Dunia Manusia Dilihat Sebagai Kumpulan Masyarakat atau Komunitas Praktisi

Etienne Wenger seorang ahli komunitas  praktisi (Communities of Practice) dalam kuliah umumnya di Universitas Lancaster mengatakan:

Dunia manusia dapat dilihat sebagai kumpulan besar masyarakat atau komunitas  praktisi (Communities of Practice) -beberapa diantaranya sangat menonjol dan diakui, yang lain nyaris tidak terlihat. Belajar, kemudian dapat dipahami sebagai lintasan melalui lanskap praktek:memasuki beberapa komunitas, ada yang diundang atau ditolak, tetap terasing, melintasi batas-batas pengetahuan, terjebak atau terus bergerak. 

Dalam lanskap ini, baik inti komunitas praktisi dan sekeliling mereka menawarkan kesempatan untuk belajar. Belajar tidak hanya sekedar menguasai tubuh pengetahuan (Body of Knowledge), tetapi merupakan perjalanan diri sendiri. Mencapai tingkat “knowledgeability” (Kemampuan Pengetahuan) yang tinggi adalah masalah negosiasi identitas produktif serta hubungannya dengan berbagai praktik yang membentuk lanskap ini. 

Presentasi tentang “Etienne Wenger: Learning in and across landscapes of practice” dapat diunduh disini

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=MRY_DbOn8Sg&w=640&h=390]

Pendidikan Digital: Utopia Atau Harapan? (Sebuah Obrolan di Dunia Maya)

 

Pada bukunya “Digital Education” (http://www.byd.com.ar/dewww.htm) Antonio M. Battro dan Percival J. Denham mengatakan: “Tidak ada yang tahu persis kapan atau di mana dunia baru pendidikan digital akan memanifestasikan dirinya, tetapi ada indikasi pasti kematian pendidikan tradisional. Ini hanya masalah bagaimana mengantisipasi saat itu dan mempersiapkan untuk mencari solusinya, agar tidak terjadi seperti jatuhnya Tembok Berlin. Kami berdua yakin akan kemenangan kebebasan dan jatuhnya hambatan yang membatasi pendidikan.”

Buku tersebut menjadi perbincangan menarik dikalangan pendidik Indonesia. Argumen menarik pertama melalui Facebook datang dari  Sukanto Tedjokusuma (Dosen Universitas PETRA Surabaya) yang berpendapat dengan “istilah gaul” : “Menurut saya Battro & Denham ‘lebay’  Pak ! Apakah percobaan efek obat pada tikus mau dilakukan secara digital? Apakah efek dari gempa pada  suatu struktur hanya akan dianalisa secara digital? Kalau Battro & Denham mau memaksakan “teori”nya, mungkin mereka akan memaksakan agar riset dikeluarkan dari dunia Education….”. Semakin seru, ada pendapat juga disampaikan oleh Bayu Adhitya Nugraha (ComLabs USDI ITB): “Perubahan ke arah Digital dalam pendidikan itu sebuah kepastian. Masalahnya, apakah perubahan itu akan mengarah ke reformasi pendidikan atau hanya memindahkan kesimpangsiuran dalam ekosistem baru?”

Argumen saya perihal ini adalah : “Peserta didik sekarang adalah ‘Digital Native’ (Penduduk Asli Digital), sedangkan kita adalah ‘Digital Immigrant’ (Muhajirin Digital)… Metoda pembelajaran saat ini semestinya disesuaikan dengan preferensi mereka… Bahkan di kampung-kampung, banyak dari mereka lebih mengenal “avatar/anime” dibanding “Tokoh Nasional” yg dulu sering kita baca di koran.” Sedangkan Tajuddin N. Pabeta(Dosen Universitas Indonesia) mengatakan: “Nah ini menarik dan saya setuju… Tapi dalam banyak hal terkadang seseorang mengajak orang lain makanan makanan enak, padahal orang yang diajaknya pemilik restoran.. Bukan pemilik warteg..”

