Program Perikatan Banyak Pemangku Kepentingan (Multi-Stakeholder Engagements Program)

Perencanaan  dan penggunaan komunikasi yang sistematis  adalah dasar untuk menciptakan kesadaran, penumbuhan konsensus serta keikutsertaan di dalam proses-proses  dari perubahan dan pengembangan, pembuatan keputusan-keputusan  dan memecahkan konflik-konflik. Komunikasi pemangku kepentingan yang baik berhasil meningkatkan partisipasi  dan implementasi proyek yang  pada akhirnya menghemat waktu dan uang.

Program Perikatan Banyak Pemangku Kepentingan (Multi-Stakeholder Engagements Program)  menemukan proyek yang efektif itu memerlukan  pemahaman lingkungan-lingkungan regional dan lokal, kultur orang-orang yang terlibat, dan komitmen dari  pemangku kepentingan. Apapun proyeknya, baik itu suatu instalasi pembangkit tenaga dengan panas bumi atau listrik tenaga air,  suatu program prasarana telekomunikasi  pedesaan,  atau pembangunan prasarana pengairan; bilamana mengabaikan manajemen hubungan pemangku kepentingan akan meningkatkan biaya secara signifikan, keterlambatan proyek atau hasil yang tidak memuaskan bagi semua atau sebagian besar pemangku kepentingan.

        Khusus untuk perencanaan pembangunan prasarana telekomunikasi  pedesaan, perlu dipikirkan pertanyaan-pertanyaan strategis dan hipotesis sebagai berikut:

Ø  Adakah permintaan yang cukup untuk investasi?

Diperlukan penilaian yang terperinci dari persyaratan-persyaratan penyebaran prasarananya, dan memproyeksikan pendapatan di suatu komunitas

Ø  Ke mana jasa telekomunikasi tersebut diperlukan?

Penentuan lokasi-lokasi anggota masyarakat yang diinginkan untuk akses telekomunikasi dan penentuan pemenuhan  (coverage) telekomunikasi  pedesaan yang optimum.

Ø  Bagaimana caranya menyebarkan model bisnis ini agar dapat bertahan?

Penentuan  “kasus bisnis” untuk investasi telekomunikasi pedesaan  dan keterlibatan pemangku kepentingan yang mendukung  keuangan  jasa telekomunikasi pedesaan.

 

        Adapun proses dari Program Perikatan Banyak Pemangku Kepentingan (Multi-Stakeholder Engagements Program)  adalah sebagai berikut:

Ø  Penilaian Pangsa Pasar dengan Cepat (Rapid Market Appraisals/RMA)

Ø  Pemetaan Masyarakat atau Komunitas (Community Mapping/CM)

Ø  Pemetaan Komunikasi Pemangku Kepentingan (Stakeholder Communication Mapping/SCM)

Ø  Pemodelan/Simulasi Keuangan (Financial Modeling/FM)

Ø  Perencanaan Pemangku Kepentingan (Multi-Stakeholder Planning/MSP)

Ø  Pemetaan  Sistem Informasi Greografis (GIS Mapping/GISM).

 

Yang dimaksud dengan Penilaian Pangsa Pasar dengan Cepat (Rapid Market Appraisals) mempunyai tujuan menyediakan penilaian yang terperinci dari persyaratan-persyaratan penyebaran sarana telekomuinkasi pedesaan di suatu komunitas yang membutuhkan. Sedangkan teknik yang yang digunakan adalah:

Ø  Daftar wawancara survei kemauan untuk membayar dari calon pelanggan  dan contoh kerangka kerja untuk telekomunikasi daerah pedesaan.

Ø  Penggunaan dari “keranjang” dari indikator ekonomi-sosial yang terlihat untuk menentukan vitalitas kemampuan ekonomi masyarakat terhadap layanan telekomunikasi.

 

Objektif yang diinginkan adalah:

Ø  Memperoleh rekomendasi dari proporsi pembangunan telekomunikasi yang akan dibangun seperti jenis-jenis layanan pada setiap komunitas.

Ø  Memperoleh perkiraan detil dari penghasilan per-jaringan (kemampuan serta kemauan untuk membayar dan skenario trafik pembicaraan).

