Kesuksesan Seorang Ayah: Antara Karir dan Keluarga

“A wise man is cured of ambition by ambition itself; his aim is so exalted that riches, office, fortune and favor cannot satisfy him”  Samuel Johnson quotes

Kemarin saya mengantar dan mendampingi Firman tes masuk di salahsatu SMP di Bandung. Tes hari itu adalah penguasaan TIK dan merupakan tes terakhir setelah sebelumnya mengikuti TPA dan Bahasa Inggris. Sengaja saya mendampinginya setelah sebelumnya harus berada di belantara Sumbawa karena suatu pekerjaan.

Ya……Setiap zaman ada masanya hubungan orang tua dan anak direpresentasikan. Semua ada “base line” dan “key word” yang tetap sama yang direpresentasikan dengan peribahasa:

“Kasih sayang ayah sepanjang langkah, kasih sayang ibu sepanjang kalbu”.

Benar atau salah, semuanya bermula dari hati (baca: kalbu). Ayah yang sabar (baca: bagi saya ini susyaaah….) pada buah hatinya serta ibu yang selalu merindu pada putra-putrinya dan tawaddu, merupakan salah satu “Key Performance Indicator / KPI” dalam hubungan yang indah namun tidak sesederhana yang kita bayangkan tersebut……..

Banyak para ayahanda melihat perannya di sisi keluarga dari sisi “Hard Power” dan “Maskulinitas”. Adapula yang melihatnya dari sisi seorang “Commander In Chief” membawa biduk keluarga agar tercapai ke pelabuhan bahagia.

Sampai saat ini…setelah bekerja di beberapa perusahaan Multi Nasional (terutama Amerika), dalam diri sudah ditekadkan bahwa keseimbangan kepentingan keluarga dan perusahaan adalah sangat penting..atau sedikit lebih besar….he…he. Ini tidak lepas karena seringnya membaca buku dan melihat film yang pada akhirnya memperlihatkan bahwa seorang manusia pada dasarnya bermula dan berakhir pada keluarganya. Statistik dan fakta: Kerja Normal/Wajib adalah 8 jam/33,3%, sisanya yang 16 jam/66,66% adalah milik keluarga ….walaupun harus dikurangi oleh waktu2 yang berhubungan dengan transportasi, komunikasi dll yang pada dasarnya untuk keluarga juga…. Hal ini ditambah pengalaman beberapa “expat” yang pernah bekerja sama (baca: bekerja sama atau sama2 kerja) dan menjadi panutan karena komitmennya yang sama besar terhadap keluarga dan perusahaan.

“In dwelling, live close to the ground. In thinking, keep to the simple. In conflict, be fair and generous. In governing, don’t try to control. In work, do what you enjoy. In family life, be completely present.”  Tao Te Ching quotes

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/5Tc1992kI3w” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Anakku, Ujian Nasional Bukanlah Batu Penghalang Bagimu

Kami tahu engkau telah berusaha sekuat tenaga 

Mempersiapkan diri menghadapi salah satu ujian dalam hidupmu

Engkau ingin menjadi ahli di bidang sipil juga komputer

Di lain waktu, engkau ingin menjadi wartawan atau reporter

 

Di rumah kita banyak buku yang telah engkau baca dan tamatkan

Mulai dari hikayat Nabi, Napoleon, Mac Arthur, bahkan Soekarno dan Hatta

Anakku, Ujian Nasional Bukanlah Batu Penghalang Bagimu

Doa kami bersama usaha dan tekadmu untuk dapat mencapai tujuan hidupmu

 

Catatan: 

Mohon doanya putra kami, Muhammad Firman Nugraha, dapat melewati Ujian Nasional 7-9 Mei 2012 dan mencapai apa yang dicita-citakannya selama ini….. Amin Ya Robbal Alamin…..

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/7xo0QlavhW0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Kematian, Kulminasi Pencapaian Hidup Manusia

Setiap manusia yang dilahirkan selalu mempunyai makna dan mempunyai jalur kehidupannya sendiri. Dimana makna itu akan berkembang seiring dengan pertumbuhan sang manusia yang telah terisi kehidupannya. Manusia pun sesungguhnya sadar bahwa ia terlahir untuk mencapai kehidupan abadi, yakni kematian. Maka dari itu perlu disadari oleh tiap manusia, untuk tidak berhenti di satu titik meski tetap berkembang. Disini penulis menekankan, setiap hari adalah syukur, kematian memang tidak bisa diprediksi karena merupakan rancangan dari Sang Khalik, namun sedianya syukur, penyerahan diri, dan pertobatan haruslah dilakukan. Salah satunya adalah dengan merasakan “everday is my birthday”, dimana tiap harinya adalah rasa syukur akan nafas hari ini.  