Saya mengutip Neil Postman: “Bahwa perubahan terus menerus ada, dan semakin cepat serta ada dimana-mana, Hal itu merupakan karakteristik yang paling mencolok pada dunia di mana kita berada. Sayangnya sistem pendidikan kurang bahkan belum mengakui kenyataan ini. Seharusnya kita mendesain lingkungan-lingkungan sekolah yang bisa membantu kaum muda untuk mampu menguasai konsep-konsep yang penting untuk bisa tetap hidup dalam dunia yang terus berubah cepat.” IMHO (In My Humble Opinion) Pengertian dari itu adalah mengintegrasikan dunia digital/maya (yg sebetulnya dunia nyata) peserta didik kita dengan sistem sistem pembelajaran yang sudah ada :-)

Dilain pihak Hidayat Ely (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Makassar) berpendapat: “Saya coba berpendapat tanpa mengurangi sama sekali rasa hormat. Kita sedang berada di dalam jutaan ketidakpastian dunia (world uncertainty), akibat pergerakan perubahan di berbagai lini kehidupan. Namun sehebat-hebat itu semua, pendidikan lewat tatap-muka langsung (pendidikan tradisional) masih lebih efektif. Analoginya, sehebat-hebat ajang simulasi digital pertempuran para pilot tempur F-16 USAF, tetap diharuskan praktek lapang (bertatap-muka dengan situasi yg sebenarnya). Karena hal itu lebih cepat memberi penghayatan psikologis-real atas materi-ajar pertempuran, dibanding pertempuran pada simulator. Jadi, sehebat-hebat “digital-education” masih lebih hebat pendidikan tatap muka langsung (tradisional), & hal ini telah berlangsung sejak Nabi Adam AS hingga kini, sebagai sebuah atau sesuatu keniscayaan “endowment”.  Untuk hal itu saya tanggapi dengan:“Kata kuncinya adalah “Integrasi” bukan “Mutilasi” salah satu metode pembelajaran. Salah satunya yg bisa dilakukan adalah “Blended Learning” dengan semua media digital yang ada.”

Sebagai kritik tentang hal ini Hendragunawan S. Thayf (Dosen UNHAS) mengatakan: “Neil Postman pernah mengeritik kemasan edutainment dalam bentuk tv show… Waktu itu belum ada internet dan multimedia dlm edukasi, tapi esensi kritikannya pada adanya kecenderungan ‘pendangkalan/peringkasan berlebih’ dan semangat ‘make it all fun’ yang kelewatan sementara esensi pendidikan sesungguhnya juga ‘membiasakan jiwa dengan yang tidak disukainya untuk mendewasakannya’.” Kritik tersebut saya tanggapi dengan,  “Filosofis Sekolah Digital adalah ‘make it all fun’ sesuai dengan filosofis Yunani dari Sekolah adalah ‘Tempat yang menyenangkan,. Menyenangkan utk semua pemangku kepentingan pendidikan mulai dari pendidik, peserta didik dan stakeholder lainnya.”

Mungkin jawaban Battro dan Denham tepat untuk menjawab hal-hal di atas :”Keinginan terbesar kami adalah memberikan kontribusi untuk menafsirkan peringatan awal dari perubahan (Pendidikan Digital) ini &dan menguraikan beberapa jalan bagi masa depan pendidikan.”

Sebenarnya, ini adalah bagian dari kode-kode masa depan dalam dunia pendidikan kita (meminjam istilah Rhenald Kasali dalam bukunya Craking Zone). Seperti apa kita menafsirkan masa depan? Apakah akan menjadi pemain, penonton atau pesakitan? Perspektif, langkah, dan action kitalah yang akan menentukan disebuah zaman; disebuah masa dimana kita akan melihat semua orang di Indonesia berwujud Avatar.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=mRuw8_nGH08&w=640&h=510]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Studi Perilaku dan Pengaruh Perkembangan Teknologi pada Pembelajaran Mahasiswa

Sebagai teknologi yang baru muncul – perangkat mobile, e-reader dan semua jenis media digital  – menjadikan kebiasaan belajar dari mahasiswa berubah dan berkembang menurut sebuah studi baru-baru ini yang dirilis oleh CourseSmart dan Wakefield.

