Proses Bisnis #TelematikaPedesaan @VillagePhone @GrameenTelecom

Bagaimana sebuah aktivitas usaha Universal Service Obligation (USO) bisa dikelola dengan baik? Bagaimana caranya agar bisa berkelanjutan? Berikut adalah proses bisnis yang telah bteruji dan dilakukan Grameen di Bangladesh:
Penyeleksian, Cara Berlangganan dan Pelatihan Operator:

Untuk mendapatkan informasi mengenai cakupan GSM GrameenPhone Ltd., pegawai unit GTC menemui cabang- cabang Grameen bank pada daerah dan menyiapkan data dari desa-desa dimana cakupan jaringan memuaskan yang memungkinkan penyediaan Telepon Desa (Village Phone). Cabang GB kemudiaan memilih diantara anggota-anggotanya yang berkinerja baik dari desa- desa ini untuk bertindak sebagai Operator “Village Phone”. Grameen Bank mempunyai kriteria spesifik untuk menyeleksi operator “Village Phone” yang dapat diringkas sebagai berikut:
  1. Mempunyai sejarah pembayaran kredit Grameen Bank yang sangat bagus;
  2. Harus mempunyai bisnis yang bagus, lebih disukai toko penjualan makanan/minuman di desa dan mempunyai waktu luang untuk berfungsi sebagai operator “Village Phone”.
  3. Tidak buta huruf atau paling tidak harus mempunyai anak yang dapat membaca dana menulis.
  4. Tempat tinggalnya harus cocok dan lokasinya dekat dengan tengah-tengah desa. 
Setelah penyeleksian awal selesai oleh Cabang GB sebagai operator “Village Phone” yang potensial, pegawai unit GTC terdekat memverifikasikan sinyal yang tersedia pada rumahnya atau toko yang dia tinggali untuk berlangganan telepon. Persetujuan terakhir dari keanggotaan diperoleh dari Manager Daerah atau Area GB. Ketika penyeleksian akhir hampir selesai, GTC berlangganan sambungan telepon pada Grameen Phone dan menyerahkannya pengelolaanya kepada anggota. GTC selanjutnya menyediakan perangkat yang dibutuhkan dan menyediakan pelatihan untuk mengoperasikan telepon desa tersebut. Sedangkan telepon dan biaya sambungan dibayar oleh GB ke GTC serta anggota mengangsurnya kembali kepada GB dengan periode yang ditentukan dua atau tiga tahun. Perlu dtekankan kembali bahwa program keemilikan telepon desa/bergerak ini hanya disediakan untuk anggota  GB melalui program pinjaman mikro.
Proses Penagihan (Billing):
Grameen Telecom membeli pusa secara borongan dari Grameen Phone untuk semua telepon desa di bawah pengoprasiannya dengan tingkat diskon khusus yang telah dinegoisasikan antara kedua organisasi. Kemudian Grameen Phone menyiapkan tagihan bulanan dan mengirimkannya ke GTC untuk pembayaran. Selanjutnya GTC membuat kembali tagihan perorangan dan mengirimkannya ke cabang-cabang serta membayar tagihan ke Grameen Telecom setelah enam minggu pada periode berikutnya. Dalam hal ini tugas Grameen Bank adalah mengumpulkan tagihan dari operator-operator “Village Phone”.
Dukungan Operasional: 

Kantor unit dari Grameen Telecom bertanggung jawab untuk pengoperasian “Village Phone” di lapangan. Tugas Unit Operasional adalah untuk memetakan daerah dengan cakupan sinyal yang baik, membantu manager cabang GB untuk memilih anggota menjadi operator “Village Phone”, melatih operator “Village Phone” dan membutuhkan dukungan teknis yang dibutuhkan oleh operator “Village Phone” termasuk handset, tagihan dan lain sebagainya.  Sejauh ini Grameen Telecom mempunyai 13 kantor unit di : Dhaka, Norsingdee, Srinogar, Comilla , Feni, Chittagong, Mymensingh, Sirajgonj, Khulna, Barisal, Sylhet, Rajshahi dan Faridpur. Jumlah kantor unit akan terus bertambah dengan bertambahnya area sinyal yang tersedia. 