 

Pemetaan Masyarakat atau Komunitas (Community Mapping) mempunyai tujuan menentukan lokasi anggota komunitas yang membutuhkan akses telekomunikasi. Teknik yang digunakan  adalah penelitian pemetaan partisipasi dari anggota komunitas pedesaan pada titik pemasaran dan pertemuan tertentu. Objektifnya adalah penentuan lokasi utama untuk pelayanan telekomunikasi yang memberikan keuntungan dan akses komunitas maksimal.

Pemetaan Komunikasi Pemangku Kepentingan (Stakeholder Communication Mapping) mempunyai tujuan menentukan pola komunikasi yang sudah ada dan mekanisme yang digunakan oleh pengguna potensial dari sistem telekomunikasi pedesaan. Adapun teknik yang digunakan adalah:

Ø  Identifikasi dari pemangku kepentingan utama di pedesaan (yaitu: lembaga keuangan, pemasok dari produk rumahtangga, pemasok produk pertanian,  institusi komersial yang penting,  kantor pemerintah, sekolah dan sebagainya).

Ø  Wawancara kelompok terfokus (Focus Group) untuk mengidentifikasi pola komunikasi yang sudah ada dan peningkatan yang diinginkan.

Objektifnya adalah identifikasi  pelanggan utama untuk pelayanan telekomunikasi pedesaan dan strategi untuk melayani konsumen tersebut secara efektif.

Pemodelan/Simulasi Keuangan (Financial Modeling)  mempunyai tujuan menentukan “kasus bisnis” dari investasi telekomunikasi pedesaan. Tekniknya adalah mengkombinasikan RMA, SCM dan CM untuk menghasilkan skenario pengembalian investasi (return on investment/ROI) untuk beberapa tingkat investasi infrastruktur yang berbeda. Objektifnya adalah mengkreasi “kasus bisnis”  investasi telekomunikasi pedesaan yang akan mendorong investasi sektor publik dan pribad
i.

Perencanaan Pemangku Kepentingan (Multi-Stakeholder Planning/MSP) tujuannya adalah mengikat pemangku kepentingan utama dalam mendukung pelayanan telekomunikasi yang secara finansial  dapat bertahan. Tekniknya adalah pemangku kepentingan utama yang diidentifikasi  dalam CM  ambil bagian dalam rapat kerja (workshop) yang didisain untuk meminta masukan, dukungan dan  campur tangan mereka untuk pelayanan nilai tambah yang menambah pendapatan telekomunikasi pedesaan (conto: pelayanan informasi kesehatan atau pertanian). Objektifnya adalah memungkinkan  pemangku kepentingan untuk mengintegrasikan akses telekomunikasi yang telah ditingkatkan pada aktifitas komersial atau pelayanan mereka.

Pemetaan  Sistem Informasi Greografis (GIS Mapping/GISM) mempunyai tujuan menentukan cakupan telekomunikasi pedesaan yang optimal. Tekniknya adalah mengkombinasikan pemetaan GIS dari data RMA, cakupan yang dibutuhkan serta rencana pemakaian dari pemangku kepentingan utama, dan koordinat “Global Positioning Satellites/GPS” dari pemetaan komunitas. Objektifnya adalah peta GIS berorientasi pasar yang dengan mudah digunakan oleh ahli infrastruktur telekomunikasi untuk menggambarkan cakupan sistem telekomunikasi (terutama cakupan “wireless”).

Program Perikatan Banyak Pemangku Kepentingan (Multi-Stakeholder Engagements Program/MSE) mengkombinasikan analisis bisnis dengan manfaat pengembangan telekomunikasi pedesaan yang hasilnya:

Ø  Skenario saling menguntungkan antara investor, komunitas pedesaan, dan pemangku kepentingan di pedesaan.

Ø  Mengkreasi manfaat untuk pengembangan pedesaan sebagai berikut:

o    Kerja sama (Partnerships)

o    Aksesibilitas pelayanan dan pengetahuan untuk masyarakat pedesaan.

o    Teknologi komunikasi dan Akses konektifitas

o    Kelangsungan keuangan (Financial sustainability)

Kerjasama Telematika Dalam Rangka Mengantisipasi ACFTA

Berdasarkan kenyataan yang ada saat ini, dunia Teknologi Telematika sudah menjadi ilmu atau sebuah terapan yang wajib dimengerti oleh masyarakat pada umumnya terutama setelah diterapkannya “ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA)”. Persaingan yang ketat di pentas ekonomi dunia memunculkan  kesadaran perlunya pemahaman serta penguasaan Teknologi Telematika untuk memenangkan persaingan. 

