Selaksa Rasa Di Hari Selasa: “Workshop e-Learning”, SIM “Human Capital” dan “Solve Inventory Problem”

 
Hari ini “Full Speed” dalam beraktifitas.
 
Mulai menjadi pemberi materi “New Role of HRM on Human Capital” dan “People Development by Knowledge Management and eLearning” untuk “Workshop eLearning for Human Capital Development”.
 
 
Dilanjutkan dengan persiapan “Soft-Launch” Implementasi Sistem Informasi Manajemen (SIM) “Human Capital”.
 
 
Diakhiri dengan “Solve Inventory Problem”.
 
Print Friendly, PDF & Email

@EduLiberator Bagaimana Kita serta Bangsa Palestina Memandang Betapa Pentingnya Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

Sebagai salah satu wujud komitmen Pemerintah Indonesia untuk memberikan bantuan peningkatan kapasitas (capacity building) bagi 1000 orang Palestina dalam kurun waktu 2008-2013, Direktorat Kerja Sama Teknik, Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kemlu RI mengadakan kembali kegiatan pelatihan untuk Palestina.

Untuk itu tanggal 19-27 September  2012 diselenggarakan “International Training Program on Information and Communication Technology Support for Palestinian SMEs Development. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Bandung, 19-27 September 2012, bekerja sama dengan COMLABS dan  Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan, Institut Teknologi Bandung (LPIK ITB).

Acara pelatihan dibuka secara resmi oleh Duta Besar Suprapto Martosetomo, Staf Ahli Bidang Kelembagaan Kemlu RI (19/09/12). Dalam sambutannya, Bapak Duta Besar Suprapto, menyampaikan bahwa kemandirian bangsa Palestina merupakan salah satu kunci utama bagi Palestina untuk mencapai kemerdekaan. 

Saya sendiri memberikan pelatihan untuk topik “Knowledge Managament for SME” dan “e-Learning for SME” yang diharapkan menjadi bekal  kemandirian ekonomi yang harus dibangun agar Palestina memiliki masa depan yang berkelanjutan. Salah satunya adalah dengan mengembangkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mengingat perannya yang signifikan dalam menopang pembangunan ekonomi. 

UKM memperluas lapangan pekerjaan, membuka peluang yang lebih baik, dan meningkatkan potensi ekonomi lokal. Lebih lanjut Duta Besar Suprapto menyampaikan bahwa disaat krisis ekonomi pada waktu lalu, Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia terbukti tangguh menghadapi krisis dan menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi. Melalui pelatihan seperti ini, Indonesia ingin membagi pengalaman dan kapasitasnya di bidang ICT guna membantu pengembangan UKM di Palestina.

Sejalan dengan hal tersebut, Duta Besar Palestina untuk Indonesia menyampaikan bahwa terdapat berbagai program pelatihan peningkatan kapasitas untuk Palestina. Tidak hanya terbatas dalam program yang dilaksanakan oleh Direktorat Kerja Sama Teknik, tetapi juga dalam kerangka New Asia Africa Strategic Partnership (NAASP). 

 

Print Friendly, PDF & Email

Become Trainer of International Training Program on ICT Support for Palestinian SMEs Development

 
As part of Indonesia’s commitment to support Palestine in building its capacity development by providing trainings for 1000 Palestinians (2008 – 2013), Directorate of Technical Cooperation, Directorate General of Information and Public Diplomacy, Ministry of Foreign Affairs, is holding “International Training Program on Information and Communication Technology Support for Palestinian SMEs Development, Bandung, from 19 – 27 September 2012.
 
It is organized in cooperation with the Institute for Innovation and Entrepreneurship Development, Bandung Institute of Technology (LPIK ITB).
 
Ambassador Suprapto Martosetomo, Special Advisor to the Minister on Institutional Relations, the Ministry of Foreign Affairs in his Opening Remarks (19/09/12) underlined the importance of independent Palestine not only politically, but also in social-economic development so that the future of Palestine state will be viable and enduring.  “One of the concrete ways to support economic development is through the significant role of small and medium enterprises (SMEs).
 
 
SMEs create more employment, provide better opportunity and empower local economic potentials, and prove to be able to survive and remain to be the back bone of economic development during economic crises. And Indonesia has valuable experience to share on this with our Palestine brother in today’s training in Bandung, the city of scholar, fashion, cuisine”, said Ambassador Suprapto.
 
In line with that, Ambassador of the State of Palestine in his remarks mentioned that the program of Capacity Building for Palestine by Indonesian Government are various and it is not only limited on the program done by Technical Cooperation Directorate, but also in the framework of New Asia Africa Strategic Partnership (NAASP).
 
For that, the Ambassador conveyed his grateful acknowledgment to the government and the people of Indonesia for their support on the independence and the development of Palestine and wished that in the future Palestine would be able to do the same way as Indonesian does. The Ambassador also encouraged the participants to learn how Indonesian’s SMEs are connected and being competitive. 
 
 
Meanwhile, the Director for Technical Cooperation reported that the training program is one of numerous training programs for Palestine conducted by the Directorate of Technical Cooperation of the Indonesian Foreign Ministry. In the period of 2008-2011 the Directorate has launched 7 capacity building programs. 
 
In the current program, there are 7 Palestinians taking part on the training.  It will make the total number of Palestinians trained under the Directorate of Technical Cooperation programs becomes 42 persons entirely from 2008-2012.
 
For Palestine, The Directorate has designed several scenarios of trainings and other capacity building programs. Many discussions and meetings have been organized. The directorate also plans to hold trainings in Ramallah, Palestine, in order to establish more effective trainings with larger number of participants.
 
 
During the training, the participants will have the opportunity to enrich their knowledge, advance their skills and upgrade their competency particularly related to information and communication technology on SMEs sector.
 
The participants will acquire theoretical, technical and practical courses from number of exceptional speakers, practitioners and experts. The participants are also arranged to have opportunity to visit Museum of Asia Africa in Bandung, Saung Angklung Udjo, and other potential markets from SMEs actors in Bandung.
 
“It is hoped that the training will not only be merely one way education session, but will also be the forum for exchanging ideas and experiences between Indonesia and Palestine in order to build synergies and strengthen cooperation in SMEs development”, said Director Siti Nugraha Mauludiah ended her official report.
 
 
Print Friendly, PDF & Email

Optimalisasi #HumanCapitalManagement (HCM) Melalui “Knowledge Management & e-Learning”

Pendahuluan

Dalam bukunya “HRM in Knowledge Economy”, Mark Lengnick-Hall dan Cynthia Lengnick-Hall mengatakan belakangan ini fungsi manajemen sumber daya manusia (SDM) di banyak organisasi bersifat dangkal. Mereka cenderung hanya berusaha melakukan pekerjaan rutin  secara lebih baik dan efisien daripada mengevaluasi peran dan kontribusi mereka dalam rangka menyongsong era bisnis baru menuju Human Capital Management (HCM).


Seiring dengan globalisasi, information-based, kemajuan teknologi, dan persaingan ketat, manajemen SDM dituntut meningkatkan kemampuan SDM-nya. Manajemen SDM akan menghadapi kewajiban-kewajiban baru di era bisnis masa kini, yaitu:

·         Membangun Kapabilitas Strategis

Organisasi pada era masa kini perlu membangun kapabilitas strategis, yaitu kapasitas untuk membuat value berdasarkan aset-aset intangible. Yang dimaksud dengan aset intangible adalah aset yang tidak terlihat, sulit dihitung, tidak ada dalam akunting, dan harus dikembangkan dari waktu ke waktu. Misalnya: pengetahuan teknologi, kesetiaan customer, proses bisnis dan lain-lain. Intangible aset inilah yang akan menentukan apakah perusahaan akan berhasil atau gagal.

Beberapa karakteristik perusahaan yang sudah mempunyai kapabilitas strategis adalah: kompetensi bisnis yang tinggi, kemampuan untuk menganalisis kondisi pasar, kemampuan mentransfer skill secara cepat dan akurat di perusahaan, dan lain-lain. Intinya, kapabilitas strategis (Intellectual Capital) adalah kesiapan pada saat ini dan kemampuan beradaptasi pada masa depan.

 

Kapabilitas strategis (Intelectual Capital) diperoleh melalui proses penciptaan, pertukaran, dan mengumpulkan pengetahuan yang membangun kapabilitas individu dan organisasi untuk memberi hasil yang terbaik bagi pelanggan. Kapabilitas strategis terdiri dari tiga komponen yang terkait dengan SDM, yaitu: human capital (skill dan kompetensi individu/organisasi), structural capital (arsitektur organisasi dan proses manajerial), dan relationship capital (hubungan interpersonal di organisasi). Manajemen SDM harus berkontribusi dengan menciptakan dan memelihara ketiga komponen kapabilitas strategis ini melalui program, praktek, dan kebijakan yang mendukung.

·         Memperluas Batas

Orang sering berpikir bahwa tugas manajemen SDM adalah merekrut, mempromosikan, melatih, memecat dan seterusnya serta fungsi manajemen SDM adalah hanya merupakan organisasi tunggal. Jadi menurut pandangan tersebut, manajemen SDM adalah fungsi internal perusahaan. Jarang orang berpikir bahwa manajemen SDM (termasuk program, praktek, dan kebijakannya) bisa diterapkan ke supplier atau distributor, bahkan ke pelanggan.


Hal ini akan menjadi keharusan dalam perkembangan era ekonomi pengetahuan (knowledge economy). Dengan memperluas batas dari perusahaan ke supplier, distibutor, dan pelanggan, manajemen SDM bisa mempunyai pengaruh yang lebih dan signifikan di organisasi. Pada dasarnya, dengan memperluas batas, manajemen SDM menggunakan kemampuan mereka untuk membantu organisasi memberi pengaruh ke pelanggan, supplier, dan seluruh pegawai yang menjalankan aktivitas organisasi.

·         Mengelola Peran Baru

Berdasarkan pandangan lama, peran manajemen SDM adalah menarik dan menyeleksi calon pegawai, mengembangkan manajemen performansi dan sistem kompensasi untuk menyelaraskan tingkah laku pegawai dengan tujuan organisasi, dan mengembangkan dan me-retensi pegawai sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Peran manajemen SDM seperti itu dalam era ekonomi pengetahuan (Knowledge Economy) tidaklah cukup. Bukan berarti manajemen SDM tidak akan melakukan fungsi-fungsi tersebut, peran ini tetap akan dilakukan. Bagaimanapun, untuk mengelola SDM di masa depan, manajemen SDM perlu mengadopsi peran baru untuk menghadapi tantangan.

Tetap bertahan di fungsional birokrasi semata akan menyebabkan fungsi manajemen SDM menjadi kurang efektif dalam organisasi. Kegagalan untuk berubah sesuai dengan tuntutan ekonomi akan menjadikan manajemen SDM kurang penting, di mana tantangan-tantangan baru seperti manajemen pengetahuan (knowledge management) dan pengembangan SDM akan diperankan di tempat lain dalam organisasi. Tetapi hal ini tidak perlu terjadi. Pada kenyataannya, SDM adalah sumber logis dari tantangan-tantangan baru ini. 

Bagaimanapun, untuk menjadi bagian dari solusi dan bukan menjadi kendala, manajemen SDM harus keluar dari birokrasi masa lalu. Ini memerlukan pergeseran paradigma bahwa manajemen SDM tidak hanya sekadar menjalankan fungsi dan proses, tetapi lebih kepada peran.

Definisi peran dalam organisasi adalah tanggung jawab, hubungan, dan area kontribusi, serta harapan-harapan. Peran bisa dianalogikan sebagai pernyataan visi organisasi. Dengan mengelola peran, manajemen SDM memberi kontribusi lebih untuk kesuksesan organisasi. Ini berarti paradigma manajemen SDM telah berubah dari fungsi dan proses menjadi hasil dan pencapaian.


“KNOWLEDGE MANAGEMENT” di Era Ekonomi Berbasis Pengetahuan

Perusahaan  merupakan  kolaborasi  antara  aset  tangible  dan  intangible dalam mencapai tujuan. Aset tangible    perusahaan dapat berupa berupa “Land, Labour and  Capital”.  Aset  tangible ini  mudah  dikembangkan  dengan meningkatkan kuantitas yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Aset intangible perusahaan  terintegrasi  melalui  labour  yaitu  dalam  proses  regenerasi  melalui sharing knowledge.

Dewasa ini adalah era knowledge based economy, di mana kekuatan inti suatu perusahaan terletak pada human capital. Persaingan antar perusahaan yang semakin  kompetitif  memunculkan  konsep  industri  yang  padat  pengetahuan dengan  menuntut  ketersediaan  knowledge  worker  dalam  jumlah  besar  untuk mendukung  kemajuan  suatu  perusahaan.  Human  capital  yang  sarat  akan pengetahuan ini memberikan nilai tambah dan meningkatkan produktivitas yang jauh lebih signifikan daripada faktor material seperti lahan atau modal semata.

·         Manfaat Pengetahuan

Francis Bacon pada abad ke – 15 mengungkapkan bahwa “knowledge is a power”. Bill Gates membuktikan kekuatan ilmu pengetahuan tersebut pada abad ke  –  20 melalui kemunculan Microsoft. Lompatan besar dalam knowledge ini mendongkrak kebangkitan teknologi informasi seperti Intel, IBM, Cisco, Lucent, dan Dell. Peter F. Drucker membenarkan pentingnya knowledge yang membawa perubahan besar pada kemajuan dunia modern.

Teori ekonomi modern yang digagas Paul Romer imendukung asumsi mengenai perlunya lembaga dan kebijakan negara memanfaatkan sains, teknologi, dan  inovasi  untuk  mendorong  economic  growth.  Model  Romer  dan  aplikasi empirisnya  menunjukkan  bahwa  inovasi  dan  adopsi  teknologi  pada  dasarnya melekat  di  dalam  pertumbuhan  ekonomi  yang  disebabkan  oleh  kombinasi investasi dalam bidang sains, teknologi, inovasi serta kebijakan yang padu.

Modal intelektual dapat bermanfaat melalui tiga perspektif,  yaitu:  manusia,  struktural,  dan  relasi.  Manfaat  knowledge  dalam  perspektif manusia adalah implicit knowledge yang mencakup skill (kompetensi dan keahlian seseorang dalam suatu bidang khusus) dan attitude (kejujuran, tanggung jawab, visioner,  disiplin,  kooperatif,  ulet  dan  tidak  mudah  menyerah).  Manfaat knowledge   dalam   perspektif   struktural   berupa   explicit   knowledge   yang menunjukkan  proses (sistem  kerja,  manajemen,  korporat,  komputerisasi  dan enterprising  ) serta budaya yang menjunjung tinggi etika. Manfaat knowledge management  dalam  perspektif  relasi  adalah  meningkatkan  kerjasama  antar jaringan, reputasi (pengakuan), dan customer capital (mengkomunikasikan ilmu pengetahuan dengan baik melalui lembaga pendidikan, birokrat, dan industri).

·         Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management)

Knowledge  Management  adalah  merupakan  proses  sistematis  untuk menemukan, memilih, mengelola, menyaring dan menyajikan informasi dalam suatu  cara  yang  dapat  meningkatkan  pengetahuan  individu  dalam  suatu lingkungan. Knowledge management memungkinkan penciptaan,pencapaian dan penggunaan segala macam knowledge untuk mencapai tujuan bisnis.

Knowledge Management adalah pengelolaan pengetahuan organisasi untuk menciptakan nilai dan menghasilkan keunggulan bersaing atau kinerja prima. Melalui knowledge management, organisasi mengidentifikasikan pengetahuannya, lantas memanfaatkannya guna meningkatkan kinerja dan menghasilkan berbagai inovasi. Guna memperoleh knowledge management sebesar-besarnya, organisasi juga aktif mengidentifikasi dan mengakuisisi pengetahuan berkualitas yang ada di lingkungan eksternal organisasi.

Knowledge  management  dikelompokkan  ke  dalam  empat  arahan  yaitu pertama, sebagai pemrosesan informasi organisasi  (organizational information processing);  kedua,  inteligen  bisnis (business  intelligence);  ketiga,  kognisi organisasi (organizational cognition), dan keempat, pengembangan perusahaan (organizational development).

Peranan   knowledge   management   dapat   dilihat   dari   penggunaan pengetahuan  sebagai  basis  melahirkan  inovasi  juga  landasan  meningkatkan responsivitas  terhadap  kebutuhan  pelanggan  dan  stakeholders.  Selain  itu, pengetahuan juga menjadi basis yang meningkatkan produktivitas dan kompetensi karyawan  yang  telah  diberi  tanggung  jawab.  Secara  generik,  knowledge management dapat dipahami melalui aktivitasnya, yakni mengembangkan dan mempertahankan dinamika serta daya saing perusahaan yang bertumpu kepada sumber daya pengetahuan (knowledge assets). Jadi, sebenarnya, faktor intrinsik perbedaan kinerja antara perusahaan tadi adalah pengetahuan.

Para  pelaku  knowledge  management  cenderung  menggunakan  metode dalam menganalisis suatu proses, keadaan, dan aktivitas bisnis, di mana dalam proses analisis tersebut terdapat siklus atau aliran pengetahuan (knowledge flow). Pada akhirnya, mengatur suatu pengetahuan adalah suatu kebiasaan atau habit yang perlu ditumbuhkan.

 

“E-LEARNING” SEBAGAI SARANA PEMBELAJARAN ORGANISASI (LEARNING ORGANIZATION)

Modal manusia (Human Capital) menjadi sumber utama nilai ekonomi dimana pendidikan dan pelatihan menjadi “upaya” seumur hidup bagi jutaan pekerja (Stokes, 2003; Urdan & Weggen, 2000). Hal ini karena keberhasilan usaha lebih tergantung pada kinerja karyawan berkualitas tinggi, yang pada gilirannya memerlukan pelatihan berkualitas tinggi. Kemajuan teknologi informasi dan hambatan perdagangan yang tidak ada lagi, memfasilitasi bisnis berkembang di seluruh dunia.

Solusi pendidikan dan pelatihan berbasis teknologi yang berkembang harus mengantisipasi kebutuhan perusahaan secara global. Adalah e-Learning dimana tenaga kerja saat ini dapat memproses informasi pendidikan dan pelatihan lebih dalam dengan jumlah waktu yang lebih singkat.

 

Hal ini disebabkan produk-produk baru dan jasa muncul dengan cepat. Siklus produksi dan rentang hidup produk yang semakin singkat, menjadikan informasi dan pelatihan cepat menjadi usang. Ada urgensi pelatihan dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan lebih cepat dan efisien kapanpun dan dimanapun diperlukan. Dalam era produksi “just-in-time”, pelatihan yang tepat waktu dan mutu menjadi elemen penting untuk keberhasilan organisasi (Rosenberg, 2001; Urdan & Weggen, 2000).

Tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi serta skill memadai untuk menunjang perusahaan adalah maksud disediakannya sistem e-learning di korporat. SDM adalah faktor utama keberhasilan perusahaan untuk merealisasikan visi dan misinya. Untuk itu SDM perlu dibangun. Salah satu cara membangunnya adalah mengimplementasikan sistem e-learning.

Supaya implementasi e-learning bisa berjalan sesuai harapan, harus dibuat kerangka strategi implementasinya. Dalam hal tersebut, strategi adalah sekumpulan aksi-aksi terintegrasi yang diarahkan untuk menambah atau meningkatkan kemampuan serta kekuatan enterprise relatif terhadap kompetitor (Porter, 2000).

Manajemen Strategi e-Learning dan Knowledge Management Menuju SDM Kompetitif

Tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi serta skill memadai untuk menunjang perusahaan adalah maksud disediakannya sistem e-learning di korporat. SDM adalah faktor utama keberhasilan perusahaan untuk merealisasikan visi dan misinya. Untuk itu SDM perlu dibangun. Salah satu cara membangunnya adalah mengimplementasikan sistem e-learning dan Knowledge Management.

Supaya implementasi bisa berjalan sesuai harapan, harus dibuat kerangka strategi implementasinya. Dalam hal tersebut, strategi adalah sekumpulan aksi-aksi terintegrasi yang diarahkan untuk menambah atau meningkatkan kemampuan serta kekuatan enterprise relatif terhadap kompetitor (Porter, 2000).

Tanpa strategi, seorang implementor e-learning dan Knowledge Management tidak akan memiliki hal-hal berikut:

·         Tidak memiliki resep untuk melakukan implementasi,

·         Tidak memiliki roadmap untuk keunggulan kompetitif,

·         Tidak memiliki game plan untuk memuaskan stakeholder atau mencapai goal kinerja.

Tiga proses yang mendukung penetapan suatu strategi :

1.       Pemikiran strategis : kreatif, pandangan entrepreneur,

2.       Perencanaan strategis : sistematis, komprehensif, analisis untuk membuat rencana/tindakan,

3.       Pengambilan keputusan: reaksi efektif terhadap peluang dan ancaman yang tidak dikehendaki;

Kaitannya dengan strategi, peranan sistem teknologi informasi atau sistem informasi, IT/IS adalah adalah untuk menerapkan strategi yang dipilih dan juga sebagai enabler untuk strategi bisnis baru atau strategi yang hanya bisa diterapkan dengan alat bantu teknologi informasi.

Lima Langkah Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

Berikut adalah tabel lima tugas manajemen strategi untuk e-learning dan Knowledge Management:

Task1

Task2

Task3

Task4

Task5

Membuat visi strategis dan misi bisnis

Menetapkan objektif/goal

Membuat strategi mencapai objektif

menerapkan &mengeksekusi strategi

Mengevaluasi kinerja, monitoring pengembangan baru, serta inisasi koreksi/
penyesuaian

 

Tiga Faktor untuk Diperhatikan dalam Manajemen Strategi E-learning dan Knowledge Management

1.       Lingkungan eksternal : Politic (legal), Economic, Social (Ecological), Technological;

2.       Tekanan grup dan stakeholder : Shareholder, competitor, customer, supplier, government, employee, serikat buruh, publik, financial, mass media;

3.       Strategi dan perencanaan internal bisnis : pengembangan internal;

4.       Dari tiga faktor tersebut kemudian dirumuskan strategi bisnis dan perencanaan proses untuk menentukan cakupan.

Faktor-faktor yang perlu untuk diidentifikasi meliputi :

1.       Resiko manajerial dan finansial;

2.       Tingkatan yang diperlukan untuk menciptakan kapabilitas baru;

3.       Struktur organisasi eksisting;

4.       Kemampuan organisasi untuk menerapkan strategi yang dirumuskan (kompetensi, sumberdaya, proses, dan budaya)

5.       Implikasi terhadap customer, partner

6.       Kebutuhan membuat perserikatan,aliansi, joint ventura;

Penerapan Strategi

Setelah strategi dibuat, maka perlu dilakukan langkah-langkah penerapan. Setelah langkah tersebut diimplementasikan, maka akan dapat diketahui strategi lanjutan, konstrain-konstrain muncul, opsi baru muncul, peluang baru datang.

Dalam kaitannya dengan penerapan strategi maka perlu diperhatikan pula siklus hidup produk e-learning dan Knowledge Management.

Alat dan Teknik untuk Strategi

Alat dan teknik yang umum digunakan untuk merancang dan merumuskan strategi antara lain:

1.       SWOT Analysis

2.       BCG matrices; untuk resource alocation

3.       Policy/portfolio matricecs

4.       Five forces

5.       Industry analysis

Strategi Umum E-learning dan Knowledge Management

Umumnya, strategi e-learning dan Knowledge Management diterapkan berdasarkan,

1.       Low cost strategy,

2.       Differentiation strategy,

3.       Niche focus strategy,

Ada tiga kunci penting untuk bisa menjadi trend-setter e-learning dan Knowledge Management di organisasi:

1.       operational excellent, (reliable, easily, dan cost-effective)

2.       customer intimacy , (targeting market precisely)

3.       product leadership, (continuing product innovation yang memenuhi customer needs).

Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan memberdayakan sistem pembelajaran di dalam institusi. Menyediakan sistem pembelajaran akan membuat perusahaan selalui bisa selalu menyegarkan pengetahuan bagi stafnya serta membuat pegawai selalu up-to-date dengan perkembangan yang terjadi baik di dalam maupun di luar perusahaan.

 

Print Friendly, PDF & Email

Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo Aula Barat ITB – 31 Mei 2012

Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Comlabs USDI ITB dan Pojok Pendidikan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional. Techno.Edu.Preneur Seminar & Expo memiliki tiga kegiatan utama, yaitu seminar, expo, dan lomba untuk guru.


Seminar

Seminar yang akan diselenggarakan terdiri dari dua sesi seminar, yaitu:

  • Seminar Pendidikan Kreatif dan Kewirausahaan.
    Seminar ini ditujukan untuk Guru pendidikan dasar dan menengah, Pemerhati/Komunitas pendidikan, Perusahaan pendukung pendidikan, Wirausahawan, Mahasiswa dan Umum.
  • Seminar E-Learning dan Knowledge Management.
    Seminar ini ditujukan untuk Akademisi, Korporasi, Penyelenggara Training, Penyedia layanan Distance Learning, Departemen pemerintahan.

Informasi lengkap seminar dapat dilihat di sini.


Expo

Expo terdiri dari dua rangkaian utama yakni Pameran Kreativitas dan Paralel Session. Pameran Kreativitas akan diisi insan-insan kreatif dalam pendidikan maupun korporat untuk menampilkan hasil karyanya serta memotivasi pengunjung. Pameran ini akan menampilkan alat peraga hasil karya finalis kompetisi alat peraga pengajaran. Selain itu, akan ditampilkan juga produk-produk dari komunitas kreatif serta dari perusahaan sponsor.

Print Friendly, PDF & Email

Permainan (Game) Dalam Pembelajaran: Suatu Dosa atau Usaha Yang Tidak Memaksa?

Bermacam-macam bentuk dan isi game yang telah beredar luas di masyarakat, terdapat sejumlah game yang bernilai positif untuk mendukung kegiatan belajar mengajar mahasiswa misalnya gamei “Who wants to be a millionaire”. Sebagai contoh, kami dari www.pojokpendidikan.com mengembangkan Gameboard Kreatif Wirausaha Pojok Pendidikan sebagai usaha mengenalkan, merekatkan dan mengajak mahasiswa untuk tidak hanya tahu teori wirausaha namun juga mau mengaplikasikanya 🙂
Keunggulan game sebagai media pembelajaran diantaranya adalah: materi yang disajikan dalam game mudah diingat, praktis, serta kegiatan belajar mengajar akan lebih menyenangkan karena modelnya variatif. Sejauh ini, game yang beredar di masyarakat kebanyakan hanya dimainkan untuk mengisi waktu luang, menyalurkan hobi, menyegarkan fikiran dan lain-lain. Sedangkan game yang digunakan sebagai media pembelajaran sangat minim dimainkan karena isi dan desain masih membosankan serta dosen belum maksimal mengembangkan game sebagai media pembelajaran.
Game pembelajaran menurut Sir Ken Robinson bermanfaat untuk:
  1. Permainan dapat menawarkan pengalaman estetis. Mereka dapat melibatkan maha/siswa (pemain) dalam situasi yang menantang mereka dan penghargaan kpd mereka spt Sir Ken berkata: “memungkinkan mereka untuk sepenuhnya hidup pd kondisi saat ini”. 
  2. Sir Ken Robinson menyatakan, “kolaborasi adalah bagian dari pertumbuhan … pembelajaran yang besar terjadi dalam kelompok”. Permainan utk pembelajaran tidak perlu bersifat soliter. Sebagian besar permainan telah dirancang dan dibangun pada konstruk beberapa tim memainkan peran yang berbeda dalam sebuah komunitas nayata atau virtual.
  3. Game pembelajaran dapat (dan saya percaya harus) mendukung pemikiran kreatif. Simulasi game adalah cara yang sangat kuat untuk melakukannya. Permainan memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi interaksi yang kompleks dari sebab dan akibat, membangun solusi kreatif mereka untuk masalah saat itu terjadi.
  4. Permainan didasarkan pembelajaran memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi isu-isu dan solusi potensial seperti kewirausahaan, perubahan iklim, kelangkaan bbm, konflik horisontal dan lain2 . Beberapa game pendidikan membutuhkan berbagai tim (stakeholder) untuk mengembangkan solusi dari beragam rangkaian sudut pandang dan dengan demikian menghasilkan pemahaman tentang subjek serta mendorong kemampuan berpikir kritis.
  5. Permainan mendorong maha/siswa dari semua level dan kemampuan untuk bekerja sama dan menyediakan cara untuk melibatkan peserta didik. Mereka dapat melampaui nilai dalam mendorong semangat untuk belajar sehingga menambahkan vitalitas ke dalam kelas.

<iframe width=”600″ height=”400″ src=”http://www.youtube.com/embed/-XTCSTW24Ss” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Print Friendly, PDF & Email

Pesantren IT (Inspiring Teachers): Guru Kreatif Lokomotif Pendidikan Berkualitas

Kegiatan Pesantren IT yang telah dilaksanakan pada 23-24 Agustus 2011 lalu akan kembali diselenggarakan dengan tujuan untuk lebih memperdalam kemampuan para guru alumni kegiatan tersebut dalam penguasaan perencanaan pembelajaran kreatif.

Sebagai wahana persiapan menghadapi semester baru, kegiatan ini kembali akan diselenggarakan oleh komunitas #gurukreatif Pojok Pendidikan bekerjasama dengan ComLabs USDI ITB pada :

Hari/tanggal : Jumat – Sabtu/6 – 7 Januari 2012

Pukul                     : 09.00 s.d. 16.00

Tempat                : Ruang Seminar & Ruang Pelatihan Multimedia ComLabs USDI ITB, Gedung ComLabs ITB, Jalan Ganesha  No.10 Bandung 40132.

Acara diselenggarakan secara gratis bagi guru-guru alumni pesantren IT tahun lalu.

Agenda Acara :

Hari I

  1. Bedah Buku :
  •  
    • Buku Indonesia Mengajar (dalam konfirmasi)
    • Buku Bunga Rampai Pendidikan Kreatif
  1. Training Motivasi: Guru Kreatif Lokomotif Pendidikan Berkualias
  2. Sosialisasi program Pojok Pendidikan 2012

Hari II

  1. Praktek Pengembangan bahan ajar kreatif berbasis IT
  2. Praktek Pemanfaatan teknologi E-Learning dalam pembelajaran.


[youtube http://www.youtube.com/watch?v=QcnzHlcfvPU?rel=0&w=600&h=400]

Print Friendly, PDF & Email

e-Learning for Goverment: Bersatunya Strategi, Eksekusi dan Evaluasi

Kemarin dan hari ini saya menjadi Tutor Pelatihan “e-Learning for Goverment” di COMLABS-ITB untuk topik “Kebijakan & Regulasi e-Learning di Pemerintahan” dan “Manajemen Strategik dan Evaluasi eLearning di Pemerintahan”. Pelatihan kali ini diikuti oleh beberapa peserta dari unsur Pemerintah Daerah yang ingin menerapkan e-Learning pada DIKLAT di daerah mereka.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah ke-2 2010-2014 (RPJM-2) salah satu tujuannya adalah: “Meningkatkan kualitas SDM, membangun kemampuan iptek, memperkuat daya saing perekonomian.” Hal itu dicapai dengan “‎KOMPETENSI PERILAKU INDIVIDU BIROKRASI PEMERINTAHAN” seperti Kualifikasi, Kompetensi dan Profesionalisme melalui Pendidikan formal, informal dan nonformal. 

Kebijakan dan Regulasi e-Learning di Pemerintahan hrs sesuai dengan “PP 101/2000 ttg Diklat Jabatan PNS” dan “Pedoman Umum Diklat Jabatan PNS 193/2001” agar memperoleh hasil yang efektif dan efisien sesuai tujuan di atas. Hal ini sesuai dengan isi Pasal 3 ayat (1),  UU 43/1999: “Pegawai Negeri (Sipil) berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil, dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan, dan pembangunan.”

Walaupun demikian, banyak kalangan memulai e-Learning tanpa pertimbangan yang matang agar kelihatan bergengsi tanpa Kebijakan & Strategi Manajemen DIKLAT yg jelas. E-Learning akan dimanfaatkan atau tidak, sangat tergantung pada Kebijakan Birokrasi serta bagaimana pengguna memandang atau menilai e-Learning tersebut.

Perlu diperhatikan sebelum memanfaatkan e-Learning untuk pendidikan dan latihan, yaitu melakukan analisis kebijakan agar menjawab apakah memang memerlukannya. Dalam analisis ini tentunya sudah termasuk apakah secara teknis dan non-teknis e-learning bisa dilaksanakan. Juga apakah secara ekonomis penggunaan e-learning ini menguntungkan (economically profitable) dan secara sosial diterima oleh birokrat/masyarakat (socially acceptable). 

Satu hal yang perlu ditekankan dan dipahami adalah bahwa e-Learning tidak dapat sepenuhnya menggantikan kegiatan DIKLAT konvensional. Tetapi, e-Learning dapat menjadi partner atau saling melengkapi dengan pembelajaran konvensional di kelas. 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=uVvhOT8zd1U?rel=0&w=640&h=450]

Print Friendly, PDF & Email

Pojok Pendidikan Mengabdi: Terima Kasih Kami Untuk Pendidik Dengan Sepenuh Hati

Guru-guru bersemangat belajar dibimbing Pojok Pendidikan

Selama dua minggu kami melakukan program “Pojok Pendidikan Mengabdi: Terima Kasih Kami Untuk Pendidik Dengan Sepenuh Hati“. Kemarin tim @pojokpendidikan melanjutkan diskusi minggu ke-2 bersama 40 guru SD se-kecamatan Cileunyi Bandung dan program ini akan berlanjut selama 1 tahun di 2012 nanti. 

Bagi salah satu punggawa @asyadeeq: “Ini adalah sarana bagi yg mau mencoba bagaimana rasanya mengajar para guru”. Ya biasanya kita yang memperoleh ilmu pengetahuan dari ibu bapak guru, sekarang kami dengan sabar membimbing mereka dengan keahlian  tentang filosofis pendidikan, dasar komputer dan psikologi pendidikan (plus Hypno-Teaching dari Iwan Ardi Priyana).

Sedangkan @djadjas menimpalinya dengan menyitir tag-line PMI: “Setetes ilmu, nyawa pendidikan buat guru”. Maksudnya apa yang kami lakukan adalah sesuatu yang mungkin kecil, namun sangat berarti bagi mereka yang mencoba meningkatkan kualitas, dedikasi dan kecintaan pada profesi pendidikan dasar yang sangat penting ini. Ia menambahkan ini adalah suatu gerakan yang menurut Chairil Anwar: “Aku suka pd mereka yg berani hidup”.

Tidak lupa dorongan dari punggawa lain seperti @dausgonia, “Semangat untuk team @pojokpendidikan yang kembali ke cileunyi untuk pelatihan ke Guru-guru SD :)” dan komentar @chairaniuni, “Tugas negara mencerdaskan kehidupan bangsa.” 

Acara ini sukses berkat keterlibatan dan dorongan dari semua punggawa Pojok Pendidikan. Bahkan ucapan khidmat disampaikan salah satu Pupuhu @tsauri28, “Terima kasih untuk Pa @djadjas,  @Aji_didot, @asyadeeq dan @KresnaRebels yang sudah rela pulang hujan-hujanan dari acara ini. Tetap semangat!” 🙂

Terakhir perlu direnungkan apa yang disampaikan @Aji_didot pada gerakan @pengajarmuda: “Secara konstitusional pendidikan adalah tugas negara. Secara moral, mendidik adalh tugas setiap orang terdidik”

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=QcnzHlcfvPU?rel=0&w=640&h=450]

Print Friendly, PDF & Email

Hubungan "Balanced Scorecard" dan Kehendak Yang Maha Kuasa

 

Beberapa hari lalu saya menjadi Trainer Pelatihan “Efektifitas Balance Scorecard dalam Manajemen Kinerja Perusahaan” diCOMLABS-ITB. Training diikuti oleh peserta dari beberapa BUMN, yang menyadari pentingnya pelatihan ini untuk diterapkan di perusahaan mereka masing-masing.

Kita sadari bahwa penggunaan rasio finansial secara tunggal tidak lagi mencukupi untuk menganalisis kinerja perusahaan. Selain itu hal ini ditambah dengan isu-isu terkini seperti revolusi konsep keberhasilan, pengukuran kinerja vs strategi perusahaan, agenda sosial, aktiva tak berwujud, kekuatan dan kelemahan teknologi informasi, krisis dalam pengukuran kinerja serta biaya pengukuran kinerja Oleh karena itu diperlukan sistem manajemen kinerja yang baru  untuk mengakomodasi perubahan lingkungan persaingan dunia usaha. Hal ini juga dimaksudkan untuk memenangkan keinginan dan kebutuhan dari setiap stakeholder, yang terdiri dari penanam modal, karyawan, pelanggan, pemasok, pemerintah dan masyarakat. 

Salah satu metode yang sering digunakan manajemen kinerja adalah Balanced Scorecard (BSC) sebagai  metode penilaian kinerja organisasi yang berorientasi pada pandangan strategik masa depan. Sedangkan alasan perusahaan menggunakan BSC disebabkan ukuran keuangan hanya mengukur hasil (masa lalu), ukuran keuangan tidak mengukur strategi tetapi hanya hasil strategi serta ukuran keuangan hanya mengukur aset berwujud.Metode ini  menggunakan empat perspektif pengukuran, yaitu: keuangan, pelanggan, pembelajaran dan pertumbuhan SDM, serta proses bisnis internal seperti digambarkan dibawah ini:

Balanced Scorecard (BSC) biasanya menekankan pada pertanyaan strategis yang dihadapi perusahaan yaitu: 

  1. Perspektif Keuangan: Bagaimana organisasi memuaskan pemegang saham, sponsor, donatur?
  2. Perspektif Pelanggan: Bagaimana organisasi memuaskan pelanggan, pengguna jasa, pihak yang dilayani?
  3. Perspektif Proses Bisnis Internal: Apa saja proses yang seharusnya dilakukan untuk mencapai sukses organisasi?
  4. Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan: Bagaimana organisasi dapat mempertahankan dan meningkatkan kemampuan menghadapi perubahan lingkungan internal dan eksternal?

Training ini berjalan lancar dan para peserta mersakan manfaat dari apa yang sudah disampaikan trainer, studi kasus yang dibahas bersama, penggunaan perangkat lunak sebaga alat bantu serta diskusi yang berlangsung cukup intens.

——————————————————————————————-

Hari ini saya dikejutkan dengan berita duka, bahwa salah satu peserta pelatihan Balanced Scorecard (BSC) di atas meninggal dunia karena penyakit jantung. Beliau adalah peserta yang paling aktif dan energik dalam pelatihan ini karena posisinya di Bagian “Strategic Planning” yang juga menyusun kerangka kerja untuk manajemen kinerja perusahaannya. Sungguh umur itu hanya Yang Maha Kuasa yang tahu…….Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun……….

Saya jadi terhenyak dan menyadari perlunya kita mempunyai “Balanced Scorecard (BSC)” versi Allah SWT untuk mempertanggung-jawabkan amal kita kelak.  Bahwa tak ada tempat kita bergantung setiap waktu, kecuali Allah SWT. Di kala maut menghampiri, kita harus menghadapinya sendirian, tiada ayah bunda, tiada suami/istri, anak-anak, saudara, siapa pun tak dapat menolong, kita hanya ditemani oleh belaian-NYA. Cuma Dia yang dapat memudahkan jalan menuju kesana, begitu pun saat memasuki alam kubur, hanya amalan di dunia yang kita bawa sesuai dengan isi Ayat Al-Qur’an “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran [3] : 185)

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=CFkyEi099Zc?rel=0&w=640&h=400]

Print Friendly, PDF & Email