“Survei ini membuktikan bahwa perangkat mobile dan teknologi telah mengubah perguruan tinggi tradisional  dimana teknologi memainkan peran dalam kemampuan dan keberhasilan akademik mahasiswa,” kata Jessica Nelson dari CourseSmart. “Saat ini siswa benar-benar membawa ‘ransel digital’.”

Studi ini menemukan bahwa 98 persen mahasiswa sekarang memiliki perangkat digital, dan 27 persen dari siswa menganggap laptop sebagai item paling penting dalam tas mereka. Sebelas persen dari siswa mengatakan ponsel mereka adalah benda paling penting dalam tas mereka. Siswa juga mengatakan teknologi membuat belajar lebih efisien, 85 persen dari responden survei mengatakan teknologi menghemat waktu mereka saat belajar – rata-rata dua jam per hari.

Perangkat digital dan media digunakan dalam hampir setiap aspek kehidupan akademik, termasuk menulis makalah (82 persen), melakukan penelitian (81 persen), mencatat di kelas (70 persen) dan membuat presentasi kelas (65 persen).

Dan tidak hanya siswa yang memanfaatkan teknologi digital di dalam dan di luar dari kelas. Profesor juga semakin sering menggunakan media digital untuk meningkatkan program yang mereka ajarkan.

“Survei menemukan bahwa baik mahasiswa dan dosen telah memanfaatkan teknologi untuk berkomunikasi lebih efektif,” kata Nelson dari CourseSmart. “Sembilan puluh tujuh persen siswa melaporkan menerima materi digital dari dosen dan mahasiswa memakai rata-rata tiga perangkat digital yang berbeda setiap hari, yang membuktikan bahwa kedua kelompok di atas sadar teknologi.”

“Semester lalu, saya mengambil Prodi Bahasa dan untuk setiap kelas profesor  kami,  presentasi PowerPoint dia kirimkan melalui Blackboard , yang merupakan cara profesor tersebut berkomunikasi dengan kami,” kata Nicole Fitting dari Brooklyn, New York. Fitting sedang mengejar gelar master dalam “Patologi Bahasa” dari Brooklyn College. “Yang benar-benar menarik adalah kami berada di laboratorium komputer untuk belajar di kelas, jadi kami bisa mengunjungi beberapa situs Web untuk mendengarkan suara yang berbeda dari banyak orang dalam bahasa yang berbeda.”

Fitting sering menggunakan Smartphone-nya untuk membaca slide yang disediakan oleh profesornya sehingga dia dapat mempelajari setiap kali punya waktu luang.

e-Learning

Fitting juga mengejar beberapa prasyarat gelar melalui e-learning di University of Iowa. Dia saat ini mengambil Kursus Anatomi dan Fisiologi Bahasa. Menggambarkan dirinya sebagai seorang pembelajar visual dan auditori, Fitting mengatakan ada keuntungan untuk mengambil kuliah online.

“Hal yang saya sukai tentang kuliah online adalah aku bisa belajar berulang-ulang,” jelasnya. “Jika saya tidak cukup menangkap atau mengerti sesuatu, saya bisa kembali mendengarkannya.”

Dia menambahkan bahwa Profesornya menarik presentasi PowerPoint-nya , dengan berbagai sumber internet dan bahkan film Flash serta mengintegrasikannya dengan mulus yang membantunya benar-benar mempelajari materi.

eBook

Dari perspektif mahasiswa, Fitting menggunakan ebooks untuk beberapa kelasnya.

“Semester ini saya telah dapat men-download  buku-buku anatomi bahasa, yang memungkinkan saya untuk membaca buku teks dimanapun saya berada tanpa harus membawa banya buku,” katanya. “Saya menemukan bahwa hal itu membantu karena  tidak harus membawa beberapa buku serta Saya dapat dengan cepat dan mudah mengakses informasi yang saya tidak mengerti dengan melihat eBook itu. “

Dia  masih suka buku cetak untuk kualitas taktil dan kemampuannya untuk menulis catatan di margin, tetapi ia  juga mengatakan bahwa ebooks menutup kesenjangan, setidaknya dengan kemampuannya untuk menyorot bagian-bagian penting.