Related articles, courtesy of Zemanta:

 [slideshare id=2810571&doc=grameen-telecom-stakeholderthesis-summary-091231220954-phpapp02&type=d]

Silaturahmi Mendatangkan Rejeki

Silaturahmi mungkin sudah menjadi nisbi

Antara adat kebiasaaan dan Wahyu Ilahi

Sungguh manusia itu tidak bisa hidup sendiri

Ia juga punya kehidupan yang hakiki

 

Pantas orang tua berpesan pada diri

Janganlah memutuskan tali silaturahmi

Itu jadi penjaga hidup tidak nafsi-nafsi

Benarlah bahwa Silaturahmi Mendatangkan Rejeki

 

Tadinya ingin jadi @Avatar-IT tapi tak apalah jadi @Ngabaduy-IT

Ngabaduy, kalau dalam istilah mah disebutnya ngalalana atau hitchiker dalam bahasa Inggris. 

Kata ini diperkenalkan oleh Pak Djadja Sardjana saat tim Comlabs melaksanakan tugas-tugasnya ke seantero nusantara. 

Bercirikan gembolan tas, dan perangkat-perangkat yang dibawa, jadilah kami komplotan ngabaduy………

Fan Page: http://www.facebook.com/NgabaduyIt

 

#Mudik #IedulFitri: Antara Kejayaan dan Keruntuhan Sepeda Motor Serta Kemenangan Umat Manusia

Selesai sudah “Upacara Rutin” setahun sekali dimana para pemudik bertemu sanak keluarga di tempat kelahiran untuk merayakan Iedul Fitri. Mereka berbondong-bondong melakukan “hijrah” untuk bersilaturahmi dan berbagi kebahagiaan yang dirindukan dengan menggunakan berbagai moda transportasi baik darat, laut maupun udara.

Yang menarik banyak diantara mereka menggunakan sepeda motor untuk mudik bersama keluarga. Alasannnya bermacam-macam, mulai dari penghematan, prestise, “kenyamanan” bahkan alasan lain yang klise. Menurut data, Pengguna sepeda motor dalam mudik lebaran tahun ini meningkat sebesar 20 persen hingga 25 persen atau sekitar 10-15 persen diatas prediksi pemerintah yang hanya sekitar 6,16 persen dari tahun lalu. Meningkatnya penggunaan sepeda motor pada waktu musim mudik lebaran akan mempengaruhi meningkatnya angka kecelakaan di jalan raya. 

 Meskipun dalam beberapa tahun terakhir masih terdapat kecelakaan fatal yang dialami angkutan umum, namun penggunan angkutan umum masih tergolong cukup aman dibandingkan dengan sepeda motor. Penggunaan sepeda motor pada waktu musim mudik lebaran memiliki presentasi 70 persen dari seluruh kecelakaan yang terjadi.   

Fenomena di lapangan yang penulis alami adalah banyak dari pengendara sepeda motor karena alasan ingin cepat sampai, mengorbankan keamanan dan kenyamanan diri dan keluarganya. Mereka seperti “sengaja memperdagangkan” keluarga mereka agar dimengerti oleh pengguna jalan lain untuk diberikan “keutamaan” di jalan.
Tidak jarang mereka melakukan manuver berbahaya dengan meliuk-liuk diantara sesama sepeda motor dan kendaraan lain. Sering juga membuat “Racing Line” seperti Rossi, Lorenzo atau Pedroza di Sirkuit MotoGP tanpa memperdulikan rambu lalu lintas dan kode etik berkendara. 
Tidak heran Semangat Kemenangan Umat Manusia berubah menjadi Kejayaan dan Keruntuhan (Rise and Fall) dari Sepeda Motor pada saat mudik tahun ini. Dikuti dari TEMPO.CO, Jakarta – Setiap tahun menjelang Lebaran, selalu bertambah jumlah pemudik yang mengalami kecelakaan. Hingga H+2 Hari Raya Idul Fitri, polisi mencatat sebagian besar korban tewas akibat kecelakaan adalah pengguna sepeda motor. Jumlahnya sebanyak 75,5 persen atau 518 orang adalah pengguna sepeda motor. 

