HyperTerminal yang dibundel dengan Windows. Namun, jika saya mencoba untuk menghidupkan “menangkap teks ke file” tidak bisa membaca apa-apa yang masuk ke port serial.

 

Adapter ini  apakah  bekerja atau tidak tampaknya sering tak terduga; sering berfungsi dalam beberapa situasi dan gagal pada orang lain. Tidak ada yang menemukan perangkat ini dapat bekerja setiap waktu.

 

Kita perlu menghabiskan beberapa jam percobaan, tapi akan menjadi lebih baik bila kita tahu informasi tentang beberapa prinsip-prinsip adapter ini yang terlibat.

 

Dasar apa untuk memilih perangkat ini? Apakah ada standar atau tes standar untuk mereka? Apakah ada situs web apapun yang daftar yang orang-orang yang bekerja dalam situasi yang berbeda atau dengan program yang berbeda?

 

Prinsipnya adalah kita harus memeriksa standar hardware dan software yang digunakan oleh kedua port. Kabel RS232 memiliki banyak varian. Kabel ini tidak reversibel, satu sisi harus dikonfigurasi sebagai DTE (Data Terminal Equipment) dan sisi lainnya sebagai DCE (Data Circuit-terminating Equipment). Ada mode jabat tangan (handshaking) berbeda yang dapat digunakan, dalam kabel. Pin di konektor dapat menjadi korsleting untuk memaksa “handshaking hardwire.

 

Dalam perangkat lunak ada standar yang berbeda untuk transmisi data pengendali, yang paling umum adalah penggunaan CTL-Q dan CTL-S untuk XON dan handshaking XOFF. Anda hanya perlu sebuah kotak simulasi RS232 dan beberapa cara untuk menangkap aliran data dari kedua ujungnya, dan kemampuan untuk memodifikasi perangkat lunak komunikasi untuk memecahkan masalah ini.

 

Print Friendly, PDF & Email

MANAJEMEN STRATEGI E-LEARNING DAN KNOWLEDGE MANAGEMENT MENUJU SDM KOMPETITIF

Tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi serta skill memadai untuk menunjang perusahaan adalah maksud disediakannya sistem e-learning di korporat. SDM adalah faktor utama keberhasilan perusahaan untuk merealisasikan visi dan misinya. Untuk itu SDM perlu dibangun. Salah satu cara membangunnya adalah mengimplementasikan sistem e-learning dan Knowledge Management.

Supaya implementasi bisa berjalan sesuai harapan, harus dibuat kerangka strategi implementasinya. Dalam hal tersebut, strategi adalah sekumpulan aksi-aksi terintegrasi yang diarahkan untuk menambah atau meningkatkan kemampuan serta kekuatan enterprise relatif terhadap kompetitor (Porter, 2000).

Tanpa strategi, seorang implementor e-learning dan Knowledge Management tidak akan memiliki hal-hal berikut:

  • Tidak memiliki resep untuk melakukan implementasi,
  •  Tidak memiliki roadmap untuk keunggulan kompetitif,
  • Tidak memiliki game plan untuk memuaskan stakeholder atau mencapai goal kinerja.

Tiga proses yang mendukung penetapan suatu strategi :

1.       Pemikiran strategis : kreatif, pandangan entrepreneur,

2.       Perencanaan strategis : sistematis, komprehensif, analisis untuk membuat rencana/tindakan,

3.       Pengambilan keputusan: reaksi efektif terhadap peluang dan ancaman yang tidak dikehendaki;

Kaitannya dengan strategi, peranan sistem teknologi informasi atau sistem informasi, IT/IS adalah adalah untuk menerapkan strategi yang dipilih dan juga sebagai enabler untuk strategi bisnis baru atau strategi yang hanya bisa diterapkan dengan alat bantu teknologi informasi.

Print Friendly, PDF & Email

Rahman Sidik: PKM-GT ALAT OBSERVASI SINYAL WIFI UNTUK PERENCANAAN JARINGAN WIRELESS

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
ALAT OBSERVASI SINYAL WIFI UNTUK PERENCANAAN JARINGAN WIRELESS
PKM PENERAPAN GAGASAN TEKNOLOGI

DIUSULKAN OLEH :
Dewi Anjani
Rahman Sidik
Irma Situmorang
Firmansyah

UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2012

 

Ringkasan
Perkembangan tekonologi komunikasi telah melalui perubahan yang cukup signifikan, nyaris tidak ada lagi batasan bagi manusia untuk dapat berkomunikasi kapan saja dan dimana saja. Pemicu dari semua ini adalah perkembangan teknologi komunikasi yang semakin cepat. Dengan pertumbuhan jaringan sekarang ini terutama jaringan wireless  sangatlah mudah untuk menemukanya hampir di semua sisi ruang tata kota dan merupakan bagian yang tak terpisahkan bagi kebanyakan orang di kota – kota besar untuk mobilitas pekerjaanya .