Jam Kantor

Siswa juga semakin beralih ke media digital untuk berkomunikasi dengan profesor di luar kelas. Survei CourseSmart  menemukan bahwa 91 persen mahasiswa mencari bantuan ekstra dari dosen mereka melalui e-mail, 13 persen menggunakan telepon seluler dan delapan persen menggunakan situs jejaring sosial .

Fitting mengatakan elearning memberikan akses sesi chatting dengan dosennya selama jam kantor dan mengatakan ia merasa mendapat perhatian lebih individual. Namun, karena dia mampu memutar ulang kuliah dosennya, dia hanya perlu sedikit pertanyaan yang membutuhkan perhatiannya.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=dGCJ46vyR9o&w=640&h=510]

Diterjemahkan secara bebas dari http://www.schools.com/articles/college-students-study-habits-evolving-with-technology.html

Untuk berita terkait, lihat:


 

Pembelajaran digital: Bagian Akhir dari buku teks?

Tidaklah mengherankan bahwa banyak siswa yang terobsesi dengan perangkat mobile mereka. Apa yang mungkin tadinya dianggap mengejutkan, pada kenyataannya suatu hari nanti perangkat digital dapat menggantikan semua buku teks  dan mungkin lebih cepat dari yang kita pikirkan! Korea Selatan mengumumkan bahwa pada tahun 2015, semua buku teks kertas akan diganti dengan buku-buku digital yang tersedia pada perangkat mobile seperti tablet dan pembaca elektronik.

Karena siswa dan mahasiswa menjadi lebih tergantung pada perangkat digital, akankah buku punah? Pelajari lebih lanjut tentang tren tersebut di bawah ini.

Infographic: Digital devices to replace textbooks

Dikutip dari http://www.schools.com/visuals/digital-learning-final-chapter-for-textbooks.html

 

Cellular Platform & Mobile Systems

Wireless networks in comparison to fixed networks:

  • Higher loss-rates due to interference 
  • Restrictive regulations of frequencies 
  • Low transmission rates 
  • Higher delays, higher jitter 
  • Lower security, simpler active attacking 
  • Always shared medium

Convergence:

  • Heterogeneous access technologies:
  • Multi-mode access devices 
  • Dual mode phones (WiFi, 2.5/3G), UMA 
  • Heterogeneous Services 
  • Cellular Internet access and Internet based voice/video access 
  • Challenges:
    • Time variant heterogeneous network characteristics 
    • Heterogeneous applications with different utilities 
    • System design and networking challenges

[slideshare id=2980753&doc=lecture-ict-intro-ipwireless-part01-mm-biztel-22oct09-100124070647-phpapp02]

Policy Analysis: Evaluating Policy Performance

Table of Contents :

  1. Ethics and Values in Policy Analysis 
    • Thinking about Values 
    • Ethics and Metaethics 
    • Standards of Conduct 
  2. Descriptive Ethics, Normative Ethics and Metaethics 
    • Descriptive Value Typologies 
    • Developmental Value Typologies 
    • Normative Theories 
    • Metaethical Theories
  3. Evaluation in Policy Analysis 
    • The Nature of Evaluation 
    • Functions of Evaluation 
    • Criteria for Policy Evaluation 
  4. Approaches to Evaluation 
    • Pseudo-evaluation 
    • Formal Evaluation 
    • Varieties of Formal Evaluation 
    • Decision-Theoretic Evaluation 
  5. Methods For Evaluation

A strong public policy analysis focus on:

  1. To distinguish policy outcomes, impacts, processes, and inputs 
  2. Compare and contrast social systems accounting, social experimentation, social auditing, and research and practice syntheses 
  3. To describe and illustrate criteria for evaluating policy performance 
  4. To contrast decision-theoretic evaluation and metaevaluation 
  5. To distinguish values, ethics and metaethics 

[slideshare id=2753635&doc=dunn-policy-analysis-chapter07-djadjaachmadsardjana0907904-v1-1-091220075550-phpapp02]

Related articles, courtesy of Zemanta:

Bapinger Solution: Wireless Security

DEFINITION

  1. The protection of networks and their services from unauthorized modification, destruction, or disclosure. Network security provides for assurance that a network performs its critical functions correctly and there are no harmful side effects. (US Army Information Assurance Security Officer (IASO) / http://ia.gordon.army.mil/iaso/default.htm).
  2. Computer security is the effort to create a secure computing platform, designed so that agents (users or programs) can only perform actions that have been allowed. This involves specifying and implementing a security policy. The actions in question can be reduced to operations of access, modification and deletion. Computer security can be seen as a subfield of security engineering, which looks at broader security issues in addition to computer security. (Wikipedia / en.wikipedia.org/wiki/Network_security) 

TELECOMMUNICATION NETWORK SECURITY 

Quote from Houlin Zhao, Director of the Telecom Standardization Bureau, ITU : “All businesses face pressure to increase revenue and reduce costs. And in the face of this pressure, security is often sidelined as non-essential. But investment in security is money in the bank. And investment in the making of security standards means that manufacturers and service providers can be sure that their needs and views are taken into account. “ (http://www.itu.int/ITU-T/lighthouse/articles/ecta- 2004.html)

[slideshare id=2670038&doc=bapingernetworksecurity-07dec09-091207184130-phpapp02]

Perguruan Tinggi Jelajahi Peran Media Baru dalam Pendidikan

Gardner Campbell

Gardner Campbell

Karena teknologi terus berubah dengan cepat, perguruan tinggi dan universitas di Amerika sedang mencoba untuk mencari tahu apa peran perubahan ini agar lebih berarti bagi pendidikan.

“Pendidik perlu cara berpikir dan berpartisipasi dalam lingkungan ‘New Media‘ untuk pembelajaran. Sebuah cara produktif dan memuaskan yang penuh dengan inspirasi,” kata Gardner Campbell, direktur pengembangan profesional dan inisiatif inovatif di Virginia Tech.

Siswa semakin berharap untuk menggunakan perangkat mobile, situs jejaring sosial dan alat-alat lain untuk menemukan informasi dalam kelas. Dan fakultas harus mencari berbagai cara untuk memasukkan alat-alat komputasi yang kuat ini ke dalam metodologi pendidikan.

“Jika kita bersikeras menggunakan teknik tua dan kuno untuk mengajar mereka, kita akan kehilangan mereka,” kata Doug Rowlett, koordinator desain instruksional  di Houston Community College Southwest. Jika ingin efektif, Anda harus beradaptasi, daripada mencoba untuk memaksa siswa ke dalam suasana dan keadaan yang mereka anggap tidak cocok, katanya.

Dalam seminar media baru yang dilakukan Gardner Campbell di banyak Negara bagian; pendidik, fakultas, staf dan mahasiswa pascasarjana memulai percakapan dan diskusi tentang apa yang akan mereka lakukan di kelas dan bagaimana teknologi mengubah pendidikan di perguruan tinggi mereka.

Landasan peluncuran

Ketika masih di Baylor University di Texas, Campbell memulai seminar dengan sekelompok kecil dosen dan staf di musim semi 2010 serta menyusun silabus yang ditulis pada buku “The New Media Reader”.

Satu jam setengah jam setiap Rabu, mahasiswa pascasarjana, staf pengajar dari berbagai disiplin ilmu dan staf, termasuk pustakawan, bertemu untuk membicarakan apa yang mereka baca. Seminar-seminar ini memberikan ruang di mana fakultas, staf dan lulusan siswa dapat berbagi pemikiran dan membantu memfasilitasi diskusi.

“Di jantung setiap anggota fakultas ada yang penasaran dan benar-benar terpesona oleh dunia di sekitar mereka,” kata Campbell. Setelah berbicara tentang seminar di konferensi yang berbeda, ia menggelitik minat perguruan tinggi dan universitas lain. Alan Levine dari Konsorsium New Media membantunya dengan ide agar sejumlah sekolah berpartisipasi dalam seminar. Mereka akan memiliki silabus umum, bekerja melalui fase pembelajaran itu pada saat yang sama, dan menulis blog tentang apa yang mereka pelajari.