Kerja sama dunia akademik, profesional/bisnis dan pemerintah (ABG/ Academic, Business & Goverment) yang berkesinambungan dan saling menguntungkan sangatlah diperlukan untuk  meningkatkan dan mengefektifkan sumber daya manusia Indonesia. Kerjasama yang melibatkan universitas, dunia usaha dan pemerintah diharapkan akan memberikan manfaat di bidang telekomunikasi dan informatika terhadap perkembangan dan peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia sesuai salah satu pernyataan dari Direktur Utama PT Telkomsel Sarwoto Atmo Sutarwo bahwa “Sekitar 1% pertumbuhan telekomunikasi bisa membantu 1% pertumbuhan GNP.” 

Tentunya program ini memiliki banyak manfaat. Bagi kalangan birokrat, kerja sama yang dilakukan diharapkan dapat menjadi terciptanya salah satu Pusat Unggulan Riset dan Inovasi Teknologi Telematika (Center for Research and Innovation of Competitive Telematics Technology). Di lain fihak kerjasama ini dapat menghasilkan riset bagi pengusaha yang bermanfat diantaranya untuk mengetahui mapping situasi pasar, kendala operasional, segmentasi sosial dan ekonomi serta perilaku konsumen. 

Sedangkan bagi kalangan akademis, manfaatnya adalah dapat memperoleh ”Transfer of Knowledge, Transfer of Technology, dan Transfer of Resources” dari salah operator telekomunikasi di Indonesia. Pada akhirnya hal ini akan menguntungkan seluruh pemangku kepentingan akademis dalam menyongsong persaingan kompetensi sumber daya manusia dibidang Teknologi Telematika.

Adapun Maksud dan Tujuan dari kerja sama ini adalah:

a.    Sebagai sarana “Corporate Social Responsibility (CSR)”:

Dengan dilandasi kebersamaan dan ikatan yang kuat dalam implementasi “Corporate Social Responsibility (CSR)” kepada dunia pendidikan, maka kehidupan akademis dalam suatu univeitas akan terbentuk dengan sangat baik didukung kompetensi dan pengalaman usaha dan kewirausahaan yang mapan. Pembinaan univeristas yang dilakukan tidaklah hanya terbatas pada bantuan dana maupun sejenisnya, namun juga pelatihan, pembinaan manajerial & kewirausahaan, akses kepada dunia kerja dan usaha  yang juga sangat perlu dan penting. Pembinaan secara langsung ini merupakan bagian dari upaya Telkomsel dalam membentuk SDM yang unggul dalam memenangkan persaingan ekonomi di Indonesia.

  

b.    Sebagai sarana “Link & Match” timbal balik / dua arah:

Sebagai sarana “Link & Match”  timbal balik antara kalangan akademis, bisnis dan pemerintah merupakan bagian dari kebutuhan ekosistem dunia usaha dan akademis dibidang Teknologi Telematika. Dunia akademis merupakan salah satu faktor penentu maju mundurnya dunia usaha yang harus mampu membantu memberikan kontribusi ilmiah dan terapan yang kuat, sehingga dunia usaha dapat maju dan berjalan dengan baik sebagaimana yang diharapkan. Kerjasama dan komunikasi dua arah sebagai pemecah kebuntuan dalam dunia usaha dan akademis menjadi langkah yang strategis bagi manajemen dalam menjalankan roda organisasi serta pemangku kepentingan akademis dalam memenuhi tingkat kompetensi yang dibutuhkan dunia usaha. Tatanan kerjasama dan komunikasi yang dinamis ini menjadi salah satu parameter bagi kesuksesan suatu negara dalam menempatkan dunia akademis sebagai basis dari “Human Capital Management “ bagi dunia usaha.