Dilain fihak, Kematian adalah keniscayaan yang tidak terelakkan. Ia merupakan drama penuh misteri dan seketika yang dapat mengubah jalan hidup seseorang. Karena begitu misterius dan menakutkannya kematian, tidak sedikit umat manusia merasa perlu menambah masa hidupnya, seperti yang terangkum dalam pernyataan Chairil Anwar: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”

Membahas kematian bisa menimbulkan sebuah ‘pemberontakan’ yang menyimpan kepedihan pada jiwa manusia, yaitu kesadaran dan keyakinan bahwa mati pasti akan tiba dan musnahlah semua yang dicintai dan dinikmati dalam hidup ini. Kesadaran itu memunculkan penolakan bahwa kita tidak ingin (cepat) mati. 

Buku Psikologi Kematian karya Komaruddin Hidayat secara khusus berbicara kematian. Dalam pengantarnya, M Quraish Shihab mengakui buku best seller itu dapat membantu pembacanya bukan saja untuk memahami psikologi kematian, namun juga rahasianya dan yang lebih penting lagi ialah menuntut kita menjemput maut dengan hati yang damai. 

Menurut Komaruddin Hidayat, keengganan manusia untuk menjemput kematiannya disebabkan, setidaknya dua hal. Pertama, manusia terlanjur dimanjakan dengan aneka kenikmatan duniawi yang telah dipeluknya erat-erat. Kedua, sifat kematian yang misterius. Kematian ditakuti karena manusia tidak tahu persis apa yang akan terjadi setelah kematian itu 

Setiap orang bila ingin berkembang dan maju harus menerjang banyak ujian dari front yang berbeda dan banyak bentuknya, dimana tiap fase tidaklah sesuai dengan kemampuan kita namun tidak melampaui daya kita dan rintangan itu biasanya diatas kemampuan kita, guna mengembangkan pribadi sebagai pribadi yang lebih matang dan siap dalam menghadapi dunia. Dalam istilah sufi, diri kita terdapat arassy atau singgasan Tuhan, sehingga kalau seseorang bisa menyerap sifat-sifat ilahi ke dalam hatinya, maka ia akan lebih besar ketimbang langit dan bumi.  

“Rasa takut itu berakar pada keinginan laten untuk selalu hidup nyaman, dan rasa takut itu kemudian menjalar kepada bebagai wilayah aktifitas manusia. Lebih jauh lagi, rasa takut itu kemudian melahirkan anak-pinak, yaitu takut akan bayang-bayang ketakutan itu sendiri sehingga muncul ungkapan, musuh terbesar dan terdekat kita adalah rasa takut itu sendiri yang berakar kuat dalam diri. Esensinya ialah sikap penolakan akan kematian karena kematian itu selalu diidentikkan dengan tragedi, sakit, ketidak berdayaan, kehilangan dan kebangkrutan hidup” ~ Komaruddin Hidayat

Manusia modern, ditekankan adalah manusia yang biasanya bertindak di comfort zone, dimana area ini adalah kenyamanan dan kepuasan dimana manusia yang meninggalinya tidak akan pernah beranjak atau enggan meninggalkan area ini, karena ia sudah merasa aman dan terlindungi, sedangkan manusia hidup berdampingan dengan apa yang kita sebut sebagai kerja keras dan usaha, dengan pelu keringat dan memutar otak namun kadang manusia keluar dari jalurnya dan menekankan kehidupan sebagai keegoan, ini menyebabkan kententraman dunia bukan berada pada genggaman. Untuk menghentikan keegoan ini haruslah kita mencari Tuhan, namun sebelum masuk ke dalam pernyataan carilah Tuhan, penulis menulis dengan cukup lantang carilah dulu cinta, cinta kepada sesama, cinta kepada orang tua dan cinta lainnya, penulis menulis bahwa Tuhan memang tidak dapat disamakan dengan manusia, namun dengan adanya cinta itu manusia diharapkan dapat sadar dan merasakan kenikmatan rasa rindu akan Tuhan.

Bagi penganut mazhab religius, mengejar-ngejar kenikmatan hidup duniawi dan memperoleh self-glory hanya akan menghambat diraihnya kesuksesan hidup di akhirat. Penguasa, misalnya, jangan hanya mabuk kekuasaan dan uang, tapi kesejahteraan rakyatnya harus diperhatikan agar kenyamanan hidup setelah kematian bukan sebatas impian. 
Kedua, mazhab sekuler yang tidak peduli dan tidak yakin adanya kehidupan setelah kematian. Kelompok itu dibedakan dua. Pertama, meskipun mereka tidak peduli kehidupan akhirat, kelompok ini berusaha mengukir namanya dalam lintasan sejarah. Seperti, demi popularitas, orang kaya rela membantu yang miskin. Kedua, mereka yang memang pemuja hidup hedonistis yang sama sekali tidak peduli dengan pengadilan dan penilaian sejarah. 
Apakah benar kehidupan bermakna?