Adapun total korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas selama penyelengaraan Operasi Ketupat sejak 11 Agustus mencapai 686 jiwa, naik dari tahun lalu, sebanyak 622 nyawa melayang. Jumlah kecelakaan ini mengalami kenaikan dibanding tahun lalu, yakni 3.927 kecelakaan di tahun ini dibanding tahun lalu 3.777 kecelakaan. 

“Kebanyakan penyebabnya adalah human error, seperti melanggar batas kecepatan, melanggar rambu-rambu, dan tidak disiplin dalam berlalu-lintas,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 23 Agustus 2012. 

Data kepolisian pun menunjukkan bahwa sebagian besar kecelakaan lalu lintas atau 69,5 persennya melibatkan sepeda motor. Adapun total kendaraan yang terlibat kecelakaan berjumlah 6.695 kendaraan. 

Selain menyebabkan lebih dari 600 orang tewas, kecelakaan lalu lintas selama Operasi Ketupat pun menyebabkan 1.093 orang luka berat dan 3.750 lainnya luka ringan. 

 

Toleransi: Pisau Kemanusiaan Yang Hanya Tajam Bila Ada Pesanan

Toleransi  

Toleransi (Dari Wikipedia bahasa Indonesia)adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Istilah toleransi juga digunakan dengan menggunakan definisi “kelompok” yang lebih luas, misalnya partai politik, orientasi seksual, dan lain-lain. Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan kritik mengenai prinsip-prinsip toleransi, baik dari kaum liberal maupun konservatif.

Salah satu tokoh yang diartikan “Anti Toleransi” adalah Buya Hamka. Menurut Azyumardi, beliau sering dinilai salah oleh orang yang tidak mengenal dekat dengan dia. Seperti tudingan bahwa dia anti toleransi, terkait dengan keluarnya fatwa MUI yang melarang umat Islam hadir pada perayaan Natal bersama. Fatwa MUI itu muncul pada saat Hamka menjabat sebagai Ketuanya.

“Padahal konteksnya adalah apabila itu ada ritual keagamaan, yang memang tidak layak untuk kaum muslimin hadir. Tapi pada hubungan sehari-hari sebagai sesama manusia, ya beliau fleksibel, terhadap pemeluk agama lain,” papar dia.

Resiprokalitas Toleransi

Toleransi bersifat reprosikal (Saling Bergayung Sambut) dimanapun manusia berada di jagat raya ini (bukan hanya Indonesia) seperti yang diungkapkan premis di atas. Dia merupakan dua sisi mata pedang kebenaran yang tidak boleh memihak atau tunduk pada selera pasar/media atau preferensi “Divide et Impera” dan “Covert Operation” untuk menekan atau menghancurkan fihak lain.

Sekali lagi, Toleransi adalah sikap dan perbuatan yang melarang diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima mayoritas dalam suatu masyarakat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata toleransi adalah dua atau beberapa kelompok yang berbeda tetapi dapat saling berhubungan dengan harmonis.

Toleransi: Pisau Kemanusiaan Yang Hanya Tajam Bila Ada Pesanan

Sering terjadi prinsip toleransi ini tidak berlaku secara universal dan “fair” sesuai dengan PIagam PBB. Ini sesuai dengan Kritik KH Hasyim Muzadi yang dimuat Gatra atas tudingan intoleransi agama di Indonesia dari Dewan HAM PBB yang mendapat perhatian luas. Sebagai figur berpengaruh, sikap Hasyim dinilai jitu dan tepat mewakili suara mayoritas diam (silent majority). Ia menyangkal memberi angin kepada gerakan garis keras.