Bertitik tolak dari keinginan diatas semoga kedepan kompetensi sumber daya manusia dibidang Teknologi Telematika yang dimiliki negara ini akan lebih baik.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=SUMnj2dwTdU&w=640&h=450]

Pernyataan Filosofis Pendidikan Djadja Achmad Sardjana

Peran saya sebagai pendidik dan professional dalam bidang Pendidikan, Informatika, dan Manajemen memiliki banyak kesamaan dengan hobi saya membaca dan menulis. Saya mencintai membaca dan menulis, di sisi lain, meraih kesempatan untuk mengarahkan profesionalisme di bidang Pendidikan Informatika, dan Manajemen. Dengan membaca dan menulis berarti memiliki media yang tepat, menciptakan kondisi pertumbuhan yang tepat untuk pertumbuhan pengetahuan dan kepakaran pribadi, dan kewaspadaan terhadap ancaman dan tantangan di bidang Pendidikan, Informatika, dan Manajemen. Saya menulis, membaca dan menyimpan catatan serta menetapkan tujuan dan mengevaluasi arah hidup saya. Ada banyak kesamaan membaca dan menulis dalam dan hubungannya dengan penyelenggaraan program bidang pendidikan dan professional.

Sebagai seorang pendidik dan professional, saya memiliki banyak tuntutan memanfaatkan waktu untuk mendidik. Saya percaya akan mencurahkan lebih banyak energi untuk proses pembelajaran karena peserta didik dapat melihat manfaat dari curahan waktu saya dalam pembelajaran. Dalam setiap pertemuan dengan pembelajar, saya mencoba untuk membangkitkan rasa ingin tahu, menumbuhkan kesopanan, membangun kerja sama dan manajemen tim, berpikir analitis, dan mengadaptas pengetahuan saat ini. Saya mengatur “panggung” pembelajaran bersama, dan menunjukkan struktur yang mendasari saya untuk membuat keputusan. Saya menyelidiki tingkat pengetahuan pembelajar, saya mengajukan pertanyaan dan membiarkan pembelajar sedikit berjuang untuk menjawab – Ini dimaksudkan agar mereka membuat komitmen. Lalu saya berusaha mengetahui proses apa yang digunakan untuk sampai pada jawabannya. Apakah mereka menggunakan literatur, pengalaman pribadi, atau kebiasaan saja? Apakah mereka menghubungkan  pengetahuan mereka dengan literatur yang ada?

Tujuan saya dalam mendidik tidak terbatas pada domain pengetahuan. Pendidik harus belajar keterampilan kerja sama dan manajemen tim juga. Mengekspos struktur “Permainan Peran” atau metode lain yang mendasari pembelajar bekerja ketika menyelesaikan sebuah tugas, merencanakan atau mengkritisi tim, atau membuat keputusan kepemimpinan pembelajaran. Model ini mengarah pada langkah penting memberikan umpan balik yang dapat diidentifikasi. Pembelajar juga harus memberikan umpan balik kepada pendidik namun biasanya pendidik yang memintanya.

Pendidik harus bertanggung jawab besar dalam proses pembelajaran. Mereka harus mengambil pendekatan aktif untuk belajar. Saya percaya pembelajar yang sukses berkembang dari hanya memiliki pengulangan teori atau kasus untuk menghubungkan pengalaman kerja mereka dengan pengetahuan yang ada di luar. Pada akhir pendidikan, diharapkan pembelajar yang sukses dapat belajar di luar konteks kasus, karena mereka berusaha untuk “menguasai” lapangan kehidupan.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=3DOv_H2m11g&w=640&h=420]

Studi Kasus: "Program Telepon Desa Grameen Telecom" (Dr. Don Richardson, Ricardo Ramirez & Moinul Haq)

 

a.       Judul: 

        Grameen Telecom’s Village Phone Programme: A Multi-Media Case Study 

b.       Penulis:

Dr. Don Richardson, Ricardo Ramirez & Moinul Haq

c.        Perguruan Tinggi/Institusi: 

Telecommons Development Group(TDG)

d.       Variabel Yang Diteliti:

·         Prakarsa dan pengoperasian Village Phone, serta dampaknya dalam pengentasan kemiskinan,

·         Model bisnis untuk telekomunikasi pedesaan di Bangladesh,

·         Analisa dari konteks jenis kelamin dan penggunaan telepon di pedesaan Bangladesh.  

e.        Uraian Singkat: 

Dalam Studi kasus ini, Telecommons Development Group(TDG) melakukan analisa yang mendalam terhadap Model Bisnis Grameen Telecom. Laporan ini juga berisi daftar pustaka yang luas dengan sambungan hiperteks untuk mengunduh dokumen dan laporan-laporan, termasuk laporan riset sebelumnya yang diprakarsai Village Phone oleh Prof. Abdul Bayes. Laporan ini disertai juga dengan video, termasuk satu wawancara dengan Muhammad Yunus, Direktur Utama GrameenBank.