Menurut Komaruddin Hidayat, kehidupan sangat bermakna dimana makna itu berjenjang. Faktor usia, tingkat pendidikan, dan status ekonomi serta nasib akan mempengaruhi dalam memahami dan menghayati makna hidup. Hidup sebagai tindakan bermakna, makna itu bisa kita dapatkan bila kita mengenal akan agama yang kita anut, seperti sudah dikatakan sebelumnya agama adalah jalan yang jelas, dan acuan yang tepat sasaran. Tepat sasaran menuju kehidupan abadi yakni kematian. Merenungkan makna kematian tidak berarti lalu kita pasif. Sebaliknya, justru lebih serius menjalani hidup, mengingat fasilitas umur yang teramat pendek. Makna panjang umur meninggalkan kisah baik untuk menuju kebaikan surgawi.  Giving dan serving oriented diakui sebagai sumber kebahagiaan dan puncak prestasi

Dalam pandangan Komaruddin Hidayat, keyakinan dan ketidakyakinan manusia bahwa setiap saat kita bisa dijemput kematian memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Begitu pula dengan keyakinan adanya kehidupan setelah kematian. Dengan harapan memperoleh kebahagiaan di akhirat, misalnya, maka raja-raja Mesir membangun Piramida dengan pucuknya runcing dan menjulang ke langit agar memudahkan perjalanan arwahnya menuju surga. 

Islam secara tegas mengajarkan bahwa tiada seorang pun yang bisa menemani dan menolong perjalanan arwah kecuali akumulasi amal kebaikan kita sendiri. Kenikmatan dan gemerlap kehidupan duniawi akan ditinggalkan dan tidak ada bekal yang berharga bagi kelanjutan perjalanan hidup manusia kecuali amal kebaikan yang telah terekam dalam disket rohani yang nantinya akan di-print out di akhirat. 

Frank J Tipler dalam bukunya The Psysics of Immortality (1994) menyarankan manusia agar selalu berbuat baik demi kesuksesan dunia-akhirat. Kebaikan membuat kita tersenyum ketika malaikat maut menjemput meskipun keluarga yang akan kita tinggalkan menangis. Sebaliknya, kebejatan akan membuat kita menangis ketakutan, sedangkan orang-orang di sekitar kita tersenyum gembira karena merasa risih akan keberadaan kita sendiri. 

Catatan:

Disusun bersamaan dengan meninggalnya Wakil Menteri  ESDM, Widjajono Partowidagdo (http://news.detik.com/read/2012/04/21/202934/1898186/10/widjajono-gemar-mendaki-gunung-untuk-dekatkan-diri-dengan-tuhan?nd992203605)

<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/Nv5xr9ybT24″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Bercermin Dari Semut: Silaturahmi Mendatangkan Rejeki

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;
Maka Sulaiman tersenyum karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh”
(An-Naml [27] ayat 18 dan 19:  Kisah raja semut dan tentaranya)
Mengapa Semut Saling Bersalaman ketika Bertemu?
Kita sering meihat semut. Mereka seperti “bersalaman dan saling bersilaturahmi” antar mereka bertegur sapa layaknya manusia di saat bertemu,,, cuma kita tidak bisa menalarkan karena itu bahasa binatang.
Dikutip dari blog Hoeda-manis, sebenarnya semut bukan bersalaman, tapi menepuk. Saling menepuk satu sama lain antara semut adalah cara mereka berkomunikasi. Tepukan yang keras menjadi tanda bahaya, sementara tepukan yang lembut di antara dua ekor semut adalah isyarat untuk menunjukkan/memberitahu adanya makanan bagi semut yang lain.
Apakah Semua Semut Bersifat Sosial?
Semua jenis semut adalah hewan sosial, dalam arti mereka hidup dalam kelompok, dan masing-masingnya memiliki pekerjaan yang harus dilakukan di dalam koloni. Setiap koloni umumnya juga memiliki satu betina yang bertugas untuk bertelur, yaitu ratu semut.
Para ilmuwan menyatakan bahwa semut-semut itu seperti kita, mereka melaksanakan tugas-tugas mereka secara efisien. Sambil kerja, semut-semut berbicara satu sama lain dan berkata seperti manusia. Kita menemukan bahwa semut-semut mengorganisir proses pengumpulan makanan dan tugas-tugas lain melalui bunyi-bunyi tertentu dan berbagai perintah yang dilepaskannya, sementara semut-semut lain mendengar dan merespon!
Manusia semestinya saling bertegur sapa sehingga dapat menyambung silaturahmi, bukankah silaturahmi itu mendatangkan rejeki buat kita. Itulah yang saya coba dengan rekan, teman, kolega dan sahabat sejak saya sekolah (TK-Perguruan Tinggi), saat bekerja sampai dengan sekarang. Sering kali saya memperoleh “bantuan dan dukungan” yang tidak disangka-sangka karena mempereoleh manfaat dari “Silaturahmi Mendatangkan Rejeki“.
<iframe width=”600″ height=”420″ src=”http://www.youtube.com/embed/IMqoA3iaw1Q” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
Print Friendly, PDF & Email

Halo Para Ayah, Peranan Apa Yang Sedang Anda Mainkan?