Rilis KH Hasyim Muzadi ini beredar cepat ke berbagai media cetak, online, jejaring sosial, dan beberapa grup BlackBerry Messenger, pekan pertama Juni ini. Ketua Umum PBNU 1999-2009 itu merespon rekomendasi Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss, 23 Mei 2012 lalu, tentang intoleransi agama di Indonesia. “Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun setoleran Indonesia,” tulis Presiden World Conference on Religions for Peace (WCRP) itu.

Hasyim menuding intoleransi agama di beberapa negara Eropa lebih buruk daripada di Indonesia. “Indonesia lebih baik toleransinya ketimbang Swiss, yang sampai sekarang tidak memperbolehkan menara masjid. Juga lebih baik dari Prancis yang masih mempersoalkan jilbab. Indonesia pun lebih baik dari Denmark, Swedia, dan Norwegia, yang tidak menghormati agama, karena di sana ada Undang-Undang Perkawinan Sejenis,” Hasyim menambahkan.

Sekretaris Jenderal International Conference for Islamic Scholars (ICIS) itu juga memberi catatan pada beberapa kasus aktual yang kerap dijadikan indikasi intoleransi: Ahmadiyah, GKI Yasmin Bogor, penolakan diskusi Irshad Manji, dan konser Lady Gaga. Tentang Irshad Manji dan Lady Gaga, Hasyim menyatakan, “Bangsa mana yang mau tata nilainya dirusak? Kecuali mereka yang ingin menjual bangsanya untuk selera pasar dan kebanggaan intelektualisme kosong.”

Banyak komentator di jejaring sosial memberi apresiasi. Ada pula yang menambahkan dua bukti lain keunggulan toleransi agama Indonesia: hari besar enam agama jadi hari libur nasional dan pendidikan enam agama jadi kurikulum sekolah. Di Barat dan Timur Tengah, hari besar agama hanya untuk agama mayoritas.

Beliau juga mengatakan: 

 

Rekomendasi Dewan HAM PBB yang membuat saya menulis pernyataan itu. Dengan PBB menyerang Indonesia, berarti masalah sudah dalam. Kalau ndak ada sikap PBB, saya ndak bikin tanggapan, cukup diatasi secara lokal. Kalau PBB sudah campur tangan, apalagi menunjukkan kasus-kasusnya, pasti ada laporan dari sini. Sebagai anak bangsa, saya harus meluruskan.

Kita menyayangkan lembaga di Indonesia yang bekerja untuk kepentingan internasional, tapi merugikan bangsa sendiri, dengan menyetorkan borok-borok bangsa ke internasional supaya bangsa kita dipukul. Itu tidak nasionalis. Kalau lembaga itu berbuat untuk kebaikan Indonesia di mata internasional, itu yang benar.

Kemendagri perlu me-review, mana lembaga asing yang bermanfaat untuk Indonesia ke dunia internasional dan mana yang hanya menjadi agen kepentingan internasional. Itu bisa ada di banyak sektor. Tidak hanya HAM, bisa ekonomi, politik, agama, dan sebagainya, untuk memperlemah posisi Indonesia di mata internasional.

 

 

Pluralisme: Memilah Antara Tenaga Eksogen dan Endogen

Pluralisme Agama Yang Ambigu

Dari  ensiklopedia bebas Wikipedia bahasa Indonesia,Pluralisme (bahasa Inggris: pluralism), terdiri dari dua kata plural (=beragam) dan isme (=paham) yang berarti beragam pemahaman, atau bermacam-macam paham, Untuk itu kata ini termasuk kata yang ambigu. Berdasarkan Webster’s Revised Unabridged Dictionary (1913 + 1828) arti pluralism adalah:
  1. Hasil atau keadaan menjadi plural.
  2. Keadaan seorang pluralis; memiliki lebih dari satu tentang keyakinan gerejawi.