Studi ini diselenggarakan oleh Perencanaan Strategis &Divisi Kebijakan Proyek Pengentasan Kemiskinan Cabang Asia, Agen Pengembangan Internasional Kanada (Strategic Planning & Policy Division of the Asia Branch Poverty Reduction Project, Canadian International Development Agency), sebagai suatu studi kasus untuk menyelidiki dampak dari program GrameenPhone dan Grameen Telecom dalam pemberian kredit mikro untuk pelayanan telepon selular dalam pengentasan kemiskinan dan situasi ekonomi-sosial operator wanita  “Village Phone”. 

 “Village Phone” dari Grameen Telecom merupakan proyek percobaan yang sampai tahun 2000 melibatkan 950 Village Phones yang menyediakan akses telepon kepada lebih dari 65,000 orang. Wanita-wanita desa/kampung mengakses kredit mikro untuk memperoleh pelayanan telepon selular GSM dan sesudah itu menjual lagi pelayanan tersebut di desa/kampung mereka. Grameen Telecom memperkirakan  bahwa ketika programnya selesai, akan ada 40,000 operator “Village Phone” dengan  laba bersih $24 juta USD tiap tahun. 

Hasil Penelitian Utama (Key Findings):

1.       Program Village Phone muncul sebagai solusi teknis terbaik yang tersedia untuk akses telekomunikasi universal pedesaan sesuai dengan keadaan Regulasi Telekomunikasi Pemangku kepentingan dan kondisi ekonomi saat itu. Program “Village Phone” adalah suatu solusi organisatoris dan teknis untuk akses telekomunikasi pedesaan yang dibutuhkan oleh suatu lingkungan dengan regulasi telekomunikasi yang tidak mendukung
bagi percepatan infrastruktur telekomunikasi pedesaan.

2.       Konsep dari “akses yang universal” bukanlah sesuatu yang netral terhadap gender. Di dalam kasus dari Pemangku kepentingan ini, jenis kelamin dari operator “Village Phone” dan penempatan secara fisik dari telepon di dalam suatu desa/kampung yang tersegmentasi secara gender dapat menghalangi atau memperbaiki akses wanita-wanita untuk menelpon karena alasan religius. Biasanya, satu lokasi operator wanita akan menyediakan suatu ruang yang bisa diterima untuk wanita-wanita desa/kampung yang lain untuk mengakses telepon. Dari sudut pandang pendapatan dan laba, adalah penting untuk memastikan bahwa “Village Phone” secara penuh dapat diakses oleh seluruh populasi desa/kampung,  jika 50% dari pemakai berdasarkan gender menghadapi rintangan-rintangan untuk menelpon, maka suatu arus pendapatan yang penting telah lenyap.

3.       Village Phone bertindak sebagai suatu instrumen yang tangguh untuk mengurangi resiko  dalam pengiriman uang dari para anggota keluarga para pekerja di Dhaka City dan yang bekerja di luar negeri, serta untuk membantu orang desa di dalam memperoleh informasi akurat tentang kurs valuta asing. Mengirim uang tunai dari suatu negara Timur Tengah ke suatu desa/kampung di Banglades adalah penuh resiko; pengiriman uang seperti itu adlah faktor pokok yang membuat laku/laris untuk pemakaian telepon. Mengurangi resiko dari pengiriman uang dari para pekerja di luar negeri mempunyai implikasi penting untuk penduduk rumah tangga dan pedesaan di pemangku kepentingan. Di tingkatan yang mikro, pengiriman uang cenderung untuk digunakan untuk biaya rumah tangga sehari-hari seperti makanan, pakaian dan pelayanan kesehatan. Pengiriman uang seperti itu satu faktor yang penting dalam memenuhi penghidupan rumah tangga, dan dapat meningkatkan porsi yang penting dari penghasilan rumah tangga. Begitu penghidupan dipenuhi, pengiriman uang cenderung untuk digunakan untuk “investasi-investasi produktif,” atau untuk uang tabungan. 

