Muhammad Yunus dan Keberhasilan Program Telepon Pedesaan (Village Phone) Grameen Telecom

 
Dikutip dari Tesis Djadja Sardjana (IMTelkom, 2008), “Village Phone” dari Grameen Telecom merupakan proyek percobaan dari Grameen yang didirikan Muhammad Yunus yang pada  tahun 2000 melibatkan 950 Village Phones yang menyediakan akses telepon kepada lebih dari 65,000 orang. Wanita-wanita desa/kampung mengakses kredit mikro untuk memperoleh pelayanan telepon selular GSM dan sesudah itu menjual lagi pelayanan tersebut di desa/kampung mereka. Grameen Telecom memperkirakan  bahwa ketika programnya selesai, akan ada 40,000 operator “Village Phone” dengan  laba bersih $24 juta USD tiap tahun. 
 
Program Village Phone muncul sebagai solusi teknis terbaik yang tersedia untuk akses telekomunikasi universal pedesaan sesuai dengan keadaan Regulasi Telekomunikasi Bangladesh  dan kondisi ekonomi saat itu. Program “Village Phone” adalah suatu solusi organisatoris dan teknis untuk akses telekomunikasi pedesaan yang dibutuhkan oleh suatu lingkungan dengan regulasi telekomunikasi yang tidak mendukung bagi percepatan infrastruktur telekomunikasi pedesaan. 
 
Konsep dari “akses yang universal” bukanlah sesuatu yang netral terhadap gender. Di dalam kasus dari Bangladesh ini, jenis kelamin dari operator “Village Phone” dan penempatan secara fisik dari telepon di dalam suatu desa/kampung yang tersegmentasi secara gender dapat menghalangi atau memperbaiki akses wanita-wanita untuk menelpon karena alasan religius. Biasanya Kantor Cabang Grameen menempatkan satu lokasi operator wanita yang akan menyediakan suatu ruang yang bisa diterima untuk wanita-wanita desa/kampung yang lain untuk mengakses telepon. Dari sudut pandang pendapatan dan laba, adalah penting untuk memastikan bahwa “Village Phone” secara penuh dapat diakses oleh seluruh populasi desa/kampung,  jika 50% dari pemakai berdasarkan gender menghadapi rintangan sosial budaya untuk menelpon, maka suatu arus pendapatan yang penting telah lenyap. 
 
“Village Phone” bertindak sebagai suatu instrumen yang tangguh untuk mengurangi resiko  dalam pengiriman uang dari para anggota keluarga para pekerja di Dhaka City dan yang bekerja di luar negeri, serta untuk membantu orang desa di dalam memperoleh informasi akurat tentang kurs valuta asing. Mengirim uang tunai dari suatu negara Timur Tengah ke suatu desa/kampung di Banglades adalah penuh resiko; pengiriman uang seperti itu adlah faktor pokok yang membuat laku/laris untuk pemakaian telepon. Mengurangi resiko dari pengiriman uang dari para pekerja di luar negeri mempunyai implikasi penting untuk penduduk rumah tangga dan pedesaan di Bangladesh. Di tingkatan yang mikro, pengiriman uang cenderung untuk digunakan untuk biaya rumah tangga sehari-hari seperti makanan, pakaian dan pelayanan kesehatan. Pengiriman uang seperti itu satu faktor yang penting dalam memenuhi penghidupan rumah tangga, dan dapat meningkatkan porsi yang penting dari penghasilan rumah tangga. Begitu penghidupan dipenuhi, pengiriman uang cenderung untuk digunakan untuk “investasi-investasi produktif,” atau untuk uang tabungan.
 
Panggilan-panggilan telepon kepada keluarga dan para teman sering melibatkan pertukaran informasi tentang harga pasar, daftar biaya pengiriman barang-barang,  tren pasar dan pertukaran valuta. Hal ini  membuat “Village Phone” satu alat yang penting untuk membuka peluang usaha rumah tangga dalam mengambil informasi pasar untuk meningkatkat keuntungan dan mengurangi biaya produktif. 
 
Pelayanan telepon pedesaan di Bangladesh adalah sangat menguntungkan karena regulasi yang ada saat itu (ketiadaan interkoneksi menjadi penghalang yang paling besar), sehingga operator telekomunikasi tidak mampu untuk mengimbangi permintaan untuk jasa telekomunikasi antar operator. Telepon-telepon di dalam program Grameen Telecom Village Phone menghasilkan tiga kali pendapatan untuk pelayanan selular pedesaan ($100/bulan lawan $30/bulan). Bahkan, satu pesaing operator telekomunikasi di BangladeshPemangku kepentingan melaporkan mempunyai pendapatan dari 12,000 sama dengan pendapatan dari 1,500 “Village Phone”. 
 
Teknologi telepon genggam GSM adalah suatu solusi yang mahal untuk akses  universal di daerah pedesaan Bangladesh. Liputan selular ini terbatas untuk daerah pedesaan serta hanya menguntungkan di bawah regulasi telekomunikasi yang sehat – ketika lingkungan yang regulasi diperbaiki, teknologi selular tidak akan menjadi alat paling efisien dan sehat dalam menyediakan servis yang universal. Teknologi telepon genggam GSM juga menempatkan tarif-tarif jauh lebih tinggi pada para pemakai telepon pedesaan dibanding “Wireless Local Loop” (WLL) teknologi. Tanpa perbaikan-perbaikan pada regulasi, teknologi selular adalah suatu solusi yang praktis. Juga, teknologi selular sekarang ini bukan suatu opsi yang sehat untuk hubungan email/Internet/data yang murah. WLL dan opsi lain dapat menyediakan secara luas dan jauh lebih baik dengan ongkos pelayanan lebih murah. 
 