 

Dengan melihat sisi lain dari jaringan wireless ini di kota – kota besar yang sangat tumbuh dengan cepat dan kurang terorganisasinya sinyal wireless yang dibangun di tempat –tempat yang  menyediakan jasa tersebut, seperti tidak tahu berapakah jarak minimum dan maksimum kestabilan sinyal wireless yang mereka bangun sehingga jaringan tersebut melewati bias wilayah yang mereka seharusnya bangun. Dengan adanya permasalahan seperti itu kali ini kami menawarkan suatu solusi, dimana kami memberi gagasan untuk membuat alat (device) observasi sinyal wireless agar tidak terjadi masalah yang seperti diatas.

 

Keuntungan dari gagasan tersebut  agar sinyal wireless yang dibangun oleh instasi manapun dapat mengoptimalisasikan perangkat dan biaya untuk membangun sarana jaringan wireless tersebut.
.

 

BAGIAN INTI

A. Pendahuluan
Perkembangan teknologi komunikasi jaringan terus meningkat . Jaringan komunikasi sekarang tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi antar manusia dari jarak jauh saja tetapi juga untuk mencari informasi dan mejalankan pekerjaannya secara optimal  dari mobilitas waktu dan situasi kondisi dimana saja.

 

B.Tujuan
Berdasarkan uraian pada pendahuluan diatas memiliki beberapa tujuan diantaranya :
  • Mengoptimalkan lahan tempat untuk membuat sarana jaringan wireless.
  • Menekan perangakat biaya untuk membuat sarana tersebut.  
  • Memudahkan perhitungan jangkauan sinyal wireless .

 

C. Manfaat
Manfaat dari alat observasi sinyal wireless adalah :
  • Mempermudah pekerja yang membangun sarana ini supaya tidak susah untuk  mengetest berapa Jarak jangkuan sinyal wireless tersebut yang akan dibangun.
  • Mempermudah ruang gerak pekerja untuk mengetest jarak sinyal wireless tersebut.

 
D. Gagasan

Teknologi komunikasi terus berkembang mempunyai peran yang sangat tinggi dalam dunia pekerjaan dan pendidikan. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi tidak dapat dipisahkan khususnya masyarakat kota, Mengarah sejarah teknologi komunikasi pada alur yang baru, hamper semua intansi seperti di bidang pendidikan,administrasi , dan lain – lain sudah mengunakan teknologi jaringan wireless untuk menekan biaya pengunaan jaringan kabel dan mempermudah user mengunakan jaringan wireless ini untuk mengerjakan pekerjaannya dimana saja (mobilitas tinggi).

 

Untuk itu,kami mengembangan gagasan untuk mengaplikasikan alat observasi sinyal wireless dimana kami menyediakan suatu media yang bisa mengoptimalisasikan alat sarana untuk membangun jaringan wireless supaya menekan dari segi tempat,alat dan waktu .
Aplikasi yang akan kami kembangkan dengan batasan masalah sebagai berikut :
  1. Perangkat keras untuk menangkap sinyal wireless
  2. Java
  3. C#
  4. Perl
  5. Phyton

 

 

E.Kesimpulan
Gagasan yang kami sampaikan yaitu berupa alat untuk membangun sarana jaringan komunikasi wireless  sebagai salah satu sarana untuk menghitung berapa jarak jangkauan sinyal wireless tersebut secara tepat,akurat ,dan cepat untuk menentukan dimana saja posisi sinyal yang harus ada didalam peta rencana yang kita buat secara terintegrasi dan terstruktur , dan diharapkan juga para pekerja dapat mengerti kegunaan dari alat ini sebagai salah satu media untuk menghitung jarak jangkauan sinyal  wireless tersebut.

 

Selain itu juga alat observasi sinyal ini akan dikembangkan untuk dipergunakan secara umum atau dikalangan pendidikan.Alat ini pula memiliki layanan untuk memprediksi adanya ganguan dari cuaca dan struktur tempat sarana supaya mengetahui benar –  benar situasi kondisi dilapangan untuk kestabilan sinyal tersebut.

 

Print Friendly, PDF & Email