4.       Panggilan-panggilan telepon kepada keluarga dan para teman sering melibatkan pertukaran informasi tentang harga pasar, daftar biaya pengiriman barang-barang,  tren pasar dan pertukaran valuta. Hal ini  membuat “Village Phone” satu alat yang penting untuk membuka peluang usaha rumah tangga dalam mengambil informasi pasar untuk meningkatkat keuntungan dan mengurangi biaya produktif.

5.       Pelayanan telepon pedesaan di Pemangku kepentingan adalah sangat menguntungkan karena regulasi yang ada sekarang (ketiadaan interkoneksi menjadi penghalang yang paling besar), sehingga operator telekomunikasi tidak mampu untuk mengimbangi permintaan untuk jasa telekomunikasi antar operator. Telepon-telepon di dalam program Grameen Telecom Village Phone menghasilkan tiga kali pendapatan untuk pelayanan selular pedesaan ($100/bulan lawan $30/bulan). Bahkan, satu pesaing operator telekomunikasi di Pemangku kepentingan melaporkan mempunyai pendapatan dari 12,000 sama dengan pendapatan dari 1,500 “Village Phone”.

6.       Teknologi telepon genggam GSM adalah suatu solusi yang mahal untuk akses  universal di daerah pedesaan. Liputan selular ini terbatas untuk daerah pedesaan serta hanya menguntungkan di bawah regulasi telekomunikasi yang sehat – ketika lingkungan yang regulasi diperbaiki, teknologi selular tidak akan menjadi alat paling efisien dan sehat dalam menyediakan servis yang universal. GSM teknologi telepon genggam juga menempatkan tarif-tarif jauh lebih tinggi pada para pemakai telepon pedesaan dibanding “Wireless Local Loop” (WLL) teknologi. Tanpa perbaikan-perbaikan pada regulasi, teknologi selular adalah suatu solusi yang praktis. Juga, teknologi selular sekarang ini bukan suatu opsi yang sehat untuk hubungan email/Internet/data yang murah. WLL dan opsi lain dapat menyediakan secara luas dan jauh lebih baik dengan ongkos pelayanan lebih murah.

 Unsur-unsur yang dapat direplikasi:

1.       Pengalaman Grameen Telecom di dalam perencanaan bisnisnya memungkinkan kami untuk menyarankan satu solusi potensial menarik operator telekomunikasi dalam melayani daerah pedesaan. Targetnya adalah melayani: daerah yang tak dapat dilayani, kurang terlayani dan menyediakan dukungan untuk pelayanan informasi  riset pasar  yang bermutu. Riset pasar akan membantu ke arah pembuktian kasus bisnis, menarik modal investasi, dan mengurangi kendala  dari pemodal-pemodal dan operator.

2.      Poin-poin pengalaman Grameen Telecom menunjukkan kepada suatu solusi yang potensial untuk operator telekomunikasi, dalam  menghadapi tantangan mengatur “last mile” dari operasi telekomunikasi pedesaan. Hal ini dihubungkan dengan organisasi-organisasi kredit mikro yang sukses berdampingan dengan operator telekomunikasi untuk memperluas liputan telepon umum publik (Public Call Office/PCO) di daerah pedesaan. Pinjaman-pinjaman mikro kepada wirausaha pedesaan (terutama yang ditargetkan kepada kalangan wanita dan kaum muda) dapat memungkinkan wirausaha untuk menyelenggarakan telepon umum publik (Public Call Office/PCO) yang menyediakan bidang jasa telepon, fax, email dan bahkan inter
net, fotokopi dan jasa komputer pengolah kata. Suatu program waralaba  jenis ini akan juga menetapkan konsistensi pelayanan ke semua daerah yang pada gilirannya mendukung pengembangan sosial dan ekonomi lokal.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=4VZ9i8NrcsY&w=640&h=420]