Banyak para ayahanda melihat perannya di sisi keluarga dari sisi “Hard Power” dan “Maskulinitas”. Adapula yang melihatnya dari sisi seorang “Commander In Chief” membawa biduk keluarga agar tercapai ke pelabuhan bahagia.
————————————
Jika Randy Pausch seorang professor dari Carnegie Mellon University berperan bagaimana ia berusaha untuk membantu setiap orang yang dikenalnya (minimal adalah para mahasiswanya) untuk dapat merealisasikan mimpi-mimpi masa kecil mereka. Serta bagaimana kita dapat memaknai hidup bila kita tahu kalau kita hanya punya sedikit kesempatan, dan kesempatan itu akan segera habis. 
“If you lead your life the right way, the karma will take care of itself. The dreams will come to you.” Itulah salah satu pesan dari Randy, dan itulah keyakinan yang terus menuntun Randy hingga akhir hidupnya.
Kuliah terakhir Randy sangat fenomenal. Bukan karena yang menyampaikannya adalah seorang yang sedang sekarat akibat kanker, tapi karena apa yang disampaikannya benar-benar menginspirasi. Rekaman kuliah terakhir ini dengan cepat beredar di youtube, kemudian juga dibukukan. Dan telah menginspirasi banyak orang yang menonton ataupun membaca bukunya.
Randy sendiri merekam kuliah terakhirnya tersebut bukan untuk sebuah kenangan semata-mata. Tetapi untuk ketiga anaknya, Dylan (6 tahun), Logan (3 tahun) dan Chloe (18 bulan). Randy sangat tahu bahwa kelak, ketiga anak-anaknya mungkin tidak akan ingat dengan jelas seperti apa sosok ayahnya. Mereka hanya akan mengenal ayahnya melalui foto dan cerita. Yang diinginkan Randi adalah agar kelak anak-anaknya bukan hanya mengenangnya (melalui rekaman kuliah terakhir itu), tapi juga yakin bahwa ayah mereka selalu mencintai mereka. Melalui rekaman kuliah terakhir tersebut, Randy ingin mengajarkan pada anak-anaknya, “how to live this life through achieving your childhood dreams”.
————————————

Sedangkan pada Pak Raden/Drs.Suyadi, saya menyaksikan love & passion yg kuat dr beliau thd peran dan profesinyaPada umur 78 tahun beliau masih bersemangat dan mau membagi ilmu thd animator muda…..Sungguh, Unyil itu bukan dibuat olehnya….tapi seperti Pinokio “sebagai anak” Gepetto….Ia “dilahirkan” oleh tangan dingin Drs.Suyadi……
Betapa falsafah kebangsaan…Dari tokoh Cuplis, Pak Ogah, Pak Raden, Meilan sd Orang Gila…..nilai itu telah ditanamkan pada animasi Unyil….Itu datang dari kecintaaannya pada anak2 dan bangsa ini…..Sangat tepat kalau beliau disebut Bapak Animasi Indonesia……..
————————————
Lain lagi peran yang dimainkan dan keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. “Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,”kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini.
Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesiadapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.
————————————
Keduanya berasal dari Pagerageung, Tasikmalaya. Beliau berdua mewakili latar belakang demografis yang berbeda. Almarhum kakek dari fihak Ibu (alm. H. Abdul Aziz) adalah seorang petani yang kemudia bermetamorfosis menjadi tokoh sentral lokal yang disegani. Masih segar di ingatan saya, pada saat beliau naik haji tahun 1970-an ribuan orang mengantar kepergian beliau dengan seperti oarang yang tidak akan kembali. Teringat juga cerita orang tua bahwa beliau menyumbangkan tanahnya seluas 100 Ha kepada negara dalam rangka perjuangan melawan penjajah.
Almarhum kakek dari fihak ayah (alm. Oewon Natamihardja) berasal juga dari Pagerageung. Hanya saja beliau sudah lama tinggal di Bandung dan bekerja di GBO (yang kemudian berubah nama menjadi PLN) sejak jaman “Noormal”. Kakek bekerja di instansi ini sejak tahun 1930 sampai dengan pensiun 1970, suatu masa kerja yang cukup panjang dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi beliau. Beliau adalah salah seorang pendiri Masjid Nugraha – Bandung dan tokoh masyarakat Muararajeun yang hidup dengan segala kesederhanaannya.
————————————
Ayah adalah seorang guru dan salah satu cerita yang tidak pernah kulupa adalah sebagai berikut:
“Suatu hari diadakan razia rambut panjang dimana beliau menjadi kepala sekolah…..Diantara muridnya ada seorang murid yang tidak mau mencukur rambutnya dengan alasan tidak punya uang…..Seketika itu juga ayah pun memberinya uang untuk mencukur rambutnya….”
“Cerita belum berakhir disitu….Beberapa puluh tahun kemudian…Kejadian “sepele” tadi diingatkan oleh muridnya yang sekarang jadi pengusaha sukses kepada ayah…Dia katakan kejadian itu tidak akan dilupakan seumur hidupnya karena setelah kejadian itu bukan hanya rambutnya yang berubah…namun hatinya telah terbuka lebar….”
“Dan pada saat saya dan istri menjalankan ibadah Umrah 1426 H (2005M), murid ayah ini (yang sudah punya putra yg dewasa) menceritakan kejadian ini kepada kami dan putra-putrinya sebagai kejadian yang mengubah jalan hidupnya”…
Jelas peristiwa ini akan berubah konstelasinya bila dilakukan bukan oleh guru pada muridnya karena ternyata setiap pemikiran, emosi dan langkahnya menjadi ikatan yang tidak pernah hilang……
————————————
Artikel Terkait:
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/EIX5TwrEJ1A” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
Print Friendly, PDF & Email