Tom Haymes dari Houston Northwest Community College juga membantunya memikirkan bagaimana jaringan yang akan terlibat. Selama tahun akademik 2010-2011, sekitar 12 orang telah  menciptakan kelompok-kelompok lokal yang berkecimpung.
Melalui seminar ini, orang menyadari bahwa mereka bergulat dengan orang lain yang punya perjuangan isu-isu inti yang sama, Campbell mengatakan. Mereka bisa mengambil peluang kepemimpinan dengan menjadi fasilitator seminar. Dan kontribusi individual mereka dapat diperluas skalanya sampai ke jaringan nasional.

Perjalanan
Houston Northwest Community College
Di Houston Community College Northwest, diskusi kelompok dirancang untuk mendapatkan pemikiran dari para pendidik dan fakultas, kata Tom Haymes, direktur teknologi dan komputasi instruksional serta seorang profesor pemerintah federal.

“Seminar ini bukan tentang jawaban, ini tentang pertanyaan, dan ini tentang bagaimana seseorang membuat untuk mengajukan pertanyaan yang tepat.”

Mereka berpikir tentang hal-hal seperti hak cipta, sifat dan perilaku mahasiswa saat ini dan teknologi yang tepat untuk digunakan.

Tapi beberapa tantangan menyulitkan pendidik dan fakultas untuk membuka pikiran mereka tentang teknologi. Perguruan tinggi memiliki tradisi panjang yang menganggap teknologi itu sulit, dan banyak pendidik dan fakultas telah dipaksa untuk menggunakan platform teknologi yang buruk, katanya.

Pendidik dan fakultas sangat menolak teknologi baru ke bidang pendidikan karena tidak masuk akal bagi mereka dan biasanya dirancang dengan buruk. Jika Anda memaksakan keduanya bersamaan, orang akan lari, kata Haymes.

Seminar ini membantu orang belajar bagaimana untuk mengadvokasi teknologi yang baik dan mengembangkan tingkat kenyamanan dengan metodologi itu. Karena itu dirancang untuk menjadi pengalaman belajar yang mendalam, sebagian besar manfaat dan efek seminar terjadi beberapa bulan setelah itu berakhir.

Musim gugur ini, anggota fakultas akan berpartisipasi dalam Tantangan “Apple’s Challenge Based Learning Pilot”, sesuatu yang mungkin tidak akan bisa dilakukan tanpa seminar pendahuluan sebelumnya. Itulah salah satu kisah suksesnya.

Houston Community College Southwest 
Sebagian besar anggota pendidik dan fakultas hanya punya waktu untuk menyapa ketika mereka melihat satu sama lain di lorong atau dalam pertemuan Univesitas. Jadi, ketika profesor sosiologi Ruth Dunn memiliki kesempatan untuk berbicara tentang ide-ide besar dan menghubungkannya ke kelasnya, dia menyitir masalah itu:

“Hal terbesar yang saya dapatkan adalah  duduk di sebuah ruangan dengan rekan-rekan saya dan benar-benar mendiskusikan ide-ide yang mendalam.”

Di Houston Community College Southwest, antara 10-12 pendidik/fakultas dan staf perguruan tinggi datang ke seminar setiap minggu di musim semi 2011. Para peserta datang dari berbagai disiplin ilmu dan generasi, dan membawa berbagai perspektif untuk berdiskusi.

Banyak dari pendidik dan fakultas di kampus takut teknologi dan melihatnya hanya sebagai selingan. Dalam satu sesi seminar, seseorang mengatakan dia meminta siswa mematikan perangkat mobile mereka supaya mereka tidak bermain game.

Tapi seorang profesor bahasa Inggris berbicara dan memberi contoh bagaimana alat-alat tersebut dapat digunakan dalam cara yang tidak terduga. Murid-muridnya telah membaca sebuah risalah panjang pada pembelaan hak-hak perempuan yang ditulis oleh Mary Wollstonecraft melalui perangkat tersebut.

Salah satu siswa mengatakan dia pikir penulisnya gila tentang bagaimana perempuan diperlakukan serta  kurang percaya diri dalam penampilan dirinya. Tapi mahasiswa lain mengeluarkan “Smartphone” dan menemukan potret penulis. Dia cantik, dan fakta ini mengubah arah diskusi.

“Itu sebuah contoh bagaimana teknologi dapat digunakan dalam cara luar biasa,  bermanfaat dan berbeda, cara-cara yang kita tadinya bahkan tidak berpikir,” kata Dunn.