Pluralisme  Agama  (Religious  Pluralism)  adalah  istilah  khusus  dalam  kajian agama­ agama. Sebagai  ‘terminologi  khusus’,  istilah  ini tidak  dapat  dimaknai sembarangan,  misalnya  disamakan  dengan  makna  istilah  ‘toleransi’,  ‘saling menghormati’  (mutual  respect), dan  sebagainya.  Sebagai  satu  paham  (isme),  yang membahas  cara  pandang  terhadap  agama­agama  yang  ada,  istilah ‘Pluralisme  Agama’ telah menjadi pembahasan panjang di kalangan para ilmuwan dalam studi agama­ agama (religious studies)

Gambar dipinjam dari http://kucintaquran.blogspot.com/2012/06/pluralisme-agama-trend-pemikiran-semua.html

Pandangan Islam Terhadap Pluralisme

Pluralisme sebagai paham religius artifisial yang berkembang di Indonesia, mengalami perubahan ke bentuk lain dari asimilasi yang semula menyerap istilah pluralism.

Menurut asal katanya Pluralisme berasal dari bahasa inggris, pluralism. Apabila merujuk dari wikipedia bahasa inggris, maka definisi [eng]pluralism adalah : “In the social sciences, pluralism is a framework of interaction in which groups show sufficient respect and tolerance of each other, that they fruitfully coexist and interact without conflict or assimilation.” Atau dalam bahasa Indonesia : “Suatu kerangka interaksi yang mana setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi (pembauran / pembiasan).”

Saat ini pluralisme menjadi polemik di Indonesia karena perbedaan mendasar antara pluralisme dengan pengertian awalnya yaitu pluralism sehingga memiliki arti :

  1. pluralisme diliputi semangat religius, bukan hanya sosial kultural
  2. pluralisme digunakan sebagai alasan pencampuran antar ajaran agama
  3. pluralisme digunakan sebagai alasan untuk mengubah ajaran suatu agama agar sesuai dengan ajaran agama lain

Jika melihat kepada ide dan konteks konotasi yang berkembang, jelas bahwa pluralisme di indonesia tidaklah sama dengan pluralism sebagaimana pengertian dalam bahasa Inggris. Dan tidaklah aneh jika kondisi ini memancing timbulnya reaksi dari berbagai pihak.

Pertentangan yang terjadi semakin membingungkan karena munculnya kerancuan bahasa. Sebagaimana seorang mengucapkan pluralism dalam arti non asimilasi akan bingung jika bertemu dengan kata pluralisme dalam arti asimilasi. Sudah semestinya muncul pelurusan pendapat agar tidak timbul kerancuan.

Dikutip dari Wikipedia Indonesia, Paham Sekularisme, Pluralisme (Agama) dan Liberalisme bertentangan dengan Islam  dan haram bagi umat Islam untuk memeluknya. (Fatwa MUI, 2005). Ummat Islam di Indonesia sepakat dengan memberi fatwa paham Pluralisme agama adalah haram.

Perumpamaan Tenaga Eksogen dan Endogen Pada Pluralisme

Tenaga eksogen Pluralisme yaitu tenaga yang berasal dari luar Islam. Sifat umum tenaga eksogen adalah merombak atau merusak “bentuk permukaan” Akhlak hasil bentukan dari tenaga endogen Akidah dan Syariah Islam. “Bukit atau tebing” ketakwaan yang terbentuk hasil tenaga endogen terkikis oleh angin Pluralisme, sehingga dapat mengubah “bentuk permukaan” akhlak Islam.

Contoh lain dari tenaga eksogen Pluralisme adalah pengikisan “pantai” Akidah. Setiap saat “air laut” Pluralisme menerjang “pantai” Akidah yang akibatnya tanah dan batuannya terkikis dan terbawa oleh air. Tanah dan batuan yang dibawa “air” Pluralisme tersebut kemudian diendapkan dan menyebabkan “pantai” Akidah menjadi dangkal. Di daerah “pegunungan” Islam bisa juga ditemukan sebuah bukit batu “Syariah” yang kian hari semakin kecil akibat tiupan angin “Pluralisme”.

 

#ManajemenPembebas Kode Etik dan Mandat Perusahaan: Seninya Menyatukan “Air & Minyak”

Etika Bisnis Perusahaan

Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan juga masyarakat. Etika Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, masyarakat.

Perusahaan meyakini prinsip bisnis yang baik adalah bisnis yang beretika, yakni bisnis dengan kinerja unggul dan berkesinambungan yang dijalankan dengan mentaati kaidah-kaidah etika sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.

Etika Bisnis dapat menjadi standar dan pedoman bagi seluruh karyawan termasuk manajemen dan menjadikannya sebagai pedoman untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari dengan dilandasi moral yang luhur, jujur, transparan dan sikap yang profesional.

Mandat Perusahaan

Dengan melakukan kajian terhadap korporasi sebagai institusi ekononi dan berbadan hukum sebagaimana dikemukakan oleh Peter F. Drucker,  mengajukan premis sebagai berikut: 

  1. Mandat korporasi yang terdefinisi secara sah adalah untuk memperoleh manfaat ekonomi secara terus menerus, tanpa memedulikan konsekuensi yang merugikan bagi pihak lain; 
  2. Kepentingan-diri korporasi yang tidak terkendalikan dapat mengorbankan individu, masyarakat, dan ketika event yang terjadi tidak sesuai dengan yang direncanakan dapat merugikan pemegang saham, dan lebih jauh merubuhkan diri sendiri; 
  3. Meskipun tanggung jawab sosial korporasi dalam beberapa hal berjalan dengan baik, ia seringkali hanya dilakukan sebagai topeng menutupi karakter korporasi yang sebenarnya; 
  4. Secara tidak langsung pemerintah menyerahkan sebagian besar kekuasaan pengendalian terhadap korporasi, walaupun mengetahui karakter buruk korporasi, dengan membebaskannya dari hambatan hukum melalui deregulasi, dan dengan memberikan otoritas yang lebih tinggi dari masyarakat melalui privatisasi. 

Film dari buku “The Corporation: The Pathological Pursuit of Profit and Power” karangan Joel Bakan menyatakan bahwa korporasi diciptakan oleh hukum untuk berfungsi seperti psychopat yang berperilaku merusak, dan bila tidak dikendalikan menjurus kepada skandal dan kehancuran. Bakan percaya bahwa perubahan terhadap kondisi tersebut dimungkinkan. Untuk itu dalam bukunya Bakan memberikan sebuah program reformasi jangka panjang yang kongkret, pragmatis, realistik melalui regulasi hukum serta kendali demokrasi (democratic control). 

[slideshare id=13875110&doc=lecture-ethicsandsocialresponsibility-mm-exec-120804223538-phpapp01]

Persatuan Umat: Suri Tauladan Buya Hamka dan KH Idham Chalid

 
Di bulan Ramadhan ini kita merasakan betapa pentingnya Persatuan Umat dalam melaksanakan kehidupan bergama Islam. Salah satu contoh adalah dimulai dan diakhirinya waktu Bulan Ramadhan yang masih menjai perdebata di antara kita. Banyak Tokoh Cendikiawan dan Umat Muslim masih belum bisa menafsirkan Persatuan Umat secara hakiki seperti yang digambarkan oleh kisah atau suri tauladan sebagai berikut:
Seperti kita tahu Buya Hamka ( Haji Abdul Malik Karim Amrullah ) adalah seorang Ulama yg disegani, tinggi ilmu agama & sastranya, banyak jabatan beliau diantaranya pernah menjadi Ketua MUI & Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
 
Begitu pula K.H Idham Khalid, alm adalah Ulama yg bijaksana, tinggi ilmunya, banyak pula jabatannya selain menjadi ketua MPR beliau adalah Ketua Umum Nahdatul Ulama ( NU ).
 
Pada suatu waktu kedua Ulama ini memimpin rombongan untuk beribadah Haji, saat itu dari Indonesia untuk beribadah Haji ke Mekkah / Baitullah masih menggunakan kapal laut, dan waktu tempuh untuk sampai di Mekkah memerlukan waktu cukup lama, ber minggu2.
 
Saat itu di kapal laut Buya Hamka memimpin ratusan rombongan calon Haji dari para Anggota Muhammadiyah, sedang K.H Idham Khalid juga memimpin ratusan jamaah calon Haji para Nahdiyyin.
 
Secara bergantian kedua ulama besar ini menjadi Imam Sholat Fardhu di kapal laut, dan ketika menjadi Imam sholat Shubuh, Buya Hamka yg ketua Pusat Muhammadiyah memimpin membaca Qunut di rakaat ke 2 sholat Shubuh, padahal dalam ajaran Muhammadiyah membaca qunut itu tidak dijalankan, namun karena Buya Hamka tahu bahwa para makmunnya tidak hanya dari anggota Muhammadiyah, tapi banyak juga para Nahdiyyin, maka beliau membaca qunut.
 
Demikian juga ketika K.H Idham Khalid yg menjadi Imam Sholat Shubuh, saat itu beliau tidak memimpin membaca qunut, karena mahfum para jamaahnya banyak dari anggota Muhammadiyah yg menjadi makmum, padahal para Nahdiyyin selalu membaca qunut dalam sholat Shubuh nya.
 
Demikian teladan dari 2 orang Ulama besar ini, masalah qunut adalah masalah khilafiah sedang menjaga persatuan & kesatuan umat Islam hukumnya adalah wajib dan lebih utama. Subhanallah.
Profil Buya Hamka
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA, yakni singkatan namanya, (lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik.Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usianya mencapai 10 tahun, ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto, dan Ki Bagus Hadikusumo.
Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang andal.
Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Ia mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bid’ah, tarekat, dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Ia menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.
Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya mengundurkan diri pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.
Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia.Disamping Front PertahananNasional yang sudah ada didirikan pula Badan Pengawal Negeri & kota (BPNK). Pimpinan tersebut diberi nama Sekretariat yang terdiri dari lima orang yaitu HAMKA, Chatib Sulaeman, Udin, Rasuna Said dan Karim Halim. Ia menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pemilihan Umum tahun 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960.
Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia, dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.
Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.
Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Merantau ke Deli.
Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan internasional seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.
Hamka meninggal dunia pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Ia bukan saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.
Profil KH. Idham Chalid

Idham Chalid (lahir di Satui, Hindia Belanda, 27 Agustus 1921 – meninggal di Jakarta, 11 Juli 2010 pada umur 88 tahun) adalah salah satu politikus dan menteri Indonesia yang berpengaruh pada masanya. Selain sebagai politikus ia aktif dalam kegiatan keagamaan dan beliau pernah menjabat Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1956-1984.
Sejak berkiprah dari remaja, karier Idham di PBNU terus menanjak. Ketika NU masih bergabung dengan Masyumi (1950), ia menjadi ketua umum Partai Bulan Bintang Kalimantan Selatan. Sementara itu, ia juga menjadi anggota DPR RIS (1949-1950). Dua tahun kemudian, Idham terpilih menjadi ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU (1952-1956). Kemudian, ia dipilih menjadi orang nomor satu NU pada 1956. Bahkan, Idham merupakan orang terlama yang menjadi ketua umum PBNU.
Boleh dikata, selama hampir 30 tahun sebagai orang nomor satu NU, Idham telah mengalami berbagai pasang surut. Di bidang eksekutif, ia beberapa kali jadi menteri, baik saat masa Orde Lama maupun Orde Baru. Ketika Bung Karno jatuh pada 1966, ia menjadi anggota presidium Kabinet Ampera I dan Kabinet Ampera II dan etelah itu ia diangkat menjadi ketua MPR/DPR pada periode 1971-1977. Jauh sebelumnya, pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo II, ia juga menjabat sebagai wakil PM. Dalam posisi pemerintahan, beliau pernah juga mengemban tugas sebagai Ketua DPA.