“Prestasi anak-anak di sekolah meningkat pesat saat sudah tidak ada lagi budaya merokok.”~Idris@MataNajwa MetroTV

 

Itulah yang dikatakan M. Idris, Kepala Desa Bone-bone, Enrekang, Sulawesi Selatan untuk membahas desa bebas rokok yang dipimpinnya di acara Mata Najwa  di Metro TV. Menurut dia “Saya ingat waktu kuliah dulu, teman2 saya yang perokok di kampung tidak ada yg jd orang,belum lagi anak2 yg sudah merokok sejak cilik.” Dia berfikir dan mengkhidmati “Sejak itulah saya berpikir,harus ada yang dilakukan tentang hal ini (kebiasaan merokok). Ini untuk memperbaiki taraf kehidupan.” Kemudian Idris melakukan gebrakan: “Saat sy pulang kampung, sy mulai ajak seluruh pemuka desa utk memberdayakan desa bebas asap rokok ini&semuanya langsung mendukung.”  sehingga mulai tahun 2005, desa kami sudah benar-benar tidak ada lagi yang merokok. 

Ada yang unik cara bagaimana Idris bisa sukses: “Bagi yg ketahuan merokok, hukuman pertamanya adalah, harus berteriak di speaker masjid bahwa dia ketahuan merokok”. Kemudian pabila ketahuan lg, hukumannya adalah bekerja untuk umum, semisal memperbaiki jalan, membersihkan masjid, bersihkan MCK, dll. Ini berlaku bagi semua, termasuk pendatang. Kalau ada pendatang ketahuan merokok, dia dipersilakan meninggalkan desa. “Pernah juga turis Prancis ketahuan merokok, dia mau kasih uang suap,kmi tolak,dia mau sembunyi,kmi bilang tak ada tempat sembunyi.” kata Idris. 
Hal ini membuat Bupati pun sempat segan utk masuk desa kami karena masih perokok aktif. Baru tahun 2008 dia berani masuk desa setelah berhenti merokok. Selain itu di desa tersebut juga dilarang menjual makanan yang mengandung zat pewarna dan zat pengawet.Kalau ada yg ketahuan menjual, hukumannya adalah membuatkan/menggantikan biaya pembuatan bubur kacang ijo untuk seluruh anak di desa. “Prestasi anak-anak di sekolah meningkat pesat saat sudah tidak ada lagi budaya merokok.” – Idris mengakhiri ceritanya.
Bagaimana dengan kita?
Menurut saya …….Silahkan Anda Merokok, Asal Pakai Kresek Di Kepala Anda……Mengapa? Sesuai HAM kita bebas merokok karena itu hak azasi, namun anda tidak boleh meracuni udara di sekitar kita karena itu bukan milik anda 🙂
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/ZfqojfipwN0″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Mengapa Ada Ikatan Emosional Yang Kuat Pada Keluarga Kita

Manusia sering cenderung bereaksi berlebihan terhadap hidupnya. Kita terlalu terluka dalam berbagai hal. Kita terlalu banyak memompa adrenalin, dan hal-hal kecil terlalu cepat menjadi besar. Hidup sebagian besar waktunya menjadi sebuah opera sabun saat benar-benar itu tidak harus terjadi.

Masyarakat mengajarkan kita bahwa pria dan wanita secara emosional reaktif dengan cara yang berbeda. Wanita dituduh mengekspresikan emosi mereka terlalu banyak; dimana pria yang seharusnya menyembunyikan emosi mereka. Pria telah belajar untuk menutupi emosi mereka untuk beberapa hal, tetapi mereka tidak dapat menutupi perasaan ini dari diri mereka sendiri.

Proses penghancuran dan tabrakan serta tumpahan pada semua hubungan melalui berbagai tingkat yang telah disebut adalah proses penyesuaian perkawinan. Dibutuhkan banyak pasangan untuk beberapa tahun sebelum percampuran kepribadian terjadi. Proses ajaib ini cenderung bekerja lebih cepat dan lebih efisien jika kita dapat mengontrol emosi kita dan tidak terbawa ketika emosi kita tinggi.