Print Friendly, PDF & Email

Profesor Muhammad Yunus: Merubah Paradigma NACO (Not Action Concept Only) Menjadi PDCA (Plan, Do, Check and Action)

Sering kali kita merasakan sebagai seorang Akademisi bahwa tugasnya hanya berkutat dengan bidang teoritis keilmuan. Jurnal yang terakreditasi, seminar atau konferensi di luar negeri dan menjadi seorang profesor di universitas terkenal telah “mencukupkan” peran kita sebagai seorang akademisi.

Padahal peran kita tidak terbatas pada hal itu. Jelas tertuang dalam Tridharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian pada masyarakat. Jelas sebagai “Tuan Rumah” Perguruan Tinggi, kita dituntut hanya kompeten pada bidang “Process and Technology” namun juga memberikan manfaat pada “People” di sekeliling kampus kita.

Sepertinya para akademisi harus merubah jargon  NACO (Not Action Concept Only) yang hanya menghasilkan konsep dan “tumpukan kertas” belaka di “Ruang Ilmu” serta “Rumah Pengetahuan” yang kita punya. Kita harus rubah Paradigmanya Menjadi PDCA (Plan, Do, Check and Action) sesuai kapasitas sebagai seorang “ilmuwan” dan “kaum terpelajar” seperti pada jaman kebangkitan dan kemerdekaan Indonesia yang memberi pengaruh besar pada peradaban bangsa.

Saya masih teringat pada saat menulis Tesis di Institut Manajemen Telkom tahun 2008. Saat itu diputuskan untuk membahas topik tentang Muhammad Yunus (pendiri Grameen Bank di Bangladesh yang memberikan pinjaman tanpa jaminan kepada rakyat miskin sebagai modal usaha). Hal ini dilatar belakangi oleh kekaguman saya pada peran belia sebagai seorang dosen yang tidak hanya “NACO” namun sudah mengimplementasikan “PDCA”. Tesis saya masih berhubungan dengan Telekomunikasi karena yang dibahas adalah Peran Pemangku Kapentingan “Grameen Telecom” salah satu grup dari Grameen yang membuat Kewirausahaan Sosial (Social Enterpreneurship) melalui Program Telepon Desa (Village Phone) di Bangladesh.

Seperti yang dikatakan oleh beberapa Profesor Perguruan Tinggi terkenal di Indonesia, di pada zaman kebijaksanaan ini bukan kekayaan materi yang dicari, tapi lebih pada kekayaan jiwa. Makna kasih sayang, kesejahteraan, perdamaian, keadilan, harmonisasi, kesaling tergantungan, kerendahatian, kejujuran, komitment, integritas, ketakwaan, keimanan dan berbagai sifat kebaikan yang manusiawi lainnya.

Bahkan seperti yang disampaikan oleh Steven Covey (Seorang Pakar Pengembangan Diri), bahwa salah satu sebab ketertarikannya membuat buku The 8th Habits adalah terinspirasi oleh kisah Profesor Muhammad Yunus seorang Dosen Ekonomi di Universitas Chitagong, Bangladesh yang tergugah oleh lingkungan sekitarnya yang miskin, yang papa dan tak berdaya.

Profesor Muhammad Yunus merasa pelajaran yang ia berikan kepada mahasiswanya tidak sejalan dengan kenyataan. Setiap ia keluar kampus selepas mengajarkan tentang ekonomi modern dia mendapati kesulitan yang dihadapi masyarakat. 

Lalu ia mulai menanyai orang-orang miskin namun masih mau berusaha itu, hingga ia mendapat simpulan bahwa mereka membutuhkan modal. Dan lebih dari itu modal yang mereka butuhkan tidak besar, iapun mampu membantunya. Itulah awalnya Muhammad Yunus mendirikan Grameen Bank, yaitu bank yang memberikan pinjaman kepada kaum miskin Bangladesh tanpa jaminan.

Saat ini (22-23 Oktober 2012), Profesor Muhammad Yunus sedang berada di Yogyakarta untuk menghadiri International Microfinance Conference. Sebagai Peraih Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus mengatakan, aktivitas bisnis sosial sama seperti atau bahkan bisa bermakna melebihi kegiatan filantrofis karena kegiatan bisnis sosial dapat meningkatkan tingkat kemandirian ekonomi.

“Filantrofis memberikan uang tetapi orang yang menerimanya cenderung tidak mendapatkan uang itu kembali. Sedangkan bisnis sosial memberikan uang dan orang yang menerimanya dapat mendapatkan uang itu kembali,” kata Muhammad Yunus dalam International Microfinance Conference di Yogyakarta, Senin (22/10).

Mengapa Muhammad Yunus melakukan itu? Itulah hakikat spiritual dari adanya panggilan jiwa adanya suara hati dari kebenaran hakikat yang datangnya dari Allah SWT

Print Friendly, PDF & Email

#ManajemenPembebas Implementasi Strategi: Struktur dan Kontrol Organisasi (Organizational Structure and Control)

Menurut Stephen P. Robbins dalam Organization Theory-Structure Designs and Applications (2005,4), organisasi adalah:
“A consciously coordinated social entity, with a relatively identifiable boundary, that functions on a relatively, continuous basis to achieve a common goal or set of goals”.
Definisi ini mirip definisi organisasi menurut Warren B.Brown dan Dennis J. Moberg dalam Organization Theory and Management-A Macro Approach (1995,6) :  
“Organizations are relatively permanent social entities characterized goal-oriented behavior. Specialization and structure”.
Jauh sebelumnya, Philip Selznick melihat organisasi lebih dari sudut formal dan mikro. Ia mengembangkan konsep organisasi dari:
”The arrangement of personnel for facilitating the accomplishment of some agreed purpose through the allocation of functions and responsibilities”.
Organisasi dapat juga diamati sebagai “living organism” seperti halnya manusia, dan sebagai produk proses pengkoordinasian (organizing). Sebagai “living organism” yang sudah ada, suatu organisasi merupakan output proses panjang dimasa lalu, sedangkan sebagai produk proses pengkoordinasian, organisasi adalah alat atau input bagi usaha mencapai tujuan.
Menurut Budi Paramita (2000) dalam mendirikan organisasi diperlukan kerangka/struktur  dan kontrol organisasi yang baik agar dapat dipakai untuk mencapai tujuan dengan memakai prinsip-prinsip organisasi antara lain :
  1. Perumusan tujuan yang jelas
  2. Pembagian tugas pekerjaan.
  3. Delegasi kekuasaan.
  4. Rentang kekuasaan
  5. Tingkatan tatanan jenjang
  6. Kesatuan perintah dan tanggung jawab.
  7. Koordinasi
Fungsi dari kontrol organisasi yang berupa kontrol strategi dan keuangan/finasial menurut Hitt,Ireland&Hoskisson (2010) adalah :
  1. Sebagai pemandu dari kegunaan strategi.
  2. Menunjukkan bagaimana membandingkan hasil sebenarnya dengan yang diharapkan.
  3. Menyarankan langkah korektif yang harus diambil bilamana terjadi perbedaan dan tidak bisa diterima antara hasil  sebenarnya dengan yang diharapkan
Print Friendly, PDF & Email

#ManajemenPembebas Implementasi Strategi: Kepemerintahan Perusahaaan (Corporate Governance)

Kepemerintahan perusahaan (Corporate Governance) menurut Hitt,Ireland&Hoskisson (2005) adalah:
  1. Hubungan antara pemegang saham yang digunakan untuk menentukan dan mengendalikan arah strategis dan performasi dari organisasi.
  2. Menyangkut pembuatan keputusan strategis yang lebih efektif. 
  3. Digunakan untuk membuat tatanan    antara pemilik perusahaan dan manajer tingkat atas untuk menghindari konflik kepentingan. 
Secara konseptual pengertian kata baik (good) dalam istilah kepemerintahan perusahaan yang baik (good corporate governance) mengandung dua pemahaman, yaitu :
  1. Nilai yang menjunjung tinggi keinginan / kehendak pemegang saham, dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan pemegang saham dalam pencapaian tujuan.
  2. Aspek fungsional yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan tugasnya untuk mencapai tujuan tersebut.
Gambir Bhatta (1996) mengungkapkan pula bahwa unsur utama “governance” yaitu : 
  1. Akuntabilitas) (Accountability)
  2. Transparansi (Transparency)
  3. Keterbukaan (Opennes)
  4. Aturan Hukum (Rule of Law)
  5. Kompetensi Manajemen (Management Competence)
  6. Hak-hak Azasi Manusia (Human Right)

 

Print Friendly, PDF & Email

Proses Bisnis #TelematikaPedesaan @VillagePhone @GrameenTelecom

Bagaimana sebuah aktivitas usaha Universal Service Obligation (USO) bisa dikelola dengan baik? Bagaimana caranya agar bisa berkelanjutan? Berikut adalah proses bisnis yang telah bteruji dan dilakukan Grameen di Bangladesh:
Penyeleksian, Cara Berlangganan dan Pelatihan Operator:

Untuk mendapatkan informasi mengenai cakupan GSM GrameenPhone Ltd., pegawai unit GTC menemui cabang- cabang Grameen bank pada daerah dan menyiapkan data dari desa-desa dimana cakupan jaringan memuaskan yang memungkinkan penyediaan Telepon Desa (Village Phone). Cabang GB kemudiaan memilih diantara anggota-anggotanya yang berkinerja baik dari desa- desa ini untuk bertindak sebagai Operator “Village Phone”. Grameen Bank mempunyai kriteria spesifik untuk menyeleksi operator “Village Phone” yang dapat diringkas sebagai berikut:
  1. Mempunyai sejarah pembayaran kredit Grameen Bank yang sangat bagus;
  2. Harus mempunyai bisnis yang bagus, lebih disukai toko penjualan makanan/minuman di desa dan mempunyai waktu luang untuk berfungsi sebagai operator “Village Phone”.
  3. Tidak buta huruf atau paling tidak harus mempunyai anak yang dapat membaca dana menulis.
  4. Tempat tinggalnya harus cocok dan lokasinya dekat dengan tengah-tengah desa. 
Setelah penyeleksian awal selesai oleh Cabang GB sebagai operator “Village Phone” yang potensial, pegawai unit GTC terdekat memverifikasikan sinyal yang tersedia pada rumahnya atau toko yang dia tinggali untuk berlangganan telepon. Persetujuan terakhir dari keanggotaan diperoleh dari Manager Daerah atau Area GB. Ketika penyeleksian akhir hampir selesai, GTC berlangganan sambungan telepon pada Grameen Phone dan menyerahkannya pengelolaanya kepada anggota. GTC selanjutnya menyediakan perangkat yang dibutuhkan dan menyediakan pelatihan untuk mengoperasikan telepon desa tersebut. Sedangkan telepon dan biaya sambungan dibayar oleh GB ke GTC serta anggota mengangsurnya kembali kepada GB dengan periode yang ditentukan dua atau tiga tahun. Perlu dtekankan kembali bahwa program keemilikan telepon desa/bergerak ini hanya disediakan untuk anggota  GB melalui program pinjaman mikro.
Proses Penagihan (Billing):
Grameen Telecom membeli pusa secara borongan dari Grameen Phone untuk semua telepon desa di bawah pengoprasiannya dengan tingkat diskon khusus yang telah dinegoisasikan antara kedua organisasi. Kemudian Grameen Phone menyiapkan tagihan bulanan dan mengirimkannya ke GTC untuk pembayaran. Selanjutnya GTC membuat kembali tagihan perorangan dan mengirimkannya ke cabang-cabang serta membayar tagihan ke Grameen Telecom setelah enam minggu pada periode berikutnya. Dalam hal ini tugas Grameen Bank adalah mengumpulkan tagihan dari operator-operator “Village Phone”.
Dukungan Operasional: 

Kantor unit dari Grameen Telecom bertanggung jawab untuk pengoperasian “Village Phone” di lapangan. Tugas Unit Operasional adalah untuk memetakan daerah dengan cakupan sinyal yang baik, membantu manager cabang GB untuk memilih anggota menjadi operator “Village Phone”, melatih operator “Village Phone” dan membutuhkan dukungan teknis yang dibutuhkan oleh operator “Village Phone” termasuk handset, tagihan dan lain sebagainya.  Sejauh ini Grameen Telecom mempunyai 13 kantor unit di : Dhaka, Norsingdee, Srinogar, Comilla , Feni, Chittagong, Mymensingh, Sirajgonj, Khulna, Barisal, Sylhet, Rajshahi dan Faridpur. Jumlah kantor unit akan terus bertambah dengan bertambahnya area sinyal yang tersedia. 

Related articles, courtesy of Zemanta:

 [slideshare id=2810571&doc=grameen-telecom-stakeholderthesis-summary-091231220954-phpapp02&type=d]

Print Friendly, PDF & Email

Analisis Lingkungan Politik dan Hukum Grameen Telecom

   
Dalam menjalankan kegiatannya, Grameen Telecom  menghadapi lingkungan eksternal berupa Lingkungan Umum (Makro),  Lingkungan Industri (Mikro) dan Lingkungan Operasional dan Lingkungan Operasional (Internal) yang masing-masing dianalisis yang menjadi dasar bagi perumusan strategi.
 
Lingkungan makro adalah suatu lingkungan dalam lingkungan eksternal yang faktor-faktornya memiliki ruang lingkup yang luas dan faktor-faktor tersebut pada dasarnya diluar dan terlepas dari operasi perusahaan. Arah dan stabilitas dari faktor politik dan hukum merupakan pertimbangan utama bagi manajer dalam memformulasikan strategi. Kondisi Politik dan Hukum di Bangladesh ikut menyertai Grameen Phone dan Grameen Telecom dengan segala pasang surutnya.Seperti diketahui, pada tahun 1996 Kementrian Pos dan Telekomunikasi Bangladesh (MOPT) telah memberikan lisensi untuk operator GSM kepada TM International (Bangladesh), Grameen Phone Ltd. (Operator dari Grameen Telecom) dan Sheba Telecom Ltd. untuk jangka waktu 15 tahun. 
 
Grameen Phone Ltd. (GP Ltd.) kemudian memperkenalkan skema untuk menyediakan telepon bergerak kepada wanita pedesaan yang tarifnya disubsidi dalam rangka pemberdayaan masyarakat miskin yang berkolaborasi  dengan Grameen Bank (yang didirikan oleh Prof. Muhammad Yunus) dan telah menjadi kisah kebehasilan baik dibidang telekomunikasi dan pengurang kemisikinan di daerah pedesaan Bangladesh. 
 
Untuk memperkuat kebijakan diatas dan memfasilitasi ketersediaan pelayanan telekomunikasi yang terjangkau, pemerintah Bangladesh menyetujui implementasi dari  Kebijakan Telekomunikasi 2001 (Telecommunication Act of 2001). Dibawah kebijakan ini, sebuah komisi independent yang dinamakan Bangaladesh Telecommunication Regulatory Commission (BTRC) didirikan dan mulai berfungsi pada tanggal  31 Januari 2002. Sebagai Badan Regulator, BTRC menerbitkan lisensi kepada operator dan pengguna telekomunikasi serta diberikan mandat . untuk memfasilitasi pelayanan telekomunikasi dengan kualitas yang bisas diterima pelanggan di semua daerah di Bangladesh. Mandat ini dapat diterjemahkan dengan aktifitas sebagai berikut:
Meningkatkan teledensitas sekurang-kurangnya 10 telephon per 100 penduduk di tahun 2010;
Menyediakan komunikasi telepon disetiap desa pada tahun 2006;
Mempromosikan aplikasi telematika (ICT) untuk mendukung perkembangan sosial ekonomi;
Mengkreasikan lingkungan yang kondusif bagi pelayanan ICT;
Memfasilitasi kerjasama Publik dan Swasta dalam perkembangan ICT; dan
Memfasilitasi aplikasi ICT dalam pengentasan kemiskinan
<iframe width=”600″ height=”450″ src=”http://www.youtube.com/embed/T7c5CDGpFAA” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
Print Friendly, PDF & Email

(Universal Services Obligation/USO): Apakah Kita Dapat Bercermin dari Grameen Telecom?

Restruktrurisasi telekomunikasi  sangatlah problematik. Walaupun kecenderungan liberalisasi dan  privatisasi secara global berkembang, namun pelayanan telekomunikasi di banyak negara berkembang masih didominasi oleh institusi yang sebagian besar atau semuanya dikuasai negara. Pada beberapa negara seperti India, Algeria dan Kamerun; pelayanan telekomunikasi masih menjadi bagian departemen dari negara-negara tersebut. Pada beberapa negara lain seperti Ekuador, Indonesia, Yordania dan Thailand menyelenggarakan pelayanan telekomunikasi semi-independen melalui institusi atau perusahaan milik negara dan perusahaan swasta yang dilindungi hukum. Argentina, Chili dan Meksiko menggunakan organisasi  seperti ini sebelum privatisasi terjadi tahun 1987 dan 1990.   Penyelenggara telekomunikasi yang hanya sebagian tereformasi ini menghambat perkembangan dari pelayanan telekomunikasi. Sebagai contoh, perusahaan milik pemerintah dan penyelenggara telekomunikasi ini kurang mandiri, mempunyai organisasi dan manjemen yang tanggung, dan kekurangan dana investasi. Sebagai tambahan, bentuk organisasi  ini menghambat perkembangan telekomunikasi secara umum.
Sebagai bukti, pemerintah seringkali mengarahkan penyelenggara telekomunikasi untuk mendiskriminasikan daerah miskin atau terpencil yang secara politis tidak berarti. Tambahan lagi, daripada menginvestasikan penghasilan  kepada pemangunan jaringan, operator lebih menyukai membelanjakannya untuk kepentingan lain. Bahkan pada saat sektor swasta memainkan  peran utama pada sektor telekomunikasi, daerah miskin atau terpencil cenderung diabaikan. Adanya struktur biaya pembangunan jaringan, operator telekomunikasi ragu-ragu untuk menginvestasikannya di daerah miskin atau terpencil. Tidak hanya karena biaya yang tinggi, namun juga disebabkan permintaan yang rendah dan tidak menentu dibanding daerah yang menguntungkan atau potensial. 
Meskipun menghadapi hambatan dalam restrukturisasi  industri telekomunikasimya, beberapa negara berkembang telah berhasil tidak hanya membuka kompetisi.  Mereka pun secara bersamaan mencapai kewajiban pelayanan telekomunikasi untuk umum (Universal Services Obligation/USO). Misalnya  pencapaian yang dilakukan oleh Grameen Phone di.Bangladesh.  Mereka  secara komersial telah berhasil melayani pelanggan seluler di daerah urban/pedesaan dan rural/terpencil sebanyak 40 ribu  pelanggan.  Program rintisan dari Grameen Phone bekerja sama dengan pemberi mikro-kredit Grameen Bank melalui anak perusahaan yg dinamakan Grameen Telecom, yang memungkinkan anggota wanitanya memperoleh kredit bergulir untuk berushan di bidang warung telekomunikasi di daerah pedesaan. Proyek pertamanya meliputi 950 Vilage Phone (baca; Telepon Pedesaan) dan memberikan akses kepada 65.000orang. 
Kasus di Bangladesh ini menimbulkan pertanyaan; “Bagaimana model organisasi yang sukses ini dapat diterapkan di negara-negara lain. Apakah solusi unik ini hanya berlaku untuk reformasi telekomunikasi di Bangladesh? Atau apakah hal ini dapat direplikasi pada konteks spesifik dari negara berkembang. Apabila Model Grameen tidak dapat direplikasi seutuhnya, hal apa yang harus diadaptasi untuk memenuhi kondisi di setiap tempat? 
Untuk itu kita perlu mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dimana konteks spesifik suatu negara adalah kritis dalam menentukan kesuksesan di bidang reformasi telekomunikasi. Karena dasar itulah bahwa model bisnis Grameen yang ada di Bangladesh tidak dapat secara langsung direplikasi di negara berkembang lainnya. Untuk bisa dilaksanakan pada konteks yang berbeda, hal ini haruslah memahami hambatan spesifik yang ada di negara tersebut. Bahkan model tersebut harus diubah untuk menyelesaikan hambatan struktural yang spesifik di suatu negara. 
Artikel terkait:
<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/mKCTg8iFPTo” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
Print Friendly, PDF & Email

Konferensi ICBEM2012-Manila: Manajemen Pengetahuan Untuk UKM, Sesuatu atau Perlu?

Pada “2012 International Conference on Business,Entrepreneurship+Management” (ICBEM2012) San Beda Manila,Philippines saya menjadi pembicara dengan topik “Knowledge Management for Small and Medium Enterprises to Win the Competition on the Knowledge Economy Era”. Berikut cuplikannya:
Berbagai permasalahan sering muncul sehingga menghambat pertumbungan dan perkembangan UKM. Permasalahan tersebut datang baik dari luar maupun dari dalam UKM itu sendiri. Salah satu permasalahan dalam lingkungan internal UKM adalah keterbatasan penguasaan pengetahuan. Disamping itu, keberadaan UKM semakin terancam ketika perusahaan-perusahaan besar melalui produk-produk yang berkualitas dan berdaya saing tinggi dengan harga penawaran yang terjangkau memasuki pasar Indonesia. 
Oleh sebab itu diperlukan solusi yang dapat diimplementasi dengan sederhana untuk menghadapi tantangan ini. Salah satu caranya adalah menciptakan daya saing melalui implementasi Knowledge Management pada UKM. Menurut Kosasih dan Budiani, hal ini seiring dengan pendapat Priambada bahwa Knowledge Management dapat meningkatkan kinerja suatu perusahaan melalui budaya saling berbagi pengetahuan.
Secara umum, permasalahan yang sering terjadi pada UKM adalah permodalan, pemasaran, kurangnya pengetahuan dan SDM yang kurang berkualitas. Dalam konteks peningkatan daya saing, penguasaan pengetahuan adalah faktor penting untuk mendongkrak daya saing. Di sinilah kelemahan terbesar UKM. Rendahnya penguasaan pengetahuan pada UKM dipengaruhi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah:
  1. Kurangnya kesadaran dan kemauan untuk menerapkan pengetahuan yang tepat guna,
  2. Keterbatasan modal untuk meningkatkan penguasaan teknologi,
  3. Kurangnya kemampuan untuk memanfaatkan dunia usaha dan
  4. Terbatasnya akses terhadap sumber teknologi dan pengetahuan.
Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi adalah:
  1. Hasil penelitian dan pengembangan yang belum tepat untuk pengembangan UKM, 
  2. Proses alih teknologi pada UKM belum maksimal, 
  3. Keterbatasan publikasi hasil penelitian dan pengembangan dan 
  4. Skema pembiayaan yang masih terbatas dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk UKM
Konsep manajemen pengetahuan (knowledge management) adalah sebuah konsep baru di dunia bisnis yang telah dterapkan berbagai perusahaan besar di dunia, namun juga sudah diadopsi oleh komunitas UKM seperti yang dikelola oleh Grameen. Pada prinsipnya, konsep knowledge management bertujuan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan dengan memperbaiki komunikasi antara seluruh bagian perusahaan dan meningkatkan penguasaan pengetahuan dengan melakukan transfer pengetahuan (knowledge sharing).
Pengetahuan terbagi menjadi dua jenis, yaitu tacit knowledge dan explicit knowledge. Tacit knowledge adalah pengetahuan yang tersimpan dalam otak manusia, misalnya pemikiran, hapalan dan lain-lain. Explicit knowledge adalah pengetahuan yang berada di luar kepala, misalnya buku, jurnal, dokumen dan lain-lain. Konsep knowledge management berusaha untuk memadukan dan mengkombinasikan pengetahun tersebut untuk meningkatkan daya saing…..
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=N6nMeXwBG0s&w=640&h=480]
Print Friendly, PDF & Email

Program Perikatan Banyak Pemangku Kepentingan (Multi-Stakeholder Engagements Program)

Perencanaan  dan penggunaan komunikasi yang sistematis  adalah dasar untuk menciptakan kesadaran, penumbuhan konsensus serta keikutsertaan di dalam proses-proses  dari perubahan dan pengembangan, pembuatan keputusan-keputusan  dan memecahkan konflik-konflik. Komunikasi pemangku kepentingan yang baik berhasil meningkatkan partisipasi  dan implementasi proyek yang  pada akhirnya menghemat waktu dan uang.

Program Perikatan Banyak Pemangku Kepentingan (Multi-Stakeholder Engagements Program)  menemukan proyek yang efektif itu memerlukan  pemahaman lingkungan-lingkungan regional dan lokal, kultur orang-orang yang terlibat, dan komitmen dari  pemangku kepentingan. Apapun proyeknya, baik itu suatu instalasi pembangkit tenaga dengan panas bumi atau listrik tenaga air,  suatu program prasarana telekomunikasi  pedesaan,  atau pembangunan prasarana pengairan; bilamana mengabaikan manajemen hubungan pemangku kepentingan akan meningkatkan biaya secara signifikan, keterlambatan proyek atau hasil yang tidak memuaskan bagi semua atau sebagian besar pemangku kepentingan.

        Khusus untuk perencanaan pembangunan prasarana telekomunikasi  pedesaan, perlu dipikirkan pertanyaan-pertanyaan strategis dan hipotesis sebagai berikut:

Ø  Adakah permintaan yang cukup untuk investasi?

Diperlukan penilaian yang terperinci dari persyaratan-persyaratan penyebaran prasarananya, dan memproyeksikan pendapatan di suatu komunitas

Ø  Ke mana jasa telekomunikasi tersebut diperlukan?

Penentuan lokasi-lokasi anggota masyarakat yang diinginkan untuk akses telekomunikasi dan penentuan pemenuhan  (coverage) telekomunikasi  pedesaan yang optimum.

Ø  Bagaimana caranya menyebarkan model bisnis ini agar dapat bertahan?

Penentuan  “kasus bisnis” untuk investasi telekomunikasi pedesaan  dan keterlibatan pemangku kepentingan yang mendukung  keuangan  jasa telekomunikasi pedesaan.

 

        Adapun proses dari Program Perikatan Banyak Pemangku Kepentingan (Multi-Stakeholder Engagements Program)  adalah sebagai berikut:

Ø  Penilaian Pangsa Pasar dengan Cepat (Rapid Market Appraisals/RMA)

Ø  Pemetaan Masyarakat atau Komunitas (Community Mapping/CM)

Ø  Pemetaan Komunikasi Pemangku Kepentingan (Stakeholder Communication Mapping/SCM)

Ø  Pemodelan/Simulasi Keuangan (Financial Modeling/FM)

Ø  Perencanaan Pemangku Kepentingan (Multi-Stakeholder Planning/MSP)

Ø  Pemetaan  Sistem Informasi Greografis (GIS Mapping/GISM).

 

Yang dimaksud dengan Penilaian Pangsa Pasar dengan Cepat (Rapid Market Appraisals) mempunyai tujuan menyediakan penilaian yang terperinci dari persyaratan-persyaratan penyebaran sarana telekomuinkasi pedesaan di suatu komunitas yang membutuhkan. Sedangkan teknik yang yang digunakan adalah:

Ø  Daftar wawancara survei kemauan untuk membayar dari calon pelanggan  dan contoh kerangka kerja untuk telekomunikasi daerah pedesaan.

Ø  Penggunaan dari “keranjang” dari indikator ekonomi-sosial yang terlihat untuk menentukan vitalitas kemampuan ekonomi masyarakat terhadap layanan telekomunikasi.

 

Objektif yang diinginkan adalah:

Ø  Memperoleh rekomendasi dari proporsi pembangunan telekomunikasi yang akan dibangun seperti jenis-jenis layanan pada setiap komunitas.

Ø  Memperoleh perkiraan detil dari penghasilan per-jaringan (kemampuan serta kemauan untuk membayar dan skenario trafik pembicaraan).

 

Pemetaan Masyarakat atau Komunitas (Community Mapping) mempunyai tujuan menentukan lokasi anggota komunitas yang membutuhkan akses telekomunikasi. Teknik yang digunakan  adalah penelitian pemetaan partisipasi dari anggota komunitas pedesaan pada titik pemasaran dan pertemuan tertentu. Objektifnya adalah penentuan lokasi utama untuk pelayanan telekomunikasi yang memberikan keuntungan dan akses komunitas maksimal.

Pemetaan Komunikasi Pemangku Kepentingan (Stakeholder Communication Mapping) mempunyai tujuan menentukan pola komunikasi yang sudah ada dan mekanisme yang digunakan oleh pengguna potensial dari sistem telekomunikasi pedesaan. Adapun teknik yang digunakan adalah:

Ø  Identifikasi dari pemangku kepentingan utama di pedesaan (yaitu: lembaga keuangan, pemasok dari produk rumahtangga, pemasok produk pertanian,  institusi komersial yang penting,  kantor pemerintah, sekolah dan sebagainya).

Ø  Wawancara kelompok terfokus (Focus Group) untuk mengidentifikasi pola komunikasi yang sudah ada dan peningkatan yang diinginkan.

Objektifnya adalah identifikasi  pelanggan utama untuk pelayanan telekomunikasi pedesaan dan strategi untuk melayani konsumen tersebut secara efektif.

Pemodelan/Simulasi Keuangan (Financial Modeling)  mempunyai tujuan menentukan “kasus bisnis” dari investasi telekomunikasi pedesaan. Tekniknya adalah mengkombinasikan RMA, SCM dan CM untuk menghasilkan skenario pengembalian investasi (return on investment/ROI) untuk beberapa tingkat investasi infrastruktur yang berbeda. Objektifnya adalah mengkreasi “kasus bisnis”  investasi telekomunikasi pedesaan yang akan mendorong investasi sektor publik dan pribad
i.

Perencanaan Pemangku Kepentingan (Multi-Stakeholder Planning/MSP) tujuannya adalah mengikat pemangku kepentingan utama dalam mendukung pelayanan telekomunikasi yang secara finansial  dapat bertahan. Tekniknya adalah pemangku kepentingan utama yang diidentifikasi  dalam CM  ambil bagian dalam rapat kerja (workshop) yang didisain untuk meminta masukan, dukungan dan  campur tangan mereka untuk pelayanan nilai tambah yang menambah pendapatan telekomunikasi pedesaan (conto: pelayanan informasi kesehatan atau pertanian). Objektifnya adalah memungkinkan  pemangku kepentingan untuk mengintegrasikan akses telekomunikasi yang telah ditingkatkan pada aktifitas komersial atau pelayanan mereka.

Pemetaan  Sistem Informasi Greografis (GIS Mapping/GISM) mempunyai tujuan menentukan cakupan telekomunikasi pedesaan yang optimal. Tekniknya adalah mengkombinasikan pemetaan GIS dari data RMA, cakupan yang dibutuhkan serta rencana pemakaian dari pemangku kepentingan utama, dan koordinat “Global Positioning Satellites/GPS” dari pemetaan komunitas. Objektifnya adalah peta GIS berorientasi pasar yang dengan mudah digunakan oleh ahli infrastruktur telekomunikasi untuk menggambarkan cakupan sistem telekomunikasi (terutama cakupan “wireless”).

Program Perikatan Banyak Pemangku Kepentingan (Multi-Stakeholder Engagements Program/MSE) mengkombinasikan analisis bisnis dengan manfaat pengembangan telekomunikasi pedesaan yang hasilnya:

Ø  Skenario saling menguntungkan antara investor, komunitas pedesaan, dan pemangku kepentingan di pedesaan.

Ø  Mengkreasi manfaat untuk pengembangan pedesaan sebagai berikut:

o    Kerja sama (Partnerships)

o    Aksesibilitas pelayanan dan pengetahuan untuk masyarakat pedesaan.

o    Teknologi komunikasi dan Akses konektifitas

o    Kelangsungan keuangan (Financial sustainability)

Print Friendly, PDF & Email

Studi Kasus: "Program Telepon Desa Grameen Telecom" (Dr. Don Richardson, Ricardo Ramirez & Moinul Haq)

 

a.       Judul: 

        Grameen Telecom’s Village Phone Programme: A Multi-Media Case Study 

b.       Penulis:

Dr. Don Richardson, Ricardo Ramirez & Moinul Haq

c.        Perguruan Tinggi/Institusi: 

Telecommons Development Group(TDG)

d.       Variabel Yang Diteliti:

·         Prakarsa dan pengoperasian Village Phone, serta dampaknya dalam pengentasan kemiskinan,

·         Model bisnis untuk telekomunikasi pedesaan di Bangladesh,

·         Analisa dari konteks jenis kelamin dan penggunaan telepon di pedesaan Bangladesh.  

e.        Uraian Singkat: 

Dalam Studi kasus ini, Telecommons Development Group(TDG) melakukan analisa yang mendalam terhadap Model Bisnis Grameen Telecom. Laporan ini juga berisi daftar pustaka yang luas dengan sambungan hiperteks untuk mengunduh dokumen dan laporan-laporan, termasuk laporan riset sebelumnya yang diprakarsai Village Phone oleh Prof. Abdul Bayes. Laporan ini disertai juga dengan video, termasuk satu wawancara dengan Muhammad Yunus, Direktur Utama GrameenBank.

Studi ini diselenggarakan oleh Perencanaan Strategis &Divisi Kebijakan Proyek Pengentasan Kemiskinan Cabang Asia, Agen Pengembangan Internasional Kanada (Strategic Planning & Policy Division of the Asia Branch Poverty Reduction Project, Canadian International Development Agency), sebagai suatu studi kasus untuk menyelidiki dampak dari program GrameenPhone dan Grameen Telecom dalam pemberian kredit mikro untuk pelayanan telepon selular dalam pengentasan kemiskinan dan situasi ekonomi-sosial operator wanita  “Village Phone”. 

 “Village Phone” dari Grameen Telecom merupakan proyek percobaan yang sampai tahun 2000 melibatkan 950 Village Phones yang menyediakan akses telepon kepada lebih dari 65,000 orang. Wanita-wanita desa/kampung mengakses kredit mikro untuk memperoleh pelayanan telepon selular GSM dan sesudah itu menjual lagi pelayanan tersebut di desa/kampung mereka. Grameen Telecom memperkirakan  bahwa ketika programnya selesai, akan ada 40,000 operator “Village Phone” dengan  laba bersih $24 juta USD tiap tahun. 

Hasil Penelitian Utama (Key Findings):

1.       Program Village Phone muncul sebagai solusi teknis terbaik yang tersedia untuk akses telekomunikasi universal pedesaan sesuai dengan keadaan Regulasi Telekomunikasi Pemangku kepentingan dan kondisi ekonomi saat itu. Program “Village Phone” adalah suatu solusi organisatoris dan teknis untuk akses telekomunikasi pedesaan yang dibutuhkan oleh suatu lingkungan dengan regulasi telekomunikasi yang tidak mendukung
bagi percepatan infrastruktur telekomunikasi pedesaan.

2.       Konsep dari “akses yang universal” bukanlah sesuatu yang netral terhadap gender. Di dalam kasus dari Pemangku kepentingan ini, jenis kelamin dari operator “Village Phone” dan penempatan secara fisik dari telepon di dalam suatu desa/kampung yang tersegmentasi secara gender dapat menghalangi atau memperbaiki akses wanita-wanita untuk menelpon karena alasan religius. Biasanya, satu lokasi operator wanita akan menyediakan suatu ruang yang bisa diterima untuk wanita-wanita desa/kampung yang lain untuk mengakses telepon. Dari sudut pandang pendapatan dan laba, adalah penting untuk memastikan bahwa “Village Phone” secara penuh dapat diakses oleh seluruh populasi desa/kampung,  jika 50% dari pemakai berdasarkan gender menghadapi rintangan-rintangan untuk menelpon, maka suatu arus pendapatan yang penting telah lenyap.

3.       Village Phone bertindak sebagai suatu instrumen yang tangguh untuk mengurangi resiko  dalam pengiriman uang dari para anggota keluarga para pekerja di Dhaka City dan yang bekerja di luar negeri, serta untuk membantu orang desa di dalam memperoleh informasi akurat tentang kurs valuta asing. Mengirim uang tunai dari suatu negara Timur Tengah ke suatu desa/kampung di Banglades adalah penuh resiko; pengiriman uang seperti itu adlah faktor pokok yang membuat laku/laris untuk pemakaian telepon. Mengurangi resiko dari pengiriman uang dari para pekerja di luar negeri mempunyai implikasi penting untuk penduduk rumah tangga dan pedesaan di pemangku kepentingan. Di tingkatan yang mikro, pengiriman uang cenderung untuk digunakan untuk biaya rumah tangga sehari-hari seperti makanan, pakaian dan pelayanan kesehatan. Pengiriman uang seperti itu satu faktor yang penting dalam memenuhi penghidupan rumah tangga, dan dapat meningkatkan porsi yang penting dari penghasilan rumah tangga. Begitu penghidupan dipenuhi, pengiriman uang cenderung untuk digunakan untuk “investasi-investasi produktif,” atau untuk uang tabungan. 

4.       Panggilan-panggilan telepon kepada keluarga dan para teman sering melibatkan pertukaran informasi tentang harga pasar, daftar biaya pengiriman barang-barang,  tren pasar dan pertukaran valuta. Hal ini  membuat “Village Phone” satu alat yang penting untuk membuka peluang usaha rumah tangga dalam mengambil informasi pasar untuk meningkatkat keuntungan dan mengurangi biaya produktif.

5.       Pelayanan telepon pedesaan di Pemangku kepentingan adalah sangat menguntungkan karena regulasi yang ada sekarang (ketiadaan interkoneksi menjadi penghalang yang paling besar), sehingga operator telekomunikasi tidak mampu untuk mengimbangi permintaan untuk jasa telekomunikasi antar operator. Telepon-telepon di dalam program Grameen Telecom Village Phone menghasilkan tiga kali pendapatan untuk pelayanan selular pedesaan ($100/bulan lawan $30/bulan). Bahkan, satu pesaing operator telekomunikasi di Pemangku kepentingan melaporkan mempunyai pendapatan dari 12,000 sama dengan pendapatan dari 1,500 “Village Phone”.

6.       Teknologi telepon genggam GSM adalah suatu solusi yang mahal untuk akses  universal di daerah pedesaan. Liputan selular ini terbatas untuk daerah pedesaan serta hanya menguntungkan di bawah regulasi telekomunikasi yang sehat – ketika lingkungan yang regulasi diperbaiki, teknologi selular tidak akan menjadi alat paling efisien dan sehat dalam menyediakan servis yang universal. GSM teknologi telepon genggam juga menempatkan tarif-tarif jauh lebih tinggi pada para pemakai telepon pedesaan dibanding “Wireless Local Loop” (WLL) teknologi. Tanpa perbaikan-perbaikan pada regulasi, teknologi selular adalah suatu solusi yang praktis. Juga, teknologi selular sekarang ini bukan suatu opsi yang sehat untuk hubungan email/Internet/data yang murah. WLL dan opsi lain dapat menyediakan secara luas dan jauh lebih baik dengan ongkos pelayanan lebih murah.

 Unsur-unsur yang dapat direplikasi:

1.       Pengalaman Grameen Telecom di dalam perencanaan bisnisnya memungkinkan kami untuk menyarankan satu solusi potensial menarik operator telekomunikasi dalam melayani daerah pedesaan. Targetnya adalah melayani: daerah yang tak dapat dilayani, kurang terlayani dan menyediakan dukungan untuk pelayanan informasi  riset pasar  yang bermutu. Riset pasar akan membantu ke arah pembuktian kasus bisnis, menarik modal investasi, dan mengurangi kendala  dari pemodal-pemodal dan operator.

2.      Poin-poin pengalaman Grameen Telecom menunjukkan kepada suatu solusi yang potensial untuk operator telekomunikasi, dalam  menghadapi tantangan mengatur “last mile” dari operasi telekomunikasi pedesaan. Hal ini dihubungkan dengan organisasi-organisasi kredit mikro yang sukses berdampingan dengan operator telekomunikasi untuk memperluas liputan telepon umum publik (Public Call Office/PCO) di daerah pedesaan. Pinjaman-pinjaman mikro kepada wirausaha pedesaan (terutama yang ditargetkan kepada kalangan wanita dan kaum muda) dapat memungkinkan wirausaha untuk menyelenggarakan telepon umum publik (Public Call Office/PCO) yang menyediakan bidang jasa telepon, fax, email dan bahkan inter
net, fotokopi dan jasa komputer pengolah kata. Suatu program waralaba  jenis ini akan juga menetapkan konsistensi pelayanan ke semua daerah yang pada gilirannya mendukung pengembangan sosial dan ekonomi lokal.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=4VZ9i8NrcsY&w=640&h=420]

Print Friendly, PDF & Email