Pada kesempatan lain:

“Sebelum fokus pada pedagogi dan strategi, kita perlu memahami apa yang secara fundamental teknologi lakukan untuk kita sebagai masyarakat dan bagaimana hal itu mengubah kita,” kata Rowlett.

Dan kita juga perlu menyadari bahwa proses belajar tidak pernah selesai. Setelah Anda mempelajari sesuatu, Anda harus mempelajari kembali beberapa kali, dan itu sulit bagi pendidik dan fakultas untuk menerimanya.

Enam perguruan tinggi daerah dalam sistem Houston Community College telah mendorong teknologi di Perguruan Tinggi, serta mendesak mereka untuk memodernisasi, dan mempekerjakan orang-orang yang punya keterampilan komputer. Para pendidik dan Fakultas tidak mengerti mengapa itu diperlukan, dan mereka sudah lama ingin seseorang untuk duduk dan membuka dialog tentang hal itu.

Tulane University 
Di Tulane University, sekelompok kecil anggota fakultas dan staf bertemu setiap Jumat untuk makan siang pada musim gugur 2010. Mereka duduk-duduk, mengunyah makanan dan berbicara tentang aplikasi beberapa teori, kata Mike Griffith, spesialis teknologi instruksional dan dosen bahasa Inggris.

Mereka menggunakan silabus standar yang dibuat Campbell di musim gugur, dan pada sesi terakhir, anggota fakultas Griffith mengatakan bahwa mereka ingin melanjutkan sesi “Historical Reading” tersebut di musim semi.

Berminggu- minggu, mereka merancang silabus sendiri yang menyelidiki isu-isu kontemporer yang sering muncul di media. Mereka berbicara tentang WikiLeaks, pergolakan di Timur Tengah dan peristiwa lainnya saat mereka terjadi.

Selama semester kedua, mereka berbicara tentang narasi dari game dan bagaimana game telah berubah selama lima tahun terakhir. Mereka membawa PlayStation 3 dan Wii serta beberapa PC bagi setiap orang untuk bermain bersama.

Sifat interdisipliner dari seminar ini adalah kekuatannya. Pendidik dan Fakultas membawa perspektif yang berbeda sebagai profesor Bahasa Inggris, komunikasi, filsafat dan mata pelajaran lain. Dan staf, termasuk pustakawan ilmu pengetahuan, desainer grafis dan teknologi instruksional, membawa perspektif mereka juga yang membahas peran game dalam pendidikan.

Griffith mengajarkan teori media baru dan mengatakan itu fantastis melihat bagaimana masing-masing disiplin ilmu mendekati media yang muncul dan memiliki ruang untuk berbicara tentang “Historical Reading”.

Rencana Ke Depan

Pada musim gugur, kelompok dari Tulane akan melanjutkannya untuk semester ketiga, dan Griffith akan mulai kelompok lain dengan silabus Campbell. Sejauh ini, 13 perguruan tinggi dan universitas sudah memulai seminar lokal, termasuk Penn State, University of Central Florida dan Universitas Rice. Dan selanutnya Georgetown, UC Berkeley dan Virginia Tech akan berpartisipasi bersama dengan beberapa orang lain.

“Tapi mereka tidak akan menemukan jawaban karena memang tidak ada”, kata Rowlett.

Dan itu hal yang baik tentang seminar media baru ini, serta salah satu wahana agar orang-orang tidak takut dalam melaksanakannya.

“Kami semua meraba-raba akan hal ini, bukan dalam kegelapan, tapi di senja hari serta mencoba untuk mencari tahu arah yang tepat dan menemukan beberapa cara untuk mengatasi tantangan ini.”