Sibernetika adalah ilmu yang berhubungan dengan studi perbandingan sistem kontrol manusia, seperti otak dan sistem saraf. Sibernetika juga mengacu pada sistem syaraf yang kompleks. Dalam Sibernetik ada frase kenikmatan, suatu umpan balik yang tak terkendali. Ini menggambarkan bagaimana impuls syaraf dapat benar-benar keluar dari tangan, berhubungan bolak-balik satu sama lain, tidak bisa berhenti.

Orang tidak harus melihat lebih jauh untuk melihat perilaku menyimpang di kalangan orang dewasa. Misalnya, Rapat di kantor kadang-kadang tak terkendali seperti yang kita menumpahkan emosi masing-masing, baik negatif dan positif. Orang-orang pada usia berapa pun dapat menjadi tidak masuk akal. Keluarga juga dapat menumpahkan emosi satu sama lain dan dapat dengan cepat menjadi baik sangat positif atau negatif. Umpan balik Sibernetika menghasilkan “Multiplier Effect” (Efek Berganda).

Dalam satu keluarga, sebuah contoh dari sebuah “umpan balik tak terkendali sibernetik” akan terjadi saat seorang ibu tiba di rumah serta menemukan anak remajanya  mengerjakan pekerjaan rumah melainkan menonton TV. Semua suasana hati yang baik seorang ibu tiba-tiba kusut. Musik anak perempuannya tersebut terdengar terlalu keras, rumah tampak berantakan, tidak ada yang tersedia untuk makan malam dan suaminya bertanya-tanya apa masalahnya? Dapatkah Anda memikirkan contoh terkendali loop umpan balik sibernetik dalam keluarga Anda?

Ketika kita berusaha untuk berkomunikasi secara efektif dengan satu sama lain dalam keluarga kita, keseimbangan terletak pada bagaimana kita mengelola untuk menjaga emosi positif.  Hidup dalam hubungan kita yang sangat erat satu sama lain dapat meminimalkan simpang siur emosi negatif yang dapat dengan mudah keluar dari kontrol.

Bagaimana individu menenangkan diri ketika mereka terlalu emosional?

  • Biarkan orang lain tahu bahwa Anda perlu timeout (jeda sesaat). Kembali ketika Anda tenang, kemudian dengarkan, bicara dan mencari solusi.
  • Sadarilah bahwa ada hubungan pikiran negatif satu sama lain, begitu juga pikiran positif.
  • Bersihkan kepala Anda dengan menghitung mundur dari 10 atau 20.
  • Bayangkan sebuah adegan yang menenangkan atau santai.
  • Jangan melihat seluruh situasi, melainkan memecahnya menjadi bagian-bagian kecil yang tidak muncul emosi yang begitu kuat.
  • Baik pria dan wanita, perlu belajar untuk berbicara dan mengekspresikan diri.

Bagaimana kita memberikan pengaruh positif bagi keluarga?

  • Memantau dan membatasi tayangan yang tidak memberikan hal positif yang berhubungan dengan manusia, termasuk acara seperti sinetron, reality show TV, film, video game kekerasan, surfing situs Web yang tidak sehat.
  • Beri batas waktu keluarga untuk menunjukkan dan membuat semua orang menyadari adanya umpan balik sibernetik tak terkendali seperti yang sering terjadi. Gunakan kata kode yang memiliki arti bagi keluarga. Satu keluarga menggunakan nama “Charlie” karena itu merupakan nama anjing yang  mereka miliki serta tidak terkendali.
  • Pikirkan tentang saat ketika keluarga Anda mengalami umpan balik sibernetik tak terkendali. Bagaimana mulainya? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa dihindari lain kali? Ketika emosi tenang, bersenang-senanglah dengan bermain peran situasi ini sebagai sebuah keluarga sehingga semua orang bisa merasakan bagaimana bisa dilakukan secara berbeda. 
 John D. DeFrain, Extension Specialist, Family and Community Development; Jeanette L. Friesen, Extension Educator; Gail L. Brand, Extension Educator; Dianne M. Swanson, Extension Educator 

 

    Print Friendly, PDF & Email

    Jenderal Hoegeng: Polisi Yang Tak Pernah Tidur

    Jenderal Hoegeng Tidak Bisa Disuap

    Barusan saya melihat tayangan ulang sepak terjang almarhum Jendral Hoegeng di @KickAndyShow. Melihat penampilan keluarga amarhum dan sahabat-sahabat beliau, kelihatannya mereka memperoleh “Kenikmatan Yang Tertunda” dan “Sengsara Membawa Nikmat”. Mengapa? Setelah mengalami “pendzoliman” oleh fihak-fihak yang merasa terganggu dengan Niat, Pikiran dan Tindakan (Heart, Head & Hand) untuk memerangi kejahatan dan kemaksiatan, akhirnya almarhum Jendral Hoegeng, keluarga serta sahabat dekat yang satu visi mendapat tempat istimewa di hati masyarakat. Bahkan istri dan keluarganya bisa berangkat ke Hawaii, tempat yang diidamkannya bersama almarhum Jendral Hoegeng, dengan sumbangan dari para donor yang bersimpati dan berterima kasih kepada beliau.

    Berikut adalah tulisan Andy F. Noya yang berisi kekagumannya pada Jenderal Hoegeng:

    Suatu hari, seorang teman lama menelepon saya. Dia menceritakan kisah yang membuat hati saya tersentak lalu tergerak. Cerita tentang istri almarhum mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Menurut teman saya, ketika Pak Hoegeng masih hidup, dia pernah berjanji suatu hari kelak, jika punya uang, dia akan mengajak istrinya ke Hawai, Amerika Serikat. Mengapa Hawai? Karena mereka berdua begitu mencintai lagu-lagu “irama lautan teduh”.

    Hoegeng dan Merry Roeslani, sang istri, sejak muda memang sangat menyukai musik hawaian. Kecintaan pada jenis musik tersebut mendorong mereka menghidupkan kembali kelompok musik Hawaian Seniors yang dulu pernah dibentuk Hoegeng semasa remaja. Mereka bahkan tampil sebulan sekali di TVRI dan merupakan program yang sangat diminati pada tahun 1970-an.

    Namun apa mau dikata. Sebelum janji itu bisa dipenuhi, sang jenderal yang jujur dan sederhana itu lebih dulu dipanggil Tuhan. Hoegeng pergi selama-lamanya tanpa sempat mengajak sang istri menginjak pasir Waikiki Beach di Hawai yang terkenal itu. Hoegeng juga tak pernah sempat mengajak Merry melihat penari hula-hula asli di pulau tersebut. Karena itu, saya bisa membayangkan betapa sedih hati Ibu Merry.

    Bagi Anda yang mungkin lupa, selama menjadi Kapolri, Pak Hoegeng setiap akhir bulan tampil bermain musik bersama Hawaian Seniors membawakan lagu-lagu irama lautan teduh. Duet Hoegeng dan Merry sanggup menyihir penonton televisi pada tahun 1970-an.

    Bahkan penampilannya di TVRI waktu itu terus berlanjut walau Pak Hoegeng sudah pensiun. Hingga pada 1978, Hawaian Seniors “dicekal” tidak boleh tampil di TVRI oleh penguasa Orde Baru. Tidak pernah jelas mengapa. Alasan “resminya” karena acara tersebut dinilai tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Tetapi diduga pencekalan itu berkaitan dengan keikutsertaan Pak Hoegeng menandatangani “Petisi 50” yang berisi kritikan keras terhadap Pak Harto.

    Pencekalan terjadi setelah Pak Hoegeng, Ibu Merry, dan Hawaian Seniors sepuluh tahun tampil menghibur di TVRI. Waktu yang cukup lama. Tetapi, percaya atau tidak, selama itu pula belum pernah sekalipun Ibu Mery menginjakkan kakinya di pasir Waikiki Beach yang terkenal itu. Padahal, sebagai Kapolri, Pak Hoegeng sudah pernah tiga kali bertugas ke Amerika dan sempat mampir di Hawai.

    Ibu Merry tidak pernah ikut karena Pak Hoegeng memiliki prinsip yang sangat teguh: selama melakukan perjalanan dinas, istri dan anak-anak tidak boleh ikut “numpang” fasilitas kantor “Dia tidak pernah mengijinkan saya dan anak-anak memanfaatkan kesempatan menggunakan fasilitas dinas,” ungkap Ibu Mery. “Sementara untuk beli tiket dengan uang sendiri kami tidak mampu.”

    Ironis memang. Sulit dipercaya ada orang sejujur Pak Hoegeng di negeri ini. Tak heran jika kemudian muncul idiom: Di Indonesia hanya ada tiga polisi yang jujur. Polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng. Begitu jujurnya sampai ketika meninggal tak banyak harta benda yang dia tinggalkan untuk keluarganya. Bahkan setelah 32 tahun mengabdi di kepolisian, uang pensiun yang diterima Pak Hoegeng cuma Rp 10 ribu.

    Kawan saya menilai kisah tentang Ibu Mery tersebut layak diangkat di Kick Andy. Agar banyak pihak terbuka matanya bahwa di negeri ini ada sebuah ironi. Ironi kehidupan seorang pejabat yang jujur dan seorang istri yang tabah.

    Setelah mendengar kisah tentang Pak Hoegeng dan Ibu Merry, ada “panggilan” yang begitu kuat di dalam dada. Panggilan untuk mewujudkan mimpi Ibu Merry. Mimpi untuk bisa menginjakkan kaki di Pantai Waikiki. Dalam usianya yang sudah di atas 80 tahun, mungkin ini permintaan terakhir yang akan dikenangnya sebelum Tuhan memanggilnya.

    Tapi, jujur saja, saya sempat ragu apakah bisa mewujudkan mimpi tersebut. Terutama ketika mendengar cerita bahwa sudah dua kali Ibu Merry ditolak ketika mengajukan visa ke kedutaan besar Amerika Serikat. Tak ada penjelasan mengapa permohonannya ditolak. Sejak penolakan yang kedua, Ibu Merry sudah mengubur dalam-dalam impiannya untuk bisa melihat Hawai.

    Saya mencoba menghubungi pihak kedutaan Amerika dan menjelaskan keinginan saya untuk membantu Ibu Merry guna mendapatkan visa. Saya berusaha menjelaskan siapa Pak Hoegeng dan kisah tentang mimpi Ibu Merry untuk bisa menginjakkan kaki di pulau yang selama ini hanya dikenalnya melalui gambar dan cerita-cerita orang.

    Pihak kedutaan Amerika mengatakan tidak berjanji dapat mengabulkan permintaan saya itu. Mereka menegaskan adanya peraturan keras dari pemerintah Amerika yang tidak pandang bulu. Saya katakan kepada mereka saya bisa memahami dan tidak akan memaksa. Saya hanya ingin menyenangkan hati seorang wanita luar biasa yang selama hidupnya banyak mengalami kepahitan hidup. Apa salahnya di ujung hidupnya, sekali ini, dia dapat mereguk kebahagiaan. Apalagi ada kemungkinan ini adalah “last wish” atau permintaan terakhirnya.

    Akhirnya, kisah tentang Pak Hoegeng, Hawaian Senior, dan Ibu Merry saya angkat di Kick Andy. Pada bagian akhir acara, kepada Ibu Merry saya tanyakan tentang apa keinginannya yang belum terwujud. Dengan suara pelan, sembari menghela nafasnya, Ibu Merry bercerita tentang kerinduannya untuk bisa ke Hawai. Kerinduan yang sudah dikuburnya.

    Dua kali visanya ditolak dan keuangan yang terbatas, membuatnya pasrah. Dia juga harus mengubur impiannya untuk bertemu dengan sahabatnya Mukiana, perempuan asal Hawai, yang sangat dirindukannya. Sudah tiga puluh tahun lamanya mereka tidak berjumpa. Mukiana pernah tinggal di Indonesia selama enam tahun dan bersama-sama menari dan bernyanyi di acara Hawaian Seniors.

    Di ujung acara Kick Andy saya menyambungkan hubungan telepon antara Keala Mohikana dan Ibu Merry. Tampak Ibu Merry terkejut mendapat sambungan langsung dengan sahabat yang dirindukannya itu. Ibu Merry lalu menanyakan kapan Keala Mohikana bisa ke Jakarta. Tapi, pada pertengahan pembicaraan, tiba-tiba Keana Mohikana muncul dari balik panggung. Ibu Merry tertegun seakan tak percaya. Sahabatnya itu kini berada tepat di depannya. Kedua wanita tua itu lalu saling berpelukan melepas rindu.

    Belum sempat Ibu Merry meredakan rasa harunya, tiba-tiba Aditya, putra Ibu Merry, mengeluarkan visa dari kantongnya. Tuhan maha besar. Kedutaan Amerika kali ini meloloskan Ibu Merry dan juga Aditya untuk masuk wilayah Amerika. Mereka berdua mendapat visa!

    Selesai sampai di situ? Belum. Kepada Ibu Mery, saya serahkan sebuah amplop. Isinya kemudian dibaca oleh Ibu Merry: tiket pulang pergi Jakarta-Hawai-Jakarta. Maka sempurnalah perjuangan saya, teman saya, dan Aditya untuk memberikan “hadiah” paling indah dalam hidup Ibu Merry, yakni kesempatan pergi ke Hawai.

    Sejumlah penonton di studio tak kuasa menahan haru. Mereka menitikan air mata. Apalagi saat Aditya menunjukkan visa dan kemudian Ibu Merry menerima tiket ke Hawai yang dipersembahkan Surya Paloh, pemilik Metro TV.

    Seusai rekaman Kick Andy, semalaman saya tidak bisa tidur. Hati rasanya bahagia sekali. Semua upaya dan jerih payah terbayar sudah. Kalau melihat ke belakang, rasanya semua itu tidak mungkin terjadi. Mulai dari upaya teman saya mendatangkan Mukiana ke Jakarta, usaha untuk mendapatkan visa yang sudah dua kali ditolak, sampai tiket ke Hawai pemberian Surya Paloh, semua berjalan tanpa hambatan. Tuhan maha besar.

    (Sebagian Dikutip dari Sumber: http://www.kickandy.com)

     

    [youtube http://www.youtube.com/watch?v=PqLmEI8Eroc?rel=0&w=600&h=400]

    Print Friendly, PDF & Email