Dikutip dari Converge Magazine: http://www.convergemag.com/training/Colleges-Explore-Emerging-Media.html?elq=b3f011832fbf4cf3a8cd1834a4109665


Pengembangan Ilmu Administrasi dan Manajemen Pendidikan

[slideshare id=2753709&doc=tugas-dasar-administrasi-pendidikan-prof-djaman-by-djadjasardjana-13nov09-rev1-1-091220083839-phpapp01&type=d]

Terdapat minat besar dalam manajemen pendidikan di bagian awal abad 21. Hal ini karena kualitas kepemimpinan dipercaya secara luas membuat perbedaan yang signifikan kepada sekolah dan siswa. Di banyak bagian dunia, ada pengakuan bahwa sekolah membutuhkan pemimpin dan manajer yang efektif jika mereka ingin memberikan pendidikan yang terbaik kepada pelajar mereka. Ketika ekonomi global mengalami resesi, pemerintah lebih menyadari bahwa aset utama mereka adalah orang-orang yang kompetitif dan semakin tergantung pada sebuah sistem pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja terampil. Hal ini memerlukan guru-guru yang terlatih dan berkomitmen, dan pada gilirannya, memerlukan kepemimpinan kepala sekolah yang sangat efektif dan dukungan lain manajer senior dan menengah (Bush, in press).

Bidang manajemen pendidikan adalah pluralis, dengan banyaknya kekurangan perspektif dan kesepakatan yang tak terelakkan mengenai definisinya. Salah satu kunci perdebatan apakah manajemen pendidikan telah menjadi bidang yang berbeda atau hanya sebuah cabang studi yang lebih luas dari manajemen. Sementara pendidikan dapat belajar dari manajemen lain, manajemen pendidikan harus terpusat tujuan pendidikan. Tujuan atau tujuan ini memberikan arti penting arah untuk mendukung manajemen sekolah. Kecuali keterkaitan antara tujuan dan manajemen pendidikan yang jelas dan dekat, ada bahaya ‘Managerialism’, “Penekanan pada prosedur dengan mengorbankan tujuan pendidikan serta nilai-nilai ” (Bush, 1999:240). 1. Konsep Manajemen Dari segi bahasa manajemen berasal dari kata manage (to manage) yang berarti “to conduct or to carry on, to direct” (Webster Super New School and Office Dictionary), dalam Kamus Inggeris Indonesia kata Manage diartikan “Mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola”(John M. Echols, Hasan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia) , Oxford Advanced Learner’s Dictionary mengartikan ‘to Manage’ sebagai “to succed in doing something especially something difficult….. Management the act of running and controlling business or similar organization” sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ‘Manajemen’ diartikan sebagai “Prose penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran”(Kamus Besar Bahasa Indonesia). Adapun dari segi Istilah telah banyak para ahli telah memberikan pengertian manajemen, dengan formulasi yang berbeda-beda, berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian manajemen guna memperoleh pemahaman yang lebih jelas.

Konsep Sekolah yang Baik: Tinjauan Filosofis Pendidikan

Education in Indonesia

Motto of Education in Indonesia

Menurut Wikipedia, Sekolah berasal dari bahasa Yunani σχολή (schole), yang aslinya berarti “kesenangan”, atau juga “Tempat yang menyenangkan” (Gambar-1). Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk memungkinkan dan mendorong siswa (atau “murid”) untuk belajar di bawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, siswa mengalami kemajuan melalui serangkaian tingktan sekolah. Nama-nama untuk sekolah berbeda di setiap negara, tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anak dan sekolah menengah bagi remaja yang telah menyelesaikan pendidikan dasar.

Selain sekolah-sekolah inti ini, siswa di negara tertentu mungkin juga memiliki akses ke dan menghadiri sekolah-sekolah sebelum dan sesudah pendidikan dasar dan menengah. TK atau pra-sekolah memberikan beberapa sekolah untuk anak-anak yang masih sangat kecil (biasanya usia 3-5). Universitas, sekolah kejuruan, perguruan tinggi atau seminari mungkin akan tersedia setelah (atau sebagai pengganti) sekolah menengah. Sebuah sekolah mungkin juga didedikasikan untuk satu bidang tertentu, seperti sekolah ekonomi atau sekolah tari. Sekolah dapat menyediakan Alternatif kurikulum dan metode non-tradisional. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai landasan filosofis penyelenggaraan sekolah yang baik , konsep dan karakteristiknya.

[slideshare id=2755509&doc=tugas-persepsisekolahyangbaik-by-djadjasardjana-08dec09-rev1-0-091220190941-phpapp